Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANNG


Diabetes mellitus baik tipe 1 maupun tipe 2 (T1D, T2D) memiliki kesamaan yang
level glukosa darah yang tinggi (hiperglikemia) yang dapat menyebabkan komplikasi
kesehatan yang serius antara lain ketoacidosis, gagal ginjal, penyakit jantung, stroke,
dan kebutaan. Pasien seringkali terdiagnosis dengan diabetes yang datang ke dokter
karena ada gejala-gejala klinis seperti sering haus, sering kencing, dan sering lapar.
Gejala-gejala tersebut disebabkan oleh kondisi hiperglikemia yang sebenarnya
disebabkan oleh kurangnya fungsionalitas insulin dalam tubuh. Pada T2D, yang
seringkali terkait obesitas dan usia tua, seringkali kurangnya fungsionalitas insulin
tersebut disebabkan oleh resistensi insulin di mana sel otot atau sel adiposa tidak
berespon secara adekuat terhadap insulin dalam level normal yang diproduksi oleh sel
beta yang intak. Lain halnya dengan T1D, yang biasanya dimulai saat usia <30 tahun
sehingga juga disebut dengan juvenile onset diabetes, meskipun sebenarnya onsetnya
dapat terjadi pada usia berapapun. T1D merupakan sebuah gangguan autoimun kronis
yang muncul pada individu dengan kerentanan genetik tertentu akibat faktor pencetus
dari lingkungan. Sistem imun dari tubuh kemudian menyerang sel beta di islet
Langerhans di pancreas, sehingga terjadi kehancuran atau kerusakan sel beta tersebut
yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi insulin. Pada kondisi yang langka,
namun makin meningkat kejadiannya, T1D dan T2D terdiagnosis pada satu pasien.
Berdasarkan American Center for Disease Control, 23.6 juta orang, 7.8% dari
populasi, menderita T1D atau T2D, dan 1.6 juta kasus baru diabetes didiagnosis pada
orang dengan usia 20 tahun pada tahun 2007. Prevalensi T1D pada penduduk US
berusia 0-19 tahun adalah 1.7/1.000 orang. Insiden T1D secara global meningkat selama
dekade terakhir hingga 5.3% setiap tahunnya di US. Bila trend ini terus berlanjut,
diprediksi akan terjadi peningkatan insiden kasus baru T1D dua kali lipat di populasi
anak di Eropa usia <5 tahun antara tahun 2005 hingga 2020, dan prevalensi kasus pada
individu <15 tahun juga akan meningkat hingga 70%, yang menunjukkan trend semakin
muda. Penelitian mengenai faktor pencetus telah berlangsung bertahun-tahun dan sejauh
ini hanya didapatkan bukti-bukti tidak langsung, khususnya yang menunjukkan adanya
infeksi

virus.

Saat

ini

diketahui

dengan

baik

bahwa

sebuah

konstitusi

genetik spesifik juga harus ada pada seseorang untuk menyebabkan diabetes.
Meski demikian, tingkat konkordansi kejadian T1D di antara kembar monozigotik
hanya 50%, sedangkan di antara kembar dizigotik hanya ~10%. Dengan follow up
yang lebih panjang didapatkan bahwa mayoritas pasien kembar identik yang
menderita T1D mengekspresikan autoantibodi anti-islet yang berkembang menjadi
diabetes, namun auto-antibodi anti-islet pada saudara kembarnya baru muncul 30
tahun setelah saudaranya menderita diabetes. Sehingga tampaknya kerentanan
genetic ini bertahan selama hidup, dan pencegahan untuk berkembang menjadi
diabetes biasanya didahului oleh masa prodromal yang panjang dari ekspresi autoantibodi anti-islet selama bertahun-tahun. Namun demikian, meskipun tingkat
konkordansi untuk kembar monozigotik lebih tinggi dari yang sebelumnya
diperkirakan, namun masih dibawah nilai universal, dan terhadap perbedaan kuat
dalam waktu terjadinya T1D. Hal ini menunjukkan bahwa komponen lingkungan
berperan penting dalam perkembangan T1D.
Sejak awal 1920an, diabetes telah diterapi dengan penggantian insulin,
yang pada kasus ideal, hanya akan memperpendek usia ~10 tahun. Hal ini
memberikan batas keamanan yang tinggi untuk intervensi berbasis imunitas
apapun. Bahkan lebih dari itu, teknologi terbaru (monitor glukosa darah kontinyu,
insulin lepas lambat, etc) dapat menurunkan kemungkinan episode hipoglikemik
yang mengancam jiwa akibat over dosis insulin. Sehingga, intervensi berbasis
imunologis idealnya harus efektif, berlangsung lama, dan memiliki efek samping
minimal untuk mengganti terapi substitusi insulin dengan sebuah kesembuhan.
Saat ini, meskipun masih banyak tantangan dalam bidang imunoterapi T1D,
namun telah banyak progress bagus yang dihasilkan.
Dalam tinjauan ini, kami menyediakan tinjauan komprehensif mengenai
etiologi dan imunologi T1D dan akan mendiskusikan strategi biologis preventif
ataupun terapeutik yang telah diteliti atau saat ini telah dilaksanakan.

1.2

Rumusan masalah
1. Apakah definisi dari Diabetes Miletus ?
2. Apakah definisi dari imunoterapi ?
3. Apakah etiologi penyakit Diabetes Miletus?
4. Apakah patofisiologi penyakit Diabetes Miletus ?
5. Apakah manifestasi klinik Diabetes Miletus?

6. Apakah komplikasi dari Diabetes Miletus


7. Bagaimana penatalaksanaan penyakit Diabetes Miletus?
8. Bagaimana terapi gen pada penderita Diabetes Miletus ?
9. Bagaimana pencegahan pada Diabetes Miletus?
1.3

Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi penyakit Diabetes Miletus


2. Untuk mengetahui definisi imunoterapi
3. Untuk mengetahui etiologi penyakit Diabetes Miletus
4. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit Diabetes Miletus
5. Untuk mengetahui manifestasi klinik Diabetes Miletus
6. Untuk mengetahui komplikasi Diabetes Miletus
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan penyakit Diabetes Miletus
8. Untuk mengetahui terapi gen pada penderita Diabetes Miletus
9. Untuk mengetahui pencegahan pada Diabetes Miletus

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Imunoterapi adalah pengobatan yang bertujuan mengubah reaksi
imunologik untuk menguntungkan penderita pada suatu proses penyakit.
Pengobatan ini bersifat individual, periodik dan memakan waktu lama. Definisi
lain ialah usaha meningkatkan jumlah alergen yang diberikan pada seorang
penderita secara bertahap, dengan harapan terjadi peningkatan derajat toleransi
terhadap alergen tersebut sesuai dengan peningkatan dosis. Keadaan ini akan
mengakibatkan berkurangnya gejala dan kebutuhan terhadap penggunaan obatobatan. Tindakan imunoterapi seperti ini disebut desensitisasi atau hiposensitisasi;
merupakan

tindakan

imunoterapi

yang

sering

dilakukan.

Imunoterapi

menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan oleh badan kita sendiri ataupun dibuat
di dalam makmal untuk merangsang, menghantar atau mengekalkan ketahanan
semula jadi badan menentang penyakit. Efektivitas imunoterapi berlangsung untuk
jangka panjang. Setelah selesai satu rangkaian imunoterapi, efeknya akan bertahan
selama bertahun-tahun. Bahkan sebuah uji klinis menyatakan bahwa efek
imunoterapi dapat menetap selamanya.
Diabetes Melitus dapat didefinisikan adalah penyakit kelainan metabolik
yang dikarakteristikan dengan hiperglikemia kronis serta kelainan metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein diakibatkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja
insulin maupun keduanya.2 Hiperglikemia kronis pada diabetes melitus akan
disertai dengan kerusakan, ganguan fungsi beberapa organ tubuh khususnya mata,
ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah. Walaupun pada diabetes melitus
ditemukan ganguan metabolisme semua sumber makanan tubuh kita, kelainan
metabolisme yang paling utama ialah kelainan metabolisme karbohidarat. Oleh
karena itu diagnosis diabetes melitus selalu berdasarkan tinginya kadar glukosa
dalam plasma darah.

2.2 ETIOLOGI

Penyebab diabetes mellitus sampai sekarang belum diketahui dengan pasti


tetapi umumnya diketahui karena kekurangan insulin adalah penyebab utama dan
faktor herediter memegang peranan penting.

a. Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)


Sering terjadi pada usia sebelum 30 tahun. Biasanya juga disebut Juvenille
Diabetes, yang gangguan ini ditandai dengan adanya hiperglikemia (meningkatnya
kadar gula darah)(Bare&Suzanne,2002). Faktor genetik dan lingkungan
merupakan faktor pencetus IDDM. Oleh karena itu insiden lebih tinggi atau
adanya infeksi virus (dari lingkungan) Universitas Sumatera Utara misalnya
coxsackievirus B dan streptococcus sehingga pengaruh lingkungan dipercaya
mempunyai peranan dalam terjadinya DM( Bare & Suzanne, 2002). Virus atau
mikroorganisme akan menyerang pulau pulau langerhans

pankreas, yang

membuat kehilangan produksi insulin. Dapat pula akibat respon autoimmune,


dimana antibody sendiri akan menyerang sel bata pankreas. Faktor herediter, juga
dipercaya memainkan peran munculnya penyakit ini (Bare & Suzanne, 2002)
b. Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
Virus dan kuman leukosit antigen tidak nampak memainkan peran terjadinya
NIDDM. Faktor herediter memainkan peran yang sangat besar. Riset melaporkan
bahwa obesitas salah satu faktor determinan terjadinya NIDDM sekitar 80% klien
NIDDM adalah kegemukan. Overweight membutuhkan banyak insulin untuk
metabolisme. Terjadinya hiperglikemia disaat pankreas tidak cukup menghasilkan
insulin sesuai kebutuhan tubuh atau saat jumlah reseptor insulin menurun atau
mengalami gangguan. Faktor resiko dapat dijumpai pada klien dengan riwayat
keluarga menderita DM adalah resiko yang besar.
Pencegahan utama NIDDM adalah mempertahankan berat badan ideal.
Pencegahan sekunder berupa program penurunan berat badan, olah raga dan diet.
Oleh karena DM tidak selalu dapat dicegah maka sebaiknya sudah dideteksi pada
tahap awal tanda-tanda atau gejala yang ditemukan adalah kegemukan, perasaan
haus yang berlebihan, lapar, diuresis dan kehilangan berat badan, bayi lahir lebih
dari berat badan normal, memiliki riwayat keluarga DM, usia diatas 40 tahun, bila

ditemukan peningkatan gula darah ( Bare & Suzanne, 2002). Klasifikasi Etiologi
Diabetes Melitus (American Diabetes Association 1997):
a. Diabetes tipe I
b. Diabetes tipe II
c. Diabetes tipe lain

Defek genetik fungsi sel beta

Defek genetik kerja insulin

Penyakit eksokrin pankreas Pankreatitis, tumor/pankteatektomi, dan


pankreatopati fibro kalulus

Endokrinopati

Akromegali,

sindrom

Cushing,

feokromositoma,

hipertiroidisme

Karena obat/zat kimia

Infeksi Rubella kongenital

Sebab imunologi yang jarang Antibodi anti insulin.

Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM.

Diabetes Melitus Gestasional (DMG)

2.3 PATOFISIOLOGI
a. Diabetes Melitus Tipe I ( Diabetes Melitus Dependent Insulin/DMDI )
Diabetes melitus tipe I adalah penyakit hiperglikemi akibat ketiadaan
absolut insulin, biasanya dijumpai pada orang yang tidak gemuk dan berusia
kurang dari 30 tahun . Diabetes tipe I diperkirakan timbul akibat destruksi
otoimun sel-sel beta pulau Langerhans yang dicetuskan oleh lingkungan. Individu
yang peka secara genetik tampaknya memberikan respon dengan memproduksi
antibodi terhadap sel-sel beta, yang akan mengakibatkan berkurangnya sekresi
insulin yang dirangsang oleh glukosa. Juga terdapat bukti adanya peningkatan
antibodi-antibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans yang ditujukan terhadap
komponen antigenik tertentu dari sel-sel beta. Mungkin juga bahwa para individu
yang mengidap diabetes tipe I memiliki kesamaan antigen antara sel-sel beta
pankreas mereka dengan virus atau obat tertentu, sehingga sistem imun gagal
mengenali bahwa sel-sel pankreas adalah diri atau self (Gambar 2.3) (Corwin,
1996 : 543 )
b. Diabetes Melitus Tipe II (Diabetes Melitus Non Dependent Insulin/DMNDI)

DM tipe II tampaknya berkaitan dengan kegemukkan. Selain itu, pengaruh


genetik yang menentukan kemungkinan seseorang mengidap penyakit ini, cukup
kuat. Mungkin pula bahwa individu yang menderita diabetes tipe II menghasilkan
antibodi insulin yang berikatan dengan reseptor insulin, menghambat akses insulin
ke reseptor, tetapi tidak merangsang aktivitas pembawa.
Individu yang mengidap diabetes tipe II tetap menghasilkan insulin.
Namun sering terjadi kelambatan dalam ekskresi setelah makan dan berkurangnya
jumlah insulin yang dikeluarkan. Hal ini cenderung semakin parah seiring dengan
pertambahan usia pasien. Sel-sel tubuh, terutama sel otot dan adiposa,
memperlihatkan resistensi terhadap insulin yang terdapat dalam darah.Pembawa
glukosa tidak secara adekuat dirangsang dan kadar glukosa darah meningkat. Hati
kemudian melakukan glukoneogenesis, serta terjadi penguraian simpanan
trigliserida, protein, dan glikogen untuk menghasilkan sumber bahan bakar
alternatif. Hanya sel-sel otak dan sel darah merah yang terus menggunakan
glukosa sebagai sumber energi efektif. Karena masih terdapat insulin, maka
individu dengan diabetes tipe II jarang hanya mengandalkan asam-asam lemak
untuk menghasilkan energi dan tidak rentan terhadap ketosis.
c. Diabetes Gestasional
Diabetes gestasional terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap
diabetes. Sekitar 50 % wanita pengidap kelainan ini akan kembali ke stastu
nondiabetes setelah kehamilan berakhir. Penyebab diabetes gestasional dianggap
berkaitan dengan peningkatan kebutuhan energi dan kadar estrogen dan hormon
pertumbuhan yang teru-menerus tinggi selama kehamilan.
2.4 MANIFESTASI KLINIS
a) Polifagia (peningkatan rasa lapar) akibat keadaan pascaabsorptif yang
kronik, katabolik protein dan lemak, dan kelaparan relatif sel-sel. Sering
terjadi penurunan berat badan.
b) Polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat volume urin yang sangat besar
dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi
intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi intrasel merangsang
pengeluaran ADH dan menimbulkan rasa haus.
c) Poliuria (peningkatan pengeluaran urin), pada orang nondiabetes, semua
glukosa yang difiltrasi ke dalam urin akan diserap secara aktif kembali ke
dalam darah. Pengangkut-pengangkut glukosa di ginjal yang membawa

glukosa keluar urin untuk masuk kembali ke darah akan mengalami


kejenuhan dan tidak dapat mengangkut glukosa lebih banyak. Karena
glukosa di dalam urin memiliki aktivitas osmotik, maka air akan tertahan
di dalam filtrat dan diekskresikan bersama glukosa dalam urin sehingga
terjadi poliuria.
d) Rasa lelah dan kelemahan otot akibat katabolisme protein di dalam otot
dan ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa
sebagai energi.
e) Peningkatan angka infeksi akibat peningkatan konsentrasi glukosa di
sekresi mukus, gangguan fungsi imun, dan penurunan aliran darah pada
penderita diabetes kronik.
2.5 KOMPLIKASI
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada pasien diabetes melitus
akan menyebabkan berbagai komplikasi, baik yang bersifat akut maupun yang
kronik. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para pasien untuk memantau kadar
glukosa darahnya secara rutin.
Komplikasi akut
Keadaan yang termasuk dalam komplikasi akut DM adalah ketoasidosis diabetik
(KAD) dan Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH). Pada dua keadaan ini kadar
glukosa darah sangat tinggi (pada KAD 300-600 mg/dL, pada SHH 600-1200
mg/dL), dan pasien biasanya tidak sadarkan diri. Karena angka kematiannya
tinggi, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan yang
memadai.
Keadaan hipoglikemia juga termasuk dalam komplikasi akut DM, di mana
terjadi penurunan kadar glukosa darah sampai < 60 mg/dL. Pasien DM yang tidak
sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Hal-hal yang
dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia misalnya pasien meminum obat
terlalu banyak (paling sering golongan sulfonilurea) atau menyuntik insulin terlalu
banyak, atau pasien tidak makan setelah minum obat atau menyuntik insulin.
Gejala hipoglikemia antara lain banyak berkeringat, berdebar-debar,
gemetar, rasa lapar, pusing, gelisah, dan jika berat, dapat hilang kesadaran sampai
koma. Jika pasien sadar, dapat segera diberikan minuman manis yang
mengandung glukosa. Jika keadaan pasien tidak membaik atau pasien tidak

sadarkan diri harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan dan
pemantauan selanjutnya.
Komplikasi kronik
Penyakit diabetes melitus yang tidak terkontrol dalam waktu lama akan
menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan saraf. Pembuluh darah yang
dapat mengalami kerusakan dibagi menjadi dua jenis, yakni pembuluh darah besar
dan kecil.
Yang termasuk dalam pembuluh darah besar antara lain:

Pembuluh darah jantung, yang jika rusak akan menyebabkan penyakit


jantung koroner dan serangan jantung mendadak

Pembuluh darah tepi, terutama pada tungkai, yang jika rusak akan
menyebabkan luka iskemik pada kaki

Pembuluh darah otak, yang jika rusak akan dapat menyebabkan stroke

Kerusakan pembuluh darah kecil (mikroangiopati) misalnya mengenai pembuluh


darah retina dan dapat menyebabkan kebutaan. Selain itu, dapat terjadi kerusakan
pada pembuluh darah ginjal yang akan menyebabkan nefropati diabetikum. Untuk
lebih jelasnya baca pada artikel gagal ginjal.
Saraf yang paling sering rusak adalah saraf perifer, yang menyebabkan
perasaan kebas atau baal pada ujung-ujung jari. Karena rasa kebas, terutama pada
kakinya, maka pasien DM sering kali tidak menyadari adanya luka pada kaki,
sehingga meningkatkan risiko menjadi luka yang lebih dalam (ulkus kaki) dan
perlunya melakukan tindakan amputasi. Selain kebas, pasien mungkin juga
mengalami kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, lebih terasa sakit di malam
hari serta kelemahan pada tangan dan kaki. Pada pasien yang mengalami
kerusakan saraf perifer, maka harus diajarkan mengenai perawatan kaki yang
memadai sehingga mengurangi risiko luka dan amputasi.
2.6 PENATALAKSANAAN
Terapi farmakologi diabetes mellitus
1. Insulin
Pasien DM tipe 1 membutuhkan suntikan insulin seumur hidup sebab
terjadinya kerusakan pankreas dan kondisi ini bersifat autoimun. Terapi insulin
merupakan satu keharusan bagi penderita DM Tipe 1. Pada DM Tipe I, sel-sel
Langerhans kelenjar pankreas penderita rusak, sehingga tidak lagi dapat
memproduksi insulin. Sebagai penggantinya, maka penderita DM Tipe I harus

mendapat insulin eksogen untuk membantu agar metabolism karbohidrat di dalam


tubuhnya dapat berjalan normal. Walaupun sebagian besar penderita DM Tipe 2
tidak memerlukan terapi insulin, namun hampir 30% ternyata memerlukan terapi
insulin disamping terapi hipoglikemik oral.Insulin adalah hormon yang dihasilkan
dari sel pankreas dalam merespon glukosa. Insulin merupakan polipeptida yang
terdiri dari 51 asam amino tersusun dalam 2 rantai, rantai A terdiri dari 21 asam
amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Insulin mempunyai peran yang
sangat penting dan luas dalam pengendalian metabolisme, efek kerja insulin
adalah membantu transport glukosa dari darah ke dalam sel.
Insulin mempunyai peran yang sangat penting dan luas dalam
pengendalian metabolisme. Insulin yang disekresikan oleh sel-sel pancreas akan
langsung diinfusikan ke dalam hati melalui vena porta, yang kemudian akan
didistribusikan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Efek kerja insulin yang
sudah sangat dikenal adalah membantu transport glukosa dari darah ke dalam sel.
Kekurangan insulin menyebabkan glukosa darah tidak dapat atau terhambat
masuk ke dalam sel. Akibatnya, glukosa darah akan meningkat, dan sebaliknya
sel-sel tubuh kekurangan bahan sumber energi sehingga tidak dapat memproduksi
energi sebagaimana seharusnya.
Disamping fungsinya membantu transport glukosa masuk ke dalam sel,
insulin mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap metabolisme, baik
metabolisme

karbohidrat

dan

lipid,

maupun

metabolisme

protein

dan

mineral.insulin akan meningkatkan lipogenesis, menekan lipolisis, serta


meningkatkan transport asam amino masuk ke dalam sel. Insulin juga mempunyai
peran dalam modulasi transkripsi, sintesis DNA dan replikasi sel. Itu sebabnya,
gangguan fungsi insulin dapat menyebabkan pengaruh negative dan komplikasi
yang sangat luas pada berbagai organ dan jaringan tubuh.
Macam-macam sediaan insulin:
a. Insulin kerja singkat
Sediaan ini terdiri dari insulin tunggal biasa, mulai kerjanya baru sesudah
setengah jam (injeksi subkutan), contoh: Actrapid, Velosulin, Humulin Regular.
b. Insulin kerja panjang (long-acting)
Sediaan insulin ini bekerja dengan cara mempersulit daya larutnya di
cairan jaringan dan menghambat resorpsinya dari tempat injeksi ke dalam darah.

Metode yang digunakan adalah mencampurkan insulin dengan protein atau seng
atau mengubah bentuk fisiknya, contoh: Monotard Human.
c. Insulin kerja sedang (medium-acting)
Sediaan insulin ini jangka waktu efeknya dapat divariasikan dengan
mencampurkan beberapa bentuk insulin dengan lama kerja berlainan, contoh
Mixtard 30 HM (Tjay dan Rahardja, 2002).
Secara keseluruhan sebanyak 20-25% pasien DM tipe 2 kemudian akan
memerlukan insulin untuk mengendalikan kadar glukosa darahnya. Untuk pasien
yang sudah tidak dapat dikendalikan kadar glukosa darahnya dengan kombinasi
metformin dan sulfonilurea, langkah selanjutnya yang mungkin diberikan adalah
insulin (Waspadji, 2010).
2. Obat Antidiabetik Oral
Obat-obat antidiabetik oral ditujukan untuk membantu penanganan pasien
diabetes mellitus tipe 2. Pada pengidap DM tipe 2 biasa disebut diabetes basah dan
jaringan tubuhnya tidak responsif. Farmakoterapi antidiabetik oral dapat dilakukan
dengan menggunakan satu jenis obat atau kombinasi dari dua jenis obat (Ditjen
Bina Farmasi dan Alkes, 2005).
a. Golongan Sulfonilurea
Golongan obat ini bekerja merangsang sekresi insulin dikelenjar pankreas,
oleh sebab itu hanya efektif apabila sel-sel Langerhans pankreas masih dapat
berproduksi. Penurunan kadar glukosa darah yang terjadi setelah pemberian
senyawa-senyawa sulfonilurea disebabkan oleh perangsangan sekresi insulin oleh
kelenjar pankreas. Obat golongan ini merupakan pilihan untuk diabetes dewasa
baru dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami
ketoasidosis sebelumnya (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).
b. Golongan Biguanida
Golongan ini yang tersedia adalah metformin, metformin menurunkan
glukosa darah melalui pengaruhnya terhadap kerja insulin pada tingkat selular dan
menurunkan produksi gula hati. Metformin juga menekan nafsu makan hingga
berat badan tidak meningkat, sehingga layak diberikan pada penderita yang
overweight (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).
c. Golongan Tiazolidindion
Golongan obat baru ini memiliki kegiatan farmakologis yang luas dan
berupa penurunan kadar glukosa dan insulin dengan jalan meningkatkan kepekaan

bagi insulin dari otot, jaringan lemak dan hati, sebagai efeknya penyerapan
glukosa ke dalam jaringan lemak dan otot meningkat. Tiazolidindion diharapkan
dapat lebih tepat bekerja pada sasaran kelainan yaitu resistensi insulin tanpa
menyebabkan hipoglikemia dan juga tidak menyebabkan kelelahan sel pankreas.
Contohnya adalah Pioglitazone, Troglitazon
d. Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase
Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim glukosidase
alfa di dalam saluran cerna sehingga dapat menurunkan hiperglikemia
postprandrial. Obat ini bekerja di lumen usus dan tidak menyebabkan
hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar insulin. Contohnya adalah
Acarbose (Tjay dan Rahardja, 2002).
Terdapat alasan yang kuat, mengapa diperlukan obat golongan baru untuk
diabetes melitus tipe 2. Terdapat dua proses patofisiologi primer yang berperan
dalam perkembangan diabetes tipe 2, yaitu berkurangnya respon jaringan tubuh
terhadap insulin dan menurunnya fungsi pulau pankreas secara berkelanjutan,
dimana hal ini disebabkan oleh tidak seimbangnya pola sekresi insulin dan
glucagon.
3. Terapi kombinasi
Pada keadaan tertentu diperlukan terapi kombinasi dari beberapa OHO
atau OHO dengan insulin. Kombinasi yang umum adalah antara golongan
sulfonylurea dengan biguanida. Sulfonilurea akan mengawali dengan merangsang
sekresi pancreas yang memberikan kesempatan untuk senyawa biguanida bekerja
efektif. Kedua golongan obat hipoglikemik oral ini memiliki efek terhadap
sensitivitas reseptor insulin, sehingga kombinasi keduanya mempunyai efek saling
menunjang. Pengalaman menunjukkan bahwa kombinasi kedua golongan ini dapat
efektif pada banyak penderita diabetes yang sebelumnya tidak bermanfaat bila
dipakai sendiri sendiri.
Hal-hal yang erlu diperhatikan dalam penggunaan Obat Hipoglikemik Oral
diantaranya adalah:
a. Dosis selalu harus dimulai dengan dosis rendah yang kemudian dinaikkan
secara bertahap
b. Harus diketahui betul bagaimana cara kerja, lama kerja dan efek samping obatobat tersebut

c. Bila diberikan bersama obat lain, pikirkan kemungkinan adanya interaksi obat.
menggunakan obat oral golongan lain, bila gagal lagi, baru pertimbangkan untuk
beralih pada insulin
e. Hipoglikemia harus dihindari terutama pada penderita lanjut usia, oleh sebab itu
sebaiknya obat hipoglikemik oral yang bekerja jangka panjang tidak diberikan
pada penderita lanjut usia
f. Usahakan agar harga obat terjangkau oleh penderita

Terapi non farmakologi diabetes mellitus


1. Pengaturan diet
Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes.
Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal
karbohidrat, protein dan lemak. Tujuan pengobatan diet pada diabetes adalah
mencapai dan kemudian mempertahankan kadar glukosa darah mendekati kadar
normal, mencapai dan mempertahankan lipid mendekati kadar yang optimal,
mencegah komplikasi akut dan kronik dan meningkatkan kualitas hidup.
Terapi nutrisi direkomendasikan untuk semua pasien diabetes mellitus,
yang terpenting dari semua terapi nutrisi adalah pencapian hasil metabolis yang
optimal dan pencegahan serta perawatan komplikasi. Untuk pasien DM tipe 1,
perhatian utamanya pada regulasi administrasi insulin dengan diet seimbang untuk
mencapai dan memelihara berat badan yang sehat. Penurunan berat badan telah
dibuktikan dapat mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respon sel-sel
terhadap stimulus glukosa.
2. Olah raga
Berolah secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah
tetap normal. Prinsipya, tidak perlu olah raga berat, olahraga ringan asal dilakukan
secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Beberapa contoh
olah raga yang disarankan, antara lain jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang,
dan lain sebagainya. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan juga
meningkatkan penggunaan glukosa (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2005).

Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan


kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Kadar gula darah yang benar-benar
normal sulit untuk dipertahankan. Meskipun demikian, semakin mendekati kisaran

yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka


panjang menjadi semakin berkurang. Untuk itu diperlukan pemantauan kadar gula
darah secara teratur baik dilakukan secara mandiri dengan alat tes kadar gula
darah sendiri di rumah atau dilakukan di laboratorium terdekat.