Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH KIMIA PERMUKAAN

A MODIFIED LANGMUIR-FREUNDLICH ISOTHERM MODEL FOR SIMULATING pHDEPENDENT ADSORPTION EFFECTS

DISUSUN OLEH:
1. FILLIANI AKANADEWI
2. INDAH TRI LESTARI
3. DWITAMIA NURBAYASI
4. MUSA SUGIANTO
5. RAKHMALIA DEVI INDRASWARI
6. YUNASTIA PRATAMI
7. ARIS SUGIATNO
8. ERNA TRI UTAMI

(H1A012038)
(H1A012040)
(H1A012041)
(H1A012042)
(H1A012044)
(H1A012045)
(H1A012046)
(H1A012047)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Adsorpsi adalah gejala pengumpulan molekul-molekul suatu zat pada permukaan zat
lain, sebagai akibat dari ketidakjenuhan gaya-gaya pada permukaaan zat tersebut. Dalam
adsorpsi digunakan istilah adsorbat dan adsorban, dimana adsorbat adalah substansi yang
terjerap atau substansi yang akan dipisahkan dari pelarutnya, sedangkan adsorban adalah
merupakan suatu media penyerap yang dalam hal ini berupa senyawa karbon.
Adsorpsi terjadi pada permukaan zat padat karena adanya gaya tarik atom atau
molekul pada permukaan zat padat. Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair,
mempunyai gaya tarik ke arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya lain yang mengimbangi.
Adanya gaya-gaya ini menyebabkan zat padat dan zat cair, mempunyai gaya adsorpsi.
Adsorpsi berbeda dengan absorpsi. Pada absorpsi zat yang diserap masuk ke dalam absorben
sedangkan pada adsorpsi zat yang diserap hanya terdapat pada permukaannya. Percobaan
adsorpsi yang paling umum adalah menentukan hubungan jumlah gas teradsorpsi (pada
adsorben) dan tekanan gas. Pengukuran ini dilakukan pada suhu tetap, dan hasil pengukuran
digambarkan dalam grafik dan disebut isoterm adsorpsi. Perubahan konsentrasi adsorbat oleh
proses adsorpsi sesuai dengan mekanisme adsorpsinya dapat dipelajari melalui penentuan
isoterm adsorpsi yang sesuai. Isoterm Langmuir dan Freundlich adalah dua diantara isotermisoterm adsorpsi yang banyak dipelajari.

BAB II
ISI
2.1 Isoterm Adsorpsi Langmuir
Pada tahun 1918, Langmuir menurunkan teori isoterm adsorpsi dengan menggunakan
model sederhana berupa padatan yang mengadsorpsi gas pada permukaannya. Pendekatan
Langmuir meliputi lima asumsi mutlak, yaitu:
1. Gas yang teradsorpsi berkelakuan ideal dalam fasa uap
2. Gas yang teradsorpsi dibatasi sampai lapisan monolayer
3. Permukaan adsorbat homogen, artinya afinitas setiap kedudukan ikatan untuk molekul gas
sama
4. Tidak ada antaraksi lateral antar molekul adsorbat
5. Molekul gas yang teradsorpsi terlokalisasi, artinya mereka tidak bergerak pada permukaan
lapisan adsorbat
monolayer
adsorben

Gambar 5.6. Pendekatan isoterm adsorpsi Langmuir

Pada kesetimbangan, laju adsorpsi dan desorpsi gas adalah sama. Bila menyatakan
fraksi yang ditempati oleh adsorbat dan P menyatakan tekanan gas yang teradsorpsi, maka
k1 k 2 P (1 ) .....................................

(5.47)

dengan k1 dan k2 masingmasing merupakan tetapan laju adsorpsi dan desorpsi. Jika
didefinisikan a = k1 / k2, maka

P
(a P)

............................................

(5.48)

Pada adsorpsi monolayer, jumlah gas yang teradsorpsi pada tekanan P (y) dan jumlah gas yang
diperlukan untuk membentuk lapisan monolayer dihubungkan dengan melalui persamaan

y
ym

ym P
aP

...................................................

(5.49)

...............................................

(5.50)

Teori isoterm adsorpsi Langmuir berlaku untuk adsorpsi kimia, dimana reaksi yang terjadi adalah
spesifik dan umumnya membentuk lapisan monolayer.
2.2 Isoterm Adsorpsi Freundlich
Adsorpsi zat terlarut (dari suatu larutan) pada padatan adsorben merupakan hal yang
penting. Aplikasi penggunaan prinsip ini antara lain penghilangan warna larutan (decolorizing)
dengan menggunakan batu apung (charcoal?) dan proses pemisahan dengan menggunakan
teknik kromatografi.
Pendekatan isoterm adsorpsi yang cukup memuaskan dijelaskan oleh H. Freundlich.
Menurut Freundlich, jika y adalah berat zat terlarut per gram adsorben dan c adalah konsentrasi
zat terlarut dalam larutan, maka
y = k c1/n .................................................
log y log k

1
log c
n

........................................

(5.53)
(5.54)

dimana k dan n adalah konstanta empiris. Jika persamaan (5.53) diaplikasikan untuk gas, maka y
adalah jumlah gas yang teradsorpsi dan c digantikan dengan tekanan gas. Plot log y terhadap log
c atau log P menghasilkan kurva linier. Dengan menggunakan kurva tersebut, maka nilai k dan n
dapat ditentukan.

Gambar 5.8. Plot isoterm Freundlich untuk adsorpsi H2 pada tungsten (suhu 400oC)
Pada makalah ini akan dibahas modifikasi isoterm adsorpsi Langmuir- Freundlich untuk
menggambarkan efek adsorpsi arsenik yang bergantung pada pH. Persamaan umum isotherm
Langmuir-Freundlich untuk adsorpsi arsenik dapat dituliskan seperti berikut:

dimana:
q = jumlah dari Arsen(V) yang teradsorpsi pada pasir saat kesetimbangan (mg As(V)/g
pasir)
Qm = kapasitas adsorpsi dari sistem (mg adsorbat/g adsorban)
Ceq = konsentrasi fasa cair pada kesetimbangan (mg/L)
Ka = konstanta afinitas adsorpsi (L/mg)
n = index heterogenitas
Kita menggunakan data percobaan sebuah goethite yang dilapisi sistem pasir untuk
mengembangkan modifikasi pemodelan analitik kerangka untuk meramalkan pengaruh pH
terhadap adsorpsi. Data isotherm adsorpsi menghasilkan lima data pada berbagai nilai pH. Model
prediksi berbagai data ini ditampilkan pada gambar 1 menggunakan simbol terbuka. Kelima
datasets isotermal itu secara bersamaan dihubungkan dengan isotermal kesetimbangan. Isotherms
LF ditunjukkan dalam gambar 1 (garis putus-putus).

Gambar tersebut menunjukkan sebuah kumpulan data percobaan (simbol tertutup) diukur
mulai dari ph 4. Masing-masing nilai R2 pada pH 4, 5.5, 7, 8.5 dan 10 yaitu 0.99, 0.94, 0.81, 0.97
dan 0.89. Hasil ini menunjukkan bahwa isotherm LF dapat digunakan untuk menggambarkan
efek adsorpsi arsenik bergantung pada pH. Nilai-nilai Ka dan n diringkas dalam tabel 1.

Untuk memahami hubungan antara Ka dan pH maka dibuat kurva yang menyatakan hubungan
nilai pH terhadap Ka, seperti terlihat pada gambar 2.

Kurva tersebut menunjukkan bahwa nilai log Ka mengalami penurunan seiring dengan
peningkatan nilai pH. Beberapa studi sebelumnya telah membuktikan bahwa ketika pH
meningkat maka akan mengurangi konstanta afinitas untuk anion (Anderson et al., 1976). Pada
dasarnya, afinitas dari permukaan yang ditunjukkan dengan nilai Ka akan meningkat dengan
penurunan nilai pH karena meningkatnya muatan positif di permukaan spesies. Pada nilai pH
yang lebih rendah, permukaan akan lebih bermuatan positif sehingga permukaannya
menunjukkan afinitas yang lebih besar untuk menyerap ion arsenat yang bermuatan negatif.

BAB III
KESIMPULAN
Pendekatan menggunakan isotherm adsorbsi Langmuir-freunlich adalah model dasar
dengan konstanta afinitas dan nilai pH yang bervariasi. Modifikasi isotherm adsorbsi ini adalah
modifikasi dari model Langumuir-Freunlich (MLF) yang dapat digunakan untuk memprediksi
serapan arsenik dalam system pasir goethite berlapis. Modifikasi ini menyatakan bahwa
hubungan antara konstanta afinitas dan pH adalah linear untuk dataset yang diuji.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, P.R., Christensen, T.H., 1988. Distribution coefficients of Cd, Co, Ni, and Zn in soils.
European Journal of Soil Science 39 (1), 1522.
Anderson, M.A., Ferguson, J.F., Gavis, J., 1976. Arsenate adsorption on amor-phous aluminum
hydroxide. Journal of Colloid and Interface Science 54(3), 391399.
Badruzzaman, M., Westerhoff, P., Knappe, D.R.U., 2004. Intraparticle diffu-sion and adsorption
of arsenate onto granular ferric hydroxide (GFH).Water Research 38 (18), 40024012.
Bethke, M.C., Brady, V.P., 2000. How the Kd approach undermines ground-water cleanup.
Groundwater 38 (3), 435443.
Brown, J.G., Bassett, R.L., Glynn, P.D., 2000. Reactive transport of metal con-taminants in
alluvium - model comparison and column simulation. Ap-plied Geochemistry 15, 3549.
Cederberg, G.A., Street, R.L., Leckie, J.O., 1985. A Groundwater Mass Trans-port and
Equilibrium Chemistry Model for Multicomponent Systems. Water Resources Research
21 (8), 10951104.
Clarlton, S.R., Parkhurst, D.L., 2002. PHREEQCI - A graphical user interface
to the geochemical model PHREEQC: U.S. Geological Survey Fact Sheet FS-031-02,
April 2002, 2p. U.S. Geological Survey Denver, Colorado.
Clement, T.P., Sun, Y., Hooker, B.S., Petersen, J.N., 1998. Modeling Multi-species Reactive
Transport in Groundwater Aquifers. Groundwater Moni-toring & Remediation Journal 18
(2), 7992.