Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kecerdasan memang menjadi konflik yang utama dibidang pembelajaran
sehari-hari, baik disekolah maupun dimasyarakat. Kecerdasan juga menjadi hal
yang luar biasa untuk menuju suatu kesuksesan. Tetapi jarang sekali para remaja
yang mengetahui bahwa setiap orang memiliki suatu kecerdasan. Dan hanya
menghabiskan hidupnya untuk berfoya-foya, ngegenk dan nongkrong. Yang
sangat bertolak belakang dengan pengembangan kegerdasan yang ia miliki. Dan
hanya menilai IQ (intelligence quotient) saja sejagai ujung tombak tingkat
kecerdasan seseorang. Padahal IQ hanya berperan 20 persen saja dari kecerdasan
seseorang. Gsianturi mengatakan justru anak yang cerdas itu adalah anak yang
bisa bereaksi secara logis dan berguna terhadap apa yang dialami di
lingkungannya.
Menurut Tabroni dalam pengantar buku Succes For Teens mencatat
Kesuksesan seseorang tidak didasarkan pada keturunan, kesuksesan seseorang
tidak bisa dibeli, kesuksesan seseorang tidak bisa dipesan, kesuksesan seseorang
tidak bisa dipinjamkan. Tetapi kesuksesan seseorang sangat tergantung pada
sejauh mana orang dapat mengoptimalkan potensinya.
Bagaimana mengoptimalkan kecerdasan anak? Eileen menyarankan agar
para orang tua meningkatkan cara belajar, membaca, dan mengulang. Misalnya,
untuk memperkenalkan cara membaca, ibu membantu anak dengan memberi
garis di bawah kata-kata yang penting, meminta anak membaca dengan suara
keras dan menjelaskan makna bacaannya.
Tetapi setiap anak tidak selalu bisa dipaksa dengan berbagai pelajaran.
Dan menelan mentah-mentah begitu saja pelejaran yang ada. Seorang anak harus
mempunyai gaya belajar masing-masing atau biasa disebut Study Lerning.
Di MAN 2 Tulungagung sendiri fenomena tentang kecerdasan sering
muncul. Dari yang paling banyak, tidak tahu dimana letak kecerdasan yang ia
miliki. Yang berakibat bingung memilih tujuan untuk keperguruan tinggi. Karena

minder akan kekurangan yang ia miliki di bidang kecerdasan, sehingga


berdampak pada berakhirnya masa belajar di bangku SMA/MA dan harus
mencoba mencari pekerjaan yang seharusnya dapat bekerja ke bidang yang lebih
baik ketika ia mengenali letak kecerdasannya. Pada tahun 2012, BK (Bimbingan
dan Konseling) MAN 2 Tulungagung mencatat hanya 86 siswa dari 360 siswa
yang ada yang sanggup melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri. Dan sisanya
berada di STAIN Tulugagung, STKIP PGRI Tulungagung dan Perguruan Tinggi
Swasta lainnya.
Menurut Haward Gardner kecerdana manusia terbagi menjadi 8 kategori
yang komprehensif, atau yang lebih dikenal dengan delapan kecerdasan dasar.
(Roni Tabroni, 2005 :3)
Berdasarkan pemikiran ini, pengukuran kecerdasan siswa MAN 2
Tulungagung merupakan fenomena menarik untuk dikaji lebih mendalam.
Karena itulah, perlu dilakukan penelitian tentang menyelidiki kecerdaan siswa
MAN 2 Tulungagung. Hasil penelitian ini sangat urgen untuk pertimbangan
dalam memberikan bimbingan yang sesuai dengan kemampuan dan harapan
siswa-siswi MAN 2 Tulungagung untuk memperoleh kenyamanan dan
kesuksesan dalam belajar.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut :
Apa kecerdasan yang lebih menonjol yang dimiliki oleh siswa-siswi
MAN 2 Tulungagung?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk :
Mendikripsikan kecerdasan yang lebih menonjol yang dimiliki oleh
siswa-siswi MAN 2 Tulungagung
1.4 Manfaat Penelitan
1. Manfaat Teoritis :
Sebagai masukan ilmiah untuk bahan kajian keilmuan di bidang
sosiologi dan pendidikan dan bidang psikologi perkembangan anak dibidang
kecerdasan anak.

2. Manfaat Praktis :
a. Bagi Siawa:
Hasil penelitian ini bisa dimanfaatkan bagi siswa-siswi MAN 2
Tulungagung sebagai tolak ukur kemampuan dan bisa belajar lebih giat dan
dan mempunyai arah dan tujuan dalam belajar.
b. Bagi Guru
Hasil penelitian ini nantinya bisa dimanfaatkan oleh guru sebagai motivasi
siswa-siswinya dalam belajar dan bisa mengklasifikasikannya dalam
beberapa hal dalam belajar. Baik kelompok belajar maupun yang lainnya.
c. Bagi Orang Tua/ Wali
Hasil penelitian ini nantinya bisa dimanfaatkan sebagai pertimbangan
orang tua sebagai tolak ukur kemampuan anak sehingga mempunyai jalan
keluar untuk mendukung perkembangan anak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Kajian Tentang Kecerdasan


2.1.1 Definisi kecerdasan
Menurut Artendi Rachman mencatat dalam pembukaan bukunya
apakah kecerdasan itu? Kecerdasan adalah kapasitas global atau terpadu
yang dimiliki seseorang yang memungkinkan ia bertindak dengan tujuan,
berfikir rasional,dan efektif dalam menangani lingkungan.
Sedang menurut Muhamad Yaumi kecerdasan adalah istilah umum
yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah
kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan
masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan
belajar.

Menurut Gardner (1999) seorang penulis buku tentang Multiple


Intelligences melihat kecerdasan sebagai kapasitas untuk pemecahan masalah,
membentuk produk yang dapat dinilai menurut satu atau lebih setting budaya.
Sedangkan berdasarkan istilah kecerdasan jamak dalam buku ini
merujuk pada multiple intelligence atau dapat pula disebut kecerdasan
majemuk yang menurut Gardner (1983) terdiri atas delapan komponen, yakni;
(1) kecerdasan verbal/linguistik, (2) logika matematik, (3) visual/spatial, (4)
music/rhythmic, (5) bodi/kinestetik, (6) interpersonal, (7) Intrapersonal, dan
(8) naturalis.
2.1.2 Macam-macam kecerdasan
Untuk lebih menspesifikkan rangkaian dari beberapa kecerdasan
majemuk diatas penulis akan memilah satu-persatu:
a. Kecerdasan Linguistik
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang sangat penting
dalam kehidupan manusia. Tanpa bahasa mustahil seseorang dapat
menyampaikan keinginannya kepada orang lain. Dalam kehidupan anakanak, peranan bahasa menjadi sangat vital dalam upaya mencerdaskan
kehidupan anak, bahkan bahasa dipandang sebagai aktivitas social. Seperti
yang disarankan oleh Gardner (1999) bahwa bahasa adalah contoh awal
yang istimewa dari kecerdasan manusia.
Dalam makalahnya Muhamad Yaumi mencatat Kemampuan
linguistic sangat merujuk pada terbangunnya tradisi baca-tulis dan
kebiasaan berkomunikasi.
Sedang menurut Toni Tabroni Kecerdasan Linguistik yaitu
kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan (misalnya
mendongeng, orator, atau politisi) maupun menulis (misalnya, wartawan,
sastrawan, penulis drama, editor, wartawan).
Dengan demikian seorang anak yang memiliki kecerdasan bahasa
yang tinggi akan mampu menceritakan cerita dan adegan lelucon, menulis
lebih baik dari rata-rata anak yang lain yang memiliki usia yang sama,
senang terhadap permainan kata, menyukai baca buku, menghargai sajak,

dan permainan kata-kata, suka mendengar cerita tanpa melihat buku,


mengkomunikasikan, pikiran, perasaan, dan ide-ide dengan baik,
mendengarkan dan meresponi bunyi-bunyi, irama, warna, berbagai katakata lisan.
b. Kecerdasan Logika-Matematis
Kecerdasan Logika-Matematis merupakan cara yang lazim dimiiki
oleh para ilmuawan untuk melakukan suatu eksperimen meupun berbagai
cara untuk melogika suatu permasalahan agar tereroeh titik temu yang
sesuai dan untuk memanipuasi suatu bilangan.
Menurut Muhamad Yami Kecerdasan logis/ matematik mencakup
kemampuan berpikir logis, sistematis, dan kemampuan menghitung.
Menurut Toni Tabroni Kecerdasan logika-matematis adalah
kemampuan menggunakan angka dengan baik (misalnya, ahli matematika,
akuntan pajak, ahli statistic) dan meakukan penalara yang benar (misalnya,
sebagai ilmuwan, pemrogram computer, atau ahli logika).
Dengan demikian Anak-anak yang memiliki kecerdasan logika
matematika yang tinggi sangat menyukai bermain dengan bilangan dan
menghitung, suka untuk diatur, menyukai permainan matematika, suka
melakukan percobaan dengan cara yang logis, mempunyai kemampuan
untuk berpikir abstrak, suka computer, menikmati dalam menyelesaikan
teka-teki, selalu ingin mengetahui bagaimana sesuatu itu berjalan, terarah
dalam melakukan kegiatan yang berdasarkan aturan, tertarik pada
pernyataan logis, suka mengumpulkan dan mengklasifikasi sesuatu, suka
menyelesaikan berbagai persoalan yang membutuhkan penyelesaian yang
logis, merasa lebih nyaman ketika sesuatu telah diukur, dan berpikir
dengan konsep yang jelas.
c. Kecerdasan Spasial
Kecerdasan Visual-Spasial merupakan kecerdasan yang sering
dikaitkan dengan bakat seni, khususnya seni lukis dan seni arsitektur.
Menurut Muhamad Yami Kecerdasan Visual-Spasial atau
kecerdasan gambar atau kecerdasan pandang ruang didefinisikan sebagai

kemampuan mempresepsi dunia visual-spasial secara akurat serta


menstranformasikan persepsi visual-spasial tersebut dalam berbagai
bentuk. Kemampuan berpikir Visual-Spasial merupakan kemampuan
berpikir dalam bentuk visualisasi, gambar dan bentuk tiga dimensi.
Sedang menurut Toni Tabroni kecerdasan spasial adalah
kemampuan mempresepsi dunia spasial-visual secara akurat (misalnya,
sebagai pemburu, pramuka, pemandu) dan mentransformasikan persepsi
dunia spasial-visual tersebut (misalnya, decorator interior, arsitek, seniman
atau penemu).
d. Kecerdasan Kinestis-Jasmani
Kemampuan dari kecerdasan kinestetik lebih bertumpu pada
kemampuan yang tinggi untuk mengendalikan gerak tubuh dan ketrampilan
yang tinggi untuk menangani benda. Kecerdasan kinestetik memungkinkan
manusia membangun hubungan yang penting antara pikiran dan tubuh,
dengan demikian memungkinkan tubuh untuk memanipulasi objek dan
menciptakan gerakan.
Kecerdasan kinetis-jasmani menurut Toni Tabroni yaitu kecerdasan
yang ahli dalam menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide
dan gagasan (misalnya, sebaai actor, pemain pantomime, atlet, atau penari)
dan keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah
sesuatu (misalnya, sebaai pengrajin, pematung, ahli mekanik, dokter
bedah).
Menurut Muhamad Yami Kecerdasan Kinestetik jasmani adalah
kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide
dan perasaan, serta menggunakan tangan untuk menghasilkan atau
mentransformasi sesuatu.
Jadi dengan pernyataan diatas disimpulkan Komponen inti dari
Kecerdasan Visual-Spasial adalah kepekaan pada garis, warna, bentuk,
ruang, keseimbangan, bayangan harmoni, pola dan hubungan antar unsur
tersebut. Komponen lainnya adalah kemampuan membayangkan,

mempresentasikan, ide secara visual dan spasial, dan mengorientasikan


secara tepat. Komponen inti dari Kecerdasan Visual- Spasial benar-benar
bertumpu pada ketajaman melihat dan ketelitian pengamatan.
e. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan Musikal memang kecerdasan yang paling banyak
dimiliki oleh manusia. Bahkan beberapa ahli beranggapan music dapat
merangsang kognitif dalam otak dan mendorong kecerdasan.
Menurut Muhamad Yami Kecerdasan musikal adalah kapasitas
berpikir dalam musik untuk mampu mendengarkan pola-pola dan
mengenalnya serta mungkin memanifulasinya.
Menurut Toni Tabroni kecerdasan musical adalah kemampuan
dalam menangani bentuk-bentuk musical dengan cara mempersepsi
(misalnya, sebagai penikmat music), membedakan (misalnya, sebaai
kritikus music), mengubah (misalnya sebagai composer), dan
mengekspresikan (misalnya, sebagai penyanyi)
Orang yang mempunyai kecerdasan musik yang kuat biasanya
mengingat musik dengan mudah, bahkan mereka tidak dapat keluar dari
pemikiran musik dan selalu hadir dimana-mana.
Anak-anak yang memiliki kecerdasan musik yang tinggi
mempunyai sensitivitas untuk mendengarkan pola-pola, bersenandung dan
dapat memainkan sesuai dengan irama, mampu membedakan bunyi-bunyi
dan memiliki perasaan yang baik terhadap tangga nada, bergerak sesuai
dengan irama, mengingat irama dan pola-pola bunyi, mencari dan
menikmati pengalaman musik, bermain dengan suara, sangat bagus dalam
mengambil nada, mengingat melodi, mengamati irama dan mengetahui
waktu memulai dan mengakhiri nada, sering mendengarkan musik, dapat
dengan mudah mengingat melodi dan menyanyikannya, mempunyai suara
merdu, baik itu bernyanyi solo maupun paduan suara, memainkan
instrumen musik, berbicara atau bergoyang mengikuti irama, dapat
mengetuk meja atau desktop sambil bekerja, menunjukan sensitivitas pada

suara dalam lingkungan, memberi respon secara emasional pada musik


yang mereka dengarkan.
f. Kecedasan Interpersonal
Kecerdasan Interpersonal merupakan kecerdasan dengan indicatorindikator yang menyenangkan bagi orang lain. Sikap-sikap yang ditunjukan
oleh anak dalam Kecerdasan Interpersonal sangat menyejukan dan penuh
kedamaian.
Menurut Toni Tabroni kecerdasan interpersonal adalah kemampuan
mempersepsi dan membedakan suara hati, maksud, motivasi, serta
perasaan oran lain.
Sedang Muhamad Yami mendefinisikan Kecerdasan Interpersonal
adalah sebagai kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati,
maksud, motivasi dan keinginan orang lain, serta kemampuan memberikan
respons secara tepat terhadap suasana hati, temperamen, motivasi dan
keinginan orang lain.
Anak-anak yang berkembang pada Kecerdasan Interpersonal peka
terhadap kebutuhan orang lain. Apa yang direncanakan dan diimpikan
orang lain dapat ditangkap melalui pengamatannya terhadap kata-kata,
gerik-gerik, gaya bahasa, dan sikap orang lain.
g. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan Intrapersonal sering dibilang merupakan kecerdasan
dunia batin, kecerdasan yang bersumber pada pemahaman diri secara
menyeluruh guna menghadapi, merencanakan, dan memecahkan berbagai
persoalan.
Menurut Muhamad Yami kecerdasan Intrapersonal yaitu sebagai
kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman
tersebut. Dan ia juga menjelaskan komponen yang inti dari Kecerdasan
Intrapersonal yaitu kemampuan memahami diri yang akurat meliputi
kekuatan dan keterbatasan diri, kecerdasan akan suasana hati, maksud,
motivasi, temperamen dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri,
memahami dan menghargai diri.

Sedang menurut Toni Tabroni yaitu kemampuan memahami diri


sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut.
h. Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan Naturalis sering didefinisikan sebagai hal yang
berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan.
Menurut Muhamad Yaumi mencatat Kecerdasan Naturalis
didefinisikan sebagai keahlian mengenali dan menngkatagorikan spesies,
baik flora maupun fauna, di lingkungan sekitar, dan kemampuannya
mengolah dan memanfaatkan alam, serta melestarikannya.
Sedang menurut Toni Tabroni Kecerdasan Naturalis adalah keahlian
untuk menggali dan mengkategorikan spesies-flora dan fauna di
lingkungan sekitar.
Jadi demikian Anak-anak yang memiliki kecerdasan naturalis tinggi
cenderung menyukai dan terbuka, akrab dengan hewan peliharaan, dan
bahkan menghabiskan waktu mereka di dekat akuarium. Mereka
mempunyai keingintahuan yang besar tentang selak seluk hewan dan
tumbuhan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metodologi Penelitian

10

Metode penelitian adalah cara-cara berfikir dan berbuat yang dipersiapkan


dengan baik-baik untuk mengadakan penelitian dan untuk mencapai suatu tujuan
penelitian. (Sukardi, 2003 : hal 4).
Sedangkan menurut Arief Furchan, metode penelitian adalah strategi umum
yang dianut dalam pengumpulan dan analisis data yang diperlukan guna menjawab
persoalan yang dihadapi. (Arief Furchan, 1983 : hal 50).
Dengan demikian metode penelitian dapat diartikan sebagai suatu
bahasan yang membahas secara teknik tentang metode-metode yang digunakan
dalam sebuah penelitian.
3.2 Jenis Penelitian
Penelitian Mengukur Tingkat Kecerdasan Siswa Madrasah Aliyah
Negeri 2 Tulungagung tergolong penelitian deskriptif. Menurut Nana Sudjana
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendiskripsikan suatu
gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang, dengan perkataan lain,
penelitian deskriptif mengambil masalah atau memusatkan perhatian kepada
masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan.
(Nana Sudjana, 1989 : hal 64) Sebab, penelitiannya diarahkan untuk
mendiskripsikan keadaan obyek atau peristiwa tanpa suatu maksud menguji
hipotesa.
Dipilihnya jenis penelitian diskriptif ini juga bertolak dari karakteristik
metode penelitian deskriptif itu sendiri sebagaimana dikemukakan Masri
Singarimbun :
Penelitian deskriptif biasanya mempunyai dua tujuan. Yang pertama
adalah untuk mengetahui perkembangan sarana fisik tertentu atau frekuensi
terjadinya suatu aspek sosial tertentu. Yang kedua untuk mendeskripsikan secara
terinci fenomena sosial tertentu ( Singarimbun, 1984 : 4).
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

11

Populasi berasal dari bahasa inggris population yang berarti jumlah


penduduk.Menurut Sudjana populasi adalah: totalitas semua nilai yang mungkin
hasil menghitung ataupun pengukuran mengenai karakteristiktertentu dari semua
anggota kumpulan yang jelas dan lengkap yang ingin dipelajari. (Sudjana, 2005 :
hal 6)
3.3.1 Populasi Penelitian
Dalam suatu penelitian, peneliti akan berhadapan dengan sekelompok
obyek yang dijadikan sasaran penelitian. Keseluruhan obyek penelitian ini
dinamakan populasi penelitian (Arikunto, 1984 : 54). Populasi inilah yang
akan menjadi sasaran generalisasi dari suatu hasil penelitian.
Dalam penelitian ini, populasinya adalah siswa-siswi Madrasah Aliyah
Negeri 2 Tulungagung kelas X dan XI, jumlah populasi penelitian ini
sebanyak 660 siswa.
3.3.2 Sampel Penelitian
Suatu penelitian harus memperhitungkan sampel penelitiannya.
Sampel merupakan sebagian dari keseluruhan obyek yang diteliti dan
dianggap mewakili terhadap seluruh populasi yang diambil dengan teknik
tertentu. Koentjoroningrat menyebut sampel sebagai bagian-bagian dari
keseluruhan yang menjadi obyek sesungguhnya dari suatu penelitian
(Koentjoroningrat, 1983 :89).
Penggeneralisasian suatu sampel ke dalam populasi mengandung
resiko kekeliruan yang lebih besar, jika sampel tidak mencerminkan secara
tepat keadaan populasi. Namun apabila sampel dipilih benar-benar
mewakili populasi, maka untuk melakukan generalisasi tidaklah sulit.
Dengan teknik pengambilan sampel yang tepat akan diperoleh sampel yang
representatif, yakni sampel yang mencerminkan keadaan populasi
(Furchan, 1982 :192).
Ada beberapa teknik pengambilan sampel penelitian. Dalam penelitian
ini, sampel ditetapkan dengan teknik area random sampling. Artinya,

12

sampel diambil di setiap kelas yang kuotanya yang tidak tentu. Selanjutnya,
penentuan sampel dilakukan dengan acak (random). Secara rinci, sampel
dalam penelitian ini tersaji dalam tabel di bawah ini :
Tabel 1
Sampel Penelitian
No.

Nama kelas

Kuota Sampel

1.

Kelas XI IPA 2 putra

10

2.

Kelas XI IPA 2 Putri

21

JUMLAH SAMPEL

31

3.4 Teknik Pengumpulan Data


Agar diperoleh data yang dipercaya, peneliti hendaknya memilih alat
pengukur yang dapat di pertanggungjawabkan untuk mengukur tingkah laku dan
sifat dari suatu obyek yang sedang diteliti. Karena itu, dalam sebuah penelitian
perlu memperhatikan teknik pengumpulan data. Dalam penelitian ini, teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner (angket).

No.
1.

Fokus
Data Diri Responden

Indikator
1. Nama

Keterangan

13

2. Kelas
2.

Bagaimana keadaan
tingkat kecerdasan
Linguistik siswa
Madrasah Aliyah Negeri 2
Tulungagung?

1. Mampu
menjelaskan topic
yang rumit menjadi
sesuatu yang
sederhana.
2. Mampu menerima
suatu penjelasan
dengan lisan
3. Mampu
mengekspresikan
dengan bentuk lisan
maupun tulisan apa
yang sedang ia
rasakan.
4. Mempunyai
kegemaran dalam
tulis-menulis

Instrumen nomor
1,2,3,4

Cacatan :
Jawaban sesuai 5
Jawaban cukup
sesuai scor 4
Jawaban kurang
sesuai scor 3,2,1
Jawaban sama
sekali tidak tepat
scor 0

3.

Bagaimana keadaan
tingkat kecerdasan
Matematis/ logika siswa
Madrasah Aliyah Negeri 2
Tulungagung?

1. Mempunyai
kebiasaan
melakukan sesuatu
dengan rinci
2. Menyukai sesuatu
yang berhubungan
dengan logika.
3. Memahami suatu
pola yang ada di
sekitarnya, seperti
jembatan.
4. Mempunyai hobi
terhadap sesuatu
yang berhubungan
dengan angka.

Instrumen nomor
5,6,7,8

4.

Bagaimana keadaan
tingkat kecerdasan Visual
dan Spasial siswa
Madrasah Aliyah Negeri 2

1. Mudah mengtahui
arah tempat ia
berada.
2. Lebih senang

Instrumen nomor
9, 10, 11, 12

14

Tulungagung?

menggunakan alat
bantu dalam belajar.
3. Ingatan kuat
sesuatu yang di
alami oleh siswa.
4. Selalu paham
dengan kekurangan
dari suatu produk

Bagaimana keadaan
tingkat kecerdasan
Musical siswa Madrasah
Aliyah Negeri 2
Tulungagung?

1. Daya ingan pada


lagu tinggi
2. Dapat menikmati
alunan music yang
ia dengarkan.
3. Mengerti alat music
yang digunakan
ketika alat tersebut
dibunyikan.
4. Menyukai music
dan dapat
menciptakan lagu.

Instrumen nomor

6.

Bagaimana keadaan
tingkat kecerdasan
Interpersonal siswa
Madrasah Aliyah Negeri 2
Tulungagung?

1. Mampu
mendamaikan
memberi yang
terbaik kepada
orang lain
2. Selalu tidak lepas
dari orang lain
dalam suatu
kegiatan
3. Dapat mengetahui
perilaku orang lain
4. Dapat
mengungkapkan
inspirasi ketika
belajar kelompok

Instrumen nomor
17, 18, 19, 20

7.

Bagaimana keadaan
tingkat kecerdasan
Intrapersonal siswa

1. Dapat mengetahui
Instrumen nomor
perilaku diri-sendiri 21, 22, 23, 24
2. Mengetahui manfaat

5.

13, 14, 15, 16

15

Madrasah Aliyah Negeri 2


Tulungagung?

dari perilaku
sebelum
dilaksanakan
3. Tidak membutuhkan
orang lain dalam
bekerja.
4. Suka menyendiri

8.

Bagaimana keadaan
tingkat kecerdasan
Kinestik siswa Madrasah
Aliyah Negeri 2
Tulungagung?

1. lebih mudah praktik


dari pada teori
2. lebih mudah
memahami dengan
adegan
3. sehat dan rajin olah
raga
4. ingin terus ada yang
menemani

Instrumen nomor
25, 26, 27, 28

9.

Bagaimana keadaan
tingkat kecerdasan
Natural siswa Madrasah
Aliyah Negeri 2
Tulungagung?

1. senang terhadap
flora dan fauna
2. cinta terhadap
lingkungan
3. mengerti kondisi
tubuh yang dimiliki
4. dapat memprediksi
kondisi alam.

Instrumen nomor
29, 30, 31, 32

Tabel II: Pedoman Kuisioner


Kuisioner adalah sebuah set pertanyaan yang secara logis berhubungan
dengan masalah penelitian dan setiap pertanyaan merupakan jawaban-jawaban
yang mempunyai makna untuk menjawab masalah penelitian (Nazir, 1988 : 246).
Daftar pertanyaan kuisioner dikembangkan berdasarkan fokus masalah
sebagaimana tersaji dalam tabel di bawah ini :

16

3.5 Teknik Pengolahan Data


Data yang diperoleh melalui instrument peneltian perlu diolah sehingga
informasi tersebut mempunyai arti. Oleh sebab itu, agar data yang telah terkumpul
dapat dedeskripsikan perlu adanya analisa data. Teknik analisa data tergantung
pada jenis data dan metode penelitian yang digunakan.
Dalam penelitian ini, Rumus yang digunakan teknik persentase menurut
Azwar (2000:129) adalah sebagai berikut:
F
P = ------------- X 100 Persen
Keterangan:

P = Persentase
F = Banyaknya responden yang memberikan jawaban tertinggi
N = Jumlah responden

BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1 Penyajian Data


Dalam rangka pengumpulan data penulis mempergunakan sebuah metode
yaitu : motode kuisioner.
Metode kuisioner digunakan penulis umtuk mengumpulkan data kualitatif
tentang pengukuran tingkat kecerdasan siswa MAN 2 Tulungagung. Data inilah
yang kemudian dianalisa dan disajikan dalam bentuk prosentase. Siswa yang
dijadikan responden adalah siswa kelas XI IPA 2, sebanyak 31 siswa.
Jumlah soal terdiri dari 32 soal, diklasifikasikan lagi menjadi 8 macam
jenis soal, yaiti soal yang termasuk dalam kecerdasan Linguistik, kecerdasan
Matematis atau Logika, kecerdasan Visual atau Spasial, kecerdasan Musikal,
kecerdasan Interpersonal, kecerdasan Intrapersonal, kecerdasan Kinestik dan
kecerdasan Naturalis. Masing-masing kategori terdiri atas 4 soal, diperoleh data

17

berupa skor berdasarkan benar untuk setiap soalnya sangat sesuai ( 5 ), sesuai
( 4 ) cukup sesuai ( 3 ) kurang sesuai ( 2 ) tidak sesuai ( 1 ) sangat tidak sesuai ( 0
).
Berikut ini data mengenai nilai test tingkat kecerdasan siswa Madrasah
Aliyah Negeri 2 Tulungagung
Tabel III
Hasil Test kecerdasan
No
Linguistik Matematis

Spasial

Musical Interpersonal

Intrapersonal

Kinestik

Natural

Ket-

Mus

-3

10

Mus

Mus

-3

10

Mus

Mus

-2

Intra

Intra

-3

Mus

-3

10

Mus

10

10

Spa

11

Mat

12

inter

13

10

mus

14

Nat

15

-1

Nat

16

-1

intra

17

mat

18

-1

-1

-6

intra

18

19

-1

-2

-2

inter

20

mat

21

-1

inter

22

10

mus

23

mat

24

intra

25

-1

Lin

26

-6

-1

-1

intra

27

intra

28

mus

29

mus

30

-1

-1

mus

31

-7

Spa

3.1

3.6

3.9

5.4

4.2

6.06

4.4

3.5

Keteranangan: Lin : Linguistik


Mat : Matematika atau Logika
Spa : Visual / Spasial
Mus : Musikal
Inter : Interpersonal
Intra : Intrapersonal
Kin : Kinguistik
Nat : Naturalis
4.2 Analisa Data
Dari tabel diatas diketahui bahwa nilai N = 31 Sedangkan Sm
yang merupakan skor maximal dari tiap soalnya diketahui adalah = 10 sedangkan
Sn scor minimal dari setiap soal tersebut diketahui adalah = -7

19

a. Tingkat Kecerdasan Siswa Pada kecerdasan Linguistik


Dalam

soal

jenis

analisis

ini

pertanyaannya

terdiri

dari

mengungkapkan kemampuan bentuk tulisan yang berupa penjelasan dalam


bentu kata-kata, kepekaan terhadap suara, menuangkan pikiran dalam bentuk
tulisan, menyukai tulis-menulis.
Dari hasil penemuan dilapangan didapatkan :

1
Perhitungan

P = ------------- X 100 Persen


31
= 3,2 persen

b. Tingkat Kecerdasan siswa pada kecerdasan Matematis atau Logika


Dalam soal jenis analisis ini pertanyaannya terdiri dari empat buah
soal yang mengungkakan kemampuan dalam bentuk hitung-menghitung yang
berupa kebiasaan dalam melakukan sesuatu, hobi terhadap sesuatu yang
berlogika, pengetahuan pola, menyukai angka.
Dari hasil penemuan dilapangan didapatkan:
4

Perhitungan :

P =-------------- X 100 persen


31
= 12,9 %

c. Tingkat Kecerdasan siswa pada kecerdasan Visual / Spasial


Dalam soal jenis analisis ini pertanyaannya terdiri dari empat buah soal
yang mengungkakan kemampuan dalam bentuk menyukai alat bantu dalam

20

belajar, mudah mengenali arah, mudah mengingat terhadap sesuatu yang


pernah dialami, selalu mengetahui kekurangan orang lain.
Dari hasil penemuan dilapangan didapatkan:

Perhitungan

P =-------------- X 100 persen


31
= 6,5%

d. Tingkat Kecerdasan siswa pada kecerdasan Musical


Dalam soal jenis analisis ini pertanyaannya terdiri dari empat buah soal
yang mengungkakan kemampuan dalam bentuk mudah mengingat lagu,
merasa kenikmatan terhadap music, mengetahui alat music, suka dan dapat
menciptakan lagu.
Dari hasil penemuan dilapangan didapatkan:
12

Perhitungan

P=-------------- X 100 persen


31
= 38,7 %

e. Tingkat Kecerdasan Siswa pada Kecerdasan Interpersonal


Dalam soal jenis analisis ini pertanyaannya terdiri dari empat buah soal
yang mengungkakan kemampuan dalam bentuk rasa solidaritas terhadap
orang lain, menjadi makhluk social, peka terhadap perilaku orang lain, timbul
inspirasi ketika belajar.
Dari hasil penemuan dilapangan didapatkan:

Perhitungan

P=-------------- X 100 persen


31
= 9,7 %

f. Tingkat Kecerdsan siswa pada Kecerdasan Intrapersonal

21

Dalam soal jenis analisis ini pertanyaannya terdiri dari empat buah soal
yang mengungkakan kemampuan dalam bentuk menetahui perilaku dirisendiri, mengetahui manfaat perilaku yang akan diperbuat, tidak terlalu butuh
orang lain, sering menyendiri.
Dari hasil penemuan dilapangan didapatkan:
7

Perhitungan

P =-------------- X 100 persen


31
= 22,6 %

g. Tingkat Kecerdasan siswa pada Kecerdasan Kinestik


Dalam soal jenis analisis ini pertanyaannya terdiri dari empat buah soal
yang mengungkakan kemampuan dalam bentuk lebih mengarah kepada
praktik, mudah paham dengan adegan, rajin olah raga, tidak biasa menyendiri.
Dari hasil penemuan dilapangan didapatkan:
0

Perhitungan :

P=-------------- X 100 persen


31
= 0%

h. Tingkat Kecerdasan siswa pada Kecerdasan Naturalis


Dalam soal jenis analisis ini pertanyaannya terdiri dari empat buah soal
yang mengungkakan kemampuan dalam bentuk suka terhadap flora dan fauna,
kecintaan terhadap lingkungan, pengertian terhadap kondisi tubuh, kepekaan
terhadap perubahan alam.
Dari hasil penemuan dilapangan didapatkan:
2

Perhitungan

P =-------------- X 100 persen


31
= 6,5 %

4.3 Rekapitulasi Hasil Penelitian

22

Sebelum

dilakukan

pembahasan

terhadap

temuan

hasil-hasil

penelitian,maka perlu disajikan terlebih dahulu rangkuman hasil-hasil penelitian


sebagai berikut :

Tabel IV
REKAPITULASI HASIL PENELITIAN TENTANG TINGKAT
KECERDASAN SISWA KELAS XI IPA 2
MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 TULUNGAGUNG

No.

Kecerdasan

Persentase

Rata-rata

Jumlah

Kesimpulan

siswa
1.

Linguistik

Tinkat kecerdasan
siswa pada
kecerdasan Linguistik
3,2 %

3,1

kelas XI IPA 2
tergolong rendah
apabila
diklasifikasikan
hanya ada 1 siswa
yang mempunyai
kelebihan kecedasan

23

2.

Matematis/

Linguistik
Tingkat ecerdasan

Logika

siswa pada
kecerdasan
Metematis/ Logika
12,9 %

3,6

lumayan bagus
karena mempunyai 12
% dari keseluruhan
mempunyai

3.

Visual /

kecerdasan tersebut
Tingkat kecerdasan

Spasial

siswa yang
mempunyai
kecerdasan Visual /
Spasial lebih sedikit
namun rata-rata siswa
6,5 %

3,9

yang mempunyai
kecerdasan Visual
/Spasial lebih tinggi
dari pada Matematis /

4.

Logika
Tingkat kecerdasan

Musikal

siswa yang
mempunyai
kecerdasan Musikal
38, 7%

5,4

12

tergolong tertinggi
tetapi mempunyai
rata-rata yang kurang

5.

Interpesonal

tinggi
Tingkat kecerdasan
siswa yang

24

mempunyai
kecerdasan
9,7 %

4,2

Interpersonal
tergolong rendah
hanya 3 siswa yang
mempunyai

6.

kecerdasan tersebut.
Tingkat kecerdasan

Intrapersonal

siswa yang
mempunyai
kecerdasan
22,6 %

6,6

Intrapersonal masih
belum mencukupi
tetapi dalam rataan
hal tersebut dalam
tahap baik, karena
tidak ada nilai min
dalam kecerdasan

7.

tersebut
Dalam kecerdasan ini

Kinestik

hanya tidak ada siswa


yang menonjol dalam
kecerdasan kinestik,
0%

4,4

namun hasil ini lebih


baik, karena lebih
banyak siswa yang
mempunyai

8.

Natural

kecerdsan tersebut.
Dalam kecerdasan ini
hanya terdapat 2
siswa yang menonjol

25

di dalam kecerdasan
6,5 %

3,5

Natural dan hanya


sedikit pula rataan
yang ada dalam
kecerdasan ini

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian


Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri 2
Tulungagng diperoleh data-data mengenai temuan atas tingkat kecerdsan siswa.
Temuan dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
Berdasarkan hasil

analisa datanya menunjukkan bahwa tingkat

kecerdasan siswa MAN 2 Tulungagung kelas XI IPA 2 pada kecerdasan Linguistik


adalah tergolong rendah, dan apabila dibuat kelompok belajar hanya terdapat 1
siswa yang menonjol dibidang kecerdasan Linguistik.
Analisa datanya pada tahap ini menunjukkan angka 3,2 %, dan jika
dihubungkan dengan rata-rata berarti dikategorikan kurang baik. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPA 2 MAN 2 Tulungagung kurang mampu
menerapkan kecerdasan Linguistiknya sesuai angket yang telah diisi oleh
responden.
Berdasarkan hasil

analisa datanya menunjukkan bahwa tingkat

kecerdasan siswa pada bagian kecerdasan Matematis atau Logika

pada tahap

kurang baik. Dan apabila diklasifikasikan menurut kecerdasan hanya terdapat 4


siswa yang menonjol dibidang matematika atau logika.
Analisa datanya pada tahap ini menunjukkan angka 12,9 %, dan jika
dihubungkan dengan rata-rata berarti dikategorikan kurang baik. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPA 2 MAN 2 Tulungagung kurang mampu
menerapkan kecerdasan Matematika atau Loikanya sesuai angket yang telah diisi
oleh responden.

26

Berdasarkan hasil

analisa datanya menunjukkan bahwa tingkat

kecerdasan siswa pada bagian kecerdasan Visual atau Spasial pada tahap kurang
baik. Dan apabila diklasifikasikan menurut kecerdasan hanya terdapat 2 siswa yang
menonjol dibidang Visual atau Spasial.
Analisa datanya pada tahap ini menunjukkan angka 6,5 %, dan jika
dihubungkan dengan rata-rata berarti dikategorikan kurang baik tetapi lebih baik
dari pada kecerdasan Matematis / Logika. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas
XI IPA 2 MAN 2 Tulungagung kurang mampu menerapkan kecerdasan Visual atau
Spasialnya sesuai angket yang telah diisi oleh responden.
Berdasarkan hasil

analisa datanya menunjukkan bahwa tingkat

kecerdasan siswa pada bagian kecerdasan Musikal pada tahap adalah baik. Dan
apabila diklasifikasikan menurut kecerdasan hanya terdapat 12 siswa yang
menonjol dibidang musikal.
Analisa datanya pada tahap ini menunjukkan angka 38,7 %, dan jika
dihubungkan dengan rata-rata berarti dikategorikan baik. Hal ini menunjukkan
bahwa siswa kelas XI IPA 2 MAN 2 Tulungagung mampunyai kecerdasan Musikal
yang tinggi sesuai angket yang telah diisi oleh responden.
Berdasarkan hasil analisa datanya menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan
siswa pada bagian kecerdasan Interpersonal pada tahap adalah kurang baik. Dan
apabila diklasifikasikan menurut kecerdasan hanya terdapat 3 siswa yang menonjol
dibidang Interpersonal.
Analisa datanya pada tahap ini menunjukkan angka 9,7 %, dan jika
dihubungkan dengan rata-rata berarti dikategorikan cukup baik. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPA 2 MAN 2 Tulungagung cukup mampu
menerapkan kecerdasan Interpersonal sesuai angket yang telah diisi oleh responden.
Berdasarkan hasil analisa datanya menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan
siswa pada bagian kecerdasan Intrapersonal pada tahap adalah cukup baik. Dan
apabila diklasifikasikan menurut kecerdasan hanya terdapat 7 siswa yang menonjol
dibidang Intrapersonal.

27

Analisa datanya pada tahap ini menunjukkan angka 22,6 %, dan jika
dihubungkan dengan rata-rata berarti dikategorikan baik untuk diklasifikasikan.
Karena tidak ada nilai minus pada tes soal kecerdasan Intrapersonal. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPA 2 MAN 2 Tulungagung mampu
menerapkan kecerdasan secara Intrapersonal sesuai angket yang telah diisi oleh
responden.
Berdasarkan hasil

analisa datanya menunjukkan bahwa tingkat

kecerdasan siswa pada bagian kecerdasan Kinestik pada tahap adalah buruk. Dan
apabila diklasifikasikan menurut kecerdasan tidak terdapat siswa yang menonjol
dibidang Kinestik.
Analisa datanya pada tahap ini menunjukkan angka 0 %, dan jika
dihubungkan dengan rata-rata berarti dikategorikan kurang baik. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPA 2 MAN 2 Tulungagung kurang mampu
menerapkan kecerdasan Kinestiknya sesuai angket yang telah diisi oleh responden.
Berdasarkan hasil

analisa datanya menunjukkan bahwa tingkat

kecerdasan siswa pada bagian kecerdasan Naturalis pada tahap adalah kurang baik.
Dan apabila diklasifikasikan menurut kecerdasan hanya terdapat 2 siswa yang
menonjol dibidang Naturalis.
Analisa datanya pada tahap ini menunjukkan angka 6,5 %, dan jika
dihubungkan dengan rata-rata berarti dikategorikan kurang baik. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa kelas XI IPA 2 MAN 2 Tulungagung kurang mampu
menerapkan kecerdasan Naturalis sesuai angket yang telah diisi oleh responden.

28

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Secara umum dari hasil penelitian yang dilaksanakan di Madrasah Aliyah
Negeri 2 Tulungagung menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan siswa kelas XI IPA
2 MAN 2 Tulungagung dalam tahap baik pada kecerdasan Intrapersonal dan
Musikal ditunjukkan oleh skor rata-rata dan prosentase yang diperoleh siswa dalam
menyelesaikan soal-soal dalam angket.

5.2 Saran-saran
Dari kesimpulan tersebut diatas peneliti memberikan saran-saran demi
kemajuan dan keberhasilan pelaksanaan proses belajar mengajar dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan, maka penulis memberi saran sebagai berikut :

29

5.2.1 Bagi siswa


Hendaknya siswa lebih memupuk dan meningkatkan kemampuan
belajarnya dengan metide belajar dengan menggunaka music atau dengan
mencoba tugas-tugas yang ada. Terus belajar dan juga sering mengadakan
latihan-latihan, karena dengan mecoba berbaga latihan mata pelajaran. Dengan
semakin banyak mencoba.
5.2.2

Bagi orang tua


Hendaknya orang tua menyadari betul tugasnya sebagai pendoromg dan

motivator dalam belajar anaknya. Pendidikan di dalam keluarga merupakan


faktor utama dalam pendidikan selanjutnya, karena pendidikan yang pertama
dan utama adalah orang tua. Disampimg itu orang tua harus mengerti akan apa
yang menjadi harapan atau cita-cita anak dan

membantunya dalam

mewujudkan harapanya tersebut. Orang tua perlu mengontrol dan mengetahui


sejauh mana perkembangan anaknya. Sehingga orang tua tidak harus disalahkan
ketika anaknya mengalami kegagalan.
5.2.3

Bagi Guru
Hendaknya guru selalu tanggap terhadap perubahan dan permasalahan

pada diri siswa, dan guru haruslah bersikap arif dan bijaksana dalam
memberikan dorongan belajar pada anak didiknya dengan sesuai kecerdasan
yang siswa miliki, sehingga tidak menjadi beban bagi siswa. Serta guru harus
bersifat pengertian dan perhatian kepada anak didiknya, sehingga anak didiknya
tidak merasa enggan atau takut untuk mengungkapkan permasalahanya.
Disamping itu, hendaknya guru menyarankan pada orang tua yang anaknya
berprestasi ataupun kurang berprestasi untuk tetap memperhatikan pendidikan
bagi anaknya agar prestasinya dapat lebih ditingkatkan.