Anda di halaman 1dari 26

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN
KOMODITAS UBI JALAR (Ipomoea batatas)

Disetujui oleh:

Asisten Kelas

Asisten Lapang

Dwi Arista.K

Retno Tri Purnama Sari

NIM.125040

NIM. 0510410043

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN
Komoditas Ubi Jalar (Ipomoea batatas)

Disusun Oleh:
Nita Dia Permata Sari
135040200111037
Hammam Abdullah Rizki
135040201111072
Ani Nurin Nimah
135040201111187
Cahya Nur Aisyah
135040207111030
Kelas : O
Asisten Kelas : Dwi Arista. K
Asisten Lapang : Retno Tri Purnamasari

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan komoditas sumber karbohidrat utama
setelah padi, jagung dan ubi kayu, serta mempunyai peranan penting dalam
penyediaan bahan pangan, bahan baku industri maupun pakan ternak (Zuraida dan
Supriati, 2001). Ubi jalar dikonsumsi sebagai bahan makanan tambahan atau
sampingan, kecuali Irian Jaya dan Maluku, ubi jalar digunakan sebagai bahan
makanan pokok. Kandungan karbohidrat dalam ubi jalar dapat digunakan sebagai
sumber karbon oleh bakteri L.plantarum (Rukmana, 1997 ; Panda dan Ray, 2008).
Karakteristik fisik ubi jalar seperti ukuran, bentuk dan warna ubi perlu
diketahui, karena berkaitan erat dengan pemanfaatannya (Aini, 2004). Ukuran ubi
jalar terdiri dari tiga jenis yaitu, besar, sedang dan kecil, sedangkan bentuk dari ubi
jalar bulat sampai lonjong dengan permukaan rata sampai tidak rata (Rukmana,
1997).Warna kulit dan daging ubi jalar tidak selalu sama. Ubi jalar mempunyai warna
kulit putih kotor, kuning, jingga dan ungu tua. Warna daging ubi jalar yaitu putih,
krem, orange, dan jingga, tergantung jenis dan pigmen yang terdapat didalamnya
(Bandech et al., 2005). Ubi jalar berdaging kuning memiliki pigmen -carotene dan
ubi jalar berwarna ungu memiliki pigmen antosianin (Yamakawa, 1998).Ubi jalar
juga mengandung komponen zat gizi yang penting seperti, protein, lemak,
karbohidrat dan vitamin A (-karoten). Jumlah komponen zat gizi tergantung pada
varietas ubi jalar (Lingga, 1984). Kandungan vitamin A yang tinggi dicirikan oleh
umbi yang berwarna kuning kemerah-merahan.
Produktivitas komoditas ini sangat rendah, bahkan semakin rendah akibat adanya
peningkatan produksi padi nasional melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi.
Kondisi pengurangan produktivitas ubi jalar juga terjadi di Sumatera Utara dan
beberapa wilayah di Sumatera lainnya. Dalam kegiatan praktikum teknologi pertanian
yang kami lakukan, kami membandingkan hasil produksivitas tanaman ubi jalar
varietas orange madu dengan tanaman ubi jalar varietas lain.

1.2 Tujuan
1.2.1 Untuk mengetahui teknologi produksi komoditas ubi jalar
1.2.2 Untuk mengetahui teknik budidaya pada komoditas ubi jalar
1.2.3 Untuk mengetahui perbedaan hasil antara varietas ubi jalar orange madu
dengan varietas lain

1.3 Manfaat
1.3.1 Dapat menambah pemahaman mengenai teknologi produksi komoditas ubi
jalar
1.3.2 Dapat menambah pemahaman mengenai teknik budidaya pada tanaman
komoditas ubi jalar
1.3.3 Dapat menambah pemahaman mengenai syarat tumbuh dan factor yang
mununjang pertumbuhan ubi jalar

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perkembangan Produksi dan Teknologi Produksi Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea
batatas)
Ubi jalar merupakan salah satu komoditas pertanian penghasil karbohidrat
yang sudah tidaklah asing lagi. Bahkan, ubi jalar mempunyai peran penting
sebagai cadangan pangan yang mana bila produksi padi dan jagung tidak cukup
lagi. Dibeberapa negara maju misalnya Jepang, Korea, China dan Amerika.
Penggunaan ubi jalar sebagai bahan pangan sudah dilakukan secara maksimal.
Ubi jalar diolah sebagai berbagai produk makanan, misalnya kue, roti, sirup, mie
instant, tepung granula, saos, kremes, kripik, makanan bayi, dan manisan yang
semuanya disajikan dalam bentuk kaleng atau bungkusan yang menarik. Selain
itu, ubi jalar juga dapat diolah menjadi gula fruktosa yang dapat digunakan
sebagai pemanis dalam industri minuman. Di Indonesia, makanan dari olahan ubi
jalar masih disajikan dalam bentuk yang sederhana, misalnya dalam bentuk ubi
rebus, kolak, ubi goreng. Padahal ubi jalar dapat diolah sebagai mana di negaranegara maju. Bahkan, ubi jalar juga dapat diolah menjadi bahan baku industri
makanan dan minuman, industri tekstil, industri kosmetik dan industri lem. Jika
dilihat dari banyak kegunaannya, ubi jalar memiliki peluang baik untuk
dikembangkan. Pengembangan produksi ubi jalar dapat dilakukan dengan adanya
upaya peningkatan produksi ubi jalar melalui intensifikasi dan perluasan area
tanam (diversifikasi) atau dengan cara pendayagunaan ubi jalar menjadi produk
olahan lain dengan pengembangan agroindustri. Namun, perkembangan produksi
ubi jalar di Indonesia menunjukan angka yang kurang bagus karena kurangnya
dukungan dari industri olahan ubi jalar. Berikut perkembangan produksi ubi jalar
menjadi produk dari tahun 1991-1995.

SUMBER LIAT LAPORAN TEBU


Kandungan gizi ubi jalar utamanya kandungan karbhidrat dan sumber
kalorinya cukup tinggi. Kandungan karbohidrat ubi jalar menduduki peringkat
keempat setelah padi, jagung dan ubi kayu. Vitamin yang terkandung dalam ubi
jalar adalah vitamin A (beta karotein), vitamin C, thiamin (vitamin B1) dan
rebavlavin (vitamin B2). Sedangkan mineral yang terkandung dalam ubi jalar
adalah zat besi (Fe), fosfor (P), dan natrium (Na). Berikut tabel kandungan gizi
ubi jalar setiap 100 gram

(Juanda, 2000)

2.2 Klasifikasi dan Morfologi TAMBAH GAMBAR MORFOLOGI BESERTA


BAGINYA LIAT CONTOH TEBU)
Tanaman ubi jalar dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan diklasifikasikan
sebagai berikut.
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Convolvulales

Family

: Convolvulaceae

Genus

: Ipomeae

Species

: Ipomeae batatas L. Sin batatas edulis choisy

Sebagai keluarga kangkung-kangkungan (Convolvulaceae), ubi jalar memiliki


cukup banyak kerabat dekat dengan kangkung antara lain kangkung air (Ipomea
aquatica Forsk), kangkung darat (Ipimea reptans L.poir), kangkung pasar dan
kangkung hutan. Bibit ubi jalar yang berasal dari sambungan kangkung hutan dengan
tanaman ubi jalar dapat menghasilkan pruduk yang lebih tinggi dan ukuran umbi
yang lebih besar. (Rukmana, 1997)
Menurut Suparno dan Santoso (2003) morfologi tanaman ubi jalar ini
dijelaskan berdasarkan akar, batang, daun, bunga, umbi dan warna yang nampak pada
ubi jalar sebagai berikut.
a. Akar tanaman
Ubi jalar terdiri atas akar serabut dan akar tunggang. Akar serabut tumbuh
pada ruas-ruas batang atau pada pangkal batang bila tanaman itu dibiakkan
dengan stek (vegetatif) dan berakar tunggang bila dibiakkan dengan biji
(generatif). Akar-akar serabut yang tumbuh pada pangkal batang atau stek
maupun pada ruas-ruas batang berpotensi untuk berkembang menjadi umbi.
(Logo, 2011)

b. Batang tanaman
Batang ubi jalar adalah menjalar panjang dan bercabang-cabang mencapai
1 hingga 5 meter, dengan diameter bervariasi antara 3 sampai 10 mm.
Umumnya batang ubi jalar bila dilukai akan mengeluarkan getah berwarna
putih yang mana banyaknya getah ini bervariasi tergantung pada jenisnya.
Warna batang ubijalar juga beragam dengan warna kuning, hijau atau ungu.
Sifat-sifat lainnya morfologi batang ubi jalar ini juga bervariasi dalam hal sifat
terpilin, panjang ruas dan keadaan berbulu. Secara hirarki padatanaman ubijalar
memungkinkan memiliki percabangan primer, sekunder, tertier dan quarter.
(Logo, 2011)
Ubi jalar berbatang lunak, tidak berkayu, berbentuk bulat, dan bagian
tengah bergabus. Batang ubi jalar beruas-ruas dan panjang ruas antara 1-3 cm.
Setiap ruas ditumbuhi daun, akar dan tunas atau cabang. Panjang batang utama
sangat beragam, tergantung pada varietasnya, yakni berkisar 2-3 m untuk
varietas ubi jalar merambat dn 1-2 m untuk varietas ubi jalar tidak merambat
(bertipe tegak). Diameter ubi jalar juga bervariasi, untuk varietas ubi jalar yang
merambat umumnya mempunyai diameter batang yang kecil, sedangkan untuk
ubi jalar bertipe tegak memiliki diameter batang yang berukuran sedang.
(Juanda, 2000)
c. Daun
Daun ubi jalar berbentuk bulat hati, bulat lonjong dan bulat runcing
tergantung varietasnya. Daun ubi jalar yang berbentuk bulat hati memupunyai
tepi daun rata, berlekuk dangkal atau menjari, daun ubi jalar yang berbentuk
oval memiliki tepi daun yang rata, berlekuk dangkal atau berlekuk dalam.
Sedangkan daun ubi jalar yang berbentuk bulat runcing memiliki tepi daun rata,
berlekuk dangkal atau berlekuk dalam.
Daun ubi jalar memiliki tulang daun menyirip, kedudukan daun tegak agak
mendatar dan bertangkai tunggal yang melekat padda batang. Ukuran daun

bervariasi, tergantung varietasnya. Daun ubi jalar berwarna hijau tua dan hijau
kuning, sedangkan warna tangkai daun dan tulang daun bervariasi, yakni antara
hijau dan ungu sesuai dengan warna batangnya.

SUMBER

GAMBAR

d. Bunga
Ubi jalar berbentuk terompet pada ketiak daun, dengan panjang 3-5 cm
dan lebarnya 3-4 cm. Daun kelopak bunga lonjong, runcing kurang lebih 1 cm.
Didalam bunga terdapat satu tangkai putik dengan kepala putik pada bagian
ujung panjang 2-2.5 cm. Tangkai putik berbentuk tabung yang langsung
berhubungan dengan bakal buah yang terdapat pada pangkal mahkota bunga
(corolla). Kepala putik letaknya lebih tinggi dari kepala sari sehingga
penyerbukan akan terjadi oleh bantuan serangga atau angin. Buahnya adalah
buah kotak berbentuk seperti telur (Logo, 2011)
e. Umbi
Umbi pada ubijalar bermacam-macam bergantung pada jenis atau
varietasnya tetapi pada umumnya umbi ubijalar dibagi menjadi dua yaitu umbi

kecil dengan berat < 80 gram per umbi dan umbi besar dengan berat > 80 gram
per umbi. Umbi ubijalar selalu memiliki mata tunas sehingga memungkinkan
untuk mendapatkan bahan tanaman berupa stek dengan menginduksi tunas dari
umbinya yang terdapat pada umbi ubijalar memiliki variasi bentuk dan warna
yang beragam. Kulit umbi dapat berwarna putih sampai merah tua atau ungu,
kuning atau bercak berwarna yang tidak teratur dibagian tengah umbi.(Logo,
2011)
2.3 Syarat Tumbuh
a. Iklim
Tanaman ubi jalar membutuhkan hawa panas dan udara yang lembab. Daerah
yang paling ideal untuk budidaya ubi jalar adalah daerah yang bersuhu 21-27
derajat C.
Daerah yang mendapat sinar matahari 11-12 jam/hari merupakan daerah yang
tepat untuk budidaya tanaman ubi jalar. Pertumbuhan dan produksi yang
optimal untuk usaha tani ubi jalar tercapai pada musim kering (kemarau). Di
tanah yang kering (tegalan) waktu tanam yang baik untuk tanaman ubi jalar
yaitu pada waktu musim hujan, sedang pada tanah sawah waktu tanam yang
baik yaitu sesudah tanaman padi dipanen.
Tanaman ubi jalar dapat ditanam di daerah dengan curah hujan 500-5000
mm/tahun, optimalnya antara 750-1500 mm/tahun.
(BPPIPT, 2014)
b. Media Tanam
Hampir setiap jenis tanah pertanian cocok untuk membudidayakan ubi jalar.
Jenis tanah yang paling baik adalah pasir berlempung, gembur, banyak
mengandung bahan organik, aerasi serta drainasenya baik. Penanaman ubi
jalar pada tanah kering dan pecah-pecah sering menyebabkan ubi jalar mudah
terserang hama penggerek (Cylas sp.). Sebaliknya, bila ditanam pada tanah
yang mudah becek atau berdrainase yang jelek, dapat menyebabkan
pertumbuhan tanaman ubi jalar kerdil, ubi mudah busuk, kadar serat tinggi,
dan bentuk ubi benjol.

Derajat keasaman tanah adalah pH=5,5-7,5. Sewaktu muda memerlukan


kelembaban tanah yang cukup.
(BPPIPT, 2014)

2.4 Fase Pertumbuhan Tanaman


Siklus perkembangan dari bibit ditanam sampai umbi siap dipanen berlangsung
100-150 hari, tergantung varietas dan lingkungan tumbuh. Kurun waktu pembentukan
umbi dapat dibedakan atas tiga fase tumbuh, yaitu fase awal pertumbuhan, fase
pembentukan umbi, dan fase pengisian umbi.
a. Fase awal pertumbuhan
Fase ini berlangsung sejak bibit setek ditanam sampai dengan umur 4
minggu. Ciri-cirinya, setelah bibit ditanam, pertumbuhan akar muda
berlangsung cepat, sedangkan pembentukan batang dan daun masih lambat.
b. Fase pembentukan umbi
Fase pembentukan umbi berlangsung sejak tanaman berumur 4-8
minggu. Rata-rata fase ini berlangsung antara 4-6 minggu setelah tanam,
tergantung varietas ubi jalar dan keadaan lingkungan tumbuh. Pada saat umur
7 minggu paling tidak 80% umbi telah terbentuk. Ciri pembentukan umbi
mulai berlangsung yaitu pertumbuhan batang dan daun berlangsung cepat.
Pada saat ini batang tanaman tampak paling lebat.
c. Fase pengisian umbi
Fase ini berlangsung sejak tanaman berumur 8-17 minggu. Diantara 812 minggu, tanaman berhenti membentuk umbi baru karena mulai
membesarkan umbi yang sudah ada. Ciri pembentukan dan pengisian umbi
berlangsung cepat yaitu pertumbuhan batang dan daun berkurang. Pengisian
zat makanan dari daun keumbi berhenti saat tanaman berumur 13 minggu.
Sementara mulai umur 14 minggu daun tanaman mulai menguning dan
rontok. Tanaman dapat dipanen umbinya saat berumur 17 minggu.
(Sarwono, 2005)

2.6 Teknik Budidaya


a. Penentuan Pola Tanam
Sistem tanam ubi jalar dapat dilakukan secara tunggal (monokultur) dan tumpang
sari dengan kacang tanah.
1. Sistem Monokultur
Buat larikan-larikan dangkal arah memanjang di sepanjang puncak guludan
dengan cangkul sedalam 10 cm, atau buat lubang dengan tugal, jarak antar
lubang 25-30 cm.
Buat larikan atau lubang tugal sejauh 7-10 cm di kiri dan kanan lubang tanam
untuk tempat pupuk.
Tanamkan bibit ubi jalar ke dalam lubang atau larikan hingga angkal batang
(setek) terbenam tanah 1/2-2/3 bagian, kemudian padatkan tanah dekat
pangkal setek (bibit).
Masukkan pupuk dasar berupa urea 1/3 bagian ditambah SP36 seluruh bagian
ditambah KCl 1/3 bagian dari dosis anjuran ke dalam lubang atau larikan,
kemudian ditutup dengan tanah tipis-tipis. Dosis pupuk yang dianjurkan
adalah 45-90 kg N/ha (100-200 kg Urea/ha) ditambah 25 kg P2O5/ha (50 kg
TSP/ha) ditambah 50 kg K2O/ha (100 kg KCl/ha). Pada saat tanam diberikan
pupuk urea 34-67 kg ditambah TSP 50 kg ditambah KCl 34 kg per hektar.
Tanaman ubi jalar amat tanggap terhadap pemberian pupuk N (urea) dan K
(KCl).
2. Sistem Tumpang Sari
Tujuan sistem tumpang sari antara lain untuk meningkatkan produksi dan
pendapatan per satuan luas lahan. Jenis tanaman yang serasi ditumpangsarikan
dengan ubi jalar adalah kacang tanah. Tata cara penanaman sistem tumpang sari
prinsipnya sama dengan sistem monokultur, hanya di antara barisan tanaman ubi
jalar atau di sisi guludan ditanami kacang tanah. Jarak tanam ubi jalar 100 cm x
25-30 cm, dan jarak tanam kacang tanah 30 x 10 cm.

b. Cara Penanaman
Bibit yang telah disediakan dibawa ke kebun dan ditaruh di atas bedengan.
Bibit dibenamkan kira-kira 2/3 bagian kemudian ditimbun dengan tanah
kemudian disirami air. Bibit sebaiknya ditanam mendatar, dan semua pucuk
diarahkan ke satu jurusan. Dalam satu alur ditanam satu batang, bagian batang
yang ada daunnya tersembul di atas bedengan. Pada tiap bedengan ditanam 2
deretan dengan jarak kira-kira 30 cm. Untuk areal seluas 1 ha dibutuhkan bibit
stek kurang lebih 36.000 batang. Penanaman ubi jalar di lahan kering biasanya
dilakukan pada awal musim hujan (Oktober), atau awal musim kemarau (Maret)
bila keadaan cuaca normal. Dilahan sawah, waktu tanam yang paling tepat adalah
segera setelah padi rendengan atau padi gadu, yakni pada awal musim kemarau.
3. Pemeliharaan Tanaman
a. Penjarangan dan Penyulaman
Selama 3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman ubi jalar harus harus
diamati kontinu, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal. Bibit
yang mati harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit
yang mati, kemudian diganti dengan bibit yang baru, dengan menanam sepertiga
bagian pangkal setek ditimbun tanah. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi
atau sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara tidak
terlalu panas. Bibit (setek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau
ditanam ditempat yang teduh.
b. Penyiangan
Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan penanaman ubi jalar biasanya
mudah ditumbuhi rumput liar (gulma). Gulma merupakan pesaing tanaman ubi
jalar, terutama dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara, dan sinar
matahaari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi. Bersama-sama kegiatan
penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan tanah guludan,
kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut.

c. Pembubunan
Penyiangan dan pembubunan tanah biasanya dilakukan pada umur 1 bulan
setelah tanam, kemudian diulang saat tanaman berumur 2 bulan. Tata cara
penyiangan dan pembumbunan meliputi tahap-tahap sebagai berikut.
Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara hati-hati
agar tidak merusak akar tanaman ubi jalar.
Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong lereng
guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar guludan.
Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian lakukan
pengairan hingga tanah cukup basah.
d. Pemupukan
Zat hara yang terbawa atau terangkut pada saat panen ubi jalar cukup tinggi,
yaitu terdiri dari 70 kg N (156 kg urea), 20 kg P2O5 (42 kg SP36), dan 110 kg
K2O ( 220 kg KCl) per hektar pada tingkat hasil 15 ton ubi basah. Pemupukan
bertujuan menggantikan unsur hara yang terangkut saat panen, menambah
kesuburan tanah, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Dosis pupuk yang
tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau tanaman di daerah setempat.
Dosis pupuk yang dianjurkan secara umum adalah 45-90kg N/ha (100-200 kg
urea/ha) ditambah 25 kg P2O5/ha (50 kg TSP/ha) ditambah 50 kg K2O/ha
(100 kg KCl/ha). Pemupukan dapat dilakukan dengan sistem larikan (alur) dan
sistem tugal. Pemupukan dengan sistem larikan mula-mula buat larikan (alur)
kecil di sepanjang guludan sejauh 7-10 cm dari batang tanaman, sedalam 5-7 cm,
kemudian sebarkan pupuk secara merata ke dalam larikan sambil ditimbun
dengan tanah.
e. Pengairan dan Penyiraman
Meskipun tanaman ubi jalar tahan terhadap kekeringan, fase awal
pertumbuhan memerlukan ketersediaan air tanah yang memadai. Seusai tanam,
tanah atau guludan tempat pertanaman ubi jalar harus diairi, selama 15-30 menit
hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dialirkan keseluruh pembuangan.
Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga tanaman ubi jalar

berumur 1-2 bulan. Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu
umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan. Waktu
pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari. Di daerah yang
sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinu seminggu sekali. Hal
Yang penting diperhatikan dalam kegiatan pengairan adalah menghindari agar
tanah tidak terlalu becek (air menggenang).
(BPPIPT, 2014)

2.7 Perngaruh Kegiatan Pembalikan Sulur pada Produksi Tanaman Ubi Jalar
(Ipomoea batatas)
Pembalikan batang ubi jalar umumnya sering dilakukan petani. Pembalikan
batang ubijalar dilakukan pada umur 5 MST (Minggu Setelah Tanam), 8 MST,
dan 12 MST. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa pembalikan batang
tanaman justru dapat menurunkan hasil 9-21% (Tabel 7). Pembalikan batang
hanya dianjurkan untuk kondisi yang mendorong perakaran banyak saja.
(Zuraida, 2001)

(Zuraida, 2001)

BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu

: Senin, 13.20 16.45 WIB

Tempat

: Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang


Kepuharjo Kecamatan Karang Ploso Malang

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1

Alat

Cangkul

: Untuk membantu dalam pembuatan bedengan atau


guludan dan alat bantu pengolahan tanah

Cangkil

: Untuk membantu dalam pembuatan bedengan atau


guludan dan alat bantu pengolahan tanah

Meteran

: Untuk membantu dalam pengukuran lahan dan


mengukur panjang sulur pada komoditas ubi jalar

Timbangan

: Untuk mengukur berat umbi yang dihasilkan

Pisau

: Untuk membantu dalam pemotongan

Gunting stek

: Untuk membantu dalam pemotongan bagian tanaman


yang tidak digunakan atau menggangu

Gembor

: Untuk menyiram tanaman

Timba

: Untuk wadah pupuk

3.2.2

Bahan

Bibit ubi jalar varietas madu orange : Sebagai bahan tanam


Air

: Sebagai pelarut unsur hara dan menjaga


kelembaban tanah

Pupuk Urea

: Sebagai bahan penambah unsur hara tanaman

Pupuk KCl

: Sebagai bahan penambah unsur hara tanaman

Pupuk SP-36

: Sebagai bahan penambah unsur hara tanaman

Pupuk Kandang

: Sebagai pupuk dasar

3.3 Cara Kerja


3.3.1 Pembibitan
Menyiapkan alat dan bahan

Memotong batang dari tanaman induk

Memotong batang menjadi potongan


25-30 cm

Bibit siap ditanam


Pembibitan ubi jalar dilakukan dengan melakukan penyiapan batang
stek yang siap untuk ditanam. Bibit diambil dari tanaman induk Ubi Jalar
varietas madu orange, umur tanaman induk minimal adalah 2 bulan (Juanda,
2000). Setelah tanaman induk ditentukan, kemudian dilakukan pemotongan
batang tanaman induk menggunakan gunting stek sepanjang 75-90 cm dari
ujung batang (tunas) sehingga dapat diperoleh 3 bibit. Kegiatan ini baik
dilakukan pada pagi hari (Juanda, 2000). Setelah diperoleh bibit kemudian
dikumpulkan, diikat dan siap untuk dibawa ke lahan untuk di tanam. Pada
praktek di lahan kami sudah disiapkan bibit yang sudah siap tanam, berupa
potongan batang sepanjang 25-30 cm.

3.3.2

Persiapan Lahan
Siapkan alat dan bahan

Sanitasi

Pembajakan tanah

Penggaruan tanah

Pengukuran bedengan

Pembuatan bedengan dan saluran irigasi

Pemupukan dasar
Persiapan lahan secara garis besar dimulai dari sanitasi, pembajakan,
penggaruan,

pengukuran

bedengan

yang

disesuaikan

dengan

lahan,

pembuatan bedengan dan saluran irigasi serta pemupukan dasar. Pada


prakteknya, lahan sudah dibajak. Dan lahan sudah dibagi menjadi beberapa
plot yang dibatasi dengan tali raffia. Bedengan dan saluran irigasi dibuat
dengan mencangkul bagian lahan yang dijadikan saluran irigasi sedalam 30
cm. Tanah hasil galian irigasi ditempatkan pada atas bedengan, saluran irigasi
terbentuk dan bedengan juga terbentuk. Tanah yang masih keras dan
berbongkah besar ditaruh di atas bedengan, dicangkul secara merata hingga
menjadi gembur, rumput-rumput dan kotoran yang ada juga dibersihkan.
Sambil melakukan penggemburan, bedengan ditaburi dengan pupuk kandang
sebagai pupuk dasar. Setelah tercampur rata kemudian diatas bedengan kami
buat guludan kecil pada pinggir bedengan dan lahan siap ditanami.

3.3.3

Penanaman

Siapkan alat dan bahan

Pembuatan larikan lubang tanah

Menanam bibit ubi jalar sesuai jarak


tanam

Menutup lubang tanam


Penanaman

dimulai

dengan

membuat

larikan

lubang

tanam

menggunakan cangkil sepanjang bedengan. Pada setiap bedengan terdapat 2


larikan lubang tanam. Setelah itu bibit diambil, satu bibit untuk satu lubang
tanam. Bibit diposisikan dengan benar yaitu bagian ujung tunas berada diatas
agar bibit dapat tumbuh dengan baik, 1/2-1/3 batang bibit dalam posisi miring
dimasukkan pada lubang tanam kemudian ditutup tanah. Jarak tanam dalam
barisan adalah 30 cm. Setelah itu bibit disiram dengan air agar proses
pertumbuhan dapat berlangsung dengan baik.
3.3.3

Perawatan Tanaman

3.3.3.1

Pemupukan
Pemupukan bertujuan menggantikan unsur hara yang terangkut saat

panen, menambah kesuburan tanah, dan menyediakan unsur hara bagi


tanaman.Dosis pupuk yang tepat harus berdasarkan hasil analisis tanah atau
tanaman di daerah setempat. Dosis pupuk yang dianjurkan secara umum
adalah 3 gram untuk urea dan 2 gram KCL per tanaman.Pemupukan dapat
dilakukan dengan sistem larikan (alur) dan sistem tugal. Pemupukan dengan
sistem larikan mula-mula buat larikan (alur) kecil di sepanjang guludan sejauh

7-10 cm dari batang tanaman, sedalam 5-7 cm, kemudian sebarkan pupuk
secara merata ke dalam larikan sambil ditimbun dengan tanah.
3.3.3.2

Penyiraman
Meskipun tanaman ubi jalar tahan terhadap kekeringan, fase awal

pertumbuhan memerlukan ketersediaan air tanah yang memadai. Seusai


tanam, tanah atau guludan tempat pertanaman ubi jalar harus diairi, selama
15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dialirkan keseluruh
pembuangan. Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga
tanaman ubi jalar berumur 1-2 bulan. Pada periode pembentukan dan
perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan
dikurangi atau dihentikan. Waktu pengairan yang paling baik adalah pada pagi
atau sore hari. Di daerah yang sumber airnya memadai, pengairan dapat
dilakukan kontinu seminggu sekali. Hal Yang penting diperhatikan dalam
kegiatan pengairan adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air
menggenang).
3.3.3.3

Pembumbunan
Penyiangan dan pembubunan tanah biasanya dilakukan pada umur 1

bulan setelah tanam, kemudian diulang saat tanaman berumur 2 bulan. Tata
cara penyiangan dan pembumbunan meliputi tahap-tahap sebagai berikut:
-Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara hati-hati
agar tidak merusak akar tanaman ubi jalar. Gemburkan tanah disekitar
guludan dengan cara memotong lereng guludan, kemudian tanahnya
diturunkan ke dalam saluran antar guludan. Timbunkan kembali tanah ke
guludan semula, kemudian lakukan pengairan hingga tanah cukup basah.
3.3.3.4

Penyiangan Gulma
Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan penanaman ubi jalar

biasanya mudah ditumbuhi rumput liar (gulma). Gulma merupakan pesaing


tanaman ubi jalar, terutama dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara,
dan sinar matahaari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi. Bersama-

sama kegiatan penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan


tanah guludan, kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut.

3.4 Parameter Pengamatan


3.4.1 Aspek Budidaya Pertanian (BP)
Pengamatan pada komoditas ubi jalar dilakukan untuk mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan komoditi tersebut, yaitu:
a. Panjang sulur
Pengamatan panjang sulur dilakukan pada sulur pertama dari pangkal
sulur sampai ujung pucuk sulur ubi jalar. Panjang sulur dan berat kering
tanaman sebagai komponen pertumbuhan dapat digunakan sebagai salah
satu indikator kesuburan tanaman. Sulur yang panjang dan bobot kering
tanaman yang tinggi akan menghasilkan umbi yang bagus. Panjang sulur
pada tanaman ubi jalar ini menyebar. Pemanfaatan sulur dan daun
dilakukan pada tanaman ubi jalar yang mencapai umur dua minggu setelah
tanam sampai tanaman berumur lima atau enam bulan untuk memenuhi
kebutuhan sayuran
b. Jumlah daun
Pengamatan Jumlah daun dilakukan untuk mengetahui hasil
fotosintesis. Didalam daun terjadi proses penting bagi tanaman yaitu
proses fotosintesis. Seiring dengan pertumbuhan tanaman maka jumlah
daun juga akan bertambah. Bila terjadi peningkatan total luas daun, maka
penerimaan cahaya matahari sebagai sumber utama dalam proses
fotosintesis akan meningkat. Dengan meningkatnya fotosintesa diikuti
peningkatan respirasi, menyebabkan proses metabolism berlangsung lebih
baik dan akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
c. Karakteristik Tanaman (Morfologi Daun)
Pengamatan

karakteristik

Tanaman

ini

dilakukan

dengan

mengamati bentuk daun ubi jalar dan warna baik daun mauun sulur,

dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan mendasar pada berbagai


varietas yang ditanam pada kebun percobaan Ngijo.
d. Inisiasi Umbi
Pengamatan pembentukan inisiasi umbi ini dilakukan pada
pertanaman ubi jalar ketika calon umbi telah terbentuk yang dihitung ada
awal pertanaman hingga muncul umbi. Dimana kegiatan pengamatan
inisiasi umbi ini hanya dilakukan sekali saja.

3.4.2 Aspek Hama Penyakit Tanaman (HPT)


Pengamatan pada komoditas ubi jalar yang dilakukan menurut aspek Hama
dan Penyakit tanaman dalam hal untuk mengetahui seberapa besar tingkat
serangan yang terjadi adalah sebagai berikut.

a. Intensitas Serangan Hama Dan Penyakit


Pengamatan intensitas serangan dilakukan guna mengetahui
tingkat serangan atau tingkat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh
organisme pengganggu tanaman. Pengamatan ini dilakukan dengan
mengumpulkan sejumlah organisme penggagu tanaman yang ada di
pertanaman ubi jalar dan mengidentifikasi tingkat kerusakan yang
disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman tersebut.
b. Peranan Musuh Alami
Menurut Tien (2009), musuh alami merupakan organisme yang
ditemukan di alam yang dapat membunuh serangga sekaligus,
melemahkan serangga, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada
serangga, dan mengurangi fase reproduktif dari serangga. Musuh alami
biasanya mengurangi jumlah populasi serangga, inang atau pemangsa,
dengan memakan individu serangga. Musuh alami mempunyai peran
positif, yaitu mengendalikan OPT. Serangga hama dan patogen penyakit

tanaman dapat dikendalikan dengan musuh alami seperti predator,


parasitoid, entomopatogen dan antagonis.
Mekanisme kerja dari predator, parasitoid dan pathogen berbedabeda, dimana predator bekerja langsung memangsa musuhnya, parasitoid
bekerja secara perlahan-lahan membunuh musuhnya dengan menjadi
parasite pada musuhnya sedangkan pathogen bekerja dengan menginfeksi
musuhnya .Seperti yang kita ketahui bahwa Hama adalah binatang dalam
populasi tertentu mengganggu tanaman budidaya yang menyebabkan
kerugian pada produksi tanaman, dengan adanya musuh alami maka
populasi hama ini dapat ditekan atau dikendalikan sehingga ini
menguntungkan dalam menjaga stabilita sproduksi tanaman karena
berkurangnya OPT yang dapat menurunkan stabilitas produksi tanaman.
Pengamatan peranan musuh alami ini dilakukan dengan
mengumpulkan musuh alami yang ada pada pertanaman ubi jalar,
kemudian masing masing musuh alami diidentifikasi peranannya dalam
mengendalikan OPT yang ada pada pertanaman ubi jalar.

3.4.3

Aspek Tanah
Pada komoditas ubi jalar pengamatan menurut aspek tanah ini tidak
dilakukan setiap minggunya seperti halnya pada aspek Budidaya Pertanian
dan Hama Penyakit Tanaman, tetapi merupakan kegiatan awal dalam
kegiatan budidaya meliputi.
a. Pengolahan Lahan
Pengolahan Lahan pada pertanaman komoditas ubi jalar ini dilakukan
melalui 2 tahapan yaitu pada pengolahan lahan pertama (Primary Tillage)
dengan penggunaan bajak singkal yang dibantu oleh pekerja pengelola
kebun percobaan, kemudian setelah pengolahan lahan pertama dilanjutkan
dengan pengolahan lahan kedua (Secondary Tillage) yaitu dengan
dilakukan penghalusan tanah dengan cangkul atau cangkil yang disediakan,
dimana dalam kegiatan ini kami melakukannya sendiri. Tujuan pada

pengolahan lahan yang kedua ini adalah untuk menciptakan tanah yang
lebih gembur dengan bertekstur yang lebih halus sehingga akar tanaman
ubi jalar mudah untu berpenetrasi menembus tanah.
b. Pemupukan
Kegiatan pemupukan sendiri dilakukan dengan melakukan
pengataman pada tanah yang telah diberi pupuk. Dimana tanah yang baik
ditandai dengan pertumbuhan tanaman yang subur. Hal ini karena Unsur
hara dalam tanah tercukupi sehingga tanah dapat mendukung pertumbuhan
tanaman. Selain itu dicirikan dengan PH tanah yang normal bagi
pertumbuhan ubi jalar, PH tanah yang sesuai bagi pertumbuhan ubi jalar
yaitu berkisar antara 5,5-6,5.
c. Irigasi
Pengairan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil
produksi tanaman ubi jalar. Tujuan utama dari pengairan sendiri yaitu
membasahi tanah guna menciptakan keadaan lembab sekitar daerah
perakaran agar tanaman tumbuh dengan baikdengan tercukupi kebutuhan
airnya. Selain itu dengan terairinya lahan pertanian dengan baik akan di
peroleh manfaat dan kemudahan sebagai berikut :
o Pengolahan tanah bagi pertanaman akan mudah dan ringan dalam
pelaksanaannya,
o Tanaman pengganggu (gulma) akan mudah dalam pemberantasannya,
o Pengaturan temperatur tanah dapat berlangsung sesuai dengan yang
dikehendakitanaman,
o Berlangsungnya perbaikan dan peningkatan kesuburan tanah,
o Sangat berperan dalam memperlancar proses leaching (pencucian)
tanah
Meskipun tanaman ubi jalar tahan terhadap kekeringan, fase
awal pertumbuhan memerlukan ketersediaan air tanah yang memadai.
Pengairan pada tanaman ubi jalar di Lahan ngijo ini dilakukan dengan
melakukan penyiraman dua kali sehari atau kadang kala mengaplikasikan

metode surface irrigation. Hal ini dilakukan guna menyediakan kebutuhan


air bagi pertanaman ubi jalar. Pengairan yang baik ditandai dengan dapat
meresapnya air ke dalam perakaran tanaman sehingga tanaman dapat
tumbuh dengan baik dan berakumulasi pada hasil tanaman yang maksimal.
Selain itu juga dapat menciptakan kondisi tanah yang sesuai bagi
pertumbuhan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
BPPIPT. 2014. Ubi Jalar (Ipomea batatas). hppt://ebudidaya.com (online). Diakses
29 November 2014
Juanda, Dede dan Bambang Cahyono. 2000. Ubi Jalar, Budidaya dan Analisa Usaha
Tani.Yogyakarta : Kanisius
Logo, Opalina. 2011. Deskripsi Morflogi Beberapa Jenis Ubi Jalar (Ipomoea batatas
(L.) Lam) Berdasarkan Pola Pemanfaatan Oleh Suku Dani di Distrik Kurulu
Kabupaten Jayawijaya. Manokwari: Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas
Pertanian Dan Teknologi Pertanian Universitas Papua Manokwari
Suparno, A dan B. Santoso. 2003. Karakterisasi Komponen Morfologi Ubi Jalar
(Ipomoea Batatas (L.)) Asal Dataran Tinggi Di Lembah Baliem Wamena.
Manokwari : Fakultas Pertanian Dan Teknologi Pertanian Universitas Negeri
Papua
Sarwono, B. 2005.Ubi Jalar. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rukmana, Rahmat. (1997). Ubi Jalar: Budi Daya Dan Pascapanen. Yogyakarta:
Kanisius
Zuraida, Nani dan Yati Supriati. 2001. Usahatani Ubi Jalar Sebagai Bahan Pangan
Alternatif Dan Diversifikasi Sumber Karbohidrat. Jurnal Buletin AgroBio : 4
(1) : 13-23 Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan Bogor