Anda di halaman 1dari 6

VARIABILITAS SIFAT MEKANIKA BAMBU AMPEL, BAMBU

ORI DAN BAMBU WULUNG DALAM ARAH LONGITUDINAL


Yustinus Suranto
Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan UGM
Jl. Agro, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
E-mail: surantoyustinus@yahoo.com
Abstrak
Bambu Ampel, Bambu Ori dan Bambu Wulung merupakan tiga jenis bambu yang ditanam secara intensif oleh
masyarakat pedesaan. Sebagai pengganti kayu, pemanfaatan tiga jenis bambu tersebut perlu dipromosikan
melalui penerapan teknologi yang sesuai. Pilihan jenis teknologi yang diterapkan bergantung pada sifat-sifat
dasarnya. Informasi tentang sifat anatomi, kandungan pati dan sifat fisika telah dipublikasikan. Oleh karena
itu, kajian tentang sifat mekanika bambu perlu dilakukan.
Tiga jenis bambu tersebut yang telah dewasa ditebang sebanyak tiga batang pada masing-masing jenis dari
Desa Degolan, Kab. Sleman, DIY. Setiap batang dibedakan secara longitudinal menjadi bagian pangkal,
tengah dan ujung batang. Pada setiap bagian batang, baik pada bagian yang bernodia maupun internodia dan
dalam bentuk gelondong maupun belahan, dikaji sifat mekanik, meliputi keteguhan lengkung statis dan
keteguhan tarik. Pengujian dilakukan metode ASTM D 143-52 dan Janssen (1981).
Hasil penelitian memperlihatkan, bahwa ketiga jenis bambu memiliki perbedaan secara signifikan dalam hal
modulus patah, keteguhan serat pada batas proporsi, dan keteguhan tarik, tetapi tidak demikian dalam hal
modulus elastisitas dan modulus young. Dari posisi pangkal ke arah ujung batang, nilai modulus patah dan
modulus elastisitas meningkat, sedangkan keteguhan tarik tertinggi pada bagian tengah. Dibandingkan dengan
bagian internodia, bagian batang yang bernodia mempunyai modulus patah lebih tinggi. Bambu berbentuk
gelondong mempunyai modulus patah lebih tinggi dibandingkan dengan bentuk belahan.
Kata kunci: bambu, sifat mekanika, lengkung statik dan tarik
Pendahuluan
Bambu relatif mudah diperoleh dan dapat dijumpai sebagai tumbuhan yang tumbuh secara alami di hutan alam
dan tanaman budidaya di hutan tanaman maupun di pekarangan daerah pedesaan. Baik sebagai tanaman eksotik
maupun tanaman domestik, bambu secara keseluruhan diperkirakan ada 11 genera yang meliputi 65 spesies.
Meskipun demikian, baru ada 13 spesies bambu saja yang mempunyai nilai ekonomi dan oleh karena itu
dibudidayakan oleh masyarakat pedesaan. Tanaman ini mempunyai manfaat yang sangat besar, terutama bagi
masyarakat pedesaan. Bambu secara alami memiliki keunggulan antara lain: batangnya yang lurus dan kuat,
serta keras, tetapi relatif ringan; mudah dikembangbiakkan, memerlukan waktu yang pendek untuk mencapai
tingkat kedewasaan, tersedia dalam jumlah banyak dan variasi ukuran yang besar (Yudodibroto, 1985).
Penggunaan bambu untuk berbagai keperluan dengan mempertimbangkan sifat-sifat dasar: meliputi sifat
anatomi, sifat fisika, sifat mekanika dan sifat kimia, sifat pengeringan dan sifat keawetan (Liese, 1985).
Penguasaan sifat-sifat ini akan meningkatkan efisiensi pemanfaatan bambu. Di samping penguasaan sifat,
pemanfaatan bambu juga dipengaruhi oleh faktor jenis bambu, umur bambu dan keberadaan nodia, posisi
longitudinal batang, bentuk bambu serta masa pemanenan (Sulthoni, 1983).
Latar belakang ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang berbagaii sifat dasar bambu.
Penelitian tentang sifat mekanika ketiga jenis bambu tersebut dilakukan dengan melihat variabilitasnya pada
posisi vertikal batang. Sifat mekanika terfokus kekuatan lengkung statik dan keteguhan tarik. Tujuannya untuk
mengetahui tiga hal. Pertama, variabilitas sifat mekanika bambu tersebut. Kedua, variabilitas sifat mekanika
pada posisi longitudinal batang. Ketiga, pengaruh bentuk dan keberadaan nodia terhadap kekuatan bambu.
Metode Penelitian
Bahan penelitian adalah Bambu Ampel (Bambusa vulgaris Schard), Bambu Ori (Bambusa blumeana Schults)
dan Bambu Wulung (Giganthochloa atter Munro). Setiap jenis ditebang tiga batang dari satu rumpun. Setiap
batang berumur tiga tahun, keadaan sehat dan normal, serta tanpa cacat. Semuanya dari Desa Degolan,
Kecamatan Ngentak, Kabupaten Sleman. Peralatan meliputi parang, pita ukur, gergaji potong, gelas piala,
kaliper dan universal testing machine merek Baldwin.
Penelitian dilakukan dengan penyediaan contoh uji, pembuatan contoh uji dan penentuan sifat mekanika,
khususnya keteguhan lengkung statik dan keteguhan tarik. Penyediaan contoh uji dilakukan dengan memotong
batang bambu secara longitudinal menjadi tiga bagian sama panjang, yaitu bagian pangkal, bagian tengah dan

bagian ujung batang. Panjang setiap posisi itu pada Bambu Ampel, Bambu Ori dan Bambu Wulung berturutturut adalah 3, 4 dan 3 meter. Dari setiap posisi dibuat secara random contoh-contoh uji keteguhan lengkung
statik bentuk bulat bernodia, lengkung statik bentuk belah dan keteguhan tarik sejajar serat. Faktor bentuk
contoh uji, yaitu bambu bentuk bulat dan bentuk belah, dilibatkan sebagai faktor tambahan dalam pengujian
keteguhan lengkung statik. Faktor keberadaan nodia, yaitu bagian bambu yang bernodia dan yang tidak
bernodia, dilibatkan dalam pengujian keteguhan lengkung statik.
Dalam pembuatan contoh uji bambu bentuk bulat, contoh uji keteguhan lengkung statik dibuat berukuran
panjang 76 cm untuk yang bernodia dan 30 cm untuk bagian yang tidak bernodia.. Dalam pembuatan contoh uji
bambu bentuk belah, contoh uji keteguhan lengkung statik dibuat dengan ukuran 30 cm x 2 cm x ketebalan
bambu. Contoh uji keteguhan tarik dibuat dengan ukuran panjang 30 cm dan bagian tengah mempunyai ukuran
lebar 2 mm. Pembuatan ini didasarkan pada ASTM D 143-52 dan Janssen (1981) dengan beberapa modifikasi.
Prosedur pengujian dilakukan mengikuti prosedur ASTM tersebut.
Penelitian dirancang dengan rancangan acak lengkap dengan percobaan faktorial 3 faktor. Faktor pertama
adalah jenis bambu. Faktor kedua adalah posisi vertikal batang. Faktor ketiga adalah bentuk contoh uji. Untuk
keteguhan lengkung statik, terdapat satu faktor lagi yaitu keberadaan nodia. Hasil penelitian dianalisis dengan
menggunakan analisis varians dengan ulangan sebanyak tiga kali. Analisis lebih lanjut dilakukan dengan uji
Beda Nyata Terkecil (Snedecor and Cochran, 1967).
Hasil, Analisis Hasil dan Pembahasan
Modulus Patah. Nilai rata-rata modulus patah dalam contoh uji berbentuk bulat dan belah disajikan pada Tabel
1, sedang analisis varians disajikan pada Tabel 2 berikut.
Tabel 1. Hasil rata-rata modulus patah (Newton/cm2)
Tabel 1. Hasil rata-rata modulus patah (Newton/cm2)
Jenis
Bentuk
Ada Tidak
Bambu
Contoh Uji
Nodia
Ampel

Bulat
Belah

Belah
Wulung

Bulat
Belah

Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tidak

Posisi Contoh Uji


Pangkal
1.983,355
221,321
4.134,297
3.730,216
4.397,846
462,090
6.818,772
7.061,990
2.875,226
814,824
7.962,060
5.807,039

Tengah
1006,357
246,453
3.557,846
6.572,556
1.974,073
549,650
8.091,107
11.280,204
2.743,862
735,505
7.598,943
7.172,106

Ujung
1.833,086
388,951
3.796,327
6.673,751
3.658,588
1.522,681
10.436,958
10.073,794
2.827,606
1.328,409
6.861,622
6.331,45

Tabel 2. Analisis varians modulus patah


Sumber Variasi
DB

Perllakuan
Jenis (J)
Posisi (P)
Bentuk (B)
Nodia (N)
(J x P)
(J x B)
(J x N)
(P x B)
(P x N)
(B x N)
(J x P x B)
(J x P x N)
(J x B x N)
(P x B x N)
(J x P x B x N)
Ulangan
Error
Total

Jumlah Kuadrat

Rata-rata Kuadrat

35
2
2
1
1
4
2
2
2
2
1
4
4
2
2
4
2

133.084.726
10.524.974
747.198.789
16.011.348
9.121.263
44.267.224
11.063.430
17.282.730
10.293.969
43.230.115
11.751.087
5.691.312
22.337.102
12.143.561
23.051.686
2.698.399
70
129.794.077

66.542.363
5.262.487
747.198.789
16.011.348
228.065
22.133.612
5.531.715
8.641.365
5.146.984,5
43.230.115
2.937.771,75
1.422.828
11.168.551
5.810.780,5
5.762.921,5
1.349.199,5

F Hitung

F Tabel
0,05
0,01

1.081.653.316
35,887**
3,13
2,838
3,13
402,976**
3,98
8,635**
3,98
0,123
2,50
11,937**
3,13
2,983
3,13
4,660*
3,13
2,776
3,13
23,315**
3,98
1,584
2,50
0,767
2,50
6,023**
3,13
3,275*
3,13
3,108
2,50
0,728
3,13
1.854.201,1
107

Dari analisis varians Tabel 2 diketahui, bahwa faktor-faktor: jenis bambu, bentuk bambu, dan keberadaan nodia
serta interaksi-interaksi antara: faktor jenis dan bentuk, bentuk dan keberadaan nodia, serta faktor jenis dan
bentuk serta keberadaan nodia berpengaruh sangat nyata pada tingkat kepercayaan 1%. Sementara itu, interaksi
antara faktor posisi dan bentuk; faktor posisi, bentuk dan keberadaan nodia berpengaruh nyata pada tingkat
kepercayaan 5%.
Pengujian LSD Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5 dilakukan untuk mengetahui perbedaan modulus patah karena
pengaruh faktor tunggal: jenis, bentuk dan keberadaan nodia. Pengujian LSD Tabel: 6, 7, 8, 9 dan 10 dilakukan
untuk mengatahui efek interaksi.
Tabel 3. Hasil pengujian LSD faktor jenis
Faktor
Nilai rata-rata (N/cm2)
Jenis
Ampel
Wulung
Bambu
2.845 a
4.421 b
Tabel 4. Hasil pengujian LSD faktor bentuk
Faktor
Nilai rata-rata (N/cm2)
Bentuk
Bulat
Belah
1642 a
5903 b

LSD 0,05
629

Ori
5.552 c

LSD 0,05
514

Tabel 5. Hasil pengujian LSD faktor keberadaan nodia


Faktor
Nilai rata-rata (N/cm2)
LSD 0,05
Keberadaan Nodia
Internodia
Nodia
0,668
3959 a
4586 b
Tabel 6. Nilai rata-rata modulus elastisitas (N/cm2)
Jenis Bambu
Posisi Contoh Uji
Pangkal
Tengah
Ampel
59.288,88
49.319,93
Ori
84.598,84
91.028,27
Wulung
97.490,21
159.087,95

Ujung
174.169,04
176.530,56
124.169,51

4,92
4,92
7,01
7,01
3,60
4,92
4,92
4,92
4,92
7,01
3,60
3,60
4,92
4,92
3,60
4,92
1.214.145.792

Analisis varians Tabel 6 memperlihatkan faktor posisi berpengaruh secara nyata, sedang faktor jenis dan
interaksinya dengan posisi tidak berpengaruh secara nyata. Pengujian LSD dilakukan untuk mengetahui
perbedaan nilai modulus elastisitas pada faktor posisi vertikal bambu. Hasilnya disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Pengujian LSD terhadap faktor posisi terhadap Modulus Elastisitas
Faktor
Nilai rata-rata (N/cm2)
Posisi
Pangkal
Tengah
Ujung
80.459,3 a
99.812 a
158.289,7 b

LSD 0,05
52.740, 7

Tabel 8. Nilai rata-rata keteguhan serat pada batas proporsi (N/cm2)


Jenis Bambu
Posisi Contoh Uji
Pangkal
Tengah
Ujung
Ampel
112,641
66,898
68,533
Ori
227,996
103,469
167,554
Wulung
154,555
105,893
134,311
Tabel 9. Hasil pengujian LSD faktor jenis terhadap keteguhan serat pada batas proporsi
Faktor
Nilai rata-rata (N/cm2)
LSD 0,01
Jenis
Ampel
Wulung
Ori
38,83
Tabel 10. Hasil pengujian LSD faktor posisi terhadap keteguhan serat pada BP
Faktor
Nilai rata-rata (N/cm2)
Posisi
Tengah
Ujung
Pangkal
92,09 a
123,47 a
165,05 b

LSD 0,01
38,83

Dari Tabel 10 terlihat, bahwa keteguhan serat pada batas proporsi di dalam bambu Wulung tidak berbeda
terhadap bambu Ori, tetapi kedua jenis bambu tersebut berbeda terhadap bambu Ampel. Dari Tabel 10 tampak,
bahwa keteguhan serat pada batas proporsi pada posisi tengah dan posisi ujung tidak memperlihatkan beda
nyata, tetapi keduanya berbeda terhadap posisi pangkal batang untuk semua jenis bambu.
Keteguhan serat pada batas proporsi pada bambu Ori lebih besar daripada bambu wulung. Hal ini mungkin
disebabkan oleh bambu ori mempunyai berat jenis lebih tinggi daripada bambu wulung. Dugaan ini didasarkan
pada teori, bahwa keteguhan serat pada batas proporsi merupakan fungsi dari berat jenis.
Keteguhan Tarik Maksimum Sejajar Serat Bambu. Nilai rata-rata keteguhan tarik maksimum sejajar serat
dari 27 unit contoh uji berbentuk belah disajikan pada Tabel 11. Sementara itu, analisis varians disajikan pada
Tabel 11. Nilai rata-rata keteguhan tarik maksimum sejajar serat (N/cm2)
Jenis Bambu
Posisi Contoh Uji
Pangkal
Tengah
Ampel
16.891,423
19.391,977
Ori
37.322,564
40.959,500
Wulung
37.638,431
33.407,168

Ujung
9.804,936
44.489,808
27.171,136

kedua faktor tidak berpengaruh. Pembedaan terhadap faktor jenis, dilakukan pengujian LSD Tabel 20.
Tabel 12. Hasil pengujian LSD faktor jenis terhadap keteguhan tarik maksimum
Faktor
Nilai rata-rata (N/cm2)
Jenis
Ampel
Wulung
Ori
15.362,7 a
32.739 b
40.923,9 b

LSD 0,01
9.443,8

Dari Tabel 12 terlihat, bahwa keteguhan tarik maksimum sejajar serat di dalam bambu Wulung tidak berbeda
terhadap bambu Ori, tetapi kedua jenis bambu tersebut berbeda terhadap bambu Ampel.
Modulus Young. Nilai rata-rata Modulus Young dari 27 unit contoh uji berbentuk belah disajikan pada Tabel
13
Tabel 13. Nilai rata-rata Modulus Young (N/cm2)
Jenis Bambu
Posisi Contoh Uji
Pangkal
Tengah
Ampel
3.805.981,546
4.163.937,896
Ori
5.215.687,11
5.321.449,7
Wulung
6.155.395,836
4.230.466,716

Ujung
3.105.404,091
5.408.836,936
4.105.950,923

Tabel 13 memperlihatkan bahwa faktor jenis, faktor posisi dan interaksi antara kedua faktor tersebut tidak
berpengaruh secara nyata terhadap Modulus Young.
Keteguhan Tarik pada Batas Proporsi. Nilai rata-rata keteguhan tarik pada batas proporsi dari 27 unit contoh
uji berbentuk belah disajikan pada Tabel 23 dan analisis varians disajikan pada Tabel 24 berikut.
Tabel 14. Nilai rata-rata keteguhan tarik pada batas proporsi (N/cm2)
Jenis Bambu
Posisi Contoh Uji
Pangkal
Tengah
Ampel
11.887,129
12.130,386
Ori
23.271,121
25.828,769
Wulung
23.062,146
21.738,304

Ujung
7.101,251
27.937,662
18.853,993

Tabel 14 memperlihatkan faktor jenis berpengaruh secara sangat nyata, sedang faktor posisi dan interaksi kedua
faktor tidak berpengaruh secara nyata terhadap keteguhan tarik pada batas proporsi. Perbedaan faktor jenis diuji
dengan LSD pada Tabel 15.
Tabel 15. Pengujian LSD faktor jenis terhadap keteguhan tarik pada batas proporsi
Faktor
Nilai rata-rata (N/cm2)
LSD 0,01
Jenis
Ampel
Wulung
Ori
6.376,7
10.372,9 a
21.216,1 b
25.679,2 b
Dari Tabel 15 terlihat, bahwa keteguhan tarik pada batas proporsi di dalam bambu Wulung tidak berbeda
terhadap bambu Ori, tetapi kedua jenis bambu tersebut berbeda terhadap bambu Ampel.

Kesimpulan dan Saran


Beberapa butir kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Modulus bambu ori (5.552 N/cm2), bambu wulung (4.421) dan bambu ampel (2.845). Modulus patah
meningkat dari posisi pangkal ke arah ujung batang.
2. Modulus elastisitas lengkung statik bambu wulung (94.259), bambu ori (133.779) dan bambu Ampel
(126.915). Nilai modulus ini meningkat dari posisi pangkal ke arah ujung batang.
3. Keteguhan serat pada batas proporsi bambu ori (166,34 N/cm2), bambu wulung (131,58) dan bambu
ampel (68,02). Keteguhan ini tertinggi pada posisi pangkal, diikuti ujung dan tengah batang.
4. Keteguhan tarik maksimum sejajar serat bambu ori (40.923 N/cm2), bambu wulung (32.736) dan ampel
(15.362). Keteguhan tertinggi pada posisi tengah, diikuti pangkal dan ujung batang.
5. Modulus Young bambu ori (5.315.326 N/cm2), bambu wulung (4.630.610) dan ampel (3.691.773).
Modulus ini menurun dari pangkal ke arah ujung batang.
6. Keteguhan tarik pada batas proporsi bambu ori (25.679 N/cm2), bambu wulung (21.218) dan ampel
(10.372). Keteguhan tertinggi pada tengah, diikuti pangkal dan ujung batang.
Disarankan agar dilakukan penelitian sifat kimia ketiga jenis bambu ini agar tersedia data sifat-sifat dasarnya.

Daftar Pustaka
1. Anonimous, 1952. ASTM, Standart Method of Testing Small Clear Specimens of Timber. Serial Designation
D 143-52. New-York. USA.
2. .Liese, 1985. Anatomy of Bamboo. Proceeding of Workshop Bamboo Research In Asia. Singapore.
3. Janssen, J.J.A., 1981. Bamboo in Building Structures. Dissertatie. Drukkerij. Wibro, Helmod. Eindhoven
University of Technology. Netherlands
th

4. Snedecor G.W. and Cochran, A., 1967. Statistical Method. 6 edition. The Iowa University Press. USA.
5. Sulthoni, A., 1988. Suatu Kajian Tentang Pengawetan Bambu Secara Tradisional untuk Mencegah Serangan
Kumbang Bubuk. Disertasi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
6. Yudodibroto, H., 1985. Bamboo in Indonesia. A Country Report. International Bamboo Workshop. Hanchou.
R.R. China.

Anda mungkin juga menyukai