Anda di halaman 1dari 8

Obat Tradisional Antelmintik

Diajukan untuk melengkapi tugas mata kuliah


Obat Tradisional Hewan
oleh :
RIZQAN MUBDI
NIM. 1102101010100

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2014

A. Biji Pinang (Areca catechu)


Biji pinang dikenal sebagai obat tradisional yang berkhasiat sebagai antelmintik. Obat
antelmintik digunakan untuk mengurangi atau membunuh cacing dalam tubuh manusia atau
hewan. Ekstrak etanol biji pinang mengandung senyawa tanin yang mampu menghambat
enzim dan merusak membran sel. Penelitian yang dilakukan oleh (tiwow,dkk,2013)
bertujuan untuk mengetahui daya antelmintik ekstrak etanol biji pinang terhadap cacing
Ascaris lumbricoides dan Ascaridia galli, serta mengetahui konsentrasi efektif dari ekstrak
etanol biji pinang sebagai antelmintik. Penelitian tersebut bersifat eksperimental in vitro.
Pengujian menggunakan ekstrak etanol biji pinang dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30%.
Persentasi kematian dan paralisis cacing dinilai setiap jam sampai batas waktu penelitian dan
selanjutnya data dianalisis menggunakan ANOVA. Analisis regresi dilakukan untuk
mengetahui PC50 dan LC50. Hasil pengujian menunjukkan ekstrak etanol biji pinang
mempunyai daya antelmintik terhadap cacing Ascaris lumbricoides dan Ascaridia galli secara
in vitro. Dari hasil pengujian didapatkan nilai PC50 pada cacing Ascaris lumbricoides sebesar
27,12 %. dan LC50 sebesar 27,11 % pada cacing Ascaridia galli selama 12 jam.
Aktivitas Antelmintik
Dalam pengujian oleh (titow dkk, 2013), PC50 (Paralysis Concentration) dan LC50
(Lethal Concentration) digunakan sebagai standar untuk penelitian. PC50 digunakan dalam
pengujian Ascaris lumbricoides untuk menghitung konsentrasi kelompok perlakuan yang
menyebabkan paralisis cacing sebanyak 50%. Sedangkan pada Ascaridia galli digunakan
LC50 untuk menghitung konsentrasi yang menyebabkan kematian cacing sebanyak 100%.
Terdapat perbedaan parameter analisa dari kedua cacing ini diakibatkan hasil pengujian yang
berbeda namun tetap memperlihatkan efek antelmintik. Pada cacing Ascaris lumbricoides,
cacing mengalami paralisis selama pengujian, sedangkan pada Ascaridia galli mengalami

paralisis hingga lisis. Hal ini mungkin disebabkan oleh morfologi dari kedua cacing yang
berbeda.
Pirantel pamoat menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan
frekuensi impuls, sehingga cacing lisis dalam keadaan spastis. Pirantel pamoat juga berefek
menghambat enzim kolinesterase, terbukti pada askaris meningkatkan kontraksi ototnya.
Daya antelmintik pada pirantel pamoat yang lebih baik dari ekstrak etanol biji pinang
kemungkinan disebabkan konsentrasi dari kelompok perlakuan yang terlalu kecil.
Kemampuan daya antelmintik ini berkaitan dengan kandungan senyawa tanin dari ekstrak
etanol biji pinang yang mampu menghambat enzim,dan merusak membran (Shahidi & Naczk,
1995). Terhambatnya kerja enzim dapat menyebabkan proses metabolism pencernaan
terganggu sehingga cacing akan kekurangan nutrisi pada akhirnya cacing akan mati karena
kekurangan tenaga. Membran cacing yang rusak karena tanin menyebabkan cacing paralisis
yang akhirnya mati. Tanin umumnya berasal dari senyawa polifenol yang memiliki
kemampuan untuk mengendapkan protein dengan membentuk koopolimer yang tidak larut
dalam air (Harborne, 1987). Tanin juga memiliki aktivitas ovisidal, yang dapat mengikat telur
cacing yang lapisan luarnya terdiri atas protein sehingga pembelahan sel di dalam telur tidak
akan berlangsung pada akhirnya larva tidak terbentuk. Sesuai dengan Molan et al. (2000)
yang menyatakan bahwa ekstrak tanin dari tanaman L. cuneata dapat mengurangi
perkembangan larva cacing nematoda (L3) sampai 91%, mengurangi jumlah telur yang
menetas sampai 34% dan menurunkan motilitas dari larva L3 sampai 30%. Pada penelitian
Min dan Hart (2003) menunjukkan bahwa kambing yang mengkonsumsi L. cuneata yang
mengandung tanin signifikan menurunkan jumlah telur cacing dibandingkan dengan kambing
yang mengkonsumsi pakan kontrol yang tidak mengandung tanin. Didapat dari hasil
penelitian tersebut, bahwa tanaman yang mengandung 5% ekstrak tanin dapat mengurangi
kontaminasi larva dan dapat digunakan sebagai anthelmintika.

Rimpang Bangle (Zingiber purpureum)

B.

Rimpang bangle (Zingiber purpureum) atau disebut juga bangle merupakan bahan
alami yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit cacing (Syamsuhidayat dan Hutapea,
1994). Tanaman yang telah dikeringkan mempunyai efek

antelmintik yang cukup kuat

terhadap cacing gelang pada manusia (Ascaris lumbricoides) (Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, 1987). Bangle mengandung minyak atsiri (sineol, pinen), damar,
pati, tanin, saponin, flavonoid, lemak, mineral, resin, albumin, serat, abu, alkohol, keton,
terpen, gula (Departemen Kesehatan, 1989). Bangle sering digunakan untuk mengobati
demam, sakit kepala, batuk berdahak, nyeri perut, masuk angin, sembelit, sakit kuning,
cacingan, rheumatik, ramuan jamu pada wanita setelah melahirkan untuk mengecilkan perut
dan obat untuk ketombe. Daunnya digunakan untuk mengobati tidak nafsu makan (Anon.,
1977; Departemmen Kesehatan,1989).
Bila dibandingkan kemampuan Zingiber purpureum membunuh cacing dewasa dan
kemampuannya menyebabkan telur gagal menetas baik sediaan infus maupun sediaan ekstrak,
maka terlihat perbedaan yang nyata (P<0,05) yang dalam hal ini potensi sediaan ekstrak lebih
kuat dibandingkan dengan sediaan infuse yakni sediaan ekstrak dengan konsentrasi 0,5%
sudah
mampu membunuh cacing dewasa dan menyebabkan kegagalan menetas telur, sedangkan
sediaan infuse dimulai pada konsentrasi 2,5%. Hal ini membuktikan bahwa pada sediaan
ekstrak terdapat lebih banyak jumlah zat berkhasiat dibandingkan dengan pada sediaan infus.
Banyaknya zat berkhasiat yang terdapat pada sediaan ekstrak mungkin disebabkan oleh lebih
mudahnya zat berkhasiat yang tersaring di dalam ekstrak dibandingkan dengan cairan penyari
pada infuse atau dengan kata lain lebih banyak zat yang tersaring dengan zat penyari metanol
daripada dengan air.(Beriajaya dkk,1998)

Penelitian obat yang berasal dari tanaman Zingiber purpureum belum banyak dilakukan
orang. Secara empiris tanaman tersebut sering dipakai orang untuk mengobati demam, sakit
kepala, batuk berdahak, nyeri perut, masuk angin, sembelit, sakit kuning, cacingan, rheumatik,
ramuan jamu pada wanita setelah melahirkan, mengecilkan perut setelah melahirkan dan
ketombe pada rambut. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan, di antaranya mempunyai
efek antelmintik yang cukup kuat terhadap cacing gelang pada manusia (Ascaris
lumbricoides) (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 1987). Tanaman lain yang
pernah diteliti dan disimpulkan kemungkinan dapat digunakan sebagai antelmintik adalah
getah dan biji pepaya (Beriajaya et al., 1997; Murdiati et al., 1997) serta biji pinang
(Beriajaya et al, 1998). Penelitian yang dilakukan sekarang belum dapat menyimpulkan
bahwa Zingiber purpureum dapat dipakai sebagai antelmintik mengingat penelitian in vivo
masih sangat terbatas dilakukan dan jenis cacing yang diamati juga terbatas.
C. Daun Ketepeng China (Cassia alata L.)
Sampai saat ini di pedesaan masih banyak yang melakukan pengobatan dengan obat
tradisional yang merupakan pengetahuan turun-temurun untuk mengobati anak yang kurang
nafsu makan karena kecacingan. Tetapi ternyata masih banyak obat cacing dari alam
Indonesia yang belum dibuktikan secara ilmiah (Kuntari, 2008). Salah satu tanaman yang
mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai obat pada penyakit cacingan adalah
Ketepeng Cina. Tanaman Ketepeng Cina (Cassia alata L.) mempunyai khasiat sebagai obat
cacing, sariawan, sembelit, panu, kurap, kudis dan gatal-gatal. Mengingat begitu banyak
khasiat Ketepeng Cina (Cassia alata L.) maka perlu dibuktikan adanya efek antelmintik
Ketepeng Cina (Cassia alata L.) dengan uji eksperimental di laboratorium (Rahayu, 2007).

Dari hasil penelitian oleh (Lasut dkk,) menunjukkan bahwa infus daun Ketepeng Cina
(Cassia alata L.) dengan konsentrasi 20%, 40% dan 80% terbukti memberikan efek
antelmintik terhadap cacing gelang (Ascaris lumbricoides) setelah 24 jam pengamatan.
Berdasarkan hasil yang ada maka tanaman daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.) telah
dibuktikan memiliki efek antelmintik terhadap cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang
mengalami paralisis, meskipun tidak sampai lisis tetapi masyarakat masih tetap dapat
menggunakan infus daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.) sebagai alternatif untuk
pengobatan penyakit cacingan. Hasil pengamatan dari pengujian efek antelmintik dengan
menggunakan 12 cawan petri yang masing-masing cawan petri diisi dengan larutan uji yaitu
infus daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.) dengan konsentrasi 20%, 40%, 80%, tablet
pirantel pamoat 250 mg (combantrin) dan larutan NaCI 0,9% sebagai pembanding terhadap
cacing gelang (Ascaris lumbricoides) dengan interval waktu 6 jam selama 24 jam dapat
dilihat pada tabel 1 dan pengujian akhir untuk melihat cacing paralisis atau lisis dengan
pemberian air pada suhu 50C dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.

Daftar Pustaka
Tiwow Debra, Widdhi Bodhi, Novel S.Kojong.2013.uji efek ekstrak etanol bji pinang (Areca
catechu) terhadap cacing Ascaris Lumbricoides dan Ascaridia galli secara in vitro.
Jurnal ilmiah farmasi. UNSRAT Vol.2 No 02.
Shahidi, F and M. Naczk. 1995. Food Phenolics. Technomic Inc, Basel.
Harborne. 1987. Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Terjemahan: K. Padmawinata, I. Sudiro. Institut TeknologiBandung, Bandung.
Molan, A. L., G. C. Waghorn, B. R. Min, and W. C. McNabb. 2000. The effect of condensed
tanin from seven herbages on Trichostrongylus colubriformis larval migration in vitro.
Folia
Parasitol. 47:3944.
Berijaya, T.B. Murdiati, dan Murti Herawati. 1998. Efek antelmintik infus dan ekstrak
rimpang bangle (Zingiber purpureum) terhadap cacing Haemonchus contortus secara in
vitro. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3(4): 277-282.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 1987. Laporan Penelitian Skrining Efek
Antelmintik beberapa Tanaman Obat. Pusat Penelitian dan pengembangan Farmasi.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan. Jakarta. Hal.
15.
Departemen Kesehatan. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta. Hal. 12.
Departemen Kesehatan. 1989. Vademekum Bahan Obat Alam. Jakarta. Hal. 22.
Murdiati, T.B., Berijaya, dan G. Adiwinnata. 1997. Aktivitas getah pepaya terhadap cacing
Haemonchus contortus pada domba. Maj. Parasitol. Ind. 10(1): 1-7.
Berijaya, T.B. Murdiati, dan G. Adiwinata. 1997. Pengaruh biji dan getah pepaya terhadap
cacing Haemonchus contortus secara in vitro. Maj. Parasitol. Ind. 10(2): 72-77.
Kuntari, T. 2008. Daya Antihelmintik Air Rebusan Daun Ketepeng (Cassia alata. L)
terhadap Cacing Tambang Anjing in vitro. Logika. 5(1): 23-26.
Rahayu, S, D dan Sundari, S. 2007. Efek Antelmintik Perasan Wortel (Daucus carota)
terhadap Ascaridia galli. Mutiara Medika, Jogyakarta.
Lasut, N Virgiana, Paulina V.Y. Yamelan, Hamidah Sri Supriati. Uji efektifitas antelmintik
Ketepeng Cina (Cassi alata L.) Terhadap cacing gelang (Ascaris Lumbricoides) Secara
In Vitro.