Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam perkembangan dunia usaha konstruksi di perlukan suatu acuan agar


pelaksanaan konstruksi di Indonesia selalu selaras dengan berkembang. Dalam hal ini
diperlukan suatu aturan dalam pelaksanaan usaha penyelenggaraan jasa konstruksi,
salahsatunya Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional. Peraturan ini
dimaksudkan sebagai pedoman dalam pelaksanaan sertifikasi dan registrasi usaha jasa
pelaksana konstruksi, yang wajib dipatuhi oleh semua pihak yang terkait dengan persyaratan
usaha jasa pelaksana konstruksi untuk dapat melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai
dengan ketentuan peraturan dan peraturan perundang-undangan.
Peraturan ini bertujuan untuk mewujudkan tertib pelaksanaan sertifikasi dan registrasi
usaha

jasa

pelaksana

konstruksi

sesuai

dengan

persyaratan

kemampuan

usaha,

klasifikasi/subklasifikasi dan kualifikasi/subkualifikasi bidang usaha jasa pelaksana


konstruksi yang telah ditetapkan.
Ruang lingkup pengaturan pelaksanaan sertifikasi dan registrasi Usaha Jasa Pelaksana
Konstruksi ini meliputi ketentuan tentang bentuk, sifat, persyaratan Badan usaha,
penggolongan klasifikasi dan pembagian subklasifikasi, penggolongan kualifikasi dan
pembagian subkualifikasi, persyaratan dokumenpermohonan registrasi , penyelenggaraan
registrasi, penyelenggaraan sertifikasi, penyelenggaraan verifikasi dan validasi awal,
monitoring dan evaluasi penyelenggaraan sertifikasi, serta sanksi atas pelanggaran.

BAB II
LANDASAN TEORI
Yang menjadi acuan dalam penyusunan laporan ini adalah Peraturan Lembaga
Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional No. 10 Tahun 2013. Berikut ini merupakan uraian
dari masing-masing pasal dalam peraturan tersebut :
2.1 Pengertian-Pengertian Dalam Usaha Jasa Konstruksi
1. Usaha Jasa Pelaksana Konstruksi, adalah jenis usaha jasa konstruksi yang
menyediakan layanan pelaksana konstruksi, yang dibedakan menurut bentuk usaha,
klasifikasi dan kualifikasi usaha jasa pelaksana konstruksi.
2. Asosiasi Perusahaan adalah organisasi yang mewadahi Badan usaha jasa konstruksi
baik yang berbentuk Badan hukum maupun yang bukan Badan hukum.
3. Sistem Informasi Konstruksi Indonesia LPJK yang selanjutnya disebut SIKILPJK
Nasional adalah sistem informasi berbasis teknologi informasi yang menghimpun
semua data dan informasi jasa konstruksi yang dimiliki LPJK Nasional.

2.2 Sifat Bidang Usaha Jasa Pelaksanaan Konstruksi


1. Usaha bersifat umum
Usaha yang bersifat umum diberlakukan kepada Badan Usaha yang mempunyai
kemampuan untuk melaksanakan sebagian atau semua klasifikasi bidang usaha
bersifat umum.
2. Usaha bersifat spesialis
Usaha yang bersifat spesialis diberlakukan kepada Badan Usaha yang mempunyai
kemampuan melaksanakan klasifkasi bidang usaha bersifat spesialis.
3. Usaha orang perseorangan yang berketerampilan kerja.
Usaha orang perseorangan yang berketerampilan kerja diberlakukan kepada usaha
orang perseorangan yang mempunyai kemampuan melaksanakan klasifikasi bidang
usaha bersifat keterampilan tertentu.

2.3 Klasifikasi Dan Kualifikasi Usaha Jasa Pelaksanaan Konstruksi


2.3.1 Klasifikasi Badan Usaha
Klasifikasi bidang usaha bersifat umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1)
meliputi:
1. Bangunan gedung;
2

Klasifikasi bidang usaha bangunan gedung meliputi subklasifikasi bidang


usaha jasa pelaksana konstruksi sebagai berikut:
a. bangunan hunian tunggal dan koppel;
b. bangunan multi atau banyak hunian;
c. bangunan gudang dan industri;
d. bangunan komersial;
e. bangunan hiburan publik;
f. bangunan hotel, restoran, dan bangunan serupa lainnya;
g. bangunan pendidikan;
h. bangunan kesehatan; dan
i. bangunan gedung lainnya.

2. Bangunan sipil;
Klasifikasi bidang usaha bangunan sipil meliputi subklasifikasi bidang usaha
jasa pelaksana konstruksi sebagai berikut:
a. saluran air, pelabuhan, dam, dan prasarana sumber daya air lainnya;
b. instalasi pengolahan air minum dan air limbah serta bangunan pengolahan sampah;
c. jalan raya (kecuali jalan layang), jalan, rel kereta api, dan landas pacu bandara;
d. jembatan, jalan layang, terowongan dan subways;
e. perpipaan air minum jarak jauh;
f. perpipaan air limbah jarak jauh;
g. perpipaan minyak dan gas jarak jauh;
h. perpipaan air minum lokal;
i. perpipaan air limbah lokal;
j. perpipaan minyak dan gas lokal;
k. bangunan stadion untuk olahraga outdoor; dan
l. bangunan fasilitas olah raga indoor dan fasilitas rekreasi.
3. Instalasi mekanikal dan elektrikal
Klasifikasi bidang usaha instalasi mekanikal dan elektrikal sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c meliputi subklasifikasi bidang usaha jasa pelaksana konstruksi
sebagai berikut:
a. pemasangan pendingin udara (Air Conditioner), pemanas dan ventilasi;
b. pemasangan pipa air (plumbing) dalam bangunan dan salurannya;
c. pemasangan pipa gas dalam bangunan;
3

d. insulasi dalam bangunan;


e. pemasangan lift dan tangga berjalan;
f. pertambangan dan manufaktur;
g. instalasi thermal, bertekanan, minyak, gas, geothermal (pekerjaan rekayasa);
h. instalasi alat angkut dan alat angkat;
i. instalasi perpipaan, gas, dan energi (pekerjaan rekayasa);
j. instalasi fasilitas produksi, penyimpanan minyak dan gas (pekerjaan rekayasa);
k. instalasi pembangkit tenaga listrik semua daya;
l. instalasi pembangkit tenaga listrik daya maksimum 10 MW;
m. instalasi pembangkit tenaga listrik energi baru dan terbarukan;
n. instalasi jaringan transmisi tenaga listrik tegangan tinggi/ekstra tegangan tinggi;
o. instalasi jaringan transmisi telekomunikasi dan/atau telepon;
p. instalasi jaringan distribusi tenaga listrik tegangan menengah;
q. instalasi jaringan distribusi tenaga listrik tegangan rendah;
r. instalasi jaringan distribusi telekomunikasi dan/atau telepon;
s. instalasi sistem kontrol dan instrumentasi;
t. instalasi tenaga listrik gedung dan pabrik; dan
u. instalasi elektrikal lainnya.
4. Jasa pelaksana lainnya.
Klasifikasi bidang usaha jasa pelaksana lainnya meliputi subklasifikasi bidang
usaha sebagai berikut:
a. jasa penyewa alat konstruksi dan pembongkaran bangunan atau pekerjaan sipil
lainnya dengan operator;
b. jasa pelaksana perakitan dan pemasangan konstruksi prafabrikasi untuk konstruksi
bangunan gedung;
c. jasa pelaksana perakitan dan pemasangan konstruksi prafabrikasi untuk konstruksi
jalan dan jembatan serta rel kereta api; dan
d. jasa pelaksana perakitan dan pemasangan konstruksi prafabrikasi untuk konstruksi
prasarana sumber daya air, irigasi, dermaga, pelabuhan, persungaian, pantai serta
bangunan pengolahan air bersih, limbah dan sampah (insinerator).
5. Jasa spesialis
Klasifikasi bidang usaha bersifat spesialis meliputi subklasifikasi pekerjaan
sebagai berikut:
a. penyelidikan lapangan;
4

b. pembongkaran;
c. penyiapan dan pematangan tanah/lokasi;
d. pekerjaan tanah, galian dan timbunan;
e. persiapan lapangan untuk pertambangan;
f. perancah;
g. pondasi, termasuk pemancangannya;
h. pengeboran sumur air tanah dalam;
i. pekerjaan atap dan kedap air (waterproofing);
j. beton;
k. pekerjaan baja dan pemasangannya, termasuk pengelasan;
l. pemasangan batu;
m. konstruksi khusus lainnya;
n. pengaspalan dengan rangkaian peralatan khusus;
o. lansekap/pertamanan; dan
p. perawatan bangunan gedung.
6. Jasa Keterampilan
Klasifikasi bidang usaha keterampilan tertentu meliputi subklasifikasi
pekerjaan sebagai berikut:
a. kaca dan pemasangan kaca jendela;
b. plesteran;
c. pengecatan;
d. pemasangan keramik lantai dan dinding;
e. pemasangan lantai lain, penutupan dinding dan pemasangan wallpaper;
f. kayu dan atau penyambungan kayu dan material lain;
g. dekorasi dan pemasangan interior;
h. pemasangan ornamen;
i. pemasangan gipsum;
j. pemasangan plafon akustik; dan
k. pemasangan curtain wall.

2.3.2 Kualifikasi Badan Usaha


Kualifikasi Badan Usaha besar meliputi subkualifikasi:
a. besar 1 (B1)
b. besar 2 (B2)
5

Pembagian subkualifikasi usaha pelaksana konstruksi ditentukan berdasarkan


pada pemenuhan persyaratan dan kemampuan usaha yang meliputi:
a. Kekayaan bersih;
b. Pengalaman; dan
c. Tenaga kerja
Kualifikasi Badan Usaha jasa pelaksana konstruksi didasarkan pada kriteria
tingkat/kedalaman kompetensi dan potensi kemampuan usaha, serta kemampuan
melakukan pelaksanaan pekerjaan. Kriteria tingkat/kedalaman kompetensi dan potensi
kemampuan usaha meliputi kriteria risiko dan/atau kriteria penggunaan teknologi
dan/atau kriteria besaran biaya. Kriteria risiko meliputi :
a.

risiko kecil, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya dan


pemanfaatan bangunan-konstruksinya tidak membahayakan keselamatan umum
dan harta benda;

b.

risiko sedang, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya dan


pemanfaatan

bangunan-konstruksinya

dapat

membahayakan

keselamatan

umum, harta benda, dan jiwa manusia; dan


c.

risiko tinggi, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya dan


pemanfaatan bangunan-konstruksinya sangat membahayakan keselamatan
umum, harta benda, jiwa manusia, dan lingkungan.

Kriteria penggunaan teknologi ditentukan berdasarkan besaran biaya dan volume


pekerjaan, meliputi:
a.

teknologi sederhana, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya


menggunakan alat kerja sederhana dan tidak memerlukan tenaga ahli;

b.

teknologi madya, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya


menggunakan sedikit peralatan berat dan memerlukan tenaga ahli; dan

c.

teknologi

tinggi,

mencakup pekerjaan konstruksi

yang pelaksanannya

menggunakan banyak peralatan berat serta banyak memerlukan tenaga ahli dan
tenaga terampil.
Jenis kualifikasi badan usaha dari yang terkecil hingga yang terbesar :
a.

Badan Usaha dengan kualifikasi kecil dapat melaksanakan pekerjaan konstruksi


dengan kriteria risiko kecil, berteknologi sederhana, dan berbiaya kecil.

b.

Badan Usaha dengan kualifikasi menengah, dapat melaksanakan pekerjaan


dengan kriteria risiko sedang, berteknologi madya dan berbiaya sedang.
6

c.

Badan Usaha dengan kualifikasi besar, yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT)
dapat melaksanakan pekerjaan berisiko tinggi, berteknologi tinggi, dan berbiaya
besar.

d.

Usaha Orang Perseorangan hanya dapat melaksanakan pekerjaan konstruksi


yang beresiko kecil, berteknologi sederhana, dan berbiaya kecil.

2.3.3 Persyaratan Klasifikasi dan Kualifikasi Bidang Usaha


Persyaratan kekayaan bersih sebagai berikut:
a. subkualifikasi P, memiliki kekayaan bersih sampai dengan Rp. 50.000.000,- (lima
puluh juta rupiah);
b. subkualifikasi K1 memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,- (lima
puluh juta rupiah) sampai dengan Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah);
c. subkualifikasi K2 memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 200.000.000,- (dua ratus
juta rupiah) hingga Rp. 350.000.000,- (tiga ratus lima puluh juta rupiah); 16 |
Peraturan LPJK Nasional No. 10 Tahun 2013
d. subkualifikasi K3, memilki kekayaan bersih lebih dari Rp. 350.000.000,- (tiga ratus
lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah);
e. subkualifikasi M1, memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,- (lima
ratus juta rupiah) sampai dengan Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah);
f. subkualifikasi M2, memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 2.000.000.000,- (dua
milyar rupiah) sampai dengan Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah);
g. subkualifikasi B1, memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 10.000.000.000,(sepuluh milyar rupiah) sampai dengan Rp. 50.000.000.000,- (lima puluh milyar
rupiah); dan
h. subkualifikasi B2, memiliki kekayaan bersih paling sedikit Rp. 50.000.000.000,(lima puluh milyar rupiah).

Persyaratan pengalaman melaksanakan pekerjaan konstruksi sebagai berikut:


a. subkualifikasi P tidak dipersyaratkan;
b. subkualifikasi K1 tidak dipersyaratkan;
c. subkualifikasi K2, memiliki pengalaman melaksanakan pekerjaan dengan total
nilai kumulatif perolehan sekarang paling sedikit Rp 1.000.000.000,- (satu milyar
rupiah) yang diperoleh dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun;

d. subkualifikasi K3, memiliki pengalaman melaksanakan pekerjaan dengan total


nilai kumulatif perolehan sekarang paling sedikit Rp 1.750.000.000,- (satu milyar
tujuh ratus lima puluh juta rupiah) yang diperoleh dalam kurun waktu 10
(sepuluh) tahun;
e. subkualifikasi M1, memiliki pengalaman melaksanakan pekerjaan dengan total
nilai kumulatif perolehan sekarang paling sedikit Rp 2.500.000.000,- (dua milyar
lima ratus juta rupiah) yang diperoleh dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun atau
memiliki nilai pengalaman tertinggi Rp. 833.000.000,- (delapan ratus tiga puluh
tiga juta rupiah) yang diperoleh selama kurun waktu 10 (sepuluh) tahun
f. subkualifikasi M2, memiliki pengalaman melaksanakan pekerjaan dengan total
nilai kumulatif perolehan sekarang paling sedikit Rp 10.000.000.000,- (sepuluh
milyar rupiah) yang diperoleh dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun atau
memiliki

nilai

pengalaman

tertinggi

pekerjaan

subkualifikasi

M1

Rp.

3.330.000.000,- (tiga milyar tiga ratus tiga puluh tiga juta rupiah) yang diperoleh
selama kurun waktu 10 (sepuluh) tahun;
g. subkualifikasi B1, memiliki pengalaman melaksanakan pekerjaan dengan total
nilai kumulatif perolehan sekarang paling sedikit Rp 50.000.000.000,- (lima puluh
milyar rupiah) yang diperoleh dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun atau
memiliki

nilai

pengalaman

tertinggi

pekerjaan

subkualifikasi

M2

Rp.

16.600.000.000,- (enam belas milyar enam ratus juta rupiah) yang diperoleh
selama kurun waktu 10(sepuluh) tahun; dan
h. subkualifikasi B2, memiliki pengalaman melaksanakan pekerjaan subkualifikasi
B1 dengan total nilai kumulatif perolehan sekarang paling sedikit Rp
250.000.000.000,- (dua ratus lima puluh milyar rupiah) yang diperoleh dalam
kurun waktu 10 (sepuluh) tahun atau memiliki nilai pengalaman tertinggi
pekerjaan subkualifikasi B1 Rp. 83.330.000.000,-(delapan puluh tiga milyar tiga
ratus tiga puluh rupiah) yang diperoleh selama kurun waktu 10 (sepuluh) tahun.

Persyaratan tenaga kerja untuk usaha dengan kualifikasi P wajib memiliki 1


(satu) orang PJT yang bersertifikat paling rendah SKTK dengan subkualifikasi kelas 1
dan memiliki subklasifikasi sesuai dengan subklasifikasi usahanya.

2.4

Penyelenggara Registrasi, Sertifikasi Serta Verifikasi Dan Validasi Awal

2.4.1 Penyelenggara Registrasi


8

LPJK Nasional bertanggung jawab atas penyelenggaraan Registrasi Usaha


Jasa Pelaksana Konstruksi nasional. Penyelenggaraan Registrasi, dilaksanakan oleh :
a. LPJK Nasional, untuk Badan Usaha yang memiliki salah satu subklasifikasi
dengan subkualifikasi B1 dan/atau B2; dan
b. LPJK Provinsi, untuk usaha orang perseorangan dan Badan usaha dengan
subkualifikasi K1, K2, K3, M1 dan M2.

Dalam hal LPJK Provinsi tidak dapat memberikan pelayanan registrasi di


wilayah provinsinya, pelaksanaan pelayanan registrasi tersebut dilakukan oleh LPJK
Nasional. LPJK Provinsi dinyatakan tidak dapat melaksanakan fungsinya jika telah
terbukti :
a. dengan sengaja memperlambat penyelesaian registrasi selama lebih dari satu bulan
dan sebanyak lebih dari 2 (dua) kali selama satu tahun.; dan
b. menyatakan tidak dapat atau menolak untuk melakukan registrasi kepada Badan
usaha dengan alasan di luar ketentuan persyaratan registrasi yang berlaku. Proses
registrasi usaha diselenggarakan 1 (satu) tahun dalam 4 (empat) periode, masingmasing periode memiliki jangka waktu 3 (tiga) bulan

Penyelenggaraan proses registrasi di tingkat Nasional sebagaimana dimaksud


dalam ayat (2) butir a dan ayat (5) dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3
(tiga) bulan. Pelaksanaan registrasi di tingkat Provinsi sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) butir b dan ayat (5) dilakanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga)
bulan.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Tinjauan Umum
Asosiasi badan usaha jasa konstruksi adalah satu atau lebih wadah organisasi
dan atau himpunan para pengusaha yang bergerak di bidang jasa konstruksi untuk
memperjuangkan kepentingan dan aspirasi para anggotanya.
Dalam perkembangannya, asosiasi badan usaha jasa konstruksi diarahkan untuk :

Menggalakkan pembinaan anggota melalui diklat sumber daya manusia badan usaha
jasa konstruksi, baik untuk tenaga ahli maupun tenaga terampil.

Mendorong kemudahan akses permodalan peralatan dan material anggotanya.

Mengembangkan metoda konstruksi yang efisien dan meningkatkan kemampuan


manajemen konstruksi

Mengembangkan hubungan kemitraan anggotanya antar klasifikasi dan kualifikasi,


serta rantai pasok konstruksi

Menggalakkan pembinaan terhadap anggota terkait administrasi kontrak

Menjaga agar anggotanya mendapat kesempatan yang sama dalam mengikuti


pelelangan baik untuk proyek-proyek Pemerintah, BUMN, maupun swasta sesuai
ketentuan yang berlaku

Mengembangkan Continuous Business Development

Menjaga, memantau, dan meningkatkan kinerja asosiasi dan badan usaha anggota

10

3.2

Alur Pendirian Badan Usaha

3.2.1 Alur Pendirian Perseroan Terbatas (PT)

3.2.2 Alur Pendirian CV (Commanditaire Vennootschap)

11

Berikut ini merupakan daftar asosiasi perusahaan konstruksi di Indonesia :


1.

Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI)

2.

Gabungan Perusahaan Nasional Rancang Bangun Indonesia (GAPENRI)

3.

Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI)

4.

Asosiasi Kontraktor Air Indonesia (AKAINDO)

5.

Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI)

6.

Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO)

7.

Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI)

8.

Asosiasi Perusahaan Pengelola Alat Berat/Alat Konstruksi Indonesia (APPAKSI)

9.

Asosiasi Perusahaan Survey dan Pemetaan Indonesia (APSPI)

10. Asosiasi Perusahaan Survey dan Pemetaan Indonesia (APSPI)


11. Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (APNATEL)
12. Asosiasi Pengusaha Konstruksi Nasional Indonesia (ASPEKINDO)
13. Asosiasi Kontraktor Konstruksi Indonesia (AKSI)
14. Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (GAPEKSINDO)
15. Asosiasi Kontraktor Umum Indonesia (ASKUMINDO)
16. Asosiasi Kontraktor Sumber Daya Air Indonesia (AKSDAI)
17. Asosiasi Kontraktor Mekanikal Indonesia (AKMI)
18. Asosiasi Kontraktor Jalan dan Jembatan Indonesia (AKJI)
19. Asosiasi Kontraktor Gedung dan ASPEKNAS)
20. Asosiasi Kontraktor Terintegrasi Indonesia (AKTI)
21. Asosiasi Perusahaan Kontraktor Pertamanan Nasional (ASPERTANAS)
22. Asosiasi Perusahaan Pengeboran Air Tanah Indonesia (APPATINDO)
23. Gabungan Pengusaha Kontraktor Nasional Indonesia (GAPEKNAS)
24. Asosiasi Perawatan Jalan dan Jembatan Indonesia (APJALIN)
25. Gabungan Perusahaan Kontraktor Air Indonesia (GAPKAINDO)
26. Gabungan Kontraktor Indonesia (GAKINDO)
27. Asosiasi Kontraktor Konstruksi Indonesia (AKSINDO)
28. Asosiasi Konsultan Nasional Indonesia (ASKONI)
29. Asosiasi Kontraktor Landscape Indonesia (AKLANI)
30. Asosiasi Pengusaha Kontraktor Seluruh Indonesia (APAKSINDO)
31. Gabungan Pengusaha Kontraktor Indonesia (GAPKINDO)
32. Asosiasi Kontraktor Seluruh Indonesia (ASKINDO)

12

33. Asosiasi Kontraktor Bangunan Air Indonesia (AKBARINDO)


34. Persatuan Konsultan Indonesia (PERKINDO)
35. Asosiasi Kontraktor Ketenagalistrikan Indonesia (AKLINDO)
36. Pemukiman Indonesia (AKGEPI)
37. Asosiasi Kontraktor Tata Lingkungan Indonesia (AKTALI)
38. Asosiasi Pelaksana Konstruksi Nasional (AKLINDO)
3.3

Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (GAPEKSINDO)


GAPEKSINDO adalah asosiasi perusahaan konstruksi yang bergerak di
bidang jasa sertifikasi. Sertifikasi dibutuhkan bila suatu badan usaha konstruksi, baik
badan usaha milik negara maupun swasta, ingin mengikuti pelelangan. Untuk
mendapatkan sertifikasi, suatu badan usaha konstruksi wajib terdaftar sebagai anggota
asosiasi perusahaan konstruksi seperti GAPEKSINDO.
Syarat Keanggotaan GAPEKSINDO adalah mengisi formulir yang berisi:
1. Akta perusahaan
2. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
3. Surat permohonan keanggotaan
4. SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan)
5. Surat Keterangan Domisili
6. KTP Direktur dan Foto Direktur Perusahaan

Setelah itu perusahaan konstruksi harus membayar biaya sesuai klasifikasi perusahaan
tersebut( K1, K2, K3, M1, M2, M3, B1, B2, B3). Klasifikasi tersebut didasarkan oleh nilai
kontrak proyek yang selama ini ditangani. Nilai ini bersifat komulatif untuk 7 tahun
pekerjaan. Jadi nilai kontrak proyek yang dimaksud adalah jumlah komulatif nilai kontrak
suatu badan usaha menangani berbagai macam proyek selama 7 tahun, bukan untuk 1 proyek
yang telah ditangani saja.
Biasanya kontraktor dengan klasifikasi Kecil sulit untuk mendapatkan proyek diluar
Kota, karena biasanya terhambat oleh regulasi pemerintah di luar kota tersebut, kecuali ada
persetujuan dari pihak pemerintah di daerah proyek tersebut di luar kota. Kontraktor dengan
kualifikasi kecil biasanya hanya menangani proyek di dalam Kota badan usaha itu berdiri.
Setelah perusahaan terdaftar sebagai anggota GAPEKSINDO maka perusahaan
tersebut dapat mengikuti sertifikasi atau yang disebut dengan registrasi. Untuk mendapatkan
sertifikasi perusahaan tersebut harus mengisi formulir untuk sertifikasi yang berisi:
13

1. Form permohonan registrasi SBU (Sertifikasi Badan Usaha) Jasa Konstruksi


2. Surat pernyataan badan usaha
3. Data pengurus
4. Data keuangan
5. Surat perikatan
6. Surat pernyataan klasifikasi
7. Data peralatan yang dimiliki
Sertifikasi tersebut berlaku selama 3 tahun. Bila masa sertifikasi telah habis maka
badan usaha konstruksi harus melakukan her-registrasi (daftar ulang). Untuk anggota baru
harus melakukan registrasi. Proses sertifikasi ini ditangani oleh GAPEKSINDO Cabang,
yang lalu diserahkan ke GAPEKSINDO DPD (Provinsi), setelah itu dikirim ke
GAPEKSINDO Pusat untuk melakukan proses sertifikasi ke LPJK (Lembaga Pengembangan
Jasa Konstruksi).
Di Jateng terdapat 35 kantor cabang GAPEKSINDO. Kota Semarang tidak memiliki
Kantor Cabang GAPEKSINDO, karena sudah tidak aktif kegiatan di GAPEKSINDO Cabang
Kota Semarang. Untuk Kota Semarang sekarang proses pengurusan untuk menjadi anggota
GAPEKSINDO dapat langsung ke Kantor GAPEKSINDO DPD Jateng di Jl. Taman Setia
Budi Ruko A-9, Banyumanik, Kota Semarang.
3.3.1 Akta Perusahaan
Akta Pendirian Usaha : berisi profil perusahaan yang dibuat pendiri usaha
dengan notaris dan disertai saksi-saksi yang didaftarkan ke Pengadilan Negeri
setempat.
Dalam Akta Pendirian tercantum :

Tanggal pendirian perusahaan

Bentuk dan nama perusahaan

Nama para pendiri

Alamat tempat usaha

Tujuan pendirian usaha

Besar modal usaha

Kepengurusan dan tanggungjawab anggota pendiri usaha

Tahun buku, dll.

14

Akta pendirian tersebut dibubuhi materai, kemudian ditandatangani pendiri


perusahaan, saksi dan notaris. Oleh notaris, akta pendirian tersebut didaftarkan ke
pengadilan negeri setempat.
Adapun syarat-syarat untuk mendapatkan suatu akta perusahaan, yakni :
1. Foto copy KTP para pendiri, minimal 2 orang
2. Foto copy KK penanggung jawab / Direktur
3. Pas photo penanggung jawab ukuran 3X4 = 2 lbr berwarna
4. Copy PBB tahun terakhir sesuai domisili perusahaan
5. Copy Surat Kontrak/Sewa Kantor atau bukti kepemilikan tempat usaha
6. Surat Keterangan Domisili dari pengelola Gedung jika berdomisili di Gedung
Perkantoran
7. Surat Keterangan RT / RW (jika dibutuhkan, untuk perusahaan yang
berdomisili di lingkungan perumahan) Khusus luar jakarta
8. Kantor berada di wilayah Perkantoran/Plaza, atau Ruko, atau tidak berada di
wilayah pemukiman.
9. Foto kantor tampak depan, tampak dalam (ruangan berisi meja, kursi,
komputer berikut 1-2 orang pegawainya). Biasanya ini dilakukan untuk
mempermudah pada waktu survey lokasi untuk pembuatan surat PKP
(Pengusaha Kena Pajak) atau SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan) .
10. Siap di survey

3.3.2 NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)


NPWP adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana
dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau
identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. Nomor
Pokok Wajib Pajak juga dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran
pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. Dalam hal berhubungan
dengan dokumen perpajakan, Wajib Pajak diwajibkan mencantumkan NPWP (Nomor
Pokok Wajib Pajak) yang dimilikinya. Terhadap Wajib Pajak yang tidak
mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak dikenai sanksi
sesuai

dengan

ketentuan

peraturan

perundang-undangan

perpajakan.

Apabila Wajib Pajak Pindah Alamat harus melakukan perubahan data alamat atau
update alamat ke Kantor Pajak tempat terdaftarnya Wajib Pajak, apabila pindah

15

alamatnya diluar Wilayah Kantor Pajak semula, maka dilakukan permohonan pindah
kantor pajak.
Setiap calon Wajib Pajak yang mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak untuk
memperoleh NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), maka Kantor Pelayanan Pajak akan
memberikan :

Kartu NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)

SKT (Surat Keterangan Terdaftar)


Untuk memperoleh NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) seorang calon Wajib

Pajak dapat datang langsung ke Kantor Pelayanan Pajak dimana domisili calon Wajib
Pajak tersebut berada.
3.3.3 Surat permohonan keanggotaan
Untuk mendapatkan Surat Permohonan Keanggotaan GAPEKSINDO harus
mengajukan :
a. Sertifikat Tenaga Ahli
b. KTP tenaga Ahli
c. Ijazah
3.3.4 SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan)
Salah satu langkah awal bagi orang yang ingin melakukan kegiatan usaha
perdagangan secara legal adalah dengan mengurus izin usaha perdagangan yang
dikenal dengan nama SIUP. Surat Izin tersebut dapat diperoleh, baik secara
perseorangan maupun badan hukum. Permohonan izin mendirikan usaha ini tidak
hanya bagi perusahaan yang melakukan perdagangan lintas batas dan usaha yang
berskala besar, tetapi juga bagi perusahaan regional dan berskala kecil. Pengurusan
berbagai surat izin usaha dapat dilakukan dikantor dinas perindustrian setiap daerah
kabupaten/kota.
1) Berikut merupakan syarat-syarat untuk mendapatkan Surat

Ijin Usaha

Perdagangan :
a. Perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas
1. Fotokopi Akta Notaris Pendirian Perusahaan
2. Fotokopi Akte Perubahan Perusahaan (apabila ada)
3. Fotokopi Surat Keputusan Pengesahan Badan Hukum Perseroan Terbatas
dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia
16

4. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Penanggungjawab/Direktur Utama


Perusahaan
5. Surat Pernyataan dari Pemohon SIUP tentang lokasi usaha perusahaan
6. Foto Penanggungjawab atau Direktur Utama Perusahaan ukuran 3x4 cm (2
lembar).
b. Perusahaan berbadan hukum Koperasi
1. Fotokopi Akta Notaris Pendirian Koperasi yang telah mendapatkan
2. Pengesahan dari instansi yang berwenang
3. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Penanggungjawab atau Pengurus
Koperasi
4. Surat Pernyataan dari Pemohon SIUP tentang lokasi usaha Koperasi
5. Foto Penanggungjawab atau Pengurus Koperasi ukuran 3x 4 cm (2 lembar).
c. Perusahaan yang berbentuk CV dan Firma :
1. Fotokopi Akta Notaris Pendirian Perusahaan/Akta Notaris yang telah
didaftarkan pada Pengadilan Negeri
2. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pemilik atau Pengurus atau
Penanggungjawab Perusahaan
3. Surat Pernyataan dari Pemohon SIUP tentang lokasi usaha Perusahaan
4. Foto Pemilik atau Pengurus atau Penanggungjawab Perusahaan ukuran 3x4
cm (2 lembar).
d. Perusahaan yang berbentuk Perorangan :
1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pemilik atau Penanggungjawab
Perusahaan
2. Surat Pernyataan dari Pemohon SIUP tentang lokasi usaha Perusahaan
3. Foto Pemilik atau Penanggungjawab Perusahaan ukuran 3x4 cm (2 lembar).
2) Cara mendapatkan SIUP sebagai berikut:
1. Pemilik perusahaan atau melalui kuasa yang sudah dikuasakan dapat
mengurus langsung ke kantor dinas perdagangan setempat atau kepala
kantor pelayanan perizinan selaku pejabat penerbit SIUP di wilayah
kerjanya.
2. Kemudian mengambil formulir pendaftaran atau surat permohonan yang
sudah disediakan oleh kantor dinas perdagangan yang dilengkapi dengan
17

syarat-syarat yang sudah ditentukan. Surat permohonan tersebut harus di


tandatangani diatas meterai cukup pemilik/direktur utama/penanggung
jawab perusahaan.
3. Pihak ketiga yang mengurus untuk mendapatkan SIUP, wajib melampirkan
surat kuasa yang bermeterai cukup dan ditandatangani oleh pemilik/direktur
utama/penanggungjawab perusahaan.
4. Membayar sesuai dengan peraturan daerah masing-masing.
3.3.5 Surat Keterangan Domisili
Sesuai namanya adalah surat yang menyatakan domisili seseorang atau suatu
badan usaha. Adapun syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mendapatkan Surat
Keterangan Domisili ini, yakni :
a. Akte Notaris Pendirian dan/atau Perubahan (jika ada) ;
b. KTP Direktur/Penanggung Jawab Perusahaan ;
c. Kartu Keluarga Direktur/Penanggung Jawab Perusahaan ;
d. Surat Pengantar dari RT/RW (jika Kantor di Rumah/Ruko) ;
e. Surat Keterangan Domisili dari Pengelola Gedung (jika di Komplek
Perkantoran);
f. PBB tahun terakhir dan Surat Sewa (jika Kantor sewa).
3.3.6 Sub Bidang GAPEKSINDO
BIDANG ARSITEKTUR

NO KODE SUB BIDANG


1 21001 Perumahan tunggal dan koppel
2 21002 Perumahan multi hunian
3 21003 Bangunan pergudangan dan industri
4 21004 Bangunan komersial
5 21005 Bangunan-bangunan non perumahan lainnya
6 21006 Fasilitas pelatihan sport diluar gedung, fasilitas rekreasi
7 21007 Pertamanan
8 21101 Pekerjaan pemasangan instalasi asesori bangunan
9 21102 Pekerjaan dinding dan jendela kaca
10 21103 Pekerjaan interior
11 21201 Pekerjaan kayu
12 21202 Pekerjaan logam
13 21301 Perawatan gedung / bangunan

18

BIDANG SIPIL

14 22001
15 22002
16 22003
17 22004
18 22005
19 22006
20 22007
21 22008
22 22009
23 22010
24 22011
25 22012
26 22013
27 22014
28 22101
29 22102
30 22103
31 22201
32 22202
33 22203
34 22204
35 22205
36 22206
37 22207
38 22208
39 22301

Jalan raya, jalan lingkungan


Jalan Kereta api
Lapangan terbang dan runway
Jembatan
Jalan layang
Terowongan
Jalan bawah tanah
Pelabuhan atau dermaga
Drainase kota
Bendung
Irigasi dan drainase
Persungaian rawa dan pantai
Bendungan
Pengerukan dan pengurugan
Pekerjaan penghancuran
Pekerjaan penyiapan dan pengupasan lahan
Pekerjaan penggalian dan pemindahan tanah
Pekerjaan pemancangan
Pekerjaan pelaksanaan pondasi
Pekerjaan kerangka konstruksi atap
Pekerjaan atap dan kedap air
Pekerjaan pembetonan
Pekerjaan konstruksi baja
Pekerjaan pemasangan perancah pembetonan
Pekerjaan pelaksana khusus lainnya
Pekerjaan pengaspalan

MEKANIKAL

40 23001
41 23002
42 23003
43 23004
44 23005
45 23006
46 23007
47 23008
48 23009
49 23010
50 23011
60 24010

Instalasi pemanasan ventilasi udara dan AC dalam bangunan


Perpipaan air dalam bangunan
Instalasi pipa gas dalam bangunan
Insulasi dalam bangunan
Instalasi list dan escalator
Pertambangan dan manufaktur
Instalasi thermal, bertekanan, minyak, gas, geothermal (pek.rekayasa)
Konstruksi alat angkut dan alat angkat (pekerjaan rekayasa)
Konstruksi perpipaan minyak, gas, energi (pekerjaan rekayasa)
Fasilitas produksi, penyimpanan minyak dan gas (pekerjaan rekayasa)
Jasa penyedia peralatan kerja konstruksi
Instalasi listrik gedung dan pabrik
19

TATA LINGKUNGAN

61 25001
62 25002
63 25003
64 25004
65 24005
66 24006
67 24007

Perpipaan minyak
Perpipaan gas
Pengolahan air bersih / limbah
Pengolahan air bersih
Instalasi pengolahan limbah
Pekerjaan pengeboran air tanah
Reboisasi / Penghijauan

20

Daftar Pustaka

Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional Nomor : 10 Tahun 2013


Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional Nomor : 11 Tahun 2013

21