Anda di halaman 1dari 1

Tatanan Tektonik Jawa Bagian Timur

Jawa bagian timur (mulaidaridaerahKarangsambungketimur), berdasarkan pola strukt


ur utamanya, merupakan daerah yang unik karena wilayah ini merupakan tempat perp
otongan dua struktur utama, yakni antara struktur arah Meratus yang berarah tim
urlut-baratdaya dan struktur arah Sakala yang berarah timur-barat (Pertamina-BPP
KA, 1996; Sribudiyani et al., 2003) (Gambar1). Arah Meratus lebih berkembang di
daerah lepas pantai Cekungan Jawa Timur, sedangkan arah Sakala berkembang sampai
ke daratan Jawa bagian timur.
Struktur arah Meratus adalah struktur yang sejajar dengan arah jalur konvergensi
Kapur Karangsambung-Meratus. Pada awal Tersier, setelah jalur konvergensi Karan
gsambung-Meratus tidak aktif, jejak-jejak struktur arah Meratus ini berkembang m
enjadi struktur regangan dan membentuk pola struktur tinggian dan dalaman sepert
i, dari barat ke timur, Tinggian Karimunjawa, Dalaman Muria-Pati, Tinggian Bawe
an, Graben Tuban, JS-1 Ridge, dan Central Deep(Gambar2). Endapan yang mengisi da
laman ini, ke arah timur semakin tebal, yang paling tua berupa endapan klastik t
erestrial yang dikenal sebagai Formasi Ngimbang berumur Eosen. Distribusi endapa
n yang semakin tebal ke arah timur ini menunjukkan pembentukan struktur tinggian
dan dalaman ini kemungkinan tidak terjadi secara bersamaan melainkan dimulai da
ri arah timur. Struktur arah Sakala yang berarah barat-timur saat ini dikenal se
bagai zona sesar mendatar RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala). Pada mulanya str
uktur ini merupakan struktur graben yang diisi oleh endapan paling tua dari Form
asi Pra-Ngimbang yang berumur Paleosen-Eosen Awal (Phillips et al., 1991; Sribud
iyani et al., 2003) (Gambar 2B).Graben ini kemudian mulai terinversi pada Miosen
menjadi zona sesar mendatar RMKS. Berdasarkan sedimen pengisi cekungannya dapat
disimpulkan sesar arah Meratus lebih muda dibandingkan dengan sesar arah Sakala
.
Selain arah Sakala, struktur arah barat-timur lainnya adalah struktur yang oleh
Pulunggono dan Martodjojo (1994) disebut sebagai arah Jawa. Struktur ini pada um
umnya merupakan jalur lipatan dan sesar naik akibat kompresi yang berasal dari s
ubduksi Neogen Lempeng Indo-Australia. Jalur lipatan dan sesar naik ini terutama
berkembang di Zona Kendeng yang membentuk batas sesar berupa zona overthrust a
ntara Zona Rembang dan Zona Kendeng (Gambar3). Bidang overthrust yang nampak mem
otong sampai ke lapisan yang masih berkedudukan horisontal menunjukkan pensesara
nnya terjadi paling akhir dibandingkan dengan pembentukan struktur yang lain (Ar
ah Meratus dan Arah Sakala).