Anda di halaman 1dari 6

Ada dua macam rangkaian penguat bertingkat, yaitu dengan menggunakan penggandeng

langsung (kopling DC) dan penggandeng tidak langsung (kopling AC). Ada dua penggandeng
tidak langsung, yaitu penggandeng dengan menggunakan tranformator dan menggunakan
kapasitor. Pada sistem penggandeng langsung titik kerja transistor (TR2) tergantung oleh kondisi
titik kerja dari transistor (TR1), sedangkan untuk sistem penggandeng tidak langsung baik itu
yang menggunakan penggandeng transformator maupun kapasitor, kondisi titik kerja antara
transistor (TR1) dan (TR2) tidak saling tergantung (independen) satu sama lain. Suatu
keuntungan sistem penggandeng langsung (kopling DC) adalah frekuensi batas bawah (

0Hz) sangat rendah sekali. Kelemahan penguat transistor yang menggunakan kopling DC adalah
rumitnya dalam menetapkan dan menghitung titik kerja dan stabilisasi thermal. Gambar 2.178
memperlihatkan penguat dengan menggunakan penggandeng langsung (kopling arus searah).
Untuk mendapatkan ayunan sinyal maksimum, maka titik kerja tegangan kolektor-emitor (VCE)
transistor (TR2) ditetapkan setengah dari tegangan sumber (VCE = 0,5VCC).

Gambar 2.178 Penguat bertingkat kopling DC


Gambar 2.179 memperlihatkan penguat bertingkat dengan menggunakan sistem
penggandeng induktif. Kelebihan dari penguat yang menggunakan sistem penggandeng induktif
adalah memungkinkan untuk optimalisasi pada saat pengiriman sinyal akibat kerugian tahanan.
Sedangkan kerugian pada sistem kopling induktif adalah dibutuhkan sinyal yang relatif besar
pada saat transformasi pengiriman. Sulit karena konstruksi dan harganya harganya relatif mahal
bila dibandingkan dengan kopling kapasitif. Pembatasan lebar pita frekuensi memerlukan

perhitungan yang rumit dan banyaknya gangguan yang bersifat induktif sehingga masih
diperlukan rangkaian tambahan sebagai kompensator induktif (i/ t).

Gambar 2.179 Penguat bertingkat kopling induktif


Gambar 2.180 memperlihatkan penguat bertingkat dengan menggunakan sistem
penggandeng kapasitif atau disebut juga dengan penggandeng RC. Kelebihan dari penguat yang
menggunakan sistem penggandeng RC adalah harganya yang sangat murah dan mudah
direalisasi. Sedangkan kerugian pada sistem kopling RC adalah tidak memungkinkan diperoleh
optimalisasi tahanan pada daerah frekuensi rendah pada saat transformasi pengiriman sinyal
akibat reaktansi kapasitif yang besar, sehingga kerugian penguatan dan lebar pita frekuensi pada
frekuensi rendah. Pembatasan lebar pita frekuensi lebih mudah bila dibandingkan dengan
kopling induktif.

Gambar 2.180 Penguat bertingkat kopling kapasitif


7.110. Masalah Penggandeng/Kopling
Gambar 2.181 memperlihatkan penguat yang menggunakan sistem penggandeng
langsung (kopling arus searah). Hal yang perlu diperhatikan adalah penentuan besarnya tahanan
pembagi tegangan (R1) dan (R2).

Gambar 2.181 Penggandeng arus searah dengan pembagi tegangan


Oleh karena tahanan kopling (R1) bersifat linier dan tidak tergantung oleh perubahan
frekuensi sinyal informasi, sehingga berlaku ketentuan tahanan dinamis (R1) saat kondisi dengan
sinyal sama dengan tahanan statis (R1) pada saat kondisi tanpa sinyal. Agar tidak terjadi
pembebanan penguat transistor (TR1), untuk itu nilai tahanan kopling arus searah (R1) dipilih
lebih besar terhadap tahanan dinamis masukan (rBE2) transistor (TR2). Kelemahan dari sistem
penggandeng arus searah ini adalah tingkat kestabilan rangkaian tergantung dari kondisi titik
kerja penguat transistor (TR1) dan pemilihan tahanan pembagi tegangan (R1) dan (R2). Gambar
2.182 memperlihatkan kopling arus searah dengan menggunakan pembagi tegangan dengan
diode zener. Kelemahan dari kopling arus searah dengan menggunakan pembagi tegangan dua
resistor seperti yang diperlihatkan Gambar 2.181 adalah tingkat kestabilan transistor (TR2)
ditentukan oleh perubahan tegangan kolektor-emitor (VCE1) transistor (TR1). Untuk menjaga
agar transistor (TR2) tidak tergantung oleh pergeseran titik kerja transistor (TR1), maka tahanan

(R2) dapat diganti dengan diode zener. Sehingga beda potensial tegangan basis-emitor (VBE2)
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut:

Perubahan tegangan basis-emitor (

) tergantung dari bersarnya tahanan (R1) dan

tahanan dinamis diode zener ( ) dan perubahan tegangan kolektor-emitor (

) seperti

persamaan berikut:

Oleh karena tahanan (R1) jauh lebih besar dari tahanan dinamis diode ( ) sehingga
didapatkan besarnya perubahan tegangan basis-emitor (
kolektor-emitor (

) sama dengan perubahan tegangan

).

Gambar 2.182 Penggandeng pembagi tegangan dengan diode zener


Gambar 2.183 memperlihatkan kopling arus searah dengan

menggunakan pembagi

tegangan transistor. Kelemahan dari kopling arus searah dengan menggunakan pembagi
tegangan diode zener seperti yang diperlihatkan Gambar 2.182 adalah tahanan dinamis diode
zener ( ) relatif kecil sehingga menyebabkan terjadinya pembebanan pada transistor (TR1).

Gambar 2.183 Penggandeng pembagi tegangan dengan transistor


Agar tidak terjadi pembebanan pada penguat transistor (TR1), untuk itu nilai tahanan
kopling arus searah (
kolektor-emitor (
(

) diganti dengan transistor (

) transistor (

). Tahanan dinamis keluaran antara

) menggantikan fungsi dari tahanan (

). Tahanan dinamis

) ditentukan oleh arus (I3) dn perubahan tegangan kolektor-emitor (

) seperti yang

diperlihatkan Gambar 2.184 berikut ini.

Gambar 2.184 Arus fungsi tegangan kopling dc


Untuk menjaga agar transistor (TR2) tidak tergantung oleh pergeseran titik kerja
transistor (TR1) dan transistor (TR1) tidak terbebani, maka tahanan (

) dapat diganti dengan

transistor (

). Sehingga beda potensial tegangan basis-emitor (

menggunakan persamaan berikut:


=
Karena

>>

, maka didapatkan perubahan tegangan (

);

) dapat ditentukan dengan