Anda di halaman 1dari 4

Disusun Oleh :

Enggar Budhi Suryo Hutomo


10/301628/TK/37078

Sebagai Manusia Teknik dalam Hubungan dengan Nasionalisme Bangsa


Teknik Geodesi dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Dengan ilmu pengetahuan, orang dapat hidup lebih nyaman dan berbahagia tetapi dengan ilmu
pengetahuan, jutaan manusia dapat juga gelisah dan hidup sengsara. Ilmu Pengetahuan ini sendiri
adalah netral. Dia akan baik dan berguna bagi manusia di tangan orang yang baik dan cinta sesama. Ia
dapat menjadi kejam dan ganas di tangan orang yang tidak bertanggungjawab. Karena itu,watak dan
moral harus selalu berjalan di depan, membimbing kepada arah yang lebih baik. Hal ini makin
mempunyai arti dan menjadi kebutuhan yang langsung bagi kita karena bangsa yang berkembang perlu
semakin banyak memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk memperlancar dan mempermudah
perjalanannya dalam menempuh segala liku dan rintangan, segala kemungkinan dan hambatan, segala
harapan dan kenyataan dalam pembangunan.
Jika kita berbicara dalam konteks keteknikan, keberhasilan seorang mahasiswa teknik dalam peranannya
bagi bangsanya yang sedang membangun dapat diukur dengan seberapa besar curahan dan sumbangan
yang mampu dia berikan melalui ilmu praktis yang ia kuasai sesuai dengan sila ke-3 yaitu Persatuan
Indonesia, yang mengandung arti nasionalisme,dan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.
Dalam ilmu keteknikan yang saya pelajari yaitu bidang ilmu Geodesi, banyak sumbangsih yang kami
berikan untuk Indonesia. Sebelum membahas lebih lanjut ada baiknya kita berkenalan terlebih dahulu
dengan Geodesi. apa itu Teknik Geodesi?
Menurut IAG (International Association Of Geodesy, 1979), Geodesi adalah Disiplin ilmu yang
mempelajari tentang pengukuran dan perepresentasian dari Bumi dan benda-benda langit lainnya,
termasuk medan gaya beratnya masing-masing, dalam ruang tiga dimensi yang berubah dengan waktu.
Dengan kata lain, Geodesi adalah cabang dari ilmu matematika terapan, yang dilakukan dengan
cara melakukan pengukuran dan pengamatan untuk menentukan:
Posisi yang pasti dari titik-titik di muka bumi
Ukuran dan luas dari sebagian besar muka bumi
Bentuk dan ukuran bumi serta variasi gaya berat bumi
Definisi ini mempunyai dua aspek, yakni:
Aspek ilmiah (aspek penentuan bentuk), berkaitan dengan aspek geometri dan fisik bumi serta variasi
medan gaya berat bumi.

Aspek terapan (aspek penentuan posisi), berhubungan dengan pengukuran dan pengamatan titik-titik
teliti atau luas dari suatu bagian besar bumi. Aspek terapan ini yang kemudian dikenal dengan sebutan
survei dan pemetaan atau Teknik Geodesi.
Muara dari Geodesi adalah pada pemetaan (mapping). Peta yang dimaksud disini bukan hanya
sekedar gambar mati saja, melainkan dapat digunakan untuk membentuk sistem informasi geografis
(SIG), misalnya. Jadi pengertian peta akan lebih luas, bukan sekedar gambar saja.
Adapun tujuan Geodesi pada garis besarnya ada 2 (dua) yaitu :
Ilmu Murni Geodesi (Geodesy Science)
Geodesy Science mempelajari bentuk dan besarnya bumi, ukuran bumi, pergerakan kutub dan
sejenisnya
Praktis (Mapping ~ Pemetaan)
Mapping lebih bergerak pada bidang praktis atau keteknikan (engineering), misalnya penentuan
posisi kapal di laut, pembangunan pelabuhan, staking out jalan (jalan raya, jalan kereta api, saluran
irigasi dan sebagainya), pengkaplingan dan sebagainya. Seperti halnya ilmu-ilmu yang lain, maka dalam
perjalanannya Geodesi berinteraksi dengan ilmu lain dan berkembang, artinya tidak hanya pada
pengukuran bentuk dan besar bumi, pemetaan dan sejenisnya, tetapi berkembang ke keruangan
(spasial).
Dari penjabaran di atas kita mendapatkan suatu gambaran apa itu Teknik Geodesi dan apa yang
bisa disumbangkan oleh para lulusan dari jurusan Teknik Geodesi. Di sini penulis meninjau peran penting
dari Teknik Geodesi bagi bangsa Indonesia dari spesialisasi lulusan Teknik Geodesi yang lebih dikenal
dengan sebutan Surveyor yakni dalam penentuan posisi dan pemetaan. Aplikasi dari penentuan posisi
dan pemetaan itu sendiri salah satunya dapat berupa batas wilayah atau batas antar daerah, dari batas
wilayah kecamatan, kabupaten hingga batas negara.
Batas antar daerah adalah pemisah wilyah penyelenggaraan kewenangan suatu daerah dengan
daerah lain. Batas daerah meliputi wilayah daratan, dan/atau laut. Batas daratan adalah pemisah
wilayah administrasi pemerintahan antara daerah yang berbatasan berupa pilar batas dilapangan dan
daftar koordinat di peta. Sedangkan batas daerah di laut adalah pemisah wilayah administrasi
pemerintahan antara daerah yang berbatasan berupa garis imajiner disertai dengan koordinat.
Batas antar daerah ini sendiri dapat menimbulkan konflik, penyebab timbulnya konflik secara
umum antara lain ;
1. Berbedanya penafsiran / persepsi tentang peta wilayah yang menjadi lampiran undang-undang
pembentukan daerah.
2. Daerah provinsi, kabupaten/kota yang ditetapkan dengan undang-undang Pembentukan Daerah hingga
saat ini, belum semuanya didukung dengan batas secara pasti dilapangan, dimana penetapanbatas
daerah hanya secara garis besar, dengan menyebutkan batas sebelah utara, selatan, Timur dan Barat.
Dan dibeberapa kasus terjadi inkonsistensi antara undang-undang pembentukan daerah yang
berbatasan.
3. Belum adanya pemahaman yang sama tentang kewenangan dan urusan dibidang penegasan batas
daerah, hal ini berimplikasi pada dukungan pemerintah daerah dalam kegiatan dan pembiayaan
penegasan batas daerah.
4. Konsekuensi logis diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-undang Nomor 33
tahun 2004 dan lainnya, dimana selain luas wilayah sebagai parameter dalam perhitungan dana

pertimbangan, pajak bumi bangunan dan retribusi hasil daerah menjadi perhatian pemerintah daerah
untuk meningkatkan pendapatan asli daerah dalam rangka pelaksanaan pembangunan daerah.
5. Penegasan batas antar daerah belum dilaksanakan secara proporsional akibatnya sebagian besar batas
antar daerah provinsi, kabupaten/kota di Kalimantan Timur belum memiliki batas yang pasti.
6. Belum adanya pengaturan yang lebih jelas tentang batas kewenangan pengelolaan di wilayah laut Daerah,
terutama dikaitkan dengan Undang-undang.
7. Adanya tarik menarik kepentingan antar daerah yang berbatasan, terutama bila didaerah perbatasan
tersebut mempunyai potensi sumber daya alam seperti : minyak, gas, bahan mineral, hutan dan lain
sebagainya.
8. Belum tersedianya SDM, dana, aturan, peralatan dan pendukung lainnya yang dapat dipergunakan untuk
mempercepat penetapan dan penegasan batas antar daerah.
Penyebab konflik batas daerah yang sering terjadi terdapat pada poin ke 7 yaitu Adanya tarik
menarik kepentingan antar daerah yang berbatasan, terutama bila didaerah perbatasan tersebut
mempunyai potensi sumber daya alam seperti : minyak, gas, bahan mineral, hutan dan lain sebagainya.
Hal ini akan menjadi suatu konflik dikarnakan masing-masing wilayah ingin mengolah dan
mengoptimalkan sumber daya alam (SDA) tersebut menjadi aset dari wilayahnya. Contoh daerah yang
mengalami konflik tentang batas wilayah yang dikarnakan potensi sumber daya alam daerah tersebut
ialah Provinsi Riau dan Provinsi Sumatra Utara, lebih tepatnya batas antara Kabupaten Rokan hulu
(Rohul) dengan Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dengan Kabupaten Labuhan
Batu Selatan. Dan juga beberapa wilayah di Provinsi Kalimantan Timur.
Jika berbicara tentang konflik tentunya tidak terlepas dengan pengamalan dari nilai pancasila
pada sila ketiga yaitu sila Persatuan Indonesia, berupa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia. Konflik batas wilayah atau batas daerah ini justru berdampak pada ketidakharmonisannya
hubungan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain sehingga bangsa Indonesia akan terpecah
dan hilangnya rasa persatuan itu.
Berdasarkan poin ke 8 pada penyebab timbulnya konflik batas daerah yaitu belum tersedianya
sumber daya manusia (SDM) atau lebih tepatnya kurangnya SDM yang benar-benar menguasai dalam
bidang penentuan posisi pada penetapan batas dan pembuatan peta sebagai bukti dari batas itu sendiri.
Disinilah peran penting seseorang yang mampu atau ahli dalam penentuan posisi dan pemetaan, yaitu
seorang surveyor yang merupakan lulusan dari jurusan Teknik Geodesi.
Dengan berpedoman dan berprinsip sesuai dengan pengamalan pancasila sila ketiga yaitu
menjaga persatuan dan kesatuan serta pengamalan pancasila sila kelima yakni bersikap adil terhadap
sesama, menghormati dan menghargai hak-hak orang lain, bersikap adil tidak memihak pada satu pihak
dan selalu untuk memegang teguh pendirian sehingga para lulusan teknik geodesi mampu
meminimalisir bahkan mampu untuk meniadakan konflik antar wilayah yang dikarnakan ketidakpastian
batas wilayahnya.
Dengan demikian segala permasalahan atau konflik batas wilayah yang terjadi di Indonesia
dapat diselesaikan jika telah banyaknya lulusan dari jurusan Teknik Geodesi yang bekerja sesuai dengan
pengamalan pancasila sila ketiga dan kelima dalam penentuan batas wilayah dan pemetaan.
Pembahasan di atas merupakan pemanfaatan atau kontribusi yang bisa diberikan oleh lulusan
Teknik Geodesi kepada bangsa Indonesia dalam bidang ahli penentuan posisi dan pemetaan pada
penentuan batas wilayah. Namun jika ditinjau berbagai aspek, manfaat dari peta itu sendiri antara lain ;
1.

Alat bantu untuk menyampaikan informasi,

2.
3.
4.
5.

Contoh : Peta kekeringan, peta banjir, peta petak sawah dll


Alat komunikasi
Contoh ; peta persil tanah dll
Media untuk menuangkan ide-ide
Contoh ; Peta design jaringan jalan, bangunan, pipa dll
Laporan yang ringkas dan padat
Contoh ; Peta kepadatan penduduk, peta distribusi beras dll
Informasi dasar untuk mengembangkan pekerjaan selanjutnya
Contoh ; peta topografi, peta kelerengan, peta administrasi dl
Dari semua penjabaran, dapat kita simpulkan bahwa ada banyak kontribusi yang bisa diberikan
oleh seorang lulusan Teknik Geodesi terhadap bangsa Indonesia. Antara lain mampu menghindari
konflik yang terjadi akibat ketidakpastiannya batas antar daerah dengan sebuah peta yang benar-benar
sesuai dan mendekati nilai kebenaran dari titik-titik koordinat tapal batas wilayah tersebut. Sehingga
mampu menjaga persatuan dan kesatuan antar wilayah dan selalu bekerja dengan prinsip keadilan
sehingga tidak merugikan pihak manapun.