Anda di halaman 1dari 12

IMPLEMEMTASI ZAKAT SAHAM

PT BPR. LPN PANAMPUNG KABUPATEN AGAM


SERTA PEMANFAATANNYA

A. Latar Belakang Masalah


Dalam kehidupan bermasyarakat baik pada masa lalu maupun pada masa sekarang,
sering dijumpai adanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Hubungan kaya
miskin ini dalam syariat Islam dilandaskan pada firman Allah dalam surah alDzariyat:19 yang berbunyi:

Artinya: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan
orang miskin yang tidak mendapat bagian.
Islam sebagai sebuah ajaran menghendaki adanya perhatian pada mereka-mereka
yang berada dalam jurang kemiskinan. Keinginan Islam untuk membantu dan
mengangkat mereka dari jurang kemiskinan tersebut diaplikasikan dengan ditunaikannya
zakat dalam agama Islam.
Zakat merupakan ajaran yang melandasi tumbuh kembangnya sebuah kekuatan
sosial ekonomi umat Islam. Kerangka terminologi zakat menumbuhkan pemahaman
diantaranya yaitu : Pertama, dalam bentuk pengertian tauhid, zakat dilaksanakan berda
sarkan petunjuk Allah SWT, sehingga tujuan pokok pelaksanaannya adalah untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa, beriman dan ikhlas beramal dalam
usaha beribadah kepada Tuhan; Kedua, dalam pengertian hukum, zakat adalah hukum
Tuhan yang sesuai dengan hukum yang berlaku dalam alam semesta agar manusia dapat
hidup saling mencintai dan tolong-menolong yang didasari rasa kasih sayang sesama
makhluk Tuhan; Ketiga, dalam pengertian akhlak, zakat adalah isi dari penjelmaan budi
manusia yang mulia, pelaksanaan kehendak rasa antara si kaya dan si miskin, dan
sekaligus sumber praktik persamaan dan persaudaraan kemanusiaan dalam aspek
kehidupan sosial; Keempat, dalam pengertian sosial, zakat tumbuh untuk menyamakan
1

dan mempersaudarakan seluruh umat manusia dalam masyarakat kemanusiaan yang satu,
yang berwujud pengorbanan benda dalam hidup bertolong-tolongan; Kelima, dalam
pengertian ekonomi, zakat meninggikan hasrat produksi modern bagi keperluan hidup,
melancarkan jalan distribusi dan menstabilitaskan konsumsi dalam kehidupan masyarakat tanpa ada jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.
Pelaksanaan zakat telah diwajibkan kepada semua orang muslim karena merupakan
bagian dari rukun Islam. Kewajiban tersebut berupa pengeluaran sejumlah harta tertentu
yang terselip dalam kekayaan yang dimiliki oleh setiap pribadi muslim yang di wajibkan
oleh Allah untuk diserahkankan kepada orang-orang yang berhak setelah mencapai
nishab dan haul dengan satu tujuan sosial sebagai salah satu alternatif solusi pengentasan
kemiskinan umat.
Untuk mengilustrasikan betapa pentingnya kedudukan zakat, al-Quran dengan
jelas menyebutkan kata zakat (al-zakh) yang dirangkaikan dengan kata shalat (al-shalh)
sebanyak 72 kali. Menurut hitungan Ali Yafie, hal ini dapat diinterpretasikan bahwa pe
nunaian zakat memiliki urgensi yang sebanding dengan pendirian shalat.
Seiring perkembangan zaman, berkembang pula pemahaman para tokoh Islam
dalam memahami makna dan objek zakat. Tidak ada ayat yang menunjukkan adanya
pembatasan sumber-sumber zakat. Semuanya ditampilkan dalam bentuk lafadh m yang
mencakup seluruh individu. Berdasarkan keumuman zakat tersebut, maka semua hasil
usaha atau hasil bumi dikenakan kewajiban zakat termasuk di dalamnya zakat saham dan
obligasi.
Saham dianggap sebagai bagian prosentatif dari modal usaha, oleh sebab itu harus
dikeluarkan zakatnya oleh para pemegang saham masing-masing. Namun, pihak
perusahaan bisa mengeluarkan zakatnya sebagai perwakilan mereka kalau itu ditegaskan
dalam peraturan dasar mereka, atau bisa juga diserahkan kepada para pemilik saham
untuk dikeluarkan zakatnya.
Mengenai kewajiban zakat saham dan obligasi para ulama telah sepakat untuk
mengeluarkan zakatnya karena saham dan obligasi adalah merupakan harta kekayaan dan
setiap harta kekayaan ada hak orang lain di dalamnya (zakat, infak, dan sedekah). Dalam
2

penentuan zakatnya para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama seperti Syekh Abdur
Rahman Isa, memandang bahwa zakat baru bisa ditentukan setelah melihat apakah saham
itu dikeluarkan atau dimiliki seseorang untuk industri murni (tidak melakukan kegiatan
dagang), seperti hotel, pengangkutan (udara, darat, laut), pabrik, dan usaha-usaha lain
yang mengadakan kegiatan dagang. Sebagian ulama lain seperti Abu Zahrah,
Abdurrahman Hasan dan Abdul Wahab Khallaf memandang sama antara saham dan
obligasi dengan barang dagangan dan merupakan harta kekayaan. Mereka juga
mengatakan bahwa saham dan obligasi itu sebagai surat berharga yang dapat
diperjualbelikan.
Saham memberikan keuntungan sesuai dengan keuntungan perusahaan atau bank,
yang besarnya tergantung pada keberhasilan perusahaan atau bank itu, tetapi juga
menanggung kerugiannya. Sedangkan obligasi memberikan keuntungan tertentu (bunga)
atas pinjaman tanpa bertambah atau berkurang.
Selama perusahaan tersebut tidak memproduksi barang-barang atau komoditaskomoditas yang dilarang, maka saham menjadi salah satu objek atau sumber zakat.
Sedangkan obligasi sangat tergantung kepada bunga yang termasuk kategori riba, dan
riba itu sanagat jelas keharamnya, baik dalam jumlah sedikit maupun yang berlipat
ganda.
Hal ini sejaln dengan firman Allah SWT dalam surah Ali Imran: 130,


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat
ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan.
Riba di sini ialah riba nasi'ah. menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi'ah itu
selamanya Haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: nasiah dan

fadhl. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang
meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis,
tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian,
seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang
dimaksud dalam ayat Ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam
masyarakat Arab zaman Jahiliyah.
Surah al-Baqarah 278:


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa
riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
Keharaman bunga di samping berlandaskan kepada ayat-ayat tersebut di atas,
beberapa hadis Nabi yang sahih, juga hampir seluruh ulama berpendapat hal yang sama,
bahkan sidang Organisasi Konferensi Isalm (OKI) kedua yuang berlansunng di Karachi
Pakistan pada bulan Desember 19701 dan keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia
nomor 1 tahun 2004 tentang bunga menyatakan hasil yang sama, yaitu bahwa bank
dengan sistem bunga tidak sesui dengan syariat Islam.
Realita yang ada seperti yg terjadi pada PT. BPR

LPN 2 Panampung yang

mengeluarkan zakat saham dan obligasi setelah mencapai haul dan nisbanya. Oleh karena
itu peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang Implememtasi Zakat
Saham dan Obligasi PT. BPR LPN Panampung Kabupaten Agam serta Pemanfaatannya.
B. Rumusan Masalah

Ada dua keputusan penting yang diambil yang dihasilkan dalam sidang tersebut. Pertama: praktik
bank dengan sistem bunga adalah tidak sesuai dengan syariat Islam. Kedua: perlu segera didirikan bankbank alternatif yang menjalankan operasinya sesui dengan prinsip syariah Islam
2
PT. BPR LPN adalah singakatan dari Perseroan Terbatas Badan Pengkriditan Rakyat Lumbung
Pitih Nagari dalam penelitian ini selanjutnya akan ditulis: PT. BPR LPN .

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah penelitian (research problem ) di


atas, selanjutnya dirumuskan pertanyaan penelitian (research question ) sebagai berikut:
1. Bagaimana Kedudukan saham dan obligasi PT. BPR LPN Panampung ?

2. Bagaimana implementasi zakat saham dan obligasi pada PT. BPR LPN
Panampung?
3. Bagaimana Pemanfaatan Zakat saham dan obligasi pada PT. BPR LPN
Panampung?
4.

Bagaimana Hambatan Pelaksanaan Zakat saham dan obligasi di PT. BPR LPN
Panampung ?

C. Tujian dan Kegunaan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui Kedudukan saham dan obligasi PT. BPR LPN Panampung
2. Mengetaui implementasi zakat saham dan obligasi pada PT. BPR LPN
Panampung.
3. Pemanfaatan Zakat saham dan obligasi PT. BPR LPN Panampung.
4. Hambatan Pelaksanaan Zakat saham dan obligasi di PT. BPR LPN Panampung.

D. Defenisi Operasional
Sebelum mengadakan pembahasan lebih lanjut, ada baiknya Penulis terlebih
dahulu menjelaskan pengertian dari istilah-istilah penting yang dipakai dalam judul. Hal
ini dilakukan untuk mempermudah sekaligus untuk menghindari karancuan atau
kekeliruan dalam memahami judul yang dimaksud, istilah-istilah tersebut adalah:
1. Implementasi adalah proses untuk memastikan terlaksananya suatu kebijakan dan
tercapainya kebijakan tersebut. Impelementasi juga dimaksudkan menyediakan
sarana untuk membuat sesuatu dan memberikan hasil yang bersifat praktis
terhadap sesama.

2. Zakat Menurut Bahasa(lughat), zakat berarti : tumbuh; berkembang; kesuburan


atau bertambah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau
mensucikan (QS. At-Taubah : 10)
Menurut Hukum Islam (istilah syara'), zakat adalah nama bagi suatu pengambilan
tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat yang tertentu dan untuk
diberikan kepada golongan tertentu.3
3. Saham adalah satuan nilai atau pembukuan dalam berbagai instrumen finansial
yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan.4 Dengan menerbitkan
saham, memungkinkan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pendanaan
jangka panjang untuk 'menjual' kepentingan dalam bisnis - saham (efek ekuitas) dengan imbalan uang tunai.5
4. Obligasi adalah :
a. Kewajiban membayar sejumlah uang berdasarkan suatu perjanjian
b. Surat pinjaman dari pemerintah dengan bunga tertentu yang dapat diperjual
belikan
c. Suarat utang berjangka yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan susuk bunga
tertentu dengan tujuan untuk menarik dana dari masyarakat untuk menutupi
biaya yang telah dikeluarkan perusaahan.6
Jadi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pelaksanaan dan penerapan zakat
saham dan obligasi pada PT. BPR LPN Panampung kota Bukittinggi serta
pemammpaatan zakat tersebut untuk para mustahiq zakat.

E. Tinjauan dan Kepustakaan


Kajian kepustakaan pada intinya dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang
hubungan topik penelitian yang akan diajukan dengan penelitian yang akan diajukan

Tim Kashiko, Kamus Praktis Ekonomi, (Surabaya: Percetakan Bushido Indonesia, 2012), h.510.
Darmadji, et-al, Pasar Modal di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat 2001), h. 8.
5
Dalton, M John. How The Stock Market Works. Edisi ke-3,( United States of America: NYIF,
2001),h 1.
6
Tim Kashiko, Loc., Cit, h. 377
4

dengan penelitian yang sejenis yang pernah dilakukan oleh para peneliti yang
sebelumnya sehingga tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu dan mubazir.7
Berbagai penelitian maupun karya ilmiah mengenai zakat saham dan obligasi
cukup banyak dilakukan, ada beberapa penelitian yang berhasil peneliti temukan adalah:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ririn Faiziyah tentang Pemikiran Yusuf Qardhawi
Mengenai Zakat Saham Dan Obligasi dengan hasil penelitian :
Menurut Yusuf Qardhawi pabrik dan gedung dapat dianalogikan dengan tanah
pertanian, sehingga harus dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% dari pendapatan bersih.
Sedangkan perusahaan-perusahaan perdagangan, yaitu perusahaan yang kebanyakan
modalnya terletak dalam bentuk barang yang diperjual-belikan dan materinya tidak
tetap, maka zakatnya diambil dari sahamnya, sesuai dengan harga yang berlaku di
pasar, ditambah dengan keuntungannya. Oleh karena itu, zakatnya sekitar 2.5%,
setelah nilai peralatan yang masuk dalam saham, dikeluarkan. Hal ini sesuai dengan
pendapat beliau mengenai harta perdagangan yaitu, bahwa zakatnya wajib atas modal
yang bergerak. Sedangkan zakat obligasi wajib dikeluarkan zakatnya apabila obligasi
itu sudah berada di tangan pemilik selama satu tahun atau lebih. Obligasi yang
mendatangkan bunga, sebagaimana deposito berbunga itu wajib dikeluarkan zakatnya
seperti zakat perdagangan, yaitu sebesar 2.5%. Sedangkan bunga yang diperoleh
darinya tidak wajib dizakati, sebab ia merupakan harta tidak halal.
2. Penelitian yang dilakukan Muhammad Aris Safii tentang Obligasi Syariah Ijarah
Dalam Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus PT. Matahari Putra Prima Tbk)
dengan rumusan masalah:
a. Bagaimana pelaksanaan Obligasi Syariah Ijarah di PT. Mata hari Putra Prima
Tbk?
b. Bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap praktek obligasi syariah ijarah di PT.
Matahari Putra Prima Tbk?
Hasil penelitian pelaksanaan oligasi syariah ijarah di PT. Matahari Putra Prima
terjadi pelanggaran ketika obligasi syariah yang berakad ijarah sebenarnya adalah
bertujuan untuk mencari dana guna membangun gedung, kemudian bangunan yang
7

Abuddin Nata, Metodologi Penelitian Hukum Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), h.

183.

telah jadi tersebut disewakan kepada pihak lain dan hasil sewa yang diperoleh
digunakan untuk memberikan keuntungan kepada pemegang obligasi. Kasus Matahari
Putra Prima Tbk. Dalam praktiknya konsep ini dilanggar oleh PT. Matahari Putra
Prima Tbk. karena pembangunan gedung dilakukan oleh PT. Matahari Putra Prima
Tbk. dan penyewanya pun PT. Matahari Putra Prima Tbk. sendiri. Kemudian Seluruh
dana hasil penerbitan Obligasi Syariah ijarah dimanfaatkan untuk pembayaran sewa
areal usaha.

F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field risearch). Penelitian ini
dilakukan dengan pendekatan sosiologis dalam bentuk studi kasus. Studi kasus
merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang penelaahannya kepada satu kasus,
dilakukan secara insentif, mendalam, mendetail dan komprehensif.8 Hal ini sejalan
dengan pendapat Geetz yang menyatakan bahwa tujuan penelitian kualitatif adlah
menemukan makna yang mengacu kepada mencari pengaetahuan kultural dalam
pungsinya sebagai motor penggerak individu-individu dalam kehidupan sosial.9
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan pada PT. BPR LPN Panampung Jl. Surau Laut
Panampung Kab. Agam, Sumatera Barat Kode Pos: 31700. Waktu penelitian mulai
dari bulan Mei 2013 sampai selesai.
3. Informan Penelitian
Subjek penelitian akan menjadi informan yang akan memberikan berbagai
macam informasi yang diperlukan selama proses penelitian. Informan penelitian ini
meliputi tiga macam, yaitu informan kunci ( key informan ), informan utama dan
informan tambahan. Informan kunci adalah mereka yang mengetahui dan memiliki
berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian.

Sanafiah Faisal, Format-format Penelitian sosial, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h.

22.
9

Clifford Greertz, Local Knowwledge: Futher Essays In Antrohistorical Method, (New York: Basic
Books, 1993), h. 298

Informan kunci adalah mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai


informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian, adapun yang menjadi informan
kunci dalam penelitian ini adalah pemegam saham pada PT. BPR LPN Panampung
yaitu

Syamsul

Mairi (37.07%), Rabiah Maksum (21.69%) BPD Sumatera Barat

(2.03%) M. Dani (13.56%) dan Sepnina Mazni sebagai Pemegang Saham Pengendali.
Informan utama adalah mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial
yang diteliti yaitu Dewan Komisaris: J. Elly Darwin, M. Dani dan Mazni Arifin.
Sedankan informan tambahan adalah mereka yang dapat memberikan informasi
walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti pengurus lembaga
penyaluran zakat kota Bukittinggi yang menerima zakat dari PT BPR LPN
Panampung.
Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan secara sengaja ( purposive
sampling ). Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu.
4. Sumber Data
Yang menjadi sumber data dalm penelitian ini adalah:
a. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh organisasi
yang menerbitkan . Maka yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini
adalah informan penelitian. Dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan memalui
wawancara langsung untuk mengetahui jawaban dari rumusan masalah dlam
penelitian ini.
b. Data Skunder
data ini merupakan data tambahan dan penunjang data primer. Data ini terdiri
dari buku-buku, perundang-undangan, jurnal, artikel yang berkaitan dengan
depenitian.
5. Instrumen Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang akurat dalam penelitian ini, maka data-data
yang dibutuhkan dikumpulkan dengan cara:
a. Wawancara

Peneliti menggunakan wawancara tidak tersruktur dengan informan


penelitian yang telah ditentukan, tetapi susunan katadan urutannya disesuikan
dengan ciri responden. Dalam setiap pertanyaan dapat diubah pada saat
wawancara, disesuikan dengan kebutuhan dan kondisi wawancara.
b. Dokumentasi
Menginventarisasi dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan
penelitian ini.
c. Membaca dan menganalisa buku-buku, jurnal-jurnal, artikel-artikel yang
berkaitan dengan topik penelitian.
6. Analisis Data
Setelah data dikumpulkan, kemudian data tersebut dikelompokkan sesui dengan
kategorinya masing-masing, maka data tersebut dianalisis secara kualitatif dengan
metode sebagai berikut:
a. Data yang diperoleh dari buku-buku sumber bersifat tektual dianalis dengan
cara berfikir induktif.
b. Data yang didapatkan di lapangan yang bersifat kontekstual yang
khusus(parsial) diolah dengan cara berpikir deduktif
c. Data-data yang saling bertentangan dianalisis dengan cara berfikir konfaratif
untuk menemukan suatu kasatuan fikiran sehingga dapat ditarik sebuah
kesimpulan.

10

BIBLIOGRAFI
Al-Quran.
Ali, Nuruddin Muhammad. Zakat sebagai intrumen dalm kebijakan Fiskal, Jakarta: PT.
Raja grafindo Persada, 2006
Darmadji, et-al, Pasar Modal di Indonesia, Jakarta: Salemba Empat 2001.
Faisal, Sanafiah. Format-format Penelitian sosial, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2001.
Greertz, Clifford. Local Knowwledge: Futher Essays In Antrohistorical Method, New
York: Basic Books, 1993.
Hafifuddin, didin. Zakat dalam Perekonomian Modern, Jakarta: Gema Insani, 2002.
Hasan, Ali. Zakat Dan Infak, Jakarta: Kencana, 2006.
Islmail, Syauqi, Penerapan Zakat dalam Bisnis Modern, Bandung: Pustaka Setia, 2007
John, Dalton, M. How The Stock Market Works. Edisi ke-3, United States of America:
NYIF, 2001.
Nata, Abuddin. Metodologi Penelitian Hukum Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2005.
Tim Kashiko, Kamus Praktis Ekonomi, Surabaya: Percetakan Bushido Indonesia, 2012.
Zainuddin. Teori Komperhensip Tentang Zakat dalam Zakat, Yogyakarta, 2003.
Zakariya, Maulana Muhammmad. Fadilah Sedekah, Cirebon: Pustaka Nabawi, tt.

11

12