Anda di halaman 1dari 20

Disusun oleh:

Adhani Kusumawati (2009730001)


KEPANITERAAN BAGIAN/SMF
ILMU PENYAKIT KULIT DAN
KELAMIN
RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA
CEMPAKA PUTIH 2014

Pembimbing:
dr. Fisalma Mansjoer, Sp. KK

INTRODUCTION
Pitiriasis rosea (PR) adalah gangguan kulit yang bersifat akut yang
ditandai oleh papulo-skuamosa, etiologinya tidak diketahui.

Dalam penelitian telah ditemukan angka kejadian pitriasis rosea 0,39-4,80


per 100 pada pasien kulit.

Meskipun PR dapat sembuh sendiri (self-limiting) dalam waktu 3-6


minggu, perjalan klinis pada beberapa pasien bisa sampai beberapa bulan
dan kekambuhan sering terjadi.

Walupun etiologinya belum diketahui secara pasti, kemungkinan kejadian


musiman dan gejala prodormal menjadi patogenesisnya.

Faktor pencetus untuk PR bisa terjadi saat penggunaan pakian baru atau
pakaian yg lama yang telah tersimpan dalam waktu yang lama.

Pada pengamatan yang dilakukan kepada 2 orang pasien yang diberikan


eritromisisn dalam pengobatan infeksi saluran nafas atas memberikna lesi
perbakain pada pasien PR.

Obat-obatan seperti allopurinol, arsenic, bismuth, barbiturate, gold,


hydrochlorothiazide, organic mercurials, nimesulide, d-penicillamine,
clonidine, isotretinoin dan ketotifen dapat meyebabkan gejala mirip PR.

DNA human harpes virus 6 dan 7 (HHV-6 dan HHV-7) yang telah diisolasi
dari lesi kulit dan non-lesi, darah perifer sel mononuklear, serum dan saliva
yang di ambil dari sempel pasien dengan PR. Menunjukan etiologi PR dari
virus tersebut.

OBJECTIVE
Untuk menentukan kemajuan asiklovir sebagai obat anti-viral dalam
pengobatan PR.

MATERIALS AND METHODS

Dilakuan studi secara acak (randomized), double-blind, placebo sebagai


kontrol dalam menuntukan kemajuan dari asiklovir sebagai obat anitiviral dalam pengobatan PR.
73 pasien yang menderita PR direkrut di departemen dermatologi RS di
India selatan selama periode November 2006 hingga Mei 2008.

Kriteria inklusi :
Didiagnosis pityriasis rosea.
Kriteria eksklusi :

Pasien yang telah mendapatkan beberapa bentuk terapi


sistemik untuk pityriasis rosea (misalnya kortikosteroid,
eritromisin) dan orang-orang dengan penyakit sistemik
termasuk gangguan ginjal.

PROSEDUR
Anamnesis (Menanyakan riwayat penyakit dengan detail)
Terapi pasien yang diberiakn oleh doketr kulit yaitu :
38 pasien dipilih secara acak dimulai dari pemberian
asiklovir oral 800 mg 5X / hari untuk orang dewasa dan 20
mg/ kg/ dosis, 4X /hari untuk anak-anak digunakan dalam
jangka waktu 7 hari.

35 pasien diberikan resep placebo (tablet vitamin C 100 mg,


5X/ hari untuk orang dewassa dan 50 mg 4X/ hari untuk
anak-anak dalam jangka waktu 7 hari.

Viatamin C ini duganakan sebagai pacebo karena


diperlukan untuk pertumbuhan serat kolagen pada dermis,
jaringan subkutan, tulang rawan, tulang, gigi dan dinding
pembuluh darah.

Pengobatan simtomatik dan antihistamin diberikan bila


diperlukan.

Dalam pityriasis rosea, sebagian besar perubahan


histopatologi terlihat pada epidermis. Oleh karena itu
pemberian vitamin C-sebagai plasebo tidak akan
memperburuk lesi kulit PR.

Pada kedua kelompok (Penggunaan asiklovir oral dan


placebo) dievaluasi secara klinis setelah 7 dan 14 hari. Lesi
kulit dievaluasi sebagai berikut :

Regressed; jika eritema mengalami penurunan atau


hilang dan semua lesi meninggalkan deskuamasi atau
pigmentasi.
Partially regressed; jika eritema menurun pada 50%
dari lesi.

Unchanged; jika penurunan eritema tercatat di <50%


dari lesi.

STATISTICAL ANALYSIS

10

Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode


statistik standar.
Pasien kelompok asiklovir dan palecobo dibandingkan dengan
menggunakan Student t-test. Kemanjuran pengobatan pada
kelompok asiklovir dan kelompok plasebo dibandingkan dengan
Z-test.
Signifikansi dari durasi pretreatment penyakit diukur dengan ttest.
Mean dan standar deviasi ( SD) dihitung dalam setiap
kelompok dan tingkat signifikansi yang telah ditentukan.

RESULTS
Follow-up dari 60 pasien (Masing-masing 30 pasien dari kelompok
asiklovir dan placebo) tidak adar perbedaan yang signifikan anatara
asiklovir dan placebo (P> 0,05).
(b)

(c)

Respon terpai pada pasien PR yang diberikan asiklovir :


[Tabel / Gambar-1]: (a) lesi luas pada Pasien (kelompok Acyclovir); (b) 7 hari follow-up
(c) 14 hari follow-up.

11

(a)

(a)

(b)

12

Respon terpai pada pasien PR yang diberikan placebo :


[Tabel / Gambar-2]: (a) Beberapa lesi pada pemberian Placebo ; (b) 7 hari
follow-up. Terlihat Penampilan lesi baru.

[Tabel / Gambar-3]: Respon dalam pengobatan kelompok asiklovir dan kelompok


plasebo.

13

* statistik p <0,05 signifikan ditentukan oleh z-test. Dari 30 pasien masing-masing di


kelompok asiklovir dan plasebo.

[Tabel / Gambar-4]: Penampilan lesi baru pada kelompok asiklovir dan kelompok plasebo

14

Pada tabel 4 menunjukan bahwa pada pasien kelompok placebo menunjukan lesi baru,
pada hari ke 7 dan hari ke 14 setelah kunjungan pertama.

15

[Tabel / Gambar-5]: Waktu yang dibutuhkan untuk clearance lesi kulit pada
kelompok asiklovir (<7 hari vs> 7 hari). * p> 0.05 hasil tidak signifikan, statistik
ditentukan oleh t-test.

DISCUSSION
Penelitian terbaru menunjukan bahwa keberadaan HHV-6 dan HHV-7
pada penderita PR ditemukan pada lesi (86% dan 93%) dan kulit non-lesi
(79% dan 86%), saliva (80% dan 100%), darah perifer sel mononuklear
(83% di kasus kedua) dan serum (88% dan 100%) diperoleh dari
polymerase chain reaction.

16

Mekanisme patogensisnya belum jelas namun diduga bahwa virion


menyerang ruang dermal ekstravaskuler dari pembuluh darah dan
merusak jaringan kulit atau epidermis baik secara langsung atau melalui
intraksi dengan sistem kekebalan tubuh Host tersebut. Tidak ada bukti
infeksi aktif dari Cytomegalovirus, virus Epstein-Barr dan Parvovirus B19
pada Pitiriasis rosea.

Mengingat etiologi virus kemungkinan, obat anti-virus mungkin


efektif dalam pityriasis rosea. Gansiklovir, foscarnet, dan sidofovir
aktif terhadap HHV-6, namun agen ini memiliki efek samping yang
serius seperti myelosupresi dan nefrotoksisitas.

17

Acyclovir, dalam dosis tinggi, telah terbukti efektif terhadap HHV-6


namun HHV-7 kurang sensitif terhadap asiklovir karena tidak
memiliki gen kinase timidin, di mana terdapat pada asiklovir.

[Tabel / Gambar-6]: Perbandingan hasil; Pada kelompok asiklovir dan


placebo

18

Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam waktu yang dibutuhkan untuk
resolusi lesi kulit pada kelompok asiklovir, apakah pengobatan itu dimulai
dalam atau setelah 7 hari dari onset.

CONCONCLUSION
Penelitian pertama dari India yang menilai kemajuan asiklovir
dalam pengobatan PR.

19

Dari hasil penelitian di dapatkan kesimpulan bahwa dosis tinggi


asiklovir efektif dalam pengobatan PR dan khasiatnya terlepas dari
durasi penyakit.

20

TERIMA KASIH