Anda di halaman 1dari 4

Kabupaten Tana Toraja adalah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

Ibu kota
kabupaten ini adalah Makale. Sebelum pemekaran, kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.990 km dan
berpenduduk sebanyak 248.607 jiwa (2007).
Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan
masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini
merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan.
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia.
Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan
Sulawesi Barat.
Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan
penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas
atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam
di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya
(besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja. Kata
Tana berarti 'negeri', sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan nama Tana Toraja.
Wilayah Tana Toraja juga digelari Tondok Lili'na Lapongan Bulan Tana Matari'allo, dengan arti harfiahnya
"Negeri yang bulat seperti Bulan dan Matahari". Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (etnis Toraja).
Jumlah populasi 650.000[1]
Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan Bahasa Toraja-Sa'dan,
Kalumpang, Mamasa, Ta'e, Talondo', dan Toala'. Agama Protestan: 65.15%, Katolik: 16.97%, Islam: 5.99%
dan Hindu Toraja (Aluk To Dolo): 5.99%.
Menurut mitos, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap
melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa
nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari
nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha
Kuasa - dalam bahasa Toraja).
Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang antropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa
masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk lokal yang mendiami
daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan
Tiongkok). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran
Indochina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah
Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.
Aluk
Aluk adalah merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa oleh kaum imigran dari dataran Indochina pada
sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.
Aluk biasa dihubungkan dengan kepercayaan masyarakat asli Toraja yang masih dipeluk oleh sebagian
masyarakat Toraja saat ini. Salah satu contoh kebiasaan yang masih dipegang oleh penganut aluk adalah
tidak memakan nasi pada saat upacara rambu solo'.
Aluk Sanda Saratu

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini antara lain: Tomanurun Tamboro Langi' yang merupakan
pembawa aluk Sanda Saratu yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu
Lembangna.
Aluk Sanda Pitunna
Wilayah barat
Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini di wilayah barat Tana Toraja yaitu : Pongkapadang bersama
Burake Tattiu' yang menyebarkan ke daerah Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada
Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, dengan memperkenalkan kepada masyarakat setempat suatu
pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja "to unnirui' suke pa'pa, to ungkandei kandian saratu yakni
pranata sosial yang tidak mengenal strata.
Wilayah timur
Di wilayah timur Tana Toraja, Pasontik bersama Burake Tambolang menyebarkannya ke daerah Pitung
Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta'bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara
dengan memperkenalkan pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : "To Unnirui' suke dibonga, To
unkandei kandean pindan", yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata
sosial.
Wilayah tengah
Tangdilino bersama Burake Tangngana menyebarkan aluk ke wilayah tengah Tana Toraja dengan
membawa pranata sosial "To unniru'i suke dibonga, To ungkande kandean pindan".
Kesatuan adat
Seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo ( wilayah Tana Toraja) diikat oleh salah satu aturan
yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo yang secara harafiahnya berarti
"Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari". Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna,
persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja
tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat
yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja.
Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar atau
bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan
kelompok adat tersebut.
Upacara adat
Di wilayah Kabupaten Tana Toraja terdapat dua upacara adat yang amat terkenal , yaitu upacara adat
Rambu Solo' (upacara untuk pemakaman) dengan acara Sapu Randanan, dan Tombi Saratu', serta
Ma'nene', dan upacara adat Rambu Tuka. Upacara-upacara adat tersebut di atas baik Rambu Tuka'
maupun Rambu Solo' diikuti oleh seni tari dan seni musik khas Toraja yang bermacam-macam ragamnya.
Rambu Solo
Adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang almarhum membuat
sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi.
Objek Wisata & Tempat Tempat menarik Di Tana Toraja.

Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata Indonesia, dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami
daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup
Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di
Sulawesi Selatan yang sangat menarik dan tidak boleh anda lewatkan.
Berikut ini adalah daftar beberapa tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi :
Pallawa.
Londa.
Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi
dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi
bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 Km ke arah
selatan dari Rantepau.
Kete Kesu.
Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di
sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan
kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan
penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki
oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4
Km dari tenggara Rantepau.
Batu Tumonga.
Di kawasan ini anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di
bagian tengah. Kebanyakan batu menhir memiliki ketinggian sekitar 2 3 meter. Dari tempat ini anda
dapat melihat keindahan rantepau dan lembah sekitarnya. Terletak di daerah Sensean dengan ketinggai
1300 Meter dari permukaan laut.
Lemo.
Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo anda dapat melihat mayat
yanng disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan
perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan
diganti dengan melalui upacara Ma Nene. Terletak di Kabupaten Tan Toraja.

Setelah memasuki Tana Toraja, anda mulai memasuki pamandangan alam yang penuh dengan keagungan.
Batu grafit dan batuan lainnya, serta birunya pegunungan di kejauhan setelah melewati pasar Desa Mebali
akan terlihat masyarakat yang sedang beternak domba sehingga pemandangan terlihat kontras dengan
padang rumput yang hijau subur, limpahan makanan di tanah tropis yang indah. Ini adalah Tana Toraja,
salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia.
Tempat Tinggal

Wisatawan yang ingin tinggal di tengah kota memiliki banyak pilihan hotel. Tapi jika memiliki jiwa
petualang, anda bisa tidur di desa bersama masyarakat sekitar.
Mengunjungi Tempat Lain
Bemo adalah cara terbaik untuk mengetahui daerah sekitar. Selain jenis yang lain (bus kecil atau jeep)
dengan atau tanpa supir. Jika anda telah di desa anda bisa berjalan kaki untuk mengelilingi semua.

Hal Lain yang dapat dilihat dan dilakukan


Menjelajahi pasar. Anda jangan sampai ketinggalan untuk mengunjungi pasar tradisional. Disini anda akan
menemukan biji kopi khas Toraja (seperti Robusta dan Arabica) dan beberapa barang khas lainnya seperti
buah-buahan (Tamarella atau Terong Belanda dan ikan mas).
Mengunjungi batu Tomonga artinya dalah batu yang mengarah ke awan. Dari tempat ini kita bisa melihat
banyaknya batuan vulkanik yang bermunculan dari hamparan sawah. Dan beberapa batu raksasa yang
menjadi Goa. Benar-benar pemandangan yang indah dan menjadikan Tana Toraja terlihat subur dan hijau.
Mengunjungi Palawa. Palawaadalah tempat yang bagus untuk dikunjungi. Dimana ada sebuah Tongkonan
atau kawasan penguburan tempat untuk melakukan upacara dan festival.
Lakukan perjalanan dari Rantepao ke Kete. Desa tradisional dengan kerajinan tangan yang bagus. Di
belakang desa di bagian bukit ada goa yang ukuranya sudah lebih tua dari ukuran orang hidup.
Tempat Makan Kebanyakan anda dapat menemukan warung makan dilokasi ini, di sepanjang jalan. Anda
juga dapat membawa makanan sendiri
Tips Oleh-Oleh Disana ada toko cinderamata dimana anda dapat membeli segala sesuatu yang khas dari
Tana Toraja, ada pakaian, tas, dompet, dan kerajinan tangan lainnya.
Pasar Bolu, masih terlihat beberapa penjual sembako yang masih coba menjajakan dagangannya, padahal
kesana ajah udah jam 10 WITA, kalo di jakarta pasti udah selesai nih acara jual jualannya. tapi mereka
masih setia menunggu pembeli yang semakin sedikit. Dan dagangannya yang masih terlihat penuh.
Disini bisa ngerasain masakan khas Tator (Tana Toraja) kayak sayur Lawa dan Dangkot. Rasanya sangat
pedas.
Perjalanan menuju Tana Toraja
Pagi hari ke 4, jalur yang akan dilalui adalah daerah Mandandan hingga ke Ketekesu sepanjang +/- 35 km. Dimulai
dengan jalan aspal mulus, kamipun mengayuh sepeda. Disini mulai tampak bentuk bangunan adat toraja yang
terkadang bangunan tersebut dihiasi dengan deretan tanduk kerbau yang merupakan proses tradisi penduduk Toraja,
untuk urusan kerbau ini karena hewan ini adalah termasuk hewan yang dikurbankan, maka harganya tentu tidak murah,
bahkan yang mencengangkan seekor kerbau bule (warnanya agak putih belang) harga bisa mencapai 100 juta..wow
harga yang fantastik.
Di perjalanan ini kami disuguhi banyak pemandangan khas pedesaan, seperti sawah, sungai dan tentu saja bangunan
adat. Jalan yang semula mulus mulai berubah ke jalur offroad, dan memang ini yang kami nanti. Hingga kamipun
bertemu sebuah jembatan gantung yang harus dilintasi. Daerah Toraja yang merupakan daerah pegunungan sudah
barang tentu jalurnyapun naik turun. Tapi kondisi alamnya memang sangat indah, sama dengan sehari sebelumnya yaitu
didaerah Enrekang.
Di beberapa tempat yang rumah adatnya dihiasi tanduk kerbau, semakin banyak tanduk dipajang menunjukan makin
tinggi derajat keluarga tersebut, bisa dibayangkan setiap kali mereka mengadakan upacar adat, berapa pula rupiah
mereka kucurkan. Tapi itulah sebagian adat istiadat yang turut memperkaya bidaya bangsa. Jarum jam menunjukan
sekitar pukul 13.30 witeng, akhirnya kamipun tiba di Ketekesu, yaitu sebuah komplek Perkampungan Adat Toraja,
dimana didalamnya terdapat beberapa rumah adat yang sudah berusia ratusan tahun serta di sisi lain adalah berupa
komplek makam leluhur yang ditaruh di lubang-lubang diatas tebing bahkan ada yang ditaruh di dalam peti dan
digantung diatas tebing. Ini juga salah satu adat budaya masyarakat Tana Toraja.
Sampai disini kamipun disambut oleh tingkah gemulai gadis-gadis Toraja yang menyajikan tarian khas setempat.
Perjalanan hari ke 4 pun kami sudahi di Ketekesu, dimana selanjutnya kamipun harus kembali ke Makassar.