Anda di halaman 1dari 29

Laporan Kasus

GEMELI DENGAN BAYI BERAT BADAN LAHIR SANGAT RENDAH


(BBLSR)

Oleh

Oleh:

Mardiati

NIM. I1A001004

Pembimbing

Dr. Pudji Andayani, Sp.A

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN ANAK


FK UNLAM – RSUD ULIN BANJARMASIN
BANJARMASIN

Juli 2009
1
BAB I

PENDAHULUAN

Bayi berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) merupakan bayi lahir hidup

dengan berat badan lahir 1000 – 1500 g. Penyebab dari BBLSR adalah kelahiran

prematur dan intrauterine growth restriction (IUGR). Faktor-faktor yang

mempengaruhi sehingga bayi lahir dengan BBLSR yaitu ras, usia maternal, faktor

maternal yaitu penyakit yang dialami ibu selama mengandung, komplikasi persalinan

seperti plasenta previa, perdarahan, serviks inkompeten, dan infeksi maternal

sedangkan faktor fetal adalah kehamilan ganda.1,2

Sebagian besar bayi kembar dilahirkan prematur, dan komplikasi pada ibu

akibat kehamilan ini lebih sering daripada kehamilan tunggal. Tetapi karena

kebanyakan kembar adalah prematur menurut beratnya, mortalitas keseluruhannya

menjadi lebih tinggi daripada mortalitas kelahiran tunggal.3

Morbiditas neonatal BBLR meliputi sepsis, nekrotik enterokolitis, retinopati

prematuritas, penyakit paru kronik dan perdarahan intraventrikular. Angka kejadian

sepsis pada bayi dengan BBLSR sekitar 14% – 48% yang merupakan penyebab

kematian.4,5

Di Negara industri, sekitar 1% - 3% bayi lahir dengan BBLSR, tingkat

mortalitas 40% – 50% dan lebih dari separuhnya harus dirawat di rumah sakit bagian

unit intensif.6 Di Amerika Serikat, sekitar 1,4% atau sekitar 56.270 bayi lahir dengan

BBLSR setiap tahun.7 Angka kejadian BBLR di Indonesia secara nasional


2
berdasarkan analisa lanjut SDKI 1991 angka BBLR sekitar 7,5 %. BBLR bervariasi

menurut propinsi dengan rentang 2,0 %-15,1% terendah di propinsi Sumatera utara

dan tertinggi di Sulawesi Selatan. Berdasarkan umur kehamilan ditemukan 20,8%

BBLR yang dilahirkan kurang bulan dan sebagian besar (79,2%) adalah BBLR pada

kehamilan cukup bulan proporsi terbesar yaitu di daerah pedesaan.8

Bayi dengan BBLSR merupakan salah satu faktor risiko terhadap kematian

bayi khususnya pada masa perinatal. Tahun 2006, Indonesia menduduki peringkat 10

diantara 18 negara ASEAN dan SEARO dengan angka kematian bayi yaitu 35 per

1000 kelahiran hidup. Kalimantan Selatan pada tahun 2007, angka kematian bayi

yaitu 58 per 1000 kelahiran hidup.9

Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus bayi gemeli dengan berat badan

lahir sangat rendah di Ruang Perinatologi RSUD Ulin Banjarmasin.

3
BAB II

LAPORAN KASUS

I. Identitas

Nama : By. Ny. R.J I Nama Ibu : Ny. R.J


Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 18 tahun
Umur : 3 jam Pendidikan : MAN
Nama Ayah : Tn. M. H.R Agama : Islam
Umur : 20 tahun Suku : Banjar
Pekerjaan : Swasta Alamat : Jl. Veteran Km. 4,5
Pendidikan : MAN Banjarmasin
Pekerjaan : Ibu rumah tangga

II. Anamnesis

Alloanamnesis dengan nenek penderita, pada tanggal 24 Juni 2009, pukul 09.45

Wita.

1. Keluhan Utama : Bayi lahir dengan berat badan sangat rendah

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Bayi lahir sekitar 3 jam yang lalu dengan diantar bidan. Persalinan

ditolong oleh bidan di rumah bidan. Bayi lahir langsung menangis dan tidak

ada kebiruan. Bayi lahir dengan posisi kepala terlebih dahulu dan tidak ada

kesulitan dalam proses melahirkan. Sampai bayi dilahirkan, orangtua tidak

mengetahui bahwa janin yang dikandungnya kembar. Selama hamil ibu

rajin kontrol ke posyandu tetapi tidak pernah dikatakan mengandung bayi

kembar. Ibu mengaku keluar air-air sekitar 10 menit sebelum melahirkan.

Setelah bayi lahir, bidan yang menolong menyarankan agar bayi dibawa ke
4
RSUD Ulin untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Menurut bidan,

tembuni satu dengan 2 tali pusat. Sejak lahir sampai sekarang bayi tidak ada

diberi minuman apa pun. Keadaan ibu masih lemah sehingga tidak dapat

mengantar bayi ke rumahsakit..

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Kehamilan ini adalah kehamilan pertama. Tidak ada riwayat

keguguran.

4. Riwayat Antenatal

Pada saat hamil, ibu rajin periksa ke Posyandu. Ibu mendapat

suntikan TT 2 kali, obat tambah darah dan vitamin.

Selama hamil tidak ada keluhan nyeri ulu hati, kaki bengkak, dan

pandangan mata kabur. Tidak ada riwayat merokok, obat-obat terlarang,

dan minum jamu-jamuan. Tidak ada riwaya keputihan.

HPHT : - Oktober 2008

TP : - Juli 2009

5. Riwayat Keluarga

Penyakit keturunan

Tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis, maupun asma pada orangtua

5
Kelahiran kembar : pada nenek (pihak ibu).

6. Riwayat Psikososial

Keluarga pendedrita tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari kayu

yang ditempati oleh ayah dan ibu kandung. Kebutuhan mandi-cuci

menggunakan air dari PDAM.

7. Keadaan Persalinan Sekarang dan Bayi

Nama bayi : By. Ny. R.J I

Waktu kelahiran : 24 Juni 2009 /jam 06.45 Wita

Kehamilan : Gemelli

Macam persalinan : Spontan belakang kepala

Status GPA ibu : G1P0A0

Antropometri :

 Berat lahir : 1200 gram

 Panjang lahir : 36 cm

 Lingkar kepala : tidak tahu

 Lingkar dada : tidak tahu

 Lingkar lengan : tidak tahu

III. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum : Gerakan kurang aktif, menangis kurang kuat


2. Tanda Vital : Denyut jantung : 147 kali/menit
suhu : 36,5 oC

6
respirasi : 54 kali/menit
berat badan : 1.200 gram

CRT : 3 detik

Saturasi O2 : 98% (tanpa oksigen)


Kulit : Warna kulit muka dan seluruh badan kemerahan.

Turgor lambat kembali


5. Kepala/leher :
Rambut : rambut berwarna hitam, tipis, distribusi merata,

karakteristik lurus, tidak ada alopesia


Kepala : Bentuk bulat lonjong, simetris, UUB dan UUK

belum menutup, wajah simetris.


Mata : palpebra tidak edema, alis dan bulu mata tidak

mudah dicabut, konjungtiva tidak pucat, sklera

ikterik, pupil berdiameter 2 mm/2 mm, isokor,

reflek cahaya +/+.


Telinga : Bentuk normal, terdapat tulang rawan pada pinggir

pinna.
Hidung : Bentuk normal, simetris, pernapasan cuping

hidung tidak ada.


Mulut : mukosa bibir kering, sianosis tidak ada,

labiopalatoschizis tidak ada, refleks suching dan

rooting positif.
Lidah : Bentuk simetris, tidak anemis, warna merah muda.
5. Leher Kuduk kaku tidak ada, tidak tortikolis.
6. Toraks :
Inspeksi : Bentuk simetris, terdapat retraksi di substernum,

tampak areola bertitik-titik dengan diameter < 0,75

cm dan pinggir rata.


a. Pulmo
7
Inspeksi : Bentuk simetris, inspirasi dan ekspirasi tidak

memanjang
Palpasi : Fremitus vokal simetris
Perkusi : Sonor
Auskultasi : suara napas bronkovesikuler, suara tambahan tidak

ada.
b. Jantung
Inspeksi : Vousseure cardiaque, pulsasi dan iktus tidak

terlihat.
Palpasi : Thrill tidak ditemukan.
Perkusi : Batas kanan : ICS IV LPS kanan

Batas kiri : ICS V LMK kiri

Batas atas : ICS II LPS kanan


Auskultasi : S1 dan S2 tunggal, tidak ada takikardia
7. Abdomen
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak kembung.
Palpasi : Hepar teraba 2 jari di bawah arkus kosta, lien sulit

teraba, massa tidak teraba.


Perkusi : timpani (+), dan tidak ditemukan adanya ascites
Auskultasi : Bising usus terdengar
8. Genital : ♂, decensus terticulorum (+)
9. Anus : Anus paten
10. Ekstremitas
Kedua lengan dan tungkai dalam posisi fleksi, edema tidak ada, goresan

telapak kaki jelas pada > 1/3 anterior


11. Tulang belakang : Skoliosis tidak ada

IV. Resume

Nama : By. Ny. R.J I


Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 3 jam
Berat Badan : 1.200 gram
Keluhan Utama : Bayi lahir dengan berat badan sangat rendah
Uraian : Bayi dilahirkan secara normal dan ditolong bidan. Bayi
8
lahir langsung menangis dengan berat badan 1.200

gram.
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan Umum : Gerakan kurang aktif, menangis kurang kuat
Heart rate : 147 kali/menit
Suhu : 36,5 oC
Pernapasan : 54 kali/menit
Kulit : Kemerahan, turgor lambat kembali
Kepala : Caput suksadaneum tidak ada
Mata : Tidak anemis, tidak ikterik
Telinga : Terdapat tulang rawan pada pinggir pinna
Hidung : pernapasan cuping hidung tidak ada
Mulut : Mukosa kering, labiopalatoschizis tidak ada
Leher : kaku kuduk tidak ada, tortikolis tidak ada
Toraks : Retraksi pada substernal
Abdomen : Tali pusat mulai layu
Ekstremitas : Edema (-/-), parese (-/-)
Genitalia : ♂, decensus testis (+)
Anus : (+)

V. Diagnosa Banding

I. BBLSR - SMK

BBLSR - KMK

II. Post term

Aterm

Pre term

VI. Diagnosa Sementara

I. BBLSR - KMK

II. Pre term

9
VII. Prognosis

Dubia ad bonam

VIII. Usulan/Saran

- Perawatan tali pusat

- Pengawasan keadaan umum dan tanda vital

- Timbang berat badan setiap hari

- Pendidikan terhadap orang tua dan keluarga tentang

imunisasi, pemberian makanan bergizi, ASI, kontrol ke pusat pelayanan

kesehatan.

IX. Terapi

I. Rawat inkubator (jaga suhu 36,5 – 37,5)

II. Oksigen (-)

III. Kebutuhan cairan (60 cc/KgBB/hari)

- Infus D10

- Protein (-)

- Produk darah (-)

IV. Obat-obatan

- Ampicillin 60 mg / 12 jam (IV)

- Gentamicin 6 mg / 36 jam

IM (-)
10
P.O (-)

V. Monitor keadaan umum, tanda vital, tanda-tanda hipoglikemik

Pukul 19.05 WITA konsul Dokter Konsulen, advis :

- Bolus

- Antibiotik

o Ampicillin 60 mg / 12 jam

o Gentamicin 6 mg / 36 jam

- 1 jam setelah bolus, cek GDS

Pukul 21.50 WITA konsul Dokter Konsulen hasil Glukotes 113 mg/dl, advis:

- Bolus stop

- Observasi keadaan bayi

11
12
13
14
Tabel 2. Hasil Laboratorium (24 Juni 2009)

PEMERIKSAAN HASIL
Hemoglobin 18,1 g/dl
Leukosit 10,9 ribu/ul
Eritrosit 4,92 juta/ul
Hematokrit 53 vol%
Trombosit 189 ribu/ul
MCV 107,5 fl
MCH 36,8 pg
MCHC 34,2 %
GDS 44 mg/dl
CRP Negatif

X. Diskusi

Bayi berat berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) adalah bayi baru lahir

yang berat badan pada saat kelahiran 1000 - 1.500 gram.

Berikut adalah definisi mengenai istilah-istilah penting:10

a. Bayi kurang bulan adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu

(259 hari)

b. Bayi cukup bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu

sampai 42 minggu (259 sampai 293 hari)

c. Bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau

lebih (294 hari atau lebih).

15
Berdasarkan pengertian di atas, bayi BBLSR dapat digolongkan menjadi 2,

yaitu:10,11,12

1. Prematuritas murni

Masa gestasinya kurang dari 37 minggu, dan berat badannya sesuai dengan berat

badan untuk masa gestasi itu, atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai

untuk masa kehamilan. Masa gestasi yang kurang dari 37 minggu ini dihitung dari

mulai hari pertama menstruasi terakhir, dan dianggap sebagai periode kehamilan

memendek. Prematur sering juga digunakan untuk mangatakan imaturitas.

2. Dismaturitas

Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa

gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan

merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya.

Untuk menaksir masa gestasi pada neonatus dapat digunakan cara, antara

lain:11,12

1. Menggunakan HPHT

2. Penilaian ukuran antropometrik

3. Pemeriksaan radiologik

4. Mengukur motor conduction velocity

5. Pemeriksaan EEG

6. Penilaian karakteristik fisik

7. Penilaian kriteria neurologist

8. Penilaian menurut Dubowitz


16
9. Penilaian masa gestasi menurut Monintja, dan kawan-kawan

Pada kasus ini berat badan lahir adalah 1.200 gram dan untuk menaksir maturitas

janin, digunakan cara :

- Penilaian ukuran lingkar kepala menurut Finnstrom

Masa gestasi = 11,03 + 7,75 (lingkar kepala)

= 11,03 + 7,75 (26)

= 220,28 / 7

= 31 minggu – 32 minggu

Bayi lahir dengan berat badan 1.200 gram, panjang badan 36 cm dan lingkar

kepala 26 cm dengan masa gestasi 31 minggu, berdasarkan kurva Colorado berada di

bawah persentil 10th maka neonatus ini disebut sebagai dismaturitas atau kecil masa

kehamilan.10,13

Lingkar kepala dapat menunjukkan status pertumbuhan bayi. Lingkar kepala

merupakan pengukur langsung pertumbuhan otak. Lingkar kepala pada bayi dengan

KMK dapat menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan otak akibat adanya restriksi

pertumbuhan intrauteri (intrauterin growth restriction) atau kelainan neurologi.10

Faktor yang meningkatkan insidensi KMK, yaitu:14,15

1. Faktor fetus

• Abnormalitas karyotipe

• Abnormalitas kromosom

• Penyakit genetik

17
• Anomali kongenital

2. Faktor maternal

• Penyakit ibu (hipertensi,penyakit ginjal, diabetes, SLE, dan

penyakit jantung

• Infeksi (TORCH)

• Status nutrisi

• Penggunaan obat-obat terlarang, rokok dan alkohol

3. Faktor plasenta dan uterus

• Kelainan plasenta

• Insufisiensi perfusi uteroplasenta

• Plasenta previa

4. Faktor demografi

• Usia ibu (kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun)

• Tinggi dan berat badan ibu

• Ras

• Paritas

Adapun penyebab dismaturitas ialah setiap keadaan berupa gangguan

pertukaran zat antara janin dan ibu.16 Pada kasus ini, bayi merupakan bayi kembar

sehingga zat makanan yang diberikan ibu sewaktu hamil terbagi dua, yang

mengakibatkan nutrisi pada masing-masing janin menjadi lebih sedikit dibandingkan

pada kehamilan tunggal. Ini mengakibatkan berat badan yang rendah pada janin.
18
Menetapkan bayi kembar monozigot atau dizigot sangat penting. Penyebab

kematian yang umum terjadi adalah saling membelitnya tali pusat kedua janin

tersebut (>50% kasus). Pada kembar monozigot sering timbul anastomosis

arteriovenosa. Akibatnya darah akan dipompakan dari arteri ke dalam vena, keluar

dari janin yang satu masuk ke arteri janin yang lain. Sehingga janin kembar

monozigot yang satu dapat berukuran jauh lebih kecil daripada janin lainnya.8,19

Diagnosis kembar prenatal terkesan dari ukuran uterus yang lebih besar

daripada yang diharapkan untuk umur kehamilan, auskultasi 2 jantung janin, dan

kenaikan kadar fetoprotein serum ibu atau kadar gonadotropin korionik manusia

(HCG), serta dikonfirmasi dengan ultrasonografi.3,18

Diagnosis prenatal memungkinkan dokter spesialis obstetri dan dokter

spesialis anak mengantisipasi kelahiran bayi beresiko tinggi karena kembar.

Pengamatan ketat merupakan indikasi selama kelahiran dan segera pada masa

neonatus. 3,18

Pada kasus ini diagnosis kehamilan kembar dilakukan setelah bayi lahir.

Walaupun ibu rajin memeriksakan kehamilannya ke Posyandu. Akan tetapi ibu tidak

pernah periksa ke dokter kandungan tidak pernah USG.

19
Semakin rendah berat lahir bayi maka komplikasi yang dapat terjadi semakin

besar. Masalah yang dihadapi pada bayi BBLSR, yaitu:1

1. Hipotermi

Hal ini karena luas permukaan tubuhnya relatif lebih besar perbandingannya

terhadap berat badan, sehingga terjadi peningkatan kehilangan panas.

Penatalaksanaan yang dilakukan untuk mencegah hipotermi, yaitu:

- Mengeringkan tubuh bayi untuk mencegah hilangnya panas melalui evaporasi

- Menyelimuti bayi dengan selimut untuk mencegah hilangnya panas melalui

konveksi dan radiasi

- Rawat inkubator

2. Hipoglikemi

Akibat berkurangnya simpanan glikogen dan lemak. Hipotermi dan hipoksia

dapat mengakibatkan hipoglikemi karena peningkatan kebutuhan metabolik dan

glikolisis anaerobik.

3. Asfiksia perinatal

Terjadi karena gangguan transporasi O2 dalam uterus.

4. Masalah respirasi

Dapat berupa respiratory distress syndrome (RSDS) yang disebabkan oleh

defisiensi surfaktan dan apneu.

5. Gangguan cairan dan elektrolit

20
Berkaitan dengan imaturitas ginjal. Sehingga memiliki resiko dehidrasi,

kelebihan cairan, hipernatremia, hiponatremia, hiperkalemia, hipokalsemia, dan

hipermagnesia.

6. Hiperbilirubinemia

7. Anemia

8. Ketidakseimbangan nutrisi

- Imaturitas usus dengan penurunan motilitas disertai rendahnya enzim

sehingga meningkatkan resiko terjadinya nekrotik enterokolitis (NEC)

- Peningkatan kebutuhan kalori

9. Infeksi

Resiko infeksi lebih tinggi karena imaturitas imunologi dan perawatan invasif

yang lama.

10. Masalah neurologi

- Perdarahan intraventrikular

- Leukomalasia periventrikular

- Jangka panjang meningkatkan resiko terjadinya serebral palsy, keterlambatan

pertumbuhan dan kemampuan belajar

11. Komplikasi oftalmologi

12. Sudden infant death syndrome (SIDS)

21
Berikut adalah pembagian permasalahan yang timbul pada bayi dengan

BBLSR menurut sistem organ:19

Bayi mendapatkan perawatan selama 3 hari. Selama perawatan bayi

mengalami periodik apneu dua kali hingga terjadi gagal nafas dan akhirnya

meninggal dunia.

Bayi BBLSR berisiko mengalami gagal nafas, yang dapat disebabkan oleh:1,19

- Defisiensi surfaktan

- Kelemahan dinding dada

- Alveoli yang lebih kecil sehingga meningkatkan resiko terjadinya atelektasis

- Kelemahan otot respirasi

- Penurunan kemampuan sentral sistem pernafasan

22
Mengenai penatalaksanaan BBLR yang tergolong dismaturitas adalah:1,12,19,20

1. Pengawasan frekuensi pernapasan terutama dalam 24 jam pertama. Bila

pernapasan lebih dari 60 kali/menit dibuat foto thoraks. Hal ini untuk mengetahui

jika ada sindroma gangguan pernapasan idiopatik.

2. Pemeriksaan kadar gula darah setiap 8-12 jam. Cairan infus yang diberikan

yaitu D10%.

3. Pencegahan terhadap infeksi, karena bayi sangat rentan terhadap infeksi,

karena pemindahan Ig G dari ibu ke janin terganggu.

4. Pengelolaan temperatur agar jangan sampai kedinginan karena bayi dismatur

lebih mudah menjadi hipotermi.

5. Pemberian makanan dini (early feeding) untuk mencegah hipoglikemi.

Pemberian ASI lebih baik selain pemberian nutrisi juga dapat mencegah nekrosis

enterokolitis.

6. Terapi oksigen

Menjaga saturasi oksigen kisaran 85% - 92%. Saturasi oksigen tidak harus

maksimal untuk melindungi kerusakan paru akibat oksigen.

7. Cairan

Pada hari pertama perawatan, bayi BBLSR mendapatkan cairan sekitar 60-80

ml/KgBB. Harus dilakukan pengawasan terhadap cairan yang masuk dan yang

keluar.

23
8. Elektrolit

Untuk mencegah hipokalsemia berikan Ca glukonas. Perlu dilakukan pemeriksaan

kadar elektrolit darah.

Pada kasus ini penatalaksanaan yang telah diberikan adalah dengan:

 Thermoregulasi (rawat inkubator)

 Oksigen diberikan pada hari ketiga perawatan

 IVFD D10% + NaCl (4:1) / 100 + 4 cc Ca glukonas + 2 cc KCl 4 tpm

 Pemberian antibiotik yaitu Ampicillin 60 mg/12 jam iv dan

Gentamicin 6 mg/36 jam iv. Pada hari ketiga antibiotik diganti dengan Ceftazidin

60 mg/12 jam iv

 Pemberian aminofusin pada hari kedua dan ketiga perawatan

 Latih ASI/PASI kemudian dipuasakan pada hari ketiga

 Pengawasan KU, TV, SD, CRT, tanda hipoglikemia, tanda hipotermi

Berdasarkan penelitian Lydia F et al, disimpulkan bahwa pemberian ASI pada

bayi BBLSR dapat menurunkan resiko sepsis dan NEC.4,7 ASI mengandung

beberapa imunomodulator termasuk sekresi IgA, laktoferin, lisozim, dan

asetilhidrolase.7

Pemberian antibiotik sangat penting pada bayi BBLSR terutama sebagai

antibiotik profilaksis. Berdasarkan penelitian Stoll BJ et al, disimpulkan bahwa late-

sepsis merupakan faktor resiko utama penyebab mortalitas dan morbiditas pada bayi

BBLSR. 21 Regimen antibiotik yang digunakan pada neonatus yaitu: 22,23

24
1. Sepsis neonatal digunakan ampicillin dikombinasikan dengan antibiotik

golongan aminoglikosida

2. Meningitis neonatal digunakan ampicillin dikombinasikan dengan antibiotik

sefalosporin generasi ketiga

Infeksi pada neonates paling sering melalui kontak dengan kulit. Pada bayi

BBLSR dan KMK memiliki lapisan kulit yang lebih tipis. Sehingga mudah

mengalami kerusakan dan menjadi jalur infeksi. Oleh karena itu, selama perawatan

dilakukan tindakan minimal handling. Selama perawatan di rumah sakit, infeksi juga

dapat terjadi melalui kateter infus dan pemasangan orogastric tube (OGT). Bakteri

penyebab sepsis akibat pemasangan OGT terbanyak yaitu Staphylococcus dan

Enterobacteriaceae. 7

25
BAB III

PENUTUP

Telah dilaporkan sebuah kasus bayi laki-laki gemeli dengan berat badan lahir

sangat rendah yaitu 1200 gram, usia 3 jam yang dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin.

Diagnosis gemeli diketahui setelah bayi lahir. Selama perawatan bayi rawat

inkubator, mendapatkan terapi cairan, antibiotik, aminofusin dan pemberian ASI.

Bayi mendapatkan perawatan selama 3 hari. Selama perawatan bayi mengalami

periodik apneu dua kali hingga terjadi gagal nafas dan akhirnya meninggal dunia.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. UCSF medical center. Very low and extremely low bisthweigth infants. The
regents of the University of California [online] 2004. Available from:
www.ucsfhealth.org/children/health/manual/20_VLBW_ELBW.pdf

2. Lucile Packard children’s hospital. Very low birthweight. Health library


[online] Available from:
http://www.lpch.org/DiseaseHealthInfo/HealthLibrary/hrnewborn/lbw.html

3. Kliegman RM. Kehamilan Multipel. Dalam: Behrman RE, Vaughan VC,


Nelson WE, eds. Ilmu kesehatan anak nelson 1. Alih bahasa : Siregar MR,
Maulany RF. Jakarta: EGC, 1992. H 559--61

4. Furman L, Taylor G, Minich N, Hack M. The effect of maternal milk in


neonatal morbidity of very low-birth-weight infants. Arch Pediatr Adolesc
Med. 2003; 157: 66-71

5. Sisca. Meneropong penyebab bayi berat lahir rendah. Anakku [online] 2009.
Available from: http://www.anakku.net/content/meneropong-penyebab-bayi-
berat-lahir-rendah

6. Obladen M, Diepold K, Maier RF et al. Venous and arterial hematologic


profiles of very low birth weight infants. Pediatrics 2000; 106: 707-11

7. Kaufman D, Fairchild KD. Clinical microbiology of bacterial and fungal


sepsis in very-low-birth-weight infants. Clinical microbiology reviews 2004;
17 (3): 638-80

8. Setyowati T. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bayi Lahir dengan Berat


Badan Rendah (Analisa data SDKI 1994). Badan Litbang Kesehatan [online]
1996. Avaliable from: http://www.digilib.litbang.depkes.go.id

9. Departemen kesehatan RI. Profil kesehatan Indonesia 2007 [online] 2008.


Available from: http://www.depkes.go.id

27
10. Groveman SA. New preterm infant growth curves influence of gender and
race on birth size. A thesis. Philadelphia: Drexel University, 2008

11. Hasan R, Alatas H, Ed. Bayi berat lahir rendah. Dalam: Buku Kuliah Ilmu
Kesehatan Anak 2 cet ke-6. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 1985. h 1051-7

12. Behrman RE, Vaughn VC, Nelson WE, eds. Ilmu kesehatan anak nelson 1.
Alih bahasa : Siregar MR, Maulany RF. Jakarta: EGC, 1992. h 561-3

13. Battaglia FC, Frazier TM, Hellegers AE. Birth weight, gestational age, and
pregnancy outcome, with special reference to high weight-low gestational age
infant. Pediatric 1966; 37: 417-22

14. Lee PA, Chernausek SD, Hokken-Koelega ACS, Czernichow P. International


small for gestational age advisory board consensus development conference
statement: management of short children born small for gestational age.
Pediatrics 2003; 111: 1253-61

15. Saenger P, Czernichow P, Hughes I, Reiter EO. Small for gestational age:
short stature and beyond. Endocrine reviews 2007; 28(2): 219-51

16. Wirgawan S. Penatalaksanaan dan Perawatan Bayi Dismatur (Berat Badan


Lahir Rendah). Dalam: Medika, 1993 12, 19 : 34-43

17. Cuningham F. Kehamilan Multifetus. Dalam: Cuningham D, MacDonald PC,


Gant NF (ed). Obstetri Williams. Jakarta: EGC, 1995. h 734-69

18. Wibowo B, Rachmidhani T. Kehamilan Kembar. Dalam: Ilmu Kebidanan.


Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1999

19. Eichenwald EC, Stark AR. Management and outcomes of very low birth
weight. N Engl K Med 2008; 358: 1700-11

20. Masjour Arif, Suprohaita, Wardhani WI et al. Perinatologi. Dalam: kapita


selekta Kedokteran. Jakarta: Media Eusculapius FKUI, 2000. h 501-10

21. Stoll BJ, Hansen N, Fanaroff AA et al. Late-onset sepsis in very low birth
weight neonates: the experience of the NICHD neonatal research network.
Pediatrics 2002; 110: 285-91

28
22. Brown JC, Burns JL, Cummings P. Ampicillin use in infant fever. Arch
Pediatr Adolesc Med 2002; 156: 27-32

23. Clark RH, Bloom BT, Spitzer AR, Gerstmann DR. Empiric use of Ampicillin
and cefotaxime, compares with Ampicillin and gentamicin, for neonates at
risk for sepsis is associated with an increased risk of neonatal death. Pediatrics
2006; 117: 67-74

29