Anda di halaman 1dari 23

BAB VI

PEMUPUKAN

PENDAHULUAN

Dalam pertemuan ini mahasiswa akan mempelajari mengenai skope


pemupukan tanaman dengan unsur-unsurnya yang terdiri atas : jenis-jenis pupuk,
cara aplikasi pupuk dan penghitungan dosis pemupukan.
Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan dapat :

1. Menjelaskan peranan pemupukan terhadap pertumbuhan dan


perkembangan tanaman budidaya.
2. Menghitung keperluan pupuk pada luas tanah tertentu untuk berbagai jenis
tanaman budidaya.
3. memilih jenis pupuk yang paling tepat untuk setiap jenis tanah yang
berbeda.

PENYAJIAN

VI. 1. Pemupukan

Ada tiga hal yang harus dipahami dalam pemupukan tanaman budidaya
yaitu: (1) Tanah; (2) Tanaman; dan (3) Pupuk. Ketiganya saling berkaitan dan
menunjang untuk menghasilkan tanaman yang benar-benar subur dan produktif.

VI.1.1 Tanah

Tanah mempunyai arti penting bagi tanaman. Dalam mendukung kehidupan


tanaman, tanah memiliki fungsi sebagai berikut:
> Memberikan unsur hara dan sebagai media perakaran.
> Menyediakan air dan sebagai tempat penampungan ( reservoar ) air.
> Menyediakan udara untuk respirasi akar.

VI - 1
> Sebagai tempat bertumpunya tanaman.
Tanah yang dikehendaki tanaman adalah tanah yang subur. Tanah yang
subur adalah tanah yang mampu untuk menyediakan unsur hara yang cocok,
dalam jumlah yang cukup serta dalam keseimbangan yang tepat dan lingkungan
yang sesuai untuk pertumbuhan suatu spesies tanaman.
Tanah yang subur memiliki sifat fisik kimia dan biologi yang baik untuk
pertumbuhan tanaman. Sifat tersebut antara lain:

> Struktur Tanah

Struktur tanah memang ada bermacam-macam. Akan tetapi, yang


dikehendaki ialah struktur tanah yang remah. Keuntungan struktur tanah demikian
ialah udara dan air tanah berjalan lancar, temperaturnya stabil. Keadaan tersebut
sangat memacu pertumbuhan jasad renik tanah yang memegang peranan penting
dalam proses pelapukan bahan organik di dalam tanah. Oleh karena itu, untuk
memperbaiki strutur tanah ini dianjurkan untuk diberi pupuk organik (pupuk
kandang, kompos, atau pupuk hijau ).
Salah satu contoh tanah yang berstruktur jelek adalah tanah liat. Tanah ini
tersusun atas partikel-partikel yang cukup kecil. Sangat kecil kalau dibandingkan
dengan tanah pasir. Partikel tanah liat kurang lebih sama dengan seperseratus kali
partikel tanah pasir. Kehalusannya membuat tanah liat cenderung menggumpal,
terlebih pada musim hujan, dan amat rakus menghisap air. Jeleknya lagi, tanah liat
akan menahan air dengan ketat sehingga keadaannya menjadi lembab dan udara
pun berputar cukup lambat. Bila nantinya kering, tanah liat akan menggumpal
seperti batu dan sifatnya pun kian kedap terhadap udara. Itu sebabnya kerap kali
dijumpai tanah liat banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuat keramik dan
batu bata. Tentunya tanaman kalau ditanam pada tanah tersebut, kehidupannya
akan menderita karena akarnya tak mampu menembus lapisan tanah padat.
Ada pula tanah yang struktur terlalu porous, seperti tanah pasir. Pada tanah
tersebut tanaman juga tidak akan tumbuh subur. Pasalnya, sifat porous tanah
tersebut sangat mudah merembeskan air yang mengangkut zat-zat makanan
hingga jauh ke dalam tanah. Akibatnya, zat-zat makanan yang dibutuhkan
tanaman tersebut tidak bisa terjangkau oleh akar.

VI - 2
Lalu, mengapa tanaman yang ditanam bukan di tanah pasir dan tanah liat
masih saja tumbuh kerempeng seperti kurang makan? Kasus serupa ini memang
paling banyak terjadi dan sering dikeluhkan petani. Ini ada hubungannya dengan
kesuburan tanah yang meliputi: kandungan hara, derajat keasaman (pH),
pengolahan tanah, dan segi perawatan lain.

> pH Tanah.

Ada 3 alasan pH tanah sangat penting untuk diketahui:


a. Menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap oleh tanaman.
Umumnya unsur hara yang diserap oleh akar pada pH 6-7, karena pada pH
tersebut sebagian besar unsur hara mudah larut dalam air.
b. Derajat keasaman atau pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur
yang bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah masam. Banyak ditemukan unsur
aluminiun yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak
dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah masam unsur-unsur mikro menjadi
mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro, seperti Fe, Zn, Mn, Cu dalam
jumlah yang terlalu besar. Akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman. Pada
tanah alkali, ditemukan juga unsur yang dapat meracuni tanaman, yaitu natrium
(Na) dan molibdenum (Mo).
c. Derajat keasaman atau pH tanah sangat mempengaruhi perkembangan
mikroorganisme di dalam tanah. Pada pH 5,5-7 bakteri dan jamur pengurai
bahan organik dapat berkembang dengan baik.
Dapat disimpulkan, secara umum pH yang ideal bagi pertumbuhan
tanaman adalah mendekati netral (6,5-7). Namun, kenyataannya setiap jenis
tanaman memiliki kesesuaian pH yang berbeda-beda seperti yang tertera.
Tindakan pemupukan tidak akan efektif apabila pH tanah diluar batas
optimum. Pupuk yang telah ditebarkan tidak akan mampu diserap tanaman dalam
jumlah yang diharapkan. Karenanya, pH tanah sangat penting diketahui jika
efisiensi pemupukan ingin dicapai. Pemilihan jenis pupuk tanpa
mempertimbangkan pH tanah juga dapat memperburuk pH tanah.
Derajat keasaman (pH) tanah yang sangat rendah dapat ditingkatkan
dengan menebarkan kapur pertanian, sedangkan pH tanah yang terlalu tinggi

VI - 3
dapat diturunkan dengan penambahan sulfur. Sebelum pengapuran, pH tanah
harus diketahui terlebih dahulu. Nilai pH yang didapat akan menentukan jumlah
kapur yang harus ditebarkan.

VI.1.2. Pupuk dan Cara Pemupukan

A. Penggolongan Pupuk

Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk


anorganik. Pupuk organik ialah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup
yang diolah melalui proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai.
Contohnya adalah pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal
dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk
organik mempunyai komposisi kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah
tiap jenis unsur hara tersebut rendah. Sesuai dengan namanya, kandungan bahan
organik ini termasuk tinggi.
Pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh
pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki persentase
kandungan hara yang tinggi. Contoh pupuk anorganik adalah Urea, TSP, dan
KCl. Jenis pupuk buatan sangat banyak.
Menurut jenis dan jumlah unsur hara makro yang dikandungnya dapat
dibagi menjadi dua, yakni pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pada pupuk
tunggal, jenis unsur hara makro yang dikandungnya hanya satu macam. Biasanya
berupa unsur hara makro primer, misalnya urea yang hanya mengandung unsur
nitrogen. Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis
unsur hara makro. Penggunaan pupuk majemuk ini lebih praktis, karena hanya
dengan satu kali penebaran, beberapa jenis unsur hara dapat diberikan. Namun,
dari sisi harga pupuk ini lebih mahal. Contoh pupuk majemuk antara lain
diammonium phosphat yang mengandung unsur nitrogen dan phosphor, serta
pupuk NPK Mutiara yang mengandung unsur nitrogen, phosphor, dan kalium.
Menurut cara aplikasinya, pupuk buatan dibedakan menjadi dua, yakni
pupuk daun dan pupuk akar. Pupuk daun diberikan lewat penyemprotan pada
daun tanaman. Contoh pupuk daun adalah Gandasil B dan D, Nutrigro-Plus,

VI - 4
Greenzit, Atonik, Seprint, Bayfolan, Plant Catalist dan Grow More. Pupuk akar
diserap tanaman lewat akar dengan cara penebaran di tanah. contoh pupuk akar
adalah urea, SP-36, dan KCl.
Menurut cara melepaskan unsur hara, pupuk akar dibedakan menjadi dua,
yakni pupuk fast release dan pupuk slow release. Jika pupuk fast release
ditebarkan ke tanah, dalam waktu singkat, unsur hara yang dikandungnya dapat
dimanfaatkan oleh tanaman. Kelemahan pupuk ini adalah terlalu cepat habis,
bukan hanya diserap oleh tanaman tetapi juga menguap dan tercuci oleh air. Yang
termasuk pupuk fast release antara lain urea, ZA, dan KCl.
Pupuk slow release atau sering disebut dengan pupuk lepas terkendali
(controlled release) akan melepaskan unsur hara yang dikandungnya sedikit demi
sedikit sesuai dengan kebutuhan tanaman. Dengan demikian, manfaat yang
dirasakan dari satu kali aplikasi lebih lama dibandingkan dengan pupuk fast
release. Mekanisme ini dapat terjadi karena unsur hara yang dikandung pupuk
slow release dilindungi secara kimiawi dan mekanis. Perlindungan secara
mekanis berupa pembungkus bahan pupuk dengan selaput polimer atau selaput
yang mirip dengan bahan pembungkus kapsul. Contohnya, polymer coated urea
dan sulfur coated urea. Perlindungan secara kimiawi dilakukan dengan cara
mencampur bahan pupuk menggunakan zat kimia, sehingga bahan pupuk tersebut
lepas secara terkendali. Contohnya, Methylin Urea, Urea Formaldehide, dan
Isobutylidenr Diurea. Pupuk jenis ini harganya sangat mahal sehingga hanya
digunakan untuk tanaman-tanaman yang bernilai ekonomi tinggi.

B. Jenis-jenis Pupuk

B.1. Pupuk Sumber Nitrogen

Hampir seluruh tanaman dapat menyerap nitrogen dalam bentuk nitrat


(NO3-) atau ammonium (NH4+) yang disediakan oleh pupuk. Nitrogen dalam
bentuk nitrat lebih cepat tersedia bagi tanaman. Ammonium juga akan diubah
menjadi nitrat oleh mikroorganisme tanah, kecuali pada tembakau dan padi.
Tembakau tidak dapat menoleransi jumlah ammonium yang tinggi. Untuk
menyediakan nitrogen pada tembakau, gunakan pupuk berbentuk nitrat (NO3-)
dengan kandungan nitrogen minimal 50%. Pada padi sawah, lebih baik gunakan

VI - 5
pupuk berbentuk ammonium (NH4+), karena pada tanah yang tergenang, nitrogen
mudah berubah menjadi gas N2. Umumnya pupuk dengan kadar N yang tinggi
dapat membakar daun tanaman sehingga pemakaiannya perlu lebih hati-
hati.Beberapa contoh pupuk yang mengandung N disajikan pada Tabel VI-1.

Tabel VI.1. Kandungan Nitrogen pada beberapa jenis pupuk

% NH4+
% N total % NO3-
Jenis pupuk (Ammonium % Unsur lain
(Nitrogen) (Nitrat)
)
Ammonium Nitrat 33,5 16,7 16,7 -
Ammonium sulfat 21 21 0 S = 24%
Kalsium Nitrat 15,5 0 15,5 Ca = 19%
Urea 45 45 0 -

Ammonium Nitrat (NH4NO3)

Kandungan nitratnya membuat pupuk ini cocok untuk daerah dingin dan
daerah panas. Pupuk ini dapat membakar tanaman jika diberikan terlalu dekat
dengan akar atau langsung kontak dengan daun. Ketersediaan bagi tanaman
sangat cepat sehingga frekuensi pemberiannya harus lebih sering. Ammonium
nitrat bersifat higroskopis sehingga tidak dapat disimpan terlalu lama.

Ammonium Sulfat (NH4)2SO4

Pupuk ini dikenal dengan nama pupuk ZA. Mengandung 21% nitrogen
(N) dan 26% sulfur (S), berbentuk kristal dan bersifat kurang higroskopis. Reaksi
kerjanya agak lambat sehingga cocok untuk pupuk dasar. Bereaksi masam,
sehingga tidak disarankan untuk tanah ber-pH rendah. Selain itu, pupuk ini sangat
baik untuk sumber sulfur. Lebih disarankan dipakai di daerah panas.

Kalsium Nitrat (Ca(NO3)2)

Pupuk ini berbentuk butiran, berwarna putih, sangat cepat larut di dalam
air, dan sebagai sumber kalsium yang baik karena mengandung 19% Ca. sifat
lainnya adalah bereaksi basa dan higroskopis.

VI - 6
B.2. Pupuk Sumber Phosphor

SP-36

Mengandung 36% phosphor dalam bentuk P2O5. Pupuk ini terbuat dari
phosphat alam dan sulfat. Berbentuk butiran dan berwarna abu-abu. Sifatnya
agak sulit larut di dalam air dan bereaksi lambat sehingga selalu digunakan
sebagai pupuk dasar. Reaksi kimianya tergolong netral, tidak higroskopis, dan
tidak bersifat membakar.

Ammonium Phosphat

Monoammonium Phosphat (MAP) memiliki analisis 11.52.0.


Diammonium Phosphat (DAP) memiliki analisis 16.48.0 atau 18.46.0. Pupuk ini
umumnya digunakan untuk merangsang pertumbuhan awal tanaman (starter
fertilizer). Bentuknya berupa butiran berwarna cokelat kekuningan. Reaksinya
termasuk alkalis dan mudah larut di dalam air. Sifat lainnya adalah tidak
higroskopis sehingga tahan disimpan lebih lama dan tidak bersifat membakar
karena indeks garamnya rendah.

B.3. Pupuk Sumber Kalium

Kalium Khlorida (KCl)

Mengandung 45% K2O dan khlor, bereaksi agak masam, dan bersifat
higroskopis. Namun demikian, Khlor bisa berpengaruh negatif pada tanaman yang
tidak membutuhkannya, misalnya kentang, wortel, dan tembakau.

Kalium Sulfat (K2SO4)

Pupuk ini lebih dikenal dengan nama ZK. Kadar K2O-nya sekitar 48-52%.
Bentuknya berupa tepung putih yang larut di dalam air, sifatnya agak
mengasamkan tanah. dapat digunakan untuk pupuk dasar sesudah tanam.
Tanaman yang peka terhadap keraculan Cl, seperti tembakau, disarankan untuk
menggunakan pupuk ini.

VI - 7
Kalium Nitrat (KNO3)

Mengandung 13% N dan 44% K2O. Berbentuk butiran berwarna putih


yang tidak bersifat higroskopis dengan reaksi yang netral.

B.4. Pupuk Sumber Unsur Hara Makro Sekunder

Kapur Dolomit

Berbentuk bubuk berwarna kekuningan. Dikenal sebagai bahan untuk


menaikkan pH tanah. dolomit adalah sumber Ca (30%) dan Mg (19%) yang
cukup baik. Kelarutannya agak rendah dan kualitasnya sangat ditentukan oleh
ukuran butiran. Semakin halus butirannya akan semakin baik kualitasnya.

Kapur Kalsit

Berfungsi untuk meningkatkan pH tanah. Dikenal sebagai kapur pertanian


yang berbentuk bubuk. Warnanya putih dan butirannya halus. Pupuk ini
mengandung 90-99% Ca. bersifat lebih cepat larut di dalam air.

Paten Kali (Kalium Magnesium Sulfat)

Berbentuk butiran berwarna kuning. Mengandung 30% K2O, 12% S, dan


12% MgO. Sifatnya agak sukar larut di dalam air. Selain untuk memperbaiki
defisiensi Mg, pupuk ini juga bermanfaat untuk memperbaiki kejenuhan basa
pada tanah masam.

Kapur Gipsum

Berbentuk bubuk dan berwarna putih. Mengandung 39% Ca, 53% S, dan
sedikit Mg. Ditebarkan dalam satu kali aplikasi.
Jika terkena air, gypsum yang ditebarkan akan menggumpal dan mengeras
seperti tanah liat (cake). Gypsum digunakan untuk menetralisir tanah yang
terganggu karena kadar garam yang tinggi, misalnya pada tanah di daerah pantai.
Aplikasi gypsum tidak dapat mengubah pH tanah yang terlalu besar.

VI - 8
Bubuk Belerang (Element Sulfur)

Umumnya, sulfur disuplai dalam bentuk sulfat yang terdapat pada


berbagai jenis pupuk. Kandungan sulfat tersebut tidak banyak berpengaruh dalam
penurunan pH tanah. selain terdapat dalam berbagai jenis pupuk, bubuk belerang
adalah sumber sulfur yang terbesar, kandungannya dapat mencapai 99%. Namun,
bubuk ini tidak lazim digunakan untuk mengatasi masalah defisiensi sulfur, tetapi
lebih banyak digunakan untuk menurunkan pH tanah. penggunaannya tidak boleh
melebihi 25 gram/m2, karena bubuk sulfur dapat mengakibatkan gejala
terbakarnya daun tanaman (burning effect).

B.5. Pupuk Sumber Unsur Hara Mikro

Saat ini kebutuhan pupuk mikro sudah mulai terasa di Indonesia.


Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa tanaman padi sawah dan teh di
beberapa daerah di Jawa sudah mulai memerlukan tambahan Zn dari pupuk.
Hasil analisis tanah pada 10 propinsi di Indonesia menunjukkan, bahwa pada
tanah yang mendapat program pengapuran terjadi kekurangan unsur Cu dan Zn.
Penambahan pupuk Cu dan Zn ternyata meningkatkan hasil panen yang sangat
berarti. Pada padi sawah, hasil panen meningkat 17,5%, padi gogo menunjukkan
peningkatan sebesar 15%, dan pada kedelai meningkat sampai 24%.
Pupuk sebagai sumber unsur hara mikro tersedia dalam dua bentuk, yakni
bentuk garam anorganik dan bentuk organik sintetis. Kedua bentuk ini bersifat
mudah larut di dalam air. Contoh pupuk mikro yang berbentuk garam anorganik
adalah Cu, Fe, Zn, dan Mn yang seluruhnya bergabung dengan sulfat. Sebagai
sumber boron, umumnya digunakan sodium tetra borat yang banyak digunakan
sebagai pupuk daun. Sumber Mo umumnya menggunakan sodium dan
ammonium molibdat.

B.6. Pupuk Majemuk

Pemakaian pupuk majemuk saat ini sudah sangat luas. Berbagai merek,
kualitas, dan analisis telah tersedia di pasaran. Kendati harganya relatif lebih
mahal, pupuk majemuk tetap dipilih karena kandungan haranya lebih lengkap.

VI - 9
Efisiensi pemakaian tenaga kerja pada aplikasi pupuk majemuk juga lebih tinggi
daripada aplikasi pada pupuk tunggal yang harus diberikan dengan cara dicampur.
Pupuk majemuk berkualitas prima memiliki besar butiran yang seragam
dan tidak terlalu higroskopis, sehingga tahan disimpan dan tidak cepat
menggumpal. Hampir semua pupuk majemuk bereaksi masam, kecuali yang telah
mendapatkan perlakuan khusus, seperti penambahan Ca dan Mg.
Variasi analisis pupuk majemuk sangat banyak. meskipun demikain
perbedaan variasinya bisa jadi sangat kecil, misalnya antara NPK 15.15.15 dan
NPK 16.16.16. Berikut ini gambaran fungsi beberapa jenis analisis pupuk
majemuk.
Variasi analisis pupuk, seperti 15.15.15, 16.16.16, dan 20.20.20
menunjukkan ketersediaan unsur hara yang seimbang. Fungsi pupuk majemuk
dengan variasi analisis seperti ini antara lain untuk mempercepat perkembangan
bibit; sebagai pupuk pada awal penanaman; dan sebagai pupuk susulan saat
tanaman memasuki fase generatif, seperti saat mulai berbunga dan berbuah.
Dalam memilih pupuk majemuk perlu dipertimbangkan beberapa faktor,
antara lain kandungan unsur hara yang tinggi, kandungan unsur hara mikro,
kualitas pupuk, dan harga per kilogramnya.

B.7. Pupuk Daun

Daun memiliki mulut yang dikenal dengan nama stomata. Sebagian besar
stomata terletak di bagian bawah daun. Mulut daun ini berfungsi untuk mengatur
penguapan air dari tanaman sehingga aliran air dari akar dapat sampai ke daun.
Saat suhu udara terlalu panas, stomata akan tertutup sehingga tanaman tidak akan
mengalami kekeringan. Sebaliknya, jika udara tidak terlalu panas, stomata akan
membuka sehingga air yang ada di permukaan daun dapat masuk ke dalam
jaringan daun. Dengan sendirinya, unsur hara yang disemprotkan ke permukaan
daun juga masuk ke dalam jaringan daun.
Sebenarnya, kandungan unsur hara pada pupuk daun identik dengan
kandungan unsur hara pada pupuk majemuk. Bahkan pupuk daun sering lebih
lengkap karena ditambah oleh beberapa unsur hara mikro. Pemilihan analisis
yang tepat pada pupuk daun perlu mempertimbangkan beberapa faktor yang sama

VI - 10
dengan analisis pada pupuk majemuk. Hanya saja, faktor sifat fisik dan kimia
tanah tidak dijadikan sebagai faktor utama. Sebagai faktor utamanya adalah
manfaat tiap unsur hara yang dikandung oleh pupuk daun bagi perkembangan
tanaman dan peningkatan hasil panen.
Pupuk daun berbentuk serbuk dan cair. Kualitasnya dianggap baik jika
mudah larut di dalam air tanpa menyisakan endapan. Karena mudah larut di
dalam air, sifat pupuk daun menjadi sangat higroskopis. Akibatnya, tidak dapat
disimpan terlalu lama jika kemasannya telah dibuka.
Keuntungan menggunakan pupuk daun antara lain respon terhadap
tanaman sangat cepat karena langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Selain itu,
tidak menimbulkan kerusakan sedikit pun pada tanaman, dengan catatan
aplikasinya dilakukan secara benar. Dalam pemakaian pupuk daun dikenal istilah
konsentrasi pupuk atau kepekatan larutan pupuk. Besarnya konsentrasi pupuk
daun dinyatakan dalam bobot pupuk daun yang harus dilarutkan ke dalam satuan
volume air. Contohnya, pada kemasan pupuk daun tertera angka 2 gram per liter
air, artinya pupuk sebanyak 2 gram harus dilarutkan ke dalam 1 liter air. Supaya
lebih praktis, saat di lapangan, ukuran bobot pupuk daun dapat diubah ke dalam
satuan yang lebih gampang digunakan, misalnya sendok makan. Penentuan
besarnya volume air dapat diketahui dengan membaca skala pada alat semprot.
Angka konsentrasi ini selalu dicantumkan pada kemasan pupuk. Jika konsentrasi
pupuk daun yang digunakan melebihi konsentrasi yang disarankan, daun akan
terbakar.
Penyemprotan pupuk daun idealnya dilakukan pada pagi atau pada sore
hari karena bertepatan dengan saat membukanya stomata. Prioritaskan
penyemprotan pada bagian bawah daun karena paling banyak terdapat stomata.
Faktor cuaca termasuk kunci sukses dalam penyemprotan pupuk daun. Dua jam
setelah penyemprotan jangan sampai terkena hujan karena akan mengurangi
efektivitas penyerapan pupuk. Tidak disarankan menyemprot pupuk daun pada
saat suhu udara sedang panas karena konsentrasi larutan pupuk yang sampai ke
daun cepat meningkat sehingga daun dapat terbakar. Beberapa contoh pupuk
daun yang banyak beredar di pasaran sebagai berikut.
- Bayfolan 11.8.6 dilengkapi dengan Fe, Mg, B, Cu, Zn, dan Mo.

VI - 11
- Complesal 12.4.6 dilengkapi dengan Fe, S, Mn, Mg, B, Cu, Zn.
- Gandasil Daun 14.12.14 dilengkapi dengan Mn, Mg, B, Cu, Zn.
- Gandasil Bunga 6.20.30 dilengkapi dengan Mn, Mg, B, Cu, Zn.
- Grow More.
- Hypnex 10.40.15.

B.8. Pupuk Organik

Kandungan bahan organik di dalam tanah perlu dipertahankan agar


jumlahnya tidak sampai di bawah 2%. Selain penambahan pupuk organik, bahan
organik di dalam tanah dapat dipertahankan melalui cara-cara sebagai berikut :
- Terapkan rotasi tanaman dengan menyertakan jenis kacang-kacangan
dalam pergiliran tanaman.
- Sedapat mungkin mengembalikan sisa tanaman ke dalam tanah.
- Atasi erosi yang dapat menghanyutkan bahan organik tanah.
- Tanaman penutup tanah (cover crop). Cara ini lazim dilakukan di
perkebunan kelapa sawit dan karet.
- Minimalisasi pengolahan tanah, yakni mengolah tanah seperlunya saja.
Kandungan unsur hara yang terdapat di dalam pupuk organik jauh lebih
kecil daripada yang terdapat di dalam pupuk buatan. Cara aplikasinya juga lebih
sulit karena pupuk organik dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar daripada
pupuk kimia dan tenaga kerja yang diperlukan juga lebih banyak. Namun, hingga
sekarang pupuk organik tetap digunakan karena fungsinya belum tergantikan oleh
pupuk buatan. Berikut ini beberapa manfaat pupuk organik :
- Meskipun dalam jumlah yang jauh lebih kecil, pupuk organik mampu
menyediakan unsur hara makro dan mikro.
- Memperbaiki granulasi tanah berpasir dan tanah padat sehingga dapat
meningkatkan kualitas aerasi, memperbaiki drainase tanah, dan meningkatkan
kemampuan tanah dalam menyerap air.
- Mengandung asam humat (humus) yang mampu meningkatkan kapasitas
tukar kation.
- Penambahan pupuk organik dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme
tanah.

VI - 12
- Pada tanah masam, penambahan pupuk organik dapat membantu
meningkatkan pH tanah.
- Penggunaan pupuk organik tidak menyebabkan polusi tanah dan polusi air.
Adapun Jenis-jenis pupuk organik yang banyak dikenal adalah sebagai berikut :

1. Kompos
Kompos adalah hasil pembusukan sisa-saia tanaman yang disebabkan oleh
aktivitas mikroorganisme pengurai. Kualitas kompos sangat ditentukan oleh
besarnya perbandingan antara nisbah karbon dan nitrogen (C/N rasio). Jika C/N
rasio tinggi, berarti bahan penyusun kompos belum terurai secara sempurna.
Bahan kompos dengan C/N rasio tinggi akan terurai atau membusuk lebih lama
dibandingkan dengan bahan ber-C/N rasio rendah. Kualitas kompos dianggap
baik jika memiliki C/N rasio antara 12-15.
Bahan kompos, seperti sekam, jerami padi, batang jagung, dan serbuk
gergaji, memiliki C/N rasio antara 50-100. Daun segar memiliki C/N rasio sekitar
10-20. Proses pembuatan kompos akan menurunkan C/N rasio hingga menjadi
12-15. Tahapan proses pembuatan kompos sebagai berikut :
- Karbohidrat, protein, dan lilin (bahan C/N rasio tinggi) diurai menjadi
senyawa sederhana, seperti NH3, CO2, H2, dan H2O. Pada tahap ini,
mikroorganisme pengurai menyerap unsur hara dari lingkungan sekitarnya
untuk pertumbuhannya.
- Setelah perombakan selesai, mikroorganisme pengurai akan mati.
Konsekuensinya, unsur hara penyusun tubuh mikroorganisme akan
dilepaskan. Pada tahap ini C/N rasio menjadi lebih rendah karena banyak
karbon yang berubah menjadi CO2 dan menguap ke udara. Namun, bertolak
belakang dengan karbon, kandungan nitrogennya justru melimpah.
- Jika C/N rasio telah mencapai angka 12-20 berarti unsur hara yang terikat
pada humus telah dilepaskan melalui proses mineralisasi sehingga dapat
digunakan oleh tanaman.
Penjelasan proses di atas dapat menjawab pertanyaan mengapa tanaman
justru tampak seperti kekurangan unsur hara setelah diberi kompos yang belum
terurai sempurna. Sampai dengan proses penguraian sempurna, tanaman akan
bersaing dengan mikroorganisme tanah untuk memperebutkan unsur hara. Karena

VI - 13
itu, disarankan untuk menambah pupuk buatan apabila bahan kompos yang belum
terurai sempurna terpaksa digunakan. Contohnya seperti yang dilakukan oleh
petani strawberi, petani semangka, dan petani sayuran yang menggunakan jerami
padi atau serbuk gergaji yang belum terurai sempurna menjadi mulsa.
Kandungan unsur hara di dalam kompos sagat bervariasi. Tergantung dari
jenis bahan asal yang digunakan dan cara pembuatan kompos. Kandungan unsur
hara kompos mempunyai kisaran sebagai berikut :
- Nitrogen 0,1-0,6%
- Phosphor 0,1-0,4%
- Kalium 0,8-1,5%
- Kalsium 0,8-1,5%.
Ciri fisik kompos yang baik adalah berwarna cokelat kehitaman, agak
lembab, gembur, dan bahan pembentuknya sudah tidak tampak lagi. Produsen
kompos yang baik akan mencantumkan besarnya kandungan unsur hara pada
kemasan. Meskipun demikian, dosis pemakaian pupuk organik tidak seketat pada
pupuk buatan karena kelebihan dosis pupuk organik tidak akan merusak tanaman.
Penggunaan dosis tertentu pada pupuk kompos lebh berorientasi untuk
memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah daripada untuk menyediakan unsur hara.

2. Pupuk Kandang
Pupuk kandang adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak.
Kualitas pupuk kandang sangat tergantung pada jenis ternak, kualitas pakan
ternak, dan cara penampungan pupuk kandang. Tabel VI.2. di bawah ini
menunjukkan pupuk kandang dari ayam atau unggas memiliki kandungan unsur
hara yang lebih besar daripada jenis ternak lain. Penyebabnya adalah kotoran
padat pada unggas tercampur dengan kotoran cairnya. Umumnya, kandungan
unsur hara pada urine selalu lebih tinggi daripada kotoran padat.

VI - 14
Tabel VI.2. Kandungan unsur hara beberapa jenis pupuk kandang

Jenis Ternak N (%) P2O5 (%) K2O (%)


Ayam 1,7 1,9 1,5
Sapi 0,3 0,2 0,3
Kuda 0,4 0,2 0,3
Domba 0,6 0,3 0,2

Seperti kompos, sebelum digunakan, pupuk kandang perlu mengalami


proses penguraian. Dengan demikian, kualitas pupuk kandang juga turut
ditentukan oleh C/N rasio. Pupuk kandang yang mengandung jerami memiliki
C/N rasio yang tinggi sehingga mikroorganisme memerlukan waktu yang lebih
lama untuk menyelesaikan proses penguraiannya. Contoh pupuk kandang yang
banyak mengandung jerami antara lain pupuk kandang dari sapi, kerbau, atau
babi.
Dalam dunia pupuk kandang, dikenal istilah pupuk panas dan pupuk
dingin. Pupuk panas adalah pupuk kandang yang proses penguraiannya
berlangsung cepat sehingga terbentuk panas, misalnya pupuk kandang dari kuda,
kambing, domba dan ayam. Pada pupuk dingin terjadi sebaliknya, C/N rasio yang
tinggi menyebabkan pupuk kandang terurai lebih lama dan tidak menimbulkan
panas, misalnya pada sapi, kerbau, dan babi.
Pupuk kandang yang berasal dari sapi dan babi banyak mengandung
mikroorganisme pengurai yang bermanfaat untuk meningkatkan jenis dan
populasi mikroorganisme tanah. Ciri-ciri pupuk kandang yang baik dapat dilihat
secara fisik atau kimiawi. Ciri fisiknya yakni berwarna cokelat kehitaman, cukup
kering, tidak menggumpal, dan tidak berbau menyengat. Ciri kimiawinya adalah
C/n rasio kecil (bahan pembentuknya sudah tidak terlihat) dan temperaturnya
relatif stabil.

C. Cara Aplikasi dan Penghitungan Penggunaan Pupuk

Efektivitas pemupukan dipengaruhi oleh pemilihan jenis pupuk,


pemakaian dosis yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dan cara penempatan
pupuk. Pengaturan cara penempatan pupuk memiliki tujuan sebagai berikut :

VI - 15
- Tanaman dapat memanfaatkan semaksimal mungkin unsur hara dari pupuk
melalui minimalisasi terjadinya pencucian dan penguapan.
- Cara aplikasi yang dipilih harus aman bagi tanaman dan biji yang ditanam.
- Cara aplikasi yang tepat menjadikan jumlah yang ditebar sesuai dengan dosis
yang diinginkan (akurat).
- Pilih cara aplikasi yang paling efisien dalam memanfaatkan sumberdaya
tenaga kerja, waktu, alat, dan bahan.

C.1. Faktor Penentu

Dalam memilih cara aplikasi atau penempatan pupuk, pertimbangkan


faktor-faktor sebagai berikut :

• Tanaman yang akan dipupuk


Jenis tanaman yang akan dipupuk harus diketahui mengenai :
1. Nilai ekonomis tanaman dan luas areal tanam. Tanaman dengan nilai
ekonomis yang tinggi atau memiliki skala penanaman yang sangat luas
dapat mempertimbangkan cara penempatan pupuk dengan alat mekanis
atau fertigasi (pupuk dilarutkan ke dalam air dan disiramkan pada
tanaman melalui irigasi). Cara ini memiliki akurasi yang cukup tinggi.
2. Umur tanaman. Untuk tanaman yang ditanam dari biji, pupuk tertentu
dapat ditempatkan bersamaan pada saat penanaman biji. Tanaman di
dalam wadah persemaian dapat dipupuk dengan cara menyemprotkan
pupuk daun. Pupuk untuk tanaman di lapangan yang masih kecil dapat
diberikan dengan cara menugal. Pada tanaman yang sudah besar, pupuk
dapat diberikan dengan cara larikan.
3. Tipe perakaran. Tanaman memiliki dua jenis perakaran, yakni akar
tunggang dan akar serabut. Untuk tanaman yang berakar tunggang,
tempatkan pupuk di bawah biji agar dapat digunakan langsung oleh
tanaman. Pupuk untuk tanaman yang berakar serabut dapat diberikan
dengan cara ditebar. Dalam penempatan pupuk, pertimbangkan juga jenis
perakaran yang luas atau terbatas. Jika perakaran tanaman terbatas,
tempatkan pupuk lebih dekat dengan tanaman.

VI - 16
4. Jarak tanam dan karakter tajuk. Tanaman dalam barisan yang rapat,
seperti jagung dan kacang tanah, dapat dipupuk dengan cara larikan pada
satu sisi atau kedua sisi dari baris tanam. Tanaman yang ditanam
berjauhan seperti pada perkebunan mangga atau kelapa sawit dapat
dipupuk dengan cara membuat lingkaran di sekeliling pohon. Pada
tanaman penutup tanah (ground cover), seperti rumput dan tanaman hias
yang bertajuk lebar, berikan pupuk daun atau pupuk yang bersifat slow
release. Meskipun demikian, pupuk fast release juga bisa digunakan
asalkan segera diikuti dengan penyiraman, agar pupuk tidak membakar
daun.

• Jenis Pupuk yang Digunakan


Mengenai jenis pupuk yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Mobilitas unsur hara di dalam tanah. phosphor (P) hampir tidak bersifat
mobil (mudah berpindah). Akibatnya, pupuk P tetap berada di tempat
semula selama musim tanam sehingga harus diberikan sekaligus dan harus
diberikan dekat dengan area perakaran. Caranya, buat tugalan atau larikan
di samping benih atau bibit. Jika cara penebaran yang digunakan,
pemanfaatan pupuk P pada tanah cenderung tidak efektif.
2. Pupuk kalium dan nitrogen cenderung mudah bergerak (mobil) dari tempat
asal penebarannya. Pola pergerakannya vertikal ke bawah bersama-sama
air. Tidak disarankan memberikan pupuk nitrogen secara sekaligus karena
kemungkinan terjadinya penguapan dan pencucian sangat besar. Karena
sifatnya yang mobil (mudah bergerak), pupuk kalium dan nitrogen dapat
ditebar di atas permukaan tanah atau di dalam larikan.
3. Perhatikan juga sifat pupuk yang lain. Misalnya, pupuk dengan indeks
garam yang tinggi tidak dapat ditempatkan terlalu dekat dengan akar atau
benih karena dapat merusak tanaman. Pupuk dengan butiran yang sangat
halus seperti kapur umumnya ditebar di atas permukaan tanah. jika ingin
menggunakan peralatan mekanis untuk penebaran pupuk, perhatikan
ukuran butiran dan kekerasan butiran pupuk.

VI - 17
• Dosis Pupuk
Tidak disarankan menempatkan pupuk dengan dosis sangat tinggi ti dalam
larikan atau di dalam tugalan karena dapat merusak tanaman. Pupuk tersebut
sebaiknya ditebar agar terjadi penumpukan di satu tempat. Untuk tanaman di
dalam pot, meskipun dosis yang diberikan relatif kecil (hanya 1-2 sendok),
penebaran adalah cara yang paling aman mengingat jumlah medianya sangat
terbatas.

C.2. Faktor Lain

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan cara


penempatan pupuk adalah iklim, jenis tanah, dan ketersediaan air.

C.3. Cara Aplikasi Pupuk

• Larikan
Caranya, buat parit kecil di samping barisan tanaman sedalam 6-10 cm.
Tempatkan pupuk di dalam larikan tersebut, kemudian tutup kembali. Cara ini
dapat dilakukan pada satu atau kedua sisi baris tanaman. Pada jenis pepohonan,
larikan dapat dibuat melingkar di sekeliling pohon dengan jari-jari 0,5-1 kali jari-
jari tajuk. Pupuk yang tidak mudah menguap dapat langsung ditempatkan di atas
tanah. Setelah itu, larikan tidak perlu ditutup kembali dengan tanah. Hindari
membuat larikan hanya pada salah satu sisi baris tanam karena menyebabkan
perkembangan akar tidak seimbang, misalnya akar tumbuh lebih pesat pada sisi
yang diberi pupuk. Karena itu, aplikasi pupuk kedua harus ditempatkan pada sisi
yang belum mendapatkan pupuk (bergantian). Biasanya, cara ini dilakukan untuk
memberikan pupuk susulan. Tanaman dengan pertumbuhan cepat dan perakaran
yang terbatas, disarankan untuk menggunakan cara larikan.

• Penebaran Secara Merata di Atas Permukaan Tanah


Cara ini biasanya dilakukan sebelum penanaman. Setelah penebaran
pupuk, dilanjutkan dengan pengolahan tanah, seperti pada aplikasi kapur dan
pupuk organik. Cara ini menyebabkan distribusi unsur hara dapat merata

VI - 18
sehingga perkembangan akar pun lebih seimbang. Tidak disarankan untuk
menebar pupuk urea karena sangat mudah menguap.
• Pop Up

Caranya, pupuk dimasukkan ke lubang tanam pada saat penanaman benih


atau bibit. Pupuk yang digunakan harus memiliki indeks garam yang rendah agar
tidak merusak benih atau biji. Cara ini lazim menggunakan pupuk jenis SP-36,
pupuk organik, atau pupuk slow release.

• Penugalan
Caranya, tempatkan pupuk ke dalam lubang di samping tanaman sedalam
10-15 cm. Lubang tersebut dibuat dengan alat tugal. Kemudian, setelah pupuk
dimasukkan, tutup kembali lubang dengan tanah untuk menghindari penguapan.
Cara ini dapat dilakukan di samping kiri dan samping kanan baris tanaman atau di
sekeliling pohon. Jenis pupuk yang dapat diaplikasikan dengan cara ini adalah
pupuk slow release dan pupuk tablet.

• Fertigasi
Pupuk dilarutkan ke dalam air dan disiramkan pada tanaman melalui air
irigasi. Lazimnya, cara ini dalakukan untuk tanaman yang pengairannya
menggunakan sistem sprinkle. Cara ini telah banyak diterapkan pada pembibitan
tanaman Hutan Tanaman Industri (HTI), lapangan golf, atau nursery tanaman
yang bernilai ekonomi tinggi. Lewat cara ini, akurasi dan penyerapan pupuk oleh
akar dapat lebih tinggi.
Pada pertanian intensif, pemupukan sering dilakukan berkali-kali sehingga
beberapa cara di atas dapat dilakukan bersama-sama dalam satu musim tanam.

D. Penghitungan Penggunaan Pupuk

Agar dosis yang ditebarkan sesuai dengan yang diinginkan, sebelum


melakukan pemupukan diperlukan beberapa penghitungan. Berikut ini beberapa
contoh penghitungan sederhana sebelum melaksanakan pemupukan. Prinsip dasar
dari contoh-contoh di bawah ini dapat digunakan untuk kasus-kasus lain yang
ditemui di lapangan.

VI - 19
1. Hasil analisis tanah merekomendasikan untuk melakukan pemupukan
dengan 200 gram N, 100 gram P2O5, dan 200 gram K2O per tanaman. Pupuk
yang tersedia adalah urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% K2O).
Berdasarkan rekomendasi pemupukan, bobot setiap pupuk yang diperlukan
untuk memenuhi rekomendasi di atas adalah :
Urea yang diperlukan : 100/45 x 200 g = 444 g.
SP-36 yang diperlukan : 100/36 x 100 g = 278 g.
Kcl yang diperlukan : 100/60 x 200 g = 333 g.
2. Di dalam buku Pedoman Bercocok Tanam dianjurkan untuk menggunakan
urea (45% N) sebanyak 100 gram. Adapun pupuk N yang tersedia adalah ZA
(26% N). Berdasarkan data-data tersebut, pupuk yang digunakan adalah
45/100 x 100 g urea = 45 gram N sehingga pupuk ZA yang diperlukan untuk
memasok 45 gram N adalah 100/26 x 45 = 173 gram.
3. Penyuluh pertanian menyarankan untuk menggunakan 1 kg pupuk NPK
15.15.15 per pohon, tetapi harga pupuk NPK sangat mahal. Pupuk yang
tersedia urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% K2O). Menurut
data-data di atas, dosis Urea, SP-36, dan KCl yang diperlukan untuk
menggantikan 1 kg pupuk NPK 15.15.15 adalah :
15/100 x 1.000 g = 150 g N
15/100 x 1.000 g = 150 g P2O5
15/100 x 1.000 g = 150 g K2O
Jadi urea diperlukan sebanyak 100/45 x 150 = 333 gram; SP-36 sebanyak
100/36 x 150 = 471 gram; dan KCl sebanyak 100/60 x 150 = 250 gram.

LATIHAN

PETUNJUK : Jika mahasiswa dapat menjawab pertanyaan berikut dengan


lengkap dan terperinci maka mahasiswa telah menguasai 50 % dari bahan yang
diajarkan pada bab ini.

PERTANYAAN.
1. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pemupukan !

VI - 20
2. Sebutkan dan jelaskan pembagian pupuk berdasarkan asalnya !
3. Jelaskan pengertian tentang kompos, dan sebutkan kriteria kompos yang baik !

VI - 21
RINGKASAN

Ada tiga hal yang harus dipahami dalam pemupukan tanaman budidaya
yaitu: (1) Tanah; (2) Tanaman; dan (3) Pupuk. Ketiganya saling berkaitan dan
menunjang untuk menghasilkan tanaman yang benar-benar subur dan produktif.
Jenis tanah yang berbeda juga akan menghendaki kebutuhan pupuk yang
berbeda juga. Sifat fisik, kimia dan biologi tanah harus dianalisis terlebih dahulu
untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam pelaksanaan pemupukan.
Selain faktor tanah, efektivitas pemupukan juga tergantung dari jenis
pupuk yang digunakan dan cara aplikasinya. Jenis pupuk yang meliputi jumlah
kandungan unsur hara makro tiap pupuk, asal pupuk dan bentuk pupuk sering
menjadi pertimbangan dalam penentuan pemupukan. Demikian juga cara
aplikasinya baik dengan larikan, ditebar maupun ditugal harus memperhatikan
asas empat tepat (tepat jenis, tepat dosis, tepat cara dan tepat waktu).

PENUTUP

TES FORMATIF

PETUNJUK I : Isilah titik-titik dibawah ini.


Pupuk adalah …………………………………………………………………… 1)
Pemupukan adalah …………………………………………………………….. 2)
Berdasarkan kandungan unsur hara makronya pupuk dibedakan … jenis 3) yaitu
…… ……………………….. 4) dan ………………………………………… 5)

PETUNJUK II : Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jelas !


1. Mengapa tanaman yang dipupuk bahan organik dengan C/N ratio lebih dari 30
pertumbuhannya justru kurus ? jelaskan !
2. Langkah apa saja yang dilakukan agar pemupukan berjalan efektif ? jelaskan !
3. Sebutkan dan jelaskan cara aplikasi pupuk di lapangan !

VI - 22
VI - 23