Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS UU NO.

7 TAHUN 2014
TENTANG PERDAGANGAN
DISUSUN OLEH:
REDHO BERLIAN/ B2A013124
EVI WULANDARI/ B2A013107
HENNY WINS C.G/ B2A013113
WIKAN ADNI CAHYA/ B2A013132

PROGRAM STUDI PASCASARJANA ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BENGKULU
2014

Pendahuluan
Sebelum adanya UU No. 7 Tahun 2014, landasan

hukum pelaksanaan perdagangan adalah


Bedfrijfsreglementerings Ordonnantie (BO) yang
merupakan warisan kolonial Belanda
Setelah 80 tahun, pada Selasa 11 Februari 2014, DPR
menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU)
Perdagangan disahkan menjadi undang-undang
UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan
terdiri dari 19 Bab dan 122 Pasal

Analisis Filosofis
Pembangunan nasional di bidang ekonomi disusun dan dilaksanakan

untuk memajukan kesejahteraan umum melalui pelaksanaan demokrasi


ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Kegiatan Perdagangan merupakan penggerak utama pembangunan
perekonomian nasional yang memberikan daya dukung dalam
meningkatkan produksi, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan
Ekspor dan devisa, memeratakan pendapatan, serta memperkuat daya
saing Produk Dalam Negeri demi kepentingan nasional.
Perdagangan nasional Indonesia sebagai penggerak utama perekonomian
tidak hanya terbatas pada aktivitas perekonomian yang berkaitan dengan
transaksi Barang dan/atau Jasa yang dilakukan oleh Pelaku Usaha

Undang-Undang ini bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi

nasional serta berdasarkan asas kepentingan nasional, kepastian hukum,


adil dan sehat, keamanan berusaha, akuntabel dan transparan,
kemandirian, kemitraan, kemanfaatan,kesederhanaan, kebersamaan, dan
berwawasan lingkungan
Tentu dalam kegiatan perdagangan nasional, aspek yang sangat penting adalah
terjaminnya kepentingan nasional. Kepentingan nasional menjadi sangat
penting karena pada saat ini, perdagangan sudah kegiatan lintas negara
Arus globalisasi telah mengharuskan dan memaksa Indonesia untuk tidak
memiliki pilihan lain selain mengikuti tren pasar bebas di era globalisasi
Pertanyaan yang menjadi topik penting adalah bagaimana terjaminnya
kepentingan nasional dalam persaingan ekonomi global

Dilihat dari landasan filosofis di dalam Naskah

Akademis yaitu trade makes everybody better off


Asas ini merupakan perwujudan free fight liberalism
yang dianggap melanggar hak ekonomi, sosial dan
budaya warga negara
Kritik muncul karena UU ini dianggap sangat
mengakomodir kepentingan asing (WTO dan AFTA)
Prinsip ekonomi liberal juga dianggap bertentangan
dengan asas demokrasi ekonomi yang terdapat
dalam Pasal 33 UUD 1945

Terdapat posisi dilematis yakni:

Mengikuti arus pasar bebas


Melaksanakan demokrasi ekonomi seperti yang

tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945


MEA 2015 tidak bisa lagi dihindari dan UU
Perdagangan menjadi sangat penting untuk
menjamin kedaulatan dan kepentingan ekonomi
nasional

Analisis Yuridis
Ada 19 hal penting yang diatur

Hal baru yang dibahas seperti aturan yang mengatur

perdagangan melalui sistem elektronik atau biasa


disebut e-commerce. (Pasal 65)
Pasal khusus tentang perlindungan dan
pemberdayaan koperasi serta usaha mikro, kecil dan
menengah (UMKM). (Pasal 73)
Poin yang mengalami perubahan dalam UU adalah
kerja sama perdagangan internasional (Pasal 83-85)

Para eksportir dan importir juga dilarang untuk

mengimpor barang yang tidak sesuai dengan


ketentuan pembatasan barang yang diekspor dan
diimpor apabila dilanggar dapat dikenakan sanksi
administratif (Pasal 43)
barang ekspor yang eksportirnya dihukum, akan
dikuasai negara, sementara importir yang dihukum,
diwajibkan untuk mengekspor kembali barang
impornya (Pasal 53)

Kritik tentang substansi UU Perdagangan muncul

dari dua kelompok yaitu Kelompok yang Pro Pasar


Bebas dan Kelompok yang anti Pasar Bebas
Kelompok yang Pro Pasar Bebas mengkritik
Beberapa pasal dapat diartikan pada kenyamanan
bagi Kementerian Perdagangan. Misalnya, pasal 49
ayat (4) mengatakan bahwa Dalam rangka
peningkatan daya saing nasional Menteri dapat
mengusulkan keringanan atau penambahan
pembebanan bea masuk terhadap Barang Impor
sementara

American Chamber of Commerce menafsirkan kata

daya saing nasional cukup jelas bahwa negara dapat


menggunakan pasal ini sebagai tangkapan-seluruh untuk
membenarkan pelaksanaan peraturan proteksionis

Banyak aturan dalam Regulasi ini juga memberikan

kebebasan pemerintah untuk mematahkan perjanjian


kontrak, seperti Pasal 84 ayat (6) ditegaskan pemerintah
dengan persetujuan DPR bisa mereview atau
membatalkan perjanjian perdagangan internasional,
yang pelaksanaannya ditegakkan oleh aturan dan
ketentuan dalam perundang-undagan, demi tujuan pada
kepentingan nasional

Kritik keras juga muncul dari Kelompok yang anti

Pasar Bebas, seperti Indonesia for Global Justice &


Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI)
Kedua NGO tersebut berpendapat bahwa dalam
Pasal UU Perdagangan telah banyak melanggar
aspek-aspek konstitusional

Aspek pelanggaran Konstitusional dalam UU


Perdagangan
UU Perdagangan telah menimbulkan perlakuan yang tidak

adil bagi pelaku usaha kecil (petani, nelayan, dan UMKM)


(Pasal 2 huruf c, Pasal 14 ayat (1), Pasal 20 ayat (1),
Pasal 57 ayat (1) dan (2), Pasal 113)

UU Perdagangan telah menimbulkan ketidakpastian hukum

yang adil bagi kelompok rakyat ekonomi rentan sehingga


menghilangkan tanggung jawab Negara, dalam hal ini
pemerintah, untuk melindungi hak-hak dasar kelompok
masyarakat rentan yang dirugikan dari praktik perdagangan
bebas (Pasal 13 ayat (2) huruf a, Pasal 14 ayat (3),
Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (3), Pasal 35 ayat (2),
Pasal 50 ayat (2), Pasal 54 ayat (1), Pasal 54 ayat (3),
Pasal 57 ayat (2), Pasal 66, Pasal 83, Pasal 84 ayat (1),
Pasal 85 ayat (2), Pasal 113,

UU Perdagangan telah menghilangkan hak-hak

petani, nelayan, dan UMKM untuk mendapatkan


perlindungan dan melakukan pembelaan untuk
mempertahankan kepentingannya (Pasal 67 ayat
(3), Pasal 70 ayat (1), Pasal 97 ayat (3))
UU Perdagangan telah menghilangkan kedaulatan
rakyat untuk dapat mempertahankan
penghidupannya (Pasal 26 ayat (1), Pasal 57
ayat (4), Pasal 57 ayat (7))

UU Perdagangan telah menghilangkan jaminan dan

hak rakyat untuk mendapatkan pekerjaan dan


penghidupan yang layak (Pasal 26 ayat (1) dan
Pasal 57 ayat (4) dan ayat (7)
UU Perdagangan telah melanggar kedaulatan

ekonomi nasional (Pasal 13 ayat (1))

Analisis Sosiologis
UU No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan menjadi

regulasi penting dalam menyambut era MEA 2015


Melalui UU ini pula pemerintah diwajibkan
mengendalikan ketersediaan bahan kebutuhan
pokok bagi seluruh wilayah Indonesia
Kemudian menentukan larangan atau pembatasan
barang dan jasa untuk kepentingan nasional
misalnya untuk melindungi keamanan nasional.

Regulasi tersebut terasa penting bila mempertimbangkan

kondisi perdagangan Indonesia selama ini belum optimal


memanfaatkan potensi pasar ASEAN
Pada periode Januari-Agustus 2013 misalnya, ekspor
Indonesia ke pasar ASEAN baru mencapai 23% dari nilai
total ekspor
Hal ini antara lain karena tujuan ekspor Indonesia masih
terfokus pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat,
Tiongkok dan Jepang
Peringkat Indonesia menurut global competitivenes index
masih berada pada posisi ke-38 dari 148 negara.
Sementara Singapura menempati posisi ke 2, Malaysia di
posisi ke 24, Thailand di posisi 37, Vietnam ke 70 dan
Filipina di posisi 59

Kritik yang muncul dari aspek sosiologis yakni dengan adanya

Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, produk impor akan


semakin menjamur di Indonesia, jika barang produksi
pedagang kecil bersaing dengan barang impor, kualitas
produksi pedagang kecil akan kalah dengan barang impor
Menjamurnya pasar modern telah mematikan pedagang pasar
dan juga pedagang kecil di wilayah yang berdekatan dengan
pasar termasuk usaha usaha kecil di dalam kampung
Menurut Indonesia for Global Justice (IGC), UU Perdagangan
yang ada sekarang ini lebih memperlihatkan
pengharmonisasian terhadap substansi FTA dengan substansi
dari hukum atau undang-undang terkait yang sudah ada di
Indonesia

Contoh FTA Indonesia dengan China yang

diimplementasikan pada 2010. ACFTA telah merugikan


Indonesia karena di dalam perjanjian tersebut China
dapat mengekspor raw materials seperti mineral dan
minyak dari Indonesia dengan berbagai kemudahan
Pelaksanaan zero tariff pada 2010 secara keseluruhan
untuk produk pertanian telah mengakibatkan
membanjirnya produk impor di Indonesia
Kritik juga dimunculkan karena ada rezim standardisasi
dalam UU Perdagangan, yang mengkhawatirkan para
pedagang kecil karena minimnya modal, berteknologi
terbatas, dan mempekerjakan buruh berketrampilan
rendah

Kesimpulan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang

Perdagangan diciptakan untuk menjawab tantangan


zaman saat ini berupa globalisasi ekonomi yang sangat
mengedepankan kompetisi atau persaingan kualitas
UU Perdagangan diharapkan mampu menjamin
kepentingan nasional di tengah pesatnya arus impor
yang akan terjadi di Indonesia pada MEA 2015
Secara garis besar UU Perdagangan telah mampu
menyesuaikan dengan konteks globalisasi ekonomi saat
ini dan relatif menjamin kepentingan nasional, namun
tidak dapat dipungkiri ada beberapa muatan yang
mungkin menurut kelompok anti pasar bebas, UU
Perdagangan sangat memanjakan kepentingan asing