Anda di halaman 1dari 22

BAB II

LANDASAN TEORI

II. 1

Auditing

II.1.1 Definisi Audit


Terdapat banyak pengertian auditing. Berikut ini akan diuraikan beberapa
pengertian auditing menurut para pakar akuntansi:
Menurut Alvin A. Arens dan James K. Loebbecke dalam bukunya yang berjudul
Auditing : An Integrated Approach (2003:9), audit di definisikan sebagai berikut :
Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about quantifiable
information of an economic entity to determine and report on the degree of
correspondence between the information and establishedcriteria. Auditing
should be done by a competent, independent person.
Definisi tersebut dapat diartikan:
Audit adalah proses pengumpulan dan evaluasi bukti mengenai suatu
informasi untuk menetapkan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara
informasi tersebut dengan kriterianya. Audit hendaknya dilakukan oleh
seseorang yang kompeten dan independen.
Menurut Soekrisno Agoes dalam buku Auditing (2004:3), audit diartikan sebagai:
Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang
independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun manajemen, berserta
catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk
dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.

Menurut Boynton, William C., and Johnson (Modern Auditing: Assurance Services and
the Integrity of Financial Reporting (2006:5)
Auditing is a systematic process of objectively obtaining and evaluating
evidence regarding assertions about economic actions and events to ascertain
the degree of correspondences between those assertions and established criteria
and communicating the result to interested users.
Definisi tersebut dapat diartikan:
Audit adalah sebuah proses sistematis untuk mengumpulkan dan mengevaluasi
bukti secara objektif menyangkut pernyataan-pernyataan mengenai kegiatan-kegiatan
dan kejadian-kejadian ekonomi untuk memberikan keyakinan atas tingkat keterkaitan
antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya
serta mengkomunikaskan hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Dari ketiga pengertian yang telah dijabarkan diatas, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Audit merupakan sebuah proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti
mengenai kegiatan-kegiatan atau laporan keuangan perusahaan.
2. Audit berfungsi untuk memperbaiki dan memberikan saran atau rekomendasi
apabila kegiatan yang telah dilakukan atau laporan yang telah dibuat
menyimpang dari kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
3. Audit dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen.
4. Audit menghasilkan sebuah laporan yang berisikan hasil evaluasi dari
pengumpulan bukti-bukti yang selanjutnya disampaikan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan.

II.1.2 Unsur-unsur Audit


Menurut Mulyadi (2002:9), terdapat unsur-unsur penting yang dapat diuraikan
dari definisi pemeriksaan akuntansi (Audit) secara umum. Unsur-unsur tersebut sebagai
berikut:
1. Suatu proses sistematik
Pemeriksaan akuntansi merupakan suatu proses sistematik, yaitu berupa suatu
rangkaian langkah atau prosedur yang logis, berkerangka, dan terorganisasi.
2. Untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif
Proses sistematik tersebut ditujukan untuk memperoleh bukti yang mendasari
pernyataan yang dibuat oleh individu atas badan usaha serta untuk mengevaluasi
tanpa memihak atau berprasangka terahadap bukti-bukti tersebut.
3. Pernyataan mengenai kegiatan dan kebijakan ekonomi
Yang dimaksud dengan pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi di
sini

adalah

hasil

proses

akuntansi.

Akuntansi

merupakan

proses

pengidentifikasian, pengukuran, dan penyampaian informasi ekonomi yang


dinyatakan dalam satuan uang. Proses akuntansi ini menghasilkan suatu
pernyataan yang disajikan dalam laporan keuangan yang umumnya terdiri dari
empat laporan pokok ; neraca, laporan rugi/laba, laporan arus kas, dan laporan
perubahan posisi keuangan. Laporan keuangan dapat pula berupa laporan biaya
pusat pertanggung jawaban tertentu dalam perusahaan.
4. Menetapkan tingkat kesesuaian
Pengumpulan bukti mengenai pernyataan dan evaluasi terhadap hasil
pengumpulan bukti tersebut dimaksudkan untuk menetapkan dekat tidaknya
pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.
9

5. Kriteria yang telah ditetapkan


Patokan atau standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai kesesuaian
informasi yang dapat berupa peraturan yang ditetapkan oleh manajemen dan
prinsip akuntansi yang berlaku umum.
6. Penyampaian hasil pemeriksaan
Penyampaian hasil pemeriksaan akuntan (auditing) sering disebut dengan
pengesahan (Attestation). Penyampaian hasil ini dilakukan secara tertulis dalam
bentuk laporan akuntan (audit report). Pengesahan dalam bentuk laporan tertulis
ini dapat menaikkan atau menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat atas
laporan keuangan yang dibuat oleh suatu perusahaan.
7. Pemakai yang berkepentingan
Dalam dunia usaha pemakai yang berkepentingan terhadap laporan akuntansi
adalah pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor, organisasi buruh,
dan inspeksi pajak. Pada dasarnya auditing bersifat menentukan apakah
informasi-informasi yang tercatat telah mencerminkan dengan benar kejadiankejadian ekonomi yang muncul selama periode akuntansi.

II.1.3 Jenis-Jenis Audit


Menurut Boynton yang diterjemahkanolehRajoe, P.A .(2002:6), Audit umumnya
dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)
Audit yang mengumpulkan dan mengevaluasi bukti mengenai laporan-laporan
entitas untuk memberikan simpulan berupa pendapat tentang kewajaran dari

10

penyajian yang dibandingkan dengan kriteria yang ditetapkan sebelumnya, yaitu


Generally Accepted Accounting Principles.
2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)
Audit yang mengumpulkan dan memeriksa bukti-bukti apakah kegiatan operasi
maupun operasional suatu entitas telah sesuai dengan persyaratan ketentuan, atau
peraturan yang berlaku.
3. Audit Operasional (Operasional Audit)
Audit yang memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti tentang efisiensi,
efektivitas, dan kehematan operasi terkait dengan pencapaian tujuan tertentu.
Penjelasan mengenai audit operasional akan dibahas lebih lanjut.

II.2

Audit Operasional

II.2.1 Pengertian Audit Operasional


Tunggal,

AWdalambukuDasar-Dasar

Audit

Operasional.(2008:11)

mengemukakan pengertian audit operasional sebagai berikut:


Audit Operasional merupakan audit atas operasi yang dilaksanakan dari sudut
pandang manajemen untuk menilai ekonomi, efisiensi, dan efektivitas dari setiap
dan seluruh operasi, terbatas hanya pada keinginan manajemen.
Mengacu pada pendapat Arrens dan Loebbecke (2003:12), definisi audit
operasional sebagai berikut:
An operational audit is a review of any part of an organizations operating
procedures and method for the purpose of evaluating efficiency and
effectiveness.

11

Menurut Agoes S. (2004:9), audit operasional adalah suatu pemeriksaan


terhadap kegiatan operasional suatu

perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan

kebijakan operasional yang ditentukan oleh manajemen untuk mengetahui apakah


kegiatan operasional tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien, dan ekonomis.
Menurut Arens dan Loebbecke (2003:4), yang diterjemahkan oleh Amir Abadi
Jusuf, Audit operasional merupakan penelaahan atas bagian maupun dari prosedur dan
metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektifitasnya termasuk
mengevaluasi pengendalian intern dan menguji efektivitas pengendaliannya.
Berdasarkan definisi-definisi audit operasional yang telah diuraikan di atas, maka
dapat disimpulkan inti dari audit operasional, sebagai berikut:
1. Proses sistematis
Audit operasional terdiri dari serangkaian langkah penelaahan secara sistematis
(terstrukur dan terorganisasi) atas kegiatan suatu perusahaan untuk memeriksa
efisiensi dan efektivitas suatu kegiatan yang sedang di audit.
2. Evaluasi kinerja
Audit operasional ditujukan untuk mengevaluasi dan menilai kinerja pada suatu
kegiatan perusahaan dengan cara membandingkan suatu pelaksanaan aktivitas
perusahaan dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Kriteria yang
ditetapkan seringkali dinyatakan dalam bentuk standar kinerja oleh manajemen,
seperti kebijakan organisasional, standar, tujuan, dan rencana detil. Namun
kriteria tersebut dapat juga ditetapkan oleh suatu badan pemerintahan.
3. Efisiensi, efektifitas, ekonomis
Tujuan utama dari diadakannya audit operasional pada suatu aktivitas perusahaan
adalah untuk membantu manajemen meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan
12

keekonomisan operasi. Hal tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan sumber


daya yang dimiliki sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
Mengacu pada pendapat Agoes S. (2004:182), pengertian efektif, efisien, dan
ekonomis adalah sebagai berikut:
a. Efektifitas adalah bila tujuan organisasi dan program yang telah ditetapkan
oleh organisasi dapat dicapai tepat sasaran sesuai dengan waktu yang
ditergetkan, dan tanpa memperhatikan biaya yang dikeluarkan.
b. Efisiensi adalah bila pencapaian tujuan organisasi diperoleh dengan
pengorbanan kuantitas sumber daya yang minimum namun dapat
memberikan hasil yang optimal.
c. Ekonomis adalah bila pencapaian tujuan organisasi diperoleh dari
pengorbanan sumber daya yang memiliki harga minimum namun dapat
memberikan hasil yang optimal.
4. Rekomendasi perbaikan
Hasil akhir dari audit operasional adalah laporan mengenai hasil pemeriksaan
keseluruhan yang telah dilakukan sebelumnya(temuan-temuan) , beserta dengan
rekomendasi perbaikan yang diperlukan. Rekomendasi yang

diberikan

dikomunikasikan kepada pihak manajemen, sehingga manajemen dapat


melakukan perbaikan atas kelemahan-kelemahan yang ada dan mengoptimalkan
kinerja perusahaannya.

13

II.2.2 Tujuan Audit Operasional


Audit operasional bertujuan untuk menghasilkan perbaikan dalam pengelolaan
operasi/ aktivitas objek yang diaudit, dengan memberikan saran-saran perbaikan prestasi
kerja sehingga menjadi lebih baik.
Menurut Agoes S. (2004:175), tujuan umum dari audit operasional antara lain:
1. Untuk menilai kinerja (performance) dari manajemen dan berbagai fungsi yang ada
dalam perusahaan.
2. Untuk menilai apakah berbagai sumber daya (manusia, mesin, dana, dan harta
lainnya) yang dimilki perushaan telah digunakan secara efisien dan ekonomis.
3. Untuk menilai efektifitas perusahaan dalam mencapai tujuan (objective) yang telah
ditetapkan oleh top management.
4. Untuk dapat memberikan rekomendasi kepada top management untuk memperbaiki
kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam penerapan pengendalian intern, sistem
pengendalian manajemen dan prosedur operasional perusahaan dalam rangka
meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan ekonomis dari kegiatan operasional
perusahaan.
Tujuan utama dalam audit operasional adalah untuk membantu pihak manajemen
dalam menemukan dan memecahkan beragam masalah dengan cara merekomendasikan
berbagai tindakan perbaikan yang diperlukan.

II.2.3Temuan Audit Operasional


MenurutTunggal, A.W. (2008:186) Suatu yang penting dalam audit adalah
pengembangan temuan-temuan untuk dikomunikasikan kepada pihak-pihak lain. Kata
temuan atau findings diartikan sebagai himpunan informasi-informasi mengenai
14

kegiatan, organisasi, kondisi atau hal-hal yang lain yang telah dianalisa atau dinilai serta
diperkirakan akan menarik atau berguna untuk pejabat yang berwenang. Penyusunan
temuan yang baik harus mencakup:
1. Kondisi (condition)
adalah keadaan yang menggambarkan kenyataan yang terjadi di perusahaan.
Audit operasional memerlukan temuan fakta awal dalam tahap pekerjaan
lapangan (field work). Ketika temuan fakta digunakan untuk menyatakan suatu
kondisi, auditor perlu memeriksa dan menguji operasi dan data terkait untuk
membuat fakta lebih jelas. Pernyataan kondisi ini memberikan titik referensi
kepada temuan yang berkaitan dengan kriteria yang ada.
2. Kriteria (criteria)
adalah ukuran atau standar yang harus diikuti atau kondisi yang seharusnya ada
dan merupakan standar yang harus dipatuhi oleh setiap bagian dalam perusahaan,
yang biasanya berupa kebijakan yang telah ditetapkan manajemen, kebijakan
perusahaan sejenis atau kebijakan industri, dan peraturan pemerintah. Di dalam
menganalisis kondisi saat ini, auditor harus memperhatikan kondisi apa yang
diharapkan untuk dapat mencapai sasaran tujuan organisasi. Dalam menentukan
kriteria yang tepat untuk suatu kondisi yang spesifik, auditor memandang dari
segi hukum dan perundang-undangan yang relevan, kontrak yang ada, kebijakan,
sistem dan prosedur, peraturan internal dan eksternal, tanggung jawab dan
wewenang, standar, jadwal, rencana, serta dasar-dasar manajemen yang baik.
3. Sebab (Cause)
adalah tindakan-tindakan yang menyimpang dari standar yang berlaku dan apa
penyebab terjadinya kondisi tersebut di perusahaan serta bagaimana terjadinya.
15

Temuan audit tidaklah lengkap sampai auditor secara penuh mengidentifikasi


penyebab atau alasan terjadinya penyimpangan dari kriteria, faktor paling utama
dari temuan audit yaitu menentukan penyebab kelemahan. Penyebab ini adalah
alasan mengapa kegiatan operasional menjadi tidak efisien, efektif, dan
ekonomis.
4. Akibat (effect)
adalah dampak dari tindakan-tindakan yang menyimpang dari standar yang
berlaku. Salah satu tujuan utama dalam melaksanakan audit operasional adalah
mendorong manajemen operasional yang diidentifikasi oleh tim audit. Dalam
membantu

manajemen

menentukan

seberapa

serius

kondisi

tersebut

mempengaruhi operasinya.
5. Rekomendasi (recommendation)
menjelaskan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kelemahan masalah yang
dikemukakan dalam temuan. Rekomendasi haruslah masuk akal untuk diikuti
dengan sebuah penjelasan mengapa kondisi ini terjadi, penyebabnya, dan apa
yang harus dilakukan untuk mencegah berulangnya hal tersebut. Rekomendasi
mendeskripsikan tindakan yang harus dipertimbangkan manajemen untuk
memperbaiki kondisi yang tidak menguntungkan perusahaan.

II.2.4Tahap- Tahap Audit Operasional


Tahap-tahap audit operasional menurut Agoes S. (2004:10) di klasifikasikan
kedalam 4 tahapan, yaitu:

16

1. Survey Pendahuluan (Preliminary Survey)


Survei pendahuluan merupakan tahap awal dalam audit operasional. Hal ini
dilakukan untuk mendapat informasi atau gambaran mengenai kegiatan
operasional perusahaan yang dilakukan melalui tanya jawab dengan manajemen
dan staf perusahaan serta penggunaan questionnaires.
2. Penelaahan dan Pengujian Atas Sistem Pengendalian Manajemen (Review and
Testing of Management Control System)
Penelaahan dan pengujian atas sistem pengendalian manajemen dilakukan untuk
mengevaluasi serta menguji efektifitas dan pengendalian manajemen yang
terdapat dalam perusahaan, apakah pengendalian perusahaan tersebut lemah atau
tidak. Biasanya digunakan management control questionnaires (ICQ),

flow

chart dan penjelasan narrative serta dilakukan pengetesan atas beberapa


transaksi (walk through the documents)
3. Pengujian Terinci (Detailed Examination)
Melakukan pemeriksaan terhadap transaksi perusahaan untuk mengetahui apakah
prosesnya sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan manajemen. Dalam hal
ini auditor harus melakukan observasi terhadap kegiatan dari fungsi-fungsi yang
terdapat di perusahaan.
4. Pengembangan Laporan (Report Development)
Dalam menyusun laporan pemeriksaan, auditor tidak memberikan opini
mengenai kewajaran laporan keuangan. Laporan yang dibuat mirip dengan
management letter, karena berisi audit findings (temuan pemeriksaan) mengenai
penyimpangan yang terjadi terhadap kriteria (standard) yang berlaku yang
menimbulkan inefisiensi dan inefektifitas, serta kelemahan dalam sistem
17

pengendalian manajemen (management control system) yang terdapat di


perusahaan. Selain itu auditor juga memberikan saran-saran perbaikan.

II.2.5 Jenis- Jenis Audit Operasional


MenurutTunggal, A.W. (2008:28), Jenis-jenis audit operasional terdiri dari:
a. Fungsional
Seperti yang tersirat dari namanya, audit operasional berkaitan dengan sebuah
fungsi atau lebih dalam suatu organisasi, misalnya fungsi pemasaran, fungsi
pembayaran, fungsi penggajian suatu divisi atau untuk perusahaan secara
keseluruhan. Keunggulan audit fungsional adalah memungkinakan adanya
spesialisasi oleh auditor. Auditor auditor tertentu dalam staf audit intern dapat
mengembangkan banyak keahlian dalam suatu bidang, seperti rekayasa produksi.
Sehingga mereka dapat lebih efisien untuk memeriksa dalam bidang itu.
Kekurangan audit fungsional adalah tidak dievaluasinya fungsi yang saling
berkaitan.
b. Organisasi
Audit operasional atau suatu organisasi menyangkut keseluruhan unit organisasi
seperti departemen, cabang, atau anak perusahaan. Penekanan dalam suatu audit
organisasi adalah seberapa efisien dan efektif fungsi-fungsi yang saling
berinteraksi. Rencana organisasi dan metode-metode untuk mengkoordinasikan
aktifitas yang ada sangat penting dalam audit jenis ini.
c. Penugasan Khusus
Penugasan audit operasional khusus timbul atas permintaan manajemen. Audit
ini dapat terjadi sewaktu-waktu, dapat pula dalam suatu pelaksanaan audit
18

operasional secara fungsional maupun organisasional, pemeriksa diminta untuk


melakukan audit operasional yang bersifat khusus. Sebagai contoh, pada saat
audit operasional terhadap fungsi gudang, persiapan pihak manajemen
memberikan penugasan khusus kepada pemeriksa untuk menjadi pengawas
langsung terhadap karyawan bagian gudang dalam melakukan stock opname
persediaan dan melakukan audit terhadap kuantitas barang dagangan yang
direkrut oleh pembelinya, jadi audit semacam ini meliputi hal-hal yang luas.

II.3

Sistem Pengendalian Internal

II.3.1 Pengertian Sistem Pengendalian Internal


Sistem pengendalian internal merupakan suatu hal yang penting untuk
diperhatikan dalam kegiatan audit operasional. Suatu sistem atau prosedur pada suatu
fungsi dapat dianggap baik apabila didalamnya terdapat pengendalian yang memadai
dan baik pula.
Menurut Warren, Reeve, and Fees yang diterjemahkan oleh Farahmita,
Amanugrahmi dan Hendrawan (2006:235), Pengendalian intern adalah kebijakan dan
prosedur

yang

melindungi

aktiva

perusahaan

dari

kesalahan

penggunaan,

memastikanbahwaperundang-undangansertaperaturandipatuhisebagaimanamestinya.
Mengacu pada pendapat yang dinyatakan oleh Mulyadi (2008:163), pengertian
Sistem pengendalian Internal adalah sebagai berikut:
Sistem pengendalian internal meliputi struktur, metode, dan ukuran-ukuran
yang di koordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian
dan keandalan data akuntansi, mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

19

Berdasarkandefinisi-definisi di atasdapatdisimpulkanbahwapengendalian internal


merupakansuatusistem yang dirancang oleh manajemen perusahaan untuk mengontrol
dan mengawasi seluruh kegiatan perusahaan sehingga setiap kegiatan dapat berjalan
sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan dan melalui pengendalian yang ada dapa t
mengurangi kemungkinan terjadinya penyimpangan/ kecurangan yang dapat merugikan
perusahaan.

II.3.2 Tujuan Sistem Pengendalian Internal


MenurutIkatanAkuntanPublik

Indonesia(IAPI)

dalam

Standar

Profesional

Akuntan Publik (SPAP). (2011:319.2), manfaat pengendalian internal adalahuntuk


membantu organisasi dalam mencapai tiga tujuan, yaitu:
1. Keandalan pelaporan keuangan
Manajemen bertanggung jawab dalam menyediakan laporan keuangan bagi
investor, kreditor, dan pengguna lainnya. Manajemen mempunyai kewajiban
untuk menjamin bahwa informasi yang ada telah sesuai dengan standar
pelaporan.
2. Efisiensi dan efektifitas operasi pelaksanaan pengendalian dalam suatu
organisasi dimaksudkan agar operasi dalam perusahaan dapat berjalan lancar
dengan efisien dan efektif. Dalam pengertian lain, dapat terjadi penghematan
sumber daya dengan hasil yang optimal dan tercapainya tujuan perusahaan dalam
batas waktu yang telah ditentukan.
3. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
Dalam menjalankan operasinya perusahaan harus mematuhi hukum dan
peraturan yang berlaku.
20

II.4

Penjualan

II.4.1 Pengertian Penjualan


Kegiatan perusahaan dalam rangka mencapai laba yang ditargetkansalahsatuny
aadalah melalui kegiatan penjualan.Hasil penjualan merupakan hal penting agar
perusahaan mampu bertahan menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat.
Penjualan menurut Arens dan Loebbecke (2003:356), yang diterjemahkan oleh
Amir Abadi Jusuf, adalah proses yang diperlukan untuk mengalihkan kepemilikan atas
barang dan jasa yang telah tersedia untuk dijual kepada pelanggan.
Secara umum penjualan dapat dibagi menjadi:
1. Penjualan Tunai
Penjualan tunai terjadi apabila penyerahan barang atau jasa segera diikuti dengan
pembayaran dari pembelian.
2. Penjualan Kredit
Dalam penjualan secara kredit, pada saat penyerahan barang atau jasa, penjual
menerima tanda bukti penerimaan barang dari pembeli sekaligus merupakan
pernyataan untuk melakukan penagihan di kemudian hari. Inilah bukti yang
menimbulkan adanya piutang dari pihak penjual.

II.4.2 Fungsi- Fungsi Terkait Penjualan Kredit


MenurutMulyadi (2001:211), Fungsi yang terkait dalam sistem

penjualan,

terutama penjualan kredit adalah:

21

a. Fungsi kredit
Dalam transaksi penjualan secara kredit, fungsi ini bertanggung jawab atas
pemberian kredit kepada pelanggan yang meminta persetujuan kredit.
b. Fungsi penjualan
Dalam sistem penjualan, fungsi ini bertanggung jawab melayani kebutuhan
pelanggan. Fungsi ini mengisi faktur penjualan untuk memungkinkan fungsi
gudang dan fungsi pengiriman melaksanakan penyerahan barang kepada
pelanggan.
c. Fungsi pengiriman
Fungsi ini bertanggung jawab menyerahkan barang yang kuantitas, mutu, dan
spesifikasinya sesuai dengan yang tercantum dalam tembusan faktur penjualan
yang diterima dari fungsi penjualan.
d. Fungsi Akuntansi
Fungsi ini bertanggung jawab untuk mencatat transaksi bertambahnya piutang
kepada pelanggan ke dalam kartu pituang berdasarkan faktur penjualan yang
diterima dari fungsi pengiriman.

II.4.3 Prosedur Penjualan Kredit


MenurutMulyadidalambukuSistemAkuntansi(2001:219,220) Jaringan prosedur
yang membentuk sistem penjualan kredit adalah sebagai berikut:
1. Prosedur Order Penjualan
Prosedur ini dimulai dengan fungsi penjualan menerima order atau pesanan dari
pembeli dan menambahkan informasi penting pada surat order dari pembeli.
Kemudian

fungsi

penjualan

membuat

surat

order

pengiriman

dan
22

mengirimkannya kepada berbagai fungsi yang lain untuk memungkinkan fungsi


tersebut memberikan kontribusi dalam melayani order dari pembeli.
2. Prosedur Persetujuan Kredit
Dalam prosedur ini, fungsi penjualan meminta persetujuan penjualan kredit
kepada pembeli tertentu dari fungsi kredit
3. Prosedur Pengiriman Barang
Dalam prosedur ini, fungsi gudang menyiapkan barang yang diperlukan oleh
pembeli, dan fungsi pengiriman mengirimkan barang kepada pembeli sesuai
dengan informasi yang tercantum dalam faktur penjualan yang diterima dari
fungsi gudang. Pada saat penyerahan barang dilakukan, fungsi pengiriman
meminta tanda tangan penerima barang di atas faktur penjualan.
4. Prosedur Penagihan
Dalam prosedur ini, fungsi penagihan membuat faktur penjualan dan
mengirimkannya kepada pembeli. Dalam metode tertentu, faktur penjualan
dibuat oleh fungsi penjualan sebagai tembusan pada waktu bagian ini membuat
surat order pengiriman.
5. Prosedur Pencatatan Piutang
Dalam prosedur ini, fungsi akuntansi mencatat tembusan faktur penjualan ke
dalam kartu piutang atau dalam metode pencatatan tertentu mengarsipkan
dokumen tembusan menurut abjad yang berfungsi sebagai catatan piutang.
6. Prosedur Distribusi Penjualan
Dalam prosedur ini fungsi akuntansi mendistribusikan data penjualan menurut
informasi yang diperlukan oleh manajemen.
7. Prosedur pencatatan Harga Pokok Penjualan
23

Dalam prosedur ini, fungsi akuntansi mencatat secara periodik total harga pokok
produk yang dijual dalam periode akuntansi tertentu.

II.4.4 Pengendalian Internal Fungsi Penjualan


Pengendalian internal sangat diperlukan

dalam suatu perusahaan agar

perusahaan dapat berjalan sesuai dengan prosedur dan kebijakan yang telah ditetapkan.
Pengendalian penjualan memegang peranan penting menyangkut kelangsungan hidup
suatu perusahaan, oleh karena itu perlu ditetapkan suatu pengendalian internal yang
memadai, agar setiap transaksi penjualan dapat dicatat dengan benar dan tepat waktu.
MenurutSoekrisnoAgoes (2011).Berikut ini beberapa ciri internal control yang
baik atas piutang dan transaksi penjualan, dan penerimaan kas:
a. Adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab antara yang melakukan
penjualan, mengirimkan barang, melakukan penagihan, memberikan otorisasi
atas penjualan kredit, membuat faktur penjualan dan melakukan pencatatan.
b. Digunakannya formulir-formulir yang bernomor urut tercetak(prenumbered),
misalnya sales order (pesanan penjualan) , sales invoice (faktur penjualan) ,
delivery order (surat pengiriman barang) , credit memo, official receipt
(kwitansi).
c. Digunakannya price list (daftar harga jual) dan setiap penyimpangan dari
pricelist atau setiap discount yang diberikan kepada pelanggan harus
disetujui oleh pejabat perusahaan yang berwenang.
d. Persetujuan pemberian kredit haruslah diotorisasi oleh pihak atau fungsi
kredit yang berwenang sesuai dengan kondisi dan kriteria yang telah
ditentukan sebelumnya oleh manajemen.
24

e. Diadakannya sub buku besar piutang atau kartu piutang (account receivable
sub-ledgercard) untuk masing-masing pelanggan yang selalu di update.
f. Setiap akhir bulan dibuat aging schedule (analisis umur piutang)
g. Setiap akhir bulan jumlah saldo piutang dari masing-masing pelanggan
dibandingkan, di-reconcile dengan jumlah saldo piutang menurut buku besar.
h. Setiap akhir bulan dikirm monthly statement of account kepada masingmasing pelanggan
i. Uang kas, cek, atau giro yang diterima dari pelanggan harus disetor dalam
jumlah seutuhnya paling lambat keesokan harinya
j. Mutasi kredit diperkirakan piutang (buku besar dan sub buku besar) yang
berasal dari retur penjualan dan penghapusan piutang harus diotorisasi oleh
pejabat perusahaan yang berwenang.

II.4.5 Dokumen-Dokumen Dalam Penjualan Kredit


MenurutMulyadi(2001:214), beberapa dokumen yang umumnya digunakan
dalam sistem penjualan kreditadalah:
1. Surat order pengiriman dan tembusannya
Dokumen ini merupakan lembar pertama surat order pengiriman yang
memberikan otorisasi kepada fungsi pengiriman untuk mengirimkan jenis barang
dengan

jumlah

dan

spesifikasi

seperti

yang

tertera

pada

dokumen

tersebut.Tembusan dokumen ini berupa:


a. Tembusan kredit
Dokumen ini digunakan untuk memperoleh status kredit pelanggan dan untuk
mendapatkan otorisasi penjualan kredit dari fungsi kredit.
25

b. Surat pengakuan
Dokumen ini dikirimkan oleh fungsi penjualan kepada pelanggan untuk
memberitahu bahwa ordernya telah diterima dan dalam proses pengiriman.
c. Surat muat (Bill of lading)
Dokumen ini digunakan sebagai bukti penyerahan barang dari perusahaan
kepada perusahaan angkutan umum.
d. Slip pembungkus (Packing slip)
Dokumen ini ditempelkan pada pembungkus barang untuk memudahkan
fungsi penerimaan di perusahaan pelanggan dalam mengidentifikasi barangbarang yang diterimanya.
e. Tembusan gudang
Merupakan tembusan surat order pengiriman yang dikirim ke fungsi gudang
untuk menyiapkan jenis barang seperti jumlah yang tercantum di dalamnya
dan diserahkan ke fungsi pengiriman. Tembusan ini juga digunakan untuk
mencatat barang yang dijual ke dalam kartu gudang.
f. Arsip pengendalian pengiriman
Merupakan tembusan surat order pengiriman yang diarsipkan oleh fungsi
penjualan menurut tanggal pengiriman yang dijanjikan.
g. Arsip Index Silang
Merupakan tembusan surat order pengiriman yang diarsipkan secara alfabetik
menurut nama pelanggan untuk memudahkan menjawab pertanyaanpertanyaan dari pelanggan mengenai status pesanannya.

26

2. Faktur penjualan dan tembusannya


Dokumen ini merupakan lembar pertama yang dikirim oleh fungsi penagihan
kepada pelanggan. Berikut ini beberapa tembusan faktur penjualan:
a. Tembusan piutang
Merupakan tembusan faktur penjualan yang dikirimkan oleh fungsi
penagihan ke fungsi akuntansi sebagai dasar untuk mencatat piutang dalam
kartu piutang.
b. Tembusan jurnal penjualan
Merupakan tembusan yang dikirimkan oleh fungsi penagihan ke fungsi
akuntansi sebagai dasar mencatat transaksi penjualan dalam jurnal penjualan.
c. Tembusan Analisis
Merupakan tembusan yang dikirimkan oleh fungsi penagihan ke fungsi
akuntansi sebagai dasar untuk menghitung harga pokok penjualan yang
dicatat dalam kartu persediaan, untuk analisis penjualan dan untuk
perhitungan komisi sales person.
d. Tembusan wiraniaga / sales person
Dokumen ini dikirmkan oleh fungsi penagihan kepada wiraniaga untuk
memberitahu bahwa order dari pelanggan yang lewat ditangannya telah
dipenuhi sehingga memungkinkannya menghitung komisi penjualan yang
menjadi haknya.
3. Rekapitulasi harga penjualan
Merupakan dokumen pendukung yang digunakan untuk menghitung total harga
pokok produk yang dijual selama periode akuntansi tertentu. Data yang
dicantumkan dalam rekapitulasi harga penjualan berasal dari kartu persediaan.
27

4. Bukti memorial
Merupakan dokumen sumber untuk dasar pencatatan kedalam jurnal umum dan
digunakan untuk mencatat harga pokok produk yang dijual dalam periode
akuntansi tertentu.

28