Anda di halaman 1dari 5

2.

Obesitas

2.2.1 Definisi
Obesitas adalah suatu kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya
lemak, untuk pria dan wanita masing- masing melebihi 20% dan 25% dari berat
tubuh dan dapat membahayakan kesehatan. Secara sederhana World Health
Organization (WHO) mendefinisikan obesitas sebagai kondisi abnormal atas
akumulasi lemak yang ekstrim pada jaringan adipose. Inti dari obesitas ini adalah
terjadinya keseimbangan energi yang tidak diinginkan sehingga terjadinya
pertambahan berat badan.
2.2.2 Faktor resiko obesitas pada balita
Menurut hukum termodinamik, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan
antara asupan energi dengan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi
yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Kelebihan energy
tersebut dapat disebabkan oleh asupan energi yang tinggi atau keluaran energi
yang rendah. Faktor utama penyebab obesitas dibagi menjadi dua yaitu faktor
genetik dan faktor lingkungan yang didalamnya termaksud aktivitas fisik,
pendapatan keluarga , jenis kelamin, dan pola makan termaksud didalamnya
pemberian makanan tambahan terlalu dini pada bayi.5

Genetik
Faktor genetik yang diketahui mempunyai peranan kuat adalah parental

fatness, anak yang obesitas biasanya berasal dari orang tua yang obesitas juga.
Bila kedua orang tua obesitas, sekitar 80% anak-anak mereka akan menjadi
obesitas. Bila salah satu orang tua obesitas kejadiannya menjadi 40%.

Aktifitas fisik

Obesitas tidak hanya disebabkan karena kebanyakan makan. Aktivitas fisik pada
anak juga mempengaruhi untuk terjadinya obesitas, aktivitas meliputi aktivitas
sehari-hari, kebiasaan, hobi, maupun latihan dan olahraga, karena aktivitas fisik

yang rendah akan menyebabkan metabolisme tubuh menurun sehingga keluaran


energi menjadi lebih rendah. Hal tersebut kini semakin banyak terjadi di Indonesia
terutama di kota-kota besar dimana aktivitas fisik anak-anak kurang melakukan
gerak pada badannya. Penelitian di negara maju mendapatkan hubungan antara
aktivitas fisik yang rendah dengan kejadian obesitas. Individu dengan aktivitas
fisik yang rendah mempunyai risiko peningkatan berat badan sebesar 5 kg.
Mereka cenderung bermain game elektronik, komputer, internet atau televisi yang
cukup dilakukan dengan hanya duduk diam tanpa harus bergerak. Permainan anak
yang dulunya banyak dilakukan menggunakan gerakan badang seperti melompat,
berlari dan lainnya kini mulai terganti. Pada anak obesitas sendiri kurang
melakukan gerakan fisik dari pada anak-anak yang memilik berat badan normal
karena untuk mengurangi pergesekan antar kedua tungkai bagian atas dan antar
lengan dan dada, paru dan jantung harus bekerja lebih berat untuk
mengakomodasi kelebihan berat badan, dan terakhir peningkatan massa tubuh
memerlukan tambahan energi untuk melakukan kegiatan yang sama. Padahal cara
yang paling mudah dan umum dipakai untuk meningkatkan pengeluaran energi
adalah dengan melakukan latihan fisik atau gerak badan. 6

Pendapatan keluarga

Jenis dan banyaknya makanan yang dikosumsi oleh anggota keluarga akan
dipengaruhi status ekonomi keluarga tersebut. Semakin baik taraf hidup seseorang
maka semakin meningkat pula daya belinya. Tingkat pendapatan yang lebih tinggi
akan mempengaruhi pola makan di keluarga jadi kecendrungan untuk membeli
serta mengosumsi makanan enak dan mahal seperti fast food atau junk food akan
meningkat. Pendapatan keluarga juga mempengaruhi gaya hidup. sebagai contoh
dalam kehidupan keluarga di perkotaan dewasa ini ditemukan ibu-ibu yang
cenderung berperan ganda yaitu sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai
wanita karier atau wanita pekerja. Kondisi ini berpengaruh pada pola makan dan
jenis makanan yang dikonsumsi anggota keluarga. Frekuensi makan di luar rumah
cenderung meningkat, terutama dilakukan oleh anak-anak usia sekolah. Makanan

jajanan yang tersedia dan sering menjadi pilihan para orangtua maupun anak
adalah jenis fast food atau junk food.

Jenis kelamin

Jenis kelamin menentukan besar kecilnya kebutuhan gizi seseorang dimana lakilaki lebih banyak membutuhkan asupan energi dan protein. Hal tersebut
dikarenakan laki-laki mempunyai permukaan tubuh lebih lebar dibandingkan
dengan

perempuan

dan

perempuan

cenderung

mengalami

peningkatan

penyimpanan lemak sehingga lebih cepat gemuk dibandingkan laki-laki .

Pola makan
Peranan faktor pola makan dimulai sejak dalam kandungan. Jumlah lemak

tubuh dan pertumbuhan bayi sangat dipengaruhi oleh berat badan maternal dan
kenaikan berat badan selama periode antenatal. Selanjutnya perilaku makan mulai
terkondisi dan terlatih sejak bulan-bulan pertama kehidupan yaitu dalam
pengasuhan orangtua. Contoh : pemberian susu formula dan makanan semisolid
dapat menjadi penyebab obesitas. Pemberian susu botol pada bayi mempunyai
kecenderungan diberikan dalam jumlah yang berlebihan sehingga risiko menjadi
obesitas lebih besar daripada ASI saja. Akibatnya anak akan terbiasa untuk
mengkonsumsi makanan melebihi kebutuhan dan mempunyai kebiasaan
mengkonsumsi makanan cepat saji (junk foods dan fast foods) yang umumnya
mengandung energi tinggi karena 40 50% nya berasal dari lemak. Peranan diet
terhadap terjadinya obesitas sangat besar terutama diet tinggi kalori yang berasal
dari karbohidrat dan lemak. Masukan energi tersebut lebih besar daripada energi
yang dipergunakan sehingga terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan
pengeluaran. Kebiasaan lain adalah mengkonsumsi makanan camilan yang
banyak mengandung gula peningkatan jumlah konsumsi makanan tersebut
menyebabkan peningkatan asupan energi .
2.2.3 Dampak obesitas pada balita
Dampak obesitas pada anak harus dievaluasi sejak dini. Meliputi penilaian
faktor risiko kardiovaskuler, sleep apnea, gangguan fungsi hati, masalah

ortopedik yang berkaitan dengan kelebihan beban, kelainan kulit, serta potensi
gangguan psikiatri.
Skrining dianjurkan pada setiap anak gemuk setelah usia 2 tahun. Anak
gemuk juga cenderung mengalami peningkatan tekanan darah, denyut jantung
serta keluaran jantung dibandingkan anak seusianya.

Hipertensi ditemukan pada 20-30% anak gemuk. Dalam mengukur


tekanan darah pada anak gemuk perlu memperhatikan penggunaan cuff
yang sesuai. terdapat terjadinya penyakit kardiovaskular pada obesitas
balita yang obesitas

Hiperinsulinemia dan intoleransi glukosa hampir selalu ditemukan.

Kegemukan menyebabkan kerentanan terhadap kelainan kulit khususnya


di daerah lipatan

Obstruktive sleep apnea sering dijumpai pada anak obesitas dengan


kejadian 1/100 dengan gejala mengorok. Penyebabnya adalah penebalan
jaringan lemak didaerah dinding dada dan perut yang mengganggu
pergerakan dinding dada dan diafragma, sehingga terjadi penurunan
volume dan perubahan pola ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja
otot pernafasan.

Gangguan orthopedik biasanya anak obes cenderung berisiko mengalami


gangguan ortopedik yang disebabkan kelebihan berat badan, yaitu
tergelincirnya epifisis kaput femoris yang menimbulkan gejala nyeri
panggul atau lutut dan terbatasnya gerakan panggul.

Masalah psikososial akan sangat berpengaruh pada penampilan. Pada anak


dengan obesitas sering didapatkan kurangnya rasa ingin bermain dengan
teman sepermainan, memisahkan diri dari tempat bermain, tidak diikutkan
dalam permainan serta hubungan sosial canggung atau menarik diri dari
kontak sosial. Hal ini disebabkan oleh karena depresi, kurang percaya diri,

persepsi diri yang negatif maupun rendah diri karena menjadi bahan
ejekan teman-temannya.
2.2.4 Pencegahan obesitas