Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Perikanan

adalah

kegiatan

manusia

yang

berhubungan

dengan

pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. Salah satu


pengelolaan sumberdaya hayati perairan adalah dengan budidaya perairan.
Pembudidayaan ikan adalah kegiatan untuk memelihara, membesarkan dan/atau
membiakkan ikan, dan memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol.
Usaha perikanan yang berupa produksi hasil perikanan melalui budi daya dikenal
sebagai perikanan budidaya atau budidaya perairan (aquaculture). Dalam proses
pengembangan

usaha

budidaya

perairan

khususnya

dalam

hal

perkembangbiakan organisme yang dibudiayakan, maka ada ilmu dan teknologi


tertentu yang harus dipahami (Bayu, 2010).
Genetika merupakan salah satu ilmu dasar yang penting untuk
menjelaskan berbagai pola pewarisan gen dalam populasi, genetik fenotip
kualitatif dan kuantitatif yang mengekspresikan sifat unggul dan landasan teori
dasar dari program seleksi ataupun program persilangan antara spesies atau
famili.

Bidang

pemuliaan

dan

reproduksi

ikan

merupakan

dasar

bagi

pengembangan produksi calon induk unggul yang dapat dipelajari melalui mata
kuliah genetika ikan. Gen dan kromosom ikan dipelajari untuk dimanfaatkan
keterkaitannya dengan seleksi fenotip kuantitatif dan fenotip kualitatif bagi teknik
breeding ikan untuk mendapatkan sifat-sifat superior yang diwariskan dari induk
dengan seleksi gen unggul kepada keturunannya. Mata kuliah genetika ikan ini
sebagai fondasi untuk pengembangan lebih lanjut pendalaman materi genetika
reproduksi ikan khususnya teknik selective breeding dan pemahaman terhadap

hubungan kekerabatan induk ikan secara genetik yang dimanfaatkan dalam


metode pemurnian induk ikan (Ibnu, 2011).
Hukum Mendel mengenai pewarisan sifat memberikan dasar kualitatif
bagi genetika. Sifat yang nampak keluar dapat dibedakan atas sifat kualitatif dan
sifat kuantitatif. Sifat dapat dibedakan secara tegas atau diskrit, karena
dikendalikan oleh gen sederhana, sedangkan sifat kuantitatif tidak dapat
dibedakan secara tegas karena dikendalikan oleh banyak gen sehingga kalau
dibuat distribusinya akan menunjukkan distribusi continue (Kusumah, 2012).
Sifat kualitatif adalah sifat yang secara kualitatif berbeda sehingga mudah
dikelompokkan dan biasanya dinyatakan dalam kategori, Sifat ini yang menjadi
obyek penelitian Mendel sehingga tercipta hukumnya yang terkenal dengan
Genetika Mendel menyangkut segregasi, rekombinasi, linkage, interaksi non alel
dan lain-lain yang dapat menyebabkan berhasil tidaknya hibridisasi (Kusumah,
2012).
Berdasarkan Uraian diatas, maka praktikum mengenai kasus genetika
kualitatif pada ikan perlu dilakukan agar mahasiswa dapat memahami Hukum
pewarisan sifat yang dikemukakan oleh Mendel serta dapat menerapkannya
dalam bidang budidaya perairan.
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum Dasar-Dasar Genetika mengenai Kasus Genetika
Kualitatif pada Ikan yaitu menganalisis beberapa kasus dalam genetika kualitatif
dan bagaimana secara genetik hal tersebut terjadi.
Kegunaan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui
hereditas suatu organisme dalam genetika kualitatif dan bagaimana secara
genetik hal tersebut terjadi melalui Hukum Mendel I dan II.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hukum Mendel I dan II


Hukum pewarisan Mendel adalah hukum mengenai pewarisan sifat pada
organisme yang dijabarkan oleh Gregor Johann Mendel dalam karyanya
'Percobaan mengenai Persilangan Tanaman'. Hukum ini terdiri dari dua bagian
(Pratama dkk, 2010):
1. Hukum pemisahan (segregation) dari Mendel, juga dikenal sebagai
Hukum Pertama Mendel, dan
2. Hukum berpasangan secara bebas (independent assortment) dari
Mendel, juga dikenal sebagai Hukum Kedua Mendel
Hukum segregasi bebas menyatakan bahwa pada pembentukan gamet
(sel kelamin), kedua gen induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan
memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima satu gen dari induknya. Secara
garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok (Pratama dkk, 2010):
1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada
karakter turunannya. Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel
resisif (tidak selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil,
misalnya w dalam gambar di sebelah), dan alel dominan (nampak dari
luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya
ww dalam gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR
dalam gambar di sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Sb dan sB pada
gambar 2), alel dominan (S atau B) akan selalu terekspresikan (nampak
secara visual dari luar). Alel resesif (s atau b) yang tidak selalu

terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada


turunannya.
Hukum kedua Mendel menyatakan bahwa bila dua individu mempunyai
dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas,
tidak bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan
gen sifat yang berbeda tidak saling mempengaruhi (Pratama dkk, 2010).
Masalah penurunan sifat atau hereditas mendapat perhatian banyak
peneliti. Peneliti yang paling popular adalahGregor Johann Mendel yang lahir
tahun 1822 di Cekoslovakia. Pada tahun 1842, Mendel mulai mengadakan
penelitian dan meletakkan dasar-dasar hereditas. Ilmuwan dan biarawan ini
menemukan

prinsip-prinsip

dasar

pewarisan

melalui

percobaan

yang

dikendalikan dengan cermat dalam pembiakan silang. Penelitian Mendel


menghasilkan hukum Mendel I dan II. Mendel melakukan persilangan monohibrid
atau persilangan satu sifat beda, dengan tujuan mengetahui pola pewarisan sifat
dari

tetua kepada generasi berikutnya. Persilangan ini untuk membuktikan

hukumMendel I yang menyatakan bahwa pasangan alel pada proses


pembentukkan sel gamet dapat memisah secara bebas (Rahman, 2013).
Hukum Mendel I disebut juga dengan hukum segregasi. Mendel
melanjutkan persilangan dengan menyilangkan tanaman dengan dua sifat beda,
misalnya warna bunga dan ukuran tanaman. Persilangan dihibrid juga
merupakan bukti berlakunya hukum Mendel II berupa pengelompokkan gen
secara bebas saat pembentukkan gamet. Persilangan dengan dua sifat beda
yang lain juga memiliki perbandingan fenotip F2 sama, yaitu 9 : 3 : 3 : 1.
Berdasarkan penjelasan pada persilangan monohibrid dan dihibrid tampak
adanya hubungan antara jumlah sifat beda, macam gamet, genotip, dan fenotip
beserta perbandingannya (Rahman, 2013).

Persilangan

monohibrid

yang

menghasilkan

keturunan

dengan

perbandingan F2, yaitu 1 : 2 : 1 merupakan bukti berlakunya hukum Mendel I


yang dikenal dengan nama Hukum Pemisahan Gen yang Sealel (The Law of
Segregation

of

Allelic

Genes).

Sedangkan

persilangan

dihibrid

yang

menghasilkanketurunan dengan perbandingan F2, yaitu 9 : 3 : 3 : 1 merupakan


bukti berlakunya Hukum Mendel II yang disebut Hukum Pengelompokkan Gen
secara Bebas (The Law Independent Assortment of Genes). Dengan mengikuti
secara saksama hasil percobaan

Mendel, baik pada persilangan monohibrid

maupun dihibrid maka secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa gen itu
diwariskan dari induk

atau orang tua kepada keturunannya melalui gamet

(Rahman, 2013).
Persilangan monohibrida adalah persilangan sederhana yang hanya
memperhatikan satu sifat atau tanda beda. Sedangkanpersilangan dihibrida
merupakan perkawinan dua individu dengan dua tanda beda. Persilangan ini
dapat membuktikan kebenaran Hukum Mendel II yaitu bahwa gen-gen yang
terletak pada kromosom yang berlainan akan bersegregasi secara bebas dan
dihasilkan empat macam fenotip dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1.
kenyataannya, seringkali terjadi penyimpangan atau hasil yang jauh dari harapan
yangmungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya interaksi gen,
adanya gen yang bersifat homozigot letal dan sebagainya (Rahman, 2013).
Hukum Mendel mengenai pewarisan sifat memberikan dasar kualitatif
bagi genetika. Sebagaimana kita ketahui, secara garis besar, setiap organisme
memiliki dua komponen utama penyusun genetika dasarnya, yaitu komponen
yang berperan dalam pewarisan sifat dan komponen yang berperan dalam
ekspresi karakter spesifik. Kedua komponen tersebut akan membawa kita pada
pemahaman terhadap arsitektur genetika dari berbagai karakter seluruh
organisme. Karakter-karakter yang sederhana (misalnya tinggi tanaman)

biasanya memiliki heritabilitas yang tinggi dan dikendalikan oleh sedikit gen
dengan efek yang besar Genetika untuk karakter-karakter yang sederhana
seringkali dipelajari secara individual (Edmeades et al, 2004 dalam Lina, 2013).
Manfaat Genetika Fenotif Kualitatif sebagai berikut (Kesuma, 2013):
1.

Agar kita dapat mengetahui sifat-sifat keturunan kita sendiri atau setiap
makhluk yang berada disekitar lingkungan kita

2.

Memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat tentang pengertian dari


genetika fenotif kualitatif serta komponen apa saja yang menyusun genetika
fenotif kualitatif

3.

Menyusun dan menentukan program hibridisasi (kawin silang) sehingga


mendapatkan keturunan yang memiliki sifat-yang baik (bibit unggul)

4.

Meningkatkan produksi melalui penyeleksian berdasarkan kualitasnya

5.

Mengeliminir (membuang) allel (sifat) yang dapat menurunkan produktifitas


dan mengambil allel yang dapat meningkatkan produktifitasnya

6.

Mengetahui sifat-sifat fenotif yang diturunkan dari induk ke anaknya

7.

Mendapatkan individu dengan sifat-sifat fenotif (warna, bentuk, sirip, tipe


sisik, dll) yang kita inginkan

8.

Meningkatkan nilai jual suatu organisme dengan jalan merubah sifat


fenotifnya

9.

Merekayasa organisme sehingga dapat dibudidayakan dilingkungan yang


bukan habitat aslinya.
Penyimpangan-Penyimpangan yang Terdapat dalam Hukum Mendel
Penyimpangan semu ini terjadi karena adanya 2 pasang gen atau lebih

saling

memengaruhi

dalam

memberikan

disebut interaksi gen, yaitu (Suparmuji, 2009):


a. Komplementer

fenotipe

pada

suatu

individu

Komplementer adalah peristiwa dua gen dominan saling memengaruhi


atau melengkapi dalam mengekspresikan suatu sifat. Komplementer adalah gengen yang berinteraksi dan saling melengkapi. Jika salah satu gen dominan tidak
ada, maka ekspresi suatu karakter tidak sempurna atau terhalang. Contoh :
bunga kacang (Lathirus odoratus) (Pamungkas, 2012):
Notasi :
Gen C = menumbuhkan zat bahan mentah pigmen
Gen c = tidak menumbuhkan pigmen
Gen P = menumbuhkan enzim pengaktif pigmen
Gen p = tidak menumbuhkan enzim

C-P-

= ungu

C-pp

= putih

ccPP

= putih

ccpp

= putih

Maka pada F2 akan didapatkan ratio fenotip ungu : putih = 9 : 7


b. Kriptomeri
Kriptomeri adalah peristiwa suatu faktor dominan yang baru tampak
pengaruhnya apabila bertemu dengan faktor dominan lain yang bukan alelnya.
Faktor dominan ini seolah-olah tersembunyi (kriptos).
Kriptomeri adalah sifat gen dominan yang tersembunyi, jika gen dominan
tersebut berdiri sendiri, tetapi bila bersama-sama dangan gen dominan lainnya,
maka sifatnya akan tampak. Contoh: Linaria maroccana (Pamungkas, 2012):
Notasi :
Gen A = mengandung antosianin
Gen a = tidak mengandung antosianin
Gen B = plasma sel bersifat basa

Gen b = plasma sel bersifat asam

A-bb

= bunga merah

aaB-

= bunga putih

aabb

= bunga putih

A-B-

= bunga ungu

Maka pada F2 akan dihasilkan ratio fenotip ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4


c. Epistasis dan Hipostasis
Epistasis-hipostasis adalah peristiwa dengan dua faktor yang bukan
pasangan alelnya dapat memengaruhi bagian yang sama dari suatu organisme.
Namun, pengaruh faktor yang satu menutup ekspresi faktor lainnya.
Modifikasi nisbah 9 : 3 : 3 : 1 disebabkan oleh peristiwa yang dinamakan
epistasis, yaitu penutupan ekspresi suatu gen nonalelik. Jadi, dalam hal ini suatu
gen bersifat dominan terhadap gen lain yang bukan alelnya. Ada beberapa
macam epistasis, masing-masing menghasilkan nisbah fenotipe yang berbeda
pada generasi F2.
Epistasis resesif
Peristiwa epistasis resesif terjadi apabila suatu gen resesif menutupi
ekspresi gen lain yang bukan alelnya. Akibat peristiwa ini, pada generasi F2
akan diperoleh nisbah fenotipe 9 : 3 : 4.
Contoh epistasis resesif dapat dilihat pada pewarisan warna bulu mencit
(Mus musculus). Ada dua pasang gen nonalelik yang mengatur warna bulu pada
mencit, yaitu gen A menyebabkan bulu berwarna kelabu, gen a menyebabkan
bulu berwarna hitam, gen C menyebabkan pigmentasi normal, dan gen c
menyebabkan tidak ada pigmentasi. Persilangan antara mencit berbulu kelabu
(AACC) dan albino (aacc) dapat digambarkan seperti pada diagram berikut ini.

P : AACC x aacc
kelabu

albino

F1 :

AaCc
kelabu

F2 : 9 A-C-

kelabu

3 A-cc

albino

3 aaC-

hitam

1 aacc

albino

kelabu : hitam : albino =


9

Gambar 2.7. Diagram persilangan epistasis resesif

Epistasis dominan
Pada peristiwa epistasis dominan terjadi penutupan ekspresi gen oleh
suatu gen dominan yang bukan alelnya. Nisbah fenotipe pada generasi F2
dengan adanya epistasis dominan adalah 12 : 3 : 1.
Peristiwa epistasis dominan dapat dilihat misalnya pada pewarisan warna
buah waluh besar (Cucurbita pepo). Dalam hal ini terdapat gen Y yang
menyebabkan buah berwarna kuning dan alelnya y yang menyebabkan buah
berwarna hijau. Selain itu, ada gen W yang menghalangi pigmentasi dan w yang
tidak menghalangi pigmentasi.

Persilangan antara waluh putih (WWYY) dan

waluh hijau (wwyy) menghasilkan nisbah fenotipe generasi F2 sebagai berikut.


P : WWYY

putih

hijau

F1 :

WwYy
putih

F2 :

wwyy

9 W-Y- putih

3 W-yy putih

putih : kuning : hijau =

3 wwY- kuning

12

1 wwyy hijau
Gambar 2.7. Diagram persilangan epistasis dominan
Epistasis resesif ganda
Apabila gen resesif dari suatu pasangan gen, katakanlah gen I, epistatis
terhadap pasangan gen lain, katakanlah gen II, yang bukan alelnya, sementara
gen resesif dari pasangan gen II ini juga epistatis terhadap pasangan gen I, maka
epistasis yang terjadi dinamakan epistasis resesif ganda.

Epistasis ini

menghasilkan nisbah fenotipe 9 : 7 pada generasi F2.


Sebagai contoh peristiwa epistasis resesif ganda dapat dikemukakan
pewarisan kandungan HCN pada tanaman Trifolium repens. Terbentuknya HCN
pada tanaman ini dapat dilukiskan secara skema sebagai berikut.
gen L

gen H

Bahan dasar

enzim L

glukosida sianogenik

enzim H

HCN

Gen L menyebabkan terbentuknya enzim L yang mengatalisis perubahan bahan


dasar

menjadi bahan antara

berupa glukosida sianogenik.

Alelnya,

l,

menghalangi pembentukan enzim L. Gen H menyebabkan terbentuknya enzim H


yang mengatalisis perubahan glukosida sianogenik menjadi HCN, sedangkan
gen h menghalangi pembentukan enzim H. Dengan demikian, l epistatis terhadap
H dan h, sementara h epistatis terhadap L dan l. Persilangan dua tanaman
dengan kandungan HCN sama-sama rendah tetapi genotipenya berbeda (LLhh
dengan llHH) dapat digambarkan sebagai berikut.
P:

LLhh

HCN rendah

F1 :

LlHh

llHH
HCN rendah

HCN tinggi
F2 : 9 L-H-

HCN tinggi

3 L-hh

HCN rendah

3 llH-

HCN rendah

1 llhh

HCN tinggi : HCN rendah =


9

HCN rendah
Gambar 2.8. Diagram persilangan epistasis resesif ganda

Epistasis dominan ganda


Apabila gen dominan dari pasangan gen I epistatis terhadap pasangan gen
II yang bukan alelnya, sementara gen dominan dari pasangan gen II ini juga
epistatis terhadap pasangan gen I, maka epistasis yang terjadi dinamakan
epistasis dominan ganda. Epistasis ini menghasilkan nisbah fenotipe 15 : 1 pada
generasi F2.
Contoh peristiwa epistasis dominan ganda dapat dilihat pada pewarisan
bentuk buah Capsella. Ada dua macam bentuk buah Capsella, yaitu segitiga dan
oval. Bentuk segitiga disebabkan oleh gen dominan C dan D, sedang bentuk oval
disebabkan oleh gen resesif c dan d. Dalam hal ini C dominan terhadap D dan d,
sedangkan D dominan terhadap C dan c.
P:

CCDD

segitiga

ccdd
oval

F1 :

CcDd
Segitiga

F2 : 9 C-D-

segitiga

3 C-dd

segitiga

3 ccD-

segitiga

1 ccdd

segitiga : oval = 15 : 1

oval

Gambar 2.9. Diagram persilangan epistasis dominan ganda

Epistasis domian-resesif
Epistasis dominan-resesif terjadi apabila gen dominan dari pasangan gen I
epistatis terhadap pasangan gen II yang bukan alelnya, sementara gen resesif
dari pasangan gen II ini juga epistatis terhadap pasangan gen I. Epistasis ini
menghasilkan nisbah fenotipe 13 : 3 pada generasi F2.
Contoh peristiwa epistasis dominan-resesif dapat dilihat pada pewarisan
warna bulu ayam ras. Dalam hal ini terdapat pasangan gen I, yang menghalangi
pigmentasi, dan alelnya, i,

yang tidak menghalangi pigmentasi. Selain itu,

terdapat gen C, yang menimbulkan pigmentasi, dan alelnya, c, yang tidak


menimbulkan pigmentasi. Gen I dominan terhadap C dan c, sedangkan gen c
dominan terhadap I dan i.
P:

IICC

putih

iicc
putih

F1 :

IiCc
Putih

F2 : 9 I-C3 I-cc

putih
putih

3 iiC-

berwarna

1 iicc

putih

putih : berwarna = 13 : 3

Gambar 2.10. Diagram persilangan epistasis dominan-resesif


Epistasis gen duplikat dengan efek kumulatif
Pada Cucurbita pepo dikenal tiga macam bentuk buah, yaitu cakram, bulat,
dan lonjong. Gen yang mengatur pemunculan fenotipe tersebut ada dua pasang,
masing-masing B dan b serta L dan l. Apabila pada suatu individu terdapat
sebuah atau dua buah gen dominan dari salah satu pasangan gen tersebut,
maka fenotipe yang muncul adalah bentuk buah bulat (B-ll atau bbL-). Sementara
itu, apabila sebuah atau dua buah gen dominan dari kedua pasangan gen
tersebut berada pada suatu individu, maka fenotipe yang dihasilkan adalah

bentuk buah cakram (B-L-). Adapun fenotipe tanpa gen dominan (bbll) akan
berupa buah berbentuk lonjong. Pewarisan sifat semacam ini dinamakan
epistasis gen duplikat dengan efek kumulatif.
P:

BBLL

cakram

bbll
lonjong

F1 :

BbLl
Cakram

F2 : 9 B-L-

cakram

3 B-ll

bulat

3 bbL-

bulat

1 bbll

lonjong

cakram : bulat : lonjong = 9 : 6 : 1

Gambar 2.11. Diagram persilangan epistasis gen duplikat dengan


efek kumulatif
d. Polimeri
Polimeri adalah peristiwa dengan beberapa sifat beda yang berdiri sendiri
memengaruhi bagian yang sama dari suatu

individu. Polimeri adalah

pembastaran heterozigot dengan banyak sifat beda yang masing-masing berdiri


sendiri, tetapi mempengaruhi bagian yang sama pada suatu organisme. Contoh :
warna biji gandum (Pamungkas, 2012).
Notasi :
Gen M = merah
Gen m = putih
Maka pada F2 akan didapatkan ratio fenotip merah : putih = 15 : 1
e. Atavisme

Atavisme adalah munculnya suatu sifat sebagai akibat interaksi dari


beberapa gen. Contoh : pial ayam
Ada 4 macam bentuk pial pada ayam :

Ros (gerigi), terdapat pada ayam Wyaandotte.

Gen : R-pp

Pea (biji), terdapat pada ayam Brahma

Gen : rrP

Walnut (sumpel), teradapat pada ayam Malaya.

Gen : R-P

Tunggal (bilah), terdapat pada ayam Leghorn.

Gen : rrpp
5. Pola-Pola Hereditas
Penyimpangan terhadap Hukum Mendel juga disebabkan oleh adanya
tautan dan pindah silang, determinan seks, tautan seks, kegagalan berpisah, dan
gen letal.
a. Tautan dan Pindah Silang
Pada saat meiosis inilah terjadi peristiwa tautan dan pindah silang. Tautan
adalah peristiwa ketika gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama dapat
memisahkan diri secara bebas waktu pembelahan meiosis. Pindah silang adalah
peristiwa bertukarnya bagian kromosom satu dengan kromosom lainnya yang
homolog, ataupun dengan bagian kromosom yang berbeda (bukan homolognya).
a)

Tentukan rasio fenotif F2!

b)

Tentukan persentase kombinasi parental (KP)!

c)

Tentukan persentse rekombinasi (RK)


Penyelesaian:

P1

KKPP (kelabu, panjang)

Gamet :

KP

F1

KkPp (kelabu, panjang)

P2

KkPp

pendek)

testcross

Gamet :
F2

><

kkpp (hitam, pendek)


kp

(kelabu,

panjang)

KP, kp (tertaut)

><

kkpp

(hitam,

kp

Kp

KP

Kp

KkPp (kelabu,
panjang)

kkpp (hitam, pendek)

a)

Rasio fenotif F2: kelabu, panjang : hitam, pendek = 1 : 1

b)

Jumlah genotif parental pada F2 = 2 (KkPp dan kkpp), sehingga %KP = 2/2
x 100% = 100%

c)

Karena tidak ada genotif baru, maka tidak ada rekombinasi, sehingga %RK
= 0%
Simpulan:
Jika KP > 50% atau RK < 50%, maka terjadi tautan
Jika KP = RK = 50%, maka gen terletak pada kromosom berlainan.
Nilai pindah silang adalah angka yang menunjukkan persentase rekombinasi
dari hasil persilangan.

6. Gen letal

Gen letal ialah gen yang dapat mengakibatkan kematian pada individu
homozigot. Kematian ini dapat terjadi pada masa embrio atau beberapa saat
setelah kelahiran. Akan tetapi, adakalanya pula terdapat sifat subletal, yang
menyebabkan kematian pada waktu individu yang bersangkutan menjelang
dewasa (Suparmuji, 2009).
Ada dua macam gen letal, yaitu gen letal dominan dan gen letal resesif.
Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek subletal
atau kelainan fenotipe, sedang gen letal resesif cenderung menghasilkan
fenotipe normal pada individu heterozigot (Suparmuji, 2009).
Peristiwa letal dominan antara lain dapat dilihat pada ayam redep
(creeper), yaitu ayam dengan kaki dan sayap yang pendek serta mempunyai
genotipe heterozigot (Cpcp). Ayam dengan genotipe CpCp mengalami kematian
pada masa embrio. Apabila sesama ayam redep dikawinkan, akan diperoleh
keturunan dengan nisbah fenotipe ayam redep (Cpcp) : ayam normal
(cpcp) =

2 : 1.

Hal ini karena ayam dengan genotipe CpCp tidak

pernah ada (Suparmuji, 2009).


Sementara itu, gen letal resesif misalnya adalah gen penyebab albino pada
tanaman jagung. Tanaman jagung dengan genotipe gg akan mengalami
kematian setelah cadangan makanan di dalam biji habis, karena tanaman ini
tidak mampu melakukan fotosintesis sehubungan dengan tidak adanya khlorofil.
Tanaman Gg memiliki warna hijau kekuningan, sedang tanaman GG adalah hijau
normal. Persilangan antara sesama tanaman Gg akan menghasilkan keturunan
dengan nisbah fenotipe normal (GG) : kekuningan (Gg) = 1 : 2 (Suparmuji, 2009).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat


Praktikum Kasus Genetika Kualitatif pada ikan ini dilakukan pada hari
Selasa, 14 Oktober 2014, pukul 14.00-15.30 WITA, bertempat di Laboratorium
Pengelolaan Lingkungan Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan
dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Buku Ajar
Dasar-Dasar Genetika Ikan dan soal pemahaman genetika yang berisi:
1. Ikan mas berpigmen normal dikawinkan dengan ikan mas bergaris kuning
pada spinal dorsal. Persentase fenotip dominan dan resesif yang muncul
adalah?
2. Ikan guppy spina normal abu-abu dikawinkan dengan ikan guppy spina
bengkok blondi. Berapa persen didapatkan spina normal blondi?
3. Ikan cupang (Siamese fighting fish) warna biru gelap dikawainkan dengan
warna hijau. Berapa yang menghasilan warna biru logam?
4. Ikan cupang biru mengkilat dikawinkan dengan ikan cupang hijau.
Bagaimana hasil rasio progeni untuk genotip dan fenotipnya. Mana yang
merupakan galur murni?
5. Ikan rainbow trout

golden dipijahkan

dengan ikan rainbow trout

palomino.Lengkapi (%) bahwa pigmen golden menjadi galur murni


dibandingkan palomino.
6. Ikan guppy GgCucu dikawinkan ikan guppy Ggcucu. Ada berapa
perbedaan fenotip yang muncul?
7. Stok ikan molly didomestikasi dengan warna MMNn; MmNN; mmNN.
Fenotip yang muncul adalah?
Prosedur Kerja

Adapun metode yang dilakukan pada praktikum ini adalah dengan


menjawab 7 soal yang diberikan sebagai data dengan mengacu pada tabel
fenotip yang dipengaruhi oleh gen tunggal otosom dengan aksidominan lengkap
dan tabel genetika kualitatif dari buku Dasar-Dasar Genetika Ikan.
Langkah dalam proses mengerjakan soal tersebut adalah:
1. Menentukan parental dari masing-masing individu
2. Menentukan fenotipe dan gamet pada masing-masing individu
3. Menentukan hasil persilangan berupa F1
4. Menentukan hasil persilangan berupa F2
5. Menentukan hasil rasio fenotipe dan genotipe
6. Menghitung hasil persentase persilangan dengan rumus
../16 x 100%

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
1. Ikan Mas berpigmen Normal dikawinkan dengan Ikan Mas bergaris
Kuning pada Spinal Dorsal
P : DD
F1 :

><

dd

DD

Dd

Dd

dd

Rasio genotip : 1 DD : 2 Dd : 1 dd
Rasio fenotip

: 3 Normal : 1 Bergaris kuning


: 75 % normal : 25 % bergaris kuning

2. Ikan Guppy Spina Normal Abu-Abu dikawinkan dengan Ikan Guppy


Spina Bengkok Blondi
P

F1

F2

SnB

><

Scb

Scb

Scb

SnB
SnB

SnScBb
SnScBb

SnScBb
SnScBb

: SnScBb >< SnScBb


SnB
SnB SnB SnB
ScB SnB ScB
Snb SnB Snb
Scb SnB Scb

ScB
ScB SnB
ScB ScB
Snb ScB
ScB Scb

Snb
Snb SnB
Snb ScB
Snb Snb
Snb Scb

Scb
Scb SnB
Scb ScB
Snb Scb
Scb Scb

Diketahui bahwa genotip ikan guppy spina normal blondi adalah Snb, jadi
dari persilangan tersebut yang menghasilkan genotip ikan guppy spina normal
blondi yaitu SnbSnb, SnbScb, dan SbScb.
Ada 3 genotip yang menghasilkan genotip ikan guppy spina normal blondi:
3/16 x 100% = 18, 75 %
Jadi yang didapatkan spina normal blondi sebesar 18,75%.

3. Ikan Cupang (Siamese Fighting Fish) Warna Biru Gelap dikawinkan


dengan Warna Hijau.
P
F1

:
:

VV

><

vv

VV

Vv

Vv

vv

Rasio genotip : 1 VV : 2 Vv : 1 vv
Rasio fenotip : 1 Biru gelap : 2 biru logam : 1 hijau
Jadi yang menghasilkan Ikan Biru Logam adalah 2/4 x 100 = 50 %

4. Ikan Cupang Biru Mengkilat dikawinkan dengan Ikan Cupang Hijau


P
F1

:
:

VV ><

vv

Vv

Vv

Vv

Vv

Rasio genotip : 4 Vv
Rasio fenotip : 100 % heterozigot (tidak ada galur murni)
F2

:
V

VV

Vv

Vv

vv

Rasio genotip : 1 VV : 2 Vv : 1 vv
Rasio fenotip : 3 : 1
Rasio progeni:
Ragam silangan
SB (Vv) x Hi (Vv)

Rasio genotip
1 VV : 2 Vv : 1 vv

Rasio fenotip
1 Biru Mengkilat : 2 biru : 1 hijau

Jadi yang merupakan galur murni adalah 1 VV (ikan Biru Mengkilat) dan 1 vv
(Ikan Hijau)
5.

Ikan Rainbow trout golden dipijahkan dengan ikan Rainbow trout

palomino.
:

GG

GG ><

F1 :
G

GG

GG

GG

GG

Rasio genotip : 2 GG : 2 GG
Pigmen Golden
G

GG

GG

GG

GG

100% galur murni rainbow trout golden

Pigmen Palomino
G

GG

GG

GG

GG

25% galur murni golden


50% galur murni palomino

Rasio fenotip : 1 Pigmentasi normal : 2 Palomino : 1 keemasan


Persentase : 25% ikan pigmentasi normal, 50% ikan rainbow trout Palomino
dan 25% ikan rainbow trout golden.
Jadi, 25% yang merupakan Ikan rainbow trout golden adalah galur murni.

6. Ikan guppy GgCucu dikawinkan ikan guppy Ggcucu


P

F1

GgCucu

><

Ggcucu

Gcu

Gcu

gcu

gcu

GCu

Gcu GCu

Gcu GCu

gcu GCu

gcu GCu

gCu

Gcu gCu

Gcu gCu

gcu gCu

gcu gCu

Gcu

Gcu Gcu

Gcu Gcu

gcu Gcu

gcu Gcu

gcu

Gcu gcu

Gcu gcu

gcu gcu

gcu gcu

Rasio genotipe : 2 GGCucu : 4 GgCucu : 2 ggCucu : 2 GGcucu : 4 Ggcucu :


2 ggcucu

Rasio fenotipe : 2 abu abu duri punggung normal : 4 abu abu duri punggung
normal

: 2 emas duri punggung normal : 2 abu abu duri

punggung bengkok : 4 abu abu duri punggung bengkok : 2


emas duri punggung bengkok.
Jadi perbedaan fenotip yang muncul ada 4 yaitu abu abu duri punggung
normal, emas duri punggung normal, abu abu duri punggung bengkok, dan emas
duri punggung bengkok.
7. Stok ikan molly didomestikasi dengan warna MMNn; MmNN; mmNN.
Genotip MMNn (3 gen +)
Genotip MmNN (3 gen +).
Genotip mmNN (2 gen +).
Dengan aksi gen aditif meskipun terdapat jumlah gen plus yang sama
maka ikan-ikan tersebut masih dapat dibedakan fenotipnya, khususnya pada usia
muda. Pada usia dewasa (mature), maka bila genotip memiliki jumlah gen plus
sama akan memberikan fenotip yang sama.Genotip MMNn dan MmNN memiliki
jumlah gen plus yang sama maka akan memiliki fenotip yang sama. Sedangkan
mmNN memiliki jumlah gen plus berbeda sehingga akan menghasil genotip yang
berbeda dari genotip MMNn dan MmNN.
Fenotip yang muncul dari genotip MMNn dan MmNN yaitu hitam agak
gelap dan iris hitam, setelah dewasa semua hitam gelap dan sedangkan fenotip
yang muncul dari genotip mmNN yaitu bertitik-titik hitam, iris terang setelah
dewasa titik hitam menjadi lebih lengkap (Schroder, 1976 dalam Fujaya 2005).
Pembahasan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan hasil persilangan
dalam menentukan kasus yang terjadi pada genetika kualitatif ikan. Dengan
mengerjakan dan menjawab soal yang diberikan sebagai bahan dalam praktikum

ini maka akan diketahaui bagaimana persilangan suatu jenis ikan terjadi, serta
dapat menentukan jenis ikan hasil persilangan serta menentukan hasil yang
terjadi pada genetika kualitatif ikan.
Sifat kualitatif adalah sifat yang secara kualitatif berbeda sehingga mudah
dikelompokkan dan biasanya dinyatakan dalam kategori, Sifat ini yang menjadi
obyek penelitian Mendel sehingga tercipta hukumnya yang terkenal dengan
Genetika Mendel menyangkut segregasi, rekombinasi, linkage, interaksi non alel
dan lain-lain yang dapat menyebabkan berhasil tidaknya hibridisasi (Kusumah,
2012).
Dari perhitungan pada kasus genetika kualitatif dari hasil nomor satu
bahwa Ikan mas berpigmen normal dikawinkan dengan ikan mas bergaris kuning
pada spinal dorsal menghasilkan 25% ikan dengan garis kuning pada spinal
dorsal. Diketahui bahwa ikan mas bergaris kuning pada spinal dorsal bersifat
resesif, sehingga yang diperoleh yaitu persentase fenotip dominan adalah 75%
sedangkan persentase fenotip resesif adalah 25%.
Pada soal nomor dua diketahui bahwa, Ikan guppy spinal normal abu-abu
dikawinkan dengan ikan guppy spinal bengkok blondi. Persilangan ini merupakan
persilangan dihibrid, dimana persilangan menggunakan dua sifat yang beda.
Parental dari masing-masing induk adalah SnB dan Scb. Kemudian disilangkan
menghasilkan F1 berupa SnScBb. Lalu hasil F1 disilangkan kembali untuk
menghasilkan F2. Dari hasil persilangan F1 akan menhasilkan 16 individu yang
dapat dikelompokkan menjadi 4 kelas fenotip, dengan rasio masing-masing 9 : 3
: 3 : 1. Ikan dengan spinal normal blondi berjumlah 3 ikan yaitu dengan genotip
SnSnbb, SnScbb, dan SnScbb. Sehingga didapat bahwa persentase didapatkan
ikan dengan fenotip spinal normal blondi adalah 18,75%.
Pada soal ketiga diketahui bahwa Ikan cupang (Siamese fighting fish)
warna biru gelap dikawainkan dengan warna hijau. Alel V bersifat dominan dan

alel v bersifat resesif. Sifat biru gelap pada alel tersebut dilambangkan dengan
alel D, sedangkan alel resesif adalah d yang menunjukkan ikan berwarna hijau.
Dari hasil perhitungan didapat bahwa 50% ikan hasil keturunan tersebut memiliki
warna biru logam. Hal ini menunjukkan bahwa alel dominan D lebih mendominasi
gamet dibanding dengan alel d yang bersifat resesif pula, sehingga dapat
diketahui pasti bahwa gen dominan akan lebih sering muncul pada keturunan
hasil persilangan tersebut. Tetapi dalam kasus ini terdapat pengecualian yaitu
dimana alel Vv akan menghasilkan warna berupa biru logam, dimana aksi
tersebut disebut dengan dominan tidak lengkap (semi dominan). Dominan tidak
lengkap merupakan bentuk dominasi lain terjadi bila gen yang dominan
mengekspresikan dirinya lebih kuat dibandingkan dengan gen resesif, namun
tidak

kuat

betul

sehingga

fenotip

heterosigonus

tidak

identik

dengan

homosigonus dominan (Westra, 1994 dalam Kesuma, 2013).


Pada soal nomor empat dijelaskan bahwa Ikan cupang biru mengkilat
dikawinkan dengan ikan cupang hijau. Persilangan tersebut sama seperti dengan
nomor tiga, dimana hasil yang didapat semua ikan (100%) berwarna biru pada
F1. Sedangkan pada F2 diperoleh galur murni adalah 1 VV (ikan Biru Mengkilat)
dan 1 vv (Ikan Hijau)
Pada soal kelima dapat diketahui Ikan rainbow trout golden dipijahkan
dengan ikan rainbow trout palomino. Dari hasil persilangan dihasilkan bahwa
25% ikan pigmentasi normal, 50% ikan rainbow trout

Palomino dan 25%

ikan rainbow trout golden. Jadi presentase yang merupakan galur murni dari ikan
rainbow trout golden yaitu 25%. Persilangan tersebut merupakan persilangan alel
gen aditif, hal tersebut terjadi bila tidak ada allele yang dominan, namun
memberikan kontribusi fenotip yang sama terhadap fenotip yang dengan genotip
heterosigous (Westra, 1994 Dalam Kesuma, 2013).

Pada soal keenam dapat diketahui bahwa Ikan guppy GgCucu


dikawinkan ikan guppy Ggcucu. Persilangan ini merupakanpersilangan aksi gen
ganda (dihibrid), dimana persilangan menggunakan dua sifat yang beda.
Parental dari masing-masing induk disilangkan untuk mendaptkan F1. Lalu hasil
F1 disilangkan kembali untuk menghasilkan F2. Dari hasil persilangan F1 akan
menhasilkan 16 individu yang dapat dikelompokkan menjadi 4 kelas fenotip.
Rasio genotype yang terjadi pada persilangan tersebut yaitu 2 GGCucu : 4
GgCucu : 2 ggCucu : 2 GGcucu : 4 Ggcucu : 2 ggcucu. Sedangkan rasio
fenotipeyang dihasilkan yaitu 2 abu abu duri punggung normal : 4 abu abu duri
punggung normal : 2 emas duri punggung normal : 2 abu abu duri punggung
bengkok : 4 abu abu duri punggung bengkok : 2 emas duri punggung bengkok.
Jadi perbedaan fenotip yang muncul ada 4 yaitu abu abu duri punggung normal,
emas duri punggung normal, abu abu duri punggung bengkok, dan emas duri
punggung bengkok.
Pada soal ketujuh yang diketahui bahwa Stok ikan molly didomestikasi
dengan warna MMNn; MmNN; mmNN. Dalam domestifikasi ini, hal yang terjadi
yaitu aksi gen aditif, dimana aksi gen ini termasuk dalam aksi gen otosom ganda
seperti dihibrid, trihibrid, atau lebih. Tidak saja dipengaruhi oleh satu gen (gen
tunggal) tetapi oleh banyak gen yang berinteraksi dan masing-masing
memberikan kontribusinya terhadap ekspresi fenotip (Westra, 1994 dalam
Kesuma, 2013).
Genotip MMNn memiliki 3 gen +, genotip MmNN memiliki 3 gen +,
sedangkan mmNN memiliki 2 gen +. Dengan aksi gen aditif meskipun terdapat
jumlah gen plus yang sama maka ikan-ikan tersebut masih dapat dibedakan
fenotipnya, khususnya pada usia muda. Pada usia dewasa (mature), maka bila
genotip memiliki jumlah gen plus sama akan memberikan fenotip yang sama.
Jadi pada genotype MMNn dan MmNN yang memiliki jumlah gen plus sama (3

gen +) pada ikan dewasa tidak dapat dibedakan yaitu yang memiliki fenotip hitam
agak gelap dan iris hitam, setelah dewasa semua hitam gelap. Sedang pada ikan
genotip mmNN yang memiliki jumlah gen plus beda (2 gen +) memiliki perbedaan
dengan yang lain yang menghasilkan fenotip bertitik-titik hitam, iris terang setelah
dewasa titik hitam menjadi lebih lengkap. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
fenotip yang muncul dari domestifikasi tersebut ada dua yaitu fenotip hitam agak
gelap dan iris hitam, setelah dewasa semua hitam gelap dan fenotip bertitik-titik
hitam, iris terang setelah dewasa titik hitam menjadi lebih lengkap.

BAB V
PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil praktikum diatas maka dapat disimpulkan bahwa Sifat


kualitatif

adalah sifat yang secara kualitatif

berbeda sehingga mudah

dikelompokkan dan biasanya dinyatakan dalam kategori Sifat ini yang menjadi
obyek penelitian Mendel. Dalam persilangan monohibrid dan dihibrid dipengaruhi
oleh jumlah sifat
perbandingannya.
dengan

beda,

macam gamet, genotip,

Persilangan

perbandingan

F2,

monohibrid
yaitu

yang
2

dan fenotip beserta

menghasilkan keturunan
1

dan

dihibrid

yang

menghasilkanketurunan dengan perbandingan F2, yaitu 9 : 3 : 3 : 1. Dalam


ekspresi fenotip tidak hanya dipengaruhi oleh satu gen (gen tunggal) tetapi oleh
banyak gen yang berinteraksi dan masing-masing memberikan kontribusinya
terhadap ekspresi fenotip.
Saran

YUSRIFAAT AMRAN
Sebaiknya sering-sering ke kampus.
AYSHA TOFT
Sebaiknya suaranya sedikit dipelankan kak.
FUAD FATHURAHMAN
Sebaiknya cara menjelaskan materi ditingkatkan dan lebih bersabar
sedikit menghadapi praktikan yang masih kurang pengetahuannya.

ZULFIANA
Sebaiknya, kakak sering-sering juga menjelaskan materi.
SAHARIA
Sebaiknya suaranya dibesarkan sedikit saat menjelaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Bayu. 2010. Perikanan.


Online pada http://id.wikipedia.org/wiki/Perikanan.
Diakses pada Rabu, 15 Oktober 2014, pukul 11.59 WITA. Makassar.
Ibnu. 2011. Bioteknologi Perikanan. Online pada http://ibnubiotek.blogspot.com/.
Diakses pada Rabu, 15 Oktober 2014, pukul 11.47 WITA. Makassar.
Kesuma, W. I., 2013. Kasus Genetika Kualitatif Pada Ikan (Laporan Praktikum
Genetika Pada Ikan). Jurusan Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian.
Universitas Lampung
Kusumah, D. A. 2012. Mendelian Dan Pewarisan Sifat. Online pada
http://taniyoook.blogspot.com/2012/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html.
Diakses pada Rabu, 15 Oktober 2014, pukul 11.53 WITA. Makassar.
Lina. 2013. Mencoba Merefleksikan Hukum Mendel Di Era Genomik. Online pada
http://tydars.wordpress.com/2013/01/19/mencoba-merefleksikan-hukum
-mendel-di-era-genomik/. Diakses pada Rabu, 15 Oktober 2014, pukul
11.53 WITA. Makassar.
Pamungkas, D. 2012. Penyimpangan semu hukum mendel. Online pada
http://diosearch.blogspot.com/2012/12/penyimpangan-semu-dalamhukum-mendel.html. Diakses pada Rabu, 20 Oktober 2014, pukul 08.53
WITA. Makassar.
Pratama, G. A., Maulana, S. A., Saraswati, R., Robi, N. H. Megayana, Y. 2010.
Laporan Praktikum Genetika Dan Pemuliaan Ikan. Progam Studi S1
Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan Dan Kelautan. Universitas
Airlangga
Rahman,

H. 2013. Genetika Dan Hukum Mendel. Oline pada


http://www.google.com/harif-rahman/genetika-dan-hukum-mendel.pdf.
Diakses pada Kamis, 16 Oktober 2014, pukul 09.53 WITA. Makassar.

Suparmuji. 2009. Diktat 6 Genetika Volume 4 Penyimpangan Hukum Mendell.


Online pada http://www.google.com/pdf/. Diakses pada Rabu, 15
Oktober 2014, pukul 10.53 WITA. Makassar.

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR GENETIKA

KASUS GENETIKA KUALITATIF PADA IKAN

NAMA

: IKA RAHMA DEWI

STAMBUK

: L 221 12 276

KELOMPOK

: I (SATU)

ASISTEN

: YUSRIFAAT AMRAN

LABORATORIUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014