Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
Psoriasis mungkin adalah salah satu penyakit yang sudah lama ditemukan pada
manusia dan merupakan penyakit yang juga menimbulkan banyak tanda tanya dalam
diagnosisnya. Beberapa peneliti percaya bahwa psoriasis sudah ada sejak dahulu dan
dikenal dengan sebutan Tzaraat dalam Alkitab. Pada jaman dahalu psoriasis dimasukkan
dalam kategori salah satu variasi dari lepra. Pada abad ke-18, ahli dermatologi Inggris,
Robert Willan dan Thomas Bateman membedakan psoriasis dengan penyakit kulit lainnya.
Dikatakan bahwa pada lepra kelainan pada kulit berupa efloresensi yang regular, macula
yang sirkular sementara pada psoriasis selalu dalam entuk yang irregular. Dengan segala
kebingungan yang ada, maka pada tahun 1841, kondisi kelainan kulit tersebut dinamakan
psoriasis oleh ahli dermatolgis dari Vienis, Jerman bernama Ferdinand Von Hebra.
Namanya diambl dari bahasa Yunani psora yang berarti gatal. 1
Psoriasis ialah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar,
berlapis-lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. 2
Psoriasis merupakan penyakit hiperproliferatif dan inflamasi kronis pada kulit
dengan manifestasi klinis serupa pada tiap etnik. Penyakit ini berhubungan dengan
penyakit hiperproliferatif kulit derajat ringan sampai dengan berat dan peradangan sendi.
Onset penyakit dan derajat penyakit dipengaruhi oleh usia dan genetik, dan dicetuskan
oleh berbagai faktor internal dan eksternal, seperti cedera fisik pada kulit, pengobatan
sistemik, infeksi, dan stres emosional. Kasus psoriasis makin sering dijumpai. Meskipun
penyakit ini tidak menyebabkan kematian tetapi menyebabkan gangguan kosmetik,
terlebih-lebih mengingat bahwa perjalanannya menahun dan residif.1 Insidens psoriasis
tersebar di seluruh dunia, namun prevalensinya bervariasi pada etnik dan dareah
geografisnya. Terapi psoriasis memiliki variasi minimal pada tiap etnik. 3

BAB II
ISI
2.1 DEFINISI
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar,
berlapis-lapis dan transparan, disertai dengan fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. 2
2.2 EPIDEMIOLOGI
Kasus psoriasis makin sering ditemukan. Meskipun penyakit ini tidak menyebabkan
kematian tetapi menyebabkan gangguan kosmetik terutama karena perjalanan penyakit ini
bersifat menahun dan residif. Insidens pada orang kulit putih lebih tinggi daripada
penduduk kulit berwarna. Di Eropa dilaporkan sebanyak 3-7%, di Amerika Serikat 1-2%
sedangkan di Jepang 0.6%. Pada bangsa berkulit hitam, misalnya di Afrika jarang
dilaporkan demikian pula pada suku Indian di Amerika. 2 Psoriasis dapat terkena pada pria
maupun wanita. Insidens pria sedikit lebih tinggi daripada wanita. Psoriasis terdapat pada
semua golongan usia tetapi umumnya pada orang dewasa dengan usia antara 15 25
tahun.1
Onset usia pada psoriasis tipe dini dengan puncak usia 22,5 tahun (pada anak, usia
onset rata-rata 8 tahun). Untuk tipe lambat, muncul pada usia 55 tahun. Onset dini
memprediksikan derajat penyakit dan penyakit yang menahun, dan biasanya disertai
riwayat psoriasis pada keluarga. Tidak terdapat perbedaan insidens antara pria dan
wanita.3 Psoriasis mempengaruhi 1,5 2% populasi dari negara barat. Di Amerika Serikat,
terdapat 3 sampai 5 juta orang menderita psoriasis. Kebanyakan dari mereka menderita
psoriasis lokal, tetapi sekitar 300.000 orang menderita psoriasis generalisata.4
2.3 ETIOPATOGENESIS
2

Untuk beberapa dekade, psoriasis merupakan penyakit yang ditandai dengan


terjadinya hiperplasia sel epidermis dan inflamasi dermis. Karakteristik tambahan
berdasarkan perubahan histopatologi yang ditemukan pada plak psoriatik dan data
laboratorium yang menjelaskan siklus sel dan waktu transit sel pada epidermis. Epidermis
pada plak psoriasis menebal dan hiperplastik, dan terdapat maturasi inkomplit sel
epidermal di atas area sel germinatif. Replikasi yang cepat dari sel germinatif sangat
mudah dikenali, dan terdapat pengurangan waktu untuk transit sel melalui sel epidermis
yang tebal. Abnormalitas pada vaskularisasi kutaneus ditandai dengan peningkatan jumlah
mediator inflamasi, yaitu limfosit, polimorfonuklear, leukosit, dan makrofag, terakumulasi
di antara dermis dan epidermis. Sel-sel tersebut dapat menginduksi perubahan pada
struktur dermis baik stadium insial maupun stadium lanjut penyakit.3

Gambar 1. Patogenesis kelainan kulit pada psoriasis


Sumber: http://www.psoriasis.or.id/psoriasis_pustular.php
Terdapat beberapa factor yang berperan sebagai etiologi psoriasis, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Faktor Genetik
Sekitar 1/3 orang yang terkena psoriasis melaporkan riwayat penyakit
keluarga yang juga menderita psoriasis. Pada kembar monozigot resiko menderita
psoriasis adalah sebesar 70% bila salah seorang menderita psoriasis.1 Bila orangtua
tidak menderita psoriasis maka risiko mendapat psoriasis sebesar 12%, sedangkan

bila salah satu orang tua menderita psoriasis maka risiko terkena psoriasis
meningkat menjadi 34-39%. Berdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe yaitu:

Psoriasis tipe I dengan awitan dini dan bersifat familial

Psoriasis tipe II dengan awitan lambat dan bersufat nonfamilial

Hal lain yang menyokong adanya factor genetic adalag bahwa psoriasi berkaitan
dengan HLA. Psoriasis tipe I berhubungan dengan HLA-B13, B17, Bw57 dan Cw6.
Psoriasis tipe II berkaitan dengan HLA-B27 dan Cw2, sedangkan psoriasis pustulosa
berkaitan dengan HLA-B27.

2. Faktor Imunologik
Defek genetic pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah satu dari ketiga
jenis sel yaitu limfosit T, sel penyaji antigen (dermal) atau keratinosit. Keratinosit
psoriasis membutuhkan stimuli untuk aktivasinya. Lesis psoriasis matang umumnya
penuh dengan sebukakan limfosit T di dermis yang terutama terdiri atas limfosit T
CD4 dengan sedikit sebukan limfositik dalam epidermis. Sedangkan pada lesi baru
pada umumnya lebih didominasis oleh sel linfosit T CD8. Pada lesi psoriasis
terdapat sekitar 17 sitokin yang produksinya bertambah. Sel Langerhans juga
berperan dalam imunopatogenesis psoriasis. Terjadinya proliferasi epidermis
dimulai dengan adanya pergerakan antigen baik endogen maupun eksogen oleh sel
langerhans. Pada psoriasis pembentukan epidermis (turn over time) lebih cepat,
hanya 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari.
Nickoloff (1998) berkesimpulan bahwa psoriasis merupakan penyakit autoimun.
Lebih 90% dapat mengalami remisi setelah diobati dengan imunosupresif. Berbaga factor
pencetus pada psoriasis yang disebutkan dalam kepustakaan diantaranya adalah stress
psikis, infeksi fokal, trauma (Fenomenan Kobner), endokrin, gangguan metabolic, obat,
alcohol dan merokok. Stress psikis merupakan factor pencetus utama. Infeksi fokal
mempunyai hunungan yang erat dengan salah satu jenis psoriasis yaitu psoriasis gutata,
sedangkan hubungannya dengan psoriasis vulgaris tidak jelas. Pernah dilaporkan
kesembuhan psoriasis gutata setelah dilakukan tonsilektomi. Umumnya infeksi disebabkan
4

oleh Streptococcus. Faktor endokrin umumnya berpengaruh pada perjalan penyakit.


Puncak insidens psoriasis terutama pada masa pubertas dan menopause. Pada waktu
kehamilan umumnya membaik sedangkan pada masa postpartum umumnya memburuk.
Gangguan metabolisme seperti dialysis dan hipokalsemia dilaporkan menjadi salah satu
factor pencetus. Obat yang umumnya dapat menyebabkan residif ialah beta adrenergic
blocking agents, litium, anti malaria dan penghentian mendadak steroid sistemik. 2
Ada beberapa faktor predisposisi yang dapat menimbulkan penyakit ini, yaitu:
1. Faktor herediter bersifat dominan otosomal dengan penetrasi tidak lengkap.
2. Faktor-faktor psikis, seperti stres dan gangguan emosis. Penelitian menyebutkan
bahwa 68% penderita psoriasis menyatakan stress, dan kegelisahan menyebabkan
penyakitnya lebih berat dan hebat.
3. Infeksi fokal. Infeksi menahun di daerah hidung dan telinga, tuberkulosis paru,
dermatomikosis, arthritis dan radang menahun ginjal.
4. Penyakit metabolic, seperti diabetes mellitus yang laten.
5. Gangguan pencernaan, seperti obstipasi.
6. Faktor cuaca. Beberapa kasus menunjukkan tendensi untuk menyembuh pada
musim panas, sedangkan pada musim penghujan akan kambuh dan lebih hebat. 5
2.4 GEJALA KLINIS
Keadaan umum tidak dipengaruhi, kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma.
Sebagian pasien mengeluh gatal ringan. Tempat predileksi pada scalp, perbatasan scalp
dengan wajah, ektremitas terutama bagian ekstensor di bagian siku dan lutut serta daerah
lumbo sacral.

Gambar 2. Letak Predileksi Psoriasis


Sumber: http://www.psoriasis.or.id/psoriasis_pustular.php
Kelainan kulit terdiri dari bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan
skuama diatasnya. Eritema sirkumskripta dan merata, tetapi pada masa penyembuhan
seringkali eritema di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapislapis, kasar dan berwarna putih seperti mika serta transparan. Besar kelainan bervariasi,
bisa lentikular, nummular, plakat dan dapat berkonfluensi. Jika seluruhnya atau sebagian
besar berbentuk lentikular disebut psoriasis gutata, biasanya pada anak-anak, dewasa
muda dan terjadi setelah infeksi oleh Streptococcus.2
Lesi primer pada pasien psoriasis dengan kulit yang cerah adalah merah, papul dan
berkembang menjadi kemerahan, plak yang berbatas tegas. Lokasi plak pada umumnya
terdapat pada siku, lutut, skalp, umbilikus, dan intergluteal. Pada pasien psoriasis dengan
kulit gelap, distribusi hampir sama, namun papul dan plak berwarna keunguan denan sisik
abu-abu. Pada telapak tangan dan telapak kaki, berbatas tegas dan mengandung pustule
steril dan menebal pada waktu yang bersamaan. 3
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner (isomorfik).
Kedua fenomena yaitu tetesan lilin dan Auspitz dianggap khas, sedangkan Kobner dianggap
tidak khas, hanya kira-kira 47% dari yang positif dan didapat pula pada penyakit lain.,
misalnya Liken Planus dan Veruka plana juvenilis. Fenomena tetesan lilin ialah skuama
yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan seperti lilin yang digores, disebabkan
oleh perubahan indeks bias. Cara menggoresnya bisa dengan pinggir gelas alas. Pada
fenomena Auspitz tampak serum atau darah berbintik-bintik yang disebabkan oleh
papilomatosis. Cara mengerjakannya adalah dengan cara skuama yang berlapis-lapis itu
dikerok dengan ujung gelas alas. Setelah skuama habis maka pengerokan harus dilakukan
dengan pelan-pelan karena jika terlalu dalam tidak tampak perdarahan yang berupa bintikbintik melainkan perdarahan yang merata. Trauma pada kulit penderita psoriasis misalnya
6

trauma akibat garukan dapat menyebabkan kelainan kulit yang sama dengan psoriasis dan
disebut dengan fenomena Kobner yang timbul kira-kira setelah 3 minggu.
Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan kuku yakni sebanyak kira-kira 50%
yang agak khas yaitu yang disebut dengan pitting nail atau nail pit yang berupa lekukanlekukan miliar. Kelainan yang tidak khas yaitu kuku yang keruh, tebal, bagian distalnya
terangkat karena terdapat lapisan tanduk dibawahnya (hyperkeratosis subungual) dan
onikolisis. Disamping menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini dapat pula
menimbulkan kelainan pada sendi. Umumnya bersifat poliartikular, tempat predileksinya
pada sendi interfalangs distal dan terbanyak terdapat pada usia 30-50 tahun. Sendi
membesar kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks. Kelainan pada mukosa
jarang ditemukan.2

Gambar 3. Psoriasis pada sendi


Sumber: http://www.psoriasis.or.id/psoriasis_pustular.php
2.5 BENTUK KLINIS
1. Psoriasis Vulgaris
Bentuk ini adalah yang lazim terdapat karena itu disebut psoriasis vulgaris.
Dinamakan juga tipe plak karena lesi-lesinya pada umumnya berbentuk plak.
Tempat predileksinya yaitu pada scalp, perbatasan scalp dengan wajah, ekstremitas
terutama bagian ekstensor yaitu lutut, siku dan daerah lumbosakral.

Gambar 4. Psoriasis vulgaris


Sumber: Atlas of Dermatology in Internal Medicine
2. Psoriasis Gutata
Diameter kelainan biasanya tidak melebihi 1 cm. Timbulnya mendadak dan
diseminata, umumya setelah infeksi Streptococcus di saluran napas bagian atas
sehabis influenza atau morbili terutama pada anak dan dewasa muda. Selain itu juga
dapat timbul setelah infeksi yang lain baik bacterial maupun viral.

Gambar 5. Psoriasis Gutata


Sumber: Atlas of Dermatology in Internal Medicine

3. Psoriasis Inversa ( Psoriasis Fleksural)


Psoriasis ini mempunyai tempat predileksi di daerah fleksor sesuai dengan
namanya.

Gambar 6. Psoriasis Inversa


Sumber: UBC Dermatology. Diunduh dari: http://www.derm.ubc.ca/
4. Psoriasis Eksudativa
Bentuk ini sangat jarang. Biasanya kelainan pada psoriasis itu dalam bentuk
kering, tetapi pada jenis ini kelaianannya bersifat eksudatif seperti pada dermatitis
akut.
5. Psoriasis Seboroik
Gambaran klinis psoriasis seboroik merupakan gabungan antara psoriasis
dan dermatitis seboroik, skuama yang biasanya kering menjadi agak berminyak dan
agak lunak. Selain berlokasi pada tempat yang lazim, juga terdapat pada tempat
seboroik.

6. Psoriasis Pustulosa

Ada 2 pendapat mengenai psoriasis pustulosa, pertama dianggap sebagai


penyakit tersendiri, kedua dianggap sebagai varian psoriasis. Terdapat 2 bentuk
psoriasis pustulosa yaitu:
a. Psoriasis Pustulosa Palmoplantar (Barber)
Psoriasis pustulosa palmoplantar bersifat kronik dan residif,
mengenai telapak tangan atau telapak kaki atau keduanya. Kelainan kulit
berupa kelompok-kelompok pustule kecil steril dan dalam, di atas kulit yang
eritematosa, disertai rasa gatal.

Gambar 7. Psoriasis Pustulosa Palmoplantar (Barber)


Sumber: http://www.wikimedia.org//
b. Psoriasis Pustulosa Generalisata Akut (Von Zumbusch)
Psoriasis pustulata generalisata akut (von Zumbusch) dapat
ditimbulkan oleh berbagai faktor provokatif, misalnya obat yang tersering
karena penghentian kortikosteroid sistemik. Obat lain contohnya, penisilin
dan derivatnya, serta antibiotik betalaktam yang lain, hidroklorokuin, kalium
iodide, morfin, sulfapiridin, sulfonamide, kodein, fenilbutason, dan salisilat.
Faktor lain selain obat ialah hipokalsemia, sinar matahari, alkohol, stres
emosional, serta infeksi bakterial dan virus. Penyakit ini dapat timbul pada
penderita yang sedang atau telah mendapat psoriasis. Dapat pula muncul
pada penderita yang belum pernah menderita psoriasis. Gejala awalnya ialah
kulit nyeri, hiperalgesia disertia gejala umum berupa demam,malese, nausea,
anoreksia. Plak psoriasis yang telah ada makin eritematosa. Setelah beberapa
10

jam timbul banyak plak edematosa dan eritematosa pada kulit yang normal.
Dalam beberapa jam timbul banyak pustul miliar pada plak-plak tersebut.
Dalam sehari pustul-pustul berkonfluensi membentuk lake of pus berukuran
beberapa cm.1 Pustul besar spongioform terjadi akibat migrasi neutrofil ke
atas stratum malphigi, di mana neutrofil ini beragregasi di antara keratinosit
yang menipis dan berdegenerasi.3 Kelainan-kelainan semacam itu akan terus
menerus dan dapat menjadi eritroderma. Pemeriksaan laboratorium
menunjukkan leukositosis, kultur pus dari pustul steril.

Gambar 8. Psoriasis pustulata generalisata akut (von Zumbusch)


Sumber: UBC Dermatology. Diunduh dari: http://www.derm.ubc.ca/
7. Eritroderma psoriatic
Psoriasis eritroderma dapat disebabkan oelh pengobatan topical yang terlalu
kuat atau karena penyakitnya sendiri yang meluas. Biasanya lesi yang khas untuk
psoriasis tidak tampak lagi karena terdapat eritema dan skuama tebal universal.
Adakalanya lesi psoriasis masih tampak samar-samar yakni lebih eritematosa dan
kulitnya lebih meninggi. 2,6

11

Gambar 9. Psoriasis eritroderma


Sumber: UBC Dermatology. Diunduh dari: http://www.derm.ubc.ca/

2.6 HISTOPATOLOGI
Psoriasis memberikan gambaran histopatologik yang khas yakni parakeratosis dan
akantosis. Pada stratum spinosum terdapat kelompok leukosit yang disebut abses Munro.
Selain itu terdapat pula papilomatosis dan vasodilatasi di subepidermis.2
Aktivitas mitosis sel epidermis tampak begitu tinggi, sehingga pematangan
keratinisasi sel-sel epidermis terlalu cepat dan stratum korneum tampak menebal. Di
dalam sel-sel tanduk ini masih ditemukan inti sel (parakeratosis). Di dalam stratum
korneum

dapat

ditemukan

kantong-kantong

kecil

yang

berisikan

sel

radang

polimorfonuklear yang dikenal sebagai mikro abses Munro. Pada puncak papil dermis
didapati pelebaran pembuluh darah kecil yang disertai oleh sebukan sel radang limfosit
dan monosit.5
2.7 DIAGNOSIS BANDING
Jika gambaran klininya khas, tidaklah susah untuk menegakkan diagnosis psoriasis.
Jika tidak khas maka harus dibedakan dengan beberapa penyakit lain yang tergolong dalam
dermatosis eritroskuamosa. Dalam mendianosis psoriasis perlu diperhatikan menganai
cirri khas psoriasis yaitu skuama kasar, transparan serta berlapis-lapis disertai fenomena
tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Pada stadium penyembuhan dapat ditemukan eritema
yang hanya terdapat di pinggir sehingga menyerupai dermatofitosis. Perbedaanya adalah
terdapat keluhan yang sangat gatal pada dermatofitosis dan pada pemeriksaan sediaan
langsung ditemukan adanya jamur.
Sifilis stadium II dapat menyerupai psoriasis dan disebut sifilis psoriaformis.
Perbedaanya adalah pada sifilis terdapat riwayat hubungan seksual dengan tersangka yang
12

juga menderita sifilis, pembesaran KGB menyeluruh dan tes serologic untuk sifilis positif.
Dernatitis seboroik berbeda dengan psoriasis karena skuamanya berminyak dan kekuningkuningan dan tempat predileksinya pada tempat yang seboroik.2
Psoriasis gutata akut didiagnosis banding dengan erupsi obat makulopapular, sifilis
sekunder dan pityriasis rosea. Plak dengan sisik kecil didiagnosis banding dengan
dermatitis seboroik, likenplanus kronis simpleks, tinea korporis, dan mikosis fungoides.
Psoriasis dengan plak luas didiagnosis banding dengan tinea korporis dan mikosis
fungoides. Psoriasis pada daerah skalp didiagnosis banding dengan tinea kapitis dan
dermatitis seboroik. Psoriasis inverse didiagnosis banding dengan tinea, kandidiasis,
intertrigo, penyakit Paget ekstramamme. Psoriasis pada kuku didiagnosis banding dengan
onikomikosis.4
2.8 PENGOBATAN
Secara garis besar, pengobatan pada psoriasis terdiri dari pengobatan secara
sistemik, pengobatan secara topical, terapi penyinaran dengan PUVA dan pengobatan
dengan cara Goeckman.
1. Pengobatan Sistemik
a. Kortikosteroid
Kortikosteroid dapat mengontrol psoriasis dengan dosis ekuivalen
prednisone 30mg per hari. Setelah membaik dosis diturunkan perlahanlahan lalu diberikan dosis pemeliharaan. Penghentian obat secara mendadak
akan menyebabkan kekambuhan dan dapat terjadi psoriasis pustulosa
generalisata. 2
b. Obat Sitostatik
Obat sitistatik yang biasa digunakan adalah metotrexate. Obat ini
bekerja dengan cara menghambat enzim dihidrofolat reduktase, sehingga
menghambat sintesis timidilat dan purin. Obat ini menunjukkan hambatan
replikasi dan fungsi sel T dan mungkin juga sel B karena adanya efek
hambatan sintesis. 7

13

Indikasinya ialah untuk psoriasis, psoriasis pustulosa, psoriasis


arthritis dengan lesi kulit dan eritroderma karena psoriasis yang sukar
terkontrol dengan obat standar. Kontraindikasinya ialah bila terdapat
kelainan hepar, ginjal, system hematopoetik, kehamilan, penyakit infeksi
aktif (misalnya TBC, Ulkus peptikum, colitis ulserosa dan psikosis). Pada
awalnya metotrexate diberikan dengan dosis inisial 5 mg per orang dengan
psoriasis untuk melihat apakah ada gejala sensitivitas atau gejala toksik. Jika
tidak terjadi efek yang tidak diinginkan maka MTX diberikan dengan dosis 3
x 2.5mg dengan interval 12 jam selama 1 minggu dengan dosis total 7.5mg.
Jika tidak ada perbaikan maka dosis dinaikkan 2,5 - 5 mg per minggu dan
biasanya dengan dosis 3 x 5 mg akan tampak ada perbaikan. Cara lain adalah
dengan pemberian MTX i.m dosis tunggal sebesr 7,5 25 mg. Tetapi dengan
cara ini lebih banyak menimbulkan reaksi sensitivitas dan reaksi toksik. Jika
penyakit telah terkontrol maka dosis perlahan diturunkan dan diganti ke
pengobatan secara topical.
Setiap 2 minggu dilakukan pemeriksaan hematologic, urin lengkap,
fungsi ginjal dan fungsi hati. Bila jumlah leukosit < 3500/uL maka pemberian
MTX dihentikan. Bila fungsi hepar baik maka dilakukan biopsy hepar setiap
kali dosis mencapai dosis total 1,5 gram, tetapi bila fungsi hepar abnormal
maka dilakukan biopsy hepar bila dosis total mencapai 1 gram.
Efek samping dari penggunaan MTX adalah nyeri kepala, alopecia,
saluran cerna, sumsul tulang, hepar dan lien. Pada saluran cerna berupa
nausea, nyeri lambung, stomatitis ulcerosa dan diare. Pada reaksi yang hebat
dapat terjadi enteritis hemoragik dan perforasi intestinal. Depresi sumsum
tulang menyebabkan timbulnya leucopenia, trombositopenia dan kadangkadang anemia. Pada hepar dapat terjadi fibrosis dan sirosis.
c. Levodopa
Levodopa sebenarnya dipakai untuk penyakit Parkinson. Pada
beberapa pasien Parkinson yang juga menderita psoriasis dan diterapi
dengan levodopa menunjukkan perbaikan. Berdasarkan penelitian, Levodopa
menyembuhkan sekitar 40% pasien dengan psoriasis. Dosisnya adalah 2 x
14

250 mg 3 x 250 mg. Efek samping levodopa adalah mual, muntah,


anoreksia, hipotensi, gangguan psikis dan gangguan pada jantung.
d. Diaminodifenilsulfon
Diaminodifenilsulfon (DDS) digunakan pada pengobatan psoriasis
pustulosa tipe Barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari. Efek sampingnya
adalah anemia hemolitik, methemoglobinuria dan agranulositosis.
e. Etretinat & Asitretin
Etretinat merupakan retinoid aromatik, derivat vitamin A digunakan
bagi psoriasis yang sukar disembuhkan dengan obat-obat lain mengingat
efek sampingnya. Etretinat efektif untuk psoriasis pustular dan dapat pula
digunakan untuk psoriasis eritroderma. Pada psoriasis obat tersebut
mengurangi proliferasi sel epidermal pada lesi psoriasis dan kulit normal.
Dosisnya bervariasi : pada bulan pertama diberikan 1mg/kgbb/hari, jika
belum terjadi perbaikan dosis dapat dinaikkan menjadi 1 mg/kgbb/hari.
Efek sampingnya berupa kulit menipis dan kering, selaput lendir pada mulut,
mata, dan hidung kering, kerontokan rambut, cheilitis, pruritus, nyeri tulang
dan persendian, peninggian lipid darah, gangguan fungsi hepar, hiperostosis,
dan teratogenik. Kehamilan hendaknya tidak terjadi sebelum 2 tahun setelah
obat dihentikan. Asitretin (neotigason) merupakan metabolit aktif etretinat
yang utama. Efek sampingnya dan manfaatnya serupa dengan etretinat.
Kelebihannya, waktu paruh eliminasinya hanya 2 hari, dibandingkan dengan
etretinat yang lebih dari 100 hari. 2
f. Siklosporin
Siklosporin berikatan dengan siklofilin selanjutnya menghambat
kalsineurin. Kalsineurin adalah enzim fosfatase dependent kalsium dan
memgang peranan kunci dalam defosforilasi protein regulator di sitosol,
yaitu NFATc (Nuclear Factor of Activated T Cell). Setelah mengalami
defosforilasi, NFATc ini mengalami translokasi ke dalam nukleus untuk
mengaktifkan gen yang bertanggung jawab dalam sintesis sitokin, terutama
IL-2. Siklosporin juga mengurangi produksi IL-2 dengan cara meningkatkan
ekspresi TGF- yang merupakan penghambat kuat aktivasi limfosit T oleh IL15

2. Meningkatnya ekspresi TGF- diduga memegang peranan penting pada


efek imunosupresan siklosporin. 7
Efeknya ialah imunosupresif. Dosisnya 1-4 mg/kgbb/hari. Bersifat
nefrotoksik dan hepatotoksik. Hasil pengobatan untuk psoriasis baik, hanya
setelah obat dihentikan dapat terjadi kekambuhan.
g. Terapi biologic
Obat biologic merupakan obat yang baru dengan efeknya memblok
langkah molecular spesifik yang penting paa pathogenesis psoriasis. Contoh
obatnya adalah alefaseb, efalizumab dan TNF--antagonist.
2. Pengobatan Topikal
a. Preparat Ter
Obat topikal yang biasa digunakan adalah preparat ter, yang efeknya
adalah anti radang. Menurut asalnya preparat ter dibagi menjadi 3, yakni
yang berasal dari:

Fosil, misalnya iktiol.

Kayu, misalnya oleum kadini dan oleum ruski.

Batubara, misalnya liantral dan likuor karbonis detergens

Preparat ter yang berasal dari fosil biasanya kurang efektif untuk psoriasis,
yang cukup efektif ialah yang berasal dari batubara dan kayu. Ter dari
batubara lebih efektif daripada ter berasal dari kayu, sebaliknya
kemungkinan memberikan iritasi juga besar. Pada psoriasis yang telah
menahun lebih baik digunakan ter yang berasal dari batubara, karena ter
tesbut lebih efektif daripada ter yang berasal dari kayu dan pada psoriasis
yang menahun kemungkinan timbulnya iritasi kecil. Sebaliknya pada
psoriasis akut dipilih ter dari kayu, karena jika dipakai ter dari batu bara
dikuatirkan akan terjadi iritasi dan menjadi eritroderma.
Ter yang berasal dari kayu kurang nyaman bagi penderita karena
berbau kurang sedap dan berwarna coklat kehitaman. Sedangkan likuor
karbonis detergens tidak demikian. Konsentrasi yang biasa digunakan 2
5%, dimulai dengan konsentrasi

rendah, jika tidak ada perbaikan


16

konsentrasi dinaikkan. Supaya lebih efektif, maka daya penetrasi harus


dipertinggi dengan cara menambahkan asam salisilat dengan konsentrasi 3
5 %. Sebagai vehikulum harus digunakan salap karena salap mempunyai
daya penetrasi terbaik.
b. Kortikosteroid
Kortikosteroid topikal memberi hasil yag baik. Potensi dan vehikulum
bergantung pada lokasinya. Pada skalp, muka dan daerah lipatan digunakan
krim, di tempat lain digunakan salap. Pada daerah muka, lipatan dan
genitalia eksterna dipilih potensi sedang, bila digunakan potensi kuat pada
muka dapat memberik efek samping di antaranya teleangiektasis, sedangkan
di lipatan berupa strie atrofikans. Pada batang tubuh dan ekstremitas
digunakan salap dengan potensi kuat atau sangat kuat bergantung pada lama
penyakit. Jika telah terjadi perbaikan potensinya dan frekuensinya dikurangi.
c. Ditranol (Atralin)
Obat ini dikatakan efektif. Kekurangannya adalah mewarnai kulit dan
pakaian. Konsentrasi yang digunakan biasanya 0,2-0,8 persen dalam pasta,
salep, atau krim. Lama pemakaian hanya jam sehari sekali untuk
mencegah iritasi. Penyembuhan dalam 3 minggu.
d. Pengobatan dengan Penyinaran
Seperti diketahui sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat
mitosis, sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara yang
terbaik ialah penyinaran secara alamiah, tetapi sayang tidak dapat diukur
dan jika berlebihan akan memperberat psoriasis. Karena itu digunakan sinar
ultraviolet artifisial, diantaranya sinar A yang dikenal dengan UVA. Sinar
tersebut dapat digunakan secara tersendiri atau berkombinasi dengan
psoralen (8-metoksipsoralen, metoksalen) dan disebut PUVA, atau bersamasama dengan preparat ter yang dikenal sebagai pengobatan cara
Goeckerman.
Dapat juga digunakan UVB untuk pengobatan psoriasis tipe plak,
gutata, pustular, dan eritroderma. Pada yang tipe plak dan gutata
dikombinasikan dengan salep likuor karbonis detergens 5 -7% yang
17

dioleskan sehari dua kali. Sebelum disinar dicuci dahulu. Dosis UVB pertama
12 -23 m J menurut tipe kulit, kemudian dinaikkan berangsur-angsur. Setiap
kali dinaikkan sebagai 15% dari dosis sebelumnya. Diberikan seminggu tiga
kali. Target pengobatan ialah pengurangan 75% skor PASI (Psoriasis Area
and Severity Index). Hasil baik dicapai pada 73,3% kasus terutama tipe plak.
e. Calcipotriol
Calcipotriol ialah sintetik vitamin D. Preparatnya berupa salep atau
krim 50 mg/g. Perbaikan setelah satu minggu. Efektivitas salep ini sedikit
lebih baik daripada salap betametason 17-valerat. Efek sampingnya pada 4
20% berupa iritasi, yakni rasa terbakar dan tersengat, dapat pula telihat
eritema dan skuamasi. Rasa tersebut akan hilang setelah beberapa hari obat
dihentikan.
f. Tazaroten
Merupakan molekul retinoid asetilinik topikal, efeknya menghambat
proliferasi

dan

normalisasi

petanda

differensiasi

keratinosit

dan

menghambat petanda proinflamasi pada sel radang yang menginfiltrasi kulit.


Tersedia dalam bentuk gel, dan krim dengan konsentrasi 0,05 % dan 0,1 %.
Bila dikombinasikan dengan steroid topikal potensi sedang dan kuat akan
mempercepat penyembuhan dan mengurangi iritasi. Efek sampingnya ialah
iritasi berupa gatal, rasa terbakar dan eritema pada 30 % kasus, juga bersifat
fotosensitif.
g. Emolien
Efek emolien ialah melembutkan permukaan kulit. Pada batang tubuh
(selain lipatan), ekstremitas atas dan bawah biasanya digunakan salep
dengan bahan dasar vaselin 1-2 kali/hari, fungsinya juga sebagai emolien
dengan akibat meninggikan daya penetrasi bahan aktif. Jadi emolien sendiri
tidak mempunyai efek antipsoriasis.
3. PUVA
Karena psoralen bersifat fotoaktif, maka dengan UVA akan terjadi efek yang
sinergik. Mula-mula 10 20 mg psoralen diberikan per os, 2 jam kemudian
dilakukan penyinaran. Terdapat bermacam-macam bagan, di antaranya 4 x
18

seminggu. Penyembuhan mencapai 93% setelah pengobatan 3 4 minggu, setelah


itu dilakukan terapi pemeliharaan seminggu sekali atau dijarangkan untuk
mencegah rekuren. PUVA juga dapat digunakan untuk eritroderma psoriatik dan
psoriasis pustulosa. Beberapa penyelidik mengatakan pada pemakaan yang lama
kemungkinan akan terjadi kanker kulit.
4. Pengobatan Cara Goeckerman
Pada tahun 1925 Goeckerman menggunakan pengobatan kombinasi ter
berasal dari batubara dan sinar ultraviolet. Kemudian terdapat banyak modifikasi
mengenai ter dan sinar tersebut. Yang pertama digunakan ialah crude coal ter yang
bersifat fotosensitif. Lama pengobatan 4 6 minggu, penyembuhan terjadi setelah 3
minggu. Ternyata bahwa UVB lebih efektif daripada UVA. 2
2.9 PROGNOSIS
Psoriasis tidak menyebabkan kematian tetapi menggangu kosmetik karena
perjalanan penyakitnya bersifat kronis dan residif.

Psoriasis gutata akut timbul cepat.

Terkadang tipe ini menghilang secara spontan dalam beberapa minggu tanpa terapi.
Seringkali, psoriasis tipe ini berkembang menjadi psoriasis plak kronis. Penyakit ini
bersifat stabil, dan dapat remisi setelah beberapa bulan atau tahun, dan dapat saja
rekurens sewaktu-waktu seumur hidup. Pada psoriasis tipe pustular, dapat bertahan
beberapa tahun dan ditandai dengan remisi dan eksaserbasi yang tidak dapat dijelaskan.
Psoriasis vulgaris juga dapat berkembang menjadi psoriasis tipe ini. Pasien denan psoriasis
pustulosa generalisata sering dibawa ke dalam ruang gawat darurat dan harus dianggap
sebagai bakteremia sebelum terbukti kultur darah menunjukkan negatif. Relaps dan remisi
dapat terjadi dalam periode bertahun-tahun.4

19

BAB III
KASUS
BAB II
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama

: Ny.R

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 36 Tahun

Alamat

: Cempaka Putih, Jakarta Pusat

Agama

: Islam

Tanggal Masuk RS

: 12 Desember 2014

B. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan di Poli klinik kulit dan kelamin RSIJ Cempaka Putih

Keluhan Utama :

Pasien datang ke poli klinik karna mengeluh gatal pada bagian kepala dan lengan
Keluhan Tambahan
Kemerahan,kering,bersisik

20

Riwayat Penyakit Sekarang :


3 tahun yang lalu pasien merasa gatal pad bagian kepala, terutama pada area
perbatasan rambut dengan kulit, baik pada bagian depan, damping kanan dan kiri mingga
ke belakang. Keluhan tersebut di sertai dengan warna kemerahan pada area tersebut dan
juga pasien mengeluh sebagian besar bagian tersebut di sertai sisik yang tebal pada area
yang mengalami kemerahan tersebut. Menurut pasien keluhan tersebut di rasa hilang
timbul, biasanya keluhan tersebut timbul saat pasien sedang dalam keadaan stress dan
sedang sibuk. Saat timbul biasanya di awali dengan keluhan gatal. Yang dimana setiap kali
pasien menggaruk biasanya bias timbul jenis luka yang sama seperti di area kepala tersebut.
Selama ini pasien sering kali berobat untuk mengurangi keluhan tersebut. Namun sejak 3
bulan yang lalu pasien tinggal di luar negri dan tidak mendapatkan pengobatan saat pasien
sedang kamuh. Hingga 1 bulan yang lalu pasien pasien mengalami kekambuhan lagi yang di
awali dengan gatal pada area kepala depan yang juga di sertai dengan kemerakan pada area
tersebut dan di bagian atas dari kemerakan beberapa tempat di sertai dengan sisik tebal,
pada daerah lain yang terkena kelainan yang sama adalah terutama pada bagian lengan
belakang kanan dan kiri.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien menderita penyakit ini sejak 3 tahun yang lalu.

Riwayat alergi :

Alergi kulit (-)

Asma (-)

Alergi obat(-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


90% keluarga menderita keluhan yang sama terutama pada kelompok berjenis kelamin
wanita.

21

Riwayat Penyakit Higiene:

Pasien membersihkan diri 1 hari sebanyak 2 kali

Riwayat Kebiasaan:
Pasien memiliki kebiasaan menggaruk area gatal hingga terkadang tersebar ke bagian tubuh
lainnya.

C. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum

: Tampak sakit Sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda-tanda vital

o Nadi

: 90x/menit

o Pernapasan

: 18 x/menit

o Suhu

: 36,3oC

o BB

: 90 kg

o PB

: 150 m

Status Generalisata:
o Kepala

: Normocephal

o Mata

: konjungtiva anemis(-/-),sclera ikterik(-/-),secret (-/-),palpebra

inferior OD dan OS dalam batas normal.


o Hidung : Septum deviasi (-), sekret (-/-), terdapat krusta pada nares nasi debris
berwarna kekuningan.
o Mulut

: mukosa bibir lembab.


22

o Leher

: Pembesaran KGB (-)

o Thorax

: Paru : Pergerakan dada simetris, vesikuler (+/+)

o Jantung

: Ictus cordis teraba di ICS 5, BJ I dan II normal

o Abdomen

: Tampak cembung, supel, bising usus (+) normal,

organomegali (-)
o Ekstremitas

: Deformitas (-/-), akral hangat (+/+), edema (-/-)

Status Dermatologikus:
1. Pada regio Frontalis : terdapat macula eritematosa dengan ukuran nummular, berbentuk
tidak beraturan,sirkumskript,berkonfluens dengan lesi yang lain. Serta pada bagian atas
lesi terdapat skuama tebal berwarna putih berlapis lapis.
2. Pada regio glabella : terdapat macula eritematosa dengan ukuran lenticular, berbentuk
anular,sirkumskript,soliter dengan bagian atas lesi di sertai skuama tebal berwarna putih.
3. Pada regio antebrachii posterior dextra: terdapat macula eritematosa dengan ukuran
lenticular hingga plakat berbentuk anular,sirkumskript,diskret. Serta pada lesi yang paling
besar di sertai dengan skuama berwarna tebal berwarna putih berlapis lapis.
4. Pada region brachii posterior dextra : terdapat macula eritematosa dengan ukuran 12x8
cm,sirkumskript, serta pada beberapa bagian di sertai dengan lesi erosi berbentuk
anular,sirkumskript,berukuran numular, dengan bagian luar erosi terdapat skuama tebal
berwarna putih.

23

Gambar 1. Pada regio Frontalis : terdapat macula eritematosa dengan ukuran nummular,
berbentuk tidak beraturan,sirkumskript,berkonfluens dengan lesi yang lain. Serta pada
bagian atas lesi terdapat skuama tebal berwarna putih berlapis lapis.

Gambar 2. Pada regio glabella : terdapat macula eritematosa dengan ukuran lenticular,
berbentuk anular,sirkumskript,soliter dengan bagian atas lesi di sertai skuama tebal
berwarna putih.

24

Gambar 3.Pada regio antebrachii posterior dextra: terdapat macula eritematosa dengan
ukuran lenticular hingga plakat berbentuk anular,sirkumskript,diskret. Serta pada lesi
yang paling besar di sertai dengan skuama berwarna tebal berwarna putih berlapis lapis.

25

Gambar 4.Pada region brachii posterior dextra : terdapat macula eritematosa dengan
ukuran 12x8 cm,sirkumskript, serta pada beberapa bagian di sertai dengan lesi erosi
berbentuk anular,sirkumskript,berukuran numular, dengan bagian luar erosi terdapat
skuama tebal berwarna putih.

26

D.RESUME
Wanita 36 tahun dating ke poliklinik dengan keluhan pruritus pada regio frontalis dan
brachii dextra sejak 1 bulang sebeelum masuk RS keluhan tersebut di sertai dengan lesi eritema
yang di mana di bagian atas nya di sertai dengan skuama berwarna putih, keluhan tersebut di
rasa menyebar yang di mana di rasa pasien menjalar ke bagian tubuh lain sewaktu pasien
sedang meggaruk. Pasie mengeluh keluhan tersebut remisi baik saat pasien sedang mengalami
stress maupun sedang sibuk. Keluhan tersebut sudah di alami sejak 3 tahun yang lalu pasien
juga mengeluh pada keluarga terutama kelompok jenis kelamin wanita.
Pada status generalisata tidak di temukan adanya kelainan. Status dermatologikus
di temukan Pada regio Frontalis : terdapat macula eritematosa dengan ukuran nummular,
berbentuk tidak beraturan,sirkumskript,berkonfluens dengan lesi yang lain. Serta pada bagian
atas lesi terdapat skuama tebal berwarna putih berlapis lapis. Pada regio glabella : terdapat
macula eritematosa dengan ukuran lenticular, berbentuk anular,sirkumskript,soliter dengan
bagian atas lesi di sertai skuama tebal berwarna putih. Pada regio antebrachii posterior dextra:
terdapat

macula

eritematosa

dengan

ukuran

lenticular

hingga

plakat

berbentuk

anular,sirkumskript,diskret. Serta pada lesi yang paling besar di sertai dengan skuama berwarna
tebal berwarna putih berlapis lapis. Pada region brachii posterior dextra : terdapat macula
eritematosa dengan ukuran 12x8 cm,sirkumskript, serta pada beberapa bagian di sertai dengan
lesi erosi berbentuk anular,sirkumskript,berukuran numular, dengan bagian luar erosi terdapat
skuama tebal berwarna putih.

27

E.DIAGNOSIS KERJA

Psoriasis Vulgaris

F.Diagnosa Banding
1. Sifilis Stadium II
2. Dermatitis Seboroik

G.RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG

Biopsi Kulit

H.PENATALAKSANAAN

Non-Medikamentosa:
1.

Menghindari factor pencetus (stress).

Medikamentosa:
ORAL
o Prednison 30 mg/hari(tappering off)
o Obat Sitostatik : metroteksat dosisnya 3 x 2,5 mg, dengan interval 12 jam dalam
seminggu dengan dosis total 7,5 mg
o Levodopa : dosisnya 2x250mg 3x500 mg.

PENGOBATAN TOPIKAL
o Kortikosteroid topikal
o Preparat ter
I.PROGNOSIS
28

a. Quo Ad Vitam

: Ad Bonam

b. Quo Ad Functionam

: Ad Bonam

c. Quo Ad Sanationam

: Dubia Ad Bonam

J.DISKUSI
Diagnosis Psoriasis vulgaris pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis.
keluhan pruritus pada regio frontalis dan brachii dextra sejak 1 bulang sebeelum masuk
RS keluhan tersebut di sertai dengan lesi eritema yang di mana di bagian atas nya di sertai
dengan skuama berwarna putih, keluhan tersebut di rasa menyebar yang di mana di rasa pasien
menjalar ke bagian tubuh lain sewaktu pasien sedang meggaruk. Pasie mengeluh keluhan
tersebut remisi baik saat pasien sedang mengalami stress maupun sedang sibuk. Keluhan
tersebut sudah di alami sejak 3 tahun yang lalu pasien juga mengeluh pada keluarga terutama
kelompok jenis kelamin wanita. Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun,
bersifat kronik dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas
dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan. Onset usia pada psoriasis tipe
dini dengan puncak usia 22,5 tahun (pada anak, usia onset rata-rata 8 tahun). Untuk tipe
lambat, muncul pada usia 55 tahun. Sekitar 1/3 orang yang terkena psoriasis melaporkan
riwayat penyakit keluarga yang juga menderita psoriasis. Pada kembar monozigot resiko
menderita psoriasis adalah sebesar 70% bila salah seorang menderita psoriasis. 1 Bila
orangtua tidak menderita psoriasis maka risiko mendapat psoriasis sebesar 12%,
sedangkan bila salah satu orang tua menderita psoriasis maka risiko terkena psoriasis
meningkat menjadi 34-39%.
Ada beberapa faktor predisposisi yang dapat menimbulkan penyakit ini, yaitu:
7. Faktor herediter bersifat dominan otosomal dengan penetrasi tidak lengkap.

29

8. Faktor-faktor psikis, seperti stres dan gangguan emosis. Penelitian menyebutkan


bahwa 68% penderita psoriasis menyatakan stress, dan kegelisahan menyebabkan
penyakitnya lebih berat dan hebat.
9. Infeksi fokal. Infeksi menahun di daerah hidung dan telinga, tuberkulosis paru,
dermatomikosis, arthritis dan radang menahun ginjal.
10. Penyakit metabolic, seperti diabetes mellitus yang laten.
11. Gangguan pencernaan, seperti obstipasi.
12. Faktor cuaca. Beberapa kasus menunjukkan tendensi untuk menyembuh pada
musim panas, sedangkan pada musim penghujan akan kambuh dan lebih hebat. 5
Pada status generalisata tidak di temukan adanya kelainan. Status dermatologikus
di temukan Pada regio Frontalis : terdapat macula eritematosa dengan ukuran nummular,
berbentuk tidak beraturan,sirkumskript,berkonfluens dengan lesi yang lain. Serta pada bagian
atas lesi terdapat skuama tebal berwarna putih berlapis lapis. Pada regio glabella : terdapat
macula eritematosa dengan ukuran lenticular, berbentuk anular,sirkumskript,soliter dengan
bagian atas lesi di sertai skuama tebal berwarna putih. Pada regio antebrachii posterior dextra:
terdapat

macula

eritematosa

dengan

ukuran

lenticular

hingga

plakat

berbentuk

anular,sirkumskript,diskret. Serta pada lesi yang paling besar di sertai dengan skuama berwarna
tebal berwarna putih berlapis lapis. Pada region brachii posterior dextra : terdapat macula
eritematosa dengan ukuran 12x8 cm,sirkumskript, serta pada beberapa bagian di sertai dengan
lesi erosi berbentuk anular,sirkumskript,berukuran numular, dengan bagian luar erosi terdapat
skuama tebal berwarna putih.Bentuk ini adalah yang lazim terdapat karena itu disebut
psoriasis vulgaris. Dinamakan juga tipe plak karena lesi-lesinya pada umumnya berbentuk
plak. Tempat predileksinya yaitu pada scalp, perbatasan scalp dengan wajah, ekstremitas
terutama bagian ekstensor yaitu lutut, siku dan daerah lumbosakral.
Penatalaksanaan Psoriasis vulgaris pada pasien ini adalah dengan Non-Medikamentosa:
Menghindari factor pencetus (stress). Medikamentosa (oral): Prednison 30 mg/hari(tappering
off Obat Sitostatik : metroteksat dosisnya 3 x 2,5 mg, dengan interval 12 jam dalam seminggu
dengan dosis total 7,5 mg Levodopa : dosisnya 2x250mg 3x500 mg. Dan pengobata topikal
Kortikosteroid topikal dengan preparat ter.

30

BAB IV
KESIMPULAN
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai
dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapislapis dan transparan, disertai dengan fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Kasus
psoriasis makin sering ditemukan. Meskipun penyakit ini tidak menyebabkan kematian
tetapi menyebabkan gangguan kosmetik terutama karena perjalanan penyakit ini bersifat
menahun dan residif. Etiologi psoriasis adalah autoimun yang dipengaruhi oleh berbagai
pathogenesis yang diantaranya adalah factor genetic, factor imunolgis dan factor-faktor
lain seperti infeksi,metabolic, endokrin dll. Gejala klinis psoriasis pada umumnya tidak
mempengaruhi keadaan umum pasien, kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma.
Sebagian pasien mengeluh gatal ringan. Tempat predileksi pada scalp, perbatasan scalp

31

dengan wajah, ektremitas terutama bagian ekstensor di bagian siku dan lutut serta daerah
lumbo sacral. Kelainan kulit terdiri dari bercak-bercak eritema yang meninggi (plak)
dengan skuama diatasnya. Eritema sirkumskripta dan merata, tetapi pada masa
penyembuhan seringkali eritema di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir.
Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika serta transparan. Besar
kelainan bervariasi, bisa lentikular, nummular, plakat dan dapat berkonfluensi.
Terdapat 7 bentuk klinis dari psoriasis yaitu psoriasis vulgaris, psoriasis gutata, psoriasis
inversa, psoriasis seboroik, psoriasis eksudativa, psoriasis pustulosa dan eritroderma
psoriatic. Psoriasis memberikan gambaran histopatologik yang khas yakni parakeratosis
dan akantosis. Pada stratum spinosum terdapat kelompok leukosit yang disebut abses
Munro. Selain itu terdapat pula papilomatosis dan vasodilatasi di subepidermis. Secara
garis besar, pengobatan pada psoriasis terdiri dari pengobatan secara sistemik dengan
kortikosteroid, obat sitostatika, Levodopa, DDS, Etretinat, Siklosporin dan dengan terapi
biologic. Pengobatan secara topical dengan mengunakan kortikosteroid topical, preparat
ter, ditranol, fototerapi,calcipotriol, tazaroten dan emolien. Disamping itu juga dapat
dilakukan pengobatan dengan terapi penyinaran dengan PUVA dan pengobatan dengan
cara Goeckman. Prognosis pada psoriasis tergolong baik namun secara kosmetik
menggangu karena perjalanan penyakitnya bersifat kronis dan residif.

DAFTAR PUSTAKA
1. Psoriasis.

Diunduh

dari:

http://www.news-medical.net/health/What-is-

Psoriasis.aspx. April 2012.


2. Djuanda A. Dermatosis eritroskuamosa. Dalam Djuanda A., Hamzah M.Aisah S. Ilmu
penyakit kulit dan kelamin. Edisi kelima. Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia;2007.h.189-95.
3. Geng A., McBean J., Zeikus P.S., et al. Psoriasis. Dalam Kelly A.P., Taylor S.C., Editors.
Dermatology for skin of color. New York:Mc Graw Hill;2009.h.139-146.
32

4. Wolff K., Johnson R.A. Psoriasis. Dalam Wolff K., Johnson R.A.Fitzpatricks color atlas
and synopsis of clinical dermatology. Edisi keenam. New York:Mc Graw
Hill;2009.h.53-71.
5. Siregar R.S. Psoriasis. Dalam Harahap M. Ilmu penyakit kulit. Jakarta:Hipokrates.
2000. h.116 - 9.
6. Psoriasis.

Diunduh

dari:

Yayasan

Psoriasis

Indonesia

dalam

http://www.psoriasis.or.id/psoriasis_pustular.php. 2005.
7. Goldenstein B., Goldenstein A. Psoriasis. Dalam Goldenstein B.,Goldenstein A.,
Melfiawaty.,

Pendit

B.U.,

Editors.

Dermatologi

Praktis.Jakarta:Hipokrates;2001.h.187.

33