Anda di halaman 1dari 2

Tatanan Tektonik Jawa Bagian Timur dan Madura

Oleh :
Kelompok III
Tri Nurhidayah
H22112012
A.
Noor Magfirah H22112251
Maksum Madjidi H22112252
Fauziah Alimuddin
H22112253
Program Studi Geofisika Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Hasanuddin
Makassar
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapan kehadirat Allah SWT.,karea dengan rahmat dan karunia-Nya
kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami u
capkan kepada Dosen dan teman-teman yang telah memberian dukungan dalam menyeles
aikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh k
arena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan s
elesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dan pembaca lainnya.
Makassar, April 2014
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
..
Daftar Isi
...
ii
Bab I PENDAHULUAN
..
1
I.1 Latar Belakang
.
I.2 Tujuan
..
BAB II KAJIAN PUSTAKA
...
II.1 Tatanan Tektonik Jawa Bagian Tim ..
II.1.1 Karakter Batuan dasar (Basement)
II.1.2 Fisiografi regional
II.2 Tatanan Tektonik Madura
...
..

i
1
3
4
.....
...
..
12
16

4
7

II.2.1 Cekungan Selat Madura


...
II.2.2 Analisa Perbandingan Batim.
BAB III PENUTUP
..
22
III.1 Simpulan
22
III.2 Saran
.
.
22
DAFTAR PUSTAKA
..
23

..

16
.. 18

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Jalur penunjaman Kapur-Paleosen yang ditunjukkan oleh singkapan batuan k
omplek Melange LukUlo-Karangsambung (Asikin, 1974; Hamilton, 1979; Suparka, 1988
; Parkinson et al., 1998) mempunyai arah umum struktur TL-BD yang mengarah kea r
ah Pegunungan Meratus di ujung tenggara Kalimantan. Pulunggono dan Martodjojo (1
994) mengenali tiga arah struktur utama di Pulau Jawa: Arah timurlaut-baratdaya
atau Pola Meratus, arah utara-selatan atau Pola Sunda, dan arah timur-barat ata
u Pola Jawa. Disamping tiga arah struktur utama ini, masih terdapat satu arah st
ruktur utama lagi, yakni arah baratlaut-tenggara yang disebut Pola Sumatra (Saty
ana, 2007). Pola Meratus dominan di kawasan lepas pantai utara, ditunjukkan ole
h tinggian-tinggian Karimunjawa, Bawean, Masalembo dan Pulau Laut (Guntoro, 1996
). Di Pulau Jawa arah ini terutama ditunjukkan oleh pola struktur batuan Pra-Te
rsier di daerah Luk Ulo, Kebumen Jawa Tengah. Pola Sunda yang berarah utara-sel
atan umum terdapat di lepas pantai utara Jawa Barat dan di daratan di bagian bar
at wilayah Jawa Barat. Arah ini tidak nampak di bagian timur pola Meratus. Pola
Jawa yang berarah timur-barat merupakan pola yang mendominasi daratan Pulau Jawa
, baik struktur sesar maupun struktur lipatannya. Di Jawa Barat pola ini diwakil
i oleh Sesar Baribis, serta sesar sungkup dan lipatan di dalam Zona Bogor. Di Ja
wa Tengah sesar sungkup dan lipatan di Zona Serayu Utara dan Serayu Selatan mem
punyai arah hampir barat-timur. Di Jawa Timur pola ini ditunjukkan oleh sesar-se
sar sungkup dan lipatan di Zona Kendeng. Struktur Arah Sumatra terutama terdapat
di wilayah Jawa Barat dan di Jawa Tengah bagian timur struktur ini sudah tidak
nampak lagi. Struktur arah barat-timur atau Arah Jawa, di cekungan Jawa Timur te
rnyata ada yang lebih tua dari Miosen Awal, dan disebut Arah Sakala (Sribudiyani
et al., 2003). Struktur Arah Sakala yang utama adalah zona sesar RMKS (RembangMadura-Kangean-Sakala) dan merupakan struktur yang menginversi cekungan berisi F
ormasi Pra-Ngimbang yang berumur Paleosen sampai Eosen Awal sebagai endapan tert
ua. Sebagian besar batuan tertua di Jawa, yakni yang berumur Pra-Tersier sampai
Paleogen dan dianggap sebagai batuandasar Pulau Jawa, tersingkap diwilayahJawaba
giantimur. Mereka tersingkap di Komplek Melange Luk Ulo-Karangsambung, Kebumen (
Asikin, 1974; Suparka, 1988); Nanggulan, Kulonprogo (Rahardjo et al., 1995); dan
Pegunungan Jiwo, Bayat-Klaten (Sumarso dan Ismoyowati, 1975; Samodra dan Sutisn
a, 1997). Sedangkan untuk batuan yang lebih muda, yakni yang berumur Neogen, te
lah banyak penelitian dilakukan terhadapnya (Van Bemmelen, 1949; Marks, 1957; Sa
rtono, 1964; Nahrowi et al, 1978; Pringgo-prawiro, 1983; De Genevraye dan Samuel
, 1972; Soeria-Atmadja et al., 1994). Pada umumnya penelitian geologi Tersier in
i menyepakati fenomena struktur atau tektonik yang berarah umum timur-barat seb
agai hasil interaksi lempeng dengan zona tunjaman di selatan Jawa dan searah den
gan arah memanjang Pulau Jawa.