Anda di halaman 1dari 46

1

I. PENDAHULUAN

Keperluan akan bahan pangan senantiasa menjadi permasalahan yang tidak


putus-putusnya. Kekurangan pangan seolah olah sudah menjadi persoalan akrab
dengan manusia. Kegiatan pertanian yang meliputi budaya bercocok tanam
merupakan kebudayaan manusia paling tua. Sejalan dengan peningkatan
peradaban manusia, teknik budidaya tanaman juga berkembang menjadi berbagai
sistem. Mulai dari sistem yang paling sederhana sampai sistem yang canggih.
Berbagai teknologi budidaya dikembangkan guna mencapai produktivitas yang
diinginkan.
Istilah teknik budidaya tanaman diturunkan dari pengertian kata-kata
teknik, budidaya, dan tanaman. Teknik memiliki arti pengetahuan atau kepandaian
membuat sesuatu, sedangkan budidaya bermakna usaha yang memberikan hasil.
Kata tanaman merujuk pada pengertian tumbuh-tumbuhan yang diusahakan
manusia, yang biasanya telah melampaui proses domestikasi. Teknik budidaya
tanaman adalah proses menghasilkan bahan pangan serta produk-produk
agroindustri dengan memanfaatkan sumberdaya tumbuhan.
Pada umumnya kegiatan budidaya tanaman terkait dengan tingkat
pengetahuan manusia pada masa itu. Relevansi dari peradaban tersebut terwujud
pada kesadaran untuk melaksanakan tindak budidaya. Tindak awal dari
dimulainya teknik budidaya dimulai dengan menetapnya seorang peladang
menempati suatu areal pertanaman tertentu.
Tingkatan tindak budidaya tanaman dicerminkan juga oleh tingkatan
pengelolaan lapang produksi. Pengelolaan yang paling sederhana sampai
pengelolaan yang paling maju, yaitu teknik budidaya yang telah melakukan
pengelolaan terhadap unsur iklim, air, tanah dan udara. Pada kelompok ini pelaku
budidaya telah dapat mengestimasi produksi maksimumnya dan panen yang tepat
waktu. Sebagaimana diketahui ketepatan saat panen sangat menentukan nilau jual
suatu produk. Intensifikasi dalam pengelolaan lapang produksi diikui juga oleh
meningkatnya sarana agronomi baik bahan atau jasa.

1
2

Tanaman dibudidayakan dengan maksud agar tanaman tersebut


memberikan hasil tinggi secara kuantitatif dan kualitatif. Dengan demikian untuk
mencapai maksud dan tujuan dalam budidaya tanaman, pemeliharaan varietas
sangat menentukan. Selain varietas juga perlu diperhatikan mutu benih, karena
benih merupakan biji tanaman yang digunakan untuk tujuan pertanaman. Pada
budidaya tanaman pangan utama yang merupakan tanaman serealia, benih sebagai
penyambung kehidupan tanaman sangatlah penting untuk mencegah kegagalan
petani. Untuk melindungi petani dari kegagalan, maka pengujian benih perlu
dilakukan.
Permasalahan yang sering dihadapi dalam usaha teknologi budidaya
tanaman dan pasca panen adalah bagaimana cara memelihara tanaman agar dapat
tumbuh dan berkembang dengan baik sampai panen. Selain itu untuk melakukan
pemeliharaan tanaman agar terhindar dari serangan OPT terkadang juga
mengalami kendala, sehingga perlu diterapkan pengendalian OPT secara terpadu
agar kehilangan hasil karena OPT dapat diminimalir.
3

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Persiapan Lahan
Agregasi tanah merupakan faktor penting dalam pertumbuhan
tanaman, karena pergerakan udara, air dan perpindahan energi saling
berkaitan dengan porositas tanah. Temperatur tanah merupakan faktor yang
sangat beragam namun pengaruhnya tehadap pertumbuhan tanaman
bergantung pada intensitas cahaya panjang hari, variasi musiman, curah hujan
dan warna serta tekstur tanah. Pergerakan tanah merupakan ciri fisik tanah
yang penting yang mempengaruhi munculnya kecambah (Rao, 1994).
Pengolahan pertama adalah pembukaan lahan kering yang bertujuan
membersihkan hama dan gulma serta menyingkirkan kerikil di sekitar media
tanam. Lahan tersebut memiliki struktur remah (setelah diolah) yang
merupakan struktur yang ideal bagi tanaman (Munir, 1996).
Agar memperoleh hasil seperti yang diinginkan maka tanah erlu dan
disiram dan digemburkan. Akan tetapi, tanah yang setiap hari disiram tentu
saja akan semakin padat dan udara di dalamnya semakin sedikit. Akibatnya
akar tanaman tidak dapat leluasa menyerap unsur hara. Untuk
menghindarinya, tanah di sekitar tanaman perlu digemburkan dengan hati –
hati agar akar tidak putus (Tohir, 2005).
Tanaman dalam pertumbuhanya memerlukan nutrisi yang berupa
unsure hara. Sedangkan asupan unsure tersebut diperoleh tanaman dari media
tanam yaitu tanah. Tanah mampu menyediakanya bagi. Dalam tanah
menyediakan beberapa unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
Dalam penggunaanya sebagai media tanam sebaiknya tanah tersebut bebas
penyebab penyakit. Pemakaian tanah yang bebas penyebab penyakit harus
diartikan tanah yang relatif atau sama sekali bebas patogen yang dapat
merugikan tanaman (Lal, 1994).
Lingkungan tanah merupakan sumber nutrisi dan air bagi tanaman.
Sedangkan lingkungan iklim yang penting antara lain: radiasi surya, suhu dan
kelembaban. Interaksi antara tanaman dengan faktor lingkungan akan

3
4

memberikan gambaran terhadap perkembangan dan hasil tanaman (Suminarti,


2000).
Pada pemberian nutrisi, nitrogen memiliki peran penting sebagai
fiksasi N2 biologis yang kemungkinan besar dapat menyediakan jumlah yang
cukup untuk mengimbangi jumlah hasil panen yang diekspor, tetapi
pergerakan nitrat pada kondisi curah hujan yang tinggi dapat mengurangi
efisiensi penggunaan N, baik sebagai sumber organik dan sebagai pupuk
mineral N (Noordwjik et al., 1996).
B. Pemilihan dan Perhitungan Kebutuhan Benih
Benih dapat dibilang input terpenting dalam budidaya pertanian.
Tanpa benih yang berkualitas tidak akan diperoleh hasil panen yang baik.
Kualitas benih baru bisa diketahui ketika benih tersebut ditanam dan
kemudian tumbuh (Anonim, 2007).
Petani sejak dahulu biasa memproduksi bibitnya sendiri. Dengan
memakai indukan yang jelas diketahui sifat-sifatnya, petani memproduksi
benih secara mandiri menggunakan teknologi dan metode tradisional yang
mereka kembangkan sendiri (Anonim, 2007).
Dalam pertanian perlu adanya penggunaan bibit yang unggul agar
hasil yang diperoleh juga tinggi. Benih unggul yang diperoleh dari varietas
hasil pemuliaan tanaman disebut dengan benih penjenis, misalnya klon,
galur-galur murni atau varietas hibrida. Benih yang telah diperoleh harus
dijaga agar susunan genetisnya tidak berubah (Setyati, 1991).
Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam
perkecambahan, karena untuk mampu berkecambah benih memerlukan
kondisi media tanam yang lembab. Kondisi ini akan merangsang munculnya
akar utama yang akan diikuti oleh pergerakan lain sampai menjadi bibit.
Dalam meningkatkan keberhasilan dan waktu berkecambah lebih cepat,
penggunaan zat pengatur tumbuh dapat dilakukan. Secara umum beberapa
kasus perkecambahan meningkat sampai 100% dan benih dapat berkecambah
lebih cepat 4 - 5 hari dari normalnya (Anonim, 2008).
5

Daya berkecambahnya benih diartikan sebagai mekar dan


berkembangnya bagian-bagian penting dari suatu embrio suatu benih yang
menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan
yang sesuai. Dengan demikian pengujian daya kecambah benih ialah
pengujian akan sejumlah benih, berupa persentase dari jumlah benih tersebut
yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah
ditentukan (William, 1991).
C. Penanaman, Pemeliharaan dan Panen
1. Jagung
Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu
(1) fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai dengan
pembengkakan biji sampai dengan sebelum munculnya daun pertama; (2)
fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang
terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina
(silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah daun yang terbentuk; dan (3)
fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking sampai masak
fisiologis (Subekti et al.,2008).
Keseragaman perkecambahan sangat penting untuk mendapatkan
hasil yang tinggi. Perkecambahan tidak seragam jika daya tumbuh benih
rendah. Tanaman yang terlambat tumbuh akan ternaungi dan gulma lebih
bersaing dengan tanaman, akibatnya tanaman yang terlambat tumbuh tidak
normal dan tongkolnya relatif lebih kecil dibanding tanaman yang tumbuh
lebih awal dan seragam (Subekti et al.,2008).
Perkecambahan benih jagung terjadi ketika radikula muncul dari
kulit biji. Benih jagung akan berkecambah jika kadar air benih pada saat di
dalam tanah meningkat >30% (McWilliams et al., 1999).
Varietas-varietas unggul dari jagung yang banyak dibudidayakan
oleh petani Indonesia antara lain Lamuru, Sukmaraga, Bisma, Srikandi
Kuning, dan Srikandi Putih. Varietas tersebut memiliki potensi hasil tinggi (7
– 8 l/Ha) hampir menyamai hasil varietas jagung hibrida. Varietas ini
6

mempunyai keunggulan berbeda seperti toleran kekeringan, toleran lahan


masam, punya kadar protein tinggi (Menteri Pertanian, 2006).
Dapat diharapkan bahwa usaha untuk memperpendek varietas-
varietas jagung tropik yang tinggi dapat memperbaiki keseimbangan antara
pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan bakal tongkol, mengurangi
penimbunan gula labil dalam batang setelah antesis dan mengakibatkan lebih
banyak biji (Goldsworthy, 1966).
Sinar matahari merupakan faktor penting untuk keperluan
pertumbuhan tanaman jagung. Sebaiknya tanaman jagung mendapatkan sinar
matahari yang langsung, karena bila tidak akan mengurangi hasil (Effendi,
1980).
Pengeringan dimaksudkan untuk mencapai kadar air biji 12-14%
agar tahan disimpan lama, tidak mudah terserang hama dan terkontaminasi
cendawan yang menghasilkan mikotoksin, mempertahankan volume dan
bobot bahan sehingga memudahkan penyimpanan (Handerson and Perry,
1982).
2. Kacang Tanah
Kualitas hasil kacang tanah maksimal saat masak fisiologis,
dicirikan kandungan bahan kering biji dan komposisi bahan kimianya telah
maksimal. Biji telah tua bila daun telah menguning dan tekstur polong telah
jelas dan berwarna gelap. Bila polong dibuka Nampak warna gelap pada
dinding polong (Tastra et al., 1993).
Kacang tanah mempunyai sifat fisiologis yang unik, seperti bungan
terbentuk pada tajuk di atas tanah namun polong berkembang di dalam tanah
dan mampu menyerap hara langsung dari tanah. Bunga yang menjadi polong
berisi sangat sedikit dibanding bunga yang jadi. Pertumbuhan vegetatif dan
generatif dipengaruhi oleh suhu disbanding panjang penyinaran (Supriyono,
1996).
Penggunaan pupuk Posfat jenis SP-36 secara tepisah, dosis 150
kg/ha (P3) mampu merespon tanaman kacang tanah lebih baik, terutama
terhadap variable jumlah bunga, saat muncul ginofor, kecepatan pemanjangan
7

ginofor, berat 100 biji dan berat hasil polong basah per hektar (Wijonarko,
2002).
Sclerotium rolfsii, penyebab penyakit busuk batang, merupakan
patogen tular tanah (soil borne) yang dapat menyebabkan kerusakan berarti
pada kacang tanah. Penyakit ini ditemukan hampir di setiap pertanaman
kacang tanah di seluruh dunia, terutama di daerah yang terletak pada garis
lintang yang rendah (Feakin, 1973).
Pemanenan kacang tanah sebaiknya dilakukan saat cuaca baik dan
tanah tidak terlalu kering sehingga memperkecil jumlah polong tertinggal dan
memudahkan perontokan dan pengeringan polong. Penundaan panen lebih
dari 5 hari dapat menyebabkan biji berkecambah di lapang (Somaatmadja,
1993).
3. Kacang Tunggak
Kacang tunggak (Vigna unguiculata) merupakan jenis tanaman
kacang-kacangan yang sudah dikenal di Indonesia. Keunggulan kacang
tunggak antara lain mudah dibudidayakan serta toleran terhadap kekeringan,
hama dan penyakit (Purwani dan Santosa, 1995).
Biji kacang tunggak yang memiliki densitas besar, lebih tahan dalam
proses pengupasan (dehulling) kulit sehingga rendemen yang dihasilkan lebih
tinggi dibandingkan biji kacang tunggak yang memiliki densitas rendah
(Purwani dan Santosa, 1994).
Pengupasan kulit dapat dilakukan dengan cara menumbuk kasar
(secara tradisional dengan alu) kemudian menampinya. Pada skala yang lebih
besar (industri rumah tangga) dapat digunakan mesin pengupas kulit
(Ngarmsak, 1991).
Tanaman kacang tunggak tahan terhadap kekeringan, sehingga
cocok dikembangkan di lahan kering (tegalan) dan lahan sawah tadah hujan,
dibandingkan dengan jenis kacang-kacangan lainnya. Tanaman kacang
tunggak memiliki kelebihan, yaitu dapat tumbuh diberbagi jenis tanah,
termasuk tanah yang asam dan kering. namun, kondisi tanah yang paling
ideal bagi pertumbuhan kacang tunggak adalah tanah yang porus, banyak
8

mengandung bahan organik (humus), dapat menahan kelembapan tanah, dan


mempunyai pH tanah 5,5 - 6,5 (Rukmana dan Oesman, 2000).
Respon tanaman kacang tunggak terhadap pupuk Nitrogen (N)
sangat tinggi. Pemberian pupuk N yang berlebihan terutama pada tanah yang
subur dapat menyebabkan bakteri Rhizobium yang pada mulanya bersifat
simbiosis mutualistik, berubah menjadi simbiosis parasitis sehingga
menyebabkan produksi kacang tunggak menurun (Anonim, 2009).
9

III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum


1. Persiapan Lahan
Praktikum acara Persiapan Lahan ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal
3 Oktober 2009 dan di Jumantono, desa Sukosari, Karanganyar.
2. Pemilihan dan Perhitungan Kebutuhan Benih
Praktikum acara Pemilihan dan Perhitungan Kebutuhan Benih ini
dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2009 bertempat di Laboratorium
Ekologi dan Manajemen Produksi Tanaman Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Penanaman, Pemeliharaan dan Panen
Praktikum acara Penanaman dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 3
Oktober 2009 dan di Jumantono, desa Sukosari, Karanganyar. Praktikum
acara Pemeliharaan Tanaman ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 9
Oktober 2009 s/d 18 Desember 2009 di Jumantono, desa Sukosari,
Karanganyar dan Pemanenan pada hari Jumat tanggal 18 Desember 2009
di Jumantono, desa Sukosari, Karanganyar.
B. Alat dan Bahan
Alat:
1. Cangkul
2. Cethok
3. Traktor
4. Patok
5. Tali
6. Papan Nama
7. Kaca Pembesar
8. Alat Penghitung
9. Petridish
10. Kertas Tissue/Buram
11. Meteran

9
10

12. Timbangan
13. Gembor
14. Spayer
15. Oven
16. Tugal
17. Pisau atau Gunting
Bahan:
1. Benih yang diuji dan yang ditanam
2. Pupuk Kandang 4,8 kg/petak untuk jagung, 0,6kg/ petak
untuk kacang tanah, 0,6kg/petak kacang tunggak
3. Pupuk Urea 105gr/petak untuk jagung, 15gr/petak untuk
kacang tanah, 15gr/petak untuk kacang tunggak
4. Pupuk SP36 24gr/petak untuk jagung, 30gr/petak untuk
kacang tanah, 30 gr/petak kacang tunggak
5. Pupuk KCl 24gr/petak untuk jagung, 30gr/petak untuk
kacang tanah, 30gr/petak untuk kacang tunggak
6. Pupuk daun
C. Cara Kerja
1. Persiapan Lahan
a. Mengolah tanah dengan cangkul atau traktor agar tanah menjadi
gembur sehingga mudah ditanami.
b. Membuat batas petakan sesuai dengan tanaman yang ditanam
kemudian memberi tanda dengan menggunakan papan nama sesuai
dengan perlakuan tanaman.
c. Menaburkan pupuk di atas petakan tanah lalu mencampurnya dengan
tanah. Dosis pupuk yang ditaburkan sesuai dengan kebutuhan
tanaman.
Untuk jagung : pupuk kandang 4,8 kg/petak dan urea 105 gr/petak.
Aplikasi pemupukan urea ½ dosis dan SP36 serta KCl
pada saat tanam. Kemudian ½ dosis urea pada 5 musim
setelah tanam.
11

Untuk kacang tanah dan kacang tunggak : pupuk kandang 0,6


kg/petak ditambah dengan pupuk urea 1 gr/petak
ditambah lagi SP36 30 gr/petak dan KCl 30 gr/petak
pada saat tanam.
2. Pemilihan Benih dan Perhitungan Kebutuhan Benih
a. Pemilihan Benih
1). Mengambil benih yang akan ditanam masing-masing 25
butir tiap komoditasnya (jagung, kacang tanah dan kacang
tunggak).
2). Mengamati (lebih baik dengan kaca pembesar) biji yang
baik yaitu mengkilap, tidak keriput, tidak cacat, warna normal.
b. Uji Daya Kecambah
1). Mengambil dengan cara memilih yang paling baik
sebanyak 10 biji diantara 25 biji yang dipilih sebelumnya (tiap
komoditas).
2). Meletakkan 10 biji yang terpilih itu pada petridish yang
pada bagian atasnya diberi lembaran kertas buram lalu dibasahi
dengan air secukupnya.
3). Selanjutnya menghitung dan mencatat biji yang
berkecambah setiap hari sampai hari ke tujuh.
c. Berat 1000/100 biji
1). Menghitung 100 atau 1000 biji yang akan ditanam
kemudian menimbangnya.
2). Mengulang penimbangan dengan biji yang berbeda selama
3x pengulangan.
3. Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman
Penanaman
Luas petakan tiap kelompok : 2 x 3 m
a. Jagung
1). Membuat lubang tanam sedalam kurang lebih 5 cm dengan
jarak tanam 40 x 50 cm (30 tanaman/petak).
12

2). Menanam benih jagung di lubang yang telah disiapkan


dengan jumlah seperti yang telah ditetapkan, kemudian
menutupnya dengan tanah.
3). Menyiram dengan air hingga basah (bila tanah terlihat
kering).
4). Membersihkan gulma sekitar 2 minggu setelah tanam
dengan menggunakan sabit atau cangkul sambil menggemburkan
tanah (mendangir).
5). Menebarkan pupuk urea susulan setengah dosis disamping
tanaman (barisan/lubang tanam) sekitar 5 minggu setelah tanam.
b. Kacang Tanah
1). Membuat lubang tanam sedalam kurang lebih 3 cm dengan
jarak tanam 25 x 15 cm.
2). Menanam benih kacang tanah di lubang yang telah
disiapkan dengan jumlah seperti yang telah ditetapkan, kemudian
menutupnya dengan tanah.
3). Menyiram dengan air hingga basah (bila tanah terlihat
kering).
4). Membersihkan gulma sekitar 2 minggu setelah tanam
dengan menggunakan sabit atau cangkul sambil menggemburkan
tanah (mendangir).
c. Kacang Tunggak
1). Membuat lubang tanam sedalam kurang lebih 3 cm dengan
jarak tanam 25 x 30 cm.
2). Menanam benih kacang tunggak di lubang yang telah
disiapkan dengan jumlah seperti yang telah ditetapkan, kemudian
menutupnya dengan tanah.
3). Menyiram dengan air hingga basah (bila tanah terlihat
kering).
13

4). Membersihkan gulma sekitar 2 minggu setelah tanam


dengan menggunakan sabit atau cangkul sambil menggemburkan
tanah (mendangir).
Pemeliharaan
a. Menyiram tanaman setiap sore hari, dilakukan selama 1 minggu.
Setelah tanaman hidup penyiraman dilakukan bila tanah dalam
keadaan kering.
b. Melakukan penyiangan dan pendangiran dengan cangkul dan atau
cethok untuk membersihkan gulma dan menggemburkan tanah.
c. Pengendalian pengganggu tanaman (hama/penyakit) dapat dilakukan
secara mekanik bila diperlukan.
Pemanenan
a. Melakukan pemanenan bila tanaman telah memenuhi criteria masak
sesuai jenis tanamannya. Pada jagung tongkol akan berwarna coklat
dan biji keras.
b. Mengamati bagian vegetatif dari tiap komoditas yang meliputi tinggi
tanaman (untuk jagung dan kacang tanah), dan jumlah cabang (untuk
kacang tunggak).
c. Melakukan pengamatan pada saat panen, meliputi :
1). Jagung : berat kering tanaman/ berat tongkol dengan dan
tanpa kelobot.
2). Kacang tanah : berat kering tanaman, berat polong isi, berat
polong hampa.
3). Kacang tunggak : berat kering tanaman, berat polong
dengan biji dan berat biji.
d. Menganalisis pengamatan bagian vegetatif maupun saat panen dengan
sidik ragam.
14

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Persiapan Lahan
Persiapan lahan bertujuan untuk mengkondisikan lahan tempat
budidaya tanaman agar sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan tanaman
sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik pada lahan tersebut. Persiapan
lahan ini dilakukan sebelum melakukan penanaman meliputi pengolahan
tanah, penyiangan gulma yang tumbuh, serta pemberian pupuk dasar.
Pengolahan tanah merupakan cara untuk memperbaiki kondisi fisik,
kimia maupun biologi tanah. Mengolah lahan merupakan pekerjaan
memodifikasi atau memanipulasi tanah di daerah perakaran tanaman secara
langsung. Hal tersebut bertujuan untuk memperbaiki daerah tersebut bagi
pertumbuhan akar, ketersediaan hara dan produksi. Pengolahan tanah dapat
memperbaiki kondisi tanah karena mengubah struktur dan tekstur tanah
menjadi lebih baik sehingga aerasi dan drainase tanah juga menjadi lebih
baik. Aerasi yang baik mengakibatkan jasad renik dapat berkembang dengan
baik, sehingga menambah kesuburan tanah, air mudah merasap sehingga
tanah tidak tergenang dan kelembaban tanah terjaga, serta bibit penyakit,
hama dan gulma akan mati karena terkena sinar matahari. Tanah yang telah
diolah akan memiliki struktur yang remah dan teksturnya menjadi halus.
Sehingga, penyerapan air menjadi lebih baik. Selain itu, pengolahan lahan
akan memberikan rongga-rongga di dalam tanah agar akar tanaman dapat
“bernafas”.
15

Pengolahan lahan meliputi penggaruan, pemupukan lahan, dan


pembersihan lahan dari hama dan gulma. Penggaruan lahan dapat dilakukan
dengan menggunakan cangkul atau traktor. Penggaruan lahan ini bertujuan
untuk menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah yang keras, sehingga
struktur dan tekstur tanah memungkinkan untuk ditanami. Sedangkan
pemupukan lahan bertujuan untuk menambah unsur hara dalam tanah agar
tanah menjadi lebih subur dan dapat mencukupi kebutuhan tanaman akan
unsur hara. Sehingga, pertumbuhan tanaman lebih optimal.
Persiapan lahan dimaksudkan
14 agar lahan lebih siap untuk ditanami
dan meningkatkan kondisi fisik tanaman dengan cara merubahnya. Cara
pengolahan lahan berpengaruh pada struktur dan tekstur tanah. Tanah yang
telah diolah akan memiliki struktur yang remah dan teksturnya menjadi halus.
Sehingga, penyerapan air menjadi lebih baik. Selain itu, pengolahan lahan
akan memberikan rongga-rongga di dalam tanah agar akar tanaman dapat
“bernafas”.
Dalam praktikum ini, luas lahan yang digunakan seluas 6 m 2
dengan jarak tanam jagung 40 cm x 50 cm, kacang tanah 25 x 20, dan kacang
tunggak 25 x 30. Arah tanaman yaitu membujur dari utara ke selatan.
Sehingga tanaman dapat menyerap sinar matahari lebih banyak untuk proses
fotosintesis. Lahan yang digunakan untuk penanaman merupakan lahan
kering, maka pengolahan pertama adalah pembukaan lahan kering yang
bertujuan membersihkan hama dan gulma serta menyingkirkan kerikil di
sekitar media tanam.
Dalam proses pengolahan tanah sebagai tempat tanam perlu
digemburkan terlebih dahulu karena dengan tanah yang gembur akan banyak
pori-pori yang dapat diisi oleh air maupun udara yang diperlukan untuk
tanaman sehingga tanaman akan tetap bertahan hidup. Penanaman dilakukan,
sebelumnya pupuk perlu disebarkan dan diratakan pada tanah yang akan
ditanami agar tercampur dengan tanah sehingga tidak mudah menguap di
udara. Fungsi pupuk yang disebarkan pun beraneka ragam. Penambahan
pupuk kandang dan kompos di kenal sebagai upaya terbaik dalam perbaikan
16

level bahan organik dan humus. Bila tidak dapat dilakukan maka rumput
tahunan merupakan tanaman yang mampu melakukan regenerasi dan
meningkatkan kadar humus tanah (Nations, 1999). Pupuk kandang
merupakan pupuk yang penting di indonesia. Selain jumlah ternak di
indonesia cukup banyak dan volume kotoran ternak cukup besar, pupuk
kandang secara kualitatif relatif lebih kaya hara dan mikrobia dibandingkan
limbah pertanian. Yang dimaksud pupuk kandang adalah kotoran
hewan/ternak dan urine (Rosmarkam & Nasih Widya Yuwono, 2002).
Pupuk urea yang biasa disebut sebagai pupuk nitrogen (N), dimana
unsur N bermanfaat dalam : (1) mempertinggi pertumbuhan vegetatif
terutama daun, (2) mempertinggi kandungan protein, (3) menambah tinggi
tanaman, (4) mempertinggi kemampuan tanaman untuk menyerap unsur hara
lain seperti K, P, dll, (5) merangsang pertunasan, (6) mengaktifkan mikrobia
tanah sehingga proses dekomposisi BO berjalan lancar. Pupuk urea ini mudah
larut dalam air dan mudah menyerap air sehingga tidak dapat disimpan dalam
kurun waktu yang lama. Untuk pupuk SP36 berfungsi sebagai sumber hara
phosphor (P), dimana unsur P ini memiliki peranan penting bagi tanaman
antara lain : (1) mempercepat pembentukan sel-sel, lemak, dan albumin, (2)
memperbaiki pembungaan, pembuahan, dan pembentukan benih, (3)
mengurangi kerontokan buah, (4) mempercepat pemasakan buah, (5)
memperbaiki perkembangan perakaran, khususnya akar-akar lateral dan
sekunder. Unsur P dalam SP36 hampir seluruhnya larut dalam air, tetapi tidak
mudah menyerap air sehingga dapat disimpan dalam waktu lama. Sedangkan
pupuk KCl merupakan sumber hara kalium (K), bermanfaat untuk : (1)
memperkuat perakaran, (2) lebih tahan terhadap penyakit, (3) penting dalam
pembentukan umbi dan klorofil.
Pada lahan ini banyak terdapat gulma yang mengganggu
pertumbuhan tanaman. Gulma yang dijumpai pada lahan tersebut adalah
rumput – rumputan , putrid malu (Mimosa pudica) dan tanaman rosella.
Dalam pertumbuhannya, tanaman sering diganggu oleh pertumbuhan gulma.
Gulma sangat mengganggu karena dalam hidupnya akan berkompetisi dengan
17

tanaman pokok dalam mendapatkan air, unsur hara, dan cahaya matahari.
Keberadaan gulma di antara tanaman pertanian dapat menurunkan hasil yang
cukup tinggi. Oleh karena itu harus diadakan pengendalian dengan
penyiangan. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara mekanis
(misalnya pencabutan dan pemotongan), dengan cara khemis (menggunakan
obat-obatan/herbisida), dan dengan cara biologis (menggunakan serangga
atau musuh alami). Pengendalian gulma perlu dilakukan untuk memperkecil
kompetisi tanaman sehingga tanaman cukup unsur hara. Penyiangan
(pengendalian gulma) dilakukan bersamaan dengan pendangiran yaitu
pengolahan tanah secara ringan. Pendangiran bertujuan untuk
menggemburkan tanah di sekitar tanaman yang mulai memadat.

B. Pemilihan dan Perhitungan Kebutuhan Benih


Tabel 4.1 Jumlah Benih yang Berkecambah
Jumlah benih yang
Benih berkecambah
Hari ke-4 Hari ke-7
Jagung 9 10
Kacang Tanah 2 9
Kacang Tunggak 0 6
Sumber : laporan sementara

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Berat Benih @ komoditas


Ulangan Berat @ komoditas (gr)
Jagung Kacang Tanah Kacang Tunggak
1 23,8 39,7 13,8
2 23,9 41,6 15,4
3 22,6 38 12,2
4 25,9 43,5 15
5 24,4 42,6 15,6
6 25,1 39,1 14,9
Berat 100 biji 145,7 244,5 86,9
Berat rata-rata 24,28 40,75 14,48
Sumber : Laporan Sementara

Analisis Perhitungan Kecepatan Kecambah


J
u
ml .
be
ni
h ygb e
r
k
ec
a
mb
a
h p
dha
r
i k
e−4
K
e
c
e
pa t
a
nKe
c
a
mb
ah = x
10
0%
J
um
l .
be
ni
h y gd
i
ke
c
am
b
ah
k
a
n
18

9
Jagung = x100%=90%
10
2
Kacang Tanah = x100%=20%
10
0
Kacang Tunggak = x100%=0%
10

Analisis Perhitungan Daya Kecambah


J
u
ml .
be
ni
h ygbe
r
k
ec
a
mb
a
h p
dha
r
i k
e−7
D
a
y
a K
e
c
a
mb
ah = x
10
0%
J
um
l .b
e
n
ih ygd
i
ke
c
am
b
ah
k
a
n
10
Jagung = x100%=100%
10
9
Kacang Tanah = x100%=90%
10
6
Kacang Tunggak = x100%=60%
10

Kebutuhan benih/ luas lahan


Kebutuhan benih / luas lahan = daya kecambah x jumlah lub ang / petak
luas petak
= daya kecambah x
jarak tan am

Jagung
luas petak
=daya kecambah x
jarak tan am
200 x 300 cm
=1 x
40 x 50 cm
60000
=1 x
2000
= 30

Kacang Tanah
luas petak
=daya kecambah x
jarak tan am
200 x300 cm
=1x
25 x15 cm
60000
=1x
375
=160

Kacang Tunggak
19

luas petak
=daya kecambah x
jarak tan am
200 x300 cm
= 3x
25 x30cm
60000
= 3x
750
=240
Analisis Perhitungan Sd
Jagung
 − 
∑y −y
n

SD = i i

n −1
(23 ,8 − 24 ,28 ) 2 + (23,9 − 24 ,28 ) 2 + ..... + (25 ,1 − 24 ,28 ) 2
=
6 −1
= 1 ,2
9
8
= 1,14

SDmax = y+S d
= 24,28 + 1,14
= 25,42

SDmin = y−S d
= 24,28 – 1,2
= 23,14

Kacang Tanah
 − 
∑y −y
n

SD = i i

n −1
(39 ,7 − 40 ,75 ) 2 + (41,6 − 40 ,75 ) 2 + ..... + (39 ,1 − 40 ,75 ) 2
=
6 −1
= 4 ,6
28
= 2,15

SDmax = y+S d
= 40,75 + 2,15
= 42,90
20


SDmin = y−S d
= 40,75 – 2,15
= 38,60

Kacang Tunggak
 − 
∑y −y
n

SD = i i

n −1
(13 ,8 −14 ,48 ) 2 + (15 ,4 −14 ,48 ) 2 + ..... + (14 ,9 −14 ,48 ) 2
=
6 −1
= 1 ,64
6
= 1,28

SDmax = y+S d
= 14,48 + 1,28
= 15,76

SDmin = y−S d
= 14,48 – 1,28
= 13,20

Pengertian bibit masih dirancukan dengan pengertian benih (seed)


dari tanaman induk (parent stock). Pengertian bibit juga sering tertukar
dengan istilah tanaman induk penghasil benih atau bibit. Kerancuan ini
terjadi, karena belum ada kepastian tentang pembatasan pengertian bibit.
Pengertian bibit yang dimaksud dalam makalah ini adalah tanaman kecil
(belum dewasa) yang berasal dari pembiakan generatif (dari biji), vegetatif,
kultur jaringan atau teknologi perbanyakan lainnya. Selain itu, bibit juga
dapat diperoleh dari kombinasi cara-cara perbanyakan tersebut (Setyawan,
1996).
Daya kecambah (DK) akan kemampuan benih untuk melakukan
perkecambahan dihitung sampai hari ke tujuh. Sedangkan kecepatan
21

kecambah adalah waktu yang diperlukan benih untuk berkecambah, dihitung


sampai hari keempat.
Di dalam praktikum ini digunakan benih jagung, kacang tanah dan
kacang tunggak untuk uji kecambah yang sebelumnya dilakukan pemilihan
benih yang baik. Kriteria benih yang baik antara lain mengkilat, tidak keriput,
serta tidak cacat dengan warna yang normal. Proses perkecambahan
berlangsung selama 7 hari, di mana hari keempat digunakan untuk
mengetahui kecepatan kecambah sedangkan hari ketujuh diguakan untuk
mengetahui daya kecambahnya.
Pada praktikum kali ini yang dilakukan adalah pemilihan benih dan
perhitungan kebutuhan benih. Kondisi benih yang baik sering dicirikan
dengan tidak adanya keriput, mengkilat, dan warnanya normal. Secara visual,
pemilihan benih dapat dilakukan secara mudah dan cepat sehingga para
petani dapat melakukannya setiap saat. Namun demikian, pemilihan benih ini
harus tetap dilakukan, khususnya saat hendak menanam benih sehingga
petani tidak terganggu oleh ancaman kegagalan pertumbuhan benih tersebut.
Tanaman yang kita gunakan dalam praktikum ini adalah jagung, kacang tanah
dan kacang tunggak.
Untuk mengetahui kecepatan kecambah, daya kecambah dan
kebutuhan benih per lubang diadakan perkecambahan benih di dalam
petridish yang berisi sepuluh benih dan dilapisi kertas buram yang diberi
sedikit air. Setelah empat hari penyimpanan, jumlah kecambah dihitung guna
mengetahui kecepatan kecambah (KK). Kecepatan kecambah dapat dihitung
dengan membagi jumlah benih yang sudah berkecambah dibagi seluruh benih
yang dikecambahkan dikali 100%.
Dari praktikum ini kecepatan berkecambah jagung adalah 90%,
sedangkan untuk kacang tanah 20% dan kacang tunggak adalah 0% berarti
pada petridish jagung hampir semua benih berkecambah sedangkan pada
kacang tanah hanya 1/5 dari total benih yang ada dan kacang tunggak semua
belum mulai berkecambah. Setelah hari ketujuh, jumlah kecambah dihitung
lagi guna menghitung daya kecambah. Daya kecambah dihitung dengan
22

membagi jumlah benih yang dikecambahkan dikali 100%. Dari praktikum ini
didapat daya kecambah jagung sebesar 100%, kacang tanah sebesar 90% dan
kacang tunggak sebesar 60%. Untuk daya kecambah jagung dan kacang tanah
termasuk daya kecambah yang tinggi. Sedangkan untuk kacang tunggak
termasuk rendah.
Dari hasil perhitungan daya kecambah dan kecepatan kecambah
dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan benih per petak dan kebutuhan
benih per lubang. Kebutuhan benih per petak untuk jagung sebanyak 30
benih, kacang tanah 160 benih dan kacang tunggak 240 benih. Kebutuhan
benih per lubang untuk jagung dan kacang tanah satu sedangkan kacang
tunggak tiga. Tetapi dalam praktiknya kebutuhan benih per lubang adalah
tiga, hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi jika benih-benih tertanam
terlalu dalam sehingga tidak dapat tumbuh dengan baik. Penanaman jagung
dengan jarak tanam 40 x 50 cm pada lahan seluas 200 x 300 cm, sehingga
terdapat lubang tanam sebanyak 30 lubang. Untuk kacang tanah dengan luas
yang sama tetapi menggunakan jarak tanam 25 x 15 dapat dibuat 160 lubang
dan untuk kacang tunggak dengan jarak tanam 25 x 30 dapat dibuat 80
lubang.
Selama penyimpanan kelembaban dalam petridish harus
diperhatikan agar tidak terlalu lembab atau terlalu kering. Jika terlalu lembab,
benih bisa membusuk, dan jika terlalu kering benih akan kekurangan air yang
menyebabkan benih tidak dapat berkecambah.
Dari hasil penimbangan 100 benih dapat diketahui bahwa berat rata-
rata jagung, kacang tanah, kacang tunggak berturut – turut yaitu 24,28; 40,75;
14,48. Perhitungan standar deviasi di peroleh hasil 1,14; 2,15; 1,28. SD max
yaitu 25,42; 42,90; 15,76 sedangkan SD min yaitu 23,14; 38,60; 13,20.
Ada beberapa faktor internal yang mempengaruhi perkecambahan
benih antara lain : tingkat kematangan benih, ukuran benih, berat benih,
kondisi persediaan makanan dalam benih, ketidaksempurnaan embrio, daya
tembus air dan oksigen terhadap kulit biji (Curtis dan Clark, 1968). Di
samping faktor internal, faktor eksternal seperti suhu, air, oksigen dan cahaya
23

juga mempengaruhi perkecambahan biji. Perkecambahan tidak dapat terjadi


jika benih tidak dapat menyerap air dari lingkungan. Bewley and Black
(1983) juga menyatakan bahwa benih yang mempunyai struktur kulit yang
keras dapat mengganggu penyerapan air dan pertukaran gas, selain adanya zat
penghambat perkecambahan di dalam kulit benih itu sendiri dan menghalangi
lepasnya penghambat yang terdapat dalam endosperm. Salah satu cara efektif
yang dapat dilakukan untuk mempersingkat masa dormasi benih adalah
dengan memanaskna benih menggunakan oven listrik pada suhu tertentu.
Pada umumnya setiap benih tanaman memiliki kekerasan dan ketebalan kulit
yang berbeda. Semakin tebal kulit benih maka memerlukan suhu lebih tinggi
untuk memberikan peluanng masuknya air ke dalam benih.
Proses-proses perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan
faktor-faktor lingkungan seperti air, O2, cahaya dan suhu. Air berperan dalam
melunakkan kulit biji, memfasilitasi masuknya O2, pengenceran protoplasma
untuk aktivasi fungsi, dan alat trasnportasi makanan. Suhu berperan dalam
pematahan dormansi; aplikasi fluktuasi suhu yang tinggi berhasil
mematahkan dormansi pada banyak spesies, terutama yang mengalami
termodormansi. Aplikasi fluktuasi suhu ini dapat berupa chilling/alternating
temperature maupun pembakaran permukaan. O2 dibutuhkan pada proses
oksidasi untuk membentuk energi perkecambahan. Cahaya mempengaruhi
perkecambahan melalui tiga macam bentuk yaitu intensitas cahaya, panjang
gelombang, dan fotoperiodisitas.
Selama pertumbuhan kecambah jagung mengalami gangguan oleh
OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang berupa hama dan patogen
penyebab penyakit. Hama dan penyakit yang muncul adalah semut dan jamur
yang memperlambat proses perkembangan kecambah.

C. Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman


Penanaman yang dilakukan pada jagung adalah membuat lubang
tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih.
Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya
24

40x50 cm (1tanaman /lubang). Pemeliharaan yang dilakukan pada setiap


tanaman adalah penyiangan, penjarangan, pendangiran dan penyiraman.
Perlakuan yang diberikan pada jagung adalah pemberian pupuk daun.
Perlakuan pada kacang tanah adalah pengaturan jarak tanam dan pada kacang
tunggak adalah pemangkasan.
Pada pemeliharaan ini, apabila terdapat tanaman yang daunnya
sudah menguning dan rusak terkena angin lebih baik dipotong. Hal ini
dikarenakan, mempengaruhi proses pertumbuhan dan proses penyampaian
hasil fotosintesis maupun pengangkutan unsur hara pada tanaman .
Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan
melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman
bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10
hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam
penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. Pada praktikum kali ini,
untuk lahan yang diamati tidak mengalami penyulaman tanaman.
Penyiangan pada tanaman dapat dengan tangan atau cangkul kecil.
Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur
tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan
setelah tanaman berumur 15 hari. Pembumbunan dilakukan bersamaan
dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak
mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah
karena adanya aerasi. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk
dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini
akan terbentuk guludan yang memanjang. Setelah benih ditanam, dilakukan
penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga
agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang
diperlukan lebih besar.
Pada kegiatan pemeliharaan ini juga kita melakukan perlindungan
pada tanaman. Perlindungan tersebut adalah mengurangi populasi hama dan
penyakit tanaman serta melakukan pencabutan gulma pada lahan. Pada
tanaman jagung, gulma yang ditemukan yaitu rumput – rumputan, rumput
25

teki (Cyperus rotundus), rosella, putri malu (Mimosa pudica). Pada tanaman
kacang tanah dan kacang tunggak juga terdapat gulma yang sama dengan
tanaman jagung. Organisme pengganggu tanaman pada tanaman yang
dibudidayakan juga terdapat hama yang mengganggu. Hama pada tanaman
jagung adalah kepik, larva, belalang, ulat, pupa, walang sangit, kumbang, dan
pengerek tongkol. Pada tanaman kacang tanah adalah belalang, kepik dan
kumbang. Pada tanaman kacang tunggak adalah ulat daun, kutu daun,
belalang, kepik, dan kumbang.
1. Jagung
Tabel 4.3 Hasil pengamatan tinggi rata-rata/minggu tanaman Jagung
Minggu ke- Tinggi Tanaman (cm)
1 8,550
2 21,516
3 34,683
4 52,166
5 76,283
6 77,500
7 98,916
8 108,566
9 176,166
10 211,500
11 215,167
Sumber : Laporan Sementara

Gambar 4.1 Grafik Tinggi rata-rata tanaman Jagung


26

Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran dan berat kering tanaman


yang tidak dapat balik yang mencerminkan pertambahan protoplasma. Suatu
tanaman dikatakan tumbuh bila telah mengalami perubahan-perubahan
seperti pertambahan bobot kering tanaman atau pertambahan tinggi tanaman.
Pada praktikum kali ini, tanaman jagung pada kelompok kami tidak diberikan
perlakuan berupa pemberian pupuk daun. Dari hasil pengamatan tabel dan
grafik diatas, terlihat bahwa tinggi tanaman rata-rata/minggu tanaman jagung
selalu bertambah. Pada minggu ke-1 sampai ke-9 penambahan tinggi
tanamannya terus meningkat, tetapi setelah mencapai minggu ke-6
pertumbuhannya agak sedikit terhambat. Hal ini mungkin disebabkan karena
pada saat perawatan yaitu pemberian air sedikit tersendat. Sedangkan pada
minggu ke-9 sampai minggu ke-11 pertambahan tinggi menurun. Hal ini
dikarenakan pada minggu ke-9 sampai minggu ke-11 tanaman sudah
memasuki fase generatif. Pada fase ini, cadangan makanan yang ada lebih
banyak digunakan untuk melakukan pembentukan buah dan pematangan
buah. Sehingga proses pertumbuhan tanaman dengan pertumbuhan tanaman
lambat. Pertumbuhan tanaman juga bis adikarenakan yang kurang maksimal.
Tanaman yang satu dengan yang lain memiliki kemampuan menyerap unsur
hara yang berbeda.
Pertambahan tinggi tanaman dipengaruhi oleh nutrisi yang diserap
oleh tanaman, pengolahan tanah disekitar tanaman, serta pengairan tanaman.
Pertambahan tinggi tanaman jagung pada awal pertumbuhan lambat dapat
diketahui dengan peningkatan tinggi tanaman sangat kecil. Setelah minggu ke
delapan pertumbuhan tanaman mulai cepat, hal ini dapat diketahui dengan
semakin tinggi tanaman jagung dan perbedaan tinggi sangat jauh dari minggu
ke minggu, sampai pada minggu ke sebelas tinggi rata-rata tanaman jagung
adalah 215,167 cm.
Unsur hara diberikan tambahan dengan memberi pupuk pada
tanaman tersebut telah mengalami pencucian. Apabila pada penyiraman dan
proses pertumbuhan tanaman terdapat kandungan air pada tanah, maka akan
mengalami pencucian unsur hara tanah. Sehingga hara yang dapat diserap
27

oleh tanaman tidak maksimal, menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak


maksimal.

Tabel 4.4 Purata Tinggi Tanaman Jagung


Tinggi
Perlakuan
Tanaman
P0 188
P1 194
P2 205
P3 195
Sumber : Data Rekapitulasi

Gambar 4.2 Histogram Purata Tinggi Tanaman Jagung


Berdasarkan tabel dan histogram purata tinggi tanaman jagung
diatas, dapat dilihat perlakuan yang menghasilkan tinggi tanaman paling baik
yaitu pemberian pupuk daun 21 hari setelah tanam yaitu sebesar 205 cm dan
yang paling pendek pada tanaman yang tidak diberi pupuk daun (kontrol)
yaitu 188 cm. Hal ini dikarenakan, waktu pemupukan pada 21 hari setelah
tanam merupakan waktu yang tepat bagi tanaman jagung untuk melakukan
pertumbuhan optimal. Selain itu, unsur hara pada tanah yang diserap tanaman
telah mencukupi untuk mengalami pertumbuhan.
28

Hal lain dapat disebabkan karena pengaruh daripada kandungan


dalam pupuk daun itu. Selain memiliki kandungan unsur N, P, dan K, pupuk
daun juga mengandung beberapa unsur mikro. Dengan memanfaatkan tiap
unsur hara dalam pupuk daun tersebut, maka dapat merangsang
perkembangan tanaman dan peningkatan hasil panen. Selain itu, keuntungan
dari menggunakan pupuk daun itu antara lain respon terhadap tanaman sangat
cepat karena langsung dimanfaatkan oleh tanaman.
Tabel 4. 5 Anova Berat Total Kering Tanaman Jagung terhadap saat
pemupukan
Sumber dB JK KT Fhit P
Keragaman
Ulangan 5 234697 46939 0,36 0,870
Perlakuan 3 244542 81514 0,62 0,612
Galat 15 1970353 131357
Total 23 2449592
NS : Non Signifikan
Sumber : Data Rekapitulasi
Berdasarkan tabel anova diatas memperlihatkan bahwa probabiliti
berat total kering tanaman jagung lebih besar dari 0,005 sehingga dapat
diartikan bahwa pemberian pupuk daun berpengaruh tidak nyata pada
tanaman jagung. Hal ini dapat disebabkan karena faktor cuaca pada saat
praktikum ini dilakukan. Sebaiknya setelah penyemprotan pupuk daun jangan
sampai terkena oleh air hujan karena akan mengurangi efektivitas penyerapan
pupuk.
Faktor lain yang berpengaruh salah satunya adalah pada
pemeliharaan tanaman jagung yang kurang optimal, misalnya dalam hal
penyiraman dan pengendalian gulma dan hama. Penyiraman yang tidak
sesuai dengan keadaan pada saat itu dapat berpengaruh pada kebutuhan air
pada tanaman. Kebutuhan air yang kurang dapat berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, misalnya dapat menghambat
pertumbuhan karena proses fotosintesis dapat terganggu akibat kurang air.
Akibat dari pertumbuhan tanaman jagung yang terhambat maka
berat kering tanaman jagung yang dihasilkan juga tidak optimal. Sedangkan
gulma dan hama yang tidak terkendali dapat membuat tanaman jagung
29

menjadi kerdil, karena terjadi persaingan untuk mendapatkan unsur hara pada
lahan tersebut. Selain itu hama yang terdapat pada tanaman jagung dapat
membuat tanaman jagung menjadi rusak. Hal itu terlihat sangat jelas pada
tanaman kontrol yang tidak diberi pupuk daun, daunnya menjadi berlubang
dan tidak sebagus tanaman yang diberi perlakuan pupuk daun.

Tabel 4. 6 Anova Berat Tongkol dengan Klobot Tanaman Jagung terhadap


saat pemupukan
Sumber dB JK KT Fhit P
Keragaman
Ulangan 5 726730 145346 0,77 0,587
Perlakuan 3 200269 66756 0,35 0,788
Galat 15 2840186 189346
Total 23 3767185
NS: Non Signifikan
Sumber : Data Rekapitulasi
Berdasarkan tabel anova diatas memperlihatkan bahwa probabiliti
saat berbunga tanaman jagung lebih besar dari 0,005 sehingga dapat diartikan
bahwa pemberian pupuk daun tidak berpengaruh nyata pada berat tongkol
dengan klobot tanaman jagung. Hal ini dikarenakan tanaman belum
mengadakan persaingan yang berarti dalam mendapatkan unsur hara maupun
cahaya matahari.
Tabel 4. 7 Anova Berat Tongkol Tanpa Klobot Tanaman Jagung terhadap
saat pemupukan
Sumber dB JK KT Fhit P
Keragaman
Ulangan 5 294967 58993 0,86 0,532
Perlakuan 3 69745 23248 0,34 0,799
Galat 15 1033805 68920
Total 23 1398517
NS : Non Signifikan
Sumber : Data Rekapitulasi
Berdasarkan tabel anova diatas memperlihatkan bahwa probabiliti
saat berbunga tanaman jagung lebih besar dari 0,005 sehingga dapat diartikan
bahwa pemberian pupuk daun tidak berpengaruh nyata pada berat tongkol
tanpa klobot jagung. Kemungkinan dapat disebabkan karena konsentrasi
30

pupuk daun yang terlalu pekat dimana akan berakibat buruk pada organ
tanaman salah satunya yaitu menghambat proses metabolisme dalam tubuh
tanaman. Sehingga, diperoleh hasil (output) yang kurang maksimal.

Tabel 4.8 Anova Saat Berbunga Tanaman Jagung terhadap pemupukan


Sumber
Keragaman dB JK KT F hitung P
Ulangan 5 2,2083 0,4417 0,57 0,722
Perlakuan 3 10,125 3,375 4,35 0,021
Galat 15 11,625 0,775
23,958
Total 23 3
S : Signifikan
Sumber : Data Rekapitulasi
Berdasarkan tabel anova diatas memperlihatkan bahwa probabiliti
saat berbunga tanaman jagung lebih kecil dari 0,005 sehingga dapat diartikan
bahwa pemberian pupuk daun dapat mempercepat saat berbunga secara nyata
dibanding dengan yang tidak diberi pupuk daun. Hal ini bisa dikarenakan
waktu pemupukan terjadi proses pembukaan stomata pada daun. Sehingga
pupuk tersebut dapat diserap oleh tanaman secara optimal. Selain itu juga
dikarenakan pada minggu tersebut tanaman mulai memasuki fase generatif.
Sehingga pemberian pupuk tersebut mempengaruhi pembentukan bunga pada
tanaman tersebut.

2. Kacang Tanah
Tabel 4.9 Hasil pengamatan tinggi rata-rata/minggu tanaman Kacang Tanah
Minggu ke- Tinggi rata-rata (cm)
1 0,816
2 2,016
3 3,350
4 4,766
5 6,4
6 6,416
7 7,350
31

8 10,750
9 13,083
10 18,033
11 19,833
Sumber: Laporan Sementara

Gambar
4.3 Grafik Tinggi rata-rata tanaman Kacang Tanah
Untuk praktikum kali ini, diberikan perlakuan jarak tanam kacang
tanah sebesar 25 x 15 cm, dimana akan dihasilkan 160 tanaman. Jarak tanam
untuk tanaman sangatlah diperlukan agar setiap individu tanaman dapat
memanfaatkan semua faktor lingkungan tumbuhnya dengan optimal,
sehingga didapatkan tanaman tumbuh dengan subur dan seragam yang
akhirnya produksi dapat dicapai optimal pula. Dari hasil pengamatan tabel
dan grafik diatas, terlihat bahwa tinggi tanaman rata-rata/minggu tanaman
kacang tanah selalu bertambah. Pada minggu ke-1 sampai ke-7 penambahan
tinggi tanamannya masih tergolong konstan. Sedangkan pada minggu ke-8
sampai minggu ke-10 pertambahan tinggi sangat cepat. Pertumbuhan
tanaman pada kacang tanah dipengaruhi oleh ketersediaan air, unsur hara,
penyinaran matahari. Apabila ketersediaan air memadai akan memudahkan
benih untuk mengalami perkecambahan. Selain itu air tersebut dapat
melarutkan unsur hara yang terdapat pada tanah untuk diangkut pada
tanaman. Ketersediaan unsur hara juga mempengaruhi pada pertunasan dan
32

pertumbuhan tanaman. Pada lahan yang mengalami pemerataan pupuk akan


mendapatkan hasil yang sama dan maksimal pada tanaman tersebut.
Pupuk yang memiliki pengaruh tinggi pada pertumbuhan tanaman
saat vegetatif adalah pupuk N. Pada kacang tanah ini memiliki kemampuan
menambat unsur nitrogen bebas di udara, dengan bantuan adanya bintil akar
(bakteri rhizobium). Namun bintil akar akan membutuhkan energi untuk
menambat nitrogen tersebut dengan mengikat unsur mikro Mo(molybdenum)
pada tanah.
Tinggi tanaman pada minggu ke-9 mengalami pertumbuhan cukup
tinggi. Hal ini dikarenakan pada tanaman tersebut mengalami pertumbuhan
optimal untuk mendapatkan hasil fotosintesis yang cukup tinggi. Hasil
fotosintesis ini yang akan dijadikan sebagai energi untuk pembentukan bunga
pada kacang tanah. Bunga pada kacang tanah akan mengalami perundukan ke
tanah, sehingga menjadi polong kacang tanah. Apabila bunga yang dihasilkan
sedikit, maka jumlah polong yang dihasilkan tanaman tersebut sedikit.
Pertumbuhan vegetatif mengalami pertumbuhan yang lambat pada minggu
ke-10 sampai ke-11. Hal ini dikarenakan pada tanaman kacang tanah tersebut
konsentrasi terhadap pembentukan biji pada kacang tanah dan hasil
fotosintesis mulai dijadikan sebagai cadangan makanan pada biji tersebut.
Sehingga pertumbuhan vegetatif tidak maksimal.
Kerapatan tanaman, yang ditentukan oleh jarak tanam dalam barisan
dan antar barisan tanaman, akan mempengaruhi penampilan dan produksi
tanaman terutama karena keefisienan penggunaan cahaya. Pada umumnya,
produksi yang tinggi per satuan luas akan dicapai dengan populasi yang
tinggi, karena tercapainya penggunaan cahaya secara maksimum pada awal
pertumbuhan. Akan tetapi pada akhirnya, penampilan masing-masing
tanaman secara individu menurun karena persaingan terhadap cahaya dan
faktor-faktor tumbuh lainnya (Harjadi, 2002).
Tabel 4.10 Purata Tinggi Tanaman Kacang Tanah
Perlakuan Tinggi Tanaman (cm)
JI 27
J2 26
33

J3 22
J4 22
Sumber : Data Rekapitulasi

Gambar 4.4 Histogram Purata Tinggi Tanaman Kacang Tanah


Berdasarkan tabel dan histogram purata tinggi tanaman kacang tanah
diatas, dapat dilihat perlakuan yang menghasilkan tinggi tanaman paling baik
yaitu pada jarak tanam 25 x 15 cm yaitu sebesar 27 cm dan yang paling
pendek pada tanaman dengan jarak 25 x 25 dan 25 x 30 cm sebesar 22 cm.
Semakin luas jarak tanam yang digunakan maka tinggi tanaman akan semakin
kecil, akan tetapi jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi
tersebut. Hal ini terlihat dari perbedaan rata-rata tinggi tanaman tidak jauh
berbeda pada beberapa perlakuan.
Sebenarnya dengan jarak tanam lebar diperoleh populasi lebih
sedikit sehingga masing-masing tanaman memperoleh lebih banyak unsur
hara, air, dan sinar matahari, serta memiliki ruang gerak cukup luas untuk
pertumbuhan dan perkembangan akarnya.
Banyaknya populasi tanaman ini mempengaruhi pertumbuhan
tanaman kacang tanah, karena tanah memiliki bintil akar yang dapat
menambat unsur N bebas pada tanaman. Bintil akar yang terdapat pada
kacang tanah memiliki kemampuan fiksasi nitrogen sehingga dapat
mendukung atau menambah ketersediaan unsur hara N pada tanaman. Unsur
hara N pada tanaman memiliki peranan yaitu mempertingg pertumbuhan
34

vegetative dan warna daun lebih hijau, mempertinggi kandungan protein,


merangsang pertunasan, mengaktifkan mikrobia, menambah tinggi tanaman
dan mempertinggi kemampuan tanaman untuk menyerap unsur yang lain
seperti kalium, fosfor dan lainnya.
Tabel 4. 11 Anova Berat Brangkasan Kering Kacang Tanah pada perlakuan
jarak tanam
Sumber dB JK KT Fhit P
Keragaman
Ulangan 5 83722 16744 0,71 0,628
Perlakuan 3 127089 42363 1,79 0,193
Galat 15 355658 23711
Total 23 566469
NS : Non Signifikan
Sumber : Data Rekapitulasi
Berdasarkan tabel anova diatas memperlihatkan bahwa probabiliti
berat brangkasan kacang tanah lebih besar dari 0,005 sehingga dapat diartikan
bahwa perlakuan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap berat
brangkasan kacang tanah. Kemungkinan disebabkan belum adanya
persaingan antar individu tanaman dalam mendapatkan sinar matahari, unsur
hara, air dan CO2 sepanjang pertumbuhan tanaman kacang tanah tersebut.
Tabel 4. 12 Anova Berat Polong Isi Kacang Tanah pada perlakuan jarak
tanam
Sumber dB JK KT Fhit P
Keragaman
Ulangan 5 2511,7 502,3 2,09 0,123
Perlakuan 3 1521,5 507,2 2,11 0,142
Galat 15 3601,8 240,1
Total 23 7635,0
NS : Non Signifikan
Sumber : Data Rekapitulasi
Berdasarkan tabel anova diatas memperlihatkan bahwa probabiliti
berat polong isi lebih besar dari 0,005 sehingga dapat diartikan bahwa
pemberian perlakuan jarak tanam pada kacang tanah tidak berpengaruh nyata
pada berat polong isi kacang tanah. Menurut Mimbar (1990), dengan
meningkatnya kerapatan (jarak tanam sempit) maka penetrasi cahaya
matahari ke dalam tajuk akan berkurang. Akibatnya proses fotosintesis
35

menurun, sehingga dengan sendirinya akan mengurangi berat polong isi


kacang tanah.
Tabel 4. 13 Anova Berat Polong Hampa Kacang Tanah pada perlakuan jarak
tanam
Sumber dB JK KT Fhit P
Keragaman
Ulangan 5 369,21 73,84 3,02 0,044
Perlakuan 3 10,46 3,49 0,14 0,933
Galat 15 366,29 24,42
Total 23 745,96
NS : Non Signifikan
Sumber : Data Rekapitulasi
Berdasarkan tabel anova diatas memperlihatkan bahwa probabiliti
berat polong hampa kacang tanah lebih besar dari 0,005 sehingga dapat
diartikan bahwa pemberian perlakuan jarak tanam pada kacang tanah tidak
berpengaruh nyata berat polong hampa kacang tanah. Hal ini disebabkan
karena pada saat itu tanaman mengalami kekeringan, akibatnya proses
fotosintesis yang berlangsung tidak maksimal, sehingga hasil yang diperoleh
pun menjadi tidak maksimal.
Tabel 4.14 Anova Saat Berbunga Kacang Tanah pada perlakuan jarak tanam
Sumber
Keragaman dB JK KT F hitung P
Ulangan 5 1,208 0,242 0,18 0,968
Perlakuan 3 3,125 1,042 0,76 0,535
Galat 15 20,625 1,375
Total 23 24,958
NS : Non Signifikan
Sumber : Data Rekapitulasi
Berdasarkan tabel anova diatas memperlihatkan bahwa probabiliti
saat berbunga tanaman kacang tanah lebih besar dari 0,005 sehingga dapat
diartikan bahwa pemberian perlakuan jarak tanam pada kacang tanah tidak
berpengaruh nyata pada pembungaan. Hal ini dapat disebabkan karena
kekurangan cahaya. Saat cahaya rendah maka laju fotosintesis juga rendah,
sehingga cadangan makanan yang diperoleh hanya sedikit. Saat tanaman
dipacu pemupukan dengan formulasi untuk pembungaan, maka fisiologis
tanaman diransang untuk masuk pada tahap dimana fase generatif lebih
36

dominan. Akibatnya dengan cadangan makanan yang ada, pembentukan


bunga menjadi kurang maksimal.
3. Kacang Tunggak
Tabel 4.15 Hasil pengamatan jumlah cabang rata-rata/minggu tanaman
Kacang Tunggak
Minggu ke - Jumlah cabang
1 0 Sumber : Laporan
2 0 Sementara
3 0
4 0
5 0
6 0
7 0
8 2
9 4
10 7
11 7

Gambar 4.5 Grafik Jumlah Cabang rata-rata tanaman Kacang Tunggak


Pada tanaman tunggak ini yang diamati tiap minggunya adalah
pertambahan jumlah cabang tiap minggunya. Pada awal perkecambahan
tanaman kacang tunggak belum mengalami pertambahan atau pertumbuhan
cabang lateral pada tanaman tersebut. Sampai pada minggu ke-7 belum juga
menunjukan adanya cabang lateral. Munculnya cabang baru terlihat pada
minggu ke-8. Hal ini dapat disebabkan karena tanaman kacang tunggak ini
37

memang sengaja tidak diberi perlakuan pemangkasan pada pucuk tanaman.


Dapat dilihat bahwa jumlah cabang rata-rata/minggu tanaman tunggak
mengalami kenaikan mulai minggu ke-8 sampai minggu ke-10. Tetapi pada
minggu ke-11 (panen), tidak mengalami kenaikan jumlah cabang.
Pada grafik menunjukan adanya jumlah cabang yang stabil dari
minggu pertama hingga minggu ke-7. Hal ini disebabkan pada lahan ini tidak
diberi perlakuan pemangkasan tanaman kacang tunggak pada minggu
pertama setelah tanaman. Pada minggu ke-10 sampai minggu ke-11 jumlah
cabang kacang tunggak adalah 7, hal itu menunjukkan bahwa tanaman sudah
tidak bisa mengalami pertambahan jumlah cabang lateral yang menempel
pada cabang primer. Untuk minggu awal hingga minggu ke-11 tanaman
belum menunjukan munculnya bunga pada tanaman tersebut. Hal ini bisa
disebabkan karena terlalu banyaknya asupan unsur hara N pada tanaman
tersebut, sehingga tanaman tersebut mengalami keterlambatan untuk
memasuki fase generatif. Perlakuan pemangkasan ini memiliki tujuan untuk
mengurangi transpirasi dan dominasi apikal pada tanaman tersebut.
Tabel 4.16 Purata Jumlah Cabang Tanaman Kacang Tunggak
Perlakuan Jumlah Cabang
M0 9
M1 5
M2 5
M3 6
Sumber : Data Rekapitulasi

Gambar 4.6 Histogram Purata Jumlah Cabang Tanaman Kacang Tunggak


38

Berdasarkan tabel dan histogram purata jumlah cabang tanaman


kacang tunggak diatas, dapat dilihat perlakuan yang menghasilkan cabang
paling banyak yaitu pada tanaman yang tidak diberi perlakuan pemangkasan
yaitu sebanyak 9 dan yang paling sedikit pada tanaman yang diberi perlakuan
pemangkasan pada umur 14 hari setelah tanam dan 21 hari setelah tanam
yaitu sebanyak 5 cabang. Pada tanaman tanpa pemangkasan dapat diketahui
pertambahan jumlah cabang adalah 9, karena pada awal pertambahan jumlah
cabang hingga minggu ke-11 terjadi dominasi apikal tanaman tersebut.
Pemangkasan pucuk dapat menghilangkan dominansi apikal
sehingga muncul cabang baru. Namun dikaji dari penelitian-penelitian
sebelumnya, sebagian besar menunjukkan bahwa pemangkasan pucuk tidak
meningkatkan hasil dan bila terjadi peningkatan hasilnya sangat kecil.
Penambahan cabang baru akibat pemangkasan pucuk memerlukan pengaturan
jarak tanam baru yang optimum.
Tabel 4.17 Saat Berbunga Tanaman Kacang Tunggak
Saat Berbunga
Perlakuan
(MST)
M0 0
M1 0
M2 7
M3 0
Sumber : Data Rekapitulasi

Gambar 4.7 Histogram Saat Berbunga Tanaman Kacang Tunggak


39

Berdasarkan tabel dan histogram purata saat berbunga tanaman


kacang tunggak diatas, dapat dilihat perlakuan yang menghasilkan bunga
hanya pada pemangkasan pada umur 21 hari setelah tanam dan muncul bunga
pada minggu ke-7 setelah tanam.
Dapat diketahui juga adanya perkembangan tanaman yang lambat
pada perlakuan tanaman tanpa pemangkasan, pemangkasan minggu ke-1 dan
minggu ke-3 setelah tanam. Pemangkasan bertujuan untuk mengurangi
dominasi apikal. Proses penghambatan dominansi apikal dapat diketahui
dengan melihat banyaknya tunas lateral yang tumbuh di setiap ketiak daun
tanaman yang dipangkas dan jumlah bunga yang dihasilkan tanaman tersebut
dibandingkan dengan tanaman yang tidak dipangkas. Hal ini bisa juga bisa
dikarenakan pemangkasan pada tanaman kacang tunggak mempengaruhi
hormone florigen yang berfungsi untuk merangsang pembentukan bunga.
Tabel 4. 18 Anova Berat Brangkasan Kering Kacang Tunggak terhadap
perlakuan pemangkasan pucuk tanaman
Sumber dB JK KT Fhit P
Keragaman
Ulangan 5 19306 3861 0,45 0,808
Perlakuan 3 4663 1554 0,18 0,908
Galat 15 129123 8608
Total 23 153091
NS : Non Signifikan
Sumber : Data Rekapitulasi
Berdasarkan tabel anova diatas memperlihatkan bahwa probabiliti
berat brangkasan kering kacang tunggak lebih besar dari 0,005 sehingga
dapat diartikan bahwa pemberian perlakuan pemangkasan pada kacang
tunggak tidak berpengaruh nyata pada berat brangkasan kering. Hal ini dapat
disebabkan karena faktor luar, seperti kekeringan. Kekeringan akibat suhu
tinggi akan berdampak pada penguapan air yang tinggi pula. Cadangan air
(kelembaban) pada media yang minim akan cepat hilang karena penguapan.
Penguapan tidak hanya terjadi pada media (evaporasi) tetapi juga pada
permukaan tanaman kacang tunggak itu sendiri. Bila penguapan air
berlangsung terus menerus, maka tanaman akan kehilangan banyak air di
40

dalam selnya. Mengingat pentingnya air sebagai bahan baku fotosintesis,


maka secara langsung akan menurunkan hasil fotosintesis tersebut.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
A. Persiapan Lahan
• Pengolahan tanah dapat memperbaiki sifat biologi, kimia, dan fisika
tanah.
• Pengolahan tanah menyebabkan struktur dan tekstur tanahnya lebih baik.
• Pengolahan tanah bertujuan agar dapat menyediakan lahan yang siap
tanam dengan meningkatkan kondisi fisik tanah dengan merubahnya.
• Pupuk yang digunakan adalah N, P, K, di mana pupuk N diberikan
setengah dari dosis.
B. Pemilihan dan Kebutuhan Benih
• Daya kecambah benih jagung, kacang tanah dan kacang tunggak masing-
masing adalah 100%, 90%, dan 60%
• Kecepatan berkecambah pada tanaman jagung, kacang tanah dan kacang
tunggak adalah 90%, 20%, dan 0%.
• Kebutuhan benih per petak untuk tanaman jagung dengan luas lahan 2 x
3 m2 dan jarak tanam 40 x 50 cm adalah 30 benih, sedangkan kebutuhan
benih per petak untuk tanaman kacang tanah pada luas lahan yang sama
tetapi jarak tanam 25 x 15 cm adalah 160 benih. Dan pada tanaman
kacang tunggak yang ditanam pada luas lahan yang sama dengan jarak
tanam 25 x 30 cm, membutuhkan 80 benih per petak.
• Kenampakan fisik benih yang baik ditunjukkan dengan keadaan biji
mengkilat, tidak keriput, tidak cacat dengan warna normal.
• Keberadaan hama dan penyakit dapat mengganggu pertubuhan tanaman.
C. Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman
1. Jagung
41

• Awal pertumbuhan vegetatif tanaman jagung berjalan sangat


lambat, akan tetapi setelah delapan minggu pertumbuhan vegetatif
berjalan sangat cepat. Pertumbuhan vegetatif dimulai saat tanaman
40
mulai tumbuh atau berkecambah sampai mulai muncul bunga jantan.
• Pertumbuhan generatif dimulai saat muncul bunga jantan dan
bunga betina sampai proses penyerbukan, pembentukan dan
perkembangan tongkol serta saat tongkol siap untuk dipanen.
• Pemberian pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi
tanaman, berat total kering, berat tongkol dengan klobot, dan berat
tongkol tanpa klobot. Akan tetapi, jarak tanam berpengaruh nyata
terhadap saat muncul bunga.
2. Kacang Tanah
• Semakin luas jarak tanam yang digunakan maka tinggi tanaman
akan semakin kecil, akan tetapi jarak tanam tidak berpengaruh nyata
terhadap tinggi tersebut.
• Perubahan dari fase vegetatif menuju generatif pada tanaman
kacang tanah ini mulai tampak pada minggu ke sepuluh. Hal ini
dapat diketahui melalui perubahan tinggi tanaman yang agak
melambat pada minggu ini.
• Perlakuan jarak tanam kacang tanah tidak berpengaruh nyata
terhadap tinggi tanaman, berat brangkasan kering, berat polong isi,
berat polong hampa, dan saat muncul bunga. Kemungkinan
disebabkan tidak terjadi persaingan antar individu tanaman dalam
mendapatkan sinar matahari, unsur hara, air dan CO2 sepanjang
pertumbuhan tanaman jagung tersebut.
3. Kacang Tunggak
• Pada tanaman kacang tunggak yang tidak dilakukan pemangkasan
pucuk tanamannya akan menghasilkan jumlah cabang yang lebih
banyak dibandingkan dengan kacang tunggak yang dipangkas
pucuknya.
42

• Pemangkasan pucuk tanaman pada kacang tunggak tidak


berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang dan berat brangkasan
kering.
Saran
1. Diharapkan pada saat praktikum di lapang, baik praktikan maupun
co-ass dapat datang tepat waktu untuk pelaksanaan praktikum tersebut.
Sehingga dalam praktiknya tidak terlalu membuang waktu untuk melakukan
perlakuan pada tanaman tersebut.
2. Co-ass sebaiknya dapat mendampingi praktikan saat di lapangan
maupun di laboratorium. Hal ini dikarenakan, adanya praktikan yang kurang
paham dalam pelaksanaan praktikum tersebut.
43

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Membangun Kedaulatan Petani Atas Benih. SALAM, Majalah


Pertanian Berkelanjutan September 2007 No. 20 : 4-5.
_______. 2008. Pasca Panen. http://indonesia.go.id/produk. Diakses pada tanggal
25 Desember 2009 pukul 05.05 WIB.
_______. 2008. Cara Pemeliharaan Tanaman. http//www.indonext.com. Diakses
pada tanggal 25 Desember 2009 pukul 06.57 WIB.
_______.2009. Budidaya Kacang Tunggak.
http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/teknik-budidaya-
kacang-tunggak-teknik.html Diakses pada tanggal 27 Desember
2009 pukul 08.57 WIB.
Bewley J. D., and M. Black. 1983. Physiology and Biochemistry of Seed In
Relation to Germination. Springer Verdag, New York.
Curtis M, and Clark T. 1968. An Introduction to Plant Physiology. Mc. Graw Hill
Book Inc, New York.
Effendi, S. 1984. Bercocok Tanam Jagung. CV. Yasaguna. Jakarta. 94 hal.
Feakin, SD. 1973. Post Control in Groundnuts. London : Foreign and
Commonwealth Office Development Administration.
Goldsworthy, P.R. 1996. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman; Fase
Reproduktif. hal. 281-319. dalam P.R. Goldsworthy dan N.M.
Fischer (edt.). Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. GMU Press.
Handerson, S.M and R.L. Perry. 1982. Agricultural process engineering third
edition. The AVI Publishing Company Inc., Westport Connecticut.
Harjadi, S.S., 2002. Pengantar Agronomi Gramedia. Jakarta. 113 hal.
Lal, R 1994. Aplication of Green Manure in Horticulture. Journal of The Science
of Food and Agriculture. Prentice Hall International Inc. London.
McWilliams, D.A., D.R. Berglund, and G.J. Endres. 1999. Corn growth and
management quick guide. http://ag.ndsu.edu. Diakses pada tanggal
25 Desember 2009 pukul 05.39 WIB.
Mimbar, Saubari M., 1990). Pola Pertumbuhan dan Hasil Panen Jagung Hibrida
44

C- 1 Karena Pengaruh Pupuk N dan Kerapatan Populasi.Agriva


Vol.13, No.3 Agustus-Desember 1990. Universitas Brawijaya,
Malang. Hal.70-82.
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. Pustaka Jaya. Jakarta.
Nations, Allan. 1999. Allan’s Observation.
43 Stockman Grass Farmer. January
Press. hal. 12 – 14.
Ngarmsak, T. 1991. Development of cowpea product for utilization in the village
of Northeastern Thailand. In Uses of Tropical Grain Legumes
Procceding of a Consultant’s Meeting, 27-30 March 1989. Center
India, Pataneheru, A.P. 502-524, India.
Noordwijk, Meine. V, Kurniatun. H, Bambang. G, Yogi. S, Sunarto. I. 1996.
Biological Management of Soil Fertility for Sustainable Agriculture on
Acid Upland Soils in Lampung (Sumatera). J. Agrivita. Vol 19(4): 131 –
136.
Novizan. 2005. Petunjuk Pemupukan yang Efektif 5. PT. Agro Media Pustaka.
Jakarta. 114 hal.
Purwani, E.Y. and B.A.S. Santosa. 1994. Selected properties of four cultivars of
cowpeas (Vigna unguiculata) in Indonesia (unpublished).
Purwani, E.Y. and B.A.S. Santosa. 1995. Pemanfaatan dan Prospek
Pengembangan Kacang Tunggak di Indonesia. Balai Penelitian
Tanaman Padi. Jurnal Litbang Pertanian. Vol: XIV (2) : 27.
Rao, N.S, Subba.1994. Soil Microorganisms and Plant Growth. Oxford and IBM
Publishing Co. London.
Rosmarkam, Afandie & Nasih Widya Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah.
Kanisius, Yogyakarta.
Rukmana, R. dan Y. Y. Oesman. 2000. Kacang Tunggak, Budi Daya dan Prospek
Usaha Tani. Kanisius. Yogyakarta.
Setyati, Sri. 1991. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Somaatmadja, Sadikin. 1993. Kacang Tanah. Yasaguna. Jakarta.

Subekti N.A., Syafruddin, Roy Efendi dan Sri Sunarti. 2008. Morfologi Tanaman
dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia,
Maros hal. 23-24.
Suminarti, N, Edy. 2000. Pengaruh Jarak Tanam dan Defoliasi Daun Terhadap
Hasil Tanaman Jagung Varietas Bisma. J. Ilmiah Habitat. Vol:
11(10). Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
45

Supriyono.1996. Sekilas Budidaya dan Kualitas Hasil Kacang Tanah sebagai


Bahan Pangan. Caraka Tani. Vol: 12 : 27.
Tastra IK, Didik Harnowo, Erlian Ginting dan Satya Antarlina. 1993.Penanganan
Pasca Panen pada Kacang Tanah. Monograf Ballitan Malang No.
12 : 245-272.
Tohir. 2005. Konservasi Lahan Pertanian. Dalam http://indonext.com/report/.
Diakses pada tanggal 25 Desember 2009 pukul 04.20 WIB.
Wijonarko, Wasis. 2002. Pengaruh Dosis Kapur Dolomite dan Pupuk Fosfat
Terhadap Pertumbuhan Serta Hasil Kacang Tanah (Arachis
hypogaea L.) Varietas Singa pada Tanah Entisol.
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?
mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-wasis-4905-
entisol Diakses pada tanggal 27 Desember 2009 pukul 09.30 WIB.
Wiliams, C.N. 1991. Vegetable Production in The Tropics. University of Nigeria
Nsuka. Niger.
46

LAMPIRAN

45