Anda di halaman 1dari 1

PETIK LAUT MENURUT ISLAM

Puger adalah salah satu kecamatan


didaerah Jember Selatan yang mempunyai laut
penghasil ikan. Laut penghasil ikan tepatnya TPI
(Tempat Pelelangan Ikan) terletak didaerah
Puger Kulon dan Puger Wetan. Di daerah puger
ini mempunyai suatu tradisi setiap tahunnya
yaitu Petik Laut. Petik laut merupakan bentuk
rasa syukur bagi para nelayan. Acara Petik Laut
diadakan selama 3 hari berturut turut pada
tanggal 11, 12, 13 Suro.
Sebagian besar warga Puger menonton
acara Petik Laut di alun alun Puger dengan
suasana yang ramai dan menghibur.
Pertunjukkan yang digelar berupa wayang,
ondel ondel dan karnaval. Ketika hari akhir
Petik Laut tanggal 13 Suro terdapat tradisi yaitu
pembuangan sesajen berupa kepala sapi dan
kerbau ditengah laut yang dipimpin oleh Bapak
Kepala Desa Puger Kulon. Tradisi serti itu
menurut agama Islam tidak diperbolehkan,
karena tradisi tersebut menyalahi aturan yang
ada di agama Islam. Kepala sapid an kerbau
yang dibuang dapat dikasihkan kepada orang
yang kurang mampu di sekitar Puger sehingga
dapat bermanfaat. Tradisi sesajen tersebut
dapat diganti dengan tasyakuran berupa
Istighosah, dzikir atau berbagi kepada warga
miskin sehingga dapat bermanfaat bagi warga
Puger sendiri.
Kegiatan sesajen Membuang kepala
sapi dan kerbau sudah mendarah gading di
daerah puger, sehingga sulit untuk diubah
bahkan dihilangkan dari tradisi Petik Laut
tersebut. Dibutuhkan seseorang yang dapat
memberi tahu bahwa kegiaatan tersebut tidak
bermanfaat bahkan dilarang oleh agama islam.
Dan juga dapat diadakan semacam pengajian
yang bisa mengubah keyakinan warga Puger.
Orang pertama yang harus diberi tahu adalah

orang orang besar di daerah Puger, contohnya


Bapak Camat, kemudian Bapak Kepala desa
Puger Kulon dan Puger Wetan. Bapak Kepala
desa dapat menyampaikannya kepada warga
Puger.
Dengan
mengadakan
pengajian,
disamping mendapat pahala, warga Puger juga
mendapat ilmu. Daripada membuang sesajen
ditengah laut yang tidak ada manfaatnya.