Anda di halaman 1dari 21

INCIDENCE OF POSTDURAL

PUNCTURE HEADACHE: TWO


DIFFERENT FINE GAUGE SPINAL
NEEDLES OF THE SAME
DIAMETER

Journal of Obstetric Anaesthesia and Critical Care 2014


Disusun oleh
Amelia Lucky Ragil (09711117)

Pembimbing
dr. Bambang Triyono, Sp.An., Msi.Med.

ABSTRAK

Tujuan

Membandingkan dua jarum spinal yang


mempunyai desain kemiringan yang
berbeda sehubungan dengan kapasitas
penanganan
teknis
dan
angka
komplikasi.

Metode
dan
Material

Telah disetujui oleh clinical trials ethics committee


Informed consent kepada 220 ibu hamil SC Spinal
Pasien dibagi 2 grup, grup A (n=110) dan grup Q (n=110)
Anastesi spinal dengan 26 gauge (26-G) atraumatic spinal needle
(Atraucan, B. Braun Melsunger, Germany) dan dengan 26-G
Quincke spinal needle (Spinocain, B. Braun Melsunger, Germany)
Durasi prosedur, tusukan, dan insiden postdural puncture headache
(PDPH), Biaya/harga jarum spinal dicatat

Hasil

Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara


kedua grup pada banyaknya tusukan spinal dan
durasi prosedur. kejadian, tingkat keparahan,
waktu onset, dan durasi dari sakit kepala Pada
sepuluh pasien (9.2%) pada grup A dan 11 (10.3%)
pada grup Q terjadi PDPH.

Kesimpulan

Kedua jarum spinal memberikan karateristik


penanganan teknis yang baik dengan insiden
PDPH yang sebanding. Pertimbangan dari faktor
ekonomi, 26-G Quincke spinal needle lebih disukai
dibanding 26-G Atraucan.

INTRODUKSI
Post dural puntur headache (PDPH) adalah komplikasi anastesi
spinal yang telah diketahui dengan baik
Faktor yang mempengaruhi umur, jenis kelamin, riwayat
kehamilan, riwayat PDPH sebelumnya, ukuran jarum, bentuk jarum,
orientasi kemiringan jarum terhadap jaringan dural, banyaknya
tusukan, pengalaman anastesiologis

Quincke spinal needle (Spinocain)


adalah jarum anastesi standar dengan cutting tip. Bentuk kemiringan
ini memfasilitasi melewati kulit, jaringan subkutan, dan ligamen.
Namun, cutting tip dapat mengakibatkan kerusakan berat dura mater
dan terjadinya PDPH

Atraumatic Spinal Needle (Atraucan)


Jarum anastesi special didesain dengan cutting tip.
Memperkecil kerusakan dura mater, karena setelah memotong
dura, sisa jarum hanya melebarkan dan memisahkan jaringan
jaringan dural bukan memotong mereka.
Menghasilkan pemotongan dura yang lebih pendek dibandingkan
dengan cutting needle dengan diameter yang sama.
Menggunakan 20 G introducer

Penelitian ini, bertujuan untuk membandingkan dua jarum dengan


desain diameter yang sama sehubungan dengan kesulitan teknik
penanganan dan kejadian PDPH
Meskipun menghasilkan kerusakan dura mater yang lebih banyak,
Quincke spinal needle dengan diameter yang sama mungkin
memiliki kapasitas teknik penanganan yang sama dan angka
komplikasi dengan biaya yang lebih murah

METODE DAN MATERIAL

Disetujui institusi lokal

Percobaan klinis teregister

220 wanita hamil yang akan dilakukan SC dengan anastesi spinal

Informed consent tertulis

Secara acak dibagi menggunakan computer menjadi dua grup, Grup A dan Grup Q. grup A
(n=110) ; grup Q (n=110)

Grup A : jarum 26-G atraumatic spinal needle


Grup Q : jarum 26-G Quincke spinal needle

Inklusi

Eklusi

Wanita dengan term


pregnancy
Usia 18-45 tahun
Status ASA I dan II
Telah dijadwalkan elektif
SC

Menolak anastesi spinal


Gangguan nyeri kepala
primer (migrain)
Kelainan hemostatis
Infeksi pada daerah
penusukan
Komplikasi relatif untuk
anastesi neuraxial
Oprasi emergensi
Multiple gestations

Seluruh pasien diberkan 1000ml cairan salin

Intraoperative monitor (EKG, pulse eximetry,


monitor tekanan darah)

Lumbar puncture dilakukan pada daerah


intervertebral space pada L2-3, L3-4, atau L4-5
dengan pasien posisi duduk
Jarum dimasukan dengan kemiringan sesuai
arah pararel dural fibers dengan jarum yang
terbuka menghadap ke kanan
Seluruh pasien mendapatkan dosis obat standar
yaitu 10-12 mg bupivacaine dan 15 g fentanyl

Pembedahan hanya diperbolehkan setelah


tingkat dermatom T4-6 sensoris didapat.

Pasien 160 cm 10 mg bupivacaine


Pasien 160 cm 12 mg bupivacaine.

Usia, status ASA, berat dan tinggi pasien,


banyaknya penusukan, dan waktu yang
dibutuhkan untuk menjalankan prosedur
dicatat oeh teknisi anastesi

Durasi
prosedur
Angka
penusukan
Komplikasi segera
seperti hipotensi
dan anastesi yang
tidak adekuat
diatasi dengan
dosis efedrin (5-10
mg) secara
bertahap dan
dialihkan ke
anastesi umum.

waktu sejak pertama kali penusukan hingga pencabutan akhir


jarum setelah injeksi subarachnoid

Di grup kan menjadi 1, 2, 3, atau lebih. Waktu yang dibutuhkan untuk


menjalani prosedur : < 1 menit, 1-3 menit, 3-5 menit, dan 5 menit.

propofol 150 mg IV dan


memasukan laryngeal
mask airway

propofol 150 mg dan


rocuronium bromide 50
mg dikombinasikan
dengan intubasi
endotracheal

Perawatan post operative


Pasien istirahat di tempat tidur selama 6 jam pertama, sebagai
bagian dari protocol standart.
Setelah jam ke 6, pasien mendapatkan mobilisasi bertahap.
Posisi berbaring untuk mengurangi resuko PDPH.
Pasien dipulangkan pada post operative pertama dan disarankan
bed rest dengan posisi terlentang dan minum minimal 3 liter air
perhari

Pasien diwawancarai oleh spesialis anastesi sesuai dengan tipe


jarum yang digunakan pada hari pertama post operative dan
ditanyakan adanya sakit kepala, dan intensitasnya, karakter, maupun
gejala lain yang menyertai
Seluruh pasien mendapatkan telepon pertama 1 minggu setelahnya
dari ahli anastesi yang diacak dan ditanyakan mengenai
kemungkinan onset gejala yang terlambat.
PDPH sakit kepala frontalis atau occipitalis pada posisi duduk
atau tegak yang mereda dengan sikap terlentang
Tipe sakit kepala yang lain diasumsikan sebagai non PDPH.
PDPH telah dievaluasi dengan visual analogue scale (VAS) dan
numerical rating scale (NRS) postoperative pertama & 8 hari
pertama melalui telepon

Jika terdapat nyeri kepala, pasien dimasukan kedalam satu dari tiga
grup yang dibentuk :
Mild (VAS/NRS 1-3) oral acetaminophen 250 mg, propiphenazone 150 mg,
dan caffeine 50 mg (minoset plus), tetap dengan bed rest dan hidrasi oral di
rumah

Moderate (VAS/NRS 4-7) analgesic oral dan epidural blood patch (EBP)
(ditawarkan)
Severe (VAS/NRS 8-10)

Waktu kejadian dan durasi sakit kepala juga dicatat.


Non PDPH oral analgesic dan dirujuk ke klinik neurologis jika
diperlukan.
Analisis SPSS 15

HASIL
220 pasien masuk dalam penelitian ini.
Jarum Atraucan dipakai pada 110 pasien sedangkan sisanya
memakai jarum Quincke dengan ukuran yang sama.
109 grup A dan 107 grup Q pasien menyelesaikan penelitian. Satu
orang dari grup A dan tiga pasien dari grup Q dikeluarkan dari
penelitian karena hilang dari follow up

Satu pasien dari grup A menderita sinus rhythm pada 6 detik


pertama, yang diikuti dengan bradikardi, yang berhasil merespon 1
mg atropine tanpa komplikasi lanjutan.

Satu pasien dari grup Q menderita intracranial epidural hematoma


yang terlihat setelah hari kedua postoperative dengan pemeriksaan
MRI yang diminta oleh ahli syaraf konsulan karna nyeri kepala
unilateral pasien yang tak kunjung mereda. Terdapat riwayat nyeri
kepala ringan berulang 3 hari sebelum operasi pada pasien ini.

DISKUSI
Penelitian sebelumnya, populasi obstetric dipilih karena tingginya insiden
PDPH pada populasi tersebut.
Holst et al, menyarankan untuk mengkombinasikan karakter jarum spinal
dengan fitur cutting dan pencil-point akan lebih mudah untuk dihunakan
dan dapat membantu mengurangi komplikasi.
Atraucan memiliki karateristik terebut baik cutting dan juga pencil-point
needles.
Penulis menyarankan, saat mempertimbangkan pemilihan jarum spinal,
jarum yang mudah digunakan dan juga waktu keluarnya CSF juga harus
diperhitungkan, selain melihat insiden PDPH.
Jarum spinal yang lebih tipis dapat mengurangi kejadian PDPH, namun
lambatnya pengeluaran CSF dapat memanjangkan durasi prosedur dan
bahkan dapat menyebabkan lebih dari satu tusukan di dura mater nya.
Hal ini dapat berkontribusi menjadi insidens PDPH yang lebih tinggi saat
memakai jarum Atraucan dibandingkan yang telah diperkirakan.

KESIMPULAN
Pada penelitian in, karateristik teknis penanganan, waktu yang
dibutuhkan untuk spinal blok, dan insiden PDPH telah dibandingkan
saat pemakaian jarm Atraucan dan saat memakai jaruk Quicke
dengan ukuran jarum yang sama. Biaya pemakaian 26-G Quincke
dan Atraucan selama penelitian masing-masingnya sebesar 90 sen
Euro dan 5 Euro.