Anda di halaman 1dari 14

PENYAKIT REPRODUKSI DAN ORGAN GENITALIA SEKUNDER

Andi Moh. Iekram, Umikalsum Yakub, Nurizmi Syam, Adawia Nasir, Muh. Sunardi Idrus, Arga
Darmawan Wally.
Kelompok 10, Andi Aswan Salam (Asisten)
Praktikum Demonstrasi Klinik
Bagian Bedah dan Radiologi. Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi.
PSKH UH
Umikalsum Yakub (O 111 11 283)

Abstrak
Tujuan praktikum demonstrasi klinik ialah untuk mengetahui langkah-langkah pemeriksaan
terhadap penyakit distokia, pyometra, retensi plasenta, prolaps uteri, mastitis, balanophostitis,
pimosis, parapimosis, dan orchitis. Distokia adalah suatu gangguan dari suatu proses kelahiran atau
partus, yang mana dalam stadium pertama dan stadium kedua dari partus itu keluarnya fetus
menjadi lebih lama dan sulit, sehingga menjadi tidak mungkin kembali bagi induk untuk
mengeluarkan fetus kecuali dengan prtolongan manusia. Pyometra berarti peradangan kronis dari
mucosa uterus (endometrium) yang disebabkan oleh adanya infeksi dan ditandai dengan adanya
pengumpulan nanah dalam uterus, serta dapat menyebabkan gangguan reproduksi yang bersifat
sementara (infertil) atau permanen (kemajiran). Retensi plasenta adalah kejadian patologi dimana
selaput fetus tidak keluar dari alat kelamin induknya dalam waktu 112 jam setelah kelahiran
anaknya. Prolapsus uteri adalah mukosa uterus keluar dari badan melalui vagina secara total ada
pula yang sebagian. Radang ambing atau mastitis pada sapi perah merupakan radang yang bersifat
akut, sub akut maupun kronis. Munculnya radang ini ditandai oleh kenaikan sel di dalam air susu,
perubahan fisik maupun susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai patologis pada kelenjar
mammae. Balanitis adalah keradangan yang terjadi pada glans penis sedangkan postitis merupakan
keradangan yang terjadi pada mukosa preputium. Kedua keradangan tersebut umumnya terjadi
bersama-sama karena radang penis akan menulari preputium dan sebaliknya sehingga disebut pula
sebagai balanopostitis. Pimosis (phymosis) merupaka keadaan dimana penis tidak dapat keluar
melalui preputium pada saat ereksi yang disebabkan oleh penyempitan lubang preputium.
Parapimosis (paraphymosis) merupakan keadaan penis yang tidak dapat masuk kembali kedalam
preputium setelah ereksi. Orchitis merupakan keradangan yang pada testis dengan tingkat kejadian
yang tergolong jarang. Pada praktikum ini hewan yang didemonstrasikan ialah sapi betina dengan
suhu 38.7 C, pulsus 64x/menit, frekuensi pernafasan 64x/menit dan detak jantung 60x/menit. Dari
pemeriksaan klinis yang dilakukan pada sapi yang bernama Gigi, dalam keadaan kurus dan terdapat
banyak caplak di badannya.
Kata kunci: distokia, pyometra, retensi plasenta, prolaps uteri, mastitis, balanophostitis, pimosis,
parapimosis, dan orchitis.

PENDAHULUAN
Distokia adalah suatu gangguan dari
suatu proses kelahiran atau partus, yang mana
dalam stadium pertama dan stadium kedua

dari partus itu keluarnya fetus menjadi lebih


lama dan sulit, sehingga menjadi tidak
mungkin kembali bagi induk untuk
mengeluarkan
fetus
kecuali
dengan
prtolongan manusia. Pada umumnya kejadian

distokia sering terjadi pada sapi perah


dibanding sapi potong (Putro, 2012).
Kelahiran adalah suatu proses yang
sangat rumit dan distokia dapat muncul
apabila beberapa bagian dari proses tersebut
mengalami kegagalan atau menjadi tidak
terkoordinasi.
Untuk
memudahkan
penggambaran, maka penyebab distokia
dibedakan menjadi dua, yakni: penyebab
dasar dan penyebab langsung. Penyebab
langsung ditokiapun terbagi menjadi dua,
yakni: penyebab maternal dan fetus (Jackson,
2007).
Pyometra berasal dari kata pyo artinya
nanah dan metra artinya uterus. Pyometra
berarti peradangan kronis dari mucosa uterus
(endometrium) yang disebabkan oleh adanya
infeksi dan ditandai dengan adanya
pengumpulan nanah dalam uterus, serta dapat
menyebabkan gangguan reproduksi yang
bersifat sementara (infertil) atau permanen
(kemajiran). Pyometra dapat terjadi pada sapi,
anjing, kucing, dan kuda sedangkan pada
hewan lain jarang terjadi (Hardjopranjoto,
1995 ).
Pyometra dapat dibedakan menjadi 2
tipe :
-

Pyometra terbuka, dimana pus dan toksin


dapat mengalir keluar dari uterus melalui
cervix dan vutra.
Pyometra tertutup, dimana dan toksin
tidak dapat keluar dari uterus sehingga
terjadi ruptur di uterus yang dapat
berlanjut menjadi peritonitis.

Retensi plasenta adalah kejadian


patologi dimana selaput fetus tidak keluar dari
alat kelamin induknya dalam waktu 112 jam
setelah kelahiran anaknya (Hardjopranjoto,
1995).
Pada
sapi
perah,
retensio
sekundinarum dapat berjalan hingga 4-8 hari
atau lebih sehingga selaput fetus mengalami
pembusukan sehingga bersifat toksik di dalam
uterus.
Prolapsus atau pembalikan uterus
sering terjadi segera sesudah partus dan
jarang terjadi beberapa jam setelah itu.
Predisposisi terhadap prolapsus uteri adalah

pertautan mesometrial yang panjang, uterus


yang lemas, atonik, dan mengendur, retensio
secundinarum terutama pada apeks uterus
bunting, dan relaksasi pelvis dan daerah
peritoneal secara berlebihan. Pada sapi perah
prolapsus uteri sering terjadi pada hewan
yang selalu dikandangkan dan melahirkan di
kandang dengan bagian belakang lebih rendah
daripada bagian depan. Penarikan paksa
memakai tenaga berlebihan menyebabkan
ketegangan sesudah pertolongan distokia.
Prolapsus sering terjadi pada sapi perah yang
sering melahirkan (Toelihere,1985).
Radang ambing atau mastitis pada
sapi perah merupakan radang yang bersifat
akut, sub akut maupun kronis. Munculnya
radang ini ditandai oleh kenaikan sel di dalam
air susu, perubahan fisik maupun susunan air
susu dan disertai atau tanpa disertai patologis
pada kelenjar mammae. Mastitis pada sapi
perah merupakan salah satu penyakit yang
sangat merugikan, karena menurunkan
kualitas dan produksi susu (Subronto, 2003).
Banyak
kerugian
yang
dapat
ditimbulkan oleh penyakit mastitis ini.
Kerugian tersebut antara lain : kehilangan
produksi susu, baik kualitas maupun
kuantitasnya; banyak sapi yang diculling.
Penurunan produksi susu per kuartir bisa
mencapai 30% atau 15% per sapi per laktasi,
sehingga menjadi permasalahan besar dalam
industri sapi perah.
Balanitis adalah keradangan yang
terjadi pada glans penis sedangkan postitis
merupakan keradangan yang terjadi pada
mukosa preputium. Kedua keradangan
tersebut umumnya terjadi bersama-sama
karena radang penis akan menulari preputium
dan sebaliknya sehingga disebut pula
sebagai balanopostitis.
Pimosis (phymosis) merupaka keadaan
dimana penis tidak dapat keluar melalui
preputium pada saat ereksi yang disebabkan
oleh penyempitan lubang preputium.

Parapimosis (paraphymosis) merupak


an keadaan penis yang tidak dapat masuk
kembali kedalam preputium setelah ereksi.
Orchitis merupakan keradangan yang
pada testis dengan tingkat kejadian yang
tergolong jarang. Umumnya radang tersebut
timbul oleh adanya infeksi mikroorganisme
dibagian sekitar testis yaitupada selaput
pembungkus testis (skrotum) atau saluran
urogenital.
Terinfeksinya
pejantan oleh
mikroorganisme penyebab penyakit kelamin
menular
karena
perkawinan
alami
memungkinkan pejantan mengalami orkhitis.

MATERI DAN METODE

Materi

Materi dalam praktikum ini adalah


seekor sapi.

Metode

Adapun metode pada praktikum ini


antara lain :
-

Signalement, merupakan data dari pasien


yang isinya umur, jenis kelamin, berat
badan dan specific pattern (tanda
khusus).
Melakukan anamnesa, yakni memberikan
pertanyaan-pertanyaan mengenai pasien
untuk memperoleh informasi yang lebih
banyak tentang pasien.
Melakukan pemeriksaan fisik berupa :
Inspeksi yaitu dengan melihat
kondisi dari tubuh hewan seperti
cermin hidung, rambut, saat tes jalan
apakah
hewan
mengalami
kepincangan atau tidak.
Palpasi yang dapat dilakukan yakni
bagaimana cermin hidung basah atau
kering atau cermin hidung basah
tetapi
mengeluarkan
lender,
kebersihan mulut, hidung, telinga,
palpasi mukosa mulut apakah pucat
atau tidak, palpasi pada daerah leher
apakah ada indikasi pembengkakan
pada organ limfoid.
Perkusi yakni dengan mengetuk
daerah-daerah tertentu seperti pada
sinus, apakah terdengan suara

resonan
yang
mengindikasikan
keadaan normal dan apabila adanya
suara pekak yang menuju kearah
adanya cairan atau eksudat.perkusi
pada daerah thoraks yang akan
menghasilkan bunyi resonan yang
disebabkan pada daerah thoraks
terdapat paru-paru yang isinya
adalah gas.
Auskultasi yakni sama halnya
perkusi, dimana pada auskultasi
dengan mendengar secara langsung
yang dapat dilakukan dengan
menggunakan stetoskop. Misalnya
suara jantung normal yakni berbunyi
Lup-Dup dan begitu seterusnya.
Menghitung dan mengukur yakni
menghitung
denyut
jantung,
frekuensi nafas, maupun pulsus dari
hewan. Mengukur dapat dilakukan
dengan mengukur berat badan, suhu
tubuh, maupun capillary refill time
atau CRT dari pasien. Pengukuran
maupun
penghitungan
dapat
dilakukan dengan menggunakan alat
seperti stethoscope, thermometer,
dan timbangan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Signalement
1. Pasien
Nama
: Gigi
Spesies
: Sapi
Ras/Breed
: FH
Kelamin/sex
: Betina
Umur/Age
: 4 tahun
Bulu dan Warna : Hitam dan putih
Tanda khusus
:2. Klien
Nama
: Rafi
Alamat : Perintis
No.Tlp : 085xxxxxxxxx
Anamnesa
Pada praktikum ini kami tidak
melakukn anamnesa karena pemilik dari
hewan yang dijadikan bahan praktikum tidak
ada di tempat atau dengan kata lain hewan
tersebut hanya kami pinjam.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan
antara lain penimbangan berat badan,
pengukuran suhu, penghitungan pulsus,
denyut jantung, frekuensi nafas, refleksi
pupil, mukosa mulut, dan capillary refill time
(CRT).
Tabel 1. Hasil pemeriksaan fisik anjing
Parameter
Suhu Tubuh
Pulsus
Frekuensi
Nafas
Denyut
Jantung

Hasil
38.7 oC
64 kali/menit

Interpretasi
Normal
Normal

64 kali/menit

Tidak normal

60 kali/menit

Normal

CRT

Cepat
kembali
dalam waktu
1 detik

Normal

Mukosa
Mulut

Tidak pucat

Normal

Mata
Hidung

Lesi pada
mata
Ada cairan
keluar

normal. Pada saat dilakukan perkusi pada


ligamentum patellaris terjadi gerakan reflex
yang artinya normal.
Auskultasi. Suara jantung normal,
tidak ada suara lain yang timbul selain lupdup serta suara yang dihasilkan oleh gerakan
peristaltik usus. Nafas tidak normal, artinya
hewan mengalami stress.
Menghitung dan Mengukur. Saat
mengukur suhu menggunakan thermometer
diperoleh hasil 39.1 oC, pulsus 64 kali/menit,
frekuensi nafas 64 kali/menit, denyut jantung
60 kali/menit dan uji tinju 6 kali/5 menit.
Pembahasan
1. Distokia
Etiologi

Tidak normal
Tidak normal

Inspeksi. Saat dilakukan tes jalan sapi


tidak mengalami kepincangan (cara berjalan
normal), cara berdiri dan duduk normal,
badan asimetris, sapi terlihat kurus (BCS 2),
rambut kotor dan terdapat banyak caplak di
badannya, rambut rontok, keluar cairan pada
hidung, mata dan vulva, terdapat lesi pada
mata serta bagian anus kotor.
Palpasi. Saat dilakukan palpasi daerah
leher, glandula parotid tidak terjadi
pembengkakan
yang
artinya
normal,
mandibula simetrsis, dilakukan uji gumba
pada thoraks normal, area abdomen normal
tidak terjadi pembengkakan, mukosa normal,
tidak ada pembengkakan pada daerah tulang
belakang dan kaki belakang.
Perkusi. Saat dilakukan perkusi pada
rongga sinus tidak terdengar suara yang
menandakan adanya eksudat atau cairan yang
artinya normal, pada rongga thoraks tidak
terdengar suara yang menandakan adanya
eksudat atau terjadinya edema yang artinya

Distokia disebabkan oleh tiga factor


antara lain fetus, induk, dan nutrisi. Factor
yang disebabkan oleh fetus seperti ukuran
fetus yang besar (oversize), malposisi dari
fetus, dan fetus ganda (kembar). Factor yang
disebabkan oleh induk seperti induk
mengalami hypocalsemia sehingga terjadi
kelemahan otot saat kontraksi, dan factor
nutrisi seperti kurangnya asupan pakan yang
menganduk nutrisi yang tinggi seperti
kurangnya kalsium, karbohidrat dan lain-lain.
Patogenesis
Distokia yang disebabkan karena fetus
yang terlalu besar akan membuat induk
kesulitan melahirkan. Hal ini disebabkan
karena lubang serviks dengan fetus tidak
memiliki hubungan yang seimbang, sama
halnya dengan faktor maternal akibat lubang
serviks yang terlalu kecil, sehingga hal ini
akan menyebabkan rasa sakit pada induk saat
berusaha untuk mengeluarkan fetus pada
proses kelahiran.
Selin itu, faktor nutrisi juga
mempengaruhi proses kelahiran, seperti saat
induk
kekurangan
kalsium
akan
mempengaruhi kerja dari otot-ototnya. Ototototnya akan melemah dan membuat induk
tidak dapat merejan dan melahirkan anaknya
dengan sendirinya.

Gejala Klinis
-

Tahapan pertama kelahiran yang lama


dan tidak progresif
Sapi berdiri dengan postur yang abnormal
selama tahap pertama kelahiran pada
kasus torsi uterus sapi dapat berdiri
dengan punggung menurun dalam
posture saw horse.
Pengejanan kuat selama 30 menit tanpa
munculnya anak sapi
Kegagalan anak sapi dikeluarkan dalam
tempo 2 jam setelah ammnion tampak
pada vulva
Malpresentasi,
malpostur
atau
maldisposisi yang nyata (misal tampak
kepala fetus tanpa kaki depan, ekor tanpa
kaki belakang, kepala dan salah satu kaki
depan)
Tampak
khorioallantois
terpisah,
mekonium fetus, atau cairan amnion
tercemar darah pada vulva. Tanda ini
menunjukkan bahwa terjadi hipoksia
pada fetus dan kematian fetus.

Diagnosa
Diagnosa dari distokia antara lain
dengan pemeriksaan klinis dan melihat
kondisi dari induk yang bunting.
Diagnosa Banding
Diagnosa banding dari distokia antara
lain mumifikasi maupun maserasi.
Terapi atau Pengobatan
-

Mutasi, mengembalikan presentasi, posisi


dan postur fetus agar normal dengan cara
didorong (ekspulsi), diputar (rotasi) dan
ditarik (retraksi)
Penarikan paksa, apabila rahim lemah
dan fetus tidak ikut bereaksi terhadap
perejanan.
Pemotongan fetus (fetotomi), apabila
presentasi, posisi dan postur fetus yang
abnormal tidak bisa diatasi dengan
mutasi/penarikan paksa dan keselamatan
induk yang diutamakan.
Operasi
Sesar
(Sectio
Caesaria),
merupakan alternatif terakhir apabila
semua cara tidak berhasil. Operasi ini
dilakukan dengan pembedahan perut

(laparotomi) dengan alat dan kondisi


yang steril.
Mutasi dapat dilakukan melalui repulsi
(pendorongan
fetus
keluar
dari
pelvisinduk
atau
jalan
kelahiran
memasuki rongga perut dan rahim
sehingga tersedia cukup ruangan untuk
pembetulan posisi atau postur fetus dan
ektremitasnya), rotasi (pemutaran tubuh
pada sumbu panjangnya untuk membawa
fetus pada posisi dorsosakral), versi
(rotasi fetus pada poros transversalnya
yaitu situs anterior atau posterior) dan
pembentulan
atau
perentangan
ekstremitas.

Prognosa
Prognosa
pada
kasus
distokia
tergantung dari tingkat keparahannya.
Prognosa untuk fetus dapat berupa fausta
apabila dapat direposisikan dengan mudah
dan dubius hingga infausta apabila fetus
sudah tidak dapat direposisikan dan
mengancam nyawa induknya. Sedangkan
prognosa untuk induknya yaitu fausta apabila
penanganannya cepat dan dubius hingga
infausta apabila kejadiannya lama baru
diketahui.
2. Pyometra
Etiologi
Pyometra dapat ditimbulkan oleh
kuman atau bakteri yang dalam keadaan
normal hidup didalam uterus dan saluran
reproduksi lain; misalnya kuman pyogenes
yang karena suatu sebab menjadi patogen.
Penyakit kelamin menular seperti brucellosis,
trichomoniasis dan vibrosis atau kuman yang
non spesifik seperti golongan coccus, coli
juga dapat menyebabkan terjadinya pyometra
pada sapi.
Patogenesis
Pyometra adalah hasil dari pengaruh
hormonal yang menurunkan ketahanan tubuh
normal terhadap infeksi. Dan hal ini sudah
dibuktikan bahwa uterus sapi lebih peka
terhadap infeksi sewaktu metestrus dibanding
dengan estrus. Kadar estrogen berlebih dalam
darah (hyper estrogenism) menyebabkan

hanya sedikit leukosit-leukosit yang tiba di


dalam mucossa saluran genital dan
menyebabkan infeksi uterus mudah terjadi.
Bakteri yang secara normal ada dalam uterus
maupun yang berasal dari luar tubuh
kemudian pindah dari vagina ke uterus
melalui aliran darah berkembang biak
diantara glandula uterina dan lumen.

peritonitis, depresi dan muntah. Selain itu


akan nampak bibir vulva yang membengkak
dan apabila terjadi toxemia sistemik maka
nampak gejala gejala klinis menyerupai
nephritis kronis yaitu polydipsi, polyuria,
muntah, depresi dan dehidrasi.

Jika bakteri tersebut sangat virulent,


sel darah putih (leukosit) tidak bisa
membunuhnya. Leukosit akan mati dan
terakumulasi sebagai nanah / pus. Nanah dan
sekresi kelenjar uterin yang tertimbun di
dalam uterus tidak dapat dikeluarkan karena
kadar progesteron yang tinggi mengakibatkan
negatif feedback (efek negatif) pada kelenjar
pituitaria anterior sehingga kadar esterogen
rendah dan kontraksi uterus berkurang. Hal
ini dibuktikan dengan ditemukannya korpus
luteum dan kista-kista folikel pada ovarium
hewan yang menderita pyometra.

Diagnosa penyakit ini didasarkan


adanya kotoran yang keluar dari alat kelamin
secara tidak teratur terutama pada waktu
berbaring. Diagnosa dapat ditegaskan dengan
pemeriksaan
darah,
biasanya
hewan
memperlihatkan
hiperlekositositosis,
penambahan globulin dan albumin darah,
karena saat anamnesa hewan banyak minum
atau muntah-muntah maka perlu diperiksa
terhadap gangguan buah pinggang dan kadar
ureum darah. Pada sapi esplorasi rektal dapat
membantu menegakkan diagnosa. Pada
eksplorasi rektal, terasa adanya pembesaran
uterus yang bersifat simetris karena cairan
nanah akan mengisi kedua kornu uteri.
Dinding uterus terasa lebih tebal dari normal
dan pada mukosa uterus tidak terasa adanya
karunkula. Arteri uterina media kecil dan
tidak ada fremitus. Bila uterus ditekan teraba
fluktuasi karena ada cairan, sedangkan bila
ditekan terus tidak teraba adanya pulsus.

Gejala Klinis
Gejala klinis pada sapi betina
penderita pyometra adalah tidak munculnya
birahi dalam waktu yang lama atau anestrus,
siklus birahi hilang karena adanya korpus
luteum persisten. Terdapat timbunan nanah
dari 200 - 20.000 ml di dalam rongga uterus
dan hanya keluar dari vagina pada waktu sapi
berbaring dan sapi akan merasakan sakit
didaerah abdomen. Suatu pengeluaran cairan
seperti nanah yang terjadi 2 3 minggu
setelah portus yang disebabkan metritis
paerpularis adalah bukan pyometra sejati.
Pyometra yang sejati adalah bila nanah yang
tertimbun dan tidak dikeluarkan selama lebih
dari 60 jam pasca melahirkan dan selama itu
birahi tidak pernah muncul. Pengeluaran
nanah ditandai adanya kotoran yang melekat
pada alat kelamin luar maupun pada ekor,
kaki belakang dan kandang. Abdomen terlihat
membesar karena uterus membesar sesuai
dengan volume nanah yang tertimbun.hal ini
dikarenakan servik uterus menutup sehingga
terjadi retensi exudat purulent dalam kornu
uteri. Tubuh sapi penderita pyometra terlihat
kurus, bulu suram, temperatur tubuh naik,
respirasi cepat pulsus naik dan turgor kulit.
Sapi tidak mau makan tetapi banyak minum
dan urinasi. Sapi juga dapat menderita

Diagnosa

Diagnosa Banding
Pyometra dari pengamatan luar dapat
dikelirukan dengan kebuntingan karena
keduanya menyebabkan pembesaran perut.
Selain kebuntingan, diagnosa yang
hampir
menyerupai
pyometra
adalah
mukometra atau hidrometra, mummifikasi
fetus, perimetritis maupun tumor cell
granuloma.
Terapi atau Pengobatan
Pengobatan awal ditujukan pada
upaya membuka cerviks dan kontraksi uterus
sehingga nanah dapat dipaksa mengalir
keluar, diikuti dengan mengadakan irigasi
dengan obat antiseptik dengan maksud untuk
membersihkan sisa-sisa dalam uterus,
kemudian diobati dengan antibiotika untuk
membunuh mikroorganisme penyebabnya.

Irigasi ke dalam saluran uterus dapat


dilakukan dengan larutan yodium 1-2%.
Stimulasi pada uterus dapat dilakukan dengan
cairan antiseptik seperti larutan lugol
sebanyak 2,5 ml yang dicampur ke dalam 250
ml aquades. Larutan ini diberikan untuk
irigasi dalam uterus. Irigasi dilakukan dengan
kateter dan larutan dikeluarkan kembali
setelah uterus dipijat.
Cara pengobatan pymetra yang lain
adalah
dengan
pembedahan,
yaitu
mengangkat seluruh uterus yang terkena
pyometra (ovariohysterektomi).
Prognosa
Prognosa pada kasus ini fausta apabila cepat
ditangani atau diketahui, sedangkan apabila
sudah lama dan terjadi toxemia sistemik yang
berasal dari isi uterus maka prognosanya bisa
berupa dubius hingga infausta.
3. Retensi Plasenta
Etiologi
Pada sapi, retensi plasenta dapat disebabkan
beberapa faktor yaitu gangguan mekanis,
maternal atau induk, kekurangan vitamin A.
Patogenesis
Gangguan mekanis yaitu selaput fetus
yang sudah terlepas dari dinding uterus, tetapi
tidak dapat terlepas dan keluar dari alat
kelamin karena masuk dalam kornu uteri yang
tidak bunting, atau kanalis servikalis yang
terlalu cepat menutup, sehingga selaput fetus
terjepit. Selain itu, induk kekurangan
kekuatan untuk mengeluarkan sekundinae
setelah melahirkan. Ini disebabkan adanya
atoni uteri pasca melahirkan. Mungkin juga
karena defisiensi hormon yang menstimulir
kontraksi uterus pada waktu melahirkan,
seperti oksitosin atau estrogen.
Atoni uteri pasca melahirkan juga bisa
disebabkan oleh berbagai penyakit seperti
penimbunan cairan dalam selaput fetus, torsio
uteri, kembar, distokia dan kondisi patologik
lainnya. Gangguan pelepasan sekundinae
yang berasal dari karankula induk juga
menyababkan retensi plasenta.

Kekurangan vitamin A salah satu yang


menyebabkan retensi plasenta, karena
kemungkinan besar vitamin A perlu untuk
mempertahankan kesehatan dan resistensi
epitel uterus dan plasenta.
Gejala Klinis
Gejala pertama yang tampak adalah
adanya selaput fetus yang menggantung diluar
alat kelamin. Kadangkadang selaput fetus
tidak keluar melewati vulva tapi tetap
menetap dalam uterus dan vagina. Sekitar 75
80% sapi dengan retensi sekundinae tidak
menunjukkan tandatanda sakit. Sekitar 2025% memperlihatkan gejalagejala metritis
seperti anorexia, depresi, suhu badan tinggi,
pulsus meningkat dan berat badan turun
(Toelihere, 1985).
Diagnosa
Diagnosa
dilakukan
berdasarkan
adanya sekundinae yang keluar dari alat
kelamin. Bila sekundinae hanya tinggal
sedikit dalam alat kelamin, diagnosa dapat
dilakukan dengan eksplorasi vaginal memakai
tangan dan dengan terabanya sisa sekundinae
atau kotiledon yang masih teraba licin karena
masih terbungkus oleh selaput fetus.
Karunkula yang sudah terbebas dari lapisan
sekundinae, akan teraba seperti beludru.
Kalau
tidak
ada
sekundinae
yang
menggantung
diluar
kelamin,
jangan
dikatakan tidak ada retensi sekundinarium.
Mungkin sekundinae masih tersisa dan
tersembunyi
didalam
rongga
uterus
(Hardjopranjoto, 1995).
Diagnosa Banding
Diagnosa bandingnya yaitu ruptur
uteri atau atoni uteri.
Terapi atau Pengobatan
Pengobatan
terhadap
retensio
sekundinarum dilakukan setelah 24-48 jam
dengan melepaskan pertautan antara kotiledon
dan karankula secara manual menggunakan
tangan yang telah dibasuh antiseptik, setelah
semua pertautan terlepas maka di dalam
uterus dimasukkan antibiotik berupa bolus
sebanyak 2 buah untuk pencegahan terhadap
infeksi
pasca
penanganan
retensio

sekundinarum. Tindakan lain yang bersifat


mendukung adalah dengan dilakukan flushing
alat
reproduksi
untuk
membersihkan
kontaminan maupun mencegah infeksi. Terapi
dengan hormon stimulus kontraksi uterus
seperti
oksitosin
maupun
derivat
prostaglandin dapat dilakukan namun menjadi
alternatif terakhir karena rentan dapat
mengakibatkan
masalah
baru
seperti
prolapsus uteri total.
Prognosa
Pada kasus tanpa komplikasi, angka
kematian sangat sedikit dan tidak melebihi 12%. Apabila ditangani dengan baik dan cepat,
maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak
terganggu.
4. Prolaps Uteri
Etiologi
Predisposisi terhadap prolapsus uteri
adalah pertautan mesometrial yang panjang,
uterus yang lemas, atonik, dan mengendur,
retensio secundinarum terutama pada apeks
uterus bunting, dan relaksasi pelvis dan
daerah peritoneal secara berlebihan.
Selain dari faktor predisposisi di atas,
prolapsus uteri dapat disebabkan oleh
berbagai faktor diantaranya sebagai berikut:
1. Tonus uteri yang buruk
Hal ini dapat diawali oleh terjadinya
hipokalsemia (penyebab inersia uteri
primer). Kurangnya tonus pada uteri
dapat menyebabkan uterus terlipat ke
dalam dan menyebabkan bagian dinding
bergerak ke arah inlet pelvis. Pengejanan
kemudian mendorong organ yang lembek
melalui vagina.
2. Peningkatan pengejanan
Hal ini disebabkan oleh kesakitan atau
ketidaknyamanan setelah melahirkan
3. Peningkatan tekanan intra-abdominal,
timpani dan rebah
4. Tarikan yang berlebihan
Tarikan yang berlebihan saat membantu
proses kelahiran dan berat dari retensi
membran fetus diduga sebagai faktor
predisposisi lainnya.

Patogenesis
Meningkatnya tekanan di dalam
rongga perut seiring perkembangan foetus
(janin sapi) dapat mendorong bagian dalam
vagina/rectum keluar rongga tubuh.
Atoni uteri pasca melahirkan disertai
kontraksi dinding perut yang kuat, mendorong
dinding uterus membalik ke luar, sedang
serviks masih dalam keadaan terbuka lebar
atau ligamentum lata uteri kendor. Bagian
belakang tubuh lebih rendah dari bagian
depan, sehingga memudahkan terjadinya
prolapsus uteri. Demikian pula kontraksi
uterus yang kuat disertai tekanan dinding
perut yang berlebihan pada waktu melahirkan,
dapat menyebabkan keluarnya fetus bersamasama selaput fetus dan dinding uterusnya.
Selain itu, retensio sekundinarium
juga menyebabkan prolaps uteri karena berat
sekundinae yang menggantung di luar tubuh
dapat menyebabkan dinding uterus ikut
tertarik keluar dan membalik diluar tubuh,
apalagi pada melahirkan masih ada tekanan
dinding perut yang cukup kuat.
Gejala Klinis
Hewan biasanya berbaring tetapi dapat
pula berdiri dengan uterus menggantung ke
kaki belakang. Selaput fetus atau selaput
mukosa uterus terbuka dan biasanya
terkontaminasi dengan feses, jerami, kotoran,
atau gumpalan darah. Uterus biasanya
membesar dan oedematous terutama bila
kondisi ini telah berlangsung 4-6 jam atau
lebih (Toelihere, 1985).
Diagnosa
Diagnosa dapat ditentukan dengan
melihat gejala klinis yaitu keluarnya uterus
dari vagina.
Diagnosa Banding
Diagnosa banding dari prolapsus uteri
ialah prolapsus ani, namun dengan melihat
organ yang keluar dan jenis kelamin dari
pasien, maka keduanya dapat dibedakan.

Terapi atau Pengobatan


Penanganan dapat dilakukan dengan
membersihkan uterus dengan air hangat agar
uterus tetap basah dan bersih sambil diangkat
perlahan dan dipertahankan agar tetap sejajar
arcus ischiadicus atau vulva. Hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi tekanan pada
ligamentum lata dan buluh-buluh darah balik
pada uterus dan mengembalikan sirkulasi
pada keadaan normal, yang mencegah
terjadinya oedema pada dinding uterus dan
membantu absorbsi dan penghilangan oedem
yang terbentuk. Uterus kemudian direposisi
dengan cara vulva dikuakkan dan pertama
bagian ventral kemudian dorsal uterus
dimasukkan, mulai dari pangkalnya di bagian
servik yang terdekat pada vulva. Pada saat
reposisi, tekanan harus diberikan dengan
telapak tangan, jari-jari diluruskan tetapi
bersatu untuk mencegah perforasi uterus,
pada akhirnya ujung ventral uterus didorong
dengan tinju melalui vulva, vagina dan servik.
Sesudah uterus kembali ke tempat semula, ke
dalam uterus dimasukkan antibiotik intra
uterin dan vulva dijahit dengan jahitan vulva
flexa.
Prognosa
Pada kebanyakan kasus dimana
kondisi ini terlihat cukup awal dan segera
dimintakan pertolongan dokter hewan, hewan
masih dapat berdiri dan uterus tidak
mengalami cedera berat, prognosa cukup
baik. Angka kematian pada kondisi ini kurang
dari 5%. Prognosa jelek biasanya berlaku
pada sapi potong yang dilepas di lapangan
rumput dan kejadian prolapsus tidak teramati.
Kesanggupan berproduksi di waktu-waktu
yang akan datang dapat berkurang apabila
tidak segera ditolong (Toelihere,1985).
5. Mastitis
Etiologi
Mastitis disebabkan oleh bakteri
spesies Staphylococcus aureus, Streptococcus
agalactiae,
Streptococcus
disgalactiae,
Streptococcus uberis, bahkan terkadang sepsis
oleh infeksi Eschericia coli. Bakteri tersebut
menginfeksi melalui pori-pori ambing yang
tidak bersih baik pra maupun pasca

pemerahan. Berdasarkan jalannya penyakit,


mastitis dibedakan menjadi mastitis subklinis
dan mastitis klinis. Bentuk subklinis
merupakan mastitis yang tidak menunjukan
perubahan yang nyata dan hanya dapat
dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium.
Patogenesis
Patogenesis mastitis dibagi menjadi
beberapa fase, yaitu: infiltrasi, infeksi, infasi
1. Fase Infasi
Masuknya organisme ke dalam puting.
Kebanyakan terjadi karena terbukanya lubang
saluran putting, terutama setelah diperah.
Infasi ini dipermudah dengan adanya
lingkungan yang jelek, populasi terlalu tinggi,
adanya lesi pada puting susu atau karena daya
tahan sapi menurun.
2. Fase Infeksi
Terjadinya pembentukan koloni oleh
mikroorganisme yang dalam waktu singkat
menyebar ke lobuli dan alveoli.
3. Fase Infiltrasi
Ditandai saat mikroorganisme sampai
ke mukosa kelenjar, tubuh akan bereaksi
dengan memobilisasi leukosit dan terjadi
radang. Adanya radang menyebabkan sel
darah dicurahkan ke dalam susu, sehingga
sifat fisik serta susunan susu mengalami
perubahan.
Gejala Klinis
Subronto (2003) menyatakan bahwa
secara klinis radang ambing dapat
berlangsung secara akut, subakut dan kronik.
Radang dikatakan bersifat subklinis apabila
gejala-gejala klinis radang tidak ditemukan
saat pemeriksaan ambing. Pada proses radang
yang bersifat akut, tanda-tanda radang jelas
ditemukan, seperti : kebengkakan ambing,
panas saat diraba, rasa sakit, warna
kemerahan dan terganggunya fungsi. Air susu
berubah sifat, seperti : pecah, bercampur
endapan atau jonjot fibrin, reruntuhan sel
maupun gumpalan protein. Proses yang
berlangsung secara subakut ditandai dengan
gejala sebagaimana di atas, namun derajatnya

lebih ringan, ternak masih mau makan dan


suhu tubuh masih dalam batas normal. Proses
berlangsung kronis apabila infeksi dalam
suatu ambing berlangsung lama, dari suatu
periode laktasi ke periode berikutnya. Proses
kronis biasanya berakhir dengan atropi
kelenjar mammae.
Diagnosa
Pengamatan secara klinis adanya
peradangan ambing dan puting susu,
perubahan warna air susu yang dihasilkan. Uji
lapang dapat dilakukan dengan menggunakan
California Mastitis Test (CMT), yaitu dengan
suatu reagen khusus (Akoso, 1996). Subronto
(2003) menambahkan diagnosis mastitis bisa
dilakukan dengan Whiteside Test.
Diagnosa Banding
Diagnosa banding dari mastitis yaitu
mastitis infeksius dan non infeksius serta
tumor mammae.
Terapi atau Pengobatan
Sebelum menjalankan pengobatan
sebaiknya
dilakukan
uji
sensitifitas.
Resistensi Staphylococcus aureus terhadap
penicillin disebabkan oleh adanya laktamase yang akan menguraikan cincin laktam yang ditemukan pada kelompok
penicillin. Pengobatan mastitis sebaiknya
menggunakan Lincomycin, Erytromycin dan
Chloramphenicol.
Disinfeksi puting dengan alkohol dan
infusi antibiotik intra mamaria bisa mengatasi
mastitis. Injeksi kombinasi penicillin,
dihydrostreptomycin, dexamethasone dan
antihistamin dianjurkan juga. Antibiotik akan
menekan pertumbuhan bakteri penyebab
mastitis, sedangkan dexamethasone dan
antihistamin akan menurunkan peradangan.
Prognosa
Umumnya prognosis dari mastitis
adalah baik atau derajat kesembuhannya 90%.

6. Balanophostitis
Etiologi
Balanitis merupakan radang pada
glans penis. Postitis merupakan radang pada
preputium. Penyakit ini disebabkan oleh virus
IBR (Infectious Bovine Rhinotracheitis) atau
IPV (Infectious Pustular Vulvovaginitis).
Virion beramplop berdiameter 120-200
nm. Kapsid ikosaheral dengan 162 kapsomer.
Genom DNA dibungkus oleh inti fibrosa
serupa kumparan yang berbentuk busur dan
tampak dikelilingi oleh serabut berpangkal
pada bagian dalam dari kapsid yang
mengelilinginya dan melewati lubang dari
busur (Fenner, 1993).
Patogenesis
Pada saat sapi jantan tersebut kawin
dengan sapi betina yang mengalami
vulvovaginitis maka sapi jantan akan
terinfeksi oleh bakteri dari sapi betina. Dua
sampai tiga hari pasca penularan timbul
banyak lepuh (pustule) berwarna putih keabuabuan di permukaan penis, permukaan
tersebut akan mengelupas dan mengalami
erosi. Sedangkan, pada sapi yang awalnya
sudah mengalami paraphymosis, kemudian
terjatuh maka bagian penis akan mengalami
luka, kemudian akan membentuk erosi pada
preputium dan glans penis.
Gejala Klinis
Terdapat cairan mukopurulen dari
preputium. Dua sampai tiga hari pasca
penularan timbul banyak lepuh (pustule)
berwarna putih keabu-abuan di permukaan
penis. Permukaan tersebut akan mengelupas,
mengalami erosi, kemudian menghilang.
Kesembuhan terjadi setelah 5-6 hari pasca
penularan(Noakes, 2001).
Secara mikroskopis, lepuh yang
ditimbulkan menghasilkan reruntuhan dari
lapisan epitel dari permukaan penis dan
preputium, serta akumulasi dari sel-sel radang
dengan kumpulan partikel virus (inclusion
body) dari jaringan di sekitarnya. Pada infeksi
kronis, lepuh jarang ditemukan (Noakes,
2001).

Infeksi
penis
oleh
kuman
campylobacter
tidak
mengakibatkan
perubahan yang spesifik pada mukosanya.
Sedangkan infeksi trichomonas fetus pada
hewan jantan dapat menimbulkan abses
ringan
pada
epitel
mukosa
penis.
Balanopostitis akibat penyakit tuberkulosa
bersifat spesifik karena adanya tuberkeltuberkel yang berdiameter 1-2 mm, berwarna
cokelat kemerahan di dalam lapisan epitel dan
subkutan yang mengelilingi permukaan glans
penis (Noakes, 2001).
Diagnosa
Berdasarkan
gejala
klinis,
pemeriksaan fisik dan adanya cairan
mukopurulen yang keluar dari preputium.
Temuan klinis, saat dilakukan inspeksi
preputium dan penis tampak merah, bengkak,
terdapat luka, adanya cairan mukopurulen
dari preputium dan saat dipalpasi bagian
preputium dan penis, hewannya akan sangat
sensitif biasanya langsung menendang karena
akan merasakan sakit.
Diagnosa Banding
Adapun diagnosa banding dari
penyakit tersebut adalah hematoma penis,
neoplasma penis, prolapsus prepusialis,
frenulum persisten penis.

7. Pimosis
Etiologi
Pimosis (phymosis) merupakan
keadaan dimana penis tidak dapat keluar
melalui preputium pada saat ereksi yang
disebabkan oleh penyempitan lubang
preputium.
Patogenesis
Trauma langsung yang terjadi pada
preputium akan berakibat terbentuknya
tenunan parut yang berlebihan diikuti
pembentukan sikatrik.
Gejala Klinis
Gejala yang timbul berupa bentuk
lubang preputium abnormal yaitu menjadi
lebih sempit sehingga penis tidak dapat keluar
sempurna melalui lubang tersebut pada saat
ereksi. Jaringan sikatrik dapat dirasakan
melalui palpasi pada mukosa lubang
preputium. Kesulitan pada saat buang air
kecil, ereksi yang menyakitkan, serta tidak
dapatnya hewan berkopulasi.
Diagnosa
Dengan melihat gejala-gejala klinis
seperti yang tertera di atas dan pemeriksaan
fisik.

Terapi atau Pengobatan


Diagnosa Banding
Dilakukan pencucian penis dan
preputium secara berkala dengan cairan
antiseptic ringan 2-3 kali sehari. Pemberian
antibiotik secara lokal umumnya memberikan
kesembuhan karena balanopostitis seringkali
disebabkan oleh infeksi lebih dari satu
mikroorganisme (Noakes, 2001).
Prognosa
Pada kebanyakan kasus prognosa
balanopostitisa dalah fausta, akan tetapi
kesembuhan secara sempurna tidak mungkin
terjadi. Kerusakan yang berat menyebabkan
sikatrik pada lapisan mukosa preputium
maupun penis. Perlekatan penis dengan
preputium yang ditimbulkan oleh keadaan ini
barakibat pada hilangnya kemampuan
pejantan untuk berkopulasi.

Diagnosa banding dari penyakit ini


yaitu blanitis, dimana terjadi pembengkakan
gland penis dari dalam sehingga penis sulit
untuk keluar. Selain dari itu,
diagnosa
bandingnya yaitu tumor dan hematoma.
Terapi atau Pengobatan
Terapi dilakukan dengan mengincisi
melebarkan lubang preputium atau dengan
cara insisi pada tumor dan hematoma apabila
penyebabnya merupakan dua hal tersebut.
Selain itu dapat pula pemberian berupa salep
steroid, yang bisa dioleskan secara lokal.
Pengobatan
ini
mencapai
tingkat
kemsembuahn 70%. Salep digunakan untuk
melemaskan kulup agar bisa membuka dan
menutup kepala penis.

Prognosa
Pada kebanyakan kasus prognosanya
baik, akan tetapi kesembuhan secara
sempurna tidak mungkin terjadi.
8. Parapimosis
Etiologi
Beberapa keadaan seperti strangulasi
penis, neoplasia penis, hematoma penis serta
masuknya rambut yang tumbuh disekitar
preputium berakibat mempersempit lubang
preputium
sehingga
mengakibatkan
terjadinya parapimosis.
Patogenesis
Kekusutan dan lebatnya rambut
disekitar penis menyebabkan rambut tersebut
akan masuk ke preputium sehingga
menyebabkan lubang preputium menyempit
akibat terisi rambut sehingga hewan akan
kesulitan memasukkan penisnya kembali.
Penis yang berada diluar terus-menurus dapat
dengan mudah terinfeksi bakteri sehingga
akan menjadi bengkak dan hewan lebih sulit
memasukkannya lagi.
Gejala Klinis
Terlihatnya penonjolan gland penis
dari luar yang besar dan biasa pula disertai
peradangan (penis memerah) dan tidak dapat
masuk kembali ke preputium, dan juga
kesakitan dalam buang air serta kesulitan saat
kopulasi.
Diagnosa
Berdasarkan anamnesa menyeluruh
dan pemeriksaan fisik serta dari gejala klinis
yang ada.
Diagnosa Banding
Diagnosa banding dari penyakit ini
yaitu blanopostitis.
Terapi atau Pengobatan
Reduksi manual biasanya merupakan
pilihan pengobatan pertama. Untuk membantu
mengatasi rasa sakit, dokter mungkin
menggunakan
krim
anestesi
lokal,

memberikan obat nyeri atau menerapkan blok


anestesi lokal untuk penis. Lalu Injeksi lokal
anti inflamasi dan antibiotik yang efektif
dalam mengurangi pembengkakan, serta.dapat
pula dilakukan operasi dengan menyobek
preputium.
Prognosa
Pada kebanyakan kasus prognosanya
baik, akan tetapi kesembuhan secara
sempurna tidak mungkin terjadi.
9. Orchitis
Etiologi
Orchitis adalah radang pada testis.
Disebabkan
oleh
bakteri Brucella.Brucella spesies bakteri kecil
(0,6 0,6 sampai 1,5 m), non-motil, gram
negative, aerobic, non-hemolitik, capnophilik
dan katalase positif. Semua spesies Brucella
urease kecuali B.ovis. Pada isolasi primer,
koloni B. abortus, B. melitensis dan B.
suis muncul dalam bentuk smooth dan kecil,
berkilau, kebiruan, dan tembus cahaya setelah
inkubasi untuk 3-5 hari. Kontrasnya, isolate
primer B. ovis dan B. canis selalu muncul
dalam bentuk rough. Koloni rough ini tumpul,
kekuningan, opaque dan rapuh (Quinn, 2002).
Patogenesis
Brucella
abortus
mempunyai
predileksi di testis dan glandula aksesoria
genital jantan, limfoglandula. Setelah terjadi
invasi bakteri dalam tubuh, lokalisasi awal
bakteri terjadi di limfoglandula dan menyebar
ke jaringan limfoid lain, meliputi limpa dan
limfoglandula iliaca. B. abortus difagosit oleh
makrofag dan neutofil dalam upaya untuk
mengeleminasi organism. Namun, bakteri
tersebut mampu bertahan dan bereplikasi.
Fagositosis bermigrasi melalui simtem
limfatik menuju ke nodus limfatikus dimana
infeksi Brucella menyebabkan sel lisis dan
nodus limfatikus hemoragi 2-3 minggu
setelah terekpose. Karena terjadi kelukaan
pada pembuluh darah, beberapa bakteri
masuk ke peredaran darah dan terjadi
bakteremia yang menyebarkan secara
pathogen ke seluruh tubuh (Smith, 2009).

Terdapat 3 bentuk orchitis :


1. Orchitis intratubuler : sel epitel tubulus
seminiferus rusak dan diganti sel radang
2. Orchitis interstitial : infiltrasi sel radang
diantara tubulus seminiferus, dipisahkan
jaringan sehingga testis kenyal
3. Orchitis nekrotik : spesifik pada penderita
brucellosis, testis mengalami nekrosis,
mengalami sedikit pengapuran (Smith,
2009).
Gejala Klinis
Gejala klinis orchitis biasanya lebih
sering bersifat unilateral daripada bilateral
dan dapat menyerang epididymis. Pada fase
akut, testis yang terinfeksi akan mengalami
radang
dengan
gejala
hyperaemia,
peningkatan suhu, dan pembengkakan. Testis
akan tampak membesar hingga 2-3 kali
ukuran normal, demam, sakit saat dipalpasi,
libido turun, pada kasus kronis testis
mengecil, konsistensi keras. Fibrotic, abses,
dan melekat ke skrotum. Infeksi dapat bersifat
purulent dengan abses di parenkim testis atau
nekrotik jika keseluruhan parenkim sudah
hampir rusak (Noakes, 2001). Peningkatan
suhu testis, kongesti, dan gangguan sirkulasi
dapat
menyebabkan
ischemia
dan
infark Semakin
parah
menyebabkan
kemajiran (Smith, 2009).
Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan dengan
memperhatikan gejala klinis, melakukan
biopsi terhadap testis, uji serologis,
pemeriksaan pada sperma. Dapat juga
dilakukan pemeriksaan biakan kuman.Uji
serologis dapat dilakukan dengan uji
aglutinasi serum (SAT Serum Aglutination
Test) dan CFT (Complement Fixation Test)
(Subronto, 2003).

khloromisetin dan aureomisin dan dengan


istirahat kelamin sampai keradangan tersebut
berakhir. Pada kasus akut unilateral testis
yang meradang sebaiknya diangkat untuk
mencegah perubahan degenerasi pada testis
yang lain atau dengan kata lain kastrasi.
Prognosa
Pada kebanyakan kasus prognosanya
baik, akan tetapi kesembuhan secara
sempurna tidak mungkin terjadi.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari praktikum ini
antara lain :
-

Diagnosa Banding
Adapun diagnose banding orchitis
adalah epididimitis.
Terapi atau Pengobatan
Pengobatan menggunakan antibiotik
berdasarkan pada macam mikroorganisme
penyebabnya. Pengobatan menggunakan

Distokia adalah suatu gangguan dari


suatu proses kelahiran atau partus, yang
mana dalam stadium pertama dan
stadium kedua dari partus itu keluarnya
fetus menjadi lebih lama dan sulit,
sehingga menjadi tidak mungkin kembali
bagi induk untuk mengeluarkan fetus
kecuali dengan prtolongan manusia.
Pyometra berarti peradangan kronis dari
mucosa uterus (endometrium) yang
disebabkan oleh adanya infeksi dan
ditandai dengan adanya pengumpulan
nanah dalam uterus, serta dapat
menyebabkan gangguan reproduksi yang
bersifat
sementara
(infertil)
atau
permanen (kemajiran).
Retensi plasenta adalah kejadian patologi
dimana selaput fetus tidak keluar dari alat
kelamin induknya dalam waktu 112 jam
setelah kelahiran anaknya.
Prolapsus uteri adalah mukosa uterus
keluar dari badan melalui vagina secara
total ada pula yang sebagian.
Radang ambing atau mastitis pada sapi
perah merupakan radang yang bersifat
akut, sub akut maupun kronis.
Munculnya radang ini ditandai oleh
kenaikan sel di dalam air susu, perubahan
fisik maupun susunan air susu dan
disertai atau tanpa disertai patologis pada
kelenjar mammae.
Balanitis adalah keradangan yang terjadi
pada glans penis sedangkan postitis
merupakan keradangan yang terjadi pada
mukosa preputium. Kedua keradangan
tersebut umumnya terjadi bersama-sama

karena radang penis akan menulari


preputium dan sebaliknya sehingga
disebut pula sebagai balanopostitis.
Pimosis (phymosis) merupaka
keadaan
dimana penis tidak dapat keluar melalui
preputium pada saat ereksi yang
disebabkan oleh penyempitan lubang
preputium.
Parapimosis (paraphymosis) merupakan
keadaan penis yang tidak dapat masuk
kembali kedalam preputium setelah
ereksi.
Orchitis merupakan keradangan yang
pada testis dengan tingkat kejadian yang
tergolong jarang.

DAFTAR PUSTAKA
Carruthers, P. 2006. Reproductive Anomaly
of
the
Breeding
Bulls. CAB
International, London.
Fenner, J. Frank. 1993. Virologi Veteriner.
New York : Academic Press.
Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran
Pada Ternak. Airlangga University
Press. Surabaya.
Jackson
P.G.G,
2007. Handbook
of
Veterinary Obstetrics. Philadelphia :
Elsevier Saunder Company.
Noakes.
2001. Arthurs
Reproduction
and
8th edition. Philadelphia
Elsevier, USA.

Veterinary
Obstetrics
: Saunders

Quinn, P.J., 2001. Veterinary Microbiology


and Microbial Disease. Philadelphia
:Blackwell
Putro, P.P., Prihatno, S.A., Setiawan, E.M.N.
2012. Petunjuk Praktikum Ruminansia
I Blok 115. Bagian Reproduksi Dan
Kebidanan. Fakultas
Kedokteran
Hewan UGM: Yogykarta.
Smith, J. 2007. Reproductive disorders of Bos
taurus
bulls
in
the
tropic. Theriogenology 82: 130-136.
Yogyakarta, 27 Juli 2009.
Subronto. 2004. Ilmu Penyakit Ternak I.
UGM Press: Yogyakarta

Toelihere MR. 1985. Fisiologi Reproduksi


pada Ternak. Penerbit Angkasa:
Bandung.

Anda mungkin juga menyukai