Anda di halaman 1dari 9

APLIKASI KONSOLVENSI

I.

TUJUAN
I.1 mengetahui pengaruh larutan campur terhadap kelarutan suatu obat
I.2 mengetahui suatu zat yang larut oleh pelarut

II.

PRINSIP
II.1 berdasarkan pada like dissolve like yaitu zat polar akan larut pada
pelarut polar dan yang nonpolar akan larut pada pelarut nonpolar.
II.2 berdasarkan lambert beer yaitu konsentrasi zat berbanding lurus
dengan absorbansi

III.

TEORI

Kelarutan suatu zat terlarut adalah jumlah maksimum dari zat


terlarut yang dapat dilarutkan dalam sejumlah tertentu pelarut atau
sejumlah larutan pada temperature tertentu. Senyawa yang terlarut
disebut solut dan cairan yang melarutkan disebut solven, yang
bersama-sama membentuk suatu larutan. Proses pelarutan disebut
solvasi atau hidrasi jika pelarutnya air. Suatu larutan saat
kesetimbangan tidak dapat menahan solut lagi dan disebut jenuh.
Larutan dalam keadaan tertentu dapat menahan lebih banyak solut
lebih dari keadaan normal solven. Ini disebut lewat jenuh..

Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia yang penting


untuk diperhatikan pada tahap preformulasi sebelum memformula
bahan obat menjadi sediaan. Beberapa metode dapat digunakan untuk
meningkatkan kelarutan obat, antara lain: melalui pembentukan garam,
perubahan struktur internal kristal (polimorfi) atau penambahan suatu
bahan penolong, misalnya bahan pengompleks, surfaktan dan
kosolven.

Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut.


Pelarut polar akan melarutkan lebih baik zat-zat polar dan ionik, begitu
pula sebaliknya. Kelarutan juga bergantung pada struktur zat, seperti
perbandingan gugus polar dan non polar dari suatu molekul. Makin
panjang rantai gugus non polar suatu zat, makin sukar zat tersebut larut
dalam air. Menurut Hilderbrane : kemampuan zat terlarut untuk
membentuk ikatan hidrogen lebih pentig dari pada kemolaran suatu zat
Elektrolit lemah dan molekul-molekul nonpolar seringkali mempunyai
kelarutan dalam air yang buruk. Kelarutannya biasanya dapat
ditingkatkan dengan penambahan suatu pelarut yang dapat bercampur
dengan air dimana dalam pelarut tersebut obat mempunyai kelarutan
yang baik. Proses ini dikenal sebagai kosolvensi, dan pelarut-pelarut
yang digunakan dalam kombinasi untuk meningkatkan kelarutan zat
terlarut dikenal sebagai kosolven. Mekanisme yang mengakibatkan
penambahan kelarutan melalui kosolvensi tidak dimengerti dengan
jelas. Etanol, sorbitol, propilen glikol, dan beberapa anggota dari seri
polimer polietilen glikol memperlihatkan jumlah terbatas dari kosolven
yang berguna, dan dapat diterima secara umum dalam formulasi
cairan-cairan dalam air. Kosolven tidak hanya digunakan untuk
mempengaruhi kelarutan obat tersebut, tetapi juga untuk memperbaiki
kelarutan dari konstituen-konstituen yang mudah menguap yang
digunakan untuk memberi rasa dan bau yang diinginkan ke produk
tersebut. Molekul-molekul dalam obat padat diikat bersama oleh gaya
intermolekular tertentu misalnya gaya dipol-dipol imbas, dipol-dipol
dan interaksi ion-ion, demikian pula halnya dengan solven. pelarut
dibedakan atas polar, semi polar, atau non polar tergantung dari
besarnya ikatan yang bersangkutan.

Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari


pelarut, yaitu oleh dipol momennya. Sesuai dengan hal itu, air
bercampur dengan alkohol dalam segala perbandingan & melarutkan
gula dan senyawa polihidrasi yang lain. selain itu pelarut biasanya
memiliki beda titik didih(Tb) rendah dan lebih mudah menguap
meninggalkan substansi terlarut. Dan yang jelas pelarut jumlahnya
lebih besar daripada zat terlarut.

Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia


tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent).
Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut
dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan
jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun
terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini
lebih dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible. Pelarut
umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni
ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain,
atau padat. Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam
air, hingga sulit terlarut, seperti perak klorida dalam air. Istilah "tak
larut" (insoluble) sering diterapkan pada senyawa yang sulit larut,
walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang benar-benar
tidak ada bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik
kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu
larutan yang disebut lewat jenuh (supersaturated) yang metastabil.

Kelarutan juga tergantung pada struktur zat, seperti perbandingan


gugus polar dan non polar dari suatu molekul. Makin panjang rantai
gugus non polar suatu zat makin zat tersebut larut dalam air. Selain itu,
penambahan surfaktan dapat juga ditambahkan zat-zat pembentuk
kompleks untuk menaikkan kelarutan suatu zat, misalnya penambahan
uretan dalam pembuatan injeksi khinin.

Larutan adalah campuran yang bersifat homogen antara molekul,


atom ataupun ion dari dua zat atau lebih. Disebut campuran karena
susunannya atau komposisinya dapat berubah. Disebut homogen
karena susunanya begitu seragam sehingga tidak dapat diamati adanya
bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis
sekalipun.

Fase larutan dapat berwujud gas, padat ataupun cair. Larutan gas
misalnya udara. Larutan padat misalnya perunggu, amalgam dan
paduan logam yang lain. Larutan cair misalnya air laut, larutan gula
dalam air, dan lain-lain. Komponen larutan terdiri dari pelarut (solvent)
dan zat terlarut (solute). Pada bagian ini dibahas larutan cair. Pelarut
cair umumnya adalah air. Pelarut cair yang lain misalnya bensena,
kloroform, eter, dan alkohol. Jika pelarutnya bukan air, maka nama
pelarutnya disebutkan. Misalnya larutan garam dalam alkohol disebut
larutan garam dalam alkohol (alkohol disebutkan), tetapi larutan garam
dalam air disebut larutan garam (air tidak disebutkan).

Zat terlarut dapat berupa zat padat, gas atau cair. Zat padat terlarut
dalam air misalnya gula dan garam. Gas terlarut dalam air misalnya
amonia, karbon dioksida, dan oksigen. Zat cair terlarut dalam air
misalnya alkohol dan cuka. Umumnya komponen larutan yang
jumlahnya lebih banyak disebut sebagai pelarut. Larutan 40 % alkohol
dengan 60 % air disebut larutan alkohol. Larutan 60 % alkohol dengan
40 % air disebut larutan air dalam alkohol. Larutan 60 % gula dengan
40 % air disebut larutan gula karena dalam larutan itu air terlihat tidak
berubah sedangkan gula berubah dari padatan (kristal) menjadi terlarut

IV.

ALAT DAN BAHAN


IV. 1 Alat
IV.1.1 Beraca
IV.1.2 Beaker glass
IV.1.3 Gelas ukur
IV.1.4 spektrofotometri

IV.2 Bahan
IV.2.1 asetosal

V.

PRSEDUR
Ditimbang asetosal kemudian dibuat larutan induk 500 ppm larutkan
asetosal pada labu ukur, kemudian setelah itu diencerkan larutan induk
absorban diantara 0,2 0,8 ppm. Kemudian dibuat larutan baku dan
dibuat menjadi 6 konsentrasi yang berbeda dengan cara pemipetan lalu
diukur absorbansi dan dibuat kurva baku
Setelah itu dibuat larutan campur kemudian dicampurkan, dikocok
hingga homogeny dan dimasukan sampel kedalam larutan campur
aduk sampai larut seluruhnya kemudian diukur dengan menggunakan
spektrofotometer.

VI.

DATA PENGAMATAN

VI.1 Larutan induk


Asetosal =

No
1
2
3
4
5

Etanol
80 % = 120ml
60 % = 90ml
40 % = 60ml
0=100 % = 30 ml

Air
20 % = 30 ml
40 % = 60 ml
60 % = 90 ml
80 % = 120 ml
100 % = 150 ml

Asetosal =

VI.2 Kurva baku


No
1
2
3
4
5
6
7

C
100 ppm
90 ppm
80 ppm
70 ppm
60 ppm
50 ppm
40 ppm

A
0,753
0,694
0,586
0,511
0,443
0,358
0,244

y = 0.0836x + 0.1781
R = 0.9945

0.9
0.8
0.7
0.6
0.5

0.4

Linear (A)

0.3
0.2
0.1
0
0

VI.3 Sampel

No
1
2
3
4
5

Pelarut
80 % = 20 %
60 % = 40%
40 % = 60%
20 % = 80%
0 % = 100%

A
0,22
0,52
0,331
0,548
0,289

VI.3.1 Konsentrasi sampel 1


0,77 = 0,008x 0,072
0,77 + 0,72 = 0,008x
X=

VI.3.2 Konsentrasi sampel 2


0,52 = 0,008x 0,072
0,52 + 0,072 = 0,008x
X=

VI.3.3 Konsentrasi sampel 3


0,331 = 0,008x 0,072
0,331 + 0,072 = 0,008x
X=

VI.3.4 Konsentrasi sampel 4


0,548 = 0,008x 0,072
0,548 + 0,072 = 0,008x
X=

VI.3.5 Konsentrasi sampel 5


0,248 = 0,008x 0,072
0,248 + 0,072 = 0,008x
X=

VII.

PEMBAHASAN

Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia


tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent).
Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut
dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan
jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun
terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Pelarut
umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni
ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain,
atau padat. Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam
air, hingga sulit terlarut, seperti perak klorida dalam air. Istilah "tak
larut" (insoluble) sering diterapkan pada senyawa yang sulit larut,
walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang benar-benar
tidak ada bahan yang terlarut.

Pada praktikum kali ini dibutuhkan

pelarut campur. pelarut

campur yakni Air dan alkohol. Masing-masing pelarut campur telah


ditentukan konsentrasinya. Pencampuran pelarut-pelarut tersebut
dilakukan pada gelas erlenmeyer yang masing-masing telah diberi

label. Kemudian, dilarutkan acetosal ke dalam masing-masing gelas


erlenmeyer tersebut. Lalu, dikocok larutan selama beberapa menit,

VIII. KESIMPULAN

IX.

DAFTAR PUSTAKA

Tungadi, Robert. (2009).Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. UI


Press. Jakarta
Martin, A., 1990, Farmasi Fisika, Buku I, UI Press, Jakarta