Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARAN LISTRIK


PENGUKURAN DAYA SATU FASA

Anggota Kelompok
Frima Setyawan Nur R.

(135874045)

Mukhofidhoh

(135874046)

Hanif Wigung

(135874047)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
10 Oktober 2014

Kata Pengantar
Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberi rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan Laporan Praktikum ini
akhirnya bisa diselesaikan. Laporan ini bertujuan untuk menunjang perkuliahan
dalam mata kuliah Praktikum Pengukuran Besaran Listrik.
Materi diskusi diurutkan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing,
sehingga Mahasiswa dapat dengan mudah memahami. Laporan ini masih banyak
kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu
kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk Laporan ini.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara
langsung ataupun tidak terhadap terselesaikannya Laporan ini. Akhir kata,
Semoga Laporan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Daftar Isi

Kata Pengantar ......................................................................................................1


Daftar Isi .................................................................................................................2
Bab 1 Pendahuluan ................................................................................................3
1.1 Tujuan ..........................................................................................................3
1.2 Dasar Teori ...................................................................................................3
1.3 Alat dan Bahan ...........................................................................................10
1.4 Kesehatan dan Keselamatan Kerja .............................................................10
1.5 Gambar Rencana Kerja ..............................................................................11
1.6 Langkah Kerja ............................................................................................12
Bab 2 Isi.................................................................................................................13
2.1 Data percobaan ...........................................................................................13
2.2 Pembahasan ................................................................................................13
2.3 Diskriptif ....................................................................................................16
Bab 3 Penutup ......................................................................................................18
3.1 Kesimpulan ................................................................................................18
3.2 Tugas ..........................................................................................................20
Daftar Pustaka ......................................................................................................29

Bab I
Pendahuluan
1.1

TUJUAN
1. Mengetahui pengukuran daya dan faktor daya arus bolak-balik dengan
berbagai jenis beban.
2. Mengetahui prinsip kerja alat ukur wattmeter 1 phasa, cos phi meter,
ampermeter, voltmeter, dan LCR meter.

1.2

DASAR TEORI
Suatu beban yang dicatu oleh suatu sumber tegangan AC, sehingga

tegangan beban V dan arus yang mengalir pada beban I, maka daya yang terjadi
pada beban Z adalah :
S = V x I* = P + JQ
Dimana :
S dalam VA, disebut daya semu
P dalam Watt, disebut daya aktif
Q dalam VAR, disebut daya reaktif

Gambar 1. Rangkaian arus bolak balik I dengan impedansi Z dan tegangan V

Hubungan antara daya aktif, daya reaktif, dan daya semu dikenal dengan
istilah segitiga daya. Berikut gambar segitiga daya

Gambar 2. Segitiga daya


Impedansi Z dalam hal ini dapat terdiri dari berbagai jenis beban resistif,
induktif, kapasitif ataupun kombinasi dari ketiga jenis beban sehingga sebuah
impedansi Z yang memiliki karakteristik gabungan dari karakteristik berbagai
jenis beban yang menyusunnya.
Yang dimaksud dengan karakteristik beban adalah jenis daya yang
diserapnya, sifat arus dan tegangannya yang bila digabungkan dengan jenis beban
yang berbeda dapat terbentuk karakteristik yang lebih baik maupun lebih buruk
(jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda).
Pada pengukuran daya, ada juga yang dikenal dengan faktor daya, yaitu
perbandingan antara daya aktif (Watt) dengan daya semu (VA), atau cosinus sudut
antara daya aktif dan daya semu.

Pada perhitungan daya semu sesuai persamaan (1) di atas, nilai arus
berupa operasi matematika konjugasi, ditandakan dengan lambang (*). Persamaan
tersebut menyatakan bahwa sudut yang terbentuk antara tegangan dan arus
merupakan pengurangan antara sudut yang dibentuk oleh tegangan dengan sudut
yang dibentuk oleh arus tersebut. Ilustrasinya sebagai berikut.

Pada praktikum ini, untuk pengukuran nilai arus, tegangan, daya, serta
faktor daya digunakan alat ukur analog, yang mana rangkaian di dalamnya terdiri
dari kumparan tetap dan kumparan berputar. Nilai besaran listrik hasil pengukuran
ditunjukkan oleh jarum penunjuk. Sedangkan untuk menghitung besar tahanan
pada lampu pijar digunakan alat ukur digital LCR meter

Gambar 3. Alat ukur LCR meter

Dalam sistem listrik arus bolak-balik, jenis beban dapat diklasifikasikan menjadi
3 macam, yaitu :
Beban resistif (R)
Beban induktif (L)
Beban kapasitif (C)

1.

Beban Resistif (R)


Beban resistif (R) yaitu beban yang terdiri dari komponen tahanan
ohm saja (resistance), seperti elemen pemanas (heating element) dan
lampu pijar. Beban jenis ini hanya mengkonsumsi beban aktif saja dan
mempunyai faktor daya sama dengan satu. Tegangan dan arus sefasa.
Persamaan daya sebagai berikut :
P = VI
Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (watt)
V = tegangan yang mencatu beban (volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)

Gb. Gelombang resistif pada rangkaian AC

Gb. Grafik Arus dan Tegangan Pada Beban Resistif

2.

Beban Induktif (L)


Beban induktif (L) yaitu beban yang terdiri dari kumparat kawat
yang dililitkan pada suatu inti, seperti coil, transformator, dan solenoida.
Beban ini dapat mengakibatkan pergeseran fasa (phase shift) pada arus
sehingga bersifat lagging. Hal ini disebabkan oleh energi yang tersimpan
berupa medan magnetis akan mengakibatkan fasa arus bergeser menjadi
tertinggal terhadap tegangan. Beban jenis ini menyerap daya aktif dan
daya reaktif. Persamaan daya aktif untuk beban induktif adalah sebagai
berikut :
P = VI cos
Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (watt)
V = tegangan yang mencatu beban (volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)
= sudut antara arus dan tegangan

Gb. Rangkaian Induktif Gelombang AC

Gb. Grafik Arus dan Tegangan Pada Beban Induktif

Untuk menghitung besarnya rektansi induktif (XL), dapat digunakan rumus :

Dengan :
XL = reaktansi induktif
F = frekuensi (Hz)
L = induktansi (Henry)

3.

Beban Kapasitif (C)


Beban kapasitif (C) yaitu beban yang memiliki kemampuan
kapasitansi atau kemampuan untuk menyimpan energi yang berasal dari
pengisian elektrik (electrical discharge) pada suatu sirkuit. Komponen ini
dapat menyebabkan arus leading terhadap tegangan. Beban jenis ini
menyerap daya aktif dan mengeluarkan daya reaktif. Persamaan daya aktif
untuk beban induktif adalah sebagai berikut :
P = VI cos

Dengan :
P = daya aktif yang diserap beban (watt)
V= tegangan yang mencatu beban (volt)
I = arus yang mengalir pada beban (A)

= sudut antara arus dan tegangan

Gb. Rangkaian Kapasitif Gelombang AC

Gb. Grafik Arus dan Tegangan Pada Beban Kapasitif

Untuk menghitung besarnya rektansi kapasitif (XC), dapat digunakan rumus


seperti dibawah ini :

Dengan :
XL = reaktansi kapasitif
f = frekuensi
C = kapasitansi (Farad)

1.3

ALAT DAN BAHAN

Ampermeter AC 1 - 5 A

[A]

Voltmeter AC 0 - 600 V

[V]

Wattmeter

[W]

Cos phi meter - LCR meter


Beban resistif - Beban induktif
Beban kapasitif

1.4

Lampu pijar 150 Watt / 220 volt

Sumber tegangan AC 220 V

Kabel - kabel penghubung

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


1. Periksalah

terlebih

dahulu

semua

komponen

aktif

maupun

pasif sebelum digunakan!


2. Bacalah dan pahami petunjuk pratikum
3. Pastikan tegangan keluaran catu daya sesuai yang dibutuhkan.
4. Dalam menyusun rangkaian, perhatikan letak kaki-kaki komponen.
5. Sebelum catu daya dihidupkan, hubungi dosen pendamping untuk
mengecek kebenaran pemasangan rangkaian.
6. Kalibrasi terlebih dahulu alat ukur yang akan digunakan.
7. Dalam menggunakan meter kumparan putar, mulailah dari batas ukur
yang besar. Bila simpangan terlalu kecil dan masih di bawah batas
ukur yang lebih rendah, turunkan batas ukur.
8. Hati-hati dalam penggunaan peralatan praktikum!

10

1.5

GAMBAR RENCANA KERJA


Menghitung arus dan tegangan
150 watt

150 A
watt

150 watt

B
e

mA

a
n

Skema rangkaian lampu pijar seri (a)


150 watt

mA
150 watt

mA
150 watt

mA

~
Skema rangkaian lampu pijar paralel(b)

11

1.6

LANGKAH KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan percobaan.
Mengukur daya dan faktor daya berbagai jenis beban
2.

Menyusun rangkaian percobaan seperti digambar

3.

Memasang kombinasi beban menggunakan set beban

4.

Memasukkan saklar S sumber AC

5.

Mengukur dan mencatat besar V, I, P dan pf menggunakan


amperemeter, multimeter , cos phi meter
Mengukur nilai tahanan lampu pijar

6.

Memasukkan lampu pijar ke fitting lampu

7.

Menghubungkan probe LCR meter dengan kutub pada fitting lampu

8.

Mengukur dan mencatat besar tahanan lampu pijar

12

BAB 2
Isi

2.1

DATA PERCOBAAN

Hasil percobaan dengan beban Lampu Pijar yang di rangkai Seri dan
Pararel:
Beban

Rangkaian Seri

Rangkaian Pararel

L1:60 W / 220 V

VR1 = 75 V

IR1 = 180mA VR1 = 225 V

IR1 = 810mA

L2:60 W/ 220 V

VR2 = 75 V

IR2 = 180mA VR2 = 225 V

IR2 = 480mA

L3:60 W/ 220 V

VR3 = 75 V

IR3 = 180mA VR3 = 225 V

IR3 = 250mA

*Nilai cos phi meter pada berbagai macam tahanan

2.2

RC

RL

RLC

0,93

0,955

PEMBAHASAN
1. Perhitungan Daya pada Beban Resistif
Rangkaian Seri
VR1 = 75 V

IR1 = 180mA

VR2 = 75 V

IR2 = 180mA

VR3 = 75 V

IR3 = 180mA

P1 = VR1*IR1

P2 = VR2*IR2

P3 = VR3*IR3

=75*180*10-3

=75*180*10-3

=75*180*10-3

=13,5W

=13,5W

=13,5W

13

2. Perhitungan Daya pada Beban Resistif


Rangakaian Paralel
VR1 = 225 V

IR1 = 810mA

VR2 = 225 V

IR2 = 480mA

VR3 = 225 V

IR3 = 250mA

P1 = VR1*IR1
= 225*810*10-3
= 182 W
P2 = VR2*IR2
= 225*480*10-3
= 108 W
P3 = VR3*IR3
= 225*250*10-3
= 56 W

Nilai cos phi meter pada berbagai macam tahanan


R

RC

RL

RLC

0,93

0,955

Tabel Hasil Analisis Data dan Grafik


Rangkaian seri
Beban

Rangkaian Seri

Daya Seri

L1:60 W / 220 V VR1 = 75 V IR1 = 180mA 13,5 W


L2:60 W/ 220 V

VR2 = 75 V IR2 = 180mA 13,5 W

L3:60 W/ 220 V

VR3 = 75 V IR3 = 180mA 13,5 W

14

Rangkaian Seri
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0
Lampu Pijar 1

Lampu Pijar 2
V(Volt)

A(mA)

Lampu Pijar 3
P(Watt)

Rangkaian Paralel
Beban

Daya Paralel

Rangkaian Paralel

L1:60 W / 220 V

VR1 = 225 V

IR1 = 810mA

182 W

L2:60 W/ 220 V

VR2 = 225 V

IR2 = 480mA

108 W

L3:60 W/ 220 V

VR3 = 225 V

IR3 = 250mA

56 W

Rangkaian Paralel
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0
Lampu Pijar 1

Lampu Pijar 2
V(Volt)

A(mA)

Lampu Pijar 3
P(Watt)

15

2.3

DISKRIPTIF
Pada percobaan ini kita menggunakan 3 Bola lampu pijar dengan beban

sebesar 60W/220V . Pada percobaan kali ini kita merangkai beban lampu pijar
rangkaian secara seri dan paralel .

Rangkaian Seri
Pada rangkaian seri ini kita merangkai 3 buah lampu pijar secara berderet
seperti barisan di skema percobaan diatas (a) . Setelah itu kita mencoba mengukur
tegangan pada setiap bola lampu yang sudah dialiri arus AC menggunakan AVO
meter dengan pengukuran di switch arus AC di alat ukur. Pada tegangan VR1 kita
mendapati besar tegangan 75 Volt di bola lampu pijar no.1 .Dan juga kita
mengukur arusnya dengan hasil 180 mA di IR1. Selanjutnya kita mencoba
mengukur tegangan di bola lampu pijar no.2 , VR2 menghasilkan 75 Volt dan IR2
mendapati hasil yang sama dengan IR1 sebesar 180 mA . Dan untuk yang terakhir
kita juga mendapati hasil VR3 75 volt dan juga mendapati hasil yang sama IR3
180 mA .
Dari pengukuran ketiga bola lampu pijar tersebut ternyata teori tentang
hambatan berbanding lurus dengan beban dan dirangkaian seri pun sama . Seperti
perhitungan arus dan tegangan , ketika pengukuran arus di beban seri yang kita
dapati adalah hasil yang sama I Total=IR1 = IR2 = IR3 = 180mA . Tegangan pada
semua lampu/ beban sama karena kita menggunakan beban dengan spesifikasi
yang sama . Jadi pada praktikum kita didapatkan VR1 = VR2 = VR3 .
Rangkaian Paralel
Pada rangkaian paralel ini kita merangkai 3 buah lampu pijar secara
paralel seperti pada skema percobaan diatas (b). Setelah itu kita mencoba
mengukur tegangan dan arus dirangkaian tersebut sama halnya seperti dirangkaian
seri. Untuk tegangan VRI di rangkaian paralel menghasilkan hasil sebesar 225
Volt . Untuk rangkaian paralel ini kita mendapati pengukuran tegangan yang sama
di beban VR1 ,VR2 dan VR3 = 225 volt . Disamping mengukur tegangan kita
juga mengukur arus tiap beban . Arus yang didapat ternyata tidak sama tiap bola
lampu pijarnya . Hasil yang didapat pada IR1 adalah 0,81 Ampere , IR2 0,48
Ampere serta yang IR3 adalah 0,25 Ampere . Jadi pada rangkaian Paralel ini dapat

16

disimpulkan bahwa pengukuran tegangan adalah sama satu sama lain nilainya ,
VR1 = VR2 = VR3 . Sedangkan di pengukuran arus pada rangkaian tidak sama ,
IR1 IR2 IR3 .
Beban resistif mempunyai persamaan Daya P = V I . Jadi kita bisa
menghitung besar daya tiap beban lampu pijar tersebut . Di rangkaian seri kita
mendapati 3 hasil perhitungan Daya sebesar P1 = 13,5 Watt , P2 = 13,5 Watt dan
P3 = 13,5 Watt .Di rangkaian seri ini juga mendapati hasil nyala lampu agak
redup karena pembagian tegangan yang tidak sama dan daya yang sedikit .
Sedangkan di rangkaian paralel juga mendapati 3 hasil Daya P1 = 182 Watt, P2 =
108 Watt dan P3 = 56 Watt . Dari rangkaian ini juga menghasilkan perbedaan dari
rangkaian seri yaitu pada nyala lampunya yang sangat terang karena tegangan
yang melewati lampu pijar sama besarnya dengan dayanya .
Pada pengukuran Cos phi meter saat beban resistif disusun secara paralel,
menghasilkan nilai Cos phi = 1. Rangkaian beban resistif di paralel dengan
capasitor, menghasilkan nilai Cos phi = 0,93. Rangkaian beban resistif di paralel
dengan induktor, menghasilkan nilai Cos phi = 0,955. Rangkaian beban resistif di
paralel dengan capasitor dan induktor , menghasilkan nilai Cos phi = 1.

17

Bab 3
Penutup

3.1 Kesimpulan
Pada percobaan daya satu fasa ini di rangkaian seri didapat hasil bahwa
Tegangan antar lampu yang dipasang seri adalah sama, jika semua
lampu/beban memiliki spesifikasi yang sama V1 = V2 = V3, arus yang
melewati lampu pijarnya I1 = I2 = I3=I tot. Dirangkaian ini nyala lampu
redup karena tegangan pada setiap lampu kecil seiring arus. Sehingga daya
yang di berikan tidak sama dengan daya yang dibutuhkan lampu.
Sifat-sifat Rangkaian Seri
Arus yang mengalir pada masing beban adalah sama.
Tegangan sumber akan dibagi dengan jumlah tahanan seri jika besar
tahanan sama. Jumlah penurunan tegangan dalam rangkaian seri dari
masing-masing tahanan seri adalah sama dengan tegangan total
sumber tegangan.
Banyak beban listrik yang dihubungkan dalam rangkaian seri, tahanan
total rangkaian menyebabkan naiknya penurunan arus yang mengalir
dalam rangkaian. Arus yang mengalir tergantung pada jumlah besar
tahanan beban dalam rangkaian.
Jika salah satu beban atau bagian dari rangkaian tidak terhubung atau
putus, aliran arus terhenti.
Pada percobaan daya satu fasa ini di rangkaian paralel didapat hasil bahwa
tegangan antar lampu yang dipasang paralel sama dengan yang lain V1 =
V2 = V3 , dan sebaliknya untuk arus berbeda tiap lampunya I1 I2 I3 .
Dirangkaian ini nyala lampu sangat terang karena pembagian daya pada
setiap lampu sangat besar.
Sifat-sifat Rangkaian Paralel
Tegangan pada masing-masing beban listrik sama dengan tegangan
sumber.
Masing-masing cabang dalam rangkaian parallel adalah rangkaian
individu. Arus masing-masing cabang adalah tergantung besar tahanan
18

cabang.
Sebagaian besar tahanan dirangkai dalam rangkaian parallel, tahanan
total rangkaian mengecil, oleh karena itu arus total lebih besar.
(Tahanan total dari rangkaian parallel adalah lebih kecil dari tahanan
yang terkecil dalam rangkaian.)
Jika terjadi salah satu cabang tahanan parallel terputus, arus akan
terputus hanya pada rangkaian tahanan tersebut. Rangkaian cabang
yang lain tetap bekerja tanpa terganggu oleh rangkaian cabang yang
terputus tersebut.
Pada percobaan daya satu fasa ini terdapat beban resistif dimana hasil dari
pengukuran cos phi meter adalah pf = 1 dan mempunyai persamaan Daya
P=VI
Faktor daya bisa dikatakan sebagai besaran yang menunjukkan seberapa
efisien jaringan yang kita miliki dalam menyalurkan daya yang bisa kita
manfaatkan. Faktor daya dibatasi dari 0 hingga 1, semakin tinggi faktor
daya (mendekati 1) artinya semakin banyak daya tampak yang diberikan
sumber bisa kita manfaatkan, sebaliknya semakin rendah faktor daya
(mendekati 0) maka semakin sedikit daya yang bisa kita manfaatkan dari
sejumlah daya tampak yang sama. Di sisi lain, faktor daya juga
menunjukkan besar pemanfaatan dari peralatan listrik di jaringan
terhadap investasi yang dibayarkan. Seperti kita tahu, semua peralatan
listrik memiliki kapasitas maksimum penyaluran arus, apabila faktor daya
rendah artinya walaupun arus yang mengalir di jaringan sudah maksimum
namun kenyataan hanya porsi kecil saja yang menjadi sesuatu yang
bermanfaat bagi pemilik jaringan.

19

3.2

Tugas
1.

Catat besaran Tegangan dan Arus pada masing-masing beban


Jawab:

Beban

Rangkaian Seri

Rangkaian Pararel

L1:60 W / 220 V

VR1 = 75 V

IR1 = 180mA VR1 = 220 V

IR1 = 800mA

L2:60 W/ 220 V

VR2 = 75 V

IR2 = 180mA VR2 = 220 V

IR2 = 450mA

L3:60 W/ 220 V

VR3 = 75 V

IR3 = 180mA VR3 = 220 V

IR3 = 250mA

2.

Hitung daya dari masing-masing beban dari data ampermeter, voltmeter


serta cos phi meter? kemudian bandingkan dengan data yang dihasilkan
pada pembacaan Wattmeter?
Jawab:
a. Rangkaian Seri
Beban

Rangkaian Seri

Daya Seri

L1:60 W / 220 V

VR1 = 75 V

IR1 = 180mA

13,5 W

L2:60 W/ 220 V

VR2 = 75 V

IR2 = 180mA

13,5 W

L3:60 W/ 220 V

VR3 = 75 V

IR3 = 180mA

13,5 W

b. Rankaian Pararel
Beban

Rangkaian Paralel

Daya Paralel

L1:60 W / 220 V

VR1 = 225 V

IR1 = 810mA

182 W

L2:60 W/ 220 V

VR2 = 225 V

IR2 = 480mA

108 W

L3:60 W/ 220 V

VR3 = 225 V

IR3 = 250mA

56 W

20

3.

Hitung besar kesalahan dari alat ukur ? (e = M - T)


Dimana :

M (adalah harga yang didapatkan dari pengukuran)


T (adalah harga sebenarnya)
e (adalah kesalahan dari alat ukur)

Jawab:
Rangkaian Lampu Seri (e = M - T)
Tegangan: VR1= 75,3V (M), T= 75V {e = 75,3 75 = 0,3 }
VR2 = 75,2V (M), T= 75V {e = 75,2 75 = 0,2 }
VR3 = 75,3V (M), T= 75V {e = 75,3 75 = 0,3 }
Arus:

IR1 = 180,1mA (M), T= 180mA {e= 180,1 180 = 0,1 }


IR2 = 180,1m A (M), T= 180mA {e= 180,1 180 = 0,1 }
IR3 = 180,1mA (M), T= 180mA {e= 180,1 180 = 0,1 }

Rangkaian Lampu Pararel (e = M - T)


Tegangan: VR1= 225,2V (M), T= 225V {e = 225,2 225 = 0,2 }
VR2 = 225,1V (M), T= 225V {e = 225,1 225 = 0,1 }
VR3 =225,1V (M), T= 225V {e = 225,1 225 = 0,1 }
Arus:

IR1 = 810,1mA (M), T= 810mA {e= 810,1 810 = 0,1 }


IR2 = 480,1m A (M), T= 480mA {e= 480,1 480 = 0,1 }
IR3 = 250,2mA (M), T= 250mA {e= 250,2 250 = 0,2 }

4.

Hitung impedansi lampu TL dan pijar ?


Jawab:
Impedansi dalam hal ini dapat terdiri dari berbagai jenis beban resistif,
induktif, kapasitif ataupun kombinasi dari ketiga jenis beban sehingga
sebuah impedansi

yang memiliki karakteristik gabungan dari

21

karakteristik. Pada percobaan ini kita hanya melakukan di lampu pijar


dengan hanya beban resistif aja . kita mendapat hasil beban resistifnya
sebesar Pf = 1 pada pengukuran cos phi meter

5.

Apa pengaruh dari perubahan kapasitansi dan induktansi terhadap


powerfactor ?
Jawab:
Penyebab utama Faktor Daya suatu sistim jaringan listrik mejadi rendah
adalah beban induktif . Pada sebuah rangakaian induktif murni , arus
akan tertinggal sebesar 90 terhadap tegangan , perbedaan yang besar
pada sudut fase antara arus dan tegangan ini akan menyebabkan faktor
daya mendekati nilai nol . Umumnya , semua rangkaian listrik
memiliki sifat Kapasitansi dan Induktansi ( kecuali rangkaian
resonanasi atau rangkaian tuning dimana reaktansi induktif = reaktansi
kapasitif ( Xc = XL ) , sehingga rangkaian menjadi bersifat resistif ) ,
karena sifat Kapasitansi dan Induktansi beban pada sebuah rangkaian
listrik akan menyebabkan perbedaan sudut fase ( ) antara arus dan
tegangan sehingga menimbulkan faktor daya.

6.

Plot cos phi vs I untuk masing - masing beban ?


Jawab:
R

RC

RL

RLC

0,93

0,955

Kita mengukur besaran Cos phi nya sebesar 1 dengan menggunakan


Cos phi meter pada beban R (Resistif), 0,95 untuk beban L (Induktif),
dan 0,94 untuk beban C (Kapasitif) RLC = 1

22

7.

Jelaskan prinsip kerja Wattmeter 1 dan 3 fasa?


Jawab:

Wattmeter satu fasa


Secara

luas

dalam

pengukuran

daya,

wattmeter

tipe

Elektrodinamometer dapat dipakai untuk mengukur daya searah


(DC) maupun daya bolak-balik (AC) untuk setiap bentuk
gelombang tegangan dan arus dan tidak terbatas pada gelombang
sinus saja. Wattmeter tipe elektrodinamometer terdiri dari satu
pasang kumparan yaitu kumparan tetap yang disebut kumparan
arus dan kumparan berputar yang disebut dengan kumparan
tegangan, sedangkan alat penunjuknya akan berputar melalui suatu
sudut, yang berbanding lurus dengan hasil perkalian dari arus-arus
yang melalui kumparan-kumparan tersebut. Gambar dibawah
menunjukkan susunan wattmeter satu fasa .

Wattmeter tiga fasa


Sistem fasa banyak, memerlukan pemakaian dua atau lebih
wattmeter.

Kemudian

menjumlahkan

daya

pembacaan

nyata

total

masing-masing

diperoleh
wattmeter

dengan
secara

aljabar. Teorema Blondel menyatakan bahwa daya nyata dapat


diukur dengan mengurangi satu elemen wattmeter dan sejumlah
kawat-kawat dalam setiap fasa banyak, dengan persyaratan bahwa

23

satu kawat dapat dibuat common terhadap semua rangkaian


potensial.
Gambar 9 menunjukkan sambungan dua wattmeter untuk
pengukuran konsumsi daya oleh sebuah beban tiga fasa yang
setimbang yang dihubungkan secara delta. Kumparan arus
wattmeter 1 dihubungkan dalam jaringan A, dan kumparan
tegangan dihubungkan antara (jala-jala, line) A dan C. Kumparan
arus wattmeter 2 dihubungkan dalam jaringan B , dan kumparan
tegangannya antara jaringan B dan C. Daya total yang dipakai oleh
beban setimbang tiga fasa sama dengan penjumlahan aljabar dari
kedua

pembacaan

wattmeter.

Diagram

fasor

gambar

4-5

menunjukkan tegangan tiga fasa VAC, VCB, VBA dan arus tiga
fasa IAC, ICB dan IBA. Beban yang dihubungkan secara delta dan
dihubungkan secara induktif dan arus fasa ketinggalan dari
tegangan fasa sebesar sudut.

8.

Bagaimanakah cos phi yang diinginkan para pelanggan PLN (rumah


tangga dan industri) dan cos phi yang diinginkan PLN ?
Jawab:

24

Konsumen: Semakin tinggi faktor daya (mendekati 1) artinya


semakin banyak daya tampak yang diberikan sumber bisa kita
manfaatkan atau dengan kata lain kita dapat menghemat daya yang
kita pakai. . Untuk menjadikan nilai cos phi mendekati angka satu
dapat dilakukan dengan penambahan kapasitor. Besarnya nilai
kapasitor tergantung dari nilai cos phi awal ditempat rumah.

PLN: Sebaliknya semakin rendah faktor daya (mendekati 0) maka


semakin sedikit daya yang bisa kita manfaatkan, dan itu adalah
strategi PLN untuk memperoleh keuntungan

9.

Bagaimanakah cara untuk mencapai optimasi antara masing - masing


pihak tersebut diatas ?
Jawab:
Faktor daya bisa dikatakan sebagai besaran yang menunjukkan
seberapa efisien jaringan yang kita miliki dalam menyalurkan daya
yang bisa kita manfaatkan. Faktor daya dibatasi dari 0 hingga 1,
semakin tinggi faktor daya (mendekati 1) artinya semakin banyak daya
tampak yang diberikan sumber bisa kita manfaatkan, sebaliknya
semakin rendah faktor daya (mendekati 0) maka semakin sedikit daya
yang bisa kita manfaatkan dari sejumlah daya tampak yang sama. Di
sisi lain, faktor daya juga menunjukkan besar pemanfaatan dari
peralatan listrik di jaringan terhadap investasi yang dibayarkan. Seperti
kita tahu, semua peralatan listrik memiliki kapasitas maksimum
penyaluran arus, apabila faktor daya rendah artinya walaupun arus yang
mengalir di jaringan sudah maksimum namun kenyataan hanya porsi
kecil saja yang menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi pemilik jaringan.
Untuk menjadikan nilai cos phi mendekati angka satu dapat dilakukan
dengan penambahan kapasitor. Besarnya nilai kapasitor tergantung dari
nilai cos phi awal ditempat rumah.

25

10. Terangkan apa yang anda ketahui tentang kapasitor bank ?


Jawab:
Kapasitor Bank merupakan peralatan listrik yang mempunyai sifat
kapasitif yang terdiri sekumpulan beberapa kapasitor yang disambung
secara parallel untuk mendapatkan kapasitas kapasitif tertentu. Besaran
parameter yang sering dipakai adalah KVAR (Kilovolt ampere reaktif)
meskipun pada kapasitor sendiri tercantum besaran kapasitansi yaitu
Farad atau microfarad.
Fungsi utama dari kapasitor bank yaitu sebagai penyeimbang beban
induktif, Seperti yang kita ketahui beban listrik terdiri dari beban reaktif
(R), induktif (L) dan capasitif(C). Dimana peralatan listrik yang sering
digunakan dan dijumpai memiliki karakteristik induktif, sehingga untuk
menyeimbangkan

karakteristik

beban

tersebut

perlu

digunakan

kapasitor yang berperan sebagai beban kapasitif. Berikut ini adalah


beberapa kegunaan dari kapasitor bank:

Memeperbaiki Power Factor (faktor daya)

Mensuply daya reaktif sehingga mamaksimalkan penggunaan daya


komplek (KVA)

Mengurangi jatuh tegangan (Voltage drop)

Menghindari kelebihan beban transformer

Memberikan tambahan daya tersedia

Menghindari kenaikan arus/suhu pada kabel

Menghemat daya / efesiensi

mengawetkan instalasi & Peralatan Listrik

26

Kapasitor bank juga mengurangi rugi rugi lainnya pada instalasi


listrik

11. Terangkan apa yang dimaksud dengan daya reaktif ?


Jawab:
Daya reaktif (Q) merupakan selisih antara daya semu yang
masuk pada penghantar dengan daya aktif pada penghantar itu sendiri,
dimana daya ini terpakai untuk daya mekanik dan panas. Daya reaktif
dipengaruhi faktor daya

Keterangan : Q = Daya reaktif (VAR)

12. Buat kesimpulan dari percobaan ini ?


Jawab:
Pada percobaan daya satu fasa ini di rangkaian seri didapat hasil
bahwa Tegangan antar lampu yang dipasang seri adalah sama, jika
semua lampu/beban memiliki spesifikasi yang sama V1 = V2 = V3,
arus yang melewati lampu pijarnya I1 = I2 = I3=I tot. Dirangkaian
ini nyala lampu redup karena tegangan pada setiap lampu kecil
seiring arus. Sehingga daya yang di berikan tidak sama dengan
daya yang dibutuhkan lampu.
Pada percobaan daya satu fasa ini di rangkaian paralel didapat hasil
bahwa tegangan antar lampu yang dipasang paralel sama dengan
yang lain V1 = V2 = V3 , dan sebaliknya untuk arus berbeda tiap
lampunya I1 I2 I3 . Dirangkaian ini nyala lampu sangat terang
karena pembagian daya pada setiap lampu sangat besar.
Faktor daya bisa dikatakan sebagai besaran yang menunjukkan
seberapa efisien jaringan yang kita miliki dalam menyalurkan daya

27

yang bisa kita manfaatkan. Faktor daya dibatasi dari 0 hingga 1,


semakin tinggi faktor daya (mendekati 1) artinya semakin banyak
daya tampak yang diberikan sumber bisa kita manfaatkan,
sebaliknya semakin rendah faktor daya (mendekati 0) maka
semakin sedikit daya yang bisa kita manfaatkan dari sejumlah daya
tampak yang sama. Di sisi lain, faktor daya juga menunjukkan
besar pemanfaatan dari peralatan listrik di jaringan terhadap
investasi yang dibayarkan. Seperti kita tahu, semua peralatan listrik
memiliki kapasitas maksimum penyaluran arus, apabila faktor daya
rendah artinya walaupun arus yang mengalir di jaringan sudah
maksimum namun kenyataan hanya porsi kecil saja yang menjadi
sesuatu yang bermanfaat bagi pemilik jaringan.

28

Daftar Pustaka

Modul Praktikum Pengukuran besaran Listrik Pengukuran Daya Satu Fasa


http://saranabelajar.wordpress.com/2010/02/18/karakteristik-beban-pada-sistemarus-listrik-bolak-balik-ac/
http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/pengukuran-daya-rangkaian-ac/
http://www.invertertaiwan.com/2014/03/definisi-listrik-1-fasa-3-fase.html
http://www.instalasilistrikrumah.com/daya-listrik-pln-1300watt-atau-1300va/

29