Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam ilmu keteknikkan, pengujian suatu bahan sangat penting dilakukan,
yaitu untuk mengetahui kekuatan, keuletan, dan besar beban yang dapat diderita oleh
bahan sebelum bahan tersebut dipergunakan.
Bagi seorang ahli mesin, sifat-sifat atau karakteristik suatu bahan sangat
penting untuk diketahui sebelum merancang sebuah mesin karena dengan
mengetahui karakteristik suatu bahan, maka faktor-faktor keamanannya akan lebih
terjamin dan hasil rancangan akan lebih aman untuk dipergunakan. Kekuatan bahan
ditentukan dengan cara menguji bahan tersebut, sehingga kekuatannya dapat
diketahui. Pengujian Pengujian yang bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat atau
karakteristik suatu bahan terutama terhadap kekuatan puntir adalah disebut dengan
pengujian Torsion Test.
Dalam hal ini pengujian dilakukan terhadap bahan Amutiet. Dengan
dilakukan pengujian torsion ini, maka akan dapat melakukan perbandingan nilai
yang diperoleh dari hasil pengujian dengan nilai yang terdapat dalam buku literatur.
Dengan mendapatkan nilai perbandingan tersebut, para perancang bisa memilih atau
menentukan apakah bahan yang diuji tersebut dapat digunakan atau tidak, sehingga
faktor keamanan suatu produk lebih terjamin saat diproduksikan.
1.2 Mamfaat Percobaan
Adapun mamfaat dari percobaan ini adalah untuk mengetahui sifat-sifat
atau karakteristik suatu bahan. Dengan sifat-sifat dan karakteristik suatu material
trsebut, kontruksi permesinan desain yang diharapkan oleh setiap perancang setelah
diproduksi sesuai dengan perencanaan dan memenuhi standar-standar yang telah
ditetapkan.
1.3

Kompetensi
Pada dasarnya pengujian torsion dan pengujian impak charpy adalah

pengujian yang mempunyai fungsi yang sama untuk mengetahui karakteristik suatu
bahan, tetapi pada pengujian torsion kerja sama kelompok sangat dibutuhkan karena

pengoprasian mesin tidak bisa dilakukan sendiri. Semua anggota kelompok


mempunyai tugas khusus yang sangat penting. Tanpa satu orang saja maka
pengujian bisa berakibat tidak sesuai dengan keinginan (falied). Sedangkan pada
pengujian lainnya, misalnya pada pengujian impak charpy bisa dilakukan sendiri
karena langkah-langkah pengujiannya tidak bersamaan melainkan secara satu
persatu dan bisa dilakukan oleh satu penguji saja. Pada keadaan dilapangan
kebanyakan material menerima beban yang secara perlahan, maka pengujian torsion
adalah pengujian yang sangat efektif untuk dilakukan. Karena beban yang diberikan
adalah secara perlahan sedangkan pada impak charpy beban yang diberikan adalah
secara tiba-tiba.

BAB II
TUJUAN PERCOBAAN

Tujuan dari Torsion Test ini adalah sebagai berikut :


1. Mengoprasikan peralatan/mesin Torsion Testing Machine secara kelompok
dan mandiri dengan benar dan teliti
2. Menghitung tegangan puntir dan sudut puntir
3. Menghitung modulus kekakuan
4.

Membuat grafik Momen Puntir Vs Sudut Defleksi lengan

5. Membuat grafik Tegangan puntir vs sudut puntir spesifik


6. Membandingkan hasil pengujian dengan data literatur

BAB III
3

TEORI DASAR
3.1

Teori Dasar Torsion Testing


Puntiran terjadi ketika sebuah poros benda uji diberi suatu tenaga putaran,

poros yang berputar seperti poros penggerak pada mesin, motor, dan turbin maupun
dalam keperluan sehari-hari (seperti baut atau skrup). Tenaga puntir yang terjadi
membuat poros melilit hingga pada poros terjadi tegangan geser, tegangan puntir,
sudut puntir, dan sudut defleksi lengan, sehingga poros terputus. Kerusakan yang
terjadi pada poros disebabkan oleh gaya geser atau regangan.
Gambar dibawah ini memperlihatkan sebuah poros diikat mati satu ujung dan
ujung lainnya menerima gaya torsi T.

Gambar 3.1 Poros bulat padat

Pada gambar 3.1 ketika puntiran akhir, garis o-a berputar sampai kesudut
ke o-a panjang a-a sama dengan R . Garis x-a pada permukaan batang berpindah
melalui sudut
R

ke o-a panjang a-a adalah L .

=L

(i)

Persamaan (i) disebut regangan geser


Kita dapatkan acuan pada hukum Hook.

dimana : G = modulus gelincir


= tegangan geser
Subtitusikan pers. (i) dan (ii),

(ii)

untuk radius r, lalu

= (iii)

Gambar 3.2 Bagian permukaan poros

luas bidang cincin adalah :


dA = 2

r dr

gaya geser menurut garis singgung :


dF = dA
hasil puntiran :
dT = 2

r2 d r

dari pers. (iii) kita dapatkan :

=
=

r3 d r

puntiran pada seluruh bagian utuh oleh tegangan geser adalah:


T =
2

dr

d r adalah area momen inersia penampang (J)


=

..

(iv)

subtitusikan pers. (iii) dan (iv) didapatkan persamaan torsi.

..

poros padat pejal.

J =

dimana : D = diameter poros

kapasitas daya poros


5

(v)

P=
dimana :

..

(vi)

= kecepatan sudut

A. Rumus rumus Yang Berkaitan


Rumus rumus yang diberikan pada tegangan dan sudut puntir pada benda
pejal atau poros bulat berlubang, segi empat, pipa tipis, segi enam dan pipa yang
terbuka. Ukuran poros berlubang suatu poros pejal diberikan untuk berbagai
perbandingan diameter luar.
a) Poros bulat pejal
Tegangan geser maksimum :
Dimana :

D = diameter (m)
T = tegangan puntir (Nm)

Kapasitas Torsi :

Kapasitas daya :
Dimana :

P
N = bilangan untuk perubahan per detik

Sudut puntir :
Dimana :

G = modulus gelincir (N/m2)


L = panjang (L)

Dimana :

= sudut defleksi lengan


.

Dimana :
Kemudian,
Dimana :

r = jari-jari (m)

max

Tr
J

J = momen inersia =

r4
2L

(m 2 )

viii

vii

Subtitusikan pers. (ii) ke pers. (i)

r Tr

L GJ

Regangan geser :

TL
GJ

d
2L

Gambar 3.3 Poros bulat padat

b) Poros bulat berlubang

T
Dimana :

16 TD
(D4 d 4 )

(D4 d 4 )
16 TD

D = diameter luar (m)


d = diameter dalam (m)

Gambar 3.4 Poros bulat berlubang

c) Persegi panjang

Gambar 3.5 Persegi panjang

d) Bagian berbentuk pipa tipis

Dimana :

t = ketebalan
A = area yang tidak ditutupi oleh garis keliling
p = garis keliling

Gambar 3.6 Bagian pipa tipis

e) Pelat tipis persegi panjang dan bagian yang terbuka


persegi panjang
pelat terbuka tipis
=

Gambar 3.7 Pelat tipis persegi panjang dan bagian yang terbuka

f) Energi tegangan puntir


Energi tegangan

U = 1/2 T Joules atau Nm

untuk poros padat

u=

poros bulat berlubang u =

u = energi tegangan/m3 = joules/m3


dimana :

U=

poros padat

dan

U=

poros berlubang

g) Puntiran poros berongga


Untuk poros yang berlubang mempunyai kesamaan kekuatan seperti
poros pejal:

Do/Ds =

=
K
Dimana : Do, Ds, Di
Wh, Ws

= Di/Do

= padat, diameter dalam dan luar


= berat poros padat dan berlubang

a.

b
Gambar 3.8 Poros berlubang

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

Do/Ds
Wh,
Ws
h/s

1.02

1.074

1.095

1.192

1.427

0.783

0.702

0.613

0.516

0.387

0.979

0.955

0.913

0.839

0.701

h) Penampang segi enam


T=
Sudut puntir

= 0.976

Gambar 3.9 Penampang segi enam

B. Perilaku Pergeseran Metal


a. Tegangan sisa
Tegangan sisa adalah tegangan yang timbul akibat proses pengerjaan,
tegangan terdiri dari :
-

Tegangan permukaan yang terjadi diatas permukaan volume batang

Tegangan tekstur terjadi didalam akan memberikan perubahan pada Kristal.

10

Tegangan permukaan lebih stabil dibandingkan dengan tegangan tekstur yang


dapat dipindahkan melalui temperatur rendah heat treatment. Tegangan diatas dapat
ditunjukkan pada grafik berikut ini :

Grafik 3.10 Siklus uji puntir

1. Perlakuan beban suatu batang diluar batas regang A dan berlanjut pada
deformasi plastis sampai B
2. Berkurang dan berbalik ke C
3. Beban terus meningkat hingga plastik berubah bentuk ke D
4. Mengambil dan memindahkan benda uji ke heat treatment pada suhu 200 0C
selama 20 menit
5. Masukkan benda uji pada mesin uji dan dan naikkan beban sampai pada yield
point F dan kelainan bentuk plastis ke E
DF

tegangan tekstur diberikan

FA

tegangan badan diberikan

6. Berkurang dan berbalik ke K


7. Membalikkan beban dan meningkat ke G
Pengurangan kekuatan pada G untuk menurunkan nilai perbandingan pada F
yang disebut dengan efek Bauschinger.
b. Yield point (batas regang)

11

Baja lunak secara normal mempunyai dua batas regang, batas regang atas dan
batas regang bawah, seperti ditunjukkan pada gambar 3.9 dibawah ini :

Gambar 3.11 Batas regang pada torsi


1. Peningkatan beban sampai batas regang yang dapat diamati ketika sudut
puntir terus meningkat pada beban yang lebih rendah ke B
2. Sudut puntir meningkat dan beban akan meningkat pula
3. Mengurang beban ke C dan membalikkan beban ke D
4. Meningkatkan sudut puntir beban akan berkurang dan kemudian pelan-pelan
meningkat
Material tertentu tidak memperlihatkan batas regang, sudut puntir vs tenaga
putar seperti pada gambar dibawah :

Gambar 3.12 Offset in torsion

12

Di kasus batas elastis puntiran atau yield strength diasumsikan untuk menjadi
nilai pada sudut puntir offset.

c. Kerusakan akibat puntiran


Ketika sebuah benda uji torsi mengalami kerusakan, tegangan geser
maksimum terjadi satu sama lain saling tegak lurus dan parallel ke poros bujur.
Tegangan utama T1 dan T3 membentuk sudut 450 dengan poros membujur dan
terdapat tegangan geser yang besar, T1 adalah tegangan tarik dan T3 adalah tegangan
tekan.

Gambar 3.13 Stress in torsion

Gambar 3.14 Kerusakan akibat puntiran pada material

3.2

Alat-alat yang digunakan


Peralatan yang digunakan pada percobaan torsion test, antara lain :

1.

Torsion Testing Machine

Gambar 3.15 Torsion Testing Machine 30 Nm


13

Data yang ada pada mesin :

2.

1.

Capacity

: 30 Nm

2.

Gear box ratio

: 60 : 1

3.

Drive Shaf ends

: 12,7 mm (1/2 inci) square

4.

Power suplay

: 220 V, 1 Ph, 50 Hz

Benda uji ST 74

Gambar 3.16 Benda uji St 74


3.

Spidol

Gambar 3.18 Spidol

4 Jangka sorong

Gambar 3.17 Jangka sorong

14

5 Kunci Sockers 12mm

Gambar 3.16 Kunci Sockers 12mm

6 Dial indikator

Gambar 3.19 Dial indikator

15

BAB IV
METODE PENGUJIAN
Adapun langkah langkah percobaan untuk melakukan uji torsion adalah
sebagai berikut :
A. Prosedur Pengujian :
1. Buat tanda batas ukuran dan garis memanjang pada diameter benda uji
dengan menggunakan spidol permanen.
2. Ukur diameter dan panjang benda uji dengan menggunakan jangka sorong.
3. Pasang benda uji dengan perantara kunci sockets segi enam pada tangkai
masuk dari ujung tangkai puntir, jika jarak kedua ujung pengunci tersebut
kependekan atau kepanjangan, putar dua bonggol penggunci hingga kendur,
kemudian atur posisinya sampai benda uji terpasang dengan baik dan benar,
dan putar kembali kunci sockets ke arah kabalikannya sebagai pengguncinya.
4. Putar hedweer berlawanan arah jarum jam secara perlahan-lahan hingga
digital torque meter menunjukkan angka 0,10 Nm ( kedua sockets bergelincir
dan mengikat kedua ujung benda uji ).
5. Pasang dial indikator pada posisi ditengah-tengah diameter benda uji dan ikat
dengan baik sehingga tidak bergeser.
6. Set pada posisi 0, sudut puntir, dial indikator dengan memutar ring skala dan
momen puntir dengan menekan tombol RST.
7. Putar hand wheel 1800 atau 3600 skala sudut puntir, momen puntir, sudut
defleksi lengan dan baca/catat :
8. Lakukan langkah 7 sampai benda uji putus.

16

BAB V
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Materi Praktikum

: Torsion Test

Pembimbing Praktikum

: Ir. Ramli Idris MT

Kelas/Spesialisasi

: DIII / Perancangan

Semester

: V ( Lima )

Nama Kelompok

: RAHMAT RIZKI
RIKI HERMAWAN
IQBAL MAULANA
CHAIRUL AMBIA

5.1 Data Hasil Pengujian


Setelah melakukan percobaan puntir (torsion test) terhadap benda uji dari
suatu bahan dengan dimensi sebagai berikut :
Panjang keseluruhan

: 130 mm

Panjang awal

: 75.75 mm

Diameter awal

: 6 mm

Radius

Gambar 5.2 Benda uji sebelum putus

17

Tabel 5.1Data hasil percobaan


Putaran
(n)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

Momen puntir
N.m
10,73

14,53
15,56
15,82
16,25
16,76
17,36
18,01
18,62
19,21
19,77
20,30
20,79
21,19
21,69
22,15
22,53
22,90
23,23
23,56
23,87
24,14
24,45
24,62
24,90
25,17
25,28
25,40
25,87
25,92
26,16
26,20
26,48
26,54
26,86

26,96
27,02
27,14
27,22
27,41

Sudut Puntir
( 0)
5
10
15
22
28
34
40
46
52
58
64
70
76
83
89
95
101
108
114
120
125
132
139
144
150
155
161
167
174
180
185
191
197
203
209
214
220
225
232
238

18

Sudut Defleksi Lengan


( )/100
231
174
421
462
441
351
357
365
360
359
357
359
361
354
353
350
353
351
345
343
339
336
324
341
333
329
239
323
322
320
321
316
318
325
311
311
315
341
312
313

Putaran
(n)
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56

Momen punter
N.m

27,48
27,61
27,71
2,82
2,96
2,07
28,12
28,29
28,31
28,42
28,52
28,60
28,80
27,50
20,49
6,08

Sudut Puntir
( 0)
244
250
257
263
269
275
280
286
294
300
305
311
318
324
330
335

Sudut Defleksi Lengan


( )/100
309
311
319
332
331
306
319
315
317
313
312
300
9
2
2
0

Momen Puntir Vs sudut defleksi lengan


10000
9000
8000
7000
6000
5000

Momen Puntir Vs sudut


defleksi lengan

4000
3000
2000
1000
0
1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46 49 52 55

Grafik 5.1 Momen Puntir Vs Sudut efleksi lengan

Pada grafik 5.1 diatas penulis dapat menjelaskan bahwa besar pembebanan,
kondisi material dan sifat ketahanan lelah material memiliki hubungan yang sangat
erat.

19

Hubungannya dapat dijelaskan sebagai berikut :


Setiap penambahan momen puntir pada spesimen uji akan memperpendek
ketahanan lelah material.
Penambahan putaran berarti juga menambah momen puntir pada spesimen.
Melihat momen puntir pada spesimen tanpa takik sebesar 7,74 N.mm pada
putaran ke-19 sudut puntir sebesar 1140 dan sudut defleksi lengan sebesar 345
maka dapat disimpulkan bahwa material sudah mengalami angka kritis.

5.2 Pengolahan Data Pengujian

Gambar 5.3 Benda uji setelah putus


Dimensi benda uji yang diperoleh dari pengujian :
Panjang setelah putus

: 75. mm

Diameter setelah putus

: 6 mm

Radius setelah putus

Data yang akan dianalisa sebagai contoh yaitu pada putaran ke19
Berdasarkan data yang diperoleh pada pengujian torsi, maka dapat dilakukan analisa
data sebagai berikut :

1. Gaya yang bekerja pada poros adalah :


Mp = F . r
F =

Mp
23,23
=
= 7,74N
r
3

2. Harga tegangan geser adalah :


=

F
A

7.74
7.74
=
2
(3.14)(3)
.r

20

= 0,27 N/mm2

3. Harga modullus Gelincir


Berdasarkan hukum Hook dinyatakan :

G=

0,27
= 0,00079 N/mm2
345

4. Harga torsi pada poros pejal


J=

.r 4

(3,14 )( 3) 4
= 127.17 mm4
2

maka :
T=

G. .J
(0,00079 ).(114).(127.17)
=
= 0,15 N.mm
75.75
L

5. Harga tegangan geser maksimum


max =

16.T
.D 3

(16)(0,15 )
= 0,0035 N/mm2
3
(3,14 )(6)

6. Harga sudut defleksi maksimum


max =

r.
= m ax
G
L

0,0035
0,00079

= 4,51 0

7. Harga kapasitas torsi


Tp =

.D 3 . m ax
16

(3,14 )( 6) 3 (0,0035 )
= 0,15 N.mm
16

8. Harga kapasitas daya adalah :


Pd =

2 . N .D 3
8

m ax =

(3,14 ) 2 (19 )( 6) 3
0,0035
8

9. Harga kekuatan regangan puntiran


U =

m ax2
4G

(0,0035 ) 2
=
= 0,004
( 4)( 0,00079 )

21

= 18,02 W

10. Sudut puntir spesifik yang terjadi adalah :

S =

144
= 1,50 0/mm
75.

11. Modulus elastisitas yang terjadi adalah :


E =

G . 2 ( 1 +U)

0,00096. 2 ( 1)

0,0015 N / mm

22

Tabel 5.2

Hasil dari pengolahan data

max

max

Tp

Pd

3,576666667

0,126562869

0,000547891

0,004599031

0,000108493

0,198019802

0,004599031

0,028707329

5,37096E-06

0,066006601

0,066666667

3,576666667

4,843333333

0,171384761

0,00098497

0,016535792

0,000390087

0,396039604

0,016535792

0,206434085

3,86225E-05

0,132013201

0,133333333

4,843333333

0,198019802

0,2

5,186666667

0,290429043

0,293333333

5,273333333

0,369636964

0,373333333

5,416666667
5,586666667

3
4
5

5,186666667
5,273333333
5,416666667

0,183533852
0,186600613
0,191672564

0,000435947
0,000403897
0,000434632

0,010978105
0,014917492
0,020430614

0,000258979
0,000351911
0,000481968

0,594059406
0,871287129
1,108910891

0,010978105
0,014917492
0,020430614

0,205577252
0,372462214
0,637643382

3,84622E-05
7,66538E-05
0,000133615

5,586666667

0,197688134

0,000563214

0,032148035

0,000758387

1,346534653

0,032148035

1,20401559

0,000255299

0,448844884

0,453333333

5,786666667

0,204765275

0,000573572

0,038516793

0,000908629

1,584158416

0,038516793

1,682963051

0,000359853

0,528052805

0,533333333

5,786666667

6,003333333

0,212432177

0,000582006

0,044945612

0,001060288

1,821782178

0,044945612

2,244417841

0,000482903

0,607260726

0,613333333

6,003333333

6,206666667

0,219627271

0,000610076

0,053258526

0,001256394

2,059405941

0,053258526

2,991975784

0,000646856

0,686468647

0,693333333

6,206666667

10

6,403333333

0,226586459

0,00063116

0,061456742

0,001449793

2,297029703

0,061456742

3,836153308

0,000832555

0,765676568

0,773333333

6,403333333

0,844884488

0,853333333

6,59

0,924092409

0,933333333

6,766666667

1,00330033

1,013333333

6,93
7,063333333

11
12
13

6,59
6,766666667
6,93

0,233191791
0,239443265
0,24522293

0,000653198
0,000666973
0,000679288

0,070182211
0,07838054
0,086670141

0,001655631
0,001849034
0,002044589

2,534653465
2,772277228
3,00990099

0,070182211
0,07838054
0,086670141

4,818880509
5,871051914
7,032978296

0,001049113
0,001281509
0,001538503

14

7,063333333

0,249941024

0,000706048

0,09838172

0,002320871

3,287128713

0,09838172

8,597434343

0,00190725

1,095709571

1,106666667

15

7,23

0,255838641

0,000724755

0,108288784

0,002554583

3,524752475

0,108288784

10,13914088

0,002251068

1,174917492

1,186666667

7,23

16

7,383333333

0,261264449

0,00074647

0,119052334

0,0028085

3,762376238

0,119052334

11,89006748

0,002641659

1,254125413

1,266666667

7,383333333

17

7,51

0,265746638

0,000752823

0,127648725

0,003011293

0,127648725

13,54539976

0,003011293

1,333333333

1,346666667

7,51

18

7,633333333

0,270110875

0,000769547

0,139527799

0,003291526

4,277227723

0,139527799

15,67688136

0,003519652

1,425742574

1,44

7,633333333

1,504950495

1,52

7,743333333

1,584158416

1,6

7,853333333

19
20

7,743333333
7,853333333

0,274003303
0,27789573

0,000794212
0,000810192

0,152
0,163219121

0,003585751
0,003850416

4,514851485
4,752475248

23

0,152
0,163219121

18,02700637
20,37639979

0,004047284
0,004574751

max

max

Tp

Pd

21

7,95

0,281552253

0,000830538

0,174289553

0,004111572

4,95049505

0,174289553

22,84636304

0,00508858

1,650165017

0,0016695

1,666666667

0,281552253
0,284736966

22

8,04

0,284736966

0,000847431

0,187793494

0,004430137

5,227722772

0,187793494

25,78871161

0,005789882

1,742574257

0,0017046

1,76

23

8,15

0,288393489

0,000890103

0,207709938

0,004899975

5,504950495

0,207709938

29,82026748

0,00674353

1,834983498

0,0017922

1,853333333

0,288393489

24

8,20

0,290398679

0,000851609

0,205875555

0,004856701

5,702970297

0,205875555

30,84199402

0,006924405

1,900990099

0,0017150

1,92

0,290398679

25

8,3

0,293701345

0,000881986

0,222103291

0,005239521

5,940594059

0,222103291

34,65943083

0,007781467

1,98019802

0,0017777

0,293701345

0,0018201

2,066666667

0,296886058

0,0025269

2,146666667

0,298183534

0,0018739

2,226666667

0,299598962

0,0019166

2,32

0,305142722
0,305732484

26
27
28
29

8,39
8,42
8,46
8,62

0,296886058
0,298183534
0,299598962
0,305142722

0,000902389
0,00124763
0,000927551
0,000947648

0,234815974
0,337220266
0,260049658
0,276820614

0,005539419
0,007955184
0,006134694
0,006530328

6,138613861
6,376237624
6,613861386
6,891089109

0,234815974
0,337220266
0,260049658
0,276820614

38,10898737
56,83342826
45,45071733
50,10982065

0,008501089
0,012681036
0,010143503
0,011250268

2,04620462
2,125412541
2,204620462
2,297029703

30

8,64

0,305732484

0,000955414

0,288712871

0,006810872

7,128712871

0,288712871

54,06470329

0,012138188

2,376237624

0,0019340

2,4

31

8,72

0,30856334

0,000961257

0,298547238

0,007042869

7,326732673

0,298547238

57,76984132

0,012900306

2,442244224

0,0019473

2,466666667

0,30856334

32

8,73

0,30903515

0,000977959

0,313585662

0,007397633

7,564356436

0,313585662

62,63723804

0,013989583

2,521452145

0,0019838

2,546666667

0,30903515

33

8,82

0,312337816

0,000982194

0,324837163

0,007663061

7,801980198

0,324837163

66,91231752

0,014946763

2,600660066

0,0019937

2,626666667

0,312337816

34

8,84

0,31304553

0,000963217

0,328263214

0,007743883

8,03960396

0,328263214

69,66707192

0,015564439

2,679867987

0,0019564

2,706666667

0,31304553
0,316820005

35

8,95

0,316820005

0,001018714

0,35743784

0,008432126

8,277227723

0,35743784

78,08992306

0,017448658

2,759075908

0,0020729

2,786666667

36

8,98

0,317999528

0,001022507

0,367351565

0,008665996

8,475247525

0,367351565

82,54881022

0,018361615

2,825082508

0,0020825

2,853333333

0,317999528

37

9,00

0,318707242

0,001011769

0,373685369

0,008815413

8,712871287

0,373685369

86,304659

0,01920189

2,904290429

0,0020623

2,933333333

0,318707242

38

9,04

0,32012267

0,000938776

0,354606428

0,008365332

8,910891089

0,354606428

84,11174136

0,018635641

2,97029703

0,0019125

0,32012267

0,0021028

3,093333333

0,321066289

0,0021132

3,173333333

0,323307384

0,0021493

3,253333333

0,32413305

0,0021480

3,333333333

0,325666431

0,0021035

3,426666667

0,326845954

39
40
41
42
43

9,07
9,13
9,16
9,20
9,23

0,321066289
0,323307384
0,32413305
0,325666431
0,326845954

0,001029059
0,001032931
0,001048974
0,001047159
0,001024595

0,400802234
0,412715022
0,429691435
0,439495718
0,442066483

0,009455113
0,009736141
0,010136623
0,01036791
0,010428556

9,188118812
9,425742574
9,663366337
9,900990099
10,17821782

0,400802234
0,412715022
0,429691435
0,439495718
0,442066483

24

97,57109163
103,0473177
109,9681647
115,2206609
118,6540228

0,021718675
0,02294259
0,024488475
0,025663144
0,026536028

3,062706271
3,141914191
3,221122112
3,300330033
3,392739274

max

max

Tp

Pd

44

0,94

0,033262562

0,000100188

0,044235954

0,001043547

10,41584158

0,044235954

12,1493906

0,002717355

3,471947195

0,00020092

3,506666667

0,033262562

45

0,98

0,034913895

0,00010548

0,04763483

0,001123728

10,65346535

0,04763483

13,3802293

0,002992899

3,551155116

0,00021159

3,586666667

0,034913895

0,00015996

3,666666667

0,024416136

0,00214598

3,733333333

0,331682

0,00219063

3,813333333

0,33368719

0,00218199

3,92

0,333923095

0,00222294

0,335220571
0,336400094

46
47
48
49
50

0,69
9,37
9,43
9,43
9,47

0,024416136
0,331682
0,33368719
0,333923095
0,335220571

7,97913E-05
0,001039755
0,001059324
0,001053385
0,001070992

0,036837507
0,488755082
0,508624234
0,519920042
0,539398349

0,000869014
0,011529962
0,011998684
0,012265158
0,01272466

10,89108911
11,08910891
11,32673267
11,64356436
11,88118812

0,036837507
0,488755082
0,508624234
0,519920042
0,539398349

10,5772919
143,3889114
152,3928915
159,022678
168,3472554

0,002366127
0,031964251
0,033976473
0,035702539
0,037796021

3,630363036
3,696369637
3,775577558
3,881188119
3,96039604

51

9,50

0,336400094

0,001078205

0,552081747

0,013023868

12,07920792

0,552081747

175,7518834

0,039329501

4,02640264

0,00224122

4,066666667

52

9,53

0,337343713

0,001124479

0,58710231

0,013850019

12,31683168

0,58710231

190,565183

0,042647089

4,105610561

0,00234487

4,146666667

0,337343713

53

9,6

0,33970276

0,037744751

20,15049505

0,475359638

12,59405941

20,15049505

6666,34849

1,49667688

4,198019802

0,18847289

4,24

0,33970276

2,48985721

4,32

0,324368955

1,48881578

4,4

0,24168436

4,466666667

0,071715027

54
55
56

9,16
6,83
2,02

0,324368955
0,24168436

0,162184477
0,12084218

88,21782178
66,94752475

2,08109983
1,579323537

12,83168317
13,06930693

88,21782178
66,94752475

0,071715027

29735,58681
22983,89544

6,676003414
5,160166013

4,277227723
4,356435644
4,422442244

25

Tegangan Puntir Vs Sudut puntir spesifik


10
9
8
7
6
5

Tegangan Puntir Vs Sudut


puntir spesifik

4
3
2
1
0
1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46 49 52 55

Grafik 5.2

Tengangan Puntir Vs Sudut Puntir Spesifik

Berdasarkan hasil yang terlihat pada grafik 5.2. penulis dapat menyimpulkan
bahwa, besar pembebanan, kondisi material dan sifat ketahanan lelah material
memiliki hubungan yang sangat erat.
Hubungan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Tegangan puntir maksimum yang terjadi 0.15 N/mm2
b. Sudut puntir spesifik 1.520/mm

26

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan.
Setelah melakukan percobaan puntir dan menganalisa data dari yang melalui
perhitungan-perhitungan, maka dapat diambil kesimpulan antara lain :
1.

Gaya yang bekerja pada poros adalah = 7,74 N

2.

Harga tegangan geser adalah = 2,23 N/mm2

3.

Harga modullus Gelincir adalah = 0,00079 N/mm2

4.

Harga torsi pada poros pejal adalah = 0,15 mm4

5.

Harga tegangan geser maksimum adalah = 0,0035 N/mm2

6.

Harga sudut defleksi maksimum adalah = 4,51 o

7.

Harga kapasitas torsi adalah =0,15 N.mm

8.

Harga kapasitas daya adalah = 18,02 W

9.

Harga kekuatan regangan puntiran adalah = 0,0064

10.

Sudut puntir spesifik yang terjadi adalah = 1,50 0/mm

11.

Modulus elastisitas yang terjadi adalah = 0,0015 N/mm2

6.2 Saran-saran
1.

Agar pada saat melakukan percobaan tidak terjadi kesalahan, maka


diharapkan pada saat melakukan percobaan tersebut agar terlebih dahulu
mempelajari job sheet yang telah diberikan oleh instruktur.

2.

Dalam melakukan percobaan hendaknya dilakukan beulang-ulang untuk


mendapatkan hasil yang lebih baik.

27

DAFTAR PUSTAKA

1.

Job Sheet Laboratorium Mekanik. PEDC Bandung Politeknik Negeri


Lhokseumawe.

2.

Politeknik Negeri Lhokseumawe. Ilmu Kekuatan Bahan jilid III. 1985,


Bandung.

3.

H.EDAVIS, G.E troxell dan G.F.W hauck, The Testing of Enginering


Material. 1982, Bandung.

28