Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Sesuai dengan BAB II pasal 3 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Selanjutnya dalam BAB II
Pasal 2 ayat 1 Undang-undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen dinyatakan bahwa Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga
profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai
denga peraturan perundang-undangan.
Mc.Keachie dan Kulik (Gage dan Berliner, 1984: 487), menyebutkan
bahwa dibanding dengan metode ceramah, dalam hal retensi, proses berfikir
tingkat tinggi, pengembangan sikap dan pemertahanan motivasi, lebih baik
dengan metode diskusi. Hal ini disebabkan metode diskusi memberikan
kesempatan anak untuk lebih aktif dan memungkinkan adanya umpan balik
yang bersifat langsung.
Menurut Mc. Keachie-Kulik dari hasil penelitiannya, dibanding metode
ceramah, metode diskusi dapat meningkatkan anak dalam pemahaman konsep

dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi


pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding
penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk
meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
Kualitas pendidikan dapat diketahui dari dua hal, yaitu : kualitas proses
dan produk (Sudjana, 2000:35). Suatu pendidikan dikatakan berkualitas
proses apabila proses belajar mengajar (PBM) dapat berlangsung secara
efektif dan peserta didik mengalami proses pembelajaran yang

bermakna.

Pendidikan disebut berkualitas produk apabila peserta didik menunjukkan


tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar sesuai dengan
sasaran dan tujuan pendidikan. Hal ini dalihat pada hasil belajar

yang

dinyatakan dalam proses akademik.


Pengajaran IPS Terpadu ditujukan bagi pembinaan generasi penerus
usia dini agar memahami potensi dan peran dirinya dalam berbagai tata
kehidupannya, menghayati keharusan dan pentingnya bermasyarakat dengan
penuh rasa kebersamaan dan kekeluargaan serta mahir berperan di
lingkungannya sebagai insan sosial dan warga negara yang baik. Untuk itulah
dalam pengajaran IPS harus dapat membawa anak didik kepada kenyataan
hidup yang sebenarnya yang dapat dihayati mereka, ditanggapinya,
dianalisisnya akhirnya dapat membina kepekaan sikap mental, Keterampilan
dalam menghayati kehidupan yang nyata ini.
Pengajaran IPS diajarkan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai
perpendidikan tinggi. Materi pelajaran IPS sangat luas dan berkembang.
Mengingat meteri pelajaran IPS yang luas dan berkembang itu maka dalam

pengajaran

IPS

dilakukan

pembatasan-pembatasan

sesuai

dengan

kemampuan jenjang pendidikan tingkat masing-masing. Untuk SMP ruang


lingkup pengajaran dibatasi sampai gejala dan masalah sosial yang dapat
dijangkau pada ekonomi, geografi dan sejarah.
Pendidik mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting dalam
pengajaran, karena pendidik merupakan penentu kualitas pengajaran. Oleh
karena itu pendidik harus selalu meningatkan peranan dan kompetensinya
dalam mengelola komponen-komponen pengajaran.
Peningkatan prestasi akan tercapai apabila terjadi pembelajaran yang
bermakana, yakni pembelajaran yang mampu melibatkan secara aktif peserta
didik baik fisik, mental intelektual dan emosional. Hal ini tergantung pada
kemampuan pendidik di dalam mengajar. Pendidik akan memiliki kompetensi
mengajar, apabila seorang pendidik memiliki pemahaman dan penerapan
secara taktis dari berbagai metode belajar mengajar serta hubungannya
dengan belajar disamping kemampuan-kemampuan lain yang menunjang.
Secara ringkas ditunjukkan oleh Tabel 1. Dari keterangan tersebut dapat
disimpulkan bahwa: 1) penggunaan model pembelajaran mempengaruhi hasil
belajar Peserta Didik. 2) melalui diskusi materi pasar lebih mudah dipahami
Peserta Didik. 3) tingkat keberhasilan belajar materi pasar

dengan

menerapkan model pembelajaran diskusi di SMP Negeri 2 Gangga lebih baik


dari pada Direct Instruction (DI) atau jigsaw.
Tabel 1. Ketuntasan belajar, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
dan Model Pembelajaran

NO

Tahun
Pelajaran

Peserta Didik
tuntas

KKM

1.

2009/2010

34,28%

67

2.
3.

2010/2011
2012/2013

68,42%
34,21%

68
68

Model Pembelajaran
Direct Instruction (DI)tanya jawab.
Diskusi
Jigsaw.

Dalam pembelajarannya juga harus menggunakan metode yang dapat


menumbuhkan minat dan motivasi anak untuk mengikuti pelajaran dengan
baik dengan harapan prestasi belajar peserta didik dapat meningkat.
Dengan dasar pemikiran di atas maka penulis terdorong mengadakan
penelitian dengan judul: Efektifitas metode diskusi dalam meningkatkan
motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS terpadu di SMP Negeri
2 Gangga tahun pelajaran 2012/2013.
1.2. Rumusan masalah
Berdasar latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah
yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana keefektifan penggunaan metode diskusi pada Mata Pelajaran
IPS Terpadu dalam Meningkatkan motivasi belajar peserta didik di SMP
Negeri 2 Gangga tahun pelajaran 2012/2013
2. Bagaimana prestasi belajar peserta didik sebelum menggunakan dan
setelah menggunakan metode diskusi
3. Bagaimana perbedaan prestasi belajar peserta didik yang menggunakan
dan yang tidak menggunakan metode diskusi di SMP Negeri 2 Gangga
tahun pelajaran 2012/2013.
1.3. Batasan masalah

Batasan masalah merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam
penulisan skripsi ini. Dalam pembatasan masalah yang tepat dan benar, maka
arah dari pembahasan masalah akan sesuai dengan tujuan yang hendak
dicapai. Penyusunan Skripsi ini, penulis memberikan batasan mengenai :
1. Efektifitas metode diskusi terhadap motivasi belajar Peserta Didik.
2. Proses Pembelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 2 Gangga.
1.4. Tujuan penelitian
Berdasarkan judul dan rumusan masalah yang penulis kemukakan
diatas, maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui keefektifan
belajar IPS terpadu yang menggunakan metode Diskusi terhadap motivasi
belajar pada peserta didik di SMP Negeri 2 Gangga Tahun Pelajaran
2012/2013.
1.5. Manfaat penelitian
1.5.1. Manfaat secara teoritis
Merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal
proses pembelajaran pada mata pelajaran IPS Terpadu serta sebagai bahan
masukan dalam mengembangkan inovasi metode pembelajaran mata
pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 2 Gangga.
1.5.2. Manfaat praktis
a. Bagi peserta didik, untuk dapat membantu peserta didik

di dalam

menumbuhkan motif-motf belajarnya kearah yang lebih keras, giat dan


tekun sehingga mendapatkan prestasi belajar yang baik, dengan prestasi

belajar yang di dapatkan itulah peserta didik akan terdorong untuk


melanjutkan pendidikannya.
b. Bagi pendidik, untuk dapat membantu pendidik dalam menumbuhkan
motif-motif belajar pada peserta didik nya, agar dapat belajar dengan
lebih keras, giat dan tekun sehingga tercapai prestasi belajar yang
diharapkan.
c. Bagi sekolah, untuk dapat memperoleh gambaran tentang prestasi
belajar peserta didik yang telah didapatkan di sekolah tersebut, serta
untuk megetahui Motif-motif apa yang mendorong peserta didik untuk
dapat melanjutkan pendidikanya.
d. Bagi Peneliti, untuk dapat menambah pemahaman dan pengetahuan
dalam bidang pendidikan dan penelitian.
1.6. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penulisan skripsi ini sebagai berikut:
BAB I membahas tentang Pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang
Masalah, Rumusan Masalah, Batasan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat
Penelitian, Sistematika Pembahasan.

BAB II

membahas tentang: Tinjauan Pustaka, yang memaparkan

metode diskusi dan motivasi belajar peserta didik, Landasan Teori yang
meliputi Hakekat Pengajaran IPS Terpadu, Tujuan Pengajaran IPS Terpadu
dan metode diskusi.
BAB III membahas tentang: Metode Penelitian yang terdiri dari:
Jenis Penelitian, Populasi Dan Sampel Penelitian, Data Penelitian Yang

Meliputi Jenis dan Sumber Data, Tekhnik Pengumpulan Data, Variabel


Penelitian, Analisis Data dan Pengujian Hipotesis.
BAB IV : Bab ini berisi tentang hasil data dan pembahasan penelitian
yang meliputi tentang Statistik Deskriptif Variabel Penelitian, Hasil Pengujian
Asumsi Hasil Pengujian Hipotesis, dan Pembahasan Hasil Penelitian.
BAB V : Pada bab ini penulis akan mengemukakan tentang simpulan
dan saran. BAB VI : Bab ini adalah bab penutup yang berkaitan dengan
Daftar Pustaka dan Lampiran-lampiran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penegasan Pengertian Istilah
2.1.1. Metode Diskusi
Menurut Djajadisastra (1992 : 45) metode diskusi adalah format
belajar mengajar yang menitik beratkan kepada interaksi antara anggota
yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas-tugas belajar

secara bersama-sama. Karena itu pendidik dituntut mampu melibatkan


keaktifan anak bekerjasama dan berkolaborasi dalam kelompok.
Metode Diskusi juga suatu cara yang baik untuk menanamkan
kebiasaan tertentu dan juga dapat menambah kecepatan, ketepatan, dan
kesempurnaan dalam melakukan sesuatu serta dapat pula dipakai sebagai
suatu cara untuk mengulangi bahan yang telah disajikan.
Metode diskusi dalam meneliti prestasi belajar peserta didik
kelompok kontrol yang diajarkan dengan menggunakan metode ceramah
dan prestasi belajar peserta didik kelompok eksperimental diajarkan
dengan menggunakan metode diskusi.
Pendekatan

ini

menekankan

terbentuknya

hubungan

antara

individu/peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain sehingga
dalam konteks yang lebih luas terjadinya hubungan sosial individu dengan
masyarakat. Mengembangkan kemampuan dan kesanggupan peserta didik
untuk mengadakan hubungan dengan orang lain / peserta didik lain,
mengembangkan sikap dan prilaku yang demokratis, serta menumbuhkan
produktifitas kegiatan belajar peserta didik.
2.1.2. Motivasi Belajar
2.1.2.1. Pengertian Motivasi
Pengertian dasar motivasi ialah Keadaan internal organisme (baik
manusia ataupun hewan) yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu
dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk
bertingkah laku secara terarah (Gleitman, dalam Muhibbin, 1997 : 136).
Sedangkan menurut Daryanto motivasi adalah alasan atau dorongan

(1998 : 407). Menurut Dimyati (2002 : 80) motivasi adalah kekuatan


mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia,
termasuk prilaku mengajar. Dalam motivasi terkandung adanya
keinginan

yang

mengaktifkan,

menggerakkan,

menyalurkan

dan

mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar. Sedangkan Motivasi


menurut Kartini Kartono (2004 : 18) adalah gambaran pendorong kerja
disugestikan berwujud dan insentif berupa uang sebagai satu-satunya
rangsangan untuk bekerja. Belajar sendiri di artikan sebagai sebagai
suatu proses timbul atau berubahnya tingkah laku melalui latihan (usaha
pendidikan) dan dibedakan dengan perubahan yang disebabkan oleh
faktor-faktor yang tidak dapat digolongkan kepada latihan usaha
pendidikan itu sendiri (Hilgar, E.R, 1984 dalam Masrial, 1993 : 8).
Berdasarkan pendapat ahli di atas bahwa motivasi belajar adalah
suatu bentuk dorongan hati yang menjadi penggerak utama seseorang,
sebuah keluarga atau organisasi untuk mencapai apa juga yang
diinginkan dan dengan bentuk motivasi itu akan memberikan dorongan
kepada pelajar untuk mengarahkan tindakan, melakukan sesuatu
perbuatan dan sebagainya dalam hal kegiatan belajar mengajar.
2.1.2.2. Pentingnya Motivasi dalam Belajar
Perilaku yang penting bagi manusia adalah belajar dan bekerja.
Belajar menimbulkan perubahan mental pada pada diri Peserta Didik.
Bekerja menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri pelaku dan
orang lain. Motivasi belajar dan motivasi bekerja merupakan penggerak

kemajuan masyarkat. Kedua kemajuan tersebut pula dimiliki oleh Peserta


Didik SMP, sedangkan pendidik SMP dan SMA dituntut memperkuat
motivasi Peserta Didik SMP dan SMA (Monks, Knoers, Siti Rahayu,
1989 dalam Dimyati, 2002 : 85).
Motivasi belajar penting bagi Peserta Didik dan pendidik. Bagi
Peserta Didik pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut (1)
Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir, (2)
Mengkonfirmasikan tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan
dengan teman sebaya, (3) Mengarahkan kegiatan belajar sebagai ilustrasi,
setelah ia diketahui bahwa dirinya belum belajar secara serius perilaku
belajarnya, (4) Membesarkan semangat belajar, (5) Menyadarkan tentang
adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (selanya antara istirahat
dan bermain)
Motivasi juga perlu diketahui oleh seorang pendidik. Pengetahuan
dan pemahaman tentang motivasi belajar pada Peserta Didik bermanfaat
bagi pendidik, manfaaat itu sebagai berikut (1) Membangkitkan,
meningkatkan dan memelihara semangat Peserta Didik untuk belajar
sampai berhasil, membangkitkan bila Peserta Didik tidak bersemangat,
meningkatkan bila semangat belajarnya timbul tenggelam, memelihara
bila semangatnya telah kuat untuk mencapai tujuan belajar, (2)
Mengetahui dan memahamin motivasi belajar Peserta Didik di kelas
bermacam-macam ragam, ada yang acuh dan tak acuh, ada yang
memusatkan perhatian, ada yang bermain, di samping bersemangat untuk

10

belajar, (3) Meningkatkan dan menyadarkan pendidik untuk memilih satu


di antara bermacam-macam peran sebagai penasihat, fasilitator,
instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah atau pendidik,
(4) Memberi peluang pendidik untuk unjuk kerja rekayasa paedagogis
(Dimyati, 2002 : 86).
2.1.2.3. Jenis Motivasi
Dilihat dan jenisnya motivasi itu ada 2 yaitu motivasi primer dan
motivasi skunder. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada penjelasan di
bawah ini:
a. Motivasi Primer
Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motifmotif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi
biologis atau jasmani manusia. Manusia adalah makhluk berjasmani
sehingga perilakunya terpengaruh oleh insting atau kebutuhan
jasmaninya.
b. Motivasi Skunder
Motivasi skunder adalah motivasi yang dipelajari. Hal ini
berbeda dengan motivasi primer. Sebagai ilustrasi, orang yang lapar
akan tertarik pada makanan tanpa belajar. Untuk memperoleh
makanan tersebut orang harus bekerja terlebih dahulu agar dapat
bekerja dengan baik, orang harus belajar bekerja. Bekerja dengan
baik merupakan motivasi skunder. Uang merupakan penguat umum,
agar orang bekerja dengan baik. Bila orang memiliki uang, setelah ia

11

bekerja dengan baik, maka ia dapat membeli makanan untuk


menghilangkan rasa lapar (Sumadi Suryabrata dalam Dimyati, 2002 :
86-88).
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong
terjadinya proses belajar. Motivasi belajar pada diri Peserta Didik dapat
menjadi lemah. Lemahnya motivasi atau tidak adanya motivasi belajar
akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu hasil belajar akan
menjadi rendah. Oleh karena itu, motivasi belajar pada diri Peserta Didik
perlu diperkuat terus menerus. Agar Peserta Didik memiliki motivasi
belajar yang kuat pada tempatnya diciptakan suasana belajar yang
menggembirakan.
2.2. Landasan teori
2.2.1. Hakekat Pengajaran IPS Terpadu.
Pengorganisasian bahan pengajaran IPS Terpadu sumbernya dari
berbagai ilmu sosial yang diintegrasikan menjadi satu ke dalam mata
pelajaran. Dengan demikian pengajaran IPS Terpadu merupakan bagian
integral dari bidang studi. Namum ketika membicarakan suatu topik yang
berkaitan dengan sejarah, bahan-bahan pengajaran bisa dibicarakan secara
lebih tajam. Ada dua bahan kajian IPS Terpadu, yaitu bahan kajian
pengetahuan sosial mencakup lingkungan sosial, yang terdiri atas ilmu
bumi, ekonomi dan pemerintahan dan bahan kajian sejarah meliputi
perkembangan masyarakat Indonesia sejak lampau hingga masa kini.
Mengajar IPS Terpadu pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP)

12

memerlukan stimulan yang besar serta berbagai variasi pendekatan untuk


mendapatkan partisipasi peserta didik. Akan tetapi kondisi kelas juga harus
tetap dijaga supaya tidak kehilangan kendali dan disiplin.
Selain itu diharapkan juga pengajar harus selalu antusias dalam
menembah pengetahuan pribadinya terhadap pengetahuan sejarah. Hal ini
dimaksudkan untuk menghindarkan suasana kelas yang pasif dan
membosankan.
Menurut Hartono Kasmadi (2001 : 152) ada tiga kegiatan yang dapat
diterapkan oleh pendidik sejarah untuk meningkatkan partisipasi peserta
didik dalam kelas, yaitu : (1) partisipasi peserta didik melalui Keterampilan
latihan, (2) partisipasi peserta didik melalui penelitian, dan (3) partisipasi
peserta didik melalui Diskusi. Dalam partisipasi peserta didik melalui
Keterampilan latihan, yang bisa dilakukan ialah dengan membuat catatan.
Hal ini disebabkan karena buku catatan mampu menyimpan semua hasil
belajar di kelas, seperti ringkasan, diagram, chart dan gambar.
Dalam partisipasi peserta didik melalui penelitian, yang dilakukan
berupa pengembangan bahan pelajaran dengan membuat suatu kegiatan
proyek yang dapat memberikan motivasi kepada peserta didik yang
enggan mempelajari sejarah. Sedangkan dalam partisipasi peserta didik
dilakukan melalui diskusi merupakan salah satu aktivitas yang dapat melatih
kemampuan mental peserta didik dalam menghadapi situasi tertentu, karena
mental merupakan isi penting dalam perkembangan peserta didik. Peserta
didik yang aktif dalam kegiatan ini akan terlatih berpikir kritis dan

13

mengembangkan kerangka jiwanya untuk menghadapi setiap masalah,


membentuk pengertian terhadap fakta sejarah dan melatih dirinya untuk
membuat suatu kesimpulan. Bahannya tidak berbentuk permasalahan atau
pertanyaan saja, tetapi dapat pula berupa diskusi setelah mereka mengamati
suatu model dramatisasi peristiwa sejarah yang diperagakan oleh temannya.
2.2.2. Tujuan Pengajaran IPS Terpadu.
Perumusan tujuan pengajaran sangat penting untuk dilakukan karena
tujuan merupakan tolok ukur keberhasilan seluruh proses belajar mengajar
yang telah dilakukan. Menurut I Gede Widja (2005 : 27-29), secara umum
tujuan pengajaran IPS terpadu sebagai berikut :

1) Aspek Pengetahuan / Pengertian


a. Menguasai pengetahuan tentang aktivitas-aktivitas manusia di waktu
yang lampau baik dalam aspek eksternal maupun internal.
b. Menuasai pengetahuan tentang fakta-fakta khusus (unik) dari
peristiwa masa lampau sesuai dengan waktu, tempat, serta kondisi
pada waktu terjadinya peristiwa tersebut.
c. Menguasai pengetahuan tentang unsur-unsur umum (generalisasi)
d. Menguasai tentang unsur perkembangan dan peristiwa-peristiwa masa
lampau yang berlanjut (bersifat kontinuitas) dari periode satu ke
periode berikutnya yang menyambungkan peristiwa masa lampau
dengan peristiwa masa kini.

14

e. Menumbuhkan pengertian tentang hubungan antara fakta satu dengan


fakta lainnya yang berangkai secara kognitif (berkaitan secara
intrinsik).
f. Menumbuhkan keawasan (awareness) bahwa keterkaitan fakta lebih
penting dari pada fakta-fakta yang berdiri sendiri.
g. Menumbuhkan keawasan tentang pengaruh-pengaruh sosial kultural
terhadap peristiwa.
h. Sebaliknya juga menumbuhkan keawasan tentang pengaruh sejarah
terhadap perkembangan sosial dan kultural masyarakat.
i. Menumbuhkan pengertian tentang arti serta hubungan peristiwa masa
lampau bagi situasi masa kini dalam prespektifnya dengan situasi
yang akan datang.
2) Aspek Pengembangan Sikap.
a. Penumbuhan kesadaran sejarah pada murid terutama dalam artian agar
mereka mampu berpikir dan bertindak (bertingkah laku dengan rasa
tanggung jawab sejarah sesuai dengan tuntutan zaman pada waktu
mereka hidup).
b. Penumbuhan sikap menghargai kepentingan/kegunaan pengalaman
masa lampau bagi hidup masa kini suatu bangsa.
c. Sebaliknya juga penumbuhan sikap menghargai berbagai aspek
kehidupan masa kini dari masyarakat di mana mereka hidup yang
merupakan hasil dari pertumbuhan di waktu yang lampau.
d. Penumbuhan kesadaran akan perubahan perubahan yang telah dan
sedang berlangsung di suatu bangsa diharapkan menuju pada
kehidupan yang lebih baik di waktu yang akan datang.
3) Aspek Keterampilan.
a. Sesuai dengan trend baru dalam pengajaran IPS maka pelajaran IPS di
sekolah diharapkan juga menekankan pengembangan kemampuan
dasar di kalangan murid berupa kemampuan heuristik, kemampuan

15

kritik, Keterampilan menginterpretasikan serta merangkaikan faktafakta dan akhirnya juga Keterampilan menulis.
b. Keterampilan mengajukan argumentasi dalam

mendiskusikan

masalah-masalah dan mencari hubungan satu peristiwa dengan


peristiwa lainnya atau dari zaman masa kini dan lain-lain.
c. Keterampilan menelaah secara elementer buku-buku terutama yang
menyangkut keanekaragaman IPS terpadu.
d. Keterampilan mengajukan pertanyaan-pertanyaan produktif di sekitar
masalah keanekaragaman IPS terpadu.
e. Keterampilan mengembangkan cara-cara berpikir analitis tentang
Masalah- masalah sosial historis di lingkungan masyarakatnya.
f. Keterampilan bercerita tentang peristiwa sejarah secara hidup.
2.2.3. Metode Diskusi
Pendekatan

ini

menekankan

terbentuknya

hubungan

antara

individu/peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain sehingga
dalam konteks yang lebih luas terjadinya hubungan sosial individu dengan
masyarakat.
Mengembangkan kemampuan dan kesanggupan peserta didik untuk
mengadakan

hubungan

dengan

orang

lain/peserta

didik

lain,

mengembangkan sikap dan prilaku yang demokratis, serta menumbuhkan


produktifitas kegiatan belajar peserta didik.

BAB III

16

METODOLOGI PENELITIAN
3.1.

Jenis penelitian
Metode adalah pendekatan yang digunakan dalam rangka mengadakan
pendekatan terhadap masalah yang dihadapi atau diteliti. Hal ini sesuai
dengan pendapat seorang ahli yang mengatakan bahwa Metode adalah cara
ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu
(Sugiyono, 2008 : 1). Metode eksperimen adalah suatu pendekatan dimana
situasi atau gejala dibuat dengan sengaja ditimbulkan (Suharsimi Arikunto,
2002 : 12).
Dalam penelitian ini cara pendekatan adalah pendekatan kuantitatif
karena penulis memberi perlakuan dan menguji kembali Efektifitas metode
Diskusi dalam meningkatkan motivasi belajar Peserta Didik pada mata
pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 2 Gangga Tahun Pelajaran 2012/2013.
Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimen yaitu eksperimen
kelompok control (Control Group experiment), dengan rancangan penelitian
sebagai berikut :
Tabel 3.1 Rancangan Penelitian

Data Akhir
Kelas

Data Awal Perlakuan

Tes

Angket

Eksperimen

Ya

Ya

Ya

Ya

kontrol

Ya

Tidak

Ya

Ya

Berdasarkan pola di atas dari data dokumentasi kelas eksperimen dan


kelas kontrol akan dibandingkan untuk menegaskan bahwa kedua sample

17

dalam keadaan homogen. Sedangkan dari hasil tes kelas eksperimen dan
kelas kontrol dibandingkan untuk melihat pengaruh dari perlakuan yang
diberikan, sedangkan sebaran angket yang diberikan kepada kelas
eksperimen untuk melihat respon Peserta Didik terhadap perlakuan.
3.2. Populasi dan sampel
3.2.1. Populasi Penelitian
Penelitian pendidikan dan kurikulum seperti halnya penelitianpenelitian bidang lainnya ditujukan untuk memperoleh kesimpulan tentang
kelompok yang besar dalam lingkup wilayah yang luas, tetapi hanya
dengan meneliti kelompok kecil dalam daerah yang tidak hanya lebih
sempit. Dalam buku Metode Penelitian Pendidikan Nana Syaodik
Sukmadinata (2009:250) mendefiniskan bahwa populasi adalah kelompok
besar dan wilayah yang menjadi lingkup penelitian. Sementara itu ahli
lain mengatakan bahwa populasi adalah seluruh data yang menjadi
perhatian peneliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang ditentukan
(Nurul Zuriah, 2007:116).
Jadi berdasarkan pendapat di atas maka yang menjadi populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 2 Gangga
Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara.

3.2.2. Sampel Penelitian

18

Dalam penelitian pendidikan, subjek yang dikenai penelitian


biasanya dilakukan terhadap sampel. Sampel merupakan bagian dari
populasi. Sehubungan dengan hal itu, seorang ahli mengemukakan bahwa:
Sekelompok anggota populasi yang mewakili populasi (Nana Syaodik
Sukmadinata, 2009:250). Ahli lain juga berpendapat bahwa Sampel
adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut (Sugiyono, 2008:118).
Dalam penelitian ini akan diambil 2 kelas dari 4 kelas sebagai
sampel. Dengan teknik penentuan sampel yaitu teknik pengambilan
sampel dengan cara pengambilan secara random sampling. Setelah
diadakan pengambilan secara random sampling ternyata kelompok I
sebagai kelompok eksperimen dan kelompok II sebagai kelompok kontrol.
Untuk lebih jelasnya mengenai sampel penelitian ini dapat dilihat pada
tabel 3.2 di bawah ini
Tabel 3.2 : Keadaan sampel siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Gangga tahun pembelajaran
2012/2013

Kelas
VIII
Jumlah

Kelompok/
Sampel
VIII 1 / 30
VIII 2 / 30
60

Keterangan Perlakuan
Dengan menerapkan metode diskusi (Eksperimen)
Tidak menerapkan metode diskusi (Kontrol)

3.3. Data penelitian


3.3.1. Jenis dan Sumber Data

19

Dalam penelitan kuantitatif, analisa data dilakukan setelah data dari


seluruh responden atau sumber data lain terkumpul, kegiatan dalam
analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel,
mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan
data, melakukan perhitungan untuk merumuskan masalah, melakukan
perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
Ditinjau dari jenisnya, menurut suharsimi, data dapat dikategorikan
kedalam:
1. Data kualitatif, yaitu data yang digambarkan dengan kata-kata atau
kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh
kesimpulan.
2. Data kuantitatif, yaitu data yang berwujud angka-angka hasil
perhitungan ataupun data yang diperoleh dengan mengubah data
kualitatif yang dikuantitatifkan. Dengan mengetahui jenis data, maka
dapat ditentukan tekhnik analisanya, apakah menggunakan analisa
statistik atau non statistik (suharsimi, 1998:245)
Dalam penelitian ini data yang akan diperoleh berupa angka-angka
hasil angket dan hasil tes. Karena berupa angka-angka maka analisa yang
digunakan adalah analisa statistik dengan pendekatan kuantitatif.

3.3.2. Tekhnik Pengumpulan Data


Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam
penelitian. Sebab data-data yang diperoleh selanjutnya akan olah. Hasil
penelitian akan dikatakan logis apabila dapat dipertanggungjawabkan

20

kebenarannya dan dapat dibuktikan dengan data yang lengkap autentik dan
akurat.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Test
Menurut Suharsimi instrumen adalah alat pada waktu peneliti
menggunakan sesuatu metode (1998 : 137). Instrumen yang digunakan
dalam penelitian ini berupa tes. Margono mengemukakan tes adalah
seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan pada seseorang
dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar
bagi penetapan skor angka (1978 : 170).
Sedangkan Suharsimi menjelaskan tes adalah serangkaian
pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan, intelengensi, kemampuan atau bakat yang
dimiliki oleh individu atau kelompok (1998 : 139). Tes adalah alat
pengukuran berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang ditujukan
kepada tester untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu
(Thoha, 2003 : 43).
Jadi tes adalah merupakan suatu cara untuk mendapatkan data
yang berbentuk tugas berupa perintah atau pertanyaan-pertanyaan yang
dapat diberikan kepada peserta didik dan jawaban dari anak tersebut
merupakan nilai tes yang digunakan biasanya berupa tes essay dalam
bentuk uraian terbatas dan pedoman observasi untuk pengamatan
pembelajaran.
2. Observasi

21

Pada dasarnya teknik observasi ini di gunakan untuk melihat,


mengamati perubahan fenomena-fenomena sosial yang tumbuh dan
berkembang, kemudian dapat di lakukan penelitian. Dilihat dari segi
proses pelaksanaan pengumpulan data observasi dapat dibedakan
participant observation (observasi berperan serta) dan Non participant
observation (observasi non partisipan) (sugiyono, 2005 : 166), peneliti
menggunakan observasi non partisipan, dimana peneliti tidak ikut
menjadi bagian dari apa yang di teliti, karena peneliti berfungsi sebagai
peninjau, yakni menguraikan dan menganalisis data yang telah
terkumpul dari keterangan-keterangan tentang gambaran umum yang
akan di peroleh dari responden tentang Penggunaan metode diskusi
pada Mata Pelajaran IPS Terpadu dalam Meningkatkan motivasi belajar
peserta didik di SMP Negeri 2 Gangga tahun pelajaran 2012/2013.
3. Angket atau Quisioner
Angket dan quisioner merupakan suatu alat pengumpul data
dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab
secara tertulis pula oleh responden (Margono,2003 : 167), sedangkan
ahli lain mengatakan bahwa angket atau quisioner merupakan
sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh
informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau
hal-hal yang diketahuinya (Suharsimi, 2002:128)
4. Dokumentasi

22

Dokumentasi sebagai setiap bahan tertulis atau film (Maleong,


2002:161).Dokumentasi juga berarti cara mengumpulkan data melalui
peninggalan tertulis seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku
tentang pendapat, teori-teori, dalil atau hukum dan lain-lain yang
berhubungan dengan masalah penelitian (Margono, 2003:159).
Dengan metode ini peneliti kiranya akan mendapatkan data dalam
bentuk tertulis mengenai prestasi belajar siswa mata pelajaran IPS
Terpadu.
3.4. Variabel penelitian
Variabel dapat diartikan sebagai suatu konsep yang memiliki nilai
ganda, atau dengan perkataan lain suatu faktor yang jika diukur akan
menghasilkan skor yang bervariasi. Variabel penelitian merupakan gejala
yang menjadi obyek penelitian (Yatim,1996:11) Variabel dalam hal ini
diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi obyek pengamatan
peneliti (Rahman, 1998:52). Sering pula diartikan bahwa variabel penelitian
itu sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang
akan diteliti. Sedangkan menurut Arikunto (1999 : 97) variabel yaitu obyek
penelitian yang bervariasi.
a. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah menggunakan metode diskusi
pada mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 2 Gangga tahun
pelajaran 2012/2013.
b. Variabel Terikat.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah motivasi belajar peserta didik
yang diajarkan dengan tidak menggunakan metode diskusi dalam
23

kelompok kontrol pada mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 2


Gangga tahun pelajaran 2012/2013.
3.5. Analisis data
Data adalah keterangan yang diperlukan dalam penelitian. Berhasil
tidaknya suatu penelitian sebagian besar tergantung bagaimana

data

dikumpulkan dan diolah.


Berdasarkan hipotesis maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut :
Ho = Mk < Me
Ha = Mk > Me
Dari kedua kelas sampel, kelas pertama menggunakan metode diskusi
dan kelas kedua tidak menggunakan metode diskusi, kemudian diadakan
post test. Dalam hal ini test digunakan untuk menguji signifikansi perbedaan
mean. Rumus uji dalam analisis hasil penelitian ini adalah :

Keterangan :
Mk

= Mean dari kelompok control.

Me

= Mean dari kelompok eksperimen


= Jumlah deviasi dari mean perbedaan.

= Jumlah subyek

24

Kriteria : Jika t data < t table dengan taraf signifikansi 5%, derajat
kebebasan

(N1 + N2 2) maka antara kedua tidak berbeda secara

signifikan (Arikunto, 1998 : 247).


Untuk menganalisis data yang diperoleh digunakan teknik analisis
statistik yaitu dengan rumus angka mentah korelasi product moment, rumus
tersebut adalah sebagai berikut :

dengan

Keterangan:
rxy = koofesien korelasi product moment anatara variabel X dan Y
x = simpangan setiap X dari rerata Xy = simpangan setiap Y dari rerata YX = Skor nilai variabel X
Y = Skor nilai variabel y
(Suharsimi Arikunto, 2005:327)

3.6. Pengujian hipotesis


Dalam buku metodologi penelitian pendidikan dijelaskan bahwa
dalam setiap penelitian, disamping perlu menggunakan metode penelitian
yang tepat, juga memilih tekhnik dan alat pengumpul data yang
relevan.Penggunaan tekhnik dan alat pengumpul data yang tepat,
memungkinkan diperolehnya data yang objektif dan akurat (Margono,
2000:158).
Dalam penelitian ini, untuk mengetahui ada atau tidaknya Efektivitas
metode diskusi terhadap hasil belajar terhadap prestasi belajar peserta didik,
maka dapat dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus
25

statistik yaitu rumus korelasi product moment. Hal ini sesuai dengan
pendapat Hadi (1980:285) yang menyatakan: tekhnik statistik yang kerap
kali digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel adalah tekhnik
korelasi
Setelah peneliti mengadakan penelahan yang mendalam terhadap
berbagai sumber untuk menentukan anggapan dasar, maka langkah
berikutnya adalah merumuskan hipotesis. Hipotesis dapat diartikan sebagai
suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian,
sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Hipotesis merupakan prediksi mengenai kemungkinan hasil dari
suatu penelitian (Fraenkel dan Wallen dalam Yatim Riyanto, 2001:16). Atas
dasar pendapat di atas, hipotesis yang diajukan masih perlu diuji
kebenarannya.Hipotesis yang dimaksud dalam penelitian ini berbentuk
alternatif yang terdiri dari hipotesa mayor dan hipotesa minor.Sesuai dengan
teknik analisis yang digunakan seperti disebutkan di atas, maka hipotesis
alternatif (Ha) diubah menjadi hipotesis nihil (Ho).
(Ha)

Ada pengaruh yang positif dan signifikan pengaruh pembelajaran Metode


Diskusi terhadap motivasi belajar peserta didik pada materi pokok pasar di SMP

(Ho)

Negeri 2 Gangga tahun pelajaran 2012/2013.


Tidak ada pengaruh yang positif dan signifikan pengaruh pembelajaran Metode
Diskusi terhadap motivasi belajar peserta didik di SMP Negeri 2 Gangga tahun
pelajaran 2012/2013.

Untuk keperluan pengujian hipotesis digunakan teknik uji-t (t-tes).


Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang positif dan
signifikan tentang pemberian pembelajaran Metode diskusi dengan yang

26

tidak menggunakan pembelajaran Metode diskusi pada peserta didik di


SMP Negeri 2 Gangga
X1 X 2

t=

1
1

n1 n 2

Dengan keterangan:
t

= t hitung

X1

= Rata-Rata Kelompok Eksperimen

X 2 = Rata-Rata Kelompok Eksperimen

n1

= Jumlah sampel kelompok eksperimen

n2

= jumlah sampel kelompok kontrol

= Varian Gabungan

(Sugiyono, 2003 : 145).


a.

Tolak Ho, apabila t hitung> t

pada taraf uji 95 % dan

tabel

derajat kebebasan (dk = n1 + n2 -2). Dan sebaliknya apabila t hitung< t tabel


maka Ho diterima pada taraf uji yang sama.
b.

Ho di tolak artinya terdapat perbedaan yang signifikan


dan menerima Ho artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan

27

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Statistik deskriptif variabel penelitian dimaksudkan untuk memberi
penjelasan yang memudahkan peneliti dalam menginterpretasikan hasil analisis
data dan pembahasannya yaitu dengan menjelaskan statistik deskriptif variabel
utama yang diteliti. Statistik deskriptif berhubungan dengan pengumpulan dan
peringkasan data, serta penyajian hasil peringkasan data tersebut. Data-data
statistik, yang bisa diperoleh dalam penelitian ini masih acak dan tidak
terorganisir dengan baik. Data-data tersebut harus diringkas dengan baik dan
teratur, baik dalam bentuk tabel atau persentasi grafis, sebagai dasar untuk
berbagai pengambilan keputusan.

28

Dalam upaya menjelaskan pengaruh yang ada diantara dua variabel,


maka dibutuhkan data, yakni data tentang penerapan pembelajaran metode
Diskusi, dan data tentang peningkatan motivasi belajar peserta didik pada
bidang studi IPS terpadu di SMP negeri 2 gangga tahun pelajaran 2012/2013.
Kegiatan yang peneliti lakukan adalah 1) pengumpulan data, 2) analisis data.
4.1.1. Data Hasil Angket
Setelah angket dan tes terkumpul dan terisi secara lengkap, maka
selanjutnya dilakukan penskoran terhadap jawaban responden. Adapun
skor untuk angket untuk mengetahui efektivitas metode diskusi seperti
pada tabel berikut:

Tabe 4.1. data tentang efektivitas metode diskusi di SMP Negeri 2 Gangga
Tahun pelajaran 2012/2013

No

Nama Peserta Didik

1
1
2
3
4
5
6
7
8

9
10
11
12
13
14

ADITIA
AKHMAD JUMAIDI
DENDI SUHIRMAN
DESI APRIANI
DITA RUSDIANA
ENDANG SUSILAWATI
FAUZUL AL HADI
HAJAH SUSILA WATI
HAJAR NURUL
HABIBAH
ISMAN HADI
SUSANTO
KIKI KRISMONA AP
LENI HARDIANTI
LIANA DEWI
LIDYA AZWANI

Nilai yang tidak menerapkan


Metode Diskusi
3
68
68
80
85
80
68
85
85
70
70
70
85
95
72

29

15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

LINDA KHUMAIRAH
M. KADAFI
MARITI
MAYUDI
MERI SUSANA
MUHAJIRIN
NANDA HARMAWADI
OGIAWAN
RISMAWATI
RONI SIANTURI
SAPRUDIN
SITI HARDIANTI. P
SRI ANDRIANI
SUTRIA APRIANI
TRISNAYATUL HAENI
WIDAYATUL FATMA

Jumlah ( )

72
68
68
72
68
90
75
68
80
80
68
68
75
68
75
68

2244

Tabel data diatas merupakan hasil perolehan skor untuk


pengisian angket pembelajaran yang tidak menggunakan metode
Diskusi pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas VIII SMP Negeri 2
Gangga dengan memperoleh peningkatan nilai yang relatif yaitu
dengan jumlah keseluruhan 2244.
4.1.2. Data Prestasi Belajar
Selanjutnya data tentang prestasi belajar peserta didik di SMP
Negeri 2 Gangga dapat ditemukan dari hasil tes evaluasi yang
dilakukan sebelum dan sesudah penerapan metode Diskusi adalah
sebagai berikut:

30

Tabel 4.2
Data tentang prestasi belajar peserta didik setelah penerapan metode Diskusi di SMP Negeri
2 Gangga tahun pelajaran 2012/2013

No
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Nama peserta didik


2
ABDUL NAZIR
AGUS KURNIAWAN
NORA
AGUS SUPRIONO
AINI SOLEHA
ANIS MARYANI
BAIDI SUKMAWAN
DIANA NOVITA
DIDIT ARIF WIBOWO
EMI TRISNATUN
ENI SUSMITA
EVA MUZDALIFAH
EVA TULITA
FAIZATUL HIDAYAH
HAERUL HAMBALI
HASAN TAMAWUT

Nilai penerapan metode


Diskusi
3
69
70
81
85
80
69
85
85
70
70
70
90
90
72
72

31

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

JUMAEDI
LAEHAN
LALANG CANDRA
LIA ASTUTI
PENI FIDIAWATI
PRIHATINI
RANI YULIANA
RIZWAN HADI
SAHINUDIN
SARWO EDI WIBOWO
SINTA HARIANTI
TANIA WIJASTUTI
VITA FEBRIANA
WIDIA WATI
YUNITA SURYANI

Jumlah ( )

69
69
72
70
90
75
70
80
80
68
68
75
68
75
69

2256

Tabel data merupakan hasil perolehan penilaian tentang


prestasi belajar peserta didik sesudah diberikan tes evaluasi dengan
menggunakan pembelajaran metode Diskusi pada mata pelajaran IPS
Terpadu di kelas VIII SMP Negeri 2 Gangga dengan memperoleh
peningkatan nilai yang relatif yaitu dengan jumlah keseluruhan 2256.
4.2.

Analisis Data
Setelah data diperoleh maka langkah selanjutnya adalah analisis
data. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa
statistik. Data yang dianalisa dengan tekhnik statistik ialah data kuantitatif
yaitu data yang berhubungan dengan angka-angka atau nilai.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam analisa data ini
adalah sebagai berikut: 1) merumuskan hipotesisi nol, 2) menyusun tabel
kerja, 3) memasukkan data kedalam rumus, 4) menguji nilai r.
1) Merumuskan Hipotesis Nol (Ho)

32

Untuk menyelesaikan proses analisa statistik ini, terlebih dahulu


mengubah hipotesis alternatif yang diajukan pada bab I, menjadi
hipotesis nol (Ho), yaitu: tidak ada efektivitas metode diskusi terhadap
prestasi belajar peserta didik di SMP Negeri 2 Gangga tahun pelajaran
2012/2013.
2) Menyusun Tabel Kerja
Sesuai dengan rumus yang digunakan untuk menganalisis data ini
yaitu rumus product moment, maka selanjutnya dibuatkan tabel kerja
untuk mengetahui besarnya komponen yang di perlukan. Dalam hal ini
prestasi belajar peserta didik yang tidak mendapatkan penerapan
metode diskusi dengan kode X dan prestasi belajar peserta didik yeng
mendapat penerapan metode diskusi dengan kode Y. adapun tabel kerja
dimaksud adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3.
Tabel kerja pengetesan hipotesis tentang efektivitas metode diskusi tehadap prestasi belajar peserta
didik di SMP Negeri 2 Gangga Tahun Pelajaran 2012/2013.

N
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

X
2
68
68
80
85
80
68
85
85
70
70
70
85
95
72
72
68
68
72
68
90

Y
3
69
70
81
85
80
69
85
85
70
70
70
90
90
72
72
69
69
72
70
90

x
4
-6.8
-6.8
5.2
10.2
5.2
-6.8
10.2
10.2
-4.8
-4.8
-4.8
10.2
20.2
-2.8
-2.8
-6.8
-6.8
-2.8
-6.8
15.2

y
5
-6.2
-7.2
5.8
9.8
4.8
-7.2
9.8
9.8
-5.2
-5.2
-5.2
9.8
14.8
-3.2
-3.2
-7.2
-6.2
-3.2
-5.2
14.8

x2
6
46.24
46.24
27.04
104.04
27.04
46.24
104.04
104.04
23.04
23.04
23.04
104.04
408.04
7.84
7.84
46.24
46.24
7.84
46.24
231.04

y2
7
38.44
51.84
33.64
96.04
23.04
51.84
96.04
96.04
27.04
27.04
27.04
96.04
219.04
10.24
10.24
51.84
38.44
10.24
27.04
219.04

xy
8
42.16
48.96
30.16
99.96
24.96
48.96
99.96
99.96
24.96
24.96
24.96
99.96
298.96
8.96
8.96
48.96
42.16
8.96
35.36
224.96

33

21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

75
68
80
80
68
68
75
68
75
68
2244
74.80

75
70
80
80
68
68
75
68
75
69
2256
75.20

0.2
-6.8
5.2
5.2
-6.8
-6.8
0.2
-6.8
0.2
-6.8
0.0

-0.2
-7.2
4.8
4.8
-7.2
-7.2
-0.2
-7.2
-0.2
-7.2
0.0

0.04
46.24
27.04
27.04
46.24
46.24
0.04
46.24
0.04
46.24
1764.80

0.04
51.84
23.04
23.04
51.84
51.84
0.04
51.84
0.04
51.84
1555.60

-0.04
48.96
24.96
24.96
48.96
48.96
-0.04
48.96
-0.04
48.96
1641.80

Keterangan:
r
= X-MX
y = Y-MY
rxy = koofesien korelasi product moment antara variable X dan Y
xy = jmlah nilai rata-rata variable x dikalikan variable y
N
= Jumlah subyek penelitian
M = Rata-rata
(Suharsimi Arikunto, 2005:327)
Diketahui :
N
= 30
X
= 2244
Y
= 2256
xy
= 1641.80

Jadi:

x2
y2

= 1764,80
= 1555,60

Mx

= 74,80

My

= 75,20

Selanjutnya mencari standar deviasi (SD) x dan y, dengan rumus sbb:


SD x

= 7.66

SD y

= 7,20

3) Memasukkan data ke dalam rumus product moment

34

r.xy =
=
=
= 0,990
4) Menguji nilai r
Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui apakah nilai r.xy
yang diperoleh dalam penelitian ini berada pada batas penerimaan
hipotesis nol atau tidak, sehingga dapat diketahui apakah hipotesis yang
diajukan diterima atau ditolak.
Untuk mengetahui ada tidaknya keefektifan metode diskusi
terhadap motivasi belajar peserta didik di SMP Negeri 2 Gangga maka
diketahui dengan cara membandingkan hasil perhitungan yang
diperoleh (r hitung) dengan nilai r tabel.
Dalam teorinya dijelaskan bahwa Jika nilai r hitung lebih besar
dari nilai r tabel, maka kedua variable tersebut mempunyai
hubungan/pengaruh yang signifikan, dan sebaliknya jika nilai r hitung
lebih kecil dari tabel, maka hubungan/pengaruh antara kedua variable
tersebut tidak dignifikan. (Sugiyono, 2002:121).
Berdasarkan statistik, nilai r tabel diperoleh dari rumus:

Dimana:
r = nilai r tabel
t = nilai t tabel
df (degree of freedom) = derajat bebas

35

4.3.

Hasil Pengujian Asumsi


Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan model
regresi linier berganda dalam meganalisa telah memenuhi asumsi klasik atau
tidak, melalui uji berikut ini :
1.

Autokorelasi
Pengujian autokorelasi ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah
terjadi keterkaitan satu sama lain antara anggota serangkaian data,
observasi yang diurutkan menurut waktu ( time series ) atau ruang ( cross
sectional ) untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dilakukan dengan
metode uji Durbin-Watson. Apabila hasil regresi meperlihatkan angka DW dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif. Dan apabila angka D-W
diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada korelasi dan jika angka D-W diatas
+2 berarti ada autokorelasi negatif ( Santoso, 2002:218-219 ).

2.

Heteroskedastisitas
Uji ini, dilakukan untuk mengetahui apakah kesalahan atau
residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstans
dari satu observasi ke observasi lainnya, atau dengan kata lain, setiap
observasi mempunyai realibilitas yang berbeda-beda. Menurut santos
(2002:214 ), untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas yaitu dengan
melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik regresi, dimana sumbu X
adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu Y adalah residual yang telah di
studentised. Apabila terdapat pola tertentu, seperti

titik-titik yang
36

membentuk pola tertentu dan teratur ( bergelombang, melebar kemudian


menyempit ), maka telah terjadi heteroskedastisitas, dan sebaliknya jika
tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah
angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
3.

Normalitas
Uji normalitas ini, ditujukan untuk menguji sebuah model regresi
apakah

variabel

dependen,

variabel

independen

atau

keduanya,

mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik memiliki
distribusi data normal atau mendekati normal. Untuk mendeteksi adanya
normalitas yaitu dengan melihat penyebaran data ( titik ) pada sumbu
diagonal dari grafik. Apabila data menyebar disekitar garis diagonal dan
mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi
normalitas. Apabila data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak
mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi
normalitas ( Santos, 2002 : 213-214 ).
4.

Multikolonearitas
Pengujian multikolonearitas, ditujukan untuk mengetahui apakah
variabel independent tidak berkorelasi atau ada korelasi diantara variabelvariabel independen dalam model regresi yang digunakan apabila hal
tersebut terjadi, sulit untuk mengetahui variabel independen mana yang
mempengaruhi variabel dependen. Menurut Santos ( 2002 : 206-207 )
untuk mendeteksi multikolonearitas adalah dengan melihat (1) nilai
besaran VIF ( Variance Inflation Factor ) dan tolerance.
37

Jika angka VIF ada disekitar angka 1-5, demikian juga nilai
tolerance mendekati satu atau diatas 0,0001, maka dapat disimpulkan
bahwa model regresi tidak terdapat masalah multikolonearitas.(2) melihat
besaran korelasi antar variabel independen. Apabila korelasi antar variabel
independent lemah ( dibawah 0,05 ) berarti tidak terjadi multikolonearitas
dan sebaliknya apabila korelasi kuat berarti terjadi multikolonearitas.
4.4. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau
sahih mempunyai validitas yang tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang
valid berarti memiliki validitas yang rendah (Arikunto, 2002:144). Uji
validitas terhadap instrumen yang dipergunakan dimaksudkan untuk
mengetahui

apakah

instrumen

yang

dipergunakan

tersebut

dapat

mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Pengujian


validitas untuk instrumen efektifitas metode diskusi (X) dan motivasi belajar
mata pelajaran ekonomi (Y) menggunakan analisis butir dengan rumus
korelasi

product

moment

yang

dikemukakan

oleh

Pearson

yaitu:

Dimana:
rxy
: koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
N
: jumlah responden
X
: skor item
Y
: skor total
(Arikunto, 2002:146)

38

Kemudian hasil rhitung dikonsultasikan dengan rtabel dengan taraf


signifikasi 5%. Jika didapatkan harga rhitung > rtabel, maka butir instrumen
dapat dikatakan valid, akan tetapi sebaliknya jika harga r hitung < rtabel, maka
dikatakan bahwa instrumen tidak valid (Arikunto, 2002:146).
Hasil ujicoba instrumen yang terdiri dari 20 butir soal pada 30
responden adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Hasil Uji Validitas
No. Soal
r
r
Kriteria
1
0,781 0,538
Valid
2
0,738 0,538
Valid
3
0,745 0,538
Valid
4
0,637 0,538
Valid
5
0,796 0,538
Valid
6
0,695 0,538
Valid
7
0,642 0,538
Valid
8
0,747 0,538
Valid
9
0,631 0,538
Valid
10
0,806 0,538
Valid
11
0,757 0,538
Valid
12
0,724 0,538
Valid
13
0,707 0,538
Valid
14
0,598 0,538
Valid
15
0,730 0,538
Valid
16
0,678 0,538
Valid
17
0,731 0,538
Valid
18
0,686 0,538
Valid
19
0,726 0,538
Valid
20
0,832 0,538
Valid
Sumber : Data Penelitian, diolah.
xy

tabel

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat 20 butir soal valid, karena
harga rhitung > rtabel = 0,538., untuk = 5% dengan n = 30. Dengan demikian 35
butir soal tersebut dikatakan valid dan dapat digunakan untuk pengambilan
data penelitian.
4.5. Hasil Pengujian Hipotesis

39

Untuk pengujian hipotesis, hipotesa alternatif (Ha) yang diajukan


berbunyi: ada keefektifan metode Diskusi terhadap motivasi belajar peserta
didik pada mata pelajaran IPS terpadu di SMP negeri 2 Gangga tahun
pelajaran 2012/2013 terlebih dahulu harus diubah menjadi hipotesis Nihil
(Ho), sehingga berbunyi tidak terdapat keefektifan metode diskusi terhadap
motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS terpadu di SMP negeri
2 Gangga tahun pelajaran 2012/2013.
Untuk menguji taraf signifikansi

hasil

penelitian

ini

perlu

dikonsultasikan kedalam tabel nilai r product moment, sehingga apakah hasil


penelitian ini signifikan atau tidak.
Gambaran tentang hasil analisa data dan nilai kritik pada tabel product
moment terlihat seperti dibawah ini:
Tabel 4.4
Hasil perhitungan analisis Data

No
1

Nilai r tabel pada


taraf signifkansi 5%
0,538

Nilai r hasil
analisis
0,990

Hipotesis
Ha
Ho
Diterima Ditolak

Berdasarkan taraf signifikansi 5% dengan N = 30 maka angka batas


penerimaan hipotesis nol (Ho) yang terdapat pada tabel r product moment
menunjuk pada angka 0,538, sedangkan r xy yang diperoleh dalam penelitian
ini adalah 0,990. Angka ini berada diatas batas penerimaan hipotesis Nol, atau
r xy > r T atau 0,990 > 0,538.
Ini berarti bahwa nilai r xy atau hasil penelitian ini signifikan, dengan
demikian hipotesis Nol yang berbunyi: tidak ada pengaruh metode Diskusi
terhadap prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS terpadu di
SMP negeri 2 Gangga tahun pelajaran 2012/2013, ditolak.

40

Dengan ditolaknya hipotesis Nol, maka hipotesis alternatif (Ha) yang


berbunyi ada efektivitas metode diskusi terhadap prestasi belajar peserta
didik pada mata pelajaran IPS terpadu di SMP negeri 2 Gangga tahun
pelajaran 2012/2013 diterima.
Dengan demikian maka secara meyakinkan terdapat keefektivitasan
metode diskusi terhadap motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran
IPS terpadu di SMP negeri 2 Gangga tahun pelajaran 2012/2013.
4.6.

Pembahasan Hasil Penelitian


Dengan diterimanya hipotesis yang diajuka dalam bab I berarti dugaan
yang disusun berdasarkan kerangka teori maupun asumsi ternyata dapat
dibuktikan secara empiris di lokasi penelitian. Dengan demikian hasil analisis
ini dapat memperkuat teori tentang pentingnya penerapan metode Diskusi
untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
Hasil analisa data seperti dikemukakan diatas menunjukkan bahwa
penerapan metode Diskusi lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar
peserta didik bila dibandingkan dengan metode konvensional.
Pada dasarnya tidak ada perbedaan mendasar antara format program
pembelajaran dengan metode diskusi dengan metode konvensional seperti
yang

biasa

dilakukan

membedakannya,

terletak

oleh

guru-guru

pada

selama

penekanannya,

ini.

Adapun

yang

dimana

pada

model

konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai,


sementara dengan metode Diskusi lebih menekankan pada scenario dan
tekhnik pembelajarannya, yaitu kegiatan tahap demi tahap yang dilakukan

41

oleh guru dan peserta didik dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang
diharapkan. Tahapan tersebut adalah: 1) Nyatakan kegiatan utama
pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kenyataan peserta didik yang
merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indicator
pencapaian hasil belajar; 2) rumuskan dengan jelas tujuan umum
pembelajarannya; 3) jika ada, uraikan secara terperinci media dan sumber
pembelajaran yang kan digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran
yang diharapkan; 4) rumuskan skenario tahap demi tahap proses kegiatan
peserta didik dalam melakukan proses pembelajarannya; 5) rumuskan dan
lakukan sistem penilaian dengan memfokuskan pada kemampuan sebenarnya
yang dimiliki oleh peserta didik baik pada saat berlangsungnya (proses)
maupun setelah peserta didik tersebut selesai belajar.
Peneliti menegaskan kembali bahwa berdasarkan rangkaian penelitian
yang dilakukan, ditemukan bahwa metode diskusi dalam penelitian ini
terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam
pembelajaran mata pelajaran IPS terpadu, hal tersebut paling tidak
ditunjukkan oleh rata-rata nilai penerapan metode diskusi dan hasil tes yang
merupakan prestasi belajar peserta didik sesudah menggunakan metode ini
dalam proses pembelajaran.
BAB V
SIMPULAN
5.1. Simpulan
Metode diskusi adalah format belajar mengajar yang menitik beratkan
kepada interaksi antara anggota yang lain

dalam suatu kelompok guna

42

menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama. Karena itu pendidik


dituntut mampu melibatkan keaktifan anak bekerjasama dan berkolaborasi
dalam kelompok.
Metode Diskusi juga suatu cara yang baik untuk menanamkan
kebiasaan tertentu dan juga dapat menambah kecepatan, ketepatan, dan
kesempurnaan dalam melakukan sesuatu serta dapat pula dipakai sebagai
suatu cara untuk mengulangi bahan yang telah disajikan.
Metode diskusi dalam meneliti prestasi belajar peserta didik kelompok
kontrol yang diajarkan dengan menggunakan metode ceramah dan prestasi
belajar peserta didik kelompok eksperimental diajarkan dengan menggunakan
metode diskusi.
Pendekatan

ini

menekankan

terbentuknya

hubungan

antara

individu/peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain sehingga
dalam konteks yang lebih luas terjadinya hubungan sosial individu dengan
masyarakat. Mengembangkan kemampuan dan kesanggupan peserta didik
untuk mengadakan hubungan dengan orang lain / peserta didik lain,
mengembangkan sikap dan prilaku yang demokratis, serta menumbuhkan
produktifitas kegiatan belajar peserta didik.
Pengertian dasar motivasi ialah Keadaan internal organisme (baik
manusia ataupun hewan) yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu dalam
pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah
laku secara terarah (Gleitman, dalam Muhibbin, 1997 : 136). Sedangkan
menurut Daryanto motivasi adalah alasan atau dorongan (1998 : 407).
Menurut Dimyati (2002 : 80) motivasi adalah kekuatan mental yang
menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk prilaku

43

mengajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan,


menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu
belajar. Sedangkan Motivasi menurut Kartini Kartono (2004 : 18) adalah
gambaran pendorong kerja disugestikan berwujud dan insentif berupa uang
sebagai satu-satunya rangsangan untuk bekerja. Belajar sendiri di artikan
sebagai sebagai suatu proses timbul atau berubahnya tingkah laku melalui
latihan (usaha pendidikan) dan dibedakan dengan perubahan yang disebabkan
oleh faktor-faktor yang tidak dapat digolongkan kepada latihan usaha
pendidikan itu sendiri (Hilgar, E.R, 1984 dalam Masrial, 1993 : 8).
Berdasarkan pendapat ahli di atas bahwa motivasi belajar adalah suatu
bentuk dorongan hati yang menjadi penggerak utama seseorang, sebuah
keluarga atau organisasi untuk mencapai apa juga yang diinginkan dan
dengan bentuk motivasi itu akan memberikan dorongan kepada pelajar untuk
mengarahkan tindakan, melakukan sesuatu perbuatan dan sebagainya dalam
hal kegiatan belajar mengajar.

Berdasarkan pembahahasan di atas, Pembelajaran IPS Terpadu di


SMP Negeri 2 Gangga pada tahun pelajaran 2012/2013

telah dilakukan

dengan menerapkan berbagai model. Efektifitas penerapan motode diskusi


terhadap motivasi belajar peserta didik dapat diketahui dari prestasi belajar
yang dicapai melalui tekhnik uji tes dan angket yang telah di berikan kepada
peserta didik. Berdasarkan taraf signifikansi 5% dengan N = 30 maka angka
batas penerimaan hipotesis nol (Ho) yang terdapat pada tabel r product

44

moment menunjuk pada angka 0,538, sedangkan r xy yang diperoleh dalam


penelitian ini adalah 0,990. Angka ini berada diatas batas penerimaan
hipotesis Nol, atau r xy > r T atau 0,990 > 0,538.
Dengan demikian maka secara meyakinkan terdapat keefektifan metode
diskusi terhadap motivasi belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS
terpadu di SMP negeri 2 Gangga tahun pelajaran 2012/2013.
5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mengajukan beberapa saran
sebagai berikut:
1.

Kepada Pendidik
a.

Diharapkan

dapat

memiliki

kepedulian

tentang

pengembangan pembelajaran Metode Diskusi dalam setiap pokok


bahasan yang diajarkan. Kesadaran dan kepedulian ini sangat
menentukan aktivitas dalam proses belajar mengajar, apalagi Pendidik
yang selalu sadar dan ingin belajar untuk menambah ilmu pengetahuan
untuk kepentingan profesinya.
b.

Kepada Pendidik
dalam

mengembangkan

kelas, hendaknya selalu berinovasi

metode

pembelajaran,

agar

dapat

menyampaikan materi ajar dengan pencpaian yang maksimal yang


berguna untuk penguasaan materi-materi pembelajaran khususnya pada
mata pelajaran IPS Terpadu.
2.

Kepada Peserta didik

45

Disarankan agar lebih banyak belajar dengan mengulangi pelajaran


yang telah diberikan, khususnya pada mata pelajaran IPS Terpadu .
3.

Kepada Kepala Sekolah


Pihak sekolah meliputi kepala sekolah agar memberikan perhatian
dan motivasi terhadap pendidik, khususnya agar memberikan pengajaran
dengan metode yang bervariasi seperti salah satunya dengan menggunakan
metode diskusi dalam membahas materi pokok pembelajaran di kelas.

4.

Kepada Orang Tua Peserta didik


Diharapkan kepada semua orang tua peserta didik agar benar-benar
memperhatikan keberadaan anaknya dirumah, ikut membantu dan
mendorong untuk belajar sehingga para peserta didik mendapatkan
motivasi untuk mencapai prestasi belajar yang memuaskan.

5.

Kepada Peneliti Lain


Kepada peneliti lain diharapkan dapat mengadakan penelitian yang
lebih mendalam dan lebih khususnya mengenai hal-hal yang dibahas
dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
..................................., 2003, Proses Belajar Mengajar, Bandung : Bumi
Aksara
Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan
Praktek (Edisi Revisi V). Jakarta : Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Jakarta : Rineka Cipta.

46

Dimyati, Mudjiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka


Cipta.
Djajadisastra, Jusuf, Metode-metode Mengajar. Bandung: Aksara
Hadi, Sutrisno, 1980,
Aksara

Psikologi Belajar Dan Mengajar, Jakrta : Bumi

Hartono Kasmadi. 2001. Pengembangan Pembelajaran dengan Pendekatan


Model-model Pengajaran Sejarah. Semarang: Prima Nugraha
Pratama.
I Gde Widja. 1989. Dasar-dasar Pengembangan Strategi Serta Metode
Pengajaran Sejarah. Jakarta: P2LPTK.
Kartono, Kartini, 2004, Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada
Margono, S, 1996. Metode Penelitian Pendidikan, Jakrta : Rineke Cipta.
Muhibbin, 2005, Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Nurkancana dan Sumartana, 1986, Evaluasi Pendidika, Surabaya : Usaha
Nasional.
Nurkancana, 1986, Evaluasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional
Riyanto, Yatim, 2001, Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya : SIC
Sudjana, Nana, 2000, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung :
Sinar Baru
Sugito, DR. MA., Metode dan tekhnik pembelajaran orang Dewasa.
Surabaya:Usaha Nasional.
Sugiyono, 2000, Statistik Untuk Penelitiani, Bandung : Alfabeta.
Sugiyono, 2003, Metode Penelitian. Surabaya : Usaha Nasional
Suryabrata, 1994, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rajawali Pers
Suryabrata, Sumadi. 1985. Psikologi Pendidikan. Jakarta : CV. Rajawali
Pers.
Thoha,

Miftah, 2003. Perilaku Organisasi:


Aplikasinya , Jakarta: Rajawali.

Konsep

Dasar

Dan

Usman, Uzer, 1999, Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja


Rosdakarya.

47

Zuriah, Nurul, 2007, Pendidikan moral dan budi pekerti dalam perspektif
perubahan : menggagas platform pendidikan budi pekerti
secara kontekstual dan futuristik . Jakarta: Bumi Aksara.

48