Anda di halaman 1dari 21

Makalah Pengembangan Obat Tradisional

Stimuno Fitofarmaka

Disusun oleh:
Noni Erlila (1300023229)
Wuri Nendra Aji (1300023232)
Beta efriona P.F ( 1300023235)
M. Fatah Kamal (1300023237)
Humaira isnaini (1300023238)
Mona Fitriani (1300023239)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2014
1

Daftar isi

A. BAB
i.
ii.
iii.

1: PENDAHULUAN

Latar belakang..............................................................................
Rumusan masalah........................................................................
Tujuan...........................................................................................

B. BAB 2 : ISI
i.

ii.

iii.

iv.

Obat tradisional
Jamu ..............................................................................
Obat herbal terstandar...................................................
Fitofarmaka.....................................................................
Uji klinis dan uji praklinis................................................
Stimuno........................................................................................
Mekanisme kerja stimuno...............................................
Pendaftaran stimuno......................................................
Sistem imun tubuh ......................................................................
Pengertian dan klasifikasi............................................................
funsgsi
Phyllanthus niruri (meniran)
Klasifikasi Phyllanthus Niruri...........................................
Senyawa kimia Phyllanthus Niruri.................................
Khasiat phyllanthus niruri................................................
Efek samping Phyllanthus Niruri.....................................
Struktur kandungan senyawa Phyllanthus Niruri..............

C. BAB 3 : PENUTUP
I.
II.
III.

Pembahasan...............................................................................................
Kesimpulan.................................................................................................
Daftar pustaka............................................................................................

Bab 1
Pendahuluan
i.

Latar belakang

Obat tradisional adalah obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun-temurun,


berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik
bersifat magic maupun pengetahuan tradisional.
Saat ini penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional cenderung meningkat, terlebih
dengan adanya isu back to nature serta krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya
beli masyarakat. Obat tradisional banyak digunakan masyarakat menengah kebawah terutama
dalam upaya preventif, promotif dan rehabilitatif.
WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk obat herbal dalam
pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk kronis,
penyakit degeneratif dan kanker. Hal ini menunjukan dukungan WHO untuk back to nature dalam
hal yang lebih menguntungkan.
Di Indonesia, dari tahun ke tahun terjadi peningkatan industri obat tradisional, karena
banyaknya variasi sediaan bahan alam maka untuk memudahkan pengawasan dan perizinan maka
Badan POM mengelompokkan obat tradisional menjadi tiga yaitu sediaan jamu, sediaan herbal
terstandar dan sediaan fitofarmaka.
Jamu merupakan tingkatan terendah dalam hal ini, kemudian obat herbal terstandar berada
di atasnya. Dan kategori tertinggi adalah fitofarmaka. Obat fitofarmaka yaitu obat yang memenuhi
persyaratan aman, klaim khasiat terbukti berdasarkan uji klinik yang diterapkan pada manusia,
bahan baku yang dipergunakan sudah mengikuti standarisasi dan memenuhi persyaratan mutu yang
baik.
Salah satu contoh fitofarmaka yang telah beredar di Indonesia yaitu stimuno. Stimuno
merupakan obat herbal asli Indonesia yang terbuat dari ekstrak Meniran (Phyllanthus niruri).
Stimuno telah teruji khasiatnya secara klinis dalam meningkatkan daya tahan tubuh.

ii.

Rumusan masalah

1. Apa pengertian Obat Tradisional dan bagaimana penggolongannya ?


2. Mengapa stimuno dikatakan sebagai produk fitofarmaka ?
3. Bagaimana perkembangan fitofarmaka di Indonesia dan apa saja faktor penghambat
perkembangannya ?
4. Bagaimana kerja stimuno dalam tubuh ?

iii.

Tujuan

Pada makalah ini djelaskan tentang fitofarmaka,khususnya Stimuno yang berkhasiat sebagai
imunomodulator. Tujuan dari pembuatan makalah ini agar dapat lebih mengetahui dan mempelajari
pengembangan obat tradisional di Indonesia khususnya fitofarmaka dengan produk yang digunakan
adalah Stimuno.

BAB 2
ISI

i.

Obat Tradisional

Adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral,
sediaan galenik atau campuran dari bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman. (PERMENKES RI No. 246/Menkes/Per/V/1990 tentang Izin
Usahan Indutri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional )
Obat tradisional terbagi menjadi 3 yaitu : jamu, obat herbal terstandar,dan fitofarmaka.
1.

Jamu
Jamu adalah obat tradisional yang berdasarkan dari pengalaman empiris secara
turun temurun, yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya dari generasi ke generasi.
Bentuk obat umumnya disediakan dalam berbagai bentuk serbuk, minuman, pil, cairan dari
berbagai tanaman. Jamu umumnya terdiri dari 5-10 macam tumbuhan bahkan lebih, bentuk
jamu tidak perlu pembuktian ilmiah maupun klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris saja.
Contoh : jamu sehat, jamu galian singset

2.

Obat Herbal Terstandar (OHT)


Obat Herbal Terstandar adalah obat tradisional yang telah teruji berkhasiat secara
pra-klinis (terhadap hewan percobaan), lolos uji toksisitas akut maupun kronis, terdiri dari
bahan yang terstandar (Seperti ekstrak yang memenuhi parameter mutu), serta dibuat
dengan cara higienis.

3.

Fitofarmaka
Fitofarmaka adalah obat tradisional yang telah teruji khasiatnya melalui uji pra-klinis
(pada hewan percobaan) dan uji klinis (pada manusia), serta terbukti aman melalui uji
toksisitas, bahan baku terstandar, serta diproduksi secara higienis, bermutu, sesuai dengan
standar yang ditetapkan.

Walaupun sama-sama diracik dari bahan alami, namun fitofarmaka jauh


mengungguli sediaan jamu biasa, bahkan sediaan ini juga sudah dapat disetarakan dengan
obat-obatan modern. Ini disebabkan fitofarmaka telah melewati beberapa proses yang
setara dengan obat-obatan modern, diantaranya fitofarmaka telah melewati standarisasi
mutu, baik dalam proses pembuatan hingga pengemasan produk, sehingga dapat digunakan
sesuai dengan dosis yang efektif dan tepat. Selain itu sediaan fitofarmaka juga telah
melewati beragam pengujian yaitu uji preklinis seperti uji toksisitas, uji efektivitas, dan lainlain. Dengan menggunakan hewan percobaan dan pengujian klinis yang dilakukan terhadap
manusia.

1.) Uji Praklinik


Suatu senyawa yang baru ditemukan (hasil isolasi maupun sintesis) terlebih dahulu
diuji dengan serangkaian uji farmakologi pada hewan. Sebelum calon obat baru ini dapat
dicobakan pada manusia, dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk meneliti sifat
7

farmakodinamik, farmakokinetik, farmasetika, dan efek toksiknya pada hewan uji.


Serangkaian uji praklinik yang dilakukan antaralain :
a. Uji Farmakodinamik
Untuk mengetahui apakah bahan obat menimbulkan efek farmakologik seperti yang
diharapkan atau tidak, titik tangkap, dan mekanisme kerjanya. Dapat dilakukan secara in
vivo dan in vitro.
b. Uji Farmakokinetik
Untuk mengetahui ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme dan Eliminasi)
dan merancang dosis dan aturan pakai.
c. Uji Toksikologi
Untuk mengetahui keamanannya.
d. Uji Farmasetika
Memperoleh data farmasetikanya tentang formulasi, standarisasi, stabilitas, bentuk
sediaan yang paling sesuai dan cara penggunaannya.

2.) Uji Klinik


Uji klinik bertujuan untuk membuktikan atau menilai manfaat klinik suatu obat,
pengobatan, atau strategi terapetik tertentu secara objektif dan benar. Dengan kata lain, uji
klinik dimaksudkan untuk menghindari pracondong pemakai obat (prescriber), pasien, atau
dari perjalanan alami penyakit itu sendiri. Di samping itu, uji klinik harus dapat memberikan
jawaban yang benar (valid) mengenai manfaat klinik intervensi terapi tertentu, jika memang
bermanfaat harus terbukti bermanfaat, dan jika tidak bermanfaat harus terbukti tidak
bermanfaat.
Tahap-tahap uji klinis :
1. Uji klinik fase I.
Pada uji klinik fase I ini untuk pertama kalinya obat yang diujikan diberikan pada
manusia (sukarelawan sehat), baik untuk melihat efek farmakologi maupun efek samping.
Secara singkat tujuan uji klinik pada fase ini adalah:
- melihat kemungkinan adanya efek samping dan toleransi subjek terhadap obat yang
diujikan,
- menilai hubungan dosis dan efek obat, dan
- melihat sifat kinetik obat yang meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan eksresi.
Dengan melakukan uji klinik fase I ini kita akan memperoleh informasi mengenai dosis,
frekuensi, cara dan berapa lama suatu obat harus diberikan pada pasien agar diperoleh efek
terapetik yang optimal dengan risiko efek samping yang sekecil- kecilnya. Informasi yang
diperoleh dari uji klinik fase I ini diperlukan sebagai dasar untuk melakukan uji klinik
berikutnya (fase II).
2. Uji klinik fase II
Bertujuan untuk melihat kemungkinan efek terapetik dari obat yang diujikan. Pada
tahap ini uji klinik dilakukan secara terbuka tanpa kontrol (uncontrolled trial). Mengingat
8

subjek yang digunakan terbatas. Hasil dan kesimpulan yang diperoleh belum dapat
digunakan sebagai bukti adanya kemanfaatan klinik obat.
3. Uji klinik fase III
Dalam tahap ini obat diuji atas dasar prinsip-prinsip metodologi ilmiah yang ketat.
Mengingat hasil yang diperoleh dari uji klinik fase III ini harus memberi kesimpulan definitif
mengenai ada/tidaknya kemanfaatan klinik obat, maka diperlukan metode pembandingan
yang terkontrol (controlled clinical trial). Di sini obat yang diuji dibandingkan dengan obat
standard yang sudah terbukti kemanfaatannya (kontrol positif) dan/atau plasebo (kontrol
negatif).
4. Uji klinik fase IV (post marketing surveillance).
Uji tahap ini dilakukan beberapa saat setelah obat dipasarkan/digunakan secara luas
di masyarakat. Uji ini bertujuan untuk mendeteksi adanya efek samping yang jarang dan
serius (rare and serious adverse effects) pada populasi, serta efek samping lain yang tidak
terdeteksi pada uji klinik fase I, II dan III.
Uji terhadap obat yang telah dipasarkan (post marketing surveilance) :
- Mamantau efek samping yang belum terlihat pada uji-uji sebelumnya
- Dug safety : drug mortality atau drug morbidity
- MESO : Monitoring Efek Samping Obat
Fitofarmaka harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya :
a.

Aman dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan

b.

Klaim khasiat harus dibuktikan berdasarkan uji klinik

c.

Telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi

d.

Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku

ii.

Stimuno

STIMUNO merupakan produk herbal bersertifikat fitofarmaka yang digunakan untuk


memperbaiki sistem imun tubuh. Stimuno bekerja dengan merangsang tubuh memproduksi lebih
banyak antibodi dan meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh agar daya tahan tubuh bekerja
optimal.
Imunomodulator berperan membuat sistem imun lebih aktif dalam menjalankan fungsinya
menguatkan sistem imun tubuh (imuno stimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang
berlebihan (imuno supresan) sehingga kekebalan atau daya tahan tubuh kita selalu optimal menjaga
kita tetap sehat ketika diserang oleh virus, bakteri atau mikroba lainnya.
Tata Cara Penomoran Obat :
Penomoran Obat Tradisional Secara Umum
Secara umum ada 11 digit penomoran untuk obat tradisional secara umum, yaitu :
1. Urutan 1,2
Penandaan jenis obat.
9

TR
: obat tradisional lokal.
TI
: obat tradisional impor
TL
: obat tradisional lisensi
FF
: Fitofarmaka
QD/QL : Produk kuasi dalam/luar
2. Urutan 3,4
Menunjukan tahun mulai obat tersebut terdaftar.
3. Urutan 5
Menunjukan bentuk perusahaan.
1. Menunjukan pabrik farmasi.
2. Pabrik jamu (IOT)
3. Perusahaan jamu (IKOT)
4. Urutan 6
Menunjukan bentuk sediaan
Angka 1 : Bentuk rajangan
Angka 2 : Bentuk Serbuk
Angka 3 : Bentuk
Angka 4 : bentuk pil, granulasi, boli, pastiles , jenang
Angka 5 : dodol, majun, tablet, kaplet
Angka 6 : cairan
Angka 7 : salep/krim
Angka 8 : plester dan koyo
Angka 9 : bentuk lain, dupa, ratus, mangir, permen
5. Urutan 7,8,9,10
Menunjukan nomer urut jenis produk yang didaftar
6. Urutan 11
Menunjukan jenis macam kemasan yang keberapa (volume)
1 : 15 ml
2 : 30 ml
3 : 45 ml
STIMUNO FORTE
Nomor registrasi : FF041300411
FF : Fitofarmaka
04 : Tahun mulai produk terdaftar di Balai POM (2004)
1 : Menunjukan bahwa obat dibuat oleh pabrik farmasi
3 : jenis sediaan kapsul
0041 : Nomor urut jenis produk yang terdaftar
1 : Menunjukan jenis kemasan utama volume 15 ml

10

STIMUNO SIRUP
Nomor registrasi : FF 041600421
FF : Fitofarmaka
04 : Tahun mulai produk terdaftar di Balai POM (2004)
1 : Menunjukan bahwa obat dibuat oleh pabrik farmasi
6 : jenis sediaan cairan
0042: Nomor urut jenis produk yang terdaftar
1 : Menunjukan jenis kemasan utama volume 15 ml

Mekanisme kerja STIMUNO


Sistem imun tubuh terdiri dari banyak komponen. Semua komponen tersebut akan bekerja
secara serentak manakala tubuh mendapatkan serangan dari penyakit yang berasal dari luar tubuh
maupun dari dalam tubuh kita sendiri. Kerja sistem imun tubuh kita secara sederhana terbagi dalam
3 kelompok :

Sistem pertahan tubuh awal : contohnya, kulit, rambut di kulit, air mata
Sistem pertahanan tubuh non spesifik (alamiah) : adalah sistem yang paling cepat bereaksi
ketika ada serangan virus, bakteri atau mikroba dari luar.
Sistem pertahanan spesifik (dapatan) : sistem ini baru bekerja ketika perlawanan sistem
imun alami kita tidak cukup dan bekerja menurut jeniis serangan virus atau bakteri yang
terjadi. Yang bekerja pada sistem ini adalah Limfosit T & B. Hasil kerja sistem inilah yang
berbentuk antibodi (IgG dan IgM).

Sistem imun berkembang sesuai dengan perkembangan tubuh kita, pada waktu bayi umumya
sistem imun masih belum banyak berkembang, beberapa komponen masih belum dapat bekerja
optimal. Dengan bertambahnya usia dari anak-nak menuju remaja hingga dewasa, sistem imun
berkembang untuk bekerja lebih optimal. Tetapi memasuki usia tua, sistem imun menurun kemballi.
Oleh karena itu, anak-anak dan lansia mudah sekali terkena penyakit.
Pada prinsipnya, orang dengan kondisi sistem imun dalam keadaan prima, tidak mudah terkena
infeksi, akan tetapi jika pada saat tertentu sistem imunterganggu atau tidak bekerja dengan baik,
maka infeksi oleh bakteri, virus atau jamur mudah masuk ke dalam tubuh.
Banyak faktor yang dapat mengakibatkan sistem imun terganggu, di antaranya: stress, kurang gizi,
terlalu lelah, dsb. Untuk mengatsinya diperlukan pola hidup sehat, antara lain : cukup istirahat,
makan bergizi seimbang, tidak stress, menghindari lingkungan yang dapat mengakibatkan sakit dan
bila perlu mengkonsusmsi obat atau suplementasi yang dapat menguatkan sistem imun (daya tahan)
tubuh.
Imunomodulator berperan membuat sistem imun lebih aktif dalam menjalankan fungsinya
menguatkan sistem imuntubuh (imuno stimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang
berlebihan (imuno supresan) sehingga kekebalan atau daya tahan tubuh kita selalu optimal menjaga
kita tetap sehat ketika diserang oleh virus, bakteri atau mikroba lainnya.
Salah satu imunomodulator yang telah teruji klinis dengan baik adalah STIMUNO. STIMUNO
telah memperoleh sertifikat FITOFARMAKA dari BPOM karena telah terstandarisasi dan telah lolos
uji pre klinis (uji keamanan) dan uji klinis (pembuktian khasiatnya). STIMUNO terbuat dari ekstrak
Phyllanthus niruri (meniran, herbal asli Indonesia).
Dengan mengkonsusmsi imunomodulator 'STIMUNO' orang akan meningkat kerja sistem
imunnya sehingga dapat :

Mempercepat proses penyembuhan jika terkena infeksi.

11

iii.

Pencegajhan/ proteksi jika berada di tempat yang sedang mewabah penyakit menular misal:
demam berdarah, SARS, flu burung, malaria, influenza, dll.
Pencegahan bagi merekayang berbakat terkena penyakit yang mudah diturunkan, misal:
hepatitis B dan C, kanker.
Pencegahan bagi mereka yang bekerja atau bertempat tinggal di lingkungan yang kotor,
pekerja rumah sakit dan laboratorium klinik yang banyak kontak dengan bahan
terinfeksi,pekerja di peternakan ayam atau babi .

Sistem imun

Sistem imun adalah sistem pertahanan yang ada pada tubuh manusia yang berfungsi untuk
menjaga manusia dari benda-benda yang asing bagi tubuh manusia. Pada sistem imun ada istilah
yang disebut Imunitas. Imunitas sendiri adalah ketahanan tubuh kita atau resistensi tubuh kita
terhadap suatu penyakit. Jadi sistem imun pada tubuh kita mempunyai imunitas terhadap berbagai
macam penyakit yang dapat membahayakan tubuh kita.
Klasifikasi Sistem Imun
Berdasarkan responnya terhadap suatu jenis penyakit, sistem imun dibagi menjadi 2 macam
yaitu Sistem Imun Non-Spesifik dan Sistem Imun Spesifik.
1. Sistem Imun Non-Spesifik / Innate / Non-Adaptif
Sistem imun non-spesifik adalah sistem imun yang melawan penyakit dengan cara yang
sama kepada semua jenis penyakit. Sistem imun ini tidak membeda-bedakan responnya kepada
setiap jenis penyakit, oleh karena itu disebut non-spesifik. Sistem imun ini bekerja dengan cepat dan
selalu siap jika tubuh di datangkan suatu penyakit.
2. Sistem Imun Spesifik / Adaptif
Sistem imun spesifik adalah sistem imun yang membutuhkan pajanan atau bisa disebut
harus mengenal dahulu jenis mikroba yang akan ditangani. Sistem imun ini bekerja secara spesifik
karena respon terhadap setiap jenis mikroba berbeda. Karena membutuhkan pajanan, sistem imun
ini membutuhkan waktu yang agak lama untuk menimbulkan respon. Namun jika sistem imun ini
sudah terpajan oleh suatu mikroba atau penyakit, maka perlindungan yang diberikan dapat bertahan
lama karena sistem imun ini mempunyai memory terhadap pajanan yang didapat.
Fungsi Sistem Imun
Fungsi sistem imun sendiri ada 3, yaitu :
1. Pertahanan
2. Homeostasi tubuh
3. Penangkal benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
4. Untuk keseimbanagn fungsi tubuh terutama menjaga keseimbangan komponen tubuh yang
telah tua.
12

5. Sebagai pendeteksi adanya sel-sel abnormal, termutasi, atau ganas, serta


menghancurkannya.
6. Sistem imun tidak dapat dibentuk dalam waktu yang singkat. Respon imun tubuh alamiah
terhadap serangan pathogen baru akan muncul dalam waktu 24 jam.
7. Kebanyakan pathogen yang ada di sekitar kita sulit masuk ke dalam tubuh akibat adanya
mekanisme pertahanan tubuh secara alami.
8. Terdapat 4 mekanisme pertahanan tubuh alami terhadap pathogen yang akan masuk
kedalam tubuh, yaitu pertahanan fisik, mekanik, kimia, dan biologis.
9. Pertahanan Fisik
10. Kulit memberikan penghalang fisik bagi jalan masuknya pathogen ke dalam tubuh. Lapisan
luar sel-sel kulit mati yang keras mengandung keratin dan sangat sedikit air, sehingga
pertumbuhan pathogen menjadi terhambat
Faktor yang Mempengaruhi Sistem Imun
Beberapa faktor yang mempengaruhi sistem imun, yaitu :
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Lingkungan

Hasil penelitian stimuno(phyllanthus niruri)


Penelitian dilakukan pada jemaah haji Indonesia tahun 2007/2008 (1428 H), melalui
pemberian ekstrak Phyllanthus niruri (meniran) dan/atau multivitamin kepada jemaah
selama menunaikan ibadah haji. ILI merupakan salah satu Infeksi Saluran Pernapasan Atas
(ISPA) yang merupakan kasus dengan frekuensi tersering ditemukan pada jemaah haji
Indonesia. Hasil penelitian dan uji klinis terhadap jemaah haji Indonesia ini dipaparkan di
Jakarta, Senin 30 Maret 2009.
Dari penelitian yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa pemberian Phyllanthus niruri
dapat mengurangi risiko ILI pada jemaah haji Indonesia selama menjalankan ibadah haji.
ujar DR. Masdalina Pane, SKM, MKes, dari Subdirektorat Kesehatan Haji, Direktorat
Sepimkesma Ditjen PPPL Departemen Kesehatan Republik Indonesia. ILI merupakan salah
satu ISPA yang dapat mengganggu aktifitas jemaah selama beribadah di Tanah Suci,
terutama karena individu yang menderita ILI mengalami demam dan rasa lelah yang
berlebihan.
Penelitian dilakukan dengan melibatkan 410 jemaah haji, laki-laki dan perempuan, usia 1865 tahun yang secara klinis dinilai sehat oleh tim kesehatan haji (tidak memiliki penyakit
kronis atau menderita penyakit kronis tetapi dalam kondisi stabil). Dosis dua kali sehari
diminumkann untuk kapsul Phyllanthus niruri 50mg dan sekali sehari untuk tablet
multivitamin, selama 40 hari, sejak seminggu sebelum berangkat dari Tanah Air dan selama
perjalanan ibadah haji. Selama mengikuti penelitian, subjek tidak diperkenankan meminum
suplemen lainnya yang digunakan di luar penelitian.

13

Pemberian ekstrak Phyllanthus niruri tunggal atau dengan kombinasi multivitamin dapat
mengurangi insiden ILI masing-masing sebesar 17.35% dan 36.2% lebih rendah
dibandingkan dengan insiden ILI pada kelompok yang hanya diberikan multivitamin tunggal
jelas dr.Iris Rengganis, SpPD,KAI, dari Divisi Alergi-Immunologi Klinik, Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI /RSCM, salah satu peneliti yang melakukan uji klinis terhadap jemaah
haji.
PT Dexa Medica mendukung penelitian ini sebagai salah satu upaya membantu peran
pemerintah meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, salah satunya dengan
memanfaatkan tanaman herbal asli Indonesia, Meniran. Sebagai pembawa kuota haji
terbesar, faktor kesehatan jemaah menjadi perhatian khusus, agar persiapan fisik (sejak
awal pendaftaran, proses manasik hingga pemberangkatan) dan materi (biaya) tidak akan
menjadi sia-sia, hanya karena jemaah jatuh sakit selama beribadah di Tanah Suci.
Jemaah haji Indonesia umumnya berusia sekitar 20 hingga 60 tahunan, bahkan sebagian
besar di usia 40 50an tahun. Mengingat usia ini rentan daya tahan tubuh menurun, maka
agar ibadah haji lancar dan tidak terganggu karena sakit, perlu usaha agar tubuh tetap sehat
sebelum hingga ibadah selesai. Salah satunya dapat dilakukan dengan mengkonsumsi
STIMUNO secara teratur.
STIMUNO, produk herbal yang diproduksi oleh PT Dexa Medica, merupakan ekstrak meniran
yang bermanfaat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tubuh tidak mudah sakit, serta
berkhasiat mempercepat proses penyembuhan apabila jatuh sakit. STIMUNO telah teruji
klinis (sekitar 15 kali uji klinis) dan telah mendapatkan sertifikat Fitofarmaka dari BPOM.
Bahan dasar STIMUNO dibudidayakan dengan teknologi modern mengikuti standar GAP
(Good Agriculture Practices), dan diproses mengikuti standar CPOB (Cara Pembuatan Obat
yang Baik).

iv. Meniran
A.Taksonomi
Kingdom
Subkingdm
Super Divisi
Divisi
Kelas
Sub Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Plantae
: Tracheobionta
: Spermatophyta
: Magnoliophyta
: Magnoliopsida
: Rosidae
: Euphorbiales
: Euphorbiaceae
: Phyllanthus
: Phyllanthus niruri L.

14

B.Morfologi
1.Batang
Tanaman meniran (Phyllanthus niruri) ini memiliki batang yang berbentuk bulat berbatang basah
dengan tinggi kurang dari 50cm, berwarna hijau, diameternya 3 mm.

2.Daun
Tanaman ini memiliki daun majemuk, tata letak daunnya berseling ( Deccussate ), bentuk daun bulat
telur (ovale), ujung daunnya tumpul, pangkalnya membulat, memiliki tepi daun yang rata ( Entire ),
memiliki anak daun 15-24, memiliki panjang 1,5 cm, lebar 7 mm, dan berwarna hijau. Daun
meniran ini termasuk pada tipe daun yang tidak lengkap yaitu pada bagian daun bertangkai karena
tanaman
ini
hanya
memiliki
tangkai
dan
beberapa
heliaan
daun.

3.Bunga,Buah,Biji,Akar
Tanaman ini memiliki bunga tunggal yang terdapat pada ketiak daun menghadap ke arah bawah,
menggantung dan berwarna putih. Memiliki daun kelopak yang berbentuk bintang, benang sari dan
putik tidak terlihat jelas, mahkota bunga kecil dan berwarna putih. buah yang berbentuk kotak, bulat
pipih dan licin, diameter 2mm dan berwarna hijau , bijinya kecil, keras dan berbentuk ginjal
serta,berwarna coklat. Tanaman ini memiliki akar tunggang yang berwarna putih.

C. Bagian Tanaman Yang Di gunakan Sebagai Obat


Bagian tanaman meniran yang bisa dimanfaatkan sebagai obat yaitu pada bagian akar
(radix), batang, daun (folium), bunga (flos), aerial atau bagian herba.

D. Kandungan Kimia
Tumbuhan ini kaya dengan berbagai kandungan kimia yang sudah diketahui, antara lain :
lignan (Filantin, hipofilantin, nirantin, lintetratin), flavonoid (quercetin, quercitrin, isoquercitrin,
astragalin, rutin, kaempferol-4, rhamnopynoside), alkaloid, triterpenoid, asam lemak (asam
ricinoleat, asam linoleat, asam linolenat), vitamin C, kalium, damar, tanin, geraniin, phyllanthin dan
hypophyllanthin.
Senyawa lain yang terkandung dalam Meniran adalah beta-d-xylopyranoside dan betasitosteroy. Senyawa lain yang baru ditemukan adalah seco-4-hidroksilintetralin, seco-isoarisiresinol
trimetil eter, hidroksinirantin, dibenzilbutirolakton, nirfilin, dan neolignan.
Akar dan daun Meniran kaya akan senyawa flavonoid, antara lain phyllanthin,
hypophyllanthin, qeurcetrin, isoquercetin, astragalin, dan rutin. Minyak bijinya mengandung
beberapa asam lemak seperti asam ricinoleat, asam linoleat, dan asam linolenat.

E. Khasiat
Tanaman ini memiliki beberapa khasiat atau manfaat sebagai obat yaitu sebagai berikut:
1.Antibakteri
Ekstrak metanol daun Meniran mempunyai efek antibakteri paling tinggi terhadap bakteri
Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Escherichia colli, dan Pseudomonas aeruginosa. Efek ini
disebabkan senyawa antibakteri pada Meniran seperti phyllanthin, hypophyllanthin, niranthin, dan
nietetralin. Ekstrak petroleum eter dari batang, daun, dan akar Meniran juga menunjukkan efek
antifungi.
15

2.Pelarut asam urat dan batu ginjal


Tanaman meniran ini kaya akan kandungan senyawa flavonoid dan glikosida flavonoid yang
dapat digunakan untuk mengobati asam urat dan batu ginjal. Meniran juga bersifat diuretik
(membantu keluarnya air seni).
3.Immunodulator
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Meniran dapat memodulasi sistem imun
melalui proliferasi (penyebaran) dan aktivasi limfosit T dan B, apabila perlawanan sistem kekebalan
alami kita tidak mencukupi. Limfosit T dan B bekerja menurut jenis serangan virus dan bakteri yang
terjadi. Selain itu, Meniran juga berfungsi mengaktivasi sel fagositik seperti monosit dan makrofag
yang bertugas memberikan potongan patogen (agen biologis penyebab penyakit) kepada sel T
sehingga patogen tersebut dapat dikenali dan dibunuh.
Karena bersifat immunomodulator, Meniran dapat digunakan untuk memperkuat sistem
kekebalan tubuh terhadap bakteri, virus, dan mikroba penyebab penyakit sehingga dapat mencegah
berbagai penyakit yang disebabkan bakteri, virus.
4.Antikanker
Kemampuan Meniran sebagai immunostimulator membantu merangsang aktivitas sel
natural killer (NK) dan sel killer (K). Jika toksisitas kedua sel tersebut meningkat, sel-sel yang
mengalami mutasi dan abnormal (sel kanker) akan dihancurkan oleh keduanya.
5.Antidiabetes
Kandungan senyawa aktif Phyllanthin dan hypophyllanthin merupakan komponen utama
yang diduga berperan aktif dalam penurunan kadar gula darah.
6.Hepatoprotektor
Kandungan senyawa aktif yang dimiliki oleh meniran yaitu senyawa antihepatotoksik seperti
filantin, hipofilantin, triakontanal, dan trikontanol berfungsi dalam perbaikan organ liver.
Selain itu, senyawa phyllanthus dalam Meniran juga diketahui bekerja sebagai pelindung
hati (hepatoprotektor) dengan cara menyabotase DNA polimerasi (enzim yang diperlukan virus
hepatitis untuk bereplikasi / menggandakan diri).
7. Hepatitis kronis
Ekstrak Meniran dapat memodulasi sistem imun melalui proliferasi dan aktivasi limfosit T
dan B. Sekresi TNF- dan IFN- pun meningkat. Efek akhirnya, indikasi kesembuhan hepatitis.
Meniran mendorong mekanisme perbaikan sel-sel hati dengan cara meningkatkan jumlah enzim
yang berperan sebagai antioksidan.
8. Antituberkulosis

16

Tanaman meniran bermanfaat juga dalam penyembuhan penyakit tuberculosis karena


ekstrak meniran membantu meningkatkan kadar imunitas penderita TB dengan cara meningkatkan
CD4 limfosit T dan rasio CD4/CD8 limfosit T.
9. Penyakit kulit
Dengan mengkonsumsi Meniran juga berguna sebagai terapi tambahan penyakit kulit
seperti lepra dan herpes zoster. Ekstrak Meniran bekerja dengan cara meningkatkan sistem imunitas
seluler. Dengan kata lain, Meniran mendorong limfosit T makin aktif bekerja. Herpes zoster
berkembang biak dengan leluasa saat sistem imunitas tubuh melemah.

F. Efek Samping
Pemakaian berlebih dari Phyllanthi Herba dapat menyebabkan impoten, menjelaskan
flavonoid yang terkandung dalam meniran memberikan efek menghambat kerja enzim xanthin
oksidase sehingga dapat dimanfaatkan dalam pengobatan mengurangi kelebihan asam urat dan batu
ginjal.

G.Struktur
Flavonoid :

Alkaloid :

17

Saponin :

\
Tanin :

Lignan :

18

Bab 3
Penutup
Pembahasan
Obat tradisional adalah obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun-temurun,
berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik
bersifat magic maupun pengetahuan tradisional. Obat tradisional dibagi menjadi tiga, yaitu obat
jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Jamu berada pada tingkatan terendah, obat herbal
terstandar berada satu tingkat di atas jamu sedangkan fitofarmaka merupakan tingkatan tertinggi.
Stimuno produk herbal bersertifikat fitofarmaka yang digunakan untuk memperbaiki sistem
imun tubuh. Stimuno dikatakan sebagai fitofarmaka karena penelitian stimuno telah berdasarkan
syarat peneltian fitofarmaka,yaitu :

1.Uji Praklinik
a. Uji Farmakodinamik
Untuk mengetahui apakah bahan obat menimbulkan efek farmakologik seperti yang
diharapkan atau tidak, titik tangkap, dan mekanisme kerjanya. Dapat dilakukan secara in
vivo dan in vitro.
b. Uji Farmakokinetik
Untuk mengetahui ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme dan Eliminasi)
dan merancang dosis dan aturan pakai.
c. Uji Toksikologi
Untuk mengetahui keamanannya.
d. Uji Farmasetika
Memperoleh data farmasetikanya tentang formulasi, standarisasi, stabilitas, bentuk
sediaan yang paling sesuai dan cara penggunaannya.

2.Uji Klinik
Uji klinik bertujuan untuk membuktikan atau menilai manfaat klinik suatu obat, pengobatan,
atau strategi terapetik. Uji klinik memberikan jawaban yang benar (valid) mengenai manfaat klinik
intervensi terapi tertentu, jika memang bermanfaat.harus terbukti bermanfaat, dan jika tidak
bermanfaat harus terbukti tidak bermanfaat.
Perkembangan stimuno sebagai fitofarmaka di Indonesia sedikit sekali, padahal kekayaan
hayati Indonesia sangat besar. Alasan klasik yaitu masalah waktu dan biaya. Untuk menuju grade
fitofarmaka diperlukan dana milyaran hingga triliunan dan waktu bisa lima sampai belasan tahun.
Selain kedua alasan di atas, sebenarnya ada satu alasan lagi mengapa para produsen belum mau
mengangkat produknya menuju ke fitofarmaka. Yaitu belum populernya fitofarmaka dan masyarakat
belum paham makna penggolongan grade-grade tersebu. masyarakat belum tahu apa makna label
Fitofarmaka di suatu produk.

19

Di sini yang jadi titik kritis, walau bisa dikatakan produk X lebih komplit tapi ini belum diuji
formulasinya ke klinik (manusia/pasien), jadi kita belum tahu bagaimana satu-kesatuan tersebut
(formulasi) efeknya pada manusia. Walau sudah di-claim masing-masing bahan oleh jurnal-jurnal
ilmiah. Walaupun dengan adanya label Fitofarmaka obat tidak menjanjikan kemanjuran obat
tersebut namun setIdaknya khasiat dari satu-kesatuan (formulasi) produk tersebut telah teruji dan
dibuktikan secara klinik/ilmiah.
Didalam tubuh,stimuno bekerja untuk memperbaiki sistem imun, membuat sistem imun
lebih aktif dalam menjalankan fungsinya, menguatkan sistem imun tubuh (imunostimulator) atau
menekan reaksi sistem imun yang berlebihan (imunosuppressan). Dengan demikian, kekebalan atau
daya tahan tubuh dapat selalu optimal sehingga tetap sehat ketika diserang virus, bakteri, dan
mikroba lainnya. Sebagai imunomodulator, meniran tidak semata-mata berefek meningkatkan
sistem imun, namun juga menekan sistem imun apabila aktivitasnya berlebihan. Jika aktivitas sistem
imun berkurang, maka kandungan flavonoid dalam meniran akan mengirimkan sinyal intraseluler
pada reseptor sel untuk meningkatkan aktivitasnya. Sebaliknya jika sistem imun kerjanya berlebihan,
maka meniran berkhasiat dalam mengurangi kerja sistem imun tersebut. Sehingga meniran
berfungsi sebagai penyeimbang sistem imun.

Kesimpulan
Stimuno merupakan salah satu dari obat-obat jenis fitofarmaka dengan bahan diambil dari
tanaman meniran yang telah dilakukan uji pra-klinis dan uji klinis dalam pembuatanya. Meniran
berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi sistem imun yang dengan didalamnya didukung kandungankandungan kimia berupa : lignan (Filantin, hipofilantin, nirantin, lintetratin), flavonoid (quercetin,
quercitrin, isoquercitrin, astragalin, rutin, kaempferol-4, rhamnopynoside), alkaloid, triterpenoid,
asam lemak (asam ricinoleat, asam linoleat, asam linolenat), vitamin C, kalium, damar, tanin,
geraniin, phyllanthin dan hypophyllanthin.

20

Daftar pustaka
Kardiana, A. dan F.R. Kusuma. 2004. Meniran Penambah Daya Tahan Tubuh Alami. Agromedia
Pustaka. Tangerang

Ahmeda, A., Ismail, Z., and Gabriel, A., 2005, Antioxidants properties of Phyllanthus niruri Extracts,
Malaysian Journal of Science
Nwanjo, H.U., 2007, Studies on the effect of aquous extract of Phyllanthus niruri leaf on plasma
glucose level and some hepatospecific markers in diabetic Wistar rats, Internet J. Lab. Med.
http://id.wikipedia.org/wiki/Obat_tradisional
http://farmasicrazy.blogspot.com/2012/12/registrasi-obat-herbal.html
http://www.bpomherbal.com/4026/24/18/pt-dexa-medica.htm
http://shetaputra.blogspot.com/2013/07/potensi-meniran-phyllanthus-niruri-l.html
http://gembelcungkring.wordpress.com/2012/01/17/pengaruh-phyllanthus-niruri-l-flavanoid-padasimtem-imun-tubuh/

21