Anda di halaman 1dari 2

Akankah Tanpa Adanya RSBI pendidikan Indonesia Mundur?

Di awal tahun 2013 ini dunia pendidikan kembali menjadi bahan pembicaraan, pasalnya
pada tanggal 8 Januari lalu Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan putusan untuk
menghilangkan logo Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar
Internasional (SBI). Sebelumya, penetapan sekolah berstandar ini sudah dilakukan sejak tahun
2005 dan memiliki efek positif terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Lalu, mengapa
status sekolah ini dihilangkan oleh MK?
Hal inilah yang saat ini menjadi polemik dan memunculkan berbagai pro kontra di
masyarakat. Kalau dilihat dari sisi positifnya memang sangat disayangkan untuk menghilangkan
status ini. Tentunya MK memiliki beberapa alasan kuat untuk melakukan hal tersebut. RSBI dan
BSI dianggap menunjukan adanya sifat pilih kasih yang ditunjukan oleh pemerintah. Siswa yang
berlatarbelakang mampulah yang dapat masuk ke sekolah ini dan anak-anak yang ekonominya
di bawah rata-rata akan sulit masuk ke sekolah ini, hal ini disebabkan uang sekolah yang
ditetapkan oleh sekolah elit ini begitu mahal.
Selain itu, ada beberapa alasan lain yang mendukung MK mengambil keputusan ini RSBI dan
BSI menggunakan Bahasa Inggris dalam kegiatan belajar mengajar setiap harinya. Hal ini secara
tidak langsung tidak sesuai dengan ikrar sumpah pemuda 1928 kami putra dan putri Indonesia
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia dan dalam Pasal 36 UUD 1945
Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia. Sebenarnya, upaya untuk menginggriskan lidah anak
Indonesia ini tidaklah salah, bahasa Inggris adalah jendela dunia, bahasa yang menghubungkan
seluruh dunia. Tapi, diharapkan penggunaanya tidak membuat anak Indonesia lupa akan
bahasanya sendiri. Seperti yang kita tahu banyak sekali anak Indonesia saat ini yang
menyepelakan penggunaan bahasa Indonesia. Hal ini sangat disayangkan apabila anak-anak
yang berkualitas dari sekolah ini, melupakan dan tidak menghargai bahasanya sendiri.
RSBI dan BSI memiliki fasilitas sekolah yang lengkap dan menunjang segala kebutuhan
siswanya. Anak-anak pun dipacu untuk terus berprestasi dan menjadi anak bangsa yang

berkualitas. Melihat begitu besar dampak ini, mengapa tidak semua sekolah di Indonesia ini
dilakukan seperti sekolah RSBI dan SBI, bukankah itu bagus untuk pendidikan bangsa ini?
Lalu sekarang bagaimana dengan sekolah RSBI atau SBI yang sekarang sudah berstatus
sekolah berstandar biasa kembali? Itu adalah tanggung jawab kepala sekolah dan seluruh
penghuni sekolah untuk tetap mempertahankan kualitas siswa dan sekolah mereka. Pada
umumnya, sekolah RSBI dan SBI di suatu daerah selalu lebih menonjol dari sekolah lainnya dan
diharapkan setelah status sekolahnya diubah, sekolah tersebut tetap dapat mempertahankan
kualitasnya dan hal ini bisa memungkinkan anak yang kurang mampu bisa masuk ke sekolah
unggul ini.
Kecerdasan bukanlah milik orang berduit. Kalau terus dibiarkan, yang pintar akan makin
pintar dan yang bodoh akan tetap bodoh. Indonesia akan sulit untuk maju karena hanya
sebagian dari penerus bangsanya yang berilmu tinggi. Selain itu, ada atau tidak adanya sekolah
bertaraf internasional diharapkan setiap siswa dimanapun ia bersekolah tetap bisa
mempertahankan prestasi dan meningkatkan kualitasnya. Pendidikan yang merata dan semua
bisa menjadi penerus bangsa yang berkualitas.
Oleh : Dida Hafizah Asmarabbiah
Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Malang