Anda di halaman 1dari 8

Masalah gigi ibu hamil picu kelahiran

prematur
Sabtu, 6 Juli 2013 01:54 WIB | 2469 Views
Pewarta: Maria Rosari

Ilustrasi. Kesehatan Gigi Dan Mulut. Petugas medis memeriksa kondisi kesehatan mulut dan
gigi seorang warga saat kegiatan bakti sosial di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Rabu (5/6). Kegiatan
tersebut guna meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memelihara dan memeriksakan gigi
secara rutin. (ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)
Sayangnya, menurut Riset Kesehatan Dasar 2007, hanya 13,3 persen masyarakat Indonesia
yang rutin memeriksakan gigi setiap enam bulan sekali ke dokter gigi. Ini sangat
memprihatinkan,"

Jakarta (ANTARA News) - Masalah gigi dan mulut pada ibu hamil dapat memicu terjadinya
kelahiran lebih awal atau prematur, bahkan keguguran sebagaimana dikatakan Ketua
Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Drg Zaura Anggraini.
"Ibu hamil dengan kondisi gigi yang mengalami kerusakan parah akan merangsang keluarnya
hormon prostaglandin," jelas Zaura pada jumpa pers di Jakarta, Jumat malam.
Hormon prostaglandin ini bersifat merangsang timbulnya kontraksi pada rahim, sehingga bila
rahim terus menerus mengalami kontraksi maka kelahiran prematur bahkan keguguran dapat
terjadi.
Perubahan hormon yang dialami oleh ibu hamil dapat menyebabkan kondisi gusi menjadi
lebih lunak sehingga dapat memicu terjadinya peradangan gusi, terutama pada ibu hamil
dengan kondisi gigi dan mulut yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik.
"Ini diawali dengan tanda gusi berdarah, meskipun seringkali dianggap sepele, tapi ini bisa
berbahaya," jelas Zaura.
Zaura memaparkan bahwa gusi berdarah sudah menandakan adanya peradangan gusi. "Kalau
terjadi pendarahan gusi pada saat menyikat gigi, berarti ada yang belum bersih sehingga
terjadi inflamasi," jelas Zaura.
Oleh sebab itu bila saat menyikat gigi terjadi pendarahan sebaiknya jangan takut dan teruskan
menyikat gigi supaya bersih, karena kondisi ini menandakan adanya plak atau sisa makanan
yang masih menempel.
Lebih lanjut Zaura juga menjelaskan bahwa perubahan hormon pada ibu hamil dapat
mempengaruhi kesehatan mulut dan gigi.

Sebagai contoh, ibu hamil yang pada trimester pertama sering mengalami mual dan muntah
akan mengalami kelebihan liur.
Bila tidak rajin berkumur dan menyikat gigi, maka kuman dan bakteri di sekitar gigi dan
mulut akan lebih mudah tumbuh, bau mulut (halitosis) dan jamur atau sariawan pada rongga
mulut juga akan lebih mudah terjadi.
Zaura mengemukakan bahwa kondisi ini dapat dicegah dengan merawat dan menyikat gigi
setidaknya dua kali sehari yaitu saat pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
Pada malam hari, aktivitas mulut berkurang dan secara otomatis air liur juga berkurang. Hal
ini mengakibatkan jumlah bakteri di dalam mulut meningkat dua kali lipat.
"Sisa makanan lalu akan difermentasi oleh bakteri menjadi asam. Nah, asam inilah yang
berbahaya karena melarutkan mineral gigi sehingga mengakibatkan karies serta masalah
mulut dan gigi lainnya," kata dia.
Oleh sebab itu sebelum masa kehamilan, kaum perempuan juga sangat dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan gigi secara berkala atau setiap enam bulan sekali ke dokter gigi.
"Sayangnya, menurut Riset Kesehatan Dasar 2007, hanya 13,3 persen masyarakat Indonesia
yang rutin memeriksakan gigi setiap enam bulan sekali ke dokter gigi. Ini sangat
memprihatinkan," keluh Zaura.
Zaura mengemukakan bahwa masyarakat seharusnya sadar akan pentingnya merawat dan
menjaga kesehatan gigi, karena menurut dia gigi merupakan salah satu organ penting yang
dapat memengaruhi kesehatan.
(M048/Z002)
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT 2013
http://www.antaranews.com/berita/383778/masalah-gigi-ibu-hamil-picu-kelahiran-prematur

30 Agustus 2013 | 22:55 wib


Angka Kematian Ibu Hamil di Jateng Tinggi

2
SEMARANG, suaramerdeka.com - Angka kematian ibu saat proses melahirkan di Jawa
Tengah tergolong tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hingga triwulan kedua
atau Juni jumlahnya mencapai 359 kasus.
Sementara sampai Agustus ini kasusnya mencapai 408 kematian ibu. Jumlah ini diperkirakan
terus meningkat sehingga dapat melampaui angka kematian ibu tahun lalu sebanyak 675
kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Anung Sugihantono, mengatakan penyebab umum
kematian ibu saat proses melahirkan karena pra eklamsi dan eklamsi yang banyak disebut
keracunan kehamilan. Sementara faktor pendaran sudah mulai menipis. Faktor lain adalah
penyakit-penyakit yang diderita ibu hamil sebelum mengandung.
"Dari sisi akses dan sumber daya manusia tidak ada masalah. Tetapi fokusnya pada
peningkatan kualitas pelayanan," ujarnya dalam Halal Bi Halal dan HUT Ikatan Bidan
Indonesia ke-62, di Gedung Wanita Semarang, Jumat (30/8).
Sumber pembiayaan juga diniali Anung telah mencukupi dengan adanya Jaminan Persalinan
(Jampersal). Sehingga fokusnya pada pelayanan. Pihaknya berharap ada kolaborasi dan
intervensi bidan dan dokter, sehingga kasus kematian ibu hamil ini bisa ditekan.
"Hal-hal kecil yang perlu dibenahi seperti pengisian buku kontrol pemeriksaan kehamilan ini
agar diperhatikan. Meski sepele, tetap harus diisi saat pemeriksaan. Agar kehamilan tetap
bisa dikontrol," katanya.
Jumlah angka ini belum bisa disimpulkan secara utuh, karena menunggu jumlah angka
kehamilan di akhir tahun. Tetapi menjadi peringatan bagi petugas kesehatan agar waspada
dengan tingginya angka kematian ibu hamil di Jawa Tengah.
"Saya berharap bidan terus meningkatkan mutu pelayanan dan memperhatikan masalah ini
secara serius," ujarnya.
Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jawa Tengah, Imbarwati, akan merespon tingginya angka
kematian ibu hamil ini, sebab sebagai garda terdepan dalam proses persalinan. Pihaknya akan
terus membina dan meningkatkan kinerja bidan agar ikut mampu menekan angka kematian
ibu.
( Zakki Amali / CN38 / SMNetwork )
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/08/30/170168/Angka-KematianIbu-Hamil-di-Jateng-Tinggi

Obesitas pada Ibu Hamil Pengaruhi


Kesehatan Bayi
Penulis : Rosmha Widiyani | Kamis, 15 Agustus 2013 | 06:56 WIB
Selain rutin memeriksakan kehamilan perkaya juga wawasan.
Kompas.com - Para ibu hamil disarankan untuk tetap menjaga berat badannya dalam batas
yang normal. Ibu hamil yang mengalami kelebihan berat badan dan digolongkan obesitas
lebih beresiko memiliki anak yang berumur pendek.
Sebuah penelitian mengungkapkan, anak yang lahir dari ibu obesitas beresiko lebih tiga kali
lebih besar untuk meninggal sebelum berusia 55 tahun, dibanding dengan anak yang ibunya

memiliki berat badan normal.


Selain itu, anak dari ibu yang gemuk juga 29 persen lebih berisiko dirawat di rumah sakit
karena serangan jantung, sesak, dan stroke. Penelitian sebelumnya menunjukkan, ibu yang
obesitas beresiko memiliki anak yang rentan gemuk dan juga menderita diabetes.
Salah satu teori menyebutkan, kelebihan berat badan saat hamil menyebabkan perubahan
permanen pada kontrol makan dan perubahan metabolisme energi pada janin yang belum
dilahirkan. Perubahan ini akan mengakibatkan timbulnya masalah jantung di masa
mendatang.
Penelitian tersebut dilakukan tim dari Universitas Aberdeen dan Edinburgh, Inggris, yang
menggunakan responden 28.540 ibu hamil. Sekitar 21 persen responden mengalami
kelebihan berat badan, sedangan 4 persen menderita obesitas.
Berat badan ibu didata saat pertama kali menjalani pemeriksaan kehamilan. Beberapa tahun
kemudian, para peneliti melacak data kematian anak-anak yang lahir tersebut.
Hasilnya, dari sekitar 37.709 anak yang lahir, sekitar 6.551 anak meninggal. Penyebab
tertinggi adalah karena sakit jantung, dengan 24 persen pada laki-laki dan 13 persen pada
perempuan. Sedangkan kanker menyebabkan kematian pada 1/4 laki-laki dan 2/5 perempuan.
Hasil ini mengindikasikan, anak dengan ibu yang memiliki indeks massa tubuh 30 atau lebih
selama kehamilan berpotensi meninggal sebelum berusia 55 tahun.
Dalam laporan yang dimuat dalam British Medical Journal para peneliti menulis, hasil
penelitian ini menjadi kekhawatiran kesehatan publik terbesar. Terlebih sekitar 20 persen
wanita di Inggris yang berusia subur mengalami obesitas. Sedangkan sepertiga wanita
kegemukan.
"Harus dilakukan tindakan agar para ibu muda dan anaknya dapat menjaga berat badan
sehingga risiko penyakit kronik tidak diturunkan antar generasi," kata Dr Sohinee
Bhattacharya dari University of Aberdeen.
Studi ini juga memperlihatkan pentingnya wanita memulai kehamilan dengan berat badan
normal.
Sumber :
www.dailymail.co.uk
Editor :
Lusia Kus Anna
http://health.kompas.com/read/2013/08/15/0656429/Obesitas.pada.Ibu.Hamil.Pengaruhi.Kesehata
n.Bayi

Waspada Pendarahan Saat Hamil,


Penyebab Kematian Ibu Terbanyak

Merry Wahyuningsih - detikHealth


Kamis, 26/09/2013 19:28 WIB

Jakarta, Tingginya angka kematian ibu paling banyak disebabkan karena mengalami kehamilan yang
berisiko. Salah satunya adalah karena pendarahan, penyebab kematian ibu terbanyak di Indonesia.
Badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), memperkirakan 500.000 ibu meninggal
setiap tahunnya sebagai akibat langsung dari kehamilan. Angka ini muncul mayoritas dari negaranegara berkembang; angka kematian ibu (AKI) mencapai sekitar 600 per 100.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan survei SDKI tahun 2012, AKI di Indonesia mencapai 359 kematian per 100.000 kelahiran
hidup. Jumlah ini meningkat dibanding data SDKI tahun 2007 yang besarnya 228 kematian, dan
masih merupakan yang tertinggi di Asia.
Selain masih rendahnya kesadaran akan kesehatan ibu hamil, beberapa penyebab kematian ibu
melahirkan antara lain pendarahan, hipertensi saat hamil atau preeklamsia, dan infeksi.
Pendarahan, terutama pada kehamilan muda, adalah komplikasi yang paling sering terjadi.
Umumnya pendarahan terjadi pada trimester pertama kehamilan. Namun pendarahan juga bisa
mengindikasikan keguguran, atau masalah lain yang bisa mengancam nyawa ibu dan bayi.
"Yang paling banyak menyebabkan kematian ibu adalah pendarahan, setelah itu baru pre eklampsia
(tekanan darah tinggi pada masa kehamilan)," jelas Dr dr. Bramundito Sp.OG, Spesialis Kebidanan
dan Kandungan RSPI-Pondok Indah.
Hal ini disampaikannya dalam acara Press Gathering 'Antenatal Care untuk Antisipasi Risiko
Kehamilan', di Ritz Carlton Hotel Pacific Place, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Kamis (26/9/2013).
Pendarahan dalam jumlah sedikit seperti bercak-bercak pada kehamilan minggu ke 7-9 merupakan
hal yang normal karena implantasi embrio pada dinding rahim menyebabkan dinding rahim
melepaskan sejumlah kecil darah dan berlangsung satu hingga dua hari. Mengangkat beban berat,
aktivitas berlebih atau hubungan seksual juga dapat menyebabkan terjadinya pendarahan dan
biasanya akan hilang setelah beristirahat cukup.
"Namun, pendarahan pada awal kehamilan juga perlu diwaspadai karena bisa jadi merupakan
ancaman keguguran," jelas dr Azen Salim, Sp.OG-KFM, Spesialis Kebidanan dan Kandungan,
Konsultan Fetomaternal RSPI-Pondok Indah.
Jika mengalami pendarahan hebat yang diikuti dengan kram perut atau disertai keluarnya darah
beku atau jaringan fetus, maka kemungkinan sang ibu mengalami keguguran. Untuk itu, walaupun
normal dialami pada kehamilan awal, para ibu tetap harus memeriksakan diri ke dokter untuk
menghindari terjadinya komplikasi kehamilan lain.

Penyebab lain pendarahan adalah plasenta previa, yaitu suatu kondisi di mana pertumbuhan
plasenta atau ari-ari sebagai pemberi nutrisi dan oksigen bagi janin, terletak pada dinding rahim
bagian bawah dan menutupi seluruh atau sebagian dari mulut rahim.
Gejala utama dari plasenta previa adalah pendarahan yang terjadi secara tiba-tiba dan kadangkala
disertai dengan adanya kontraksi. Pendarahan seringkali terjadi pada akhir trimester II atau awal
trimester III. Pendarahan dapat hanya berupa sedikit tetesan darah hingga jumlah darah yang cukup
banyak melebihi pendarahan saat haid.
Ibu hamil dengan plasenta previa dianjurkan untuk mengurangi aktivitas fisik, bed rest total bagi
wanita hamil dengan riwayat perdarahan banyak dan berulang, tidak berhubungan seksual selama
sisa waktu kehamilan, tidak memasukkan tampon vagina, dan tidak melakukan pembersihan vagina
dengan menyemprotkan cairan menggunakan aplikator tertentu.
Untuk mengantisipasi masalah-masalah yang muncul saat kehamilan, para ibu membutuhkan
kualitas Antenatal Care (ANC) yang baik dari dokter yang profesional. ANC adalah periksa kehamilan
secara rutin yang bertujuan untuk memeriksa kondisi ibu dan janin, 'mengawal' agar kehamilan
dapat berjalan normal dan mempersiapkan persalinan, serta memberikan informasi pada calon
orang tua untuk membuat keputusan dalam menangani persalinan yang akan datang.
"Selain antenatal care, fasilitas dan layanan kebidanan dan kandungan (maternity care) yang
komprehensif juga diperlukan untuk memonitor kesehatan ibu dan memastikan bayi yang dikandung
bertumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi genetiknya," jelas dr Bramundito.
(mer/vit)
http://health.detik.com/read/2013/09/26/192833/2370701/1299/waspada-pendarahan-saat-hamilpenyebab-kematian-ibu-terbanyak

Di Sumut, Tiap Bulan 11 Ibu Hamil


Meninggal
Read more: http://www.hariansumutpos.com/2013/10/66228/di-sumut-tiap-bulan-11-ibu-hamilmeninggal#ixzz2gqoFE4Fh

02 October, 2013

Angka kematian ibu hamil di Sumatera Utara (Sumut) belum bisa dikurangi. Bahkan, sejak
Januari hingga Juni 2013, setiap bulan ada 11 ibu hamil yang meninggal.
MEDAN-Hal ini menjadi sebuah ironi di saat Indonesia telah berkomitmen untuk
menyelesaikan permasalahan utama pembangunan dengan program Millennium
Development Goals (MDGs) 2015, di antaranya memperbaiki kualitas ibu hamil.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut, pada tahun 2012,
kasus Angka Kematian Ibu (AKI) di Sumut ada sebanyak 173 kasus. Dan, hingga Juni 2013
ada sebanyak 67 kasus. Angka ini masih dapat bertambah karena belum semua
kabupaten/kota yang melaporkannya.
Belum semua kabupaten/kota melaporkannya, paling tidak dinas kesehatan bisa mengupdate
data agar lebih akurat dan kita memang berharap tidak ada kematian, katanya.
AKI memang semangkin meningkat, tidak hanya di Sumut, bahkan di banyak daerah di
Indonesia. Hal ini dijelaskan oleh pengamat kesehatan, Delyuzarn
Beberapa hari lalu, Ibu Menteri Kesehatan juga kaget dengan peningkatan angka kematian
pada ibu ini, sampai dia bilang, untung saya tidak bunuh diri artinya memang ini menjadi
masalah serius dan betul-betul menjadi perhatian, katanya kepada Sumut Pos.
Ia menilai, jika AKI tidak mengalami perubahan kedepannya, maka akan menjadi sebuah
masalah besar, gagalnya target MDGs 2015. Hal yang sebenarnya dibutuhkan adalah
membangkitkan semua sistem, di antaranya masyarakat dan pemerintah. Kalau saya melihat,
kasus AKI biasanya karena lamanya penanganan. Bisa dari transportasi, keputusan yang lama
atau harus menunggu dari pihak laki-laki (suami), keterbelakangan persoalan medis yang
memang disebabkan kurangnya sosialisasi. Maka caranya semua sistem harus bisa terbangun,
ujarnya.
Sementara itu, Pengamat Kesehatan, Umar Zein mengatakan peningkatan AKI merupakan
gambaran akan kegagalan pemerintah. Jangan bercita-cita menuju MDGs 2015 kalau seperti
ini kenyataannya. Program pemerintah seperti program di atas kertas, pemerintah
menciptakan program kesehatan yang tidak benar atau bisa dibilang program kesehatan yang
sakit. Apa yang diprogramkan bukan apa yang dibutuhkan masyarakat, tampak tidak ada
peninjauan langsung ke lapangan, katanya.
Kasus meningkatnya AKI, menurutnya disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah
keterlamabatan pertolongan, keterlambatan mendiagnosis, informasi pada ibu hamil, rumah
sakit, dan peralatan yang tidak memadai. Tahun lalu dilaporkan di Sumut ada 173 dan
sampai Juni mencapai 67 kasus, berarti peningkatan kesehatan tidak berjalan. Seharusnya
bukan hanya sekedar program namun Dinkes dapat terjun ke lapangan. Kami pernah
melakukan survei ke daerah yang rentan terkena malaria. Ternyata di sana tidak ada dikasih
obat. Padahal program malaria dari global fun itu dananya besar. Berarti yang
diperbincangkan berbeda, di lapangan tidak seperti itu. Seharusnya ini dapat diperhatikan
apalagi pada AKI, ini tidak boleh dianggap sepele, ujarnya.
Tambahnya, menurut survei yang ia lakukan, banyak masyarakat yang tidak tahu mengenai
program-program kesehatan dari pemerintah, seperti Jamkesda dan BPJS 2014 nanti. Saya
suka tanya sama pasien saya, mereka banyak juga yang tidak tahu. Bahkan survei kita ke
daerah juga seperti itu, ujarnya.
Sementara itu, sebelumnya, saat disinggung mengenai sebab kematian pada ibu, Retno
mengatakan, hal tersebut terjadi disebabkan beberapa faktor yaitu pendarahan pada
persalinan yang bisa dikarenakan adanya penyakit yang diderita pasien. Disebabkan oleh
banyak faktor, mungkin dari pendarahan dan pendarahan ini jika tidak ditangani dengan cepat
dapat menyebabkan ibu tidak tertolong, katanya.
Faktor penyebab lain, sambungnya, adanya infeksi pada si ibu dan eklamsia atau kehamilan
risiko tinggi atau penyakit akut dengan kejang dan koma pada wanita hamil dan dalam nifas
dengan hipertensi, oedema dan proteinuria. Ada beberapa faktor yang seringkali menjadi
faktor penunjang kejadian eklamsia dan preeklamsia seperti gangguan aliran darah ke dalam
rahim, gizi yang buruk dan juga ada yang menyebutkan karena pengaruh obesitas, kurangnya
sirkulasi oksigen ke plasenta. Masih adanya ibu yang melahirkan di rumah juga bisa menjadi
penyebab kematian karena terlambat dibawa ke pelayanan kesehatan, katanya.
Selain itu, tambahnya, AKI yang meningkat juga karena kesadaran dan juga 4 terlalu (T).

Yah saya harapkan ketika melahirkan dapat ditolong tenaga kesehatan dan jangan ada 4T
yakni terlalu muda atau tua saat melahirkan, terlalu banyak anak dan dekat jarak kelahiran,
terlambat mengetahui keadaan darurat untuk persalinan, terlambat dibawa ke pelayanan
kesehatan dan mendapatkan pertolongan. Kita juga berharap agar ibu hamil memeriksakan
kehamilannya sebanyak 4 kali selama hamil, ujarnya.
Disinggung mengenai upaya yang dilakukan dinas kesehatan Sumut untuk mencegah atau
menekan AKI saat melahirkan, Retno mengatakan pihaknya terus berusaha meningkatkan
pelayanan di 359 Puskesmas yang ada. 154 di antaranya merupakan Puskesmas Rawat Inap
dan Puskesmas PONED. Puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED)
yaitu puskesmas yang memiliki fasilitas dan kemampuan memberikan pelayanan untuk
menanggulangi kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal selama 24 jam.
Sumut, tambahnya lagi, memiliki 33 kabupaten/kota dan saat ini sudah memiliki 131 PONED
dari yang diharapkan sebanyak 4 PONED tiap kabupaten/kota. Jumlahnya sudah memenuhi,
tetapi harus berjalan optimal. Namun permasalahannya, petugas yang sudah dilatih, dimutasi
atau dipindahkan ke tempat lain. Kalau bisa petugas yang sudah dilatih bertugas paling tidak
2 atau 3 tahun. Upaya kita memperbanyak pemberian imunisasi dan makanan pengganti ASI,
pungkas Retno. (put)