Anda di halaman 1dari 2

Secara geologi Kepulauan Indonesia merupakan hasil interaksi tiga Jempeng

besar di dunia, yaitu konvergen lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia


dan lempeng Pasifik. Tentunya jalur konvergen ketiga lempeng ini menjad
i jalur gempabumi yang paling aktif di lautan yang getarannya akan dirasak
an sampai di daratan. Selain itu, aktivitas tektonik pada jalur subduksi ini dap
at pula menjadi pemicu aktifnya sesar-sesar yang berada di daratan. Hal inilah
yang harus diwaspadai karena gempabumi yang bersumber dari sesar sesar aktif yan
g berada di daratan biasanya mempunyai hiposentrum yang dangkal, seperti
halnya gempabumi
yang diakibatkan
pergerakan
sesar Semangko d
i Pulau Sumatra, sesar Cimandiri di Jawa Barat, sesar Opak di Yogyakarta . Hipo
sentrumlfokus gempabumi
yang
dangkal menyebabkan getaran dan goncan
gan yang sampai kepermukaan akan besar pula dan biasanya akan menghasilka
n kekuatan gempa dengan magnitude yang besar.
Gempabumi yang bersumber dari pergerakan sesar aktif selain akan menghancurkan d
an merobohkan bangunan, gempa ini akan menyebabkan terbentuknya retakan-retakan
tanah. Jika retakan tanah ini terjadi pada lereng dengan kemiringan yang besar,
maka daerah ini akan menjadi rawan gerakan tanah. Peristiwa ini terjadi pada saa
t gempa Tasikmalaya (September 2009) dan gempabumi Padang (Akhir September 2009)
yang banyak menelan korban jiwa dan harta benda. Banyak korban yang meninggal a
kibat tertimbun longsor setelah terjadi gempabumi yang berpusat di barat Kota Pa
riaman, Sumbar. Peristiwa ini bukan tidak mungkin terjadi di Pulau Jawa karena s
ecara geografis dan geologis daerah ini masuk kategori daerah rawan gempabumi ba
ik yang terjadi di laut maupun di darat. Untuk memahami dan gerakan tanah menget
ahui seberapa besar potensi gempabumi yang akan terjadi di daratan Pulau Jawa te
rmasuk daerah penelitian. Berdasarkan bukti sejarah kegempaan daerah penelitian
memperlihatkan pemah terjadi gempabumi dengan skala yang cukup besar, yaitu Daer
ah Banyumas (13-08-1863 dan 27-03-1871 dengan skla MMI
VII) dan Purwokerto (13-01-1981 dengan skala MMI VII). Melihat data di atas,

1
sudah sepatutnya untuk dilakukan penelitian detil jalur-jalur sesar yang dapat
berpotensi sebagai sumber gempa di darat pada wilayah tersebut.
1.2

Perumusan Masalah

Gempabumi merupakan salah satu kejadian alam yang sulit untuk diprediksi kapan t
erjadinya. Walaupun demikian secara keilmuan peristiwa terjadinya gempabum! dapa
t dipelajari terutama lokasi-lokasi yang berpotensi dan rawan gempabumi dapat di
petakan. Dalam memetakan daerah yang rawan bencana gempabumi, salah satunya adal
ah dengan mempelajari aspek-aspek morfologi yang erat kaitannya dengan proses te
ktonik di daerah tersebut Geomorfologi tektonik atau morfotektonik merupakan gam
baran kondisi morfologi dan proses tektonik yang terjadi pada masa lalu dan berl
anjut hingga sekarang, karena morfologi memiliki dimensi ruang dan tektonik memp
unyai dimensi waktu. Bentuk lahan tektonik akan mengekspresikan bentukan topogra
fi yang dapat dijadikan indikator telah terjadinya pergerakan tektonik atau tekt
onik aktif. Untuk memperoleh hubungan antara geomorfologi dan tektonik yang berk
embang pada suatu daerah adalah dengan melakukan pengukuran kuantitatif bentang
alam (morfometri). Menurut Keller dan Pinter (1996), morfometri didefinisikan se
bagai pengukuran kuantitatif bentuk bentang alam.
Gerakan tanah (longsoran) pada prinsipnya terjadi akibat terganggunya kestabilan
lereng, yaitu apabila besarnya momen penggerak tanah yang akan longsor melampau
i besarnya momen penahannya (Wesley, 1973; Hunt, 1986; Anderson & Richards, 1987
; dalam Karnawati, 1991). Gerakan tanah terjadi dipengaruhi oleh Faktor Pengontr
ol dan Faktor Pemicu. Faktor pengontrol gerakan tanah meliputi kelerengan, litol

ogi, struktur geologi, dan iklim. Adapun faktor pemicu gerakan tanah meliputi hu
jan, erosi sungai, getaran (gempa maupun sebab lain) dan aktivitas manusia.
Dengan mempelajari morfotektonik maka akan diperoleh informasi lain terutama men
yangkut perubahan bentang alam akibat peristiwa gerakan tanah. Pada daerah denga
n tektonik aktif peristiwa gerakan tanah ini merupakan efek lain (secondary effe
ct) dari peristiwa gempabumi. Sehingga dengan menganalisis morfotektonik suatu d
aerah maka akan diperoleh informasi tingkat