Anda di halaman 1dari 34

1 JANUARI 1918

DUALISME HUKUM PIDANA BERAKHIR


(UNIFIKASI)
PASAL II PERAT.PERALIHAN
UUD 1945

UU NO 1 TAHUN 1946
(26 FEBRUARI 1946)

PENEGASAN BERLAKUNYA KUHP (1918)


PERATURAN HUKUM PIDANA BELANDA TIDAK BERLAKU
LAGI DI INDONESIA

PASAL II ATURAN PERALIHAN UUD 1945


JO
PASAL 192 KONSTITUSI RIS 1949
JO

PASAL 142 UUDS 1950


JO
PASAL II ATURAN PERALIHAN UUD 45
JO
PASAL I ATURAN PERALIHAN UUD 45 AMANDEMEN

PERBEDAAN
HUKUM PIDANA

HUKUM PERDATA
ISI
MENGATUR HUB. AN-

MENGATUR HUB. HK

TARA ORANG YG SATU

ANT.SEORANG ANGGO-

DGN ORANG LAIN

TA MASY. (WN) DGN


NEGARA YG MENGUASAI TATA TERTIB MAS-

KEPENTINGAN PERORANGAN
KANSIL, 1986 : 76,77

YARAKAT

PELAKSANAAN
DIAMBIL TINDAKAN

DIAMBIL TINDAKAN

OLEH PENGADILAN SE-

TANPA ADA PENGA-

TELAH PENGADUAN

DUAN DARI PIHAK YG

PIHAK YG BERKEPEN-

DIRUGIKAN

TINGAN/DIRUGIKAN

OLEH

POLISI, JAKSA, HAKIM


PENGGUGAT
PENUNTUT UMUM
KANSIL, 1986 : 76,77

PENAFSIRAN
MEMPERBOLEHKAN

HANYA BOLEH DITAF-

MENGADAKAN BER-

SIRKAN MENURUT ARTI

BAGAI MACAM INTER-

KATA

PRETASI
PENAFSIRAN AUTHENTIK

KANSIL, 1986 : 76,77

HUKUM PIDANA
KESELURUHAN PERATURAN UU PIDANA YANG

ISINYA MENUNJUKKAN PERISTIWA PIDANA YANG


DISERTAI DENGAN ANCAMAN HUKUMAN ATAS
PELANGGARANNYA.

HUKUMAN YANG MENGATUR TENTANG PELANGGARAN DAN KEJAHATAN TERHADAP KEPENTINGAN UMUM, PERBUATAN MANA DI ANCAM

DENGAN HUKUMAN YANG MERUPAKAN SUATU


PENDERITAAN/ SIKSAAN.
BACHSAN MUSTAFA,1984 : 73-76

ASAS HUKUM PIDANA


1.

NULLUM DELICTIUM : ASAS LEGILITAS.

2.

TIDAK ADA HUKUM TANPA KESALAHAN.

3.

HUKUM PIDANA KHUSUS MENYAMPINGKAN


HUKUM PIDANA UMUM.

4.

HUKUM PIDANA INDONESIA BERLAKU


TERHADAP SETIAP ORANG YANG DALAM
BILANGAN INDONESIA MELAKUKAN TINDAK

PIDANA.
5.

HUKUMAN : POKOK DAN TAMBAHAN.


BACHSAN MUSTAFA,1984 : 73-76

1. ASAS LEGALITAS
NULLUM DELICTUM..
TERCANTUM DALAM PASAL 1 (1) KUHP
ARTINYA : SUATU PERBUATAN PIDANA TIDAK DAPAT
DIKENAI HUKUMAN SELAIN ATAS KEKUATAN PERATURAN UU PIDANA YANG SUDAH ADA SEBELUM PERISTIWA/ PERBUATAN PIDANA TERSEBUT.

ASAS INI HANYA MEMBERIKAN JAMINAN KEPADA


ORANG UNTUK TIDAK DIPERLAKUKAN SEWENANGWENANG OLEH ALAT PENEGAK HUKUM.
SESUAI DENGAN ASAS NEGARA HUKUM.

2.

TIDAK ADA HUKUMAN TANPA


KESALAHAN
(GEEN STRAF ZONDER SCHULD)

ASAS INI MENGENAI PERTANGGUNG

JAWABAN
ARTINYA : SESEORANG HANYA DAPAT DINYA-

TAKAN BERSALAH, BILA IA DAPAT MEMPERTANGGUNGJAWABKAN PERBUATANNYA YANG DIKUALIFIKASIKAN SEBAGAI PERBUATAN PIDANA.

3.

HUKUM PIDANA KHUSUS,

MENYAMPINGKAN HUKUM PIDANA

UMUM
BILA SUATU PERBUATAN PIDANA DIATUR
OLEH HUKUM PIDANA UMUM DAN JUGA
OLEH HUKUM PIDANA KHUSUS MAKA YANG
BERLAKU ATAS PERBUATAN PIDANA
TERSEBUT ADALAH PERATURAN DARI
HUKUM PIDANA KHUSUS.

4.

HUKUM PIDANA INDONESIA BERLAKU


TERHADAP SETIAP ORANG DIWILAYAH
INDONESIA, MELAKUKAN PERBUATAN
PIDANA

MAKSUDNYA : WILAYAH TERSEBUT HARUSLAH


TERLETAK DI MANA (INDONESIA) KETENTUAN
HUKUM PIDANA TERSEBUT BERLAKU (PSL.2,

PSL.3, KUHP).
WILAYAH : 1. DARAT, AIR, DAN UDARA.
2. KENDARAAN AIR.
3. PESAWAT UDARA.

5.

PEMBAGIAN HUKUMAN KE DALAM


HUKUMAAN POKOK DAN HUKUMAN
TAMBAHAN
(PASAL 10 KUHP)

HUKUMAN POKOK ADALAH HUKUMAN YANG DAPAT DIJATUHKAN TERLEPAS DARI HUKUMAN
LAIN.
HUKUMAN TAMBAHAN HANYA DAPAT DIJATUHKAN BERSAMA HUKUMAN POKOK.

JENIS PIDANA :
HUKUMAN POKOK :

1.

PIDANA MATI

2.

PIDANA PENJARA

3.

PIDANA KURUNGAN

4.

PIDANA DENDA

HUKUM TAMBAHAN :

1.

PENCABUTAN HAK TERTENTU

2.

PERAMPASAN BARANG

3.

PENGUMUMAN KEPUTUSAN

HAKIM

PEMBAGIAN HUKUM PIDANA


HK. PIDANA
SUBYEKTIF

HK. PIDANA

(IUS PUNIENDI)

UMUM

HUKUM
PIDANA

HK. PIDANA
MATRIIL

HK. PIDANA

HK. PIDANA

KHUSUS

OBYEKTIF
(IUS PUNALE)

Kansil, 1986 : 264-265

HK. PIDANA

H.P. MILITER

FORMIL

H.P. PAJAK

HUKUM PIDANA OBYEKTIF (IUS

PUNALE) IALAH SEMUA PERATURAN YANG


MENGANDUNG KEHARUSAN ATAU LARANGAN,
TERHADAP PELANGGARAN MANA DIANCAM
DENGAN HUKUMAN BERSIFAT SIKSAAN.
HUKUM PIDANA MATRIIL IALAH MENGATUR
PERUMUSAN DARI KEJAHATAN DAN
PELANGGARAN SERTA SYARAT-SYARAT BILA
SESEORANG DAPAT DIHUKUM.
HUKUM PIDANA UMUM IALAH HUKUM PIDANA
YANG BERLAKU TERHADAP SETIAP PENDUDUK
(BERLAKU TERHADAP SIAPA PUN JUGA

DISELURUH INDONESIA) KECUALI KETENTARAAN.


HUKUM PIDANA KHUSUS IALAH HKUM PIDANA
YANG BERLAKU KHUSUS UNTUK ORANGORANG YANG TERTENTU.
CONTOH :
HUKUM PIDANA MILITER, BERLAKU KHUSUS
UNTUK ANGGOTA MILITER DAN MEREKA
YANG DIPERSAMAKAN DENGEN MILITER.
HUKM PIDANA PAJAK, BERLAKAU KHUSUS
UNTUK PERSEROAN DAN MEREKA YANG
MEMBAYAR PAJAK (WAJIB PAJAK)

HUKUM PIDANA FORMAL IALAH HUKUM


YANG MENGATUR CARA-CARA MENGHUKUM
SESEORANG YANG MELANGGAR

PERATURAN PIDANA (MERUPAKAN


PELAKSANAAN HUKUM PIDANA MATRIIL)

HUKUM PIDANA SUBYEKTIF (IUS


PUNIENDI) IALAH HAK NEGARA ATAU ALATALAT UNTUK MENGHUKUM BERDASARKAN
HUKUM PIDANA OBYEKTIF.

HUKM PIDANA
PERTANGGUNGAN JAWABAN MANUSIA
PERBUATAN YANG DAPAT DI HUKUM

TUJUAN HUKUM PIDANA :


MEMBERI SISTEM DALAM BAHAN YANG BANYAK
DARI HUKUM ITU : MENGHUBUNGKAN ASAS DA-

LAM SATU SISTEM.


DOGMATIS YURIDIS
KASIL, 1986 : 265

TEORI HUKUM
1. TEORI ABSOLUT (IMMANUEL, KANT, HEGEL)
KEJAHATAN SENDIRILAH YANG MEMUAT
ANASIR-ANASIR YANG MENUNTUT
HUKUMAN DAN YANG MEBERNARKAN

HUKUMAN DI JATUHKAN
HUKUMAN TIDAK BERTUJUAN
MEMPERBAIKI PENJAHAT TETAPI SEKEDAR
PEMBALASAN

2. TEORI RELATIF (VON FEURBACH) VAN


HAMEL, D. SIMONS.

TUJUAN HUKUMAN IALAH MENAKUTKAN MANUSIA AGAR JAGAN MELAKUKAN PELANGGARAN.

HUKUMAN DI BERIKAN UNTUK MEMPERBAIKI


MANUSIA

BERTUJUAN MENDIDIK MANUSIA,

SUPAYA KELAK DI MASYARAKAT DAPAT


DITERIMA KEMBALI.

HUKUMAN PERLU, AGAR MASYARAKAT


TERLINDUNGI TERHADAP PERBUATAN
KEJAHATAN, DAN TATA TERTIB MASYARAKAT
TERPELIHARA

3. TEORI GABUNGAN (1 + 2) (BINDING)

HUKUMAN DIJATUHKAN BAIK KARENA DOSA,


MEMPERBAIKI MANUSIA DAN MENJAGA AGAR

MASYARAKAT AMAN.

DAPAT JUGA DIKATAKAN HUKUMAN DIJATUHKAN


SUPAYA KEDUDUKAN RUANG CLASS TIDAK

TERGANGGU.

(SUMBER : SIMANJUNTAK, PENGANTAR KRIMINOLOGI DAN


PATOLOGI SOSIAL 1981 : 96)

PERBUATAN PIDANA
- STRAFBAAR FEIT
- DELIK
1.

MOELYATNO
PERBUATAN YANG OLEH ATURAN PIDANA DILARANG DAN DI ANCAM DENGAN PIDANA BARANG

SIAPA YANG MELANGGAR LARANGAN


TERSEBUT.
2.

D. SIMON

PERBUATAN SALAH DAN MELAWAN HUKUM


YANG DI ANCAM PIDANA DAN DILAKUKAN OLEH
SESEORANG YANG MAMPU BERTANGGUNG
JAWAB.

UNSUR-UNSUR PERBUATAN
PIDANA
1.

PERBUATAN MANUSIA (HANDELING)

2.

PERBUATAN MANUSIA ITU HARUS MELAWAN


HUKUM

3.

PERBUATAN DI ANCAM DENGAN PIDANA OLEH


UU

4.

HARUS DI LAKUKAN OLEH SESEORANG YANG

MAMPU BERTANGGUNG JAWAB


5.

PERBUATAN ITU HARUS TERJADI KARENA


KESALAHAN SI PEMBUAT

II. MENURUT KUHP


PERBUATAN PIDANA :
1.

KEJAHATAN

2.

PELANGGARAN

KUHP :

TIDAK MEMBERIKAN KETENTUAN/SYARAT UNTUK

MEMBEDAKAN KEJAHATAN DAN PELANGGARAN.

HANYA MENENTUKAN
BUKU II : KEJAHATAN

BUKU III : PELANGGARAN

PADA UMUMNYA KEJAHATAN DI ANCAM DENGAN


PIDANA YANG LEBIH BERAT DARIPADA
PELANGGARAN.

KATEGORISASI
PERBUATAN PIDANA
MENURUT DOCTRINE
A. DOLUS DAN CULPA
DOLUS (SENGAJA) : PERBUATAN SENGAJA YG
DILARANG DAN DIANCAM DGN PIDANA.
CULPA (ALPA) : PERBUATAN YG DILARANG &
DIANCAM DENGAN PIDANA YG DILAKUKAN
DGN TIDAK SENGAJA HANYA KRN KEALPAAN
(KETIDAK HATI-HATIAN).

B. D.COMMISSIONNIS, D.OMMISSIONIS,
D.COMMISSIONNIS PER OMMISIONEM
COMMISA
D.COMMISSIONNIS : DELIK YG TERJADI KRN
SEORANG MELANGGAR LARANGAN, YG DPT
MELIPUTI BAIK DELIK FORMAL MAUPUN DELIK
MATRIAL.

D. OMMISSIONIS : DELIK YG TERJADI KRN

SESEORANG MELALAIKAN SURUHAN (TIDAK


BERBUAT), BIASANYA DELIK FORMAL.

D. COMMISSIONIS PER OMMISIONEM COMMISA :


DELIK YG PADA UMUMNYA DILAKSANAKAN
DGN PERBUATAN, TETAPI MUNGKIN TERJADI

PULA BILA ORANG TIDAK BERBUAT.

C. MATERIAL DAN FORMAL


MATERIAL : DELIK YG PERUMUSANNYA
MENITIK BERATKAN PADA AKIBAT

YANG DILARANG DAN DIANCAM


DENGAN PIDANA OLEH UU.
FORMAL

: DELIK YG PERUMUSANNYA

MENITIK BERATKAN PADA PERBUATAN


YG DILARANG DAN DIANCAM DGN

PIDANA OLEH UU.

D. WITHOUT VICTIM AND WITH VICTIM


WITHOUT VICTIM : DELIK YANG DILA-

KUKAN DENGAN TIDAK ADA KORBAN.


WITH VICTIM : DELIK YG YANG DILAKUKAN DENGAN ADANYA KORBANNYA
BEBERAPA ATAU SESEORANG TER-

TENTU.

JENIS SANKSI
MENURUT HUKUM PIDANA
1.

PIDANA :
SEBAGAI PEMBALASAN ATAU PENGIMBALAN
TERHADAP KESALAHAN SI PEMBUAT.
- UNTUK ORANG YANG MAMPU BERTANGGUNG JAWAB
(PASAL 10 KUHP)

2.

TINDAKAN :
UNTUK PERLINDUNGAN MASYARAKAT TERHADAP
ORANG YANG MELAKUKAN PERBUATAN YANG
MEMBAHAYAKAN MASYARAKAT DAN UNTUK
PEMBINAAN DAN PERAWATAN SI PEMBUAT.
- UNTUK ORANG YANG MAMPU BERTANGGUNG JAWAB
1. PASAL 44 (2) PASAL 45 KUHP
2. PASAL 8 UU NO.7 DRT 1955

4 ASAS BERLAKUNYA KUHP


1.

ASAS TERITORIAL (ASAS WILAYAH)


DASAR : TEMPAT KEJADIAN

2.

ASAS NASIONAL AKTIF (ASAS PERSONALITAS)


DASAR : ORANG YANG MELAKUKAN

3.

ASAS NASIONALITAS PASIF (ASAS PERLINDUNGAN)


DASAR : SIAPAPUN

4.

PENYERAHAN

ASAS UNIVERSALITAS
DASAR : MERUGIKAN INTERNASIONAL

REFERENSI
KANSIL, C.S.T., 1993. PENGANTAR ILMU HUKUM DAN

TATA HUKUM INDONESIA. JAKARTA : BALAI


PUSTAKA.
MUSTAFA, BACHSAN, 1984. SISTEM HUKUM INDO-

NESIA. BANDUNG : REMADJA KARYA.


SIMANJUNTAK, 1981. PENGANTAR KRIMINOLOGI
DAN PATOLOGI SOSIAL.