Anda di halaman 1dari 11

Heat exchanger

Peralatan Pengolahan Migas 1

Annasit : 19810601 200604 1 001

Penempatan Fluida di Shell & Tube HE


Alasan utama
Penempatan fluida di shell-side atau pun tube-side akan sangat
berhubungan dengan beberapa hal, yaitu :
Maintainability
kemudahan dalam perbaikan
Operability kemudahan dalam pengoperasian
Reliability kemuadahan dalam menjaga kehandalannya
Constructability
kemudahan dalam pembuatan
Safety
alasan keamanan
Economy alasaan ekonomi
Berikut disampaikan urut-urutan konsideran yang digunakan
untuk menentukan penempatan fluida (berdasarkan urutan tingkat
priorotasnya).
Masnasit

Tube-side
1. Korosi

Fluida korosif sebaiknya dialirkan di tube-side untuk


menghindari korosi pada kedua sisi, yaitu pada permukaan
dalam shell dan pada permukaan luar tube. Jika fluida
korosif dialirkan di tube, maka hanya permukaan tube
bagian dalam saja yang mengalami korosi.
Jika terjadi kebocoran pada tube, maka prop tube
(penutupan kedua ujung tube dengan cara mengelas) dapat
dilaksanakan. Jumlah tube yang di-prop maksimum 10 %
atau tergantung kebutuhan perpindahan panasnya. Hal ini
sesuai dengan filosofi design yang memberikan relaksasi
untuk perpindahan panas sebesar 10 20% terhadap
kebutuhan aktualnya.
Masnasit

Tube-side
2. Sediment/ Suspended Solid / Fouling

Fluida korosif sebaiknya dialirkan di tube-side untuk


menghindari korosi pada kedua sisi, yaitu pada permukaan
dalam shell dan pada permukaan luar tube. Jika fluida
korosif dialirkan di tube, maka hanya permukaan tube
bagian dalam saja yang mengalami korosi.
Jika terjadi kebocoran pada tube, maka prop tube
(penutupan kedua ujung tube dengan cara mengelas) dapat
dilaksanakan. Jumlah tube yang di-prop maksimum 10 %
atau tergantung kebutuhan perpindahan panasnya. Hal ini
sesuai dengan filosofi design yang memberikan relaksasi
untuk perpindahan panas sebesar 10 20% terhadap
kebutuhan aktualnya.
Masnasit

Best Practice Oil Refinery


Best Practice fouling factor untuk Oil Refinery (hr.ft2.F/Btu)
Gas dan vapor di Crude dan Vacuum unit :
Atmospheric tower overhead vapours : 0,001
Light naphtha : 0,001
Vacuum overhead vapours : 0,002
Crude oil (0 s/d 232 oC)
velocity < 2 ft/s : 0,003
velocity 2 s/d 4 ft/s : 0,002
velocity > 4 ft/s : 0,002
Gasoline : 0,002
Naphtha/light distillate/kerosene/light gas oil : 0,002 - 0,003
Heavy gas oil : 0,003 - 0,005
Heavy fuel oil : 0,005 - 0,007
Kerosene : 0,002 - 0,003

Masnasit

Shell-side
3. Viskositas

Koefisien heat transfer yang lebih tinggi dapat diperoleh


dengan menempatkan fluida yang lebih viscous pada shell
side sebagai hasil dari peningkatan turbulensi akibat aliran
crossflow (terutama karena pengaruh baffles). Biasanya
fluida dengan viscosity > 2 cSt dialirkan di shell side untuk
mengurangi luas permukaan perpindahan panas yang
diminta. Koefisien perpindahan panas yang lebih tinggi
terdapat pada shell side, karena aliran turbulen akan terjadi
melintang melalui sisi luar tube dan baffle.

Masnasit

Tube-side
4. Pressure

Kecuali dipengaruhi oleh faktor lain, maka fluida dengan


pressure yang lebih tinggi sebaiknya dialirkan di tube,
sehingga shell dapat didesain untuk tekanan operasi yang
lebih rendah dan heat exchanger menjadi lebih murah. Jika
fluida dengan pressure yang lebih tinggi dialirkan di shell
side, maka baik shell maupun tube bundle harus didesain
untuk pressure yang tinggi. Sedangkan jika fluida dengan
pressure yang lebih tinggi ditempatkan pada tube side,
maka bagian-bagian yang harus didesain pada tekanan
tinggi hanya channel, channel cover, dan tube bundle saja.
Alasan lain adalah karena tekanan kerja yang diberikan
pada internal tube dua kali tekanan kerja external tube.
Masnasit

Shell-side
5. Condensing Vapor

Biasanya condensing vapours dialirkan di shell side untuk


memfasilitasi penghilangan condensate.

Masnasit

Tube-side
6. Temperature
Kecuali dipengaruhi oleh faktor lain, biasanya lebih ekonomis
meletakkan fluida dengan temperatur lebih tinggi pada tube side, karena
panasnya ditransfer seluruhnya ke arah permukaan luar tube/ke arah
shell sehingga akan diserap sepenuhnya oleh fluida yang mengalir di
shell. Jika fluida dengan temperatur lebih tinggi dialirkan pada shell side,
maka transfer panas tidak hanya dilakukan ke arah tube, tapi ada
kemungkinan transfer panas juga terjadi ke arah luar shell alias ke
lingkungan (pengaruhnya relatif kecil, makanya jadi prioritas terakhir
untuk dipertimbangkan).
Pertimbangan yang lain dapat diambil bila memang menginginkan
adanya transfer panas ke sekeliling (biasanya fluida panas yang
membutuhkan adanya pendinginan) exchanger sebagai cooling,
biasanya menempatkan hot stream di shell sehingga terjadi perpindahan
panas ke tube (cool stream) dan ke lingkungan.

Masnasit

Best Practice
Best practice penempatan fluida di shell atau di tube

Fluida yang mengalir pada shell :


Condensing vapours
Allowable pressure drop yang lebih rendah
Jumlah aliran yang lebih besar dengan sifat fisis yang sama dengan
fluida di tube
Fluida viscous yang clean
Vaporizing

Fluida yang mengalir pada tube :


Cooling water
Fluida tekanan tinggi
Fluida korosif/alloy construction

Masnasit

10

Best Practice
Cooling Water Exchanger

Khusus untuk cooling water, pertimbangkan penggunaannya


jika temperatur proses tinggi, karena temperatur proses
yang tinggi dalam water-cooled exchanger dapat
menyebabkan :
Overheating cooling water pada tube wall (akan
menyebabkan mineral scaling)
Perbedaan temperatur yang tinggi antara shell dan tube
(mechanical problem)
Best practice-nya, jangan gunakan cooling water jika fluida
panas > 200 C untuk mencegah terjadinya fouling yang
disebabkan oleh hardness salts dalam air. Selain itu,
temperatur air keluar dibatasi maksimum 50 C.
Masnasit

11