Anda di halaman 1dari 71

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

HALAMAN JUDU L

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

TINJAUAN ATAS PENERIMAAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN


PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DENGAN
MENGGUNAKAN FASILITAS E-FILING TERHADAP KEPATUHAN
KEWAJIBAN PERPAJAKAN DI KANTOR PELAYANAN PAJAK
PRATAMA KOSAMBI

Diajukan oleh:
Fadil Ayatudin
NPM 131020001191
Mahasiswa Program Diploma I Keuangan
Spesialisasi Pajak

Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat


Dinyatakan Lulus Program Diploma I Keuangan
Pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
2014

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN
HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN PKL
TANDA PERSETUJUAN
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

NAMA

FADIL AYATUDIN

NOMOR POKOK MAHASISWA

131020001191

SPESIALISASI

PAJAK

BIDANG STUDI

PAJAK PENGHASILAN ORANG PRIBADI

JUDUL LAPORAN

TINJAUAN ATAS PENERIMAAN SURAT

DIPLOMA I KEUANGAN

PEMBERITAHUAN

TAHUNAN

PAJAK

PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG


PRIBADI

DENGAN

FASILITAS

MENGGUNAKAN

E-FILING

TERHADAP

KEPATUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN


DI

KANTOR

PELAYANAN

PAJAK

PRATAMA KOSAMBI

Mengetahui

Tangerang Selatan,

Kepala Bidang Akademis

September 2014

Menyetujui

Pendidikan Pembantu Akuntan,

Dosen Pembimbing,

Widya Novita, S.Psi.


NIP 197103171996032001

Hendra Destiawan, S.S.T.


NIP 198112022004121001

ii

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN
PERNYATAAN LULUS DARI TIM PENILAI
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

NAMA

: FADIL AYATUDIN

NOMOR POKOK MAHASISWA

: 131020001191

DIPLOMA I KEUANGAN
SPESIALISASI

: PAJAK

BIDANG STUDI

: PAJAK PENGHASILAN ORANG PRIBADI

JUDUL LAPORAN

: TINJAUAN ATAS PENERIMAAN SURAT


PEMBERITAHUAN

TAHUNAN

PAJAK

PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG


PRIBADI

DENGAN

FASILITAS

MENGGUNAKAN

E-FILING

TERHADAP

KEPATUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN


DI

KANTOR

PELAYANAN

PRATAMA KOSAMBI
HALAMAN PERNYATAAN LULU S DA RI TIM PENILAI LAPORAN PRAKTIK KE RJA LAPANGAN

Tangerang Selatan,

Oktober 2014

1. ................................................ Penilai I/ Pembimbing Laporan PKL

Hendra Destiawan, S.S.T.


NIP 198112022004121001

2. ................................................ Penilai II

Abdul Wahid Fajar Amin


NIP 198409022006021002
iii

PAJAK

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktik
Kerja Lapangan (PKL) yang berjudul TINJAUAN ATAS PENERIMAAN SURAT
PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG
PRIBADI DENGAN MENGGUNAKAN FASILITAS E-FILING TERHADAP
KEPATUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN DI KANTOR PELAYANAN PAJAK
PRATAMA KOSAMBI dan menyusunnya dengan tepat waktu. Laporan PKL ini
adalah hasil dari praktik kerja lapangan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama
Kosambi yang dilaksanakan pada tanggal 1 September 2014 19 September 2014.
Dalam penyusunan laporan PKL ini penulis menyadari bahwa banyak kesulitan
dan hambatan yang penulis hadapi. Namun dengan usaha, dorongan dan bantuan dari
berbagai pihak, maka laporan PKL ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ayah dan Ibunda penulis yang senantiasa mendoakan dan memberikan motivasi
agar penulis terus semangat dalam menjalankan kuliah.
2. Keluarga penulis yang selalu memberikan arahan dan nasihat agar penulis selalu
berada di jalan yang benar.
3. Bapak Kusmanadji, Ak., MBA. selaku direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
4. Ibu Widya Novita, S.Psi. selaku Kepala Bidang Akademis Pendidikan Pembantu
Akuntan.
5. Bapak Hendra Destiawan, S.S.T. selaku dosen pembimbing yang telah bersedia
iv

meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penulis dalam


penyelesaian laporan PKL ini.
6. Bapak Abdul Wahid Fajar Amin selaku dosen penilai.
7. Bapak Nanser selaku Kepala KPP Pratama Kosambi.
8. Ibu Yuliana selaku Kepala Seksi Ekstensifikasi serta menjadi dosen pembimbing
telah memberikan arahan dan tugas selama penulis PKL di KPP Pratama
Kosambi.
9. Seluruh staff dan pegawai KPP Pratama Kosambi yang telah memberikan data,
informasi dan wawasan dalam penulisan laporan PKL ini.
10. Seluruh dosen, widyaiswara, dan staf yang selama ini memberikan bimbingan
selama penulis mengikuti perkuliahan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
11. Keluarga Mahasiswa STAN D1 Pajak atas kebersamaan, kekompakan, dan
kekeluargaan yang kita rasakan selama kurang lebih satu tahun ini.
12. Kelas G D1 Pajak tercinta, semoga kita dapat melanjutkan pendidikan yang lebih
tinggi.
13. Teman-teman Kontrakan Kalimongso 75 yang saya anggap sebagai keluarga
sendiri yang bersedia meluangkan waktu dan berbagi seluruh hal bersama.
14. Keluarga Bapak Maksum yang telah bersedia memberikan tempat dan fasilitas
selama penulis menjalankan PKL.
15. Teman-teman satu dosen pembimbing dan PKL yang telah bekerja bersama dalam
penyelesaian laporan PKL ini.
Pada dasarnya, tujuan pembuatan laporan PKL ini adalah untuk memenuhi
sebagian dari syarat-syarat dinyatakan lulus Program Diploma I Keuangan

Spesialisasi Pajak dan sebagai bahan pertimbangan dosen penilai dalam memberikan
penilaian.
Setelah melaksanakan PKL, penulis mendapatkan banyak pelajaran,
pengalaman, dan nasihat dari para pegawai KPP Pratama Kosambi serta merasakan
suasana kerja nyata sesuai dengan Standart Operating Procedure dan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku sehingga penulis mendapatkan gambaran
bagaimana bekerja sebagai pegawai pajak yang baik dan benar.

Tangerang Selatan,

September 2014

Fadil Ayatudin
NPM 131020001191

vi

SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa Laporan Praktik Kerja Lapangan ini seluruhnya adalah hasil kerja saya sendiri.
Dalam hal kutipan yang saya ambil dari buku, peraturan-peraturan yang
berlaku, dan/atau sumber-sumber lainnya, telah saya sebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila dalam laporan ini ditemui bahwa sebagian atau seluruh isinya
merupakan jiplakan atau bersifat plagiat sesuai dengan Bab II A No. 7 dan Bab II B
No. 3 Keputusan Direktur STAN Nomor KEP-100/PP.7/2001, saya bersedia untuk
dinyatakkan tidak lulus/kelulusan dibatalkan dan dikeluarkan dari Program Diploma I
Keuangan Spesialisasi Administrasi Perpajakan.

Tangerang Selatan,

September 2014

Yang membuat pernyataan,

Fadil Ayatudin
NPM 131020001191

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN PKL ............................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN LULUS DARI TIM PENILAI LAPORAN PRAKTIK
KERJA LAPANGAN ............................................................................................................ iii
KATA PENGANTAR ........................................................................................................... iv
SURAT PERNYATAAN..................................................................................................... vii
DAFTAR ISI......................................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL .................................................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ xii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan ...................................................................................................... 2
C. Ruang Lingkup Pembahasan.................................................................................... 2
D. Metode Pengumpulan Data ...................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................... 4
A. Gambaran Umum KPP Pratama Kosambi ............................................................... 4
1. Sejarah...................................................................................................................... 4
2. Visi dan Misi KPP Pratama Kosambi. ..................................................................... 5
3. Tugas Pokok dan Fungsi KPP Pratama Kosambi. ................................................... 6

viii

4. Struktur Organisasi. ................................................................................................. 8


5. Wilayah Kerja. ....................................................................................................... 11
6. Kekuatan Berbagai Sumber Daya yang Ada. ........................................................ 11
7. Data Wajib Pajak KPP Pratama Kosambi. ............................................................ 13
8. Data Rencana dan Realisasi Penerimaan Pajak KPP Pratama Kosambi. .............. 14
B. Landasan Teori....................................................................................................... 16
1. Pengertian Pajak..................................................................................................... 16
2. Pengertian Pajak Penghasilan. ............................................................................... 18
3. Objek Pajak Penghasilan........................................................................................ 18
4. Pajak Penghasilan Final. ........................................................................................ 19
5. Dikecualikan Objek Pajak Penghasilan. ................................................................ 20
6. Subjek Pajak Penghasilan Orang Pribadi. .............................................................. 23
7. Dikecualikan dari Subjek Pajak Penghasilan Orang Pribadi. ................................ 24
8. Surat Pemberitahuan. ............................................................................................. 24
9. Prosedur Penyampaian SPT secara Elektronik (E-Filing). .................................... 30
10. Kepatuhan Kewajiban Perpajakan. ........................................................................ 36
C. Hasil Pengamatan Lapangan .................................................................................. 38
1. Data Kuantitatif. ..................................................................................................... 38
2. Data Kualitatif. ....................................................................................................... 42
BAB III PENUTUP .............................................................................................................. 48
A. Simpulan ................................................................................................................ 48
B. Saran ...................................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 51
ix

LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR TABEL

Tabel II. 1 Jumlah Pegawai KPP Pratama Kosambi .................................................... 12


Tabel II. 2 Pengelompokan Pegawai Berdasarkan Jenjang Pendidikan ...................... 13
Tabel II. 3 Pengelompokan Pegawai Berdasarkan Golongan ...................................... 13
Tabel II. 4 Jumlah Wajib Pajak Terdaftar .................................................................... 14
Tabel II. 5 Rencana dan Realisasi Penerimaan Pajak KPP Pratama Kosambi ............ 14
Tabel II. 6 Penerimaan Pajak Penghasilan ................................................................... 15
Tabel II. 7 Persentase Pajak Penghasilan terhadap jumlah penerimaan pajak ............ 16
Tabel II. 8 Perbedaan Formulir SPT Tahunan Wajib Pajak Orang pribadi ................. 26
Tabel II. 9 Permintaan e-FIN dan Wajib Pajak Terdaftar e-Filing s.d. Tahun 2014 ... 38
Tabel II. 10 Penerimaan SPT Tahunan melalui e-Filing Tahun Pajak 2013 ............... 38
Tabel II. 11 Penerimaan SPT Tahunan melalui e-Filing dan Manual Tahun Pajak
2013 .......................................................................................................... 39
Tabel II. 12 Tingkat Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2011 dan 2013
.................................................................................................................. 41
Tabel II. 13 Perbedaan Peraturan e-Filing Lama dan Baru ......................................... 44

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar II. 1 Gedung KPP Pratama Kosambi .............................................................. 4


Gambar II. 2 Struktur Organisasi KPP Pratama Kosambi ............................................ 8
Gambar II. 3 Wilayah Kerja KPP Pratama Kosambi .................................................. 11
Gambar II. 4 Tiga Langkah menyampaikan SPT melalui e-Filing ............................. 36

xii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I

Alur Penyampaian SPT Tahunan

Lampiran II

Surat Permohonan e-FIN

Lampiran III Form Registrasi e-Filing


Lampiran IV Tampilan Awal Menu e-Filing
Lampiran V

Bukti Penerimaan Elektronik

Lampiran VI Bentuk Isi Induk SPT e-Filing

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2009 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Pajak adalah kontribusi wajib kepada
negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Orang
pribadi atau badan yang memiliki kewajiban perpajakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku disebut sebagai Wajib Pajak. Kementerian
Keuangan, khususnya Direktorat Jenderal Pajak adalah lembaga negara yang
mengelola pajak.
Dalam upaya meningkatkan penerimaan dan administrasi dibidang perpajakan
pemerintah telah meluncurkan berbagai program yang memudahkan Wajib Pajak
untuk memenuhi kewajiban perpajakannya, salah satunya adalah penyampaian Surat
Pemberitahuan Tahunan secara online yang disebut e-Filing. Menurut Peraturan
Menteri

Keuangan

Nomor

181/PMK.03/2007,

e-Filing

adalah

suatu

cara

penyampaian SPT atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang dilakukan

2
secara

online

dan

real

time

melalui

website

Direktorat

Jenderal

Pajak

(www.pajak.go.id) atau Application Service Provider (ASP).


Penulis berharap dapat memperoleh data selengkap-lengkapnya mengenai
kondisi yang terjadi di lapangan secara nyata ketika menjalankan Praktik Kerja
Lapangan (PKL) di KPP Pratama Kosambi. Data yang diperoleh akan diolah oleh
penulis agar menghasilkan informasi perpajakan yang berguna dalam penulisan
Laporan PKL yang berjudul Tinjauan atas Penerimaan Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi dengan Menggunakan Fasilitas
e-Filing terhadap Kepatuhan Kewajiban Perpajakan di Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Kosambi.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penyusunan Laporan PKL ini adalah:
1. Untuk mengetahui sistem yang digunakan untuk menyampaikan SPT Tahunan
Wajib Pajak orang pribadi melalui e-Filing di KPP Pratama Kosambi.
2. Untuk mengetahui perbandingan tingkat kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib
Pajak orang pribadi dengan membandingkan jumlah penerimaan SPT Tahunan
dengan jumlah Wajib Pajak orang pribadi secara manual dan melalui e-Filing
pada data awal berlakunya sistem e-Filing (tahun pajak 2011) dengan data
terakhir (tahun pajak 2013).
3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan penyampaian SPT Tahunan orang
pribadi melalui e-Filing.
4. Untuk mengetahui peran pegawai pajak mengenai sistem e-Filing.
C. Ruang Lingkup Pembahasan

3
Penulis akan membatasi pembahasan agar lebih fokus dan efektif dalam
penulisan laporan PKL ini. Pertama, penulis akan membahas prosedur dalam
penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan orang pribadi melalui
e-Filing sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua, Penulis
akan mengolah data jumlah penerimaan SPT Pajak Penghasilan orang pribadi melalui
e-Filing maupun manual untuk dibandingkan dengan data jumlah Wajib Pajak orang
pribadi untuk mengetahui tingkat kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak orang
pribadi.
D. Metode Pengumpulan Data
Dalam menyusun dan menyelesaikan Laporan PKL ini penulis menggunakan
beberapa metode pengumpulan data, antara lain:
1. Penelitian Kepustakaan
Yaitu dengan mengumpulkan data dari undang-undang, peraturan, dan buku yang
berhubungan dengan penyampaian SPT Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang
pribadi dengan menggunakan fasilitas e-Filing.
2. Penelitian Lapangan
a. Observasi
Yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung untuk mendapatkan data
kuantitatif dan data kualitatif yang kemudian akan diolah lebih lanjut oleh penulis
sehingga relevan dengan topik pembahasan.
b. Wawancara
Yaitu dengan melakukan wawancara kepada pegawai pajak dan Wajib Pajak
untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam Laporan PKL ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum KPP Pratama Kosambi


1. Sejarah.
Gambar II. 1 Gedung KPP Pratama Kosambi

Sumber : Diolah dari Website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id)


Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kosambi dibentuk berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 132/PMK.01/2006 tanggal 22 Desember 2006, sebagai
unsur pelaksana Direktorat Jenderal Pajak di bidang pelayanan pajak yang berada
dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat
Jenderal Pajak Banten.
4

5
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kosambi pada mulanya merupakan Kantor
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Tangerang Dua yang mempunyai tugas
melakukan penyuluhan, pelayanan dan pengawasan Wajib Pajak di bidang Pajak
Bumi dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dalam
wilayah wewenangnya. Sejalan dengan perubahan sosial, politik dan ekonomi
yang sangat cepat telah menuntut perubahan undang-undang perpajakan dan
struktur

organisasi. Dalam rangka melaksanaan modernisasi sistem administrasi

perpajakan sebagai upaya pelaksanaan Good Governance dan meningkatkan


penerimaan pajak serta efektivitas organisasi instansi vertikal di lingkungan
Direktorat Jenderal Pajak maka dipandang perlu untuk melakukan penataan organisasi
dan tata kerja instansi vertikal di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak melalui
Penerapan Sistem Perpajakan Modern.
Sehubungan dengan hal tersebut, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 132/PMK.01/2006 tanggal 22 Desember 2006 dan Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak Nomor SE-19/PJ/2007 tanggal 13 April 2007, Kantor Pelayanan Pajak
Bumi dan Bangunan Tangerang Dua secara organisasi berubah menjadi Kantor
Pelayanan Pajak Pratama Kosambi.
2. Visi dan Misi KPP Pratama Kosambi.
Adapun Visi dan Misi KPP Pratama Kosambi merupakan Visi dan Misi dari
Direktorat Jenderal Pajak. Visi Direktorat Jenderal Pajak adalah Menjadi institusi
pemerintah penghimpun pajak Negara yang terbaik di wilayah Asia Tenggara.
Sedangkan Misi Direktorat Jenderal Pajak adalah sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan fungsi administrasi perpajakan dengan menerapkan undang-

6
undang perpajakan secara adil dalam rangka membiayai penyelenggaraan Negara
demi kemakmuran rakyat.
b. Menghimpun penerimaan Dalam Negeri dari sektor pajak yang mampu
menunjang kemandirian pembiayaan pemerintahan berdasarkan undang-undang
perpajakan dengan tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi.
c. Mendukung kebijaksanaan Pemerintah dalam mengatasi permasalahan ekonomi
bangsa dengan kebijaksanaan yang minimizing distortion.
d. Mendukung proses demokratisasi bangsa.
e. Senantiasa memperbaharui diri, selaras dengan aspirasi masyarakat dan
teknokrasi perpajakan serta administrasi perpajakan mutakhir.
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kosambi sebagai salah satu instansi vertikal
Direktorat Jenderal Pajak yang berada di bawah Kantor Wilayah DJP Banten di dalam
melaksanakan tugasnya selalu memegang teguh dan konsisten dengan Visi, Misi dan
Strategi Direktorat Jenderal Pajak.
3. Tugas Pokok dan Fungsi KPP Pratama Kosambi.
Kantor Pelayanan Pajak Pratama adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal
Pajak yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor
Wilayah. KPP Pratama Kosambi dalam kegiatan operasional sehari-hari merupakan
penggabungan fungsi dan tugas pokok dari tiga instansi vertikal Direktorat Jenderal
Pajak sebelumnya, yaitu Kantor Pelayanan Pajak (KPP), Kantor Pelayanan Pajak
Bumi dan Bangunan (KP PBB) dan Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak .
Tugas pokok KPP Pratama Kosambi sebagaimana tertera dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 132/PMK.01/2006 tanggal 22 Desember 2006 tentang

7
Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak, yaitu
melaksanakan penyuluhan, pelayanan, dan pengawasan Wajib Pajak di bidang Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak
Tidak Langsung Lainnya, Pajak Bumi dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan dalam wilayah wewenangnya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Dalam

melaksanakan

tugas-tugasnya,

KPP

Pratama

Kosambi

menyelenggarakan fungsi:
a. pengumpulan, pencarian dan pengolahan data, pengamatan potensi perpajakan,
penyajian informasi perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, serta penilaian
objek Pajak Bumi dan Bangunan;
b. penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan;
c. pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan pengolahan
Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya;
d. penyuluhan perpajakan;
e. pelaksanaan registrasi Wajib Pajak;
f. pelaksanaan ekstensifikasi;
g. penatausahaan piutang pajak;
h. pelaksanaan penagihan pajak;
i. pelaksanaan pemeriksaan pajak;
j. pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak;
k. pelaksanaan konsultasi perpajakan;
l. pelaksanaan intensifikasi;

8
m. pembetulan ketetapan pajak;
n. pelaksanaan administrasi kantor.
4. Struktur Organisasi.
Gambar II. 2 Struktur Organisasi KPP Pratama Kosambi

Sumber : Diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Kosambi Per Tanggal 12
September 2014
Keterangan:
a. Kepala Kantor

: Nanser

b. Kepala Subbagian Umum

: Nurdjanah Hidajati

c. Kepala Seksi PDI

: Dwi Setyo Nugroho

d. Kepala Seksi Pelayanan

: Ikhwanudin

9
e. Kepala Seksi Penagihan

: Urip Muhni

f. Kepala Seksi Pemeriksaan

: Dwi Setyorini

g. Kepala Seksi Ekstensifikasi

: Yulia Sri Wulandarai

h. Kepala Seksi Waskon I

: Nur Hanura Suari

i. Kepala Seksi Waskon II

: Bayu Agung Sriyono

j. Kepala Seksi Waskon III

: Robert Butar Butar

k. Kepala Seksi Waskon IV

: Nur Hidayah

l. Supervisor Fungsional

: Darnelan, Utari Patwinindari, dan


RR.Pedyantiwi Alexandriana Sri Handaruni

Penjelasan Tugas adalah sebagai berikut :


a. Kepala Kantor mempunyai tugas mengarahkan dan mengoordinir seluruh
pelaksanaan dan tugas di KPP Pratama Kosambi.
b. Subbagian Umum mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan,
tata usaha, dan rumah tangga.
c. Seksi Pengolahan Data dan Informasi mempunyai tugas melakukan pengumpulan,
pencarian, dan pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, perekaman
dokumen perpajakan, urusan tata usaha penerimaan perpajakan, pengalokasian
Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan,
pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filing,
pelaksanaan i-SISMIOP dan SIG, serta penyiapan laporan kinerja.
d. Seksi Pelayanan mempunyai tugas melakukan penetapan dan penerbitan produk
hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan,
penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya,

10
penyuluhan perpajakan, pelaksanaan registrasi Wajib Pajak, serta melakukan
kerjasama perpajakan.
e. Seksi Penagihan mempunyai tugas melakukan urusan penatausahaan piutang
pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan
penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.
f. Seksi

Pemeriksaan

mempunyai

tugas

melakukan

penyusunan

rencana

pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan


penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan
perpajakan lainnya.
g. Seksi Ekstensifikasi Perpajakan mempunyai tugas melakukan pengamatan potensi
perpajakan, pendataan objek dan subjek pajak, pembentukan dan pemutakhiran
basis data nilai objek pajak dalam menunjang ekstensifikasi.
h. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I, Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, Seksi
Pengawasan dan Konsultasi III, masing-masing mempunyai tugas melakukan
pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak, bimbingan/himbauan
kepada Wajib Pajak dan konsultasi teknis perpajakan, penyusunan profil Wajib
Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, melakukan rekonsiliasi data Wajib Pajak
dalam rangka melakukan intensifikasi, usulan pembetulan ketetapan pajak, usulan
pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan/atau Bangunan dan melakukan evaluasi hasil banding.
i. Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai
dengan jabatan fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.

11
5. Wilayah Kerja.
KPP Pratama Kosambi berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan II, Cikokol,
Tangerang, memiliki wilayah kerja meliputi sebelas Kecamatan dengan 109
kelurahan di wilayah Kabupaten Tangerang. Adapun wilayah kerja KPP Pratama
Kosambi di Kabupaten Tangerang meliputi Kecamatan Pasar Kemis, Sindang Jaya,
Mauk, Kemiri, Sukadiri, Rajeg, Sepatan, Sepatan Timur, Paku Haji, Teluk Naga, dan
Kosambi.
Gambar II. 3 Wilayah Kerja KPP Pratama Kosambi

Sumber : Diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Kosambi


6. Kekuatan Berbagai Sumber Daya yang Ada.
a. Sumber Daya Manusia :

12
Tabel II. 1 Jumlah Pegawai KPP Pratama Kosambi
No.

Seksi

Jumlah Pegawai

1.

Sub Bagian Umum

2.

Seksi Pelayanan

12

3.

Seksi Pengolahan Data

4.

Seksi Penagihan

5.

Seksi Pemeriksaan dan


Kepatuhan Internal

6.

Seksi Ekstensifikasi

7.

Seksi Waskon I

Seksi Waskon II

9.

Seksi Waskon III

10.

Seksi Waskon IV

11.

Tenaga Fungsional

12

TOTAL

81

Sumber : Diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Kosambi


Tabel II. 1 di atas menjelaskan bahwa jumlah seluruh pegawai di KPP Pratama
Kosambi berjumlah 81 orang yang disebar dalam subbagian umum, 9 seksi, dan
Tenaga Fungsional. Waskon di KPP Pratama Kosambi juga telah berjumlah empat
seksi. Pegawai KPP Pratama Kosambi juga dapat dikelompokan menurut jenjang
pendidikan

terakhir,

dan

golongannya.

Menurut

jenjang

pendidikannya

pengelompokan pegawai tersebut dimulai dari jenjang SMA sampai dengan S2


sedangkan menurut golongannya dapat dikelompokan mulai dari golongan I sampai
dengan golongan IV. Pengelompokan pegawai menurut jenjang pendidikan dan
golongannya tersebut dapat dilihat pada Tabel II. 2 dan Tabel II. 3.

13
Tabel II. 2 Pengelompokan Pegawai Berdasarkan Jenjang Pendidikan
Pendidikan

SMA

D1

D3

D4

S1

S2

Jumlah

13

14

28

13

Sumber : Diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Kosambi


Tabel II. 3 Pengelompokan Pegawai Berdasarkan Golongan
Golongan

II

III

IV

Jumlah

35

37

Sumber : Diolah dari Subbagian Umum KPP Pratama Kosambi


b. Potensi Perpajakan :
Seiring dengan perkembangan pembangunan dan pertambahan jumlah
penduduk sudah sewajarnya jika pendapatan pajak KPP Pratama Kosambi akan
meningkat mengingat Kota Tangerang merupakan daerah penyangga bagi Kota
Jakarta. Kemudian di dalam wilayah kerja KPP Pratama Kosambi juga terdapat
beberapa tempat yang menjadi kawasan industri dan juga kawasan pergudangan.
Potensi pajak di KPP Pratama Kosambi yang strategis serta dapat mempengaruhi
penerimaan pajak meliputi:
1) Kawasan industri di Kecamatan Pasar Kemis;
2) Kawasan pergudangan di Kecamatan Kosambi.
Kawasan industri dan pergudangan tersebut diperkirakan akan terus
berkembang seiring dengan pertumbuhan perekonomian, sosial, dan politik di
Indonesia.
7. Data Wajib Pajak KPP Pratama Kosambi.
Jumlah Wajib Pajak di wilayah kerja KPP Pratama Kosambi selalu mengalami
peningkatan setiap tahun, mengingat banyaknya lulusan sarjana dan SMA atau SMK

14
yang siap untuk bekerja. Wajib Pajak yang mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak
akan mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan data tersebut akan
tersimpan di dalam database Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kosambi. Jumlah
Wajib Pajak sampai tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel II. 4.
Tabel II. 4 Jumlah Wajib Pajak Terdaftar
Tahun

2011

2012

2013

21.091

19.647

15.971

Badan

449

642

545

Bendahara

20

23

Orang pribadi

Sumber : Diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Pratama Kosambi
Dari Tabel II. 4 di atas dapat dilihat bahwa jumlah Wajib Pajak setiap tahun
meningkat dan hal tersebut sangat berkontribusi terhadap penerimaan negara dalam
pajak.
8. Data Rencana dan Realisasi Penerimaan Pajak KPP Pratama Kosambi.
Setiap tahun KPP Pratama Kosambi mempunyai target pencapaian penerimaan
pajak dan disandingkan dengan realisasi penerimaan pada tahun yang bersangkutan.
Berikut ini adalah perkembangan penerimaan pajak di KPP Pratama Kosambi dari
tahun 2011 s.d. 2013 dapat dilihat pada Tabel II. 5.
Tabel II. 5 Rencana dan Realisasi Penerimaan Pajak KPP Pratama Kosambi
Tahun

Rencana

Realisasi

Capaian

2011

Rp382.882.914.150,00

Rp401.886.139.815,00

104,96%

2012

Rp487.625.014.749,00

Rp479.166.806.211,00

98,27%

2013

Rp479.188.766.034,00

Rp515.811.554.080,00

107,64%

Sumber : Diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Pratama Kosambi

15
Dari data Tabel II. 5 diatas dapat dilihat bahwa setiap tahun terjadi pencapaian
target penerimaan pajak meskipun pada tahun 2012 persentase pencapaian realisasi
hanya 98,27%. Walaupun tidak mencapai target penerimaan pajak, pada tahun 2012
terjadi peningkatan penerimaan pajak kurang lebih sebesar 78 milyar. Hal tersebut
merupakan prestasi tersendiri bagi KPP Pratama Kosambi karena dalam periode tiga
tahun terakhir merupakan peningkatan penerimaan pajak tertinggi. Penerimaan pada
Tabel II. 5 merupakan penerimaan total dari seluruh jenis pajak yang dihimpun olek
KPP Pratama Kosambi. Untuk penerimaan dari Pajak Penghasilan dapat dilihat pada
Tabel II. 6
Tabel II. 6 Penerimaan Pajak Penghasilan
Tahun

Rencana

Realisasi

Capaian

2011

Rp145.044.639.324,00

Rp150.832.399.753,00

104%

2012

Rp194.229.135.771,00

Rp180.198.602.115,00

93%

2013

Rp227.189.196.359,00

Rp237.823.830.245,00

105%

Sumber : Diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Pratama Kosambi
Dari Tabel II.5 dan Tabel II.6 dapat diketahui bahwa penerimaan pajak di KPP
Pratama Kosambi sebagian besar berasal dari pajak penghasilan. Pajak Penghasilan
KPP Pratama Kosambi terdiri dari PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 22 impor,
PPh Pasal 23, PPh Pasal 25/29, PPh Pasal 26, dan PPh Final PPh Non Migas lainya.
Untuk tahun 2011 kontribusi pajak penghasilan terhadap pendapatan total KPP
Pratama Kosambi dengan persentase sebesar 37,53%. Untuk tahun 2102 kontribusi
pajak penghasilan terhadap pajak yang diterima KPP Pratama Kosambi dengan
persentase sebesar 37,60%. Sedangkan untuk tahun 2103 penerimaan pajak

16
penghasilan terhadap jumlah pajak yang diterima meningkat cukup besar, yaitu
dengan persentase mencapai 46,106%. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel II.7
Tabel II. 7 Persentase Pajak Penghasilan terhadap Jumlah Penerimaan Pajak
Tahun

Pajak Penghasilan

Jumlah Pajak

Persentase

2011

Rp150.832.399.753,00

Rp401.886.139.815,00

37,53%

2012

Rp180.198.602.115,00

Rp479.166.806.211,00

37,60%

2013

Rp237.823.830.245,00

Rp515.811.554.080,00

46,106%

Sumber : Diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Pratama Kosambi
B. Landasan Teori
1. Pengertian Pajak.
Berbagai pengertian atau definisi mengenai pajak telah dikemukaan oleh para
ahli. Menurut Brotodiharjo (2008, 2) mendefinisikan pajak sebagai:
iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi), yang
langsung dapat ditunjukan dan digunakan untuk membayar pengeluaran
umum.
Pendapat dari Soemitro (1990) menyatakan pajak adalah peralihan kekayaan
dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan
surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk
membiayai public investment.
Sedangkan, pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2009 menyebutkan
bahwa pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi
atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak

17
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dari pengertian pajak yang mengacu pada UU KUP, kita dapat mengetahui
ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak, yaitu :
a. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang. Dalam pasal 23A UUD 1945 yang
menyatakan bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk
keperluan negara diatur dengan undang-undang. Pasal 23A UUD 1945 ini
sekaligus juga sebagai asas legalitas pemungutan pajak di Indonesia.
b. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pemungutan pajak didasarkan oleh undangundang yang memiliki kekuatan hukum memaksa sehingga seseorang yang
mempunyai kewajiban membayar pajak namun tidak melaksanakan kewajibannya
untuk membayar pajak tersebut akan dikenai sanksi berupa denda atau kurungan.
c. Tidak mendapat imbalan (kontraprestasi) secara langsung yang dapat ditunjuk.
Artinya, seseorang yang telah membayar pajak tidak langsung mendapatkan
imbalan dari pemerintah atas kewajiban membayar pajak tersebut. Namun, secara
tidak langsung mereka telah mendapatkan imbalan dari pemerintah berupa
pelayanan dan fasilitas umum seperti pembangunan jalan, jembatan, rumah sakit,
dan berbagai fasilitas umum lainnya yang tentunya tidak hanya dimanfaatkan oleh
mereka sendiri tetapi juga masyarakat luas yang membutuhkan.
d. Pajak dipergunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum (public
investment). Pajak sebagai sumber utama bagi pemerintah untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran umum dari kegiatan pemerintah yang telah disusun
dalam APBN maupun APBD.

18
e. Pajak dipungut oleh Negara. Negara yang dimaksud disini tidak hanya mencakup
pemerintah pusat, melainkan juga pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah
yaitu yang dikenal dengan Pajak Daerah.
2. Pengertian Pajak Penghasilan.
Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2008, penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari
luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan
Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Subjek Pajak Penghasilan menurut undang-undang tersebut terdiri atas orang
pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan yang berhak, badan, dan
badan usaha tetap. Subjek Pajak akan menjadi Wajib Pajak apabila menerima atau
memperoleh penghasilan yang besarnya telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP).
3. Objek Pajak Penghasilan.
Menurut Pasal 4 UU PPh yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak,
baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indoesia yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama
dan dalam bentuk apapun, meliputi:
a. penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa;
b. hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;

19
c. laba usaha;
d. keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta;
e. penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak;
f. bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian
utang;
g. dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun;
h. royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
i. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
j. penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
k. keuntungan karena pembebasan utang;
l. keuntungan selisih kurs mata uang asing;
m. selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
n. premi asuransi;
o. tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan
pajak;
p. penghasilan dari usaha berbasis syariah;
q. imbalan bunga; dan
r. surplus Bank Indonesia.
4. Pajak Penghasilan Final.
Pajak penghasilan final adalah penghasilan yang langsung dikalikan dengan
tarif pajak sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pajak penghasilan final tidak dapat dijadikan sebagai kredit pajak. Berikut adalah

20
penghasilan yang termasuk dalam pajak final menurut Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan:
a. penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan
surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggota koperasi orang pribadi;
b. penghasilan berupa hadiah undian;
c. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang
diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan
penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan
modal ventura;
d. penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan,
usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan;
dan
e. penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerintah.
5. Dikecualikan Objek Pajak Penghasilan.
Berikut ini adalah hal-hal yang dikecualikan dari objek pajak penghasilan
menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan:
a. bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau
lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang
sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh
lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang

21
diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Pemerintah;
b. harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus
satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan,
koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;
c. warisan;
d. harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham
atau sebagai pengganti penyertaan modal;
e. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau
Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang
dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma
penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15;
f. pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan
asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi beasiswa;
g. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai
Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha
milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan
bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:

22
1) dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
2) bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik
daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang
memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah
modal yang disetor;
h. iuran yang diterima atau diperoleh dana pension yang pendiriannya telah disahkan
Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;
i. penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pension dalam bidang-bidang
tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;
j. bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan
kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif;
k. penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa
bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau
kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
1) merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan
kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan; dan
2) sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;
l. beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih
lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
m. sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak
dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang

23
telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali
dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan
pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak
diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
n. bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
6. Subjek Pajak Penghasilan Orang Pribadi.
Pajak Penghasilan orang pribadi adalah pajak penghasilan yang dikenakan
kepada subjek pajak orang pribadi yang dibedakan atas subjek pajak dalam negeri dan
luar negeri. Subjek pajak orang pribadi dalam negeri adalah orang pribadi yang
bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183
(seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang
pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk
bertempat tinggal di Indonesia. Kewajiban pajak subjektif orang pribadi timbul pada
saat orang pribadi tersebut dilahirkan, berada atau berniat untuk bertempat tinggal di
Indonesia dan kewajiban ini berakhir pada saat orang pribadi tersebut meninggal
dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.
Subjek pajak orang pribadi luar negeri adalah orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 hari (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)
bulan. Wajib Pajak luar negeri dikenakan pajak hanya dari penghasilan yang

24
bersumber dari Indonesia yang didasarkan dari jumlah penghasilan bruto yang
diterima sebesar tarif sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kepada Wajib Pajak luar
negeri tidak diwajibkan untuk menyampaikan SPT Tahunan karena kewajiban
perpajakannya telah dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.
Kewajiban subjektif Wajib Pajak luar negeri timbul pada saat orang pribadi tersebut
mulai menerima penghasilan yang bersumber dari Indonesia dan berakhir ketika
sudah tidak lagi menerima penghasilan yang bersumber dari Indonesia.
7. Dikecualikan dari Subjek Pajak Penghasilan Orang Pribadi.
Orang pribadi yang dikecualikan sebagai subjek pajak penghasilan orang
pribadi adalah orang pribadi yang walaupun tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari
dalam jangka waktu 12 bulan tetapi tidak dianggap sebagai subjek pajak sehingga
tidak dikenakan pajak sebagaimana diatur dalam pasal 3 UU PPh, antara lain
mencakup:
a. pejabat perwakilan diplomatik, dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing
dan orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat
tinggal bersama mereka, dengan syarat bukan WNI dan di Indonesia tidak
menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atau pekerjaannya
tersebut serta Negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
b. pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan (KMK) dengan syarat bukan WNI dan tidak
menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh
penghasilan dari Indonesia.
8. Surat Pemberitahuan.

25
a. Pengertian Surat Pemberitahuan.
Pengertian Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib Pajak
digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak
dan/atau bukan objek, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. SPT terdiri atas SPT Masa dan SPT
Tahunan. SPT Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak. SPT
Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun
Pajak.
b. Formulir SPT Tahunan Pajak Penghasilan orang pribadi.
SPT Tahunan Pajak Penghasilan orang pribadi adalah SPT yang harus
dilaporkan oleh Wajib Pajak orang pribadi sekali dalam satu tahun pajak ke KPP
Wajib Pajak terdaftar, Drop Box, mobil pajak, atau melalui fasilitas lainnya yang akan
dijelaskan pada bab selanjutnya. Batas waktu penyampaian SPT Tahunan adalah
sampai tanggal 31 Maret tahun berikutnya. Penyampaian SPT Tahunan Pajak
Penghasilan orang pribadi juga dapat disampaikan dengan kolektif, tetapi batas waktu
penyampaian hanya sampai tanggal 10 Maret tahun berikutnya. SPT ini dibedakan
menjadi tiga formulir, yaitu SPT 1770, 1770S, dan 1770SS. Formulir SPT 1770
adalah Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak yang melakukan pekerjaan bebas.
Formulir SPT 1770S (sederhana) digunakan bagi Wajib Pajak yang mempunyai
penghasilan dari satu atau lebih pemberi kerja, dari dalam negeri lainnya, dan/atau
yang dikenakan pajak penghasilan final dan/atau bersifat final. Sedangkan formulir
SPT 1770SS (sangat sederhana) digunakan bagi Wajib Pajak yang mempunyai
penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari

26
pekerjaan tidak lebih dari Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) setahun dan
tidak mempunyai penghasilan lain kecuali penghasilan berupa bunga bank dan/atau
bunga koperasi. Berikut adalah tabel perbedaan antara formulir SPT 1770, 1770S, dan
1770SS.
Tabel II. 8 Perbedaan Formulir SPT Tahunan Wajib Pajak orang pribadi

Sumber : Diolah dari Leaflet Tata Cara Penyampaian SPT Tahunan Direktorat
Jenderal Pajak

27
c. Penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan orang pribadi.
Penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan orang pribadi dapat dilakukan
dengan tiga cara, yaitu :
a. Secara langsung melalui :
1) KPP dan KP2KP (Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan)
terdekat;
2) Pojok Pajak;
3) Mobil Pajak;
4) Drop Box di tempat publik (perkantoran, pusat bisnis, pertokoan dan lainnya).
b. Melalui Pos, Jasa Ekspedisi atau Jasa Kurir
c. Secara elektronik (e-Filing)
Penyampaian SPT Tahunan melalui e-Filing dapat menggunakan:
1) Layanan e-Filing yang disediakan oleh situs resmi Direktorat Jenderal Pajak di
alamat www.pajak.go.id, khusus bagi Wajib Pajak orang pribadi yang
penyampaian SPT Tahunannya menggunakan formulir SPT Tahunan orang
pribadi 1770 S dan 1770 SS; dan
2) Layanan e-Filing yang disediakan oleh Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) yang
telah ditunjuk dengan keputusan Direktur Jenderal Pajak, untuk semua jenis
SPT Tahunan.
d. Alur penyampaian SPT Tahunan.
Alur penyampaian SPT Tahunan mulai tahun 2013 terdapat beberapa
perbedaan tahap penyampaian SPT dibanding tahun-tahun sebelumnya, antara lain
SPT tidak perlu dimasukkan ke dalam amplop dan langsung diteliti oleh pegawai

28
pajak. Apabila terdapat persyaratan formal yang belum dipenuhi, maka pegawai pajak
dapat memeriksa langsung untuk disampaikan kepada Wajib Pajak agar segera untuk
melengkapi semua berkas yang dibutuhkan dalam kelengkapan SPT. Alur
penyampaian SPT Tahunan dapat dilihat pada Lampiran.
e. Penyampaian SPT Tahunan melalui pos, jasa ekspedisi, atau jasa kurir.
Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Tahunan melalui pos atau perusahaan
jasa ekspedisi atau jasa kurir dilakukan dalam amplop tertutup yang telah dilekati
lembar informasi amplop SPT Tahunan yang berisi data sebagai berikut:
1) nama Wajib Pajak;
2) Nomor Pokok Wajib Pajak;
3) tahun pajak;
4) status SPT (Nihil/Kurang Bayar/Lebih Bayar);
5) jenis SPT (SPT Tahunan/SPT Tahunan Pembetulan Ke- );
6) perubahan data (Ada/Tidak Ada);
7) Nomor Telepon;
8) pernyataan; dan
9) tanda tangan Wajib Pajak.
Tanda bukti dan tanggal pengiriman surat dianggap sebagai tanda terima dan tanggal
penerimaan SPT Tahunan sepanjang SPT Tahunan tersebut telah lengkap.
f. Penyampaian SPT Tahunan secara kolektif.
Untuk mempermudah bagi Wajib Pajak yang tidak memiliki waktu lebih atau
memiliki kesibukan lain dapat menyampaikan SPT Tahunan secara kolektif dengan
memperhatikan hal sebagai berikut:

29
1) untuk memberikan keleluasaan waktu bagi Wajib Pajak dalam melengkapi
persyaratan SPT Tahunan dalam hal dinyatakan SPT kurang lengkap, Wajib Pajak
akan dilayani sampai dengan tanggal 10 Maret;
2) layanan kolektif yang diberikan kepada Wajib Pajak dapat berupa penerimaan
SPT di lokasi pemberi kerja atau pembukaan loket khusus SPT kolektif di KPP
atau KP2KP;
3) layanan kolektif hanya diberikan kepada Wajib Pajak yang menyampaikan SPT
tepat waktu;
4) kepada Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Tahunan secara kolektif setelah
tanggal 10 Maret, maka tidak akan dilayani secara kolektif.
g. Penyampaian SPT Tahunan dengan kriteria tertentu.
Untuk SPT Tahunan dengan kriteria tertentu sebagai berikut:
1) SPT Tahunan dengan status Lebih Bayar;
2) SPT Tahunan dengan status Pembetulan;
3) SPT Tahunan yang disampaikan lewat waktu; atau
4) SPT Tahunan dalam bentuk e-SPT,
dapat disampaikan secara langsung ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar atau melalui
pos, jasa ekspedisi atau jasa kurir ke alamat KPP tempat Wajib Pajak terdaftar atau
melalui e-Filing.
h. Penyampaian SPT Tahunan pembetulan.
Direktorat Jenderal Pajak memberikan kesempatan Wajib Pajak untuk
melakukan pembetulan SPT Tahunan apabila terdapat kekeliruan dalam pengisian
SPT Tahunan dengan memperhatikan hal-hal berikut:

30
1) SPT Pembetulan disampaikan sebelum Direktorat Jenderal Pajak melakukan
tindakan pemeriksaan;
2) dalam hal SPT Pembetulan berstatus rugi atau lebih bayar, SPT tersebut harus
disampaikan paling lama 2 (dua) tahun sebelum daluwarsa penetapan;
3) Wajib Pajak dapat melakukan pembetulan SPT Tahunan dalam jangka waktu 3
(tiga) bulan setelah menerima Surat Ketetapan Pajak (SKP), Surat Keputusan
(SK) Keberatan, SK Pembetulan, Putusan Banding atau Putusan Peninjauan
Kembali yang menyatakan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah
dikompensasikan dalam SPT yang akan dibetulkan, dengan syarat Direktorat
Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.
i. Hal-hal yang perlu diketahui dalam penyampaian SPT Tahunan.
Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui dalam penyampaian SPT Tahunan
yang belum dibahas pada bab sebelumnya:
1) pergunakan formulir SPT Tahunan sesuai ketentuan yang berlaku;
2) dapatkan formulir SPT di KPP atau KP2KP terdekat;
3) tempat-tempat lain yang disediakan seperti Pojok Pajak, Mobil Pajak atau dapat
diunduh langsung melalui situs resmi DJP di alamat www.pajak.go.id dalam
format PDF Isian;
4) pastikan SPT sudah diisi dengan lengkap, benar dan jelas dan telah
ditandatangani; periksa kelengkapan dokumen dan lampiran yang dipersyaratkan;
5) demi kenyamanan, sampaikanlah SPT Tahunan dengan segera tanpa menunggu
batas akhir waktu penyampaian.
9. Prosedur Penyampaian SPT secara Elektronik (E-Filing).

31
a. Pengertian e-Filing.
Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-1/PJ/2014, e-Filing
adalah suatu cara penyampaian SPT Tahunan secara elektronik yang dilakukan secara
online dan real time melalui internet pada website Direktorat Jenderal Pajak
(www.pajak.go.id) atau Penyedia Jasa Aplikasi atau Application Service Provider
(ASP). Untuk memudahkan pemahaman dalam pembahasan subbab ini, penulis
menyajikan beberapa istilah yang berkaitan dengan pelaporan SPT Tahunan orang
pribadi melalui e-Filing sebagai berikut:
1. e-SPT, adalah data SPT Wajib Pajak dalam bentuk Elektronik yang dibuat oleh
Wajib Pajak dengan menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan oleh Direktorat
Jenderal Pajak;
2. e-Filing, adalah suatu cara penyampaian SPT Tahunan secara elektronik yang
dilakukan secara online dan real time melalui internet pada website Direktorat
Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) atau penyedia jasa aplikasi atau Application
Service Provider (ASP);
3. e-FIN (Electronic Filing Identification Number), adalah nomor identitas yang
diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak kepada Wajib Pajak yang mengajukan
permohonan untuk melaksanakan e-Filing;
4. tentang Bukti Penerimaan Elektronik (BPE), adalah informasi yang meliputi
nama, NPWP, tanggal, jam, Nomor Tanda Terima Elektronik (NTTE) yang tertera
pada hasil cetakan bukti penerimaan dalam hal e-Filing dilakukan melalui website
DJP atau informasi yang meliputi nama, NPWP, tanggal, jam, Nomor Tanda
Terima Elektronik (NTTE) dan Nomor Transaksi Pengiriman ASP (NTPA) serta

32
nama Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi, yang tertera pada hasil cetakan SPT
Induk dalam hal e-Filing dilakukan melalui Penyedia Jasa Aplikasi atau
Application Service Provider (ASP);
5. tanda tangan elektronik atau tanda tangan digital adalah informasi elektronik yang
dilekatkan dan memiliki hubungan langsung atau terasosiasi pada suatu informasi
elektronik lain termasuk sarana administrasi perpajakan yang ditujukan oleh
Wajib Pajak untuk menunjukan identitas dan status yang bersangkutan;
6. kode verifikasi adalah sekumpulan angka atau huruf atau kombinasi angka dan
huruf yang di-generate oleh sistem DJP yang digunakan untuk keamanan dalam
proses e-Filing melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id);
7. notifikasi adalah pemberitahuan kepada Wajib Pajak mengenai status e-SPT
disampaikan secara e-Filing melalui website DJP;
8. Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) adalah nomor yang tertera pada
bukti penerimaan negara yang diterbitkan melalui Modul Penerimaan Negara.
Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Tahunan secara e-Filing melalui website
Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) sebagaimana telah dijelaskan diatas
harus memiliki e-FIN yang didapatkan di Kantor Pelayanan Pajak.
b. Permohonan e-FIN melalui Kantor Pelayanan Pajak.
Berdasarakan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-1/PJ/2014 Wajib
Pajak hanya dapat mendapatkan e-FIN melalui Kantor Pelayanan Pajak dengan
mengisi formulir permohonon pendaftaran e-FIN dengan menyertakan:
1) asli kartu identitas Wajib Pajak atau Kuasanya untuk ditujukan kepada pegawai
pajak;

33
2) fotokopi identitas diri Wajib Pajak dan fotokopi NPWP atau Surat Keterangan
Terdaftar Wajib Pajak;
3) Surat Kuasa Khusus bermeterai sebagai lampiran formulir permohonan e-FIN
dalam hal permohonan disampaikan oleh Kuasa Wajib Pajak.
Permohonan e-FIN dianggap lengkap dan benar apabila nama dan Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang tercantum sesuai dengan nama dan NPWP dalam
Master File Nasional Direktorat Jenderal Pajak. Kantor Pelayanan Pajak diharus
menerbitkan e-FIN paling lama satu hari kerja sejak permohonan diterima dengan
lengkap dan benar kepada Wajib Pajak atau Kuasa Wajib Pajak secara langsung.
c. Pendaftaran Wajib Pajak e-Filing.
Wajib Pajak yang sudah mendapatkan e-FIN sebagaimana yang dimaksud
diatas harus mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak e-Filing melalui website
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender sejak
diterbitkannya e-FIN dengan cara sebagai berikut:
1) buka menu e-Filing di website DJP (www.pajak.go.id);
2) masukkan NPWP dan e-FIN;
3) isi data alamat surat elektronik (email address), nomor handphone dan password;
4) kirim data pendaftaran.
Data alamat surat elektronik (email address) dan nomor handphone digunakan
sebagai penerimaan kode verifikasi, notifikasi, dan bukti penerimaan elektronik.
Wajib Pajak yang sudah mendapatkan e-FIN tetapi tidak mendaftarkan diri
sampai batas waktu yang ditentukan (paling lama 30 hari), maka e-FIN yang telah

34
diterbitkan tidak dapat didaftarkan dan dianjurkan untuk mengajukan permohonan eFIN kembali. Dalam hal e-FIN hilang sebelum Wajib Pajak mendaftarkan diri sebagai
Wajib Pajak e-Filing, maka Wajib Pajak dapat mengajukan kembali permohonan eFIN.
d. Penyampaian SPT melalui e-Filing
Wajib Pajak yang telah mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak e-Filing dapat
menyampaikan SPT Tahunan secara e-Filing dengan cara sebagai berikut:
1) masuk atau login pada menu e-Filing website Direktorat Jenderal Pajak
(www.pajak.go.id) dengan email address sebagai username dan password
sebagaimana data yang telah diinput pada saat registrasi;
2) Wajib Pajak mengisi aplikasi e-SPT dengan benar, lengkap dan jelas;
3) apabila hasil pengisian aplikasi e-SPT menunjukan status kurang bayar, Wajib
Pajak harus mencantumkan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) atas
pembayaran PPh Pasal 29 sebagai bukti pembayaran;
4) Wajib Pajak yang telah mengisi aplikasi e-SPT sebagaimana yang dimaksud poin
kedua meminta kode verifikasi pada website Direktorat Jenderal Pajak;
5) hasil pengisian aplikasi e-SPT dibubuhi tanda tangan elektronik atau tanda tangan
digital dengan cara memasukkan kode verifikasi yang diperoleh dari Direktorat
Jenderal Pajak;
6) mengirimkan SPT;
7) Wajib Pajak akan menerima Bukti Penerimaan Elektronik sebagai tanda terima
penyampaian SPT Tahunan yang akan disampaikan pada email address Wajib
Pajak.

35
Keterangan dan/atau dokumen lain terkait SPT Tahunan tidak perlu
disampaikan pada saat penyampaian SPT Tahunan secara e-Filing tetapi wajib
disimpan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
e. Informasi lain terkait sistem e-Filing.
Melalui wawancara kepada pegawai pajak dan penelitian peraturan terkait eFiling, penulis merangkum informasi lain terkait sistem e-Filing yang belum
dijelaskan pada bab sebelumnya. Berikut ini adalah informasinya:
1) Penyampaian SPT Tahunan secara e-Filing melalu website Direktorat Jenderal
Pajak (www.pajak.go.id) dapat dilakukan setiap saat dengan standar Waktu
Indonesia Bagian Barat;
2) Wajib Pajak yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak e-Filing dapat
menyampaikan kembali SPT Tahunannya secara manual.
3) Perlakuan mengenai sanksi administrasi terhadap penyampaian SPT Tahunan
melalui e-Filing sama dengan Penyampaian SPT Tahunan secara manual.
4) Penelitian dokumen SPT yang disampaikan melalui e-Filing sebenarnya dilakukan
oleh sistem itu sendiri. Apabila dokumen SPT tidak lengkap atau tidak di isi
dengan benar dan lengkap maka sistem e-Filing tidak mengizinkan tahap
selanjutnya. Kesalahan tulis tidak akan terjadi di e-Filing karena identitas Wajib
Pajak sudah terdaftar melalui e-FIN yang didasarkan pada identitas Nomor Pokok
Wajib Pajak. Kesalahan hitung juga tidak akan terjadi pada sistem e-Filing karena
dalam e-Filing terdapat aplikasi kalkulator yang otomatis menghitung angka yang
dimasukkan Wajib Pajak. Kemungkinan salah memasukkan angka bisa terjadi
sehingga status Wajib Pajak tidak sesuai dengan keadaan. Apabila status SPT

36
Tahunan Wajib Pajak orang pribadi lebih bayar maka akan dilakukan pemeriksaan
oleh pegawai pajak.
5) Pemeriksaan status SPT lebih bayar sampai dengan Rp50.000.000,00 dilakukan
oleh Account Representative, sedangkan lebih dari Rp50.000.000,00 dilakukan
oleh seksi pemeriksaan KPP Pratama Kosambi.
6) Status SPT Tahunan kurang bayar harus mencantumkan NTPN (Nomor Tanda
Penerimaan Negara) sebagai pelengkap dokumen sekaligus menunjukkan bahwa
Wajib Pajak bersangkutan telah membayar pajak terutang.
7) Apabila kita simpulkan Prosedur penyampaian SPT Tahunan orang pribadi
melalui e-Filing dari penjelasan diatas, kita hanya memerlukan tiga langkah yaitu:
Gambar II. 4 Tiga Langkah menyampaikan SPT melalui e-Filing

Sumber : Diolah dari Website Direktorat Jenderal Pajak


(www.pajak.go.id)
10. Kepatuhan Kewajiban Perpajakan.

37
Pengertian Kepatuhan Kewajiban Perpajakan dikemukakan oleh Norman D.
Nowak dikutip oleh Zain (2007, 31) yaitu:
sebagai iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan,
tercermin dalam situasi dimana:
a. wajib Pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan;
b. mengisi formulis pajak dengan lengkap dan jelas;
c. menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar;
d. membayar pajak yang terutan tepat pada waktunya.
Pengertian kepatuhan terhadap kewajiban perpajakan ditulis oleh Safri
Nurmantu dan dikutip oleh Devano dan Rahayu (2006, 10) menyatakan bahwa
kepatuhan wajib pajak yaitu kepatuhan perpajakan yang didefinisikan sebagai suatu
keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan
melaksanakan hak perpajakkannya.
Sedangkan menurut Mardiasmo (2009) menjelaskan bahwa kepatuhan terdiri
dari kepatuhan pajak materiil dan kepatuhan pajak formil. Kepatuhan pajak materiil,
memuat norma-norma yang menerangkan antara lain keadaan, perbuatan, peristiwa
hukum yang dikenai pajak (objek pajak), siapa yang dikenakan pajak (sumber),
berapa besar pajak yang dikenakan (tarif), segala sesuatu tentang timbul dan hapusnya
utang pajak, dan hubungan hukum antara pemerintah dan Wajib Pajak. Kepatuhan
pajak formil, memuat bentuk/tata cara untuk mewujudkan hukum materiil menjadi
kenyataan (cara melaksanakan hukum pajak materiil). Hukum ini memuat antara lain:
a. tata cara penyelenggaraan (prosedur) penetapan suatu utan pajak;
b. hak-hak fiskus untuk mengadakan pengawasan terhadap Wajib Pajak mengenai
keadaan, perbuatan, dan peristiwa yang menimbulkan utang pajak;
c. kewajiban Wajib Pajak misalnya menyelenggarakan pembukuan/pencatatan, dan

38
hak-hak Wajib Pajak misalnya mengajukan keberatan dan banding.
C. Hasil Pengamatan Lapangan
1. Data Kuantitatif.
Tabel II. 9 Permintaan e-FIN dan Wajib Pajak Terdaftar e-Filing s.d. Tahun
2014
No.

Permintaan e-FIN

Terdaftar

Persentase

1.

13.209

5.421

41.04%

Sumber : Diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Pratama Kosambi
Dari Tabel II. 9 di atas kita dapat melihat bahwa Wajib Pajak yang berhasil
mendaftarkan dirinya sebagai Wajib Pajak e-Filing setelah meminta e-FIN adalah
sebesar 5.421 Wajib Pajak atau sebesar 41.04%. Hal ini menunjukkan masih
rendahnya realisasi pendaftaran

Wajib Pajak e-Filing setelah mengajukan

permohonan e-FIN. Beberapa hal yang menjadikan Wajib Pajak tidak berhasil
mendaftarkan dirinya sebagai Wajib Pajak e-Filing adalah melampaui jangka waktu
30 (tiga puluh) hari sejak permohonan e-FIN dikabulkan dan e-FIN yang dipegang
Wajib Pajak hilang sehingga Wajib Pajak harus mengajukan permohonan e-FIN
kembali ke KPP.
Tabel II. 10 Penerimaan SPT Tahunan melalui e-Filing Tahun Pajak 2013
No.

Formulir SPT

Jumlah

Persentase

1.

SPT Tahunan 1770 S

1.459

20.49%

2.

SPT Tahunan 1770 SS

5.663

79.51%

Total

7.122

100%

Sumber : Diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Pratama Kosambi

39
Menurut pegawai pajak bidang Pengolah Data dan Informasi (PDI) KPP
Pratama Kosambi, web monitoring Direktorat Jenderal Pajak hanya dapat
menampilkan data penerimaan SPT Tahunan melalui e-Filing pada tahun pajak 2013.
Sehingga penulis hanya dapat menyajikan penerimaan jumlah SPT Tahunan orang
pribadi melalui e-Filing pada tahun pajak 2013.
Dari Tabel II. 10 di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar
Wajib Pajak e-Filing di KPP Pratama Kosambi memiliki penghasilan dibawah
Rp60.000.000,00 dan bekerja pada satu pemberi kerja. Hal ini ditunjukkan dengan
penerimaan SPT Tahunan melalui e-Filing Formulir 1770 SS sebesar 5.663 atau
79.51%, lebih besar dibandingkan penerimaan SPT Tahunan melalui e-Filing
Formulir 1770 S sebesar 1.459 atau 20.49%.
Tabel II. 11 Penerimaan SPT Tahunan melalui e-Filing dan Manual Tahun
Pajak 2013
No.

Keterangan

Jumlah

Persentase

1.

e-Filing

7.122

16.04%

2.

Manual

37.270

83.96%

Total

44.392

100%

Sumber : Diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Pratama Kosambi
Tabel II. 11 menyajikan Penerimaan SPT Tahunan Tahun Pajak 2013 melalui
e-Filing dan manual, menunjukkan bahwa sebagian besar Wajib Pajak orang pribadi
di KPP Pratama Kosambi masih menggunakan penyampaian SPT Tahunan secara
manual, yaitu sebesar 37.270 atau 83.96%. Beberapa faktor penyebab masih
rendahnya Wajib Pajak yang menggunakan fasilitas e-Filing adalah sebagai berikut:

40
a. e-Filing merupakan program yang masih tergolong baru bagi Wajib Pajak
sehingga sebagian besar Wajib Pajak belum mengenal sistem ini;
b. kurangnya kepedulian Wajib Pajak terhadap informasi perpajakan yang setiap saat
mengalami perubahan;
c. pengetahuan akan teknologi informasi masih tergolong rendah, sehingga
pemanfaatan e-Filing kurang menarik bagi Wajib Pajak.
Melalui metode pengumpulan data wawancara, penulis telah mendapatkan
informasi mengenai hal yang telah dilakukan pegawai pajak khususnya account
representative dalam hal penyampaian SPT Tahunan orang pribadi melalui e-Filing.
Hal yang paling utama bagi pegawai pajak adalah memberikan sosialisasi sebanyakbanyaknya kepada masyarakat khususnya bagi Wajib Pajak. Sosialisasi ini berupa
pengenalan sistem e-Filing, memberikan pengetahuan penggunaan internet, tutorial
penyampaian SPT Tahunan melalui e-Filing yang juga telah di unggah pada website
Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id), dan membuka kelas pajak. Selain
sosialisai, sebagian pegawai pajak telah menyampaikan SPT Tahunannya melalui eFiling, karena pegawai pajak merupakan panutan bagi Wajib Pajak dan dituntut harus
mengetahui perkembangan informasi perpajakan. Target Direktorat Jenderal Pajak
adalah seluruh Wajib Pajak dapat menyampaikan SPT Tahunannya melalu e-Filing,
sehingga perekaman administrasi perpajakan di Indonesia dapat terorganisasi dengan
baik dan lengkap.
Perlu diketahui juga bahwa melalui Surat Edaran Menteri Keuangan, SE36/MK.03/2013 menghimbau pegawai pajak untuk menyampaikan SPT Tahunan
Pajak Penghasilan orang pribadi melalui e-Filing. Dalam hal ini bukan merupakan

41
suatu kewajiban bagi pegawai pajak, tetapi merupakan suatu keutamaan bagi pegawai
pajak untuk menyampaikan SPT Tahunan orang pribadi melalui e-Filing.
Tabel II. 12 Tingkat Kepatuhan Kewajiban Perpajakan Tahun Pajak 2011 dan
2013
No.

Tahun

1.

Tahun 2011

2.

Tahun 2013

Penerimaan SPT (e-

Jumlah Wajib Pajak

Persentase

29.845

119.082

25.6%

44.392

154.697

28.7%

Filing dan Manual)

Sumber : Diolah dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Pratama Kosambi
Tingkat kepatuhan kewajiban perpajakan dihitung dari jumlah penerimaan
SPT Tahunan orang pribadi dibagi jumlah seluruh Wajib Pajak orang pribadi di KPP
Pratama Kosambi dikalikan 100%. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor Per-39/PJ/2011, tahun pajak 2011 merupakan awal dari penyampaian SPT
Tahunan orang pribadi melalui e-Filing karena peraturan tersebut mulai berlaku pada
1 Februari 2012. Penulis memilih tahun pajak 2011 karena tahun pajak tersebut
merupakan awal penyampaian SPT Tahunan orang pribadi melalu e-Filing dan tahun
pajak 2013 merupakan data terakhir penyampaian SPT Tahunan orang pribadi
sehingga dapat diketahui perkembangan sistem e-Filing terhadap tingkat kepatuhan
kewajiban perpajakan orang pribadi melalui data awal dan terakhir sistem e-Filing
digunakan.
Dari Tabel II. 12 di atas menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan kewajiban
perpajakan orang pribadi tahun pajak 2013 sebesar 28.7%, lebih tinggi dibandingkan
dengan tahun pajak 2011 sebesar 25.6%. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan

42
sistem e-Filing mempengaruhi tingkat kepatuhan kewajiban Wajib Pajak orang
pribadi, yaitu membuat Wajib Pajak orang pribadi lebih patuh terhadap kewajiban
perpajakannya. Namun perkembangan tersebut bukan merupakan faktor tunggal
dalam peningkatan kepatuhan kewajiban perpajak Wajib Pajak orang pribadi, terdapat
juga faktor lain, diantaranya sebagai berikut:
a. Wajib Pajak lebih peduli terhadap kewajiban perpajakannya;
b. peran pegawai pajak untuk memeriksa kepatuhan kewajiban perpajakan;
c. peningkatan kualitas pelayanan KPP.
Meskipun data diatas menunjukkan kenaikkan terhadap kepatuhan kewajiban
perpajakkan orang pribadi, tetapi persentase tersebut menunjukkan bahwa masih
rendahnya kepatuhan kewajiban perpajakan di KPP Pratama Kosambi dengan tingkat
kepatuhan sebesar 25,6% pada tahun pajak 2011 dan sebesar 28,7% pada tahun pajak
2013. Faktor penyebab diantaranya:
a. masih rendahnya kepedulian Wajib Pajak terhadap kewajiban perpajakannya;
b. Wajib Pajak yang sudah tidak aktif masih terhitung.
2. Data Kualitatif.
Pada subbab ini penulis menggunakan metode pengumpulan data observasi
dan wawancara kepada pegawai pajak dan Wajib Pajak. Berikut adalah data yang
penulis peroleh selama menjalankan PKL di KPP Pratama Kosambi:
a. Sosialisasi e-Filing.
Dasar hukum pertama Direktorat Jenderal Pajak untuk melaksanakan
penyampaian SPT Tahunan orang pribadi melalui e-Filing adalah Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor Per-39/PJ/2011 yang dikeluarkan pada tanggal 23 Desember

43
2011. Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Februari 2012 yang berarti SPT
Tahunan orang pribadi tahun pajak 2011 dapat disampaikan melalui e-Filing. Hal ini
menurut penulis merupakan hal baru terutama bagi Wajib Pajak yang buta akan
teknologi informasi. Maka perlu dilakukan penyuluhan dan sosialisasi agar
penyampaian SPT melalui e-Filing dapat diterapkan Wajib Pajak di seluruh
Indonesia. Dalam hal ini KPP Pratama Kosambi melalui Account Representative telah
melakukan penyuluhan dan sosialisasi aktif maupun pasif. Berikut adalah sosialisasi
e-Filing yang telah dilaksanakan KPP Pratama Kosambi :
1) Sosialisasi pasif.
a) Pemasangan banner tata cara penyampaian SPT e-Filing di sudut kantor;
b) menghimbau Wajib Pajak orang pribadi untuk menyampaikan SPT Tahunan
melalui e-Filing pada tulisan elektrik yang dipasang diatas TPT (Tempat
Pelayanan Terpadu);
c) Wajib Pajak dapat mengakses Informasi Perpajakan pada layar touchscreen.
2) Sosialisasi aktif.
a) Pegawai pajak dalam hal ini Account Representative KPP Pratama Kosambi telah
melakukan penyuluhan tentang penyampaian SPT Tahunan orang pribadi melalui
e-Filing kepada karyawan di beberapa perusahaan;
b) melalui Surat Edaran Menteri Keuangan, seluruh pegawai pajak dianjurkan
menyampaikan SPT Tahunannya melalui e-Filing karena pegawai pajak
merupakan panutan bagi Wajib Pajak. Diharapkan setelah seluruh pegawai pajak
menyampaikan SPT Tahunannya melalui e-Filing, pegawai pajak dapat
membimbing Wajib Pajak di lingkungan sekitarnya.

44
b. Perbedaan e-Filing setelah dikeluarkan peraturan baru.
Penulis membahas subbab ini dikarenakan penulis menemukan perbedaan data
mengenai teknis penyampaian SPT Tahunan orang pribadi melalui e-Filing dari
sumber internet, peraturan baru, dan peraturan lama. Maka dari itu penulis akan
meluruskan informasi yang kurang benar yang sudah terlanjur diketahui umum atau
informasi itu belum diperbarui. Berikut ini adalah perbedaan teknis penyampaian SPT
Tahunan orang pribadi melalui e-Filing yang lama (berdasarkan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor Per-39/PJ/2011) dengan yang baru (berdasarkan Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-1/PJ/2014):
Tabel II. 13 Perbedaan Peraturan e-Filing Lama dan Baru
No
1.

Keterangan

Lama

Baru

Permohonan e-

1. Datang langsung ke KPP;

1. Datang langsung ke

FIN

2. melalui Online.

KPP.

Berdasarkan Pasal 3 ayat (3)

Berdasarkan Pasal 3
ayat (3)

2.

Dokumen

Wajib menyampaikan

Tidak perlu

pelengkap

apabila diminta oleh KPP.

disampaikan, tetapi

Berdasarkan Pasal 8

wajib disimpan.
Berdasarkan Pasal 7

Sumber : Diolah dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-39/PJ/2011 dan
Nomor Per-1/PJ/2014
c. Kelebihan dan kekurangan sistem e-Filing.
Sistem e-Filing dibuat oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memudahkan
Wajib Pajak dalam menyampaikan SPT Tahunannya, berikut ini adalah beberapa
kelebihan sistem e-Filing :

45
1) penyampaian SPT dapat dilakukan secara cepat, aman, dan kapan saja;
2) murah, tidak dikenakan biaya pada saat pelaporan SPT;
3) penghitungan dilakukan secara tepat karena menggunakan sistem komputer;
4) kemudahan dalam mengisi SPT karena pengisian SPT dalam bentuk wizard;
5) data yang disampaikan WP selalu lengkap karena ada validasi pengisian SPT.
6) ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan kertas
7) dokumen pelengkap (fotokopi Formulir 1721 A1/A2 atau bukti potong PPh, SSP
Lembar ke-3 PPh Pasal 29, Surat Kuasa Khusus, Perhitungan PPh terutang bagi
Wajib Pajak Kawin Pisah Harta dan/atau Mempunyai NPWP Sendiri, fotokopi
Bukti Pembayaran Zakat) tidak perlu dikirim lagi tetapi wajib disimpan oleh
Wajib Pajak.
Namun sistem yang mulai diberlakukan pada 1 Februari 2012 ini memiliki
kelemahan, diantaranya sebagai berikut :
1) sebagian daerah terpencil di Indonesia belum ada koneksi internet;
2) pada saat traffic penyampaian SPT sedang padat sering terjadi error dan lamban;
3) tidak seluruh Wajib Pajak dapat menggunakan fasilitas e-Filing melalui website
Direktorat Jenderal Pajak;
4) Wajib Pajak tidak secara otomatis dapat menggunakan fasilitas e-Filing
melainkan harus meminta permohonan e-FIN.
d. Pelaporan SPT tahunan orang pribadi melalui e-Filing tahun pajak 2013.
Ada hal yang menarik pada penyampaian SPT Tahunan melalui e-Filing tahun
pajak 2013, yaitu batas pelaporan SPT diperpanjang menjadi sampai tanggal 30 April
2014. Hal ini dimaksudkan agar semakin banyak Wajib Pajak orang pribadi yang

46
menyampaikan SPT Tahunannya melalui e-Filing. Kebijakan ini didasarkan pada
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-62/PJ/2014 tentang Pengecualian
Pengenaan Sanksi Administrasi berupa denda atas keterlambatan Penyampaian Surat
Pemberitahuan bagi Wajib Pajak orang pribadi yang Menyampaikan Surat
Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan orang pribadi secara e-Filing.
Seharusnya batas waktu normal penyampaian SPT Tahunan adalah sampai
dengan 31 Maret 2014. Berhubung dengan adanya kebijakan ini, Wajib Pajak orang
pribadi yang menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan orang pribadi melalui eFiling yang melewati batas waktu normal tidak dikenakan sanksi administrasi berupa
denda sebesar Rp100.000,00.
e.

Harapan sistem e-Filing.


Pada pembahasan ini penulis melakukan wawancara kepada pegawai pajak

dan Wajib Pajak sebagai narasumber. Harapan pegawai pajak dengan adanya sistem
e-Filing ini adalah pertama, masyarakat harus mengikuti perkembangan teknologi
informasi sehingga pelaporan SPT Tahunan orang pribadi dapat dilaksanakan setiap
elemen masyarakat seluruh Indonesia. Penyampaian SPT telah berkembang semakin
maju. Di awali dengan penyampaian SPT secara manual dengan datang langsung ke
KPP, berkembang dengan adanya aplikasi e-SPT, dan yang paling terbaru adalah
penyampaian SPT melalui e-Filing. Harapan kedua selaku pegawai pajak adalah
dilaksanakannya penyampaian SPT dengan sistem Pre-Filled Tax Return.
Pre-Filled Tax Return adalah sistem penyampaian SPT secara online seperti eFiling tetapi SPT yang akan disampaikan Wajib Pajak sudah terisi oleh Direktorat
Jenderal Pajak. Sistem ini akan sangat memudahkan bagi Wajib Pajak karena SPT

47
yang akan disampaikan hanya membutuhkan konfirmasi dari Wajib Pajak yang
bersangkutan dengan memasukkan kode verifikasi yang akan diberikan Direktorat
Jenderal Pajak.
Sistem Pre-Filled Tax Return membutuhkan database pihak ketiga, yaitu data
perbankan Wajib Pajak. Dengan adanya data perbankan Wajib Pajak, Direktorat
Jenderal Pajak dapat memantau dengan pasti bagaimana keadaan perpajakan Wajib
Pajak seharusnya sehingga pengisian SPT oleh Direktorat Jenderal Pajak dapat
dilakukan. Negara yang telah menerapkan sistem ini adalah Perancis.
Dalam wawancara dengan Wajib Pajak, mereka mengaku bahwa dengan
adanya penyampaian SPT Tahunan orang pribadi melalui e-Filing sangat membantu
mereka dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Berbagai kemudahan dan
kelebihan dibandingkan dengan pelaporan SPT Tahunan secara manual telah
dirasakan oleh Wajib Pajak. Wajib Pajak berharap sistem ini harus selalu ada
kemajuan, contohnya adalah peningkatan Bandwith Server Direktorat Jenderal Pajak
sehingga ketika traffic penyampaian SPT sedang tinggi tidak akan memberikan
masalah jaringan. Kedua, Pemerintah harus memerhatikan daerah-daerah terpencil di
Indonesia sehingga penggunan internet dapat dirasakan seluruh rakyat Indonesia
terutama Wajib Pajak yang akan menyampaikan SPT Tahunannya melalui e-Filing.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang sudah penulis uraikan seluruhnya pada bab-bab
sebelumnya, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut:
1. E-Filing adalah suatu cara penyampaian SPT Tahunan secara elektronik yang
dilakukan secara online dan real time melalui internet pada website Direktorat
Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) atau penyedia jasa aplikasi atau Application
Service Provider (ASP).
2. Penyampaian SPT Tahunan orang pribadi Formulir 1770 S dan 1770 SS dapat
disampaikan pada website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) dengan
meminta e-FIN terlebih dahulu pada KPP tanpa dipungut biaya.
3. E-Filing memiliki kelebihan terutama pada perekaman dan pengolahan data SPT
Tahunan dan penghematan penggunaan kertas.
4. Terdapat perbedaan antara Peraturan Direktur Jenderal Pajak mengenai
penyampaian SPT Tahunan orang pribadi Formulir 1770 S dan 1770 SS yang
lama dengan yang baru. Pada peraturan baru tidak disebutkan permohonan e-FIN
secara online dan dokumen pelengkap terkait SPT Tahunannya tidak perlu

48

49
disampaikan ke KPP Wajib Pajak terdaftar tetapi wajib untuk disimpan.
5. Wajib Pajak yang mendaftarkan dirinya sebagai Wajib Pajak e-Filing sampai
dengan tahun 2014 sebesar 5.421 atau 41.04% dari jumlah permohonan e-FIN
yang diajukan oleh seluruh Wajib Pajak.
6.

Pada tahun pajak 2013 penyampaian SPT Tahunan formulir 1770 SS sebesar
5.663 SPT atau 79.51%, lebih besar dibandingkan dengan formulir 1770 S sebesar
1.459 SPT atau 20.49%.

7. Wajib Pajak orang pribadi yang menyampaikan SPT Tahunannya secara manual
sebesar 37.270 atau 83.96%, lebih besar dibandingkan dengan menyampaikan
SPT Tahunan melalui e-Filing sebesar 7.122 atau 16.04%.
8. Sistem e-Filing yang dimulai pada tahun pajak 2011 memiliki tingkat kepatuhan
kewajiban perpajakan sebesar 25.6%, lebih rendah dibandingkan dengan data
terakhir sistem e-Filing pada tahun pajak 2013 sebesar 28.7%. Data awal dan
terakhir dilaksanakannya e-Filing menunjukkan bahwa kepatuhan kewajiban
perpajakan mengalami peningkatan sebesar 3.1%.
9. Meskipun tingkat kepatuhan kewajiban perpajakan orang pribadi di KPP Pratama
Kosambi meningkat, tingkat kepatuhan kewajiban perpajakkannya masih
tergolong rendah karena hanya mencapai 25.6% pada tahun pajak 2011 dan 28.7%
pada tahun pajak 2013.
B. Saran
Sebagai penutup laporan PKL ini, penulis memberikan saran yang diharapkan
dapat bermanfaat bagi kemajuan sistem penyampaian SPT Tahunan orang pribadi
melalui e-Filing. Berikut adalah saran dari penulis:

50
a. Penyampaian SPT melalui e-Filing di website Direktorat Jenderal Pajak dapat
digunakan pada seluruh jenis pajak dan formulir SPT;
b. Teknologi saat ini harus dimanfaatkan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk
menyosialisasikan penyampaian SPT Tahunan melalui e-Filing;
c. Sosialisasi e-Filing tidak hanya disampaikan pada kantor pajak atau forum pajak
tetapi diperluas pada tempat umum. Contoh pada iklan di commuter line, iklan
pinggir jalan, supermarket, mall, dan tempat lainnya;
d. Seluruh pegawai pajak sudah harus menggunakan e-Filing dalam penyampaian
SPT Tahunannya karena pegawai pajak merupakan panutan bagi Wajib Pajak.
e. Bandwith server Direktorat Jenderal Pajak diperbesar lagi agar tidak terjadi server
down atau tidak dapat diaksesnya website Direktorat Jenderal Pajak ketika traffic
penyampaian SPT Tahunan melalui e-Filing sedang padat.
f. Pemerintah membangun jaringan internet di seluruh daerah terpencil di Indonesia.
Selain daerah terpencil dapat menikmati manfaat internet, juga Wajib Pajak di
daerah tersebut dapat memanfaatkan fasilitas e-Filing.
g. Peraturan terkait penyampaian SPT Tahunan melalui e-Filing diharapkan tidak
banyak mengalami perubahan agar Wajib Pajak maupun pegawai pajak sendiri
tidak menerima informasi yang salah.
h. Database perbankan Wajib Pajak dapat dipegang oleh Direktorat Jenderal Pajak.
i. Sistem Pre-Filled Tax Return seperti yang diharapkan pegawai pajak KPP
Pratama Kosambi segera diluncurkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

51

DAFTAR PUSTAKA
Brotodiharjo, R. Santoso. 1999. Pengantar Ilmu Hukum Pajak. Bandung: PT Refika
Aditama
Devano, Sony dan Siti Kurnia Rahayu. 2006. Perpajakan. Konsep, Teori, dan Isu.
Jakarta: Kencana
Mardiasmo. 2003. Perpajakan. Edisi Revisi 2008. Yogyakarta: Andi Offset
Soemitro, Rochmat. 1990. Dasar-Dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan.
Bandung: PT ERESCO
Zain, Mohammad. 2007. Manajemen Perpajakan. Jakarta: Salemba
Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagai telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2008
------------. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Sebagaimana Telah Beberapa
Kali Diubah Terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009
------------. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-39/PJ/2011 tentang Tata
Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi yang Menggunakan Formulir 1770S atau 1770SS secara e-Filing
melalui Website Direktorat Jenderal Pajak
------------. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-26/PJ/2012 tentang Tata
Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan
------------. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2014 tentang Tata
Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi yang Menggunakan Formulir 1770S atau 1770SS secara e-Filing
melalui Website Direktorat Jenderal Pajak
------------. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-62/PJ/2014 tentang
Pengecualian Pengenaan Sanksi Administrasi berupa denda atas
keterlambatan Penyampaian Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi yang Menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak
Penghasilan Orang Pribadi secara e-Filing
Direktorat Jenderal Pajak. http://e-Filing2.pajak.go.id/Description.aspx (diakses
tanggal 12 September 2014)
------------. http://e-Filing.pajak.go.id (diakses tanggal 12 September 2014)

52
http://amsyong.com/2014/03/cara-lapor-spt-1770ss-melalui-e-Filing/ (diakses tanggal
17 September 2014)
http://amsyong.com/2014/02/cara-lapor-spt-1770s-melalui-e-Filing/ (diakses tanggal
17 September 2014)
http://amsyong.com/2014/03/pengguna-e-Filing-spt-tahunan-bebas-sanksi-telatlapor/ (diakses tanggal 25 September 2014).

LAMPIRAN

Lampiran I Alur Penyampaian SPT Tahunan

Lampiran II Surat Permohonan e-FIN

Lampiran III Form Registrasi e-Filing

Lampiran IV Tampilan Awal Menu e-Filing

Lampiran V Bukti Penerimaan Elektronik

Lampiran VI Bentuk Isi Induk SPT e-Filing

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Fadil Ayatudin

Tempat dan Tanggal Lahir

: Kediri, 10 November 1994

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Jalan PG Mrican Desa Jongbiru, Kecamatan


Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur

Nama Ayah

: Halim Mahfut

Nama Ibu

: Henik Nurhidayati

Pendidikan

: 1. SD Negeri Jongbiru, lulus tahun 2007


2. SMP Negeri 1 Kediri, lulus tahun 2010
3. SMA Negeri 10 Malang (Sampoerna Academy),
lulus tahun 2013
4. Program Diploma I Keuangan Sekolah Tinggi
Akuntansi Negara Spesialisasi Pajak, tahun 2013