Anda di halaman 1dari 9

Dunia Goresan

Selasa, 13 Desember 2011


Laporan praktikum Taksonomi Tumbuhan acara II

LAPORAN PRAKTIKUM
TAKSONOMI TUMBUHAN
ACARA II
Deskripsi dan Morfologi
Tumbuhan Gymnospermae, Dikotil dan Monokotil

Disusun Oleh :
Nama
NIM
Rombongan

: Igar Riswanto
: A1L010116
: C1

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
AGROTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2011
I. METODE PRAKTIKUM
A.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalan praktikum ini adalah sebagai berikut
1. Kertas buram,
2. Alat tulis,
3. Buku.
Sedangkan bahan yang digunakan melputi :
1. Pinus,
2. Mlinjo,
3. Talas
4. Kenanga

B.
1.
2.
3.
4.

Prosedur Kerja
Alat tulis disiapkan.
Tanaman yang akan dijadikan objek diamati.
Bagian-bagian tanaman digambar
Deskripsi tumbuhan tersebut ditulis

II.

PEMBAHASAN

Angiospermae ( tumbuhan biji tertutup )


Tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) berasal dari kata angio yang berarti bunga dan
spermae yang berarti tumbuhan berbiji, jadi Angiospermae adalah tumbuhan berbiji yang
tertutup tertutup. Mengapa dikatakan tumbuhan berbiji tertutup, karena bijinya selalu
diselubungi oleh suatu badan yang berasal dari daun-daun buah yang disebut dengan bakal
buah. Kemudian bakal buah beserta bagian-bagian lain dari bunga akan tumbuh menjadi buah
dan bakal biji yang telah menjadi biji tetap terdapat di dalamnya. Tumbuhan biji tertutup
memiliki jumlah spesies lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan berbiji terbuka, karena
anggota Angiospermae mencakup sekitar 300 famili dan lebih dari 250.000 spesies.
Tumbuhan ini banyak ditemukan di semua daratan dunia ini. Ada banyak factor yang
menentukan sehingga angiospermae terdapat di mana-mana. Diantaranya adalah
1.mampu beradaptasi dan bereproduksi disegala lingkungan
2.membentuk buah,bunga dan biji.
Secara umum, tumbuhan berbiji tertutup memiliki ciri yang sama dengan tumbuhan berbiji
terbuka. Keunikan tumbuhan berbiji tertutup terletak pada bijinya yang tersusun oleh keping
lembaga (kotyledon). Keping lembaga pada tumbuhan berbiji tertutup membentuk dua
kelompok tumbuhan, yaitu tumbuhan berbiji tunggal (Monocotyledonae) Dan tumbuhan
berbiji berkeping dua (Dicotyledonae).
Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka)
Gymnospermae telah hidup di bumi sejak periode Devon (410-360 juta tahun yang
lalu), sebelum era dinosaurus. Pada saat itu, Gymnospermae banyak diwakili oleh kelompok
yang sekarang sudah punah dan kini menjadi batu bara: Pteridospermophyta (paku biji),
Bennettophyta dan Cordaitophyta. Anggota-anggotanya yang lain dapat melanjutkan
keturunannya hingga sekarang. Angiospermae yang ditemui sekarang dianggap sebagai
penerus dari salah satu kelompok Gymnospermae purba yang telah punah (paku biji).
Ciri-ciri gymnospermae tidak mempunyai bunga sejati, tidak ada mahkota bunganya.
Bakal biji terdapat di luar permukaan dan tidak dilindungi oleh daun buah, merupakan
tumbuhan heterospora yaitu menghasilkan dua jenis spora berlainan, megaspora membentuk
gamet betina, sedangkan mikrospora menghasilkan serbuk sari, struktus reproduksi terbentuk
di dalam strobilus.Dalam reproduksi terjadi pembuahan tunggal.

1.
2.
3.
4.

Gymnospermae dibagi dalam empat kelompok yaitu


Pinophyta
Cycadophyta
Ginkgophyta
Gnetophyta.
Tumbuhan berkeping biji tunggal (atau monokotil) adalah salah satu dari dua kelompok
besar tumbuhan berbunga yang bijinya tidak membelah karena hanya memiliki satu daun
lembaga. Kelompok ini diakui sebagai takson dalam berbagai sistem klasifikasi tumbuhan dan
mendapat berbagai nama, seperti Monocotyledoneae, Liliopsida, dan Liliidae
Tumbuhan berbiji belah atau tumbuhan berkeping biji dua adalah segolongan tumbuhan
berbunga yang memiliki ciri khas yang sama dengan memiliki sepasang daun lembaga
(kotiledon:daun yang terbentuk pada embrio) berbentuk sejak dalam tahap biji sehingga biji
sebagian besar anggotanya bersifat mudah terbelah dua dan sistem Crouquist mengakui
kelompok ini sebagai takson dan menamakannya kelas Magnoliopsida

1. PINUS ( Pinus merkusii)


A. KLASIFIKASI
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpem buluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Coniferophyta
Kelas
: Pinopsid
Ordo
: Pinales
Famili
: Pinaceae
Genus
: Pinus
Spesies
: Pinus merkusii Jungh.& De Vr.
B.

Morfologi

Pohon besar, batang lurus, silindris. Tegakan masak dapat


mencapai tinggi 30 m, diameter 60-80cm. Tegakan tua mencapai tinggi 45 m, diameter 140
cm. Tajuk pohon muda berbentuk piramid,setelah tua lebih rata dan tersebar. Kulit pohon
muda abu-abu, sesudah tua berwarna gelap alur dalam.
Terdapat 2 jarum dalam satu ikatan, panjang 16-25 cm. Pohon berumah satu, bunga
berkelamin tunggal. Bunga jantan dan betina dalam satu tunas. Bunga jantan berbentuk
strobili, panjang 2-4 cm, terutama di bagian bawah tajuk. Strobili betina banyak terdapat di
sepertiga bagian atas tajuk terutama di ujung dahan.Buah : Berbentuk kerucut, silindris,
panjang 5-10 cm, lebar 2-4 cm. Lebar setelah terbuka lebih dari 10 cm. (Purnomo, eko.2010.)
2. MELINJO ( gnetum gnemon )
A.
Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi
: Gnetophyta
Kelas
: Gneptosida
Ordo
: Gnetales
Famili
: Gneteceae
Genus
: Gnetum
Spesies
: G. Gnemon
B.
Morfologi
Melinjo (Gnetum gnemon Linn.) atau dalam bahasa Sunda disebut Tangkil adalah suatu
spesies tanaman berbiji terbuka (Gymnospermae) berbentuk pohon yang berasal dari Asia
tropik, melanesia, dan Pasifik Barat. Melinjo dikenal pula dengan nama belinjo, mlinjo
(bahasa Jawa), tangkil (bahasa Sunda) atau bago (bahasa Melayu dan bahasa Tagalog), Khalet
(Bahasa Kamboja).[1] Melinjo banyak ditanam di pekarangan sebagai peneduh atau pembatas
pekarangan dan terutama dimanfaatkan buah dan daunnya

Melinjo (Gnetum gnemon) merupakan tumbuhan tahunan


berbentuk pohon yang berumah dua (dioecious).
Batang
Batangnya kokoh dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.
Daun
Daunnya tunggal berbentuk oval dengan ujung tumpul.
Melinjo tidak menghasilkan bunga dan buah sejati karena bukan termasuk tumbuhan
berbunga. Yang dianggap sebagai buah sebenarnya adalah biji yang terbungkus oleh selapis
aril yang berdaging.

Melinjo berperawakan pohon yang ramping, berkelamin dua dan


selalu hijau, dengan batang yang lurus sekali, tingginya 5-10 m; kulit batangnya berwarna
kelabu, ditandai oleh gelang-gelang menonjol secara nyata; cabang-cabangnya berbagai
ukuran dan letaknya melingkari batang, terus sampai di pangkal bacang. Cabang itu menebal
di pangkalnya. Daun-daunnya berhadapan, berbentuk jorong, berukuran (7,5-20) cm x (2,510) cm; tulang daun sekunder melengkung dan bersatu di ujungnya. Perbungaannya

inonim

menyendiri dan keluar dari ketiak daun, juga dari batang yang celah tua, panjangnya 3-6 cm,
dengan bunga-bunganya tersusun dalam bentuk lingkaran di buku-bukunya. Bunga betina
sebanyak 5-8 kuntum pada setiap buku perbungaan, bentuknya bundar dan melancip ke
ujungnya. Buahnya mirip buah geluk, berbentuk jorong, panjangnya 1-3>5 cm, berembang
(apiculate) pendek, berbulu halus, mula-mula berwarna kuning, kemudian berubah menjadi
merah sampai lembayung jika macang. Bijinya satu butir per buah, berukuran besar dan
berkulit tanduk..
\
3. TALAS
A.
KLASIFIKASI
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super divisi
: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas
: Arecidae
Ordo
: Arales
Famili
: Araceae
Spesies
: Colocasia esculenta (L.) Schott
: Colocasia antiquorum Schott (1832), Colocasia esculenta (L.) Schott var. antiquorum
(Schott) Hubb. & Rehder (1939).
Nama Inggris
:Taro, old cocoyam, dasheen, eddoe
Nama Indonesia :Talas
B. DESKRIPSI
Talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Talas termasuk dalam suku
talas-talasan (Araceae), berperawakan tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan
tanaman semusim atau sepanjang tahun. Talas mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro,
Old cocoyam, Dash(e)en dan Eddo (e). Di beberapa negara dikenal dengan nama lain,
seperti: Abalong (Philipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaya), Satoimo (Japan),
Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China).
Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara, menyebar ke China dalam abad
pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra
Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa di jumpai hampir di seluruh
kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 m dpl., baik liar
maupun di tanam.
C.

MORFOLOGI

Tumbuhan berupa terna, tegak. Sistem perakaran liar,


berserabut, dan dangkal. Batang yang tesimpan dalam tanah pejal, menyilinder atau
membulat, biasanya coklat tua, dilengkapi dengan kuncup ketiak yang terdapat di atas
lampang daun tempat munculnya umbi baru, tunas atau stolon. Daun memerisai dengan
tangkai panjang dan besar. Perbungaan tongkol dikelilingi oleh seludang dan didukung oleh
gagang yang lebih pendek dari tangkai daun, bunga jantan dan betina kecil, tempatnya
terpisah pada tongkol, bunga betina di bagian pangkal, hijau, bunga jantan pada bagian
atasnya warna putih steril, ujung tongkol dilengkapi dengan organ steril. Perbuahan seperti
kepala yang berisi buah buni yang rapat. Biji membundar telur.
D. HABITAT
Pertumbuhan talas.Talas dapat tumbuh mulai dari pantai sampai ketinggian 1800 m dpl. di
Filipina; 1200 m dpl. di Malaysia dan 2700 m dpl. di Papua New Guinea, walaupun sangat
lambat proses pemasakannnya pada ketinggian yang terakhir. Talas bertoleransi pada naungan
dan seringkali tumbuh sebagai tanaman sela dengan tumbuhan pohon. Beberapa kultivar
bertoleransi terhadap salinitas yang tinggi.Talas tumbuh pada berbagai macam jenis tanah,
tetapi pertanian yang bagus membutuhkan fertilitas yang tinggi. Di Malaysia, jenis tersebut
bertoleransi terhadap pH tanah 4.2-7.5.
Perbanyakan :
Talas diperbanyak secara vegetatif; sedangkan untuk keperluan
penangkaran, talas dapat diperbanyak dari bijinya. Umbi utama, potongan umbi maupun
anakan umbi dapat ditanam, tetapi tunas dan ujung umbi biasanya lebih baik. Stolon lebih
disukai di beberapa tempat di Malaysia. Penanaman dengan umbi harus diambil dari tanaman
yang sehat, dihindari tanaman yang berakar atau umbi berakar dan yang terjangkit gejala virus
mosaik dasheen. Di Asia Tenggara, talas terutama ditanam oleh petani kecil, dapat berupa
pertanian tunggal atau pertanian sela yang dicampur dengan pertanian lainnya. Di Malaysia,
talas ditanam diantara tanaman
E. MANFAAT
Di Indonesia, talas dikonsumsi sebagai makanan pokok dan makanan tambahan. Talas
mengandung karbohidrat yang tinggi, protein, lemak dan vitamin. Talas mempunyai nilai
ekonomi yang cukup tinggi. Umbi, pelepah daunnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan
makanan, obat maupun pembungkus. Daun, sisa umbi dan kulit umbi dapat dimanfaatkan
sebagai pakan ternak dan ikan secara langsung maupun setelah difermentasi. Tanaman ini
mempunyai keterkaitan dengan pemanfaatan lingkungan dan penghijauan karena mampu
tumbuh di lahan yang agak berair sampai lahan kering.
4. KENANGA (Cananga odorata)

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Magnoliidae

Ordo

: Magnoliales

Famili

: Annonaceae

Genus

: Cananga

Spesies

: Cananga odorata (Lamk.) Hook.

DESKRIPSI
Kenanga (Canangium odoratum) adalah tumbuhan berbatang besar sampai diameter 0,1-0,7
meter dengan usia puluhan tahun. Tumbuhan kenangan mempunyai batang yang getas (mudah
patah) pada waktu mudanya. Tinggi pohon ini dapat mencapai 5-20 meter. Bunga kenanga
akan muncul pada batang pohon atau ranting bagian atas pohon dengan susunan bunga yang
spesifik. Sebuah bunga kenanga terdiri dari 6 lembar daun dengan mahkota berwarna kuning
serta dilengkapi 3 lembar daun berwarna hijau. Susunan bunga tersebut majemuk dengan
garpu-garpu. Bunga kenanga beraroma harum dan khas. Di pedesaan, kenanga sering
dipelihara untuk dipetik bunganya. Tumbuhan liar yang kini mulai jarang ini mudah tumbuh
di daerah dataran rendah mulai ketinggian 25-1000 meter di atas permukaan laut. Bunga
kenanga mengandung minyak atsiri, yang dikenal dengan nama minyak kenanga, yang
mempunyai khasiat dan bau yang khas. Hasil penelitian mereka menunjukkan, ekstrak bunga
kenanga memiliki kemampuan menolak nyamuk karena adanya kandungan linalool, geraniol,
dan eugenol. Hasil penelitian menunjukkan, ketika mengoleskan ekstrak bunga kenanga pada
marmut, maka minyak atsiri yang terkandung dalam ekstrak bunga kenanga meresap ke poripori lalu menguap ke udara. Bau ini akan terdeteksi oleh reseptor kimia (chemoreceptor) yang
terdapat pada tubuh nyamuk dan menuju ke impuls saraf. Itulah yang kemudian
diterjemahkan ke dalam otak sehingga nyamuk akan mengekspresikan untuk menghindar

tanpa mengisap darah marmut lagi. Semakin banyak kandungan bahan aktif yang terdapat
dalam ekstrak bunga kenanga, maka semakin besar kemampuan ekstrak tersebut menolak
nyamuk.
MORFOLOGI
Kenanga diidentifikasikan sebagai pohon, tinggi mencapai 30 35m, batang lurus berwarna
kelabu. Daun tunggal warna hijau tua, tersusun berselang-seling, berbentuk bulat telur atau
bulat telur memanjang dengan pangkal daun menyirip jantung dan ujung daun berbentuk
runcing, tepi daun berbentuk keriting atau berombak dan bagian pangkal daun berbentuk
membulat, ukuran mencapai 8 20cm x 5 10cm dan petiola yang berukuran 1,3cm.
Bunga

berbentuk

bintang

majemuk

menggarpu,

pendek,

menggantung,

erwarna hijau ketika masih muda, dan menjadi kuning setelah tua, muncul
pada batang pohon atau ranting bagian atas pohon, dengan susunan yang khas, mahkota bunga
berjumlah 6, 8 atau 9, berdaging, terlepas satu sama lainnya, dan tersusun dalam 2 lingkaran
yang masing-masing biasanya berjumlah 3, benang sarinya banyak, dan ruang tempat sari
berhubungan terdapat di ujung tangkai sari, berbentuk memanjang dan tertutup, berwarna
cokelat muda, jumlah bakal buah sekitar 7-15, kepala putik berbentuk tombol, memancarkan
aroma harum yang khas karena mengandung minyak atsiri. Buah berbentuk bulat telur
terbalik berwarna hijau ketika masih muda, dan manjadi kehitaman setelah tua, berukuran 2
cm, berdaging tebal dengan diameter 1,5 2,5 cm, tersusun dari 6 12 buah tiap tangkai
utamanya. Biji berwarna coklat muda, berjumlah 8 12 per buah tersusun dalam dua baris,
kecil, berukuran 6-7mm x 4-5mm, berbentuk bundar, pipih, dengan permukaan biji yang
keras.

DAFTAR PUSTAKA

Benson, L. 1957. Plant Classification. pp: 33-42. Boston D.C.: Heath and
Company
Duke. J.1983. Handbook of Energy Tanaman. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta
Fahn, A. 1990. Plant Anatomi. 4th Ed. London: Butterwort-Heinemann Ltd.
Steenis, Van. 1981. Flora cetakan ketiga. P T Pradnya Paramita. jakarta
Tjitrosoepomo, G. 1993. Taksonomi Umum. Yogyakarta : Gajah
Mada University press
Tjitrosoepomo, G. 1996. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah
Mada University press
Tjitrosoepomo, G. 1997. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah
Mada University press