Anda di halaman 1dari 26

PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan
rahmat serta karuniaNya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan kasus
dengan judul Anestesi Umum pada Pasien Ca mamae sinistra dengan
Hipertensi. Dalam menyelesaikan laporan kasus ini, kami mendapat bantuan dan
bimbingan, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Guntur, Sp.An dan sebagai pembimbing yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu dan menjalani
Kepaniteraan Klinik Ilmu Anestesi di Rumah Sakit Umum Daerah dr.
Soeselo, Slawi.
2. Staf dan paramedis yang bertugas di Kamar Operasi Rumah Sakit Umum
Daerah dr. Soeselo Slawi, khususnya kepada seluruh penata anestesi yang
telah membantu selama kami menjalankan kepaniteraan.
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih memiliki banyak
kekurangan, oleh karena kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Penulis
berharap laporan khusus ini dapat memberikan manfaat yaitu menambah ilmu
pengetahuan bagi seluruh pembaca, khususnya untuk mahasiswa kedokteran dan
masyarakat pada umumnya.
Slawi, Desember 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

ANAMNESIS

PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN PENUNJANG

PENATALAKSANAAN

BAB II ANALISA KASUS

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

12

DAFTAR PUSTAKA

40

LAPORAN KASUS
KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI
RUMAH SAKIT UMUM DR. SOESELO SLAWI
--------------------------------------------------------------------------------------IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny F

Umur

: 42 Tahun

Alamat

: Jatinegara

Jenis Kelamin

: Perempuan

Status Perkawinan

: Menikah

Pekerjaan

: Wiraswasta.

Agama

: Islam

No.CM

: 386076

I. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Benjolan pada lipatan paha kiri sejak 3 hari yang lalu.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang pada sabtu tanggal 4 oktober 2014 ke Poli Bedah Rumah Sakit
Umum Daerah dr. Soeselo Slawi dengan benjolan pada lipat paha kiri sejak 3 hari
yang lalu. Benjolan telah dirasakan oleh pasien sejak 15 tahun yang lalu. Mula mula
benjolan hanya sebesar bola pingpong dengan konsistensi lunak dan dapat
digerakkan. Pasien mengaku pada saat itu benjolan tidak terasa sakit dan masih dapat
dimasukkan. Benjolan akan muncul saat pasien sedang mengangkat barang barang
berat atau batuk lama namun saat berbaring benjolan tidak dirasakan lagi. Benjolan
lama kelamaan dirasakan pasien membesar dan mulai terasa sakit. Pasien
mengeluhkan terasa sakit saat pasien batuk dan mengejan. Pasien menyangkal adanya
demam dan mual muntah. Buang air kecil dan buang air besar lancar. Pasien
menyangkal ada batuk lama sebelumnya.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Pasien memiliki
riwayat dispepsia. Hipertensi tidak terkontrol . Diabetes Mellitus disangkal. Pasien
menyangkal pernah operasi sebelumnya.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
3

Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama. Riwayat kencing manis,
hipertensi dan keganasan dalam keluarga disangkal.
5. Riwayat Kebiasaan
Pasien merokok sejak masih muda selama 33 tahun dan pasien mampu
menghabiskan 2 bungkus rokok sehari. duduk di sekolah menengah pertama.
II. PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS
Keadaan Umum
Kesan sakit
: Tampak Sakit Sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah
: 160/100mmHg
Nadi
: 96x/menit, reguler
Suhu
: 36C
Pernapasan
: 20x/menit
Kepala

: bentuk normochepali, rambut hitam, distribusi merata dan

tidak mudah dicabut


Wajah
: Simetris, Pucat (-), Sianosis(-) dan Ikterik (-)
Mata
: Conjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/Hidung
: Bentuk normal, deviasi septum (-), sekret -/-, hiperemis
Telinga
Mulut
Leher
Thoraks
Ekstremitas

mukosa -/: tidak ada kelainan


: sianosis (-), lidah tidak kotor
: KGB serta kelenjar tyroid tidak teraba membesar.
: Paru
: suara nafas vesikuler +/+, rh -/-, wh -/Jantung
: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
: Simetris, tidak sianosis, pitting oedem -/-, akral hangat.

Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi

: Simetris, perut buncit, efloresensi (-), spider nevi (-).


: Bising usus normal.
: supel, defans muscular (-), smiling umbilicus (-), dilatasi

pembuluh darah(-)
Perkusi
: Timpani.
STATUS LOKALIS
Regio Genitalia
Inspeksi
: tampak ada benjolan pada paha sinistra, ukuran sebesar buah
salak , bentuk benjolan lonjung.
Palpasi
: konsistensi benjolan lunak, permukaan benjolan rata, benjolan
tidak dapat ditekan masuk ke arah perut, benjolan dapat digerakkan, nyeri tekan
(-), teraba hangat
4

Auskultasi

: bising usus (+).

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. LABORATORIUM
Hematologi
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Trombosit
APTT
PT
Golongan darah
Rhesus factor
Gula darah sewaktu
Ureum
Kreatinin
Albumin
SGOT
SGPT

10.4 103/uL
5.6 106/uL
16.2 %
280 103/uL
28.0 detik
11.1 detik
O
Positif
103
47.5
0.86
3.05
13
6

IV. ASSESSMENT
Tn. Sohidin, 43 tahun dengan diagnosis Hernia Inguinalis Lateralis Reponible
Sinistra , dengan vital sign tekanan darah 160/100 mmHg dan yang lain dalam
batas normal. Laboratorium: leukosit 10.4 103/uL, Eritrosit 5.6 106/uL, Hb
16.2 %, APTT test 28.8 detik dan PT test 11.1, gula darah sewaktu 103,
ureum 47.5, kreatinin 0.86 SGPT 6 dan SGOT 13. Radiologi tidak ada
kelainan. Status ASA II dengan riwayat hipertensi (+) tidak terkontrol. Akan
dilakukan spinal anestesi.
V PENATALAKSANAAN
1. Persiapan operasi
a. Persetujuan operasi tertulis (informed consent) ( + )
b. Puasa 6-8 jam (+)
c. Oksigenasi 3 L/ menit
d. Pemasangan IV line memakai abocath nomor 20 dan tranfusi set
dengan Ringer laktat
e. Pemasangan kateter urin dan disambungkan dengan urine bag
2. Jenis anestesi

: Anestesi regional

3. Teknik anestesi

: Spinal anestesi, L3-L4, LCS (+)

4. Premedikasi

: Ondancetron 4 mg/2 ml, fortanest 40 mg

5. Induksi

: Bupivacaine HCl 5mg/ml; 3ml

6. Maintenance

: Oksigen 3L/menit

7. Monitoring

: Tanda vital selama operasi berlangsung setiap 5 menit,

cairan,
dan perdarahan
8. Pengawasan pasca anestesi di ruang pulih sadar
MONITORING
JAM

TD

HR

SpO2

Keterangan

09.00

180/95 mmHg

100 x/menit

100 %

09.05

160/80 mmHg

90x/menit

100%

Bupivacaine HCl 5mg/ml 3 ml

09.10

140/85 mmHg

86 x/menit

99%

Mulai operasi
Mulai operasi

09.15

136/80 mmHg

96 x/menit

99 %

09.20

125/62 mmHg

104 x/menit

100 %

09.25

120/57 mmHg

104 x/menit

99 %

09.30

115/56 mmHg

100 x/menit

99 %

09.35

113/63 mmHg

104 x/menit

99%

09.40

118/71 mmHg

100 x/menit

99%

09.45

125/68 mmHg

100 x/menit

100%

09.50
09.55
10.00

130/72 mmHg
136/80 mmHg
138/80 mmHg

104 x/menit
104x/menit
104x/menit

100%
99%
100%

10.05
10.10
POST OPERASI:

TD

: 138/80 mmHg

: 100 x/menit

RR

: 20 x/menit

Ondancentron 4 mg

RL 500cc

RL 500 cc

Ketorolac 30 mg
Operasi Selesai
RR

Nilai Aldretes score


Pasien
dipindahkan

bangsal
BU (+)

ke

Aldretes score: 9
Instruksi post operasi :

Infus RL 20 tpm

Medikamentosa:
- Injeksi Ceftriaxon 1x2gr
- Injeksi Ketorolac 3x30 mg
- Injeksi Ranitidin 2x50 mg
- Awasi TV 24 jam

Bila sadar penuh, mual muntah (-), pusing (-), BU (+) diet biasa bertahap

BAB II
ANALISIS KASUS
Pasien seorang anak laki laki berusia 15 tahun datang ke poli THT RSUD
Karawang dengan kesadaran compos mentis, keadaan umum tampak sakit ringan,
megeluh sakit pada lengan atas kanan. Tekanan darahnya, nafas, suhu dan nadinya
dalam batas normal. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik, terdapat kemerahan,
bengkak serta adanya detritus pada tonsil kanan dan kiri pasien. Dari pemeriksaan
laboratorium tidak terdapat kelainan apapun.
Pasien dianjurkan untuk menjalani operasi, ijin operasi didapatkan dari pasien
dan disetujui oleh dokter spesialis anestesi. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang, disimpulkan bahwa pasien termasuk ASA I. Menjelang
operasi, pasien tampak sakit ringan, tenang, tekanan darahnya, nadi, nafas, dan
suhunya dalam batas normal.
Operasi dilakukan pada tanggal 12 November 2014 pukul 10.00 sedangkan
anestesi dimulai pada pukul 09.30 di RSUD dr. Soeselo kabupaten Tegal dengan
memberikan obat premedikasi fentanyl 50 mg, midazolam 5mg, roculax selanjutnya
obat medikasi profopol 70 mg, asam traneksamat 650mg, ondancentron 4 mg &
ketorolac 30mg serta diberikan anestesi inhalasi berupa campuran N20 2 l/ menit & O2
2 l/m serta sevoflurant 2 vol%. Dilakukan pemasangan ET nomor 7 dengan bantuan
laringoskop.

Phetidin, dosis premedikasi dewasa 50 70 mg (1 1,5 mg/kgBB) intravena


diberikan untuk menekan tekanan darah dan pernafasan serta merangsang otot polos.
Dosis induksi 1 2 mg/ kgBB intravena.
Untuk medikasi diberikan Propofol merupakan derivate fenol yang banyak
digunakan sebagai anastesi intravena dan lebih dikenal dengan nama dagang dripivan.
Dosis sedasinya 2 3 mg/kgBB. Sebaiknya menyuntikkan obat anastesi ini pada vena
besar karena dapat menimbulkan nyeri.
Asam

menghambat

traneksamat

adalah

obat

pemutusan

benang

fibrin.

antifibrinolitik
Asam

yang

traneksamat

digunakan untuk profilaksis dan pengobatan pendarahan. Dosis


injeksi intravena perlahan : 0.5 -1 g atau 10 mg/kgBB.
Ondansetron adalah antagonis reseptor 5HT yang poten dan selektif yang
berfungsi untuk mencegah mual dan muntah pasca bedah 4 mg/i.m. sebagai dosis
tunggal atau injeksi i.v. secara perlahan.
Efek analgetik ketorolac sama baiknya dengan morfin dengan dosis yang
sebanding, tanpa takut terjadinya depresi pemapasan. Hal inilah salah satu sebab
dipilihnya ketorolac sebagai analgetik pasca operasi Ketorolac juga bersifat anti
inflamasi sedang. Dosis awal Ketorolac yang dianjurkan adalah 10 mg diikuti dengan
1030 mg tiap 4 sampai 6 jam bila diperlukan.
Isofluran merupakan eter berhalogen berbau tajam dan mudah terbakar.
Keuntungan isofluran adalah irama jantung stabil dan tidak terangsang oleh adrenalin
serta induksi dan masa pulih anestesi cepat. Namun harga obat ini mahal. Dosis
induksi 3 3,5 % dalam oksigen atau campuran N2 dan O2.
Terapi Cairan Intra operatif

Kebutuhan cairan basal (BB=65kg)


4 x 10kg = 40
2 x 10kg = 20
1 x 45kg = 45
----------+
105ml/jam
Kebutuhan cairan intraoperasi (operasi besar)
8 x 65kg = 520ml/jam
Kebutuhan cairan saat puasa dari pukul 02.00 10.00 (8jam)
8 x 105ml/jam = 840ml
Di ruangan sudah diberi cairan 500ml
Jadi kebutuhan cairan puasa sekarang = 840 500 = 340ml

Pemberian cairan pada jam pertama operasi


: Kebutuhan basal + kebutuhan intraoperasi + 50% x kebutuhan cairan puasa
: 105 + 520 + 170 = 795 ml
Pemberian cairan pada jam kedua operasi
: Kebutuhan basal + kebutuhan intraoperasi + 25% x kebutuhan cairan puasa
: 105 + 520 + 85 = 710 ml
Kebutuhan cairan selama operasi : ( 2 Jam )
Jam I + Jam II
= 795 ml + 710 ml
= 1505 ml
Cairan yang masuk selama operasi (2 Jam 30 menit)
1600 cc Ringer Laktat

Allowed Blood Loss


20 % x EBV = 20 % x (75 x 65) = 975 ml
Jumlah cairan keluar = 500 ml
Maka tidak perlu dilakukan transfusi darah, namun cukup diberikan cairan kristaloid
sebanyak 1560 ml atau koloid sebanyak 520 ml
Kebutuhan cairan selama operasi + cairan yang harus diberikan sebagai pengganti

perdarahan = 1710 ml + 1560 ml = 3270 ml.


Cairan yang harus diganti di ruang pemulihan (kristaloid)
= 3270 ml 3100 ml = 170 ml

Selama puasa dan operasi pasien telah diberikan cairan RL 500cc sebanyak 3
kali maka total terapi cairan yang paisen dapat adalah 1500 cc, maka terapi
cairan pasien terpenuhi.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

ANESTESI PADA HIPERTENSI


Diagnosis dan Klasifikasi Hipertensi
Diagnosis suatu keadaan hipertensi dapat ditegakkan bila ditemukan adanya
peningkatan tekanan arteri diatas nilai normal yang diperkenankan
berdasarkan umur, jenis kelamin dan ras. Batas atas tekanan darah normal yang
diijinkan adalah sebagai berikut :
Dewasa 140/90 mmHg
Dewasa muda (remaja) 100/75 mmHg
Anak usia prasekolah 85/55 mmHg
Anak < 1 tahun (infant) 70/45 mmHg
Menurut The Joint National Committee 7 (JNC 7) on
prevention,

detection,

evaluation, and treatment of high blood

pressure tahun 2003, klasifikasi hipertensi dibagi atas prehipertensi, hipertensi


derajat 1 dan 2 (lihat tabel 1)

Tabel 1. Klasifikasi hipertensi menurut JNC 7.


Klasifikasi di atas untuk dewasa 18 tahun ke atas. Hasil
p e n g u k u r a n T D dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk posisi dan
waktu

pengukuran,

emosi,

aktivitas,

obat

yang

sedang
10

dikonsumsi

dan

teknik

pengukuran

TD.

Kriteria

ditetapkan

setelah dilakukan 2 atau lebih pengukuran TD dari setiap kunjungan dan adanya
riwayat peningkatan TD darah sebelumnya. Penderita dengan klasifikasi
prehipertensi mempunyai progresivitas yang meningkat untuk menjadi
hipertensi. Nilai rentang TD antara 130-139/80-89 mmHg mempunyai risiko 2 kali
berkembang menjadi hipertensi dibandingkan dengan nilai TD yang lebih rendah dari
nilai itu.
Pertimbangan Anestesia Penderita Hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg
tekanan darah diastolik > 90 mmHg .1

atau

Hipertensi yang sudah ada dapat

menyebabkan berbagai tanggapan kardiovaskular yang berpotensi meningkatkan


resiko pembedahan, termasuk disfungsi diastolik dari hipertrofi ventrikel kiri,
disfungsi sistolik menyebabkan gagal jantung kongestif, kerusakan ginjal, dan otak
dan penyakit occlusive koroner. Tingkat risiko tergantung pada tingkat keparahan
hipertensi.2 Penilaian preoperatif penderita-penderita hipertensi esensial yang akan
menjalani prosedur pembedahan, harus mencakup empat hal dasar yang harus dicari,
yaitu jenis pendekatan medikal yang diterapkan dalam terapi hipertensinya, penilaian
ada tidaknya kerusakan atau komplikasi target organ yang telah terjadi, penilaian yang
akurat tentang status volume cairan tubuh penderita dan penentuan kelayakan
penderita untuk dilakukan tindakan teknik hipotensi, untuk prosedur pembedahan
yang memerlukan teknik hipotensi.3 Selama operasi, pasien dengan dan tanpa
hipertensi memiliki kemungkinan untuk terjadinya peningkatan tekanan darah dan
tachycardia selama induksi anestesi. Prediktor umum hipertensi perioperatif adalah
memiliki riwayat hipertensi sebelumnya, terutama tekanan darah diastolik lebih besar
dari 110 mm Hg. Sedangkan prinsip umum dalam pemberian anestesi pada pasien
hipertensi adalah menjaga stabilitas kardiovaskular selama anestesi dan periode
perioperatif. Pasien dengan hipertensi memiliki resiko perubahan tekanan darah lebih
besar daripada populasi normal dan telah terbukti bahwa ketidakstabilan tekanan
darah dapat dikaitkan dengan morbiditas kardiovaskular dan peningkatan kematian
pasca operasi, terutama pada pasien dengan hipertensi berat yang tidak terkontrol.
Pasien yang memiliki hipertensi, membutuhkan tekanan darah yang lebih tinggi untuk
perfusi organ yang memadai daripada pasien dengan normotensi (terutama pada
orang tua). Menghindari hipotensi (dan normotension pada pasien yang biasanya
11

memiliki angka tekanan darah yang tinggi dalam kesehariannya), dapat mencegah
komplikasi akibat perfusi yang kurang, terutama untuk mengontrol hemodinamik.
Hipertensi pasca operasi yang didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 190 mm
Hg dan / atau diastolik 100 mm Hg di dua pembacaan berturut-turut setelah operasi,
mungkin memiliki gejala sisa yang secara signifikan merugikan pada kedua jantung
dan noncardiac pasien. Hipertensi, dan krisis hipertensi, sangat umum pada periode
pascaoperasi awal dan terkait dengan tonus simpatik yang meningkat dan resistensi
pembuluh darah. Hipertensi pascaoperasi sering dimulai sekitar 10-20 menit setelah
operasi dan dapat berlangsung sampai 4 jam. Jika tidak diobati, pasien akan
meningkatkan risiko untuk pendarahan, peristiwa serebrovaskular, dan infark
miokard.4
Mempertahankan kestabilan hemodinamik selama periode intraoperatif adalah
sama p e n t i n g n y a

dengan pengontrolan

hipertensi pada periode

p r e o p e r a t i f . P a d a hipertensi kronis akan menyebabkan pergeseran kekanan


autoregulasi dari serebral dan ginjal. Sehingga pada penderita hipertensi ini
akan mudah terjadi penurunan aliran darah serebral dan iskemia serebral jika TD
diturunkan

secara

tiba-tiba.

Terapi j a n g k a

panjang

dengan

antihipertensi akan menggeser kembali kurva

obat

autregulasi

kekiri kembali ke normal.


Hipertensi Intraoperatif
Hipertensi pada periode preoperatif mempunyai risiko hipertensi juga
pada periode anestesia maupun saat pasca bedah. Hipertensi intraoperatif
yang tidak berespon dengan didalamkannya anestesia dapat diatasi dengan
antihipertensi secara parenteral, namun faktor penyebab bersifat reversibel atau bisa
diatasi seperti anestesia yang kurang dalam, hipoksemia atau hiperkapnea
harus disingkirkan terlebih dahulu.
Manajemen Post Operatif
Hipertensi yang terjadi pada periode pasca operasi sering terjadi pada pasien
yang

menderita

hipertensi

esensial.

Hipertensi

dapat

meningkatkan kebutuhan oksigen miokard sehingga berpotensi


menyebabkan

iskemia

miokard,

d i s r i t m i a jantung

dan

CHF.

Disamping itu bisa juga menyebabkan stroke dan perdarahan u l a n g l u k a


12

operasi

akibat

berkonstribusi

t e r j a d i n ya

disrupsi

menyebabkan

vaskuler

hematoma

pada

dan

dapat

daerah

luka

o p e r a s i s e h i n g g a m e n g h a m b a t penyembuhan luka operasi.


Penyebab terjadinya hipertensi pasca operasi ada banyak faktor, disamping
secara primer karena penyakit hipertensinya yang tidak teratasi dengan
baik, penyebab lainnya adalah gangguan sistem respirasi, nyeri, o v e r l o a d
cairan atau distensi dari kandung kemih. Sebelum diputuskan
u n t u k memberikan obat-obat antihipertensi, penyebab-penyebab sekunder tersebut
harus d i k o r e k s i d u l u .
N ye r i m e r u p a k a n s a l a h s a t u f a k t o r y a n g p a l i n g b e r k o n s t r i b u s i
menyebabkan hipertensi pasca operasi, sehingga untuk pasien yang berisiko, nyeri
sebaiknya ditangani secara adekuat, misalnya dengan morfin epidural secara infuse
k o n t i n yu . Ap a b i l a h i p e r t e n s i m a s i h a d a m e s k i p u n n y e r i s u d a h
teratasi,

maka

dilakukan

dan

intervensi
perlu

secara

diingat

farmakologi

bahwa

harus

segera

meskipun pasca operasi TD

kelihatannya normal, pasien yang prabedahnya sudah mempunyai riwayat


hipertensi, sebaiknya obat antihipertensi pasca bedah tetap diberikan.
Hipertensi pasca operasi sebaiknya diterapi dengan obat antihipertensi secara
parenteral misalnya dengan beta blocker yang terutama digunakan untuk
mengatasi

hipertensi

dan

takikardia

ya n g

terjadi.

Ap a b i l a

p e n ye b a b n ya k a r e n a overload cairan, bisa diberikan diuretika furosemid dan


apabila hipertensinya disertai dengan heart failure sebaiknya diberikan ACEinhibitor. Pasien

dengan

iskemia

miokard

yang

aktif

secara

l a n g s u n g m a u p u n t i d a k l a n g s u n g d a p a t d i b e r i k a n nitrogliserin
dan

beta-blocker

secara

intravena

sedangkan

untuk

hipertensi

beratsebaiknya segera diberikan sodium nitroprusside. Apabila penderita


sudah

bias

makan

dan

minum

secara

oral

sebaiknya

a n t i h i p e r t e n s i s e c a r a o r a l s e g e r a dimulai.

13

PEMBAHASAN ANESTESI UMUM


Anestesi umum adalah menghilangkan nyeri secara sentral disertai dengan
hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversible). Anestesi memungkinkan
pasien untuk mentoleransi prosedur bedah yang akan menimbulkan sakit yang tak
tertahankan, mempotensiasi eksaserbasi fisiologis yang ekstrim, dan menghasilkan
kenangan yang tidak menyenangkan.
Anestesi memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:
1. Hipnotik/sedasi: hilangnya kesadaran
2. Analgesia: hilangnya respon terhadap nyeri
3. Muscle relaxant: relaksasi otot rangka
Faktor-faktor yang mempengaruhi anestesi antara lain:
1. Faktor Respirasi
Pada setiap inspirasi, sejumlah zat anestesi akan masuk ke dalam paru-paru
(alveolus). Dalam alveolus akan dicapai suatu tekanan parsial tertentu. Bila
tekanan parsial dalam alveolus lebih tinggi, maka zat anestesi akan berdifusi
melalui membran alveolus menuju sirkulasi sehingga tekanan parsial dalam

14

alveolus sama dengan tekanan parsial dalam sirkulasi. Hal-hal yang


mempengaruhi hal tersebut adalah:
a. Konsentrasi zat anestesi yang dihirup; makin tinggi konsentrasinya,
makin cepat naik tekanan parsial zat anestesi dalam alveolus.
b. Ventilasi alveolus; makin tinggi ventilasi alveolus, makin cepat
meningginya tekanan parsial alveolus dan keadaan sebaliknya pada
hipoventilasi
2. Faktor Sirkulasi
a. Aliran darah paru dan cardiac output menentukan pengangkutan gas
anestesi dari paru ke jaringan dan sebaliknya. Bila terjadi gangguan
maka makin sedikit obat anestesi yang dapat diangkut.
b. Blood gas partition coefisien adalah rasio konsentrasi zat anestesi
dalam darah dan dalam gas bila keduanya dalam keadaan seimbang.
Bila kelarutan zat anestesi dalam darah tinggi (BG koefisien tinggi),
maka obat yang berdifusi cepat larut dalam darah. Bila BG koefisien
rendah, maka cepat terjadi keseimbangan antara alveoli dan sirkulasi
darah, akibatnya penderita mudah tertidur saat induksi dan mudah
terbangun saat anestesi diakhiri.
3. Faktor Jaringan
a. Perbedaan tekanan parsial obat anestesi antara sirkulasi darah arteri
dan jaringan.
b. Koefisien partisi jaringan/darah: kira-kira 1,0 untuk sebagian besar zat
anestesi, kecuali halotan.
c. Kecepatan metabolism obat.
d. Aliran darah terdapat dalam 4 kelompok jaringan:
- Jaringan kaya pembuluh darah: otak, jantung, hepar, ginjal.
Organ-organ ini menerima 70-75% curah jantung hingga
tekanan parsial zat anestesi meningkat dengan cepat dalam
-

organ-organ ini. Otak menerima 14% curah jantung.


Kelompok intermediate: otot skelet dan kulit.
Lemak: jaringan lemak.
Jaringan sedikit pembuluh darah: relatif tidak ada aliran darah
yaitu ligament dan tendon.

4. Faktor Obat Anestesi


Setiap obat anestesi mempunyai potensial yang berbeda. Untuk mengukur
potensi obat anestesi digunakan Minimal Alveolar Concentration (MAC).
MAC adalah konsentasi obat anestesi inhalasi dalam alveolus yang dapat

15

mencegah respon nyeri pada 50% individu. Makin rendah MAC makin tinggi
potensi obat anestesi tersebut.
TAHAPAN TINDAKAN ANESTESI UMUM
I. Penilaian dan persiapan pra anestesi
Sebelum pasien dibedah sebaiknya dilakukan kunjungan pasien terlebih dahulu
sehingga pada waktu pasien dibedah, pasien dalam keadaan bugar. Tujuan dari
kunjungan

tersebut

adalah

untuk

mengurangi

angka kesakitan operasi,

mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.


a. Penilaian pra bedah
Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesi sebelumnya
sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang perlu
mendapat perhatian khusus, misalnya alergi, mual-muntah, nyeri otot,
gatal-gatal atau sesak nafas pasca bedah, sehingga dapat dirancang
anestesi berikutnya dengan lebih baik. Beberapa peneliti menganjurkan
obat yang mungkin bisa menimbulkan masalah dimasa lampau sebaiknya
jangan digunakan ulang, misalnya halotan jangan digunakan ulang dalam
waktu tiga bulan, suksinilkolin yang menimbulkan apnoe berkepanjangan
juga jangan diulang. Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari
sebelumnya
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar sangat
penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi
intubasi. Leher pendek dan kaku juga akan menyulitkan laringoskopi
intubasi. Pemeriksaan rutin secara sistemik tentang keadaan umum tentu
tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
semua sistem organ tubuh pasien
Pemeriksaan Laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan
penyakit yang sedang dicurigai. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi
pemeriksaan darah (Hb, lekosit, masa perdarahan dan masa pembekuan)
dan urinalisis. Pada usia pasien diatas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan
EKG dan foto thoraks.
Klasifikasi status fisik

16

Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang


adalah yang berasal dari The American Society of Anesthesiologists
(ASA). Klasifikasi fisik ini bukan alat perkiraan resiko anestesi, karena
dampak samping anestesi tidak dapat dipisahkan dari dampak samping
pembedahan.
Kelas I
: Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.
Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang
Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas
rutin terbatas
Kelas IV : Pasien
melakukan

aktivitas

dengan
rutin

penyakit

sistemik

dan penyakitnya

berat

merupakan

tak

dapat

ancaman

kehidupannya setiap saat


Kelas V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa
pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam
Masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesi. Regurgitasi isi
lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko
utama pada pasien-pasien yang menjalani anestesi. Untuk meminimalkan
risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi elektif
dengan anestesia harus dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama
periode tertentu sebelum induksi.
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam dan pada
bayi 3-4 jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi
anestesi. Minuman bening, air putih teh manis sampai 3 jam dan untuk
keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam
sebelum induksi anestesi.
b. Premedikasi
Sebelum pasien diberi obat anestesi, langkah selanjutnya adalah dilakukan
premedikasi, yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesi diberi dengan
tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi
diantaranya:
1) Menimbulkan rasa nyaman pada pasien
2) Menghilangkan rasa khawatir
3) Memberikan ketenangan
4) Mengurangi rasa sakit
5) Mencegah mual dan muntah
6) Menekan refleks-refleks yang tidak diinginkan
7) Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan lambung
17

Waktu dan cara pemberian premedikasi:


Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam1 jam, secara
intramuscular minimum harus ditunggu 40 menit. Pada kasus yang sangat
darurat dengan waktu tindakan pembedahan yang tidak pasti obat-obat dapat
diberikan secara intravena. Obat akan sangat efektif sebelum induksi. Bila
pembedahan belum dimulai dalam waktu 1 jam dianjurkan pemberian
premedikasi

intramuscular,

subkutan

tidak

dianjurkan.

Semua

obat

premedikasi bila diberikan secara intravena dapat menyebabkan sedikit


hipotensi kecuali atropine dan hiosin. Hal ini dapat dikurangi dengan
pemberian secara perlahan-lahan dan diencerkan.
Obat-obat yang sering digunakan:
1. Analgesik narkotik
a. Petidin ( amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Morfin ( amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
c. Fentanyl ( fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3gr/kgBB
2. Analgesik non narkotik : ponstan, tramol
3. Hipnotik
a. Ketamin ( fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
4. Sedatif
a. Diazepam/valium/stesolid ( amp 2cc = 10mg), dosis 0,1 mg/kgBB
b. Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg),dosis 0,1mg/kgBB
c. Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5 mg/kgBB
d. Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
5. Anti emetic
a. Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1 cc = 0,25 mg), dosis 0,001
II. Induksi anestesi
Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar,
sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Induksi dapat
dikerjakan secara intravena, inhalasi, intramuscular atau rectal. Setelah pasien
tidur akibat induksi anestesia langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan
(maintenance) anestesi sampai tindakan pembedahan selesai.
Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan STATICS:

18

S : Scope, stetoskop

untuk

mendengarkan

suara

paru

dan

jantung.

Laringoskop, pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien.
Lampu harus cukup terang.
T : Tube, pipa trakea. pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan >
5 tahun dengan balon (cuffed).
A : Airway, pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidungfaring (naso-tracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak
sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.
T : Tape, plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.
I : Introducer, mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel) yang
mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah dimasukkan.
C : Connector, penyambung antara pipa dan peralatan anesthesia
S : Suction, penyedot lender, ludah danlain-lainnya.
1. Induksi intravena
Paling banyak dikerjakan dan digemari. Indiksi intravena dikerjakan dengan
hati-hati, perlahan-lahan, lembut dan terkendali. Obat induksi bolus disuntikan
dalam kecepatan antara 30-60 detik. Selama induksi anestesi, pernapasan
pasien, nadi dan tekanan darah harus diawasi dan selalu diberikan oksigen.
Dikerjakan pada pasien yang kooperatif. Obat-obat induksi intravena:
a. Tiopental (pentotal, tiopenton), amp 500 mg atau 1000 mg
sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades steril sampai kepekatan
2,5% ( 1ml = 25mg). Hanya boleh digunakan untuk intravena dengan
dosis 3-7 mg/kg disuntikan perlahan-lahan dihabiskan dalam 30-60
detik. Bergantung dosis dan kecepatan suntikan tiopental akan
menyebabkan pasien berada dalam keadaan sedasi, hypnosis,
anestesia atau depresi napas. Tiopental menurunkan aliran darah otak,
tekanan likuor, tekanan intracranial dan diduga dapat melindungi otak
akibat kekurangan O2 . Dosis rendah bersifat anti-analgesi.
b. Propofol (diprivan, recofol)
Dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat
isotonic dengan kepekatan 1% (1ml = 1o mg). Suntikan intravena
sering menyebabkan nyeri, sehingga beberapa detik sebelumnya dapat
diberikan lidokain 1-2 mg/kg intravena. Dosis bolus untuk induksi 22,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anestesia intravena total 4-12
mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0,2

mg/kg.

19

Pengenceran hanya boleh dengan dekstrosa 5%. Tidak dianjurkan


untuk anak < 3 tahun dan pada wanita hamil.
c. Ketamin (ketalar)
Kurang digemari karena sering menimbulkan takikardia, hipertensi,
hipersalivasi, nyeri kepala, pasca anestesia dapat menimbulkan mualmuntah, pandangan kabur dan mimpi buruk. Sebelum pemberian
sebaiknya

diberikan

sedasi midazolam (dormikum) atau diazepam

(valium) dengan dosis 0,1 mg/kg intravena dan untuk mengurangi


saliva diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kg. Dosis bolus 1-2 mg/kg dan
untuk intramuscular 3-10 mg. ketamin dikemas dalam cairan bening
kepekatan 1% (1ml = 10mg), 5% (1 ml = 50 mg), 10% ( 1ml = 100
mg).
d. Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil)
Diberikan dosis tinggi. Tidak mengganggu kardiovaskular, sehingga
banyak digunakan untuk induksi pasien dengan kelainan jantung.
Untuk anestesi opioid digunakan fentanil dosis 20-50 mg/kg
dilanjutkan dosis rumatan 0,3-1 mg/kg/menit.
2. Induksi intramuscular
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara
intramuscular dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.
3. Induksi inhalasi
a. N2O (nitrous oxide, dinitrogen monoksida) berbentuk gas, tak
berwarna, bau manis, tak iritasi, tak terbakar dan beratnya 1,5 kali berat
udara. Pemberian harus disertai O2 minimal 25%. Bersifat anastetik
lemah, analgesinya kuat, sehingga sering digunakan untuk mengurangi
nyeri menjelang persalinan. Pada anestesi inhalasi jarang digunakan
sendirian, tapi dikombinasi dengan salah satu cairan anastetik lain
seperti halotan.
b. Halotan (fluotan), sebagai induksi juga untuk laringoskop intubasi,
asalkan anestesinya cukup dalam, stabil dan sebelum tindakan diberikan
analgesi semprot lidokain 4% atau 10% sekitar faring laring. Kelebihan
dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus simpatis, terjadi
hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi vasomotor, depresi
miokard, dan inhibisi refleks baroreseptor. Merupakan analgesi lemah,
20

anestesi

kuat. Halotan menghambat pelepasan insulin sehingga

mininggikan kadar gula darah.


c. Enfluran (etran, aliran), efek depresi napas lebih kuat dibanding
halotan dan enfluran lebih iritatif disbanding halotan. Depresi terhadap
sirkulasi lebih kuat dibanding halotan, tetapi lebih jarang menimbulkan
aritmia. Efek relaksasi terhadap otot lurik lebih baik dibanding halotan.
d. Isofluran (foran, aeran), meninggikan aliran darah otak dan tekanan
intracranial. Peninggian aliran darah otak dan tekanan intracranial dapat
dikurangi dengan teknik anestesi hiperventilasi, sehingga isofluran
banyak digunakan untuk bedah otak. Efek terhadap depresi jantung
dan curah jantung minimal, sehingga digemari untuk anestesi teknik
hipotensi dan banyak digunakan pada pasien dengan gangguan koroner.
e. Desfluran (suprane), sangat mudah menguap. Potensinya rendah
(MAC 6.0%), bersifat simpatomimetik menyebabkan takikardi d dan
hipertensi. Efek depresi napasnya seperti isofluran dan etran.
Merangsang jalan napas atas sehingga tidak digunakan untuk induksi
anestesi.
f. Sevofluran (ultane), waktu induksi dan waktu pulih dari anestesi lebih
cepat dibandingkan isofluran. Baunya tidak menyengat dan tidak
merangsang jalan napas, sehingga digemari untuk induksi anestesi
inhalasi disamping halotan.
4. Induksi per rectal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau midazolam.
III.Pemeliharaan (maintenance) anestesi
Pada periode ini diberikan obat anestesi dalam dosis tertentu, tergantung jenis
operasinya. Anestesi tidak boleh terlalu dalam karena dapat membahayakan jiwa,
namun tidak boleh terlalu ringan karena pasien bisa saja masih dapat merasakan
nyeri. Hal tersebut akan menimbulkan trauma psikis, selain itu dapat
menyebabkan spasme saluran pernapasan, batuk, muntah, atau gangguan
kardiovaskuler.
Pada fase pemeliharaan juga dapat dipakai obat inhalasi atau intravena. Anestesi
umum dilakukan sampai tingkat kedalaman obat mencapai trias anestesi, yaitu
penderita tidur, analgesik cukup, dan terjadi relaksasi otot.
Rumatan intravena biasanya menggunakan opioid dosis tinggi, fentanil 10-50
g/kgBB. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur dengan analgesia cukup,

21

sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh otot. Rumatan intravena dapat


juga menggunakan opioid dosis biasa, tetapi pasien ditidurkan dengan infuse
propofol 4-12 mg/kgBB/jam. Bedah lama dengan anestesi total intravena,
pelumpuh otot dan ventilator. Untuk mengembangkan paru digunakan inhalasi
dengan udara + O2 atau N2O + O2. Rumatan inhalasi biasanya menggunakan
campuran N2O dan O2 dengan perbandingan 3:1 ditambah halotan 0,5-2 vol%
atau enfluran 2-4% atau isofluran 2-4vol% atau sevofluran 2-4% bergantung
apakah pasien bernapas spontan, dibantu atau dikendalikan.
Berdasarkan respirasinya, anestesi umum dibedakan menjadi:
- Respirasi spontan, yaitu penderita bernapas sendiri secara spontan
- Respirasi kendali/respirasi terkontrol/balance anestesi: pernapasan
-

sepenuhnya tergantung bantuan kita


Respirasi dibantu (assisted respiration): penderita bernapas spontan tapi
masih diberikan sedikit bantuan

Berdasarkan sistem aliran udara pernapasan dalam rangkaian alat anestesi,


anestesi dibedakan menjadi 4 sistem, yaitu:
- Sistem open
Merupakan sistem yang paling sederhana. Disini udara ekspirasi bebas
keluar menuju udara bebas dan tidak ada hubungan fisik secara langsung
-

antara jalan napas dengan alat anestesi.


Sistem semi open
Pada sistem ini, obat anestesi dilengkapi dengan reservoir bag, selain itu
ditambah dengan klep 1 arah untuk mengeluarkan udara ekspirasi, klep ini
disebut non-rebreathing valve. Tingkat keborosan dan polusi lebih rendah
disbanding sistem open. Sistem open dan semi open disebut juga sistem
non rebreathing karena tidak boleh ada udara ekspirasi yang dihirup

kembali, serta tidak membutuhkan sodalyme untuk menyaring CO2.


Sistem semi closed
Udara ekspirasi yang mengandung gas anestesi dan oksigen yang lebih
rendah dibandingkan dengan udara inspirasi, juga mengandung CO 2 yang
lebih tinggi. Gas-gas ini dialirkan menuju canester yang mengandung
sodalyme untuk menyaring CO2. Lalu udara ini digabungkan dengan
campuran gas anestesi dan oksigen dari sumber gas (Fresh Gas Flow)
untuk diinspirasi kembali. Kelebihan aliran gas akan dikeluarkan melalui
klep over flow. Karena udara ekspirasi dihirup kembali, maka obat anestesi

dan oksigem dapat dihemat dan polusi juga berkurang.


Sistem closed
22

Prinsipnya sama dengan sistem semi closed, namun disini tidak ada udara
yang keluar menuju udara bebas. Sistem semi closed dan closed disebut
juga sistem rebreathing, karena udara ekspirasi dihirup kembali dan butuh
sodalyme untuk membersihkan CO2.
IV. Pemulihan
Pada akhir operasi, anestesi akan diakhiri dengan menghentikan pemberian obat
anestesi. Pada anestesi inhalasi, bersamaan dengan penghentian obat anestesi
aliran oksigen dinaikkan. Hal ini disebut oksigenasi. Dengan oksigenasi, maka
oksigen akan mengisi tempat yang sebelumnya ditempati oleh obat anestesi
inhalasi di alveoli dan kemudian keluar bersamaan dengan udara ekspirasi.
Tekanan parsial obat anestesi di dalam alveoli akan menurun, sehingga lebih
rendah dibandingkan tekanan parsial obat anestesi di dalam darah. Kemudian
terjadi difusi dari dalam darah menuju alveoli, semakin tinggi perbedaan tekanan
parsial semakain cepat difusi.
TATALAKSANA JALAN NAPAS
Hubungan jalan napas dan dunia luar melalui 2 jalan:
1. Hidung
Menuju nasofaring
2. Mulut
Menuju orofaring
Hidung dan mulut dibagian depan dipisahkan oleh palatum durum dan palatum molle
dan dibagian belakang bersatu di hipofaring. Hipofaring menuju esophagus dan laring
dipisahkan oleh epiglotis menuju ke trakea. Laring terdiri dari tulang rawan tiroid,
krikoid, epiglotis dan sepasang aritenoid, kornikulata dan kuneiform.
A. Manuver tripel jalan napas
Terdiri dari:
1. Kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital.
2. Mandibula didorong ke depan pada kedua angulus mandibular
3. Mulut dibuka
Dengan maneuver ini diharapkan lidah terangkat dan jalan napas bebas, sehingga gas
atau udara lancar masuk ke trakea lewat hidung atau mulut.
B. Jalan napas faring

23

Jika maneuver tripel kurang berhasil, maka dapat dipasang jalan napas mulut- faring
lewat mulut (oro-pharyngeal airway) atau jalan napas lewat hidung (naso- pharyngeal
airway).
C. Sungkup muka
Mengantar udara / gas anestesi dari alat resusitasi atau system anestesi ke jalan napas
pasien. Bentuknya dibuat sedemikian rupa sehingga ketika digunakan untuk bernapas
spontan atau dengan tekanan positif tidak bocor dan gas masuk semua ke trakea lewat
mulut atau hidung.
D. Sungkup laring (Laryngeal mask)
Merupakan alat jalan napas berbentuk sendok terdiri dari pipa besar berlubang
dengan ujung menyerupai sendok yang pinggirnya dapat dikembang-kempiskan
seperti balon pada pipa trakea. Tangkai LMA dapat berupa pipa kerasdari
polivinil atau lembek dengan spiral untuk menjaga supaya tetap paten.
E. Pipa trakea (endotracheal tube)
Mengantar gas anestesi langsung ke dalam trakea dan biasanya dibuat dari bahan
standar polivinil-klorida. Pipa trakea dapat dimasukan melalui mulut (orotracheal
tube) atau melalui hidung (nasotracheal tube).
F. Laringoskopi dan intubasi
Fungsi laring ialah mencegah benda asing masuk paru. Laringoskop merupakan alat
yang digunakan untuk melihat laring secara langsung supaya kita dapat memasukkan
pipa trakea dengan baik dan benar.
Indikasi intubasi trakea
Intubasi trakea ialah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam trakea melalui
rima glottis, sehingga ujung distalnya berada kira-kira dipertengahan trakea antara
pita suara dan bifurkasio trakea. Indikasi sangat bervariasi dan umumnya
digolongkan sebagai berikut:
1. Menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun. Kelainan anatomi, bedah
kasus, bedah posisi khusus, pembersihan sekret jalan napas, dan lainlainnya.
2. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
Kesulitan intubasi
1. Leher pendek berotot

24

2. Mandibula menonjol
3. Maksila/gigi depan menonjol
4. Uvula tak terlihat
5. Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
6. Gerak vertebra servikal terbatas
Komplikasi intubasi
1. Selama intubasi
a. Trauma gigi geligi
b. Laserasi bibir, gusi, laring
c. Merangsang saraf simpatis
d. Intubasi bronkus
e. Intubasi esophagus
f. Aspirasi
g. Spasme bronkus
2. Setelah ekstubasi
a. Spasme laring
b. Aspirasi
c. Gangguan fonasi
d. Edema glottis-subglotis
e. Infeksi laring, faring, trakea
Ekstubasi
1. Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar, jika:
a. Intubasi kembali akan menimbulkan kesulitan
b. Pasca ekstubasi ada risiko aspirasi
2. Ekstubasi dikerjakan pada umumnya pada anestesi sudah ringan dengan catatan
tak akan terjadi spasme laring.
3. Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut laring faring dari sekret dan
cairan lainnya.

25

DAFTAR PUSTAKA
1. Hypertension management. 2009. Available at:
http://www.surgicalcriticalcare.net/Guidelines/Hypertension
2.

%20management%202009.pdf
Kaplan MN., Perioperative management of hypertension.

http://www.uptodate.com
3. Wiryana M., 2008. Manajemen perioperatif pada hipertensi.
http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/6_manajemen%20perioperatif
%20pd%20hipertensi.pdf
4. Mayell AC. 2006. Hypertension in anaesthesia.
http://www.frca.co.uk/article.aspx?articleid=100656
5. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi Kedua.
Jakarta: Bagian anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI: 2010.
6. Brown DL & Wedel DJ. Spinal, Epidural and caudal anesthesia. in: Miller RD.
Editor. Anesthesia. Fourt edition. California, Churchill Livingstone New York,
1990 vol. 2. p. 1505 - 1530
7. Bridenbaugh PO, Greene NM. Spinal (Subarachnoid), Neural blockade. in:
Causins MJ & Bridenbaugh PO, editor. Neural blockade in clinical anesthesia and
management of pain. second edition. Washington, J.B lipincott company; 1988. p.
213 248.
8. Cadwel C, Nielson CH, Balth T, Taylor P, Helton B, Butler P. Comparison Of high
dose epineprine and phenilephrine in spinal anesthesia with tetracain.
Anesthesiology 62: 804, 1985.
9. Brown DL & Wedel DJ. Spinal, Epidural and caudal anesthesia. in: Miller RD.
Editor. Anesthesia. Third edition. California, Churchill Livingstone New York,
1990 vol. 2. p. 1377 1400.
10. Spencer SL. Local Anesthetics: Clinical Aspects. in: Benzon, Raja, Molloy, Liu,
Fishman. Esentials of Pain Medicine and Regional anesthesia. second edition.
Philadelphia , 2005 p. 559 596.
11. Casey WF. Spinal Anaesthesia - a Practical Guide. 2000, Desember 05; Available
at. : http://www.manbit.com/oa/f16-1.htm Accssed november24, 2005

26