Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Semenjak manusia pada jaman purbakala sampai dengan jaman sekarang,
manusia telah mengalami perkembangan dalam setiap periode waktu yang
dilewatinya yang telah kita kenal dengan berbagai jaman seperti jaman
meolitikum, neolitikum. Peradaban manusia telah mengalami kemajuan sampai
sekarang. Selama perkembangan itu, manusia menjalani kehidupan bergantung
pada pertanian dan agrikultur. Dengan orientasi kehidupan tersebut, manusia
selalu berusaha menjaga dan melestarikan lingkungannya dengan sebaik-baiknya
yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia pula. Dan pada
saatnya, perkembangan manusia telah mengalami jaman revolusi industri yang
menggantungkan

kehidupan

manusia

pada

bidang

perekonomian

dan

perindustrian. Dengan orientasi hidup tersebut, dunia agrikultur pun mengalami


kemunduran perlahan-lahan. Nilai-nilai kehidupan manusia pun mengalami
perubahan, terutama dalam interaksi manusia dengan lingkungannya.
Perubahan-perubahan yang terjadi ini menghasilkan dampak, baik positif
maupun negatif. Salah satu dampak revolusi industri yang telah terjadi dan masih
terus berlanjut pada masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia
adalah dampaknya bagi lingkungan yang ada di sekitar manusia itu sendiri.
Ekspansi usaha yang dilakukan oleh para pelaku industri seperti pembangunan
pabrik-pabrik dan pembuatan produksi dengan kapasitas besar dengan
mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi lingkungan secara
perlahan namun pasti telah mengakibatkan kelalaian yang pada akhirnya akan
merugikan lingkungan tempat tinggal manusia serta manusia dan kehidupannya.
Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar
bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha perindustrian yang
dilakukan dan telah berkembang pesat ini. Dampak negatif ini adalah terjadinya
pemanasan di dunia dan sering disebut sebagai Global Warming. Namun, masalah

Global Warming sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan


kebenarannya oleh beberapa pihak yang menganggap Global Warming adalah
alasan yang diciptakan untuk membatasi laju perkembangan perekonomianii.
Walaupun masih terdapat perdebatan mengenai kebenaran keadaan Global
Warming di antara para ahli lingkungan tersebut, namun masalah Global
Warming ini tidaklah dapat dipungkiri untuk diteliti dan ditelaah lebih lanjut demi
kelangsungan kehidupan manusia.
Untuk itu, Karya Tulis yang dibuat ini akan memperlihatkan dan
menjelaskan kebenaran mengenai masalah pemanasan Global dengan berdasarkan
studi literature. Pembahasan dan penjelasan tentang penyebab, akibat dan solusi
pemanasan Global. Dalam Karya Tulis ini pun akan menyajikan fakta-fakta yang
memperkuat keberadaan masalah pemanasan Global ini.
B. RUMUSAN MASALAH
Timbulnya masalah Pemanasan Global yang merupakan masalah
lingkungan ini, telah menimbulkan berbagai macam pertanyaan dalam
hubungannya dengan sebab, keberadaan dan efek atau dampak yang diakibatkan
dari Pemanasan Global tersebut. Pertanyaan-pertanyaan seputar masalah
pemanasan Global ini dapat diuraikan seperti berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Pemanasan Global ?
2. Apa penyebab terjadinya Pemanasan Global ?
3. Bagaimana akibat yang ditimbulkan di bidang ekonomi dengan adanya
Pemanasan Global ?
4. Bagaimana solusi konkrit adanya Pemanasan Global ?
5. Bagaimana proses diagram alir dengan menggunakan software Stella 6.0.1
pada Pemanasan Global ?
C. TUJUAN
Tujuan secara umum penulisan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
sejauh manakah Pemanasan Global ini telah terjadi, apa penyebab pastinya, akibat
yang ditimbulkan dan solusi untuk menanggulanginya serta proses diagram alir

dari adanya Pemanasan Global menggunakan software Stella 6.0.1.

Jika

pemanasan Global ini terjadi maka efek yang ditimbulkan bukan hanya di alami
oleh manusia saja tetapi juga semua makhluk hidup di sekitarnya, seperti
meningkatnya suhu di permukaan bumi menyebabkan kekeringan. Dengan
demikian akibat dari kekeringan ini selain dialami manusia juga oleh hewan dan
tumbuhan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Pemanasan global merupakan fenomena global yang disebabkan oleh
aktivitas manusia diseluruh dunia, pertambahan populasi penduduk, serta
pertumbuhan teknologi dan industri. Pemanasan akan diikuti dengan perubahan
iklim, seperti meningkatnya curah hujan dibeberapa belahan dunia sehingga
menimbulkan banjir

dan erosi.

Sedangkan didibelahan bumi lain akan

mengalami musim kering yang berkepanjangan.


B. Penyebab Pemanasan Global
Beberapa aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya pemanasan
global terdiri dari:
Konsumsi Energi Bahan Bakar Fosil
Sektor industri merupakan penyumbang emisi karbon terbesar, sedangkan
sektor transportasi menempati posisi kedua. Menurut Departemen Energi dan
Sumberdaya Mineral (2003), konsumsi energi bahan bakar fosil memakan
sebanyak 70% dari total konsumsi energi, sedangkan listrik menempati posisi
kedua dengan memakan 10% dari total konsumsi energi. Dari sektor ini, Indonesia
mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,84% dari total emisi gas rumah kaca.
Indonesia termasuk negara pengkonsumsi energi terbesar di Asia setelah
Cina, Jepang, India dan Korea Selatan
Konsumsi energi yang besar ini diperoleh karena banyaknya penduduk
yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya, walaupun dalam
perhitungan penggunaan energi per orang di negara berkembang, tidak sebesar
penggunaan energi per orang di negara maju. Menurut Prof. Emil Salim, USA
mengemisikan 20 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah penduduk 1,1 milyar
penduduk, Cina mengemisikan 3 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah 1,3
milyar penduduk, sementara India mengemisikan 1,2 ton CO2/orang dengan
jumlah 1 milyar penduduk. Dengan demikian, banyaknya gas rumah kaca yang
dibuang ke atmosfer dari sektor ini berkaitan dengan gaya hidup dan jumlah

penduduk. USA merupakan negara dengan penduduk yang mempunyai gaya


hidup sangat boros, dalam mengkonsumsi energi yang berasal dari bahan bakar
fosil, berbeda dengan negara berkembang yang mengemisikan sejumlah gas
rumah kaca, karena akumulasi banyaknya penduduk.
Efek rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari.
Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek,
termasuk cahaya tampak . Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia
berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi,
akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari
panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun
sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya
jumlah gas rumah kaca antara lain uap air , karbondioksida, dan metana yang
menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan
memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya
panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulangulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas
tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca .
Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer,
semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah
kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena
tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata
sebesar 15C (59F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33C (59F) dengan efek
rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18C sehingga es akan menutupi seluruh
permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah
berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
Sampah Penghasil Gas Metana (CH4)
Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50kg gas metana. Sampah
merupakan masalah besar yang dihadapi kota-kota di Indonesia. Menurut
Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 1995 rata-rata orang di
perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,8 kg/hari dan pada tahun
2000 terus meningkat menjadi 1 kg/hari. Dilain pihak jumlah penduduk terus

meningkat sehingga, diperkirakan, pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan


mencapai 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun. Dengan jumlah ini maka
sampah akan mengemisikan gas metana sebesar 9500 ton/tahun. Dengan
demikian, sampah di perkotaan merupakan sektor yang sangat potensial,
mempercepat proses terjadinya pemanasan global.
Kerusakan Hutan
Salah satu fungsi tumbuhan yaitu menyerap karbondioksida (CO2), yang
merupakan salah satu dari gas rumah kaca, dan mengubahnya menjadi oksigen
(O2). Saat ini di Indonesia diketahui telah terjadi kerusakan hutan yang cukup
parah. Laju kerusakan hutan di Indonesia, menurut data dari Forest Watch
Indonesia (2001), sekitar 2,2 juta/tahun. Kerusakan hutan tersebut disebabkan
oleh kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan, antara lain perubahan hutan
menjadi perkebunan dengan tanaman tunggal secara besar-besaran, misalnya
perkebunan kelapa sawit, serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh
pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI).
Dengan kerusakan seperti tersebut diatas, tentu saja proses penyerapan
karbondioksida tidak dapat optimal. Hal ini akan mempercepat terjadinya
pemanasan global.
Pertanian dan Peternakan
Sektor ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah
kaca melalui sawah-sawah yang tergenang yang menghasilkan gas metana,
pemanfaatan pupuk serta praktek pertanian, pembakaran sisa-sisa tanaman, dan
pembusukan sisa-sisa pertanian, serta pembusukan kotoran ternak. Dari sektor ini
gas rumah kaca yang dihasilkan yaitu gas metana (CH4) dan gas dinitro oksida
(N2). Di Indonesia, sektor pertanian dan peternakan menyumbang emisi gas
rumah kaca sebesar 8.05% dari total gas rumah kaca yang diemisikan ke atmosfer.
C. Dampak Pemanasan Global Terhadap Perekonomian
Dampak Pemanasan Global terhadap perekonomian di berbagai bidang,
diantaranya :
Bidang Perikanan

Sebagai sebuah fenomena global, dampak pemanasan global


dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia, termasuk Indonesia. Posisi
Indonesia sebagai negara kepulauan, menempatkan Indonesia dalam kondisi yang
rentan menghadapi terjadinya pemanasan global. Sebagai akibat terjadinya
pemanasan global, Indonesia akan menghadapi peristiwa: Pertama, Kenaikan
temperatur global, menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan,
sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut, dan kenaikan
permukaan air laut. Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang,
serta terjadinya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), dan punahnya
berbagai jenis ikan.
Peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan terumbu
karang, dan selanjutnya matinya terumbu karang, sebagai habitat bagi berbagai
jenis ikan. Suhu air laut yang meningkat juga memicu terjadinya migrasi ikan
yang sensitif terhadap perubahan suhu secara besar-besaran menuju ke daerah
yang lebih dingin. Peristiwa matinya terumbu karang dan migrasi ikan, secara
ekonomis, merugikan nelayan karena menurunkan hasil tangkapan mereka.
Dengan memuainya air laut akan menyebabkan semakin bertambahnya
volume air laut dan kemudian ikan yang dulunya mudah untuk didapatkan akan
menjadi sulit sehingga pendapatan serta perekonomian nelayan akan menjadi
kurang.

Indonesia

juga

merupakan

termasuk

salah

satu

negara

yang

mengekspor ikan hasil tangkapan nelayanakannya ke negara lain,tetapi akibat


dari adanya pemanasan global jumlah ikan yang diekspor oleh Indonesia akan
berkurang sehingga akan mengurangi pendapatan negara. Dan Indoesia sendiri
akan mengalami kekurangan pasokan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan
warga negaranya,mau tak mau Indonesia akan memilih untuk mengimpor ikan
dari luar yang akan memakan biaya yang sangat besar.
Bidang Pertanian
Pergeseran musim sebagai akibat dari adanya perubahan pola curah
hujan. Perubahan iklim mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada periode
yang singkat serta musim kemarau yang panjang. Dibeberapa tempat terjadi
peningkatan curah hujan sehingga meningkatkan peluang terjadinya banjir dan

tanah longsor, sementara di tempat lain terjadi penurunan curah hujan yang
berpotensi menimbulkan kekeringan. Sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS)
akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam. Hal ini
mengakibatkan

meningkatnya

kekerapan

terjadinya

banjir

atau

kekeringan. Kondisi ini akan semakin parah apabila daya tampung badan sungai
atau waduk tidak terpelihara akibat erosi.
Pada umumnya, semua bentuk sistem pertanian sensitif terhadap
perubahan iklim. Perubahan iklim berakibat pada pergeseran musim dan
perubahan pola curah hujan. Hal tersebut berdampak pada pola pertanian,
misalnya keterlambatan musim tanam atau panen, kegagalan penanaman, atau
panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan. Sehingga akan terjadi
penurunan produksi pangan di Indonesia. Singkatnya, perubahan iklim akan
mempengaruhi ketahanan pangan masyarakat.
Bidang Kehutanan
Terjadinya pergantian beberapa spesies flora dan fauna. Kenaikan suhu
akan menjadi faktor penyeleksi alam, dimana spesies yang mampu beradaptasi
akan bertahan dan, bahkan kemungkinan akan berkembang biak dengan pesat.
Sedangkan spesies yang tidak mampu beradaptasi, akan mengalami kepunahan.
Adanya kebakaran hutan yang terjadi merupakan akibat dari peningkatan suhu
disekitar hutan, sehingga menyebabkan rumput-rumput dan ranting yang
mengering mudah terbakar. Selain itu, kebakaran hutan menyebabkan punahnya
berbagai keanekaragaman hayati. Dengan demikian maka produksi kertas yang
ada di Indonesia akan berkurang padahal Indonesia mendapat banyak keuntungan
dari sektor ini. Anggaran negara akan semakin bertambah untuk menanggulangi
kerusakan hutan yang sudah terjadi, akhirnya Indonesia akan semakin menambah
tumpukan hutang luar negeri.
Bidang Kesehatan
Dampak pemanasan global pada sektor ini yaitu meningkatkan frekuensi
penyakit tropis, misalnya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk (malaria dan
demam berdarah), mewabahnya diare, penyakit kencing tikus atau leptospirasis
dan penyakit kulit. Kenaikan suhu udara akan menyebabkan masa inkubasi
nyamuk semakin pendek sehingga nyamuk makin cepat untuk berkembangbiak.

Bencana banjir yang melanda akan menyebabkan terkontaminasinya persediaan


air bersih sehingga menimbulkan wabah penyakit diare dan penyakit leptospirosis
pada masa pasca banjir. Sementara itu, kemarau panjang akan mengakibatkan
krisis air bersih sehingga berdampak timbulnya penyakit diare dan penyakit
kulit. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) juga menjadi ancaman
seiring dengan terjadinya kebakaran hutan.
Selain memberi dampak negative ternyata pemanasan global juga
memberikan fampak positif terhadap perekonomian, sebagai contoh :
1.

Potensi yang lebih tinggi pada hasil pertanian di daerah yang terletak pada
posisi lintang tengah.

2.

Potensi penambahan kayu global pada hutan yang dikelola dengan baik dan
benar.

3.

Peningkatan ketersediaan air untuk populasi pada beberapa wilayah yang


relatif kering, sebagai contoh di sebagian wilayah Asia Tenggara.

4.

Pengurangan angka kematian pada musim dingin pada bumi di belahan


lintang tengah dan lintang tinggi.

5.

Pengurangan permintaan energi untuk pemanas ruangan akibat suhu udara


pada musim dingin tidak terlalu dingin.

C. Cara Mengurangi Dampak Pemanasan Global Terhadap Perekonomian


Adapun cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak
pemanasan global adalah sebagai berikut :
1.

Mengurangi pemakaian bahan kimia secara berlebihan.

2.

Merawat dan melestarikan hutan, serta menjaganya dari orang-orang yang


melakukan penebangan hutan secara liar.

3.

Mendaur ulang sampah organik dan anorganik.


Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1% per-

tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini
tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang
ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkahlangkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.
Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai
dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air

laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke
daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat
menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur)
habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara.
Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk
menuju ke habitat yang lebih dingin.
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya
gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan
menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini
disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi
produksi gas rumah kaca.
D. Program STELLA
Program STELLA merupakan perangkat lunak untuk pemodelan berbasis
flow chart. Stella termasuk bahasa pemrograman interpreter dengan pendekatan
lingkungan multi-level hierarkhis, baik untuk menyusun model maupun
berinteraksi dengan model. Stella juga bisa diartikan sebagai salah satu Metode
atau Cara atau Prosedur dari suatu penelitian yang dapat mempermudah seorang
peneliti untuk melakukan sistem identifikasi masalah, merumuskan masalah,
menentukan prosedur penelitian yang digunakan secara rinci, penggunaan desain
yang tepat serta melaporkan hasil-hasilnya yang dapat dipertanggung jawabkan.
Alat penyusun model yang tersedia dalam Stella adalah :
Stocks, yang merupakan hasil suatu akumulasi; fungsinya untuk menyimpan
informasi berupa nilai suatu parameter yang masuk ke dalamnya
Flows, berfungsi seperti aliran, yaitu menambah dan mengurangi stock; arah
anak panah menunjukkan arah aliran tersebut, aliran bisa satu arah maupun
dua arah
Converters, berfungsi luas; dapat digunakan untuk menyimpan konstanta,
input bagi suatu persamaan, melakukan kalkulasi dari berbagai input lainnya
atau menyimpan data dalam bentuk grafis (tabulasi x dan y); secara umum
fungsinya adalah untuk mengubah suatu input menjadi output; dan
Connectors, berfungsi menghubungkan elemen-elemen dari suatu model
(Boedisantoso, 2010).

Bahasa dalam Software Stella akan menerjemahkan perkiraan hubungan


antar variabel ke dalam suatu set peralatan yang menggambarkan keseluruhan
sistim berpikir yang ada, sehingga dapat dengan mudah dipahami, disempurnakan
dan selanjutnya dapat dikembangkan menjadi suatu model mental yang lebih
akurat. Fungsi Software Stella adalah menciptakan suatu model, dan dari model
tersebut selanjutnya dapat dilakukan simulasi, analisis dan komunikasi. Cara
program Stella bekerja adalah melalui tahap-tahap sebagai berikut :
Mapping dan Numerating. Suatu tahap menerjemahkan pola pikir ke dalam
bentuk peta yang disebut Level Peta/Model (Model Level/Map), yang
dilanjutkan dengan proses pengurutan dan penghitungan angka-angka
masukan.
Simulating. Suatu tahap di mana program melakukan proses terpola dalam
bentuk grafik atau tabel, setelah dilakukan intervensi pada angka dalam tabeltabel atau pada grafik yang ada.
Analyzing. Tahap di mana program menunjukkan alternatif hasil perubahan
dari adanya intervensi simulasi data masukan atau grafik.
Communicating. Suatu proses transformasi hasil kerja program secara
informatif, yang menggambarkan secara sederhana dan mudah dimengerti
oleh pada pengguna (Jumali, 2009).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Terdapat tiga tahapan utama dalam penyusunan laporan ini, yaitu tahap
identifikasi, tahap pemodelan, dan tahap analisis dan kesimpulan. Tahap
Identifikasi bertujuan untuk mengidentifikasi mengenai gambaran umum dari
sistem yang akan diamati. Tahapan ini terdiri atas perumusan masalah, perumusan
tujuan dan manfaat. Permasalahan yang akan dikaji dalam makalah ini yaitu
Global Warming dan hal-hal yang terkait di dalamnya.
Tahap Pemodelan terdiri atas konseptualisasi model. Konseptualisasi
model dilakukan dengan mengidentifikasi variabel dalam. Dilanjutkan dengan
simulasi model dengan menggunakan software Stella 6.0.1. Kemudian
dilanjutkan dengan langkah analisis dan interpretasi data, serta penyusunan
kesimpulan dan saran.
Konseptualisasi model
Konseptualisasi model bertujuan untuk menunjukkan gambaran sistem
secara umum mengenai simulasi sistem dinamis yang akan dilakukan.
Konseptualisasi model terdiri atas identifikasi pelaku, penyusunan input-output
diagram, penyusunan causal loop diagram.
Formulasi Model
Setelah model konseptual tersusun secara terstruktur, tahap berikutnya
adalah formulasi model. Formulasi dilakukan dengan menggambarkan stock and
flow diagram. Selanjutnya akan disusun pula formulasi matematis dalam diagram
tersebut.
Stock and Flow Diagram
Stock and Flow Diagram merupakan model yang kemudian akan
disimulasikan setelah dilakukan formulasi matematis.
Formulasi Model Matematis
Formulasi model merupakan tahapan yang dilakukan ketika penyusunan
stock and flow diagram, sehingga model yang dibuat akan dapat disimulasikan.

Formulasi dilakukan dengan meng-input-kan keterkaitan antar variabel secara


matematis. Penyusunan formulasi dilakukan untuk semua variabel.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Flowchart

Gambar 1. Flowchart Global Warming

Stock and Flow Diagram

Grafik Global Warming di daerah X

Gambar 2 Stock and Flow diagram dan Grafik Global Warming di daerah X

B. Pembahasan
Pada gambar 1 (flowchart) menunjukkan gambaran umum Pemanasan
Global dan hal-hal yang berhubungan di dalamnya seperti penyebab terjadinya
Pemanasan

Global,

dampak

yang

ditimbulkan

menanggulanginya.
Pada gambar 2 (Stock and Flow Diagram)

dan

solusi

untuk

DAFTAR PUSTAKA

Boedisantoso, R. 2010. Optimasi Kesetimbangan Karbon (Carbon Footprint


Carbon Sinks). Surabaya: Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi
Sepuluh Nopember
Driananta, dkk. 2011.Analisis Kecukupan Ruang Terbuka Hijau Sebagai
Penyerap Emisi CO2 Di Perkotaan Menggunakan Program Stella (Studi
Kasus:

Surabaya

Utara

Dan

Timur).

Http://mfile.narotama.ac.id/files/Umum/JURNAL%20ITS/ANALISIS%2
KECUKUPAN%20RUANG%20TERBUKA%20HIJAU%20SEBAGAI%
20PENYERAP%20EMISI%20CO2%20DI%20PERKOTAAN%20MENG
GUNAKAN%20PROGRAM%20STELLA.pdf. Diakses pada tanggal 25
Oktober 2014.
Roi. Tigor. 2013. Dampak Pemanasan Global Terhadap Perekonomian.
http://tigorroy.blogspot.com/2013/10/dampak-pemanasan-global
terhadap.html. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2014.