Anda di halaman 1dari 53

Disusun oleh..

1. Ade Widyaningsih
2. Afiati Haryani
3. Anggia Mery Anjela
4. Anisah
5. Annisaa Fatma K
6. Anny Rachmawati

7.Aprilia Yusriandari S
8. Aqmarina Nur Lailiani
9. Ariani
10. Ayu Fatonah
11. Birgita Kumalasari
12. Chania Nasuha

Cairan Pleura
Berada pada rongga Pleura, sebagai pelicin gesekan antara

pleura visceralis dan pleura parietalis


Normal : cairan sedikit, Vol. 1-10 mL
Dihasilkan secara kontinu berdasarkan :
* tekanan hidrostatik kapiler
* tekanan onkotik plasma
* permeabilitas kapiler.
Direabsorbsi melalui limfatik dan venule
Akumulasi cairan disebut efusi, terjadi karena imbalance
produksi dan reabsorbsi
Berdasarkan
penyebabnya,
efusi
pleura
biasanya
diklasifikasikan atas Transudat dan Eksudat

Transudat Dan Eksudat


Transudat adalah cairan dalam ruang interstitial

yang terjadi hanya sebagai akibat tekanan


hidrostatik
atau
turunnya
protein
plasma
intravascular yang meningkat (tidak disebabkan
proses peradangan/inflamasi). Berat jenis transudat
pada umumnya kurang dari 1.012 yang
mencerminkan kandungan protein yang rendah.
Contoh transudat terdapat pada wanita hamil
dimana terjadi penekanan dalam cairan tubuh.
Transudat
merupakan
discharge
patologis,
merupakan serum darah yang merembes keluar
dari pembuluh-pembuluh kapiler ke dalam sela-sela
jaringan atau rongga badan, tanpa radang.

Eksudat adalah cairan radang ekstravaskular

dengan berat jenis tinggi (diatas 1.020) dan


seringkali mengandung protein 2-4 mg % serta
sel-sel
darah
putih
yang
melakukan
emigrasi.Cairan ini tertimbun sebagai akibat
permeabilitas vascular (yang memungkinkan
protein plasma dengan molekul besar dapat
terlepas), bertambahnya tekanan hidrostatik
intravascular sebagai akibat aliran lokal yang
meningkat pula dan serentetan peristiwa rumit
leukosit yang menyebabkan emigrasinya.
Eksudat merupakan substansi yang merembes
melalui dinding vasa ke dalam jaringan sekitarnya
pada radang, berupa nanah.

Perbedaan Transudat dan Eksudat:


Keterangan:

Transudat:

Eksudat:

< 1,016

> 1,016

< 3 gr / 100 cc

> 3 gr / 100 cc

< 0,5

> 0,5

< 200 IU

> 200 IU

< 0,6

> 0,6

Lekosit

< 1000 / mm3

> 1000 / mm3

Hitung jenis leukosit

< 50% limfosit

> 50% limfosit

>7,3

< 7,3

Glukosa

plasma

< plasma

Amilase

= plasma

>plasma

>75 u

> 75 u

Rivalta
Berat jenis
Kadar protein
Protein plasma
LDH
LDH plasma

PH

Alkali fosfatase

Penegakan Diagnosis
Anamnesis

Pemeriksaan Fisik
Radiologi
Lab / Analisa cairan pleura
Proof punksi ( pembuktian dengan melakukan

injeksi pada lokasi yg di curigai )


Sitologi cairan pleura
Biopsi pleura

ANALISA CAIRAN
PLEURA

Pra Analitik
Analitik

Pasca Analitik

PRA ANALITIK
Pengambilan Spesimen

Bahan (dari rongga perut, pleura, pericardium,


sendi, kista, hidrocele,dsb.) didapat dengan
mengadakan pungsi. Karena tidak dapat
diketahui terlebih dulu apakah cairan itu berupa
transudat atau eksudat, syarat bekerja steril
harus dilakukan dan menyediakan anticoagulant.
Sediakanlah pada waktu melakukan pungsi
selain penampung biasa juga penampung steril
(untuk biakan) dan penampung yang berisi
larutan natrium citrat 20% atau heparin steril.

Lanjutan..
Persiapan bahan dan
alat
Stetoskop
Sarung tangan steril

Spuit 5 cc dan 50 cc
Kateter vena No. 14
Blood set

Lidocain 2%
Alkohol 70%
Plester
Three way stopcock
kasa steril
Betadin

Lanjutan..
Prosedur pengambilan sampel
Pasien dipersiapkan dengan posisi duduk atau setengah

duduk, sisi yang sakit menghadap dokter yang akan


melakukan punksi.
Beri tanda (dengan spidol atau pulpen) daerah yang
akan di punksi Pada linea aksilaris anterior atau linea
midaksilaris.
Desinfeksi -> pasang duk steril
Anestesi lidokain 2% dimulai dari subkutis, lalu tegak
lurus ke arah pleura (lakukan tepat di daerah sela iga),
keluarkan lidokain perlahan hingga terasa jarum
menembus pleura.
Pastikan tidak ada perdarahan.
Jika jarum telah menembus ke rongga pleura, kemudian
dilakukan aspirasi beberapa cairan pleura.

Lanjutan..
Bila jumlah cairan yang dibutuhkan untuk diagnostik

telah cukup, tarik jarum dengan cepat dengan arah


tegak lurus pada saat ekspirasi dan bekas luka
tusukan segera ditutup dengan kasa betadin, tetapi
jika bertujuan terapeutik maka pada lokasi yang
sama dapat segera dilakukan pengeluaran cairan /
udara dengan teknik aspirasi sebagai berikut:
Dengan menggunakan katetervena No.14

Tusukkan kateter vena No. 14 pada tempat yang telah


disiapkan dan apabila telah menembus pleura, piston
jarum di tarik lalu disambung dengan bloodset.
Dilakukan sampai dengan jumlah cairan didapatkan
1000 cc, indikasi lain untuk penghentian aspirasi
adalah timbul batuk-batuk.

Lanjutan..
Dengan bantuan tree way stopcock (jarum pipa dengan

stopkran)
Pasang jarum ukuran 18 pada sisi 1 dari stopkran, selang
infus set pada sisi 2 (untuk pembuangan) dan spuit 50 cc
pada sisi 3 (untuk aspirasi). Teknik:
Tusukkan

jarum melalui ruang interkosta dengan posisi kran


menghubungkan rongga pleura dan spuit, sedangkan hubungan
dengan selang pembuangan terputus. Setelah jarum mencapai
rongga pleura dilakukan aspirasi sampai spuit terisi penuh.
Kemudian posisi kran diubah sehingga arah ke rongga pleura
tertutup dan terjadi hubungan antara spuit dengan selang
pembuangan cairan pleura.

Kran kembali diputar ke posisi (a), dilakukan aspirasi

sampai spuit terisi penuh, kran diputar ke posisi (b) dan


cairan pleura dibuang. Prosedur ini dilakukan berulang

TITIK PENUSUKAN

Stopcock

Tree way stopcock

Lanjutan..
Cairan yang diperoleh ditampung dalam 3 botol
penampung :
Botol I : Steril untuk pemeriksaan bakteriologi
Botol II : Di tambah anticoagulant untuk pemeriksaan
rutin
Botol III : Tanpa anticoagulant untuk pemeriksaan
kimia.

Cairan pleura dibagi beberapa tabung :


5-7 ml tabung EDTA pemeriksaan makrokopis
hitung jumlah sel, morfologi sel dan hitung jenis.
7-10 ml tabung heparin pemeriksaan kimia
protein, glukosa, lactate dehidrogenase (LDH)
7-10 ml tabung heparin steril untuk kultur,
pengecatan gram, BTA.
25 ml atau lebih dalam wadah dengan
antikoagulan heparin untuk pemeriksaan sitologi.

Lanjutan..
Yang harus diperhatikan pada waktu pungsi adalah
Pengambilan cairan tidak boleh seluruhnya karena :
Untuk menghindari terjadinya shock
Pada cairan ascites banyak mengandung protein
Guna pemeriksaan :
Untuk menentukan jenis cairan yang diperiksa
Mengusahakan mencari penyebabnya
Syarat pemeriksaan :
Harus dilakukan dengan cepat karena mudah terjadi
desintegrasi, oleh karena itu pemeriksaan yang pertama
kali dilakukan adalah pemeriksaan cytology.

ANALITI
K

MAKROSKOPIS

MIKROSKOPIS

KIMIA

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS
1. Jumlah

Prinsip:
Ukurlah dan catatlah volume yang didapat
dengan pungsi. jika semua cairan dikeluarkan
jumlah itu memberi petunjuk tentang luasnya
kelainan.
Analitik
Cara kerja :
Masukkan cairan dalam becker glass
Tuang cairan dri becker glass ke dalam gelas
ukur
Lihat volume cairan yang ada pada gelas

2. Warna
Pra analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus
Prinsip tes

: setiap kelainan memberi warna yang berbeda

Alat:
Tabung reaksi bersih
Analitik

Cara kerja :
Masukkan cairan kedalam beckerglass
Amati warna cairan secara visual
Interpretasi hasil
Transudat
: kuning muda
Eksudat
: bermacam macam tergantung dari
penyebabnya
Hijau
: bilirubin
Merah
: darah
Putih kekuningan
: pus
Putih susu
: chylus
Biru kehijauan
: bakteri pyocyanus

NORMAL

ABNORMAL

Lanjutan..
3.

Kejernihan
Pra analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus
Prinsip tes: setiap kelainan memberi kekeruhan yang
berbeda
Alat:
Tabung reaksi bersih
Analitik
Cara kerja
Masukkan cairan kedakm becker glass
amati kekeruhannya

interpretasi hasil
Transudat : jernih
Eksudat : agak keruh

4. Bau
Biasanya baik transudat maupun eksudat tidak
mempunyai bau bermakna, kecuali kalau terjadi
pembusukan protein. Infeksi dengan kuman anaerob
dan oleh E.coli mungkin menimbulkan bau busuk,
demikian adanya bau mengarah ke eksudat.
Pra analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan
khusus
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus
Prinsip tes: setiap kelainan member bau yang berbeda
Alat:
Tabung reaksi bersih
Analitik
Cara kerja :
Masukkan cairan kedalam becker glass
dekatkan kearah hidung dan kibakan tangan kearah

Lanjutan..
5. Berat Jenis
Harus segera ditentukan sebelum kemungkinan terjadinya
bekuuan. Penetapan ini penting untuk menentukan jenis
cairan. Kalau jumlah cairan yang tersedia cukup, penetapan
dapat dilakukan dengan urinometer, kalau hanya sedikt
sebaiknay memakai refraktometer. Seperti sudah diterangkan,
nilai berat jenis dapat ikut memberi petunjuk apakah cairan
mempunyai ciri-ciri transudat atau eksudat.
Cara kerja :

Masukkan cairan ke dalam becker glass


Tuang cairan ke dalam gelas ukur 40-50ml
Masukkan urinometer dalam gelas ukur
Bacalah berat jenis cairan pada skala urinometer setinggi
miniskus bawah

Interpretasi hasil
Transudat : 1006- 1015
Eksudat : 1018 1030
Bekuan

6. Bekuan
Perhatikan terjadinya bekuan, dan terangkan
sifatnya (renggang, berkeping, berbutir, sangat
halus, dll). Bekuan itu tersusun dari fibrin dan hanya
didapat pada eksudat. Kalau dikira cairan yang
dipungsi barsifat eksudat, campurlah sebagian dari
cairan itu dengan anticoagulant supaya tetap cair
dan dapat dipakai untuk pemeriksaan lain-lain.
Bekuan yang terjadi sangat lambat pada transudat
karena kadar fibrinogen yang rendah disebut
FIBRINOUS SWAB / PELICLE.

Pra analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan khusus
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus
Prinsip tes: fibrinogen menyebabkan sampel membeku
Alat:
Tabung reaksi jernih
Analitik

Cara kerja :

Masukkan sampel kedalam becker glass


pipet caian dengan pipet tetes
keluarkan cairan dengan pipet tetes
jika cairan bisa dikeluarkan dari pipet tetes berarti bekuan (-)
jika cairan sulit dikeluarkan dari pipet tetes berarti bekuan (+)
adanya bekuan dinyatakan dengan : renggang, berkeping,
berbutir,sangat halus.

Interpretasi hasil
Transudat : (-) tidak terjadi bekuan
Eksudat : (+) terjadi bekuan

Pemeriksaan kimia
Pemeriksaan kimia biasanya dibatasi saja kepada kadar glukosa dan
protein dalam cairan itu. Alasannya ialah cairan rongga dalam
keadaan normal mempunyai susunan yang praktis serupa dengan
susunan plasma darah tanpa albumin dan globulin-globulin.
Transudat mempunyai kadar glukosa sama sperti plasma,
sedangkan eksudat biasanya berisi kurang banyak glukosa
teristimewa jika eksudat itu mengandung banyak leukosit.
Protein dalam transudat dan eksudat praktis hanya fibrinogen saja.
Dalam transudat kadar fibrinogen rendah, yakni antara 300-400
mg/dl dan dalam eksudat kadar protein 4-6 g/dl.

Pemeriksaan kimia

1. Percobaan Rivalta
Pra analitik
Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus
Prinsip :

Seromucin yang terdapat dalam eksudat dan


tidak terdapat dalam transudat akan bereaksi
dengan asam acetat encer membentuk kekeruhan
yang nyata. Protein + asam asetat presipitasi

Analitik

Cara kerja :
Kedalam becker glass 100 ml dimasukkan 100 ml
aquadest.
Tambahkan 1 tetes asam asetat glacial dan
campurlah.
Aduk hingga homogen pH 4 5
Jatuhkan 1 tetes cairan yang diperiksa ke dalam
campuran ini, dilepaskan kira-kira 1 cm dari atas
permukaan.
Perhatikan tetesan itu bercampur dan bereaksi
dengan cairan yang mengandung asam asetat. ada
tiga kemungkinan :
Tetesan itu bercampur dengan larutan asam asetat
tanpa menimbulkan kekeruhan sama sekali. Hasil
test adalah negative.
Tetesan itu mengadakan kekeruhan yang sangat
ringan serupa kabut halus. Hasil test positive
lemah.

Pasca analitik

Interpretasi
Transudat
: membentuk awan kemudian
menghilang
Eksudat : presipitasi putih tenggelam
Catatan :
Cara ini berdasarkan seromucin yang terdapat
dalam eksudat, tetapi tidak dalam transudat.
Percobaan ini hendaknya dilakukan beberapa kali
untuk mendapatkan hasil yang dapat diandali.
Hasil positive didapat pada cairan yang bersifat
eksudat. Transudat biasanya menjadikan test ini
positive lemah. Kalau transudat sudah beberapa
kalii dispungsi, maka transudatpun mungkin
menghasilkan kekeruhan serupa yang dari
eksudat juga. Cairan rongga badan normal, yaitu

2. Kadar protein
Menentukan kadar protein dalam cairan rongga tubuh
dapat membantu klinik dalam membedakan transudat dari
eksudat. Kadar protein dalam transudat biasanya kurang
dari 2,5 g/dl sedangkan eksudat berisi lebih dari 4 g/dl.
Penetapan ini tidak memerlukan cara yang teliti.
Pra analitik

Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus


Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus
Analitik

Prosedur kerja
Tetapkan lebih dahulu berat jenis cairan itu.
Kalau berat jenis 1010 atau kurang, adakanlah
pengenceran 5-10 kali. Kalau berat jenis lebih dari
1010 buatlah pengenceran 20 kali.
Lakukanlah penetapan menurut Esbach dengan
cairan
yang
telah
diencerkan
itu.
Dalam
memperhitungkan hasil terakhir ingatlah pengenceran
yang tadi dibuat.

Catatan :

Cara Esbach telah cukup teliti untuk dipakai dalam


klinik. Pengenceran yang diadakan itu bermaksud
agar kadar protein dalam cairan yang diencerkan
mendekati nilai 4 g/liter, ialah kadar yang memberi
hasil yang sebaik-baiknya pada cara Esbach.

3. Zat lemak
Transudat tidak mengandung zat lemak, kecuali

kalau tercampur dengan chylus. Dalam eksudat


mungkin didapat zat lemak, disebabkan oleh karena
dinding kapiler dapat ditembus olehnya. Keadaan itu
sering dipertalikan dengan proses tuberculosis.
Kadang-kadang dilihat cairan yang putih serupa
susu. Dalam hal itu perlu mengetahui apakah
putihnya cairan itu disebabkan chylus atau oleh zat
lain.
Pra analitik
Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus
Tujuan : untuk mengetahui apakah putihnya

Analitik

Cara :
Berilah larutan NaOH 0,1 N kepada cairan sehingga menjadi lindi.
Lakukan ekstraksi dengan eter. Jika cairan itu menjadi jernih,
putihnya disebabkan oleh chylus.
Jika tidak menjadi jernih, puutihnya mungkin disebabkan oleh
lecithin dalam keadaan emulsi. Untuk menyatakan lecithin
dilakukan test sebagai berikut :
Encerkanlah larutan itu 5x dengan etilalkohol 95%
Panasilah berhati-hati dlam bejana air. Kalau cairan menjadi jernih,
putihnya disebabkan oleh lecithin. Untuk lebih lanjut
membuktikannya teruskanlah percobaan dengan :
Saringlah cairan yang telah menjadi jernih itu dalam keadaan masih
panas.
Filtratnya ditampung dan diuapkan diatas air panas sampai volume
menjadi sebesar semula (sebelum diberi etilalkohol) dan biarkan
menjadi dingin lagi.
Kalau menjadi keruh lagi, adanya lecithin terbukti. Kekeruhan itu

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS
Menghitung jumlah sel dalam cairan eksudat atau transudat tidak

selalu mendatangkan manfaat.


Jikalau sekiranya diperkirakan akan terjadi bekuan, perlulah cairan
setelah pungsi di campur dengan anticoagulans, umpamanya larutan
Na citrate 20% untuk tiap 1 ml cairan dipakai 0,01 ml larutan citrate
itu.
Sel yang dihitung biasanya hanya leukosit (bersama sel-sel berinti
lain seperti sel mesotel, sel plasma, dsb). Menghitung jumlah
erytrosit jarang sekali dilakukan karena tidak bermakna.

1. Menghitung jenis sel


Menghitung

jenis
sel
biasanya
hanya
membedakan dua golongan jenis sel yaitu
golongan yang berinti satu yang digolongkan
dengan nama limfosit dan golongan sel
polinuklear atau segment. Dalam golongan
limfosit ikut terhitung limfosit, sel-sel mesotel, sel
plasma, dsb.
Perbandingan banyak sel dalam golongan
golongan itu memberi petunjuk kearah jenis
radang yang menyebabkan atau menyertai
eksudat itu.

Pra analitik
Persiapan pasien : tidak dibutuhkan persiapan

khusus
Persiapan sampel : sampel harus diperiksa
paling lambat 1 jam setelah pengambilan untuk
mencegah degenerasi sel yang ada. Sampel
dapat langsung dari cairan aspirasi atau dari
sedimen cairan pleura yang telah disentrifus
(paling baik).
Metode
Giemsa atau Wright Stain
Prinsip
Endapan cairan dibuat hapusan, kemudian
diwarnai dengan pewarnaan tertentu
(Giemsa/Wright) maka sel lekosit akan

Analitik

Cara :
Sedian apus dibuat dengan cara berlain-lainan
tergantung sifat cairan itu :
jika cairan jernih, sehingga diperkirakan tidak
mengandung banyak sel, pusinglah 10-15 ml
bahan. Cairan atas dibuang dan sediment dicampur
dengan beberapa tetes serum penderita sendiri.
Buatlah sediaan apus dari campuran itu.
Kalau cairan keruh sekali atau purulent, buatlah
sediaan apus langsung memakai bahan itu. Jika
terdapat bekuan dalam cairan, bekuan itulah yang
dipakai untuk membuat sediaan tipis.
Pulaan sediaan itu dengan Giemsa atau Wright.
Lakukan hitung jenis atas 100-300 sel. Hitung jenis

Pasca analitik

Interpretasi hasil
Dominasi
limfosit
mendukung
dugaan
neoplasma, limfoma atau tuberkulosis
Dominasi leukosit polimorfonuklear sering pada
pneumonia dan infeksi virus
Eosinofilia pada
efusi pleura (>10 persen)
seringkali tidak spesifik, dapat terjadi pada
alergi, emboli paru, poliarteritis nodusa, infeksi
parasit dan jamur asbestos

2. Pemeriksaan bakteriologi
Pra analitik

Metode : Gram
Prinsip

Bakteri gram (+) akan mengikat warna ungu


dari carbol gentian violet dan akan diperkuat
oleh lugol sehingga pada saat pelunturan
dengan alkohol 96 % warna ungu tidak akan
luntur, sedangkan gram (-) akan Luntur oleh
alkohol dan mengambil warna merah dari fuksin

Analitik

Prosedur Kerja
Setetes

sampel yang telah disentrifuge dibuat


hapusan diatas objekglass, dan dikeringkan.
Diwarnai dengan karbol gentian violet selama 3
menit, dicuci
Ditambah lugol selama 1 menit, dicuci
Ditambah alkohol 96 %selama 30 detik, dicuci
Ditambah air fuchsin selama 2 menit, dicuci dan
dikeringkan
Diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran
1000 x

Catatan :
Transudat : Tidak ditemukan bakteri
Eksudat : Ditemukan bakteri
Selain dengan pewarnaan gram, juga bisa

dilakukan dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen untuk


menemukan adanya bakteri clostridium.
Kalau akan mencari fungi (jamur) campur setetes
sampel dengan KOH/NaOH 10% diatas objek
glass, tutup dengan kaca penutup, biarkan
selama 20 menit, kemudian periksa dibawah
mikroskop.

3. Menghitung jumlah leukosit


Pra analitik
Persiapan tes : tidak dibutuhkan persiapan

khusus
Persiapan sampel : cairan pengencer adalah
larutan Turk dengan perbandingan 1 : 20, bila
dengan cairan Turk menggumpal maka
diencerkan dengan NaCl 0,9%
Metode
Kamar hitung Improved Neubauer atau Fuchs
Rosenthal.
Prinsip
Jumlah sel lekosit dihitung berdasarkan
pengenceran dalam larutan pengencer dan

Analitik

Cara
Metode manual menggunakan kamar hitung masih
merupakan metode pilihan
Menggunakan kamar hitung Improved Neubauer
Penghitungan dilakukan pada area 9 mm2/9 kotak
kamar hitung
Pipet larutan Turk dengan pipet leukosit dari Thoma
sampai tanda 1
Pipet sampel sampai tanda 11 (pengenceran 10/9 kali)
Campur 3 4 menit masukkan ke kamar hitung
Lihat dibawah mikroskop dengan pembesaran obyektif
10 kali
Hitung jumlah leukosit di seluruh kamar hitung 3 mm x
3 mm, kedalaman 0,1 mm

Pasca analitik

Interpretasi hasil
Jumlah leukosit <1000/mm3 transudat
Jumlah leukosit antar 500 2500 /mm3
neoplasma dan tuberkulosis
Jumlah leukosit >10.000 / mm3 dengan
dominasi sel polimorfonuklear seringkali karena
infeksi piogenik

Pemeriksaan kadar laktat dehidrogenase


Kadar

LDH cairan pleura meningkat secara


proporsional dengan derajat inflamasi yang terjadi.
Penentuan kadar LDH dapat dipakai untuk
informasi tambahan dalam membedakan transudat
dan eksudat. Penurunan kadar LDH perbaikan
pada proses inflamasi. Kadar LDH meningkat
inflamasi memburuk perlu dilakukan tindakan atau
pengobatan yang lebih agresif.

Pra analitik
Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus
Persiapan sampel : tidak ada persiapan khusus

Metode : kinetik UV
Prinsip

Lactate + NAD+
pyruvate +
NADH + H+
NADH akan mengoksidasi secara langsung
dengan bantuan aktivasi LDH dan diukur
dengan fotometer.

Analitik

Cara kerja
Masukkan 50 l sampel ke dalam tabung mikro,
lalu letakkan dalam rak sampel sesuai nomor
pemeriksaan
Tempatkan reagen pada rak reagen sesuai
program tes LDH
Masukkan nomor identitas penderita dan
program tes
Pengukuran dilakukan secara otomatis
Hasil tes akan keluar pada print out
Nilai rujukan : 100 190 IU

Pasca analitik

Interpretasi:
Transudat : < 200 IU
Eksudat : > 200 IU
Menurut LIGHT dkk criteria untuk eksudat sebagai
berikut:
Ratio protein cairan pleura dengan protein
serum >0,5
LDH cairan pleura > 200 IU
Ratio protein cairan pleura dengan LDH serum
>0,6