Anda di halaman 1dari 5

Tantia Cita Dewanti Fudhail

10/298072/KG/8646
Tugas PPJP
Antibiotik adalah senyawa yang digunakan untuk mengatasi atau melawan infeksi karena
bakteri. Jadi jelasnya bahwa antibiotik hanya digunakan jika sesorang terinfeksi bakteri saja.
Menurut Permenkes No. 2406/MENKES/PER/XII/2011, pemilihan jenis antibiotik harus
berdasar pada:
a. Informasi tentang spektrum kuman penyebab infeksi dan pola kepekaan kuman terhadap
antibiotik.
b. Hasil pemeriksaan mikrobiologi atau perkiraan kuman penyebab infeksi.
c. Profil farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik.
d. Melakukan de-eskalasi setelah mempertimbangkan hasil mikrobiologi dan keadaan klinis
pasien serta ketersediaan obat.
e. Cost effective: obat dipilih atas dasar yang paling cost effective dan aman.
Prinsip Penggunaan Antibiotik untuk Terapi Empiris dan Definitif
1. Antibiotik Terapi Empiris
a. Penggunaan antibiotik untuk terapi empiris adalah penggunaan antibiotik pada kasus infeksi
yang belum diketahui jenis bakteri penyebabnya.
b. Tujuan pemberian antibiotik untuk terapi empiris adalah eradikasi atau penghambatan
pertumbuhan bakteri yang diduga menjadi penyebab infeksi, sebelum diperoleh hasil
pemeriksaan mikrobiologi.
c. Indikasi: ditemukan sindrom klinis yang mengarah pada keterlibatan bakteri tertentu yang
paling sering menjadi penyebab infeksi.
Dasar pemilihan jenis dan dosis antibiotik data epidemiologi dan pola resistensi bakteri yang
tersedia di komunitas atau di rumah sakit setempat.
Kondisi klinis pasien.
Ketersediaan antibiotik.
Kemampuan antibiotik untuk menembus ke dalam jaringan/organ yang terinfeksi.
Untuk infeksi berat yang diduga disebabkan oleh polimikroba dapat digunakan antibiotik
kombinasi.
d. Rute pemberian: antibiotik oral seharusnya menjadi pilihan pertama untuk terapi infeksi. Pada
infeksi sedang sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan antibiotik parenteral

e. Lama pemberian: antibiotik empiris diberikan untuk jangka waktu 48-72 jam. Selanjutnya
harus dilakukan evaluasi berdasarkan data mikrobiologis dan kondisi klinis pasien serta data
penunjang lainnya (IFIC., 2010; Tim PPRA Kemenkes RI., 2010).
f. Evaluasi penggunaan antibiotik empiris
2. Antibiotik untuk Terapi Definitif
a. Penggunaan antibiotik untuk terapi definitif adalah penggunaan antibiotik pada kasus infeksi
yang sudah diketahui jenis bakteri penyebab dan pola resistensinya.
b. Tujuan pemberian antibiotik untuk terapi definitif adalah eradikasi atau penghambatan
pertumbuhan bakteri yang menjadi penyebab infeksi, berdasarkan hasil pemeriksaan
mikrobiologi.
c. Indikasi: sesuai dengan hasil mikrobiologi yang menjadi penyebab infeksi.
d. Dasar pemilihan jenis dan dosis antibiotik:
Efikasi klinik dan keamanan berdasarkan hasil uji klinik.
Sensitivitas.
Biaya.
Kondisi klinis pasien.
Diutamakan antibiotik lini pertama/spektrum sempit.
Ketersediaan antibiotik (sesuai formularium rumah sakit).
Sesuai dengan Pedoman Diagnosis dan Terapi (PDT) setempat yang
terkini.
Paling kecil memunculkan risiko terjadi bakteri resisten.
e. Rute pemberian: antibiotik oral seharusnya menjadi pilihan pertama terapi infeksi. Pada
infeksi sedang sampai berat dapat dipertimbangkan menggunakan antibiotik parenteral. Jika
kondisi pasien memungkinkan, pemberian antibiotik parenteral harus segera diganti dengan
antibiotik per oral.
f. Lama pemberian antibiotik definitif berdasarkan pada efikasi klinis untuk eradikasi bakteri
sesuai diagnosis awal yang telah dikonfirmasi. Selanjutnya harus dilakukan evaluasi
berdasarkan data mikrobiologis dan kondisi klinis pasien serta data penunjang lainnya (IFIC.,
2010; Tim PPRA Kemenkes RI., 2010).
3. Prinsip Penggunaan Antibiotik Profilaksis Bedah
Pemberian antibiotik sebelum, saat dan hingga 24 jam pasca operasi pada kasus yang
secara klinis tidak didapatkan tanda-tanda infeksi dengan tujuan untuk mencegah terjadi infeksi
luka operasi. Diharapkan pada saat operasi antibiotik di jaringan target operasi sudah mencapai

kadar optimal yang efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri (Avenia, 2009). Prinsip
penggunaan antibiotik profilaksis selain tepat dalam pemilihan jenis juga mempertimbangkan
konsentrasi antibiotik dalam jaringan saat mulai dan selama operasi berlangsung. Durasi
pemberiannya adalah dosis tunggal. Dosis ulangan dapat diberikan atas indikasi perdarahan lebih
dari 1500 ml atau operasi berlangsung lebih dari 3 jam.

Dalam perawatan periodontal terapi antibiotika adalah merupakan penunjang bagi


perawatan mekanis. Perawatan periodontal yang dibarengi terapi antibiotika harus dilakukan
dengan pendekatan sebagai berikut:
1. Perawatan inisial yang dilakukan sebelum terapi antibiotika haruslah mencakup debridemen
(pembersihan) akar gigi secara tuntas, yang bila diperlukan dikombinasi dengan prosedur
bedah untuk mendapatkan akses yang baik.
2. Pemberian antibiotika harus didasarkan pada kebutuhan klinis untuk perawatan selanjutnya,
temuan pada pemeriksaan mikrobiologis, dan status medis serta pengobatan medis yang
diperoleh pasien.
3. Respon klinis harus dievaluasi 1 - 3 bulan setelah selesainya perawatan mekanis. Apabila
penyakit periodontal terus berkembang atau inflamasinya tidak mereda, pemeriksaan
mikrobiologis terhadap mikroorganisme subgingival akan membantu keberadaan dan jumlah
patogen periodontal.
4. Bila berdasarkan pemeriksaan klinis masih ada tanda-tanda inflamasi, 1- 3 bulan setelah
terapi antibiotika perlu dilakukan ulangan pemeriksaan mikrobiologis untuk memastikan
telah tersingkirkannya bakteri patogen yang ditargetkan dan memeriksa kemungkinan adanya
organisme superinfeksi. Keberadaan Streptococcus sanguis/mitis, Actinomyces, dan spesies
Veillonella dalam level yang tinggi pada daerah subgingival merupakan pertanda
periodonsium yang sehat atau terinflamasi ringan.
5. Setelah infeksi periodontal tersingkirkan, pasien harus mengikuti program pemeliharaan.
Kontrol plak supragingival pada fase perawatan periodontal suportif akan membantu
mencegah rekolonisasi patogen periodontal. Apabila penyakit periodontal yang progresif
kambuh, perlu diulangi pemeriksaan mikrobiologis dan terapi antibiotika.
Perawatan periodontal disertai oleh adanya bakteremia, oleh sebab itu bagi pasien dengan
masalah medis yang rentan terhadap infeksi bakteri harus diberi antibiotika sebagai perlindungan

a. Bagi penderita endokarditis bakterial, antibiotika pilihan sebagai pelindung adalah

amoksisilin secara per oral, dengan dosis:


Dewasa : 3 gr satu jam sebelum prosedur perawatan, dilanjutkan dengan 1 gr 6 jam kemudian

setelah pemberian pertama.


Kanak-kanak : 50 mg/kg satu jam sebelum, dilanjutkan 25 mg/kg 6 jam kemudian (dosis

total tidak melebihi dosis dewasa).


b. Bagi pasien yang alergi terhadap penisilin diberikan eritromisin dengan dosis:
Dewasa : 800 gr eritromisin etilsuksinat atau 1 gr eritromisin stearat 2 jam sebelumnya,
dilanjutkan dosis awal 6 jam kemudian.
Kanak-kanak : 20 mg/kg berat badan sebelumnya dan 10 mg/kg berat badan sesudahnya.
c. Bagi penderita yang alergi terhadap penisilin dan eritromisin dapat diberikan klindamisin
dengan dosis:
Dewasa : 300 mg satu jam sebelum, dan 150 mg 6 jam sesudahnya.
Kanak-kanak : 10 mg/kg berat badan.
d. Bagi pasien yang tidak dapat memakan obat peroral, diberikan ampisilin, atau klindamisin,

atau gabungan ampisilin, gentamisin dan amoksisilin, dengan dosis:


Dewasa : Ampisilin 2 gr IM/IV 30 menit sebelum, dilanjutkan 1 gr IM/IV 6 jam kemudian.
Klindamisin 300 mg IV 30 menit sebelum, dilanjutkan 150 mg IV 6 jam kemudian.
Ampisilin 2 gr plus gentamisin 1,5 mg/kg (tidak lebih dari 80 mg) IM/IV 30 menit sebelum,

dilanjutkan amoksisilin 1,5 gr per oral 6 jam kemudian.


Kanak-kanak : Ampisilin 50 mg/kg; klindamisin 10 mg/kg; gentamisin 2 mg/kg; dosis
lanjutan dosis pertama.
Beberapa jenis antibiotika telah dicoba diberikan secara sistemik sebagai penunjang

perawatan periodontal menurut Van Winkelhoff (1996) adalah sebagai berikut:


1. Tetrasiklin dengan dosis 250 mg 4 X sehari, selama 14 hari
2. Metronidazol 250 mg 3 X sehari atau 4 X sehari selama 14 hari
3. Klindamisin dengan dosis 150 mg 4 X sehari selama 7 hari dilaporkan efektif untuk
perawatan periodontitis refraktori yang tidak mempan dirawat dengan tetrasiklin, atau
periodontitis yang tidak berkaitan dengan Actinobacillus actinomycetemcomitans.
Daftar Pustaka
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2406/MENKES/PER/XII/2011 Tentang
Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik

Van Winkelhoff AJ., Rams TE and Slots J. 1996. Systemic antibiotic therapy in periodontics.
Periodontology 2000, 10: 45-78.