Anda di halaman 1dari 9

DEMAM BERDARAH

DENGUE (DBD)
i PENDAHULUAN
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat

di

Indonesia

yang

jumlah

penderitanya

cenderung

meningkat

dan

penyebarannya semakin luas. Penyakit DBD merupakan penyakit menular yang terutama
menyerang anak-anak.
Di Indonesia penyakit DBD masih merupakan masalah kesehatan karena masih banyak
daerah yang endemik. Daerah endemik DBD pada umumnya merupakan sumber penyebaran
penyakit ke wilayah lain. Setiap kejadian luar biasa (KLB) DBD umumnya dimulai dengan
peningkatan jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk membatasi penyebaran penyakit DBD
diperlukan

pengasapan

(fogging)

secara

massal,

abatisasi

massal,

serta.penggerakan.pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang terus-menerus.


Penyakit DBD mempunyai perjalanan yang sangat cepat dan sering menjadi fatal karena
banyak pasien yang meninggal akibat penanganannya yang terlambat. Demam berdarah
dengue (DBD) disebut juga dengue hemorrhagic fever (DHF), dengue fever (DF), demam

dengue (DD), dan dengue shock syndrome (DSS).

EPIDEMIOLOGI
Di banyak negara tropis, virus dengue sangat endemik. Di Asia, penyakit-ini sering
menyerang di Cina Selatan, Pakistan, India, dan semua negara di Asia Tenggara. Sejak tahun
1981, virus ini ditemukan di Queensland, Australia. Di sepanjang pantai timur Afrika,
penyakit ini juga ditemukan dalam berbagai serotipe. Penyakit ini juga sering menyebabkan
KLB di Amerika Selatan, Amerika Tengah, bahkan sampai ke Amerika Serikat sampai akhir
tahun 1990-an. Epidemi dengue pertama kali di Asia terjadi pada tahun 1779, di Eropa
tahun 1784, di Amerika Selatan tahun 1835-an> dan di Inggris tahun 1922.
Di Indonesia kasus DBD pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun 1968. Penyakit
DBD ditemukan di 200 kota di 27 provinsi dan telah terjadi KLB akibat DBD.

Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah tahun 1999 melaporkan bahwa kelompok tertinggi
adalah usia 5-14 tahun yang terserang sebanyak 42% dan kelompok usia 15-44 tahun yang
terserang sebanyak 37%. Data tersebut didapatkan dari data rawat inap rumah sakit.
Rata-rata insidensi penyakit DBD sebesar 6-27 per 100.000 penduduk.
CFR penyakit DBD mengalami penurunan dari tahun ke tahun walaupun masih tetap
tinggi. CFR tahun 1968 sebesar 43%, tahun 1971 sebesar 14%, tahun 1980 sebesar 4,8%, dan
tahun 1999 masih di atas 2%.
Data dari Departemen Kesehatan RI melaporkan bahwa pada tahun 2004 selama bulan
Januari dan Februari, pada 25 provinsi tercatat 17.707 orang terkena DBD dengan kematian
322 penderita. Daerah yang perlu diwaspadai adalah DKI Jakarta, Bali, dan NTB.
Ada empat serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Serotipe DEN-3 merupakan
jenis yang sering dihubungkan dengan kasus-kasus parah. Infeksi oleh salah satu serotipe akan
menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang bersangkutan tetapi tidak untuk serotipe yang lain.
Keempat jenis virus tersebut semuanya terdapat di Indonesia- Di daerah endemik 060, seseorang dapat
terkena infeksi semua serotipe wmspadawaktuyangbersamaan.

Untuk ptmuana (cairnya, pada bulan Maret 2002. MkJhaei Rossman dan Richard KuiAn dan Pwiue Urawersij.
Amerika Serikat melaporkan bahwa struktur virus dwngne yang liwihwib dengan struktur wrus lainnya telah ditemukan
Permukaan wrws ini halus dan selaputnya dnuhyi oleh lapisan protein yang berwarna biru. hijau, dan kuning (ilustrasi
komputer). Protein amplop tersebut dinamakan protein E yang berfungsi melindungi bahan genetik di
dalamnya.

BETIOLOGI
^^Mnrffiin^iii 11 f ! n r
i1 j
DAN PENULARAN
iN

UBI

Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B. yaitu
artfampoafixmae urus atauwnjsyangdisebarkan olehartropoda Virus ini termasuk
'(!1779| melaporkan bahwa epidemiologi dengue rj Batavia disebabkan utama, yaitu virus, manusia,
dan nyamuk.
Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (di daerah
perkotaan) dan Aedesabopktus (di daerah pedesaan).
Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti adalah:
sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih.
berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah
seperti

bak

mandi,

WC,

tempayan,

drum,

dan

barang-barang yang menampung air seperti kaleng, ban


bekas, pot tanaman air, tempat minum burung.

jnt ol Agricuilure.

: 10.1

1 Nyamuk Aedes aegypti

jarak terbang 100 m,

nyamuk betina bersifat 'multiple biters' (menggigit beberapa orang karena


sebelum nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat), tahan dalam suhu
panas dan kelembaban tinggi.
Nyamuk yang menjadi vektor penyakit DBD adalah nyamuk yang menjadi terinfeksi
saat menggigit manusia yang sedang sakit dan viremia (terdapat virus dalam darahnya).
Menurut laporan terakhir, virus dapat pula ditularkan secara transovarial dari nyamuk ke
telur-telurnya.

Sumber. Depkes RI. Menggerakan Masyarakat daiam PSN-D8D. Depkes RI. Jakarta. 1995.

GAMBAR 10.2 | Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.

Virus berkembang dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari terutama dalam kelenjar
air liurnya, dan jika nyamuk ini menggigit orang lain maka virus dengue akan
dipindahkan bersama air liur nyamuk. Dalam tubuh manusia, virus ini akan berkembang
selama 4-6 hari dan orang tersebut akan mengalami sakit demam berdarah dengue.
Virus dengue memperbanyak diri dalam tubuh manusia dan berada dalam darah selama
satu minggu.
Orang yang di dalam tubuhnya terdapat virus dengue tidak semuanya akan sakit
demam berdarah dengue. Ada yang mengalami demam ringan dan sembuh dengan
sendirinya, atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit. Tetapi semuanya
merupakan pembawa virus dengue selama satu minggu, sehingga dapat menularkan
kepada orang lain di berbagai wilayah yang ada nyamuk penularnya. Sekali terinfeksi,
nyamuk menjadi infektif seumur hidupnya.

Penyebaran penyakit DBD di Jawa biasanya terjadi mulai bulan Januari sampai April dan
Mei. Faktor yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas penyakit DBD antara lain:
1.

Imunitas pejam u

2.

Kepadatanpopulasinyamuk 3 Transmra

Wusdengue
4.

Virulensivrus

5.

Keadaan geografis setempat.

Faktor penyebaran kasus DBD antara lain:


1.

Pertumbuhan penduduk

2.

Urbanisasi yang tidak terkontrol

membentuk antibodi, selanjutnya akan terbentuk kompleks virus-antibodi dengan virus


yang berfungsi sebagai antigennya.
Kompleks antigen-antibodi tersebut akan melepaskan zat-zat yang merusak sel-sel
pembuluh darah, yang disebut dengan proses autoimun. Proses tersebut menyebabkan
permeabilitas kapiler meningkat yang salah satunya ditunjukkan dengan melebarnya
pori-pori pembuluh darah kapiler. Hal tersebut akan mengakibatkan bocornya sel-sel darah,
antara lain trombosit dan eritrosit. Akibatnya, tubuh akan mengalami perdarahan mulai dari
bercak sampai perdarahan hebat pada kulit, saluran pencernaan (muntah darah, berak
darah), saluran pernapasan (mimisan, batuk darah), dan organ vital (jantung, hati, ginjal)
yang sering mengakibatkan kematian.

i GEJALA DAN TANDA


2

Pasien penyakit DBD pada umumnya disertai dengan tanda-tanda berikut:


1.

Demam selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas.

2.

Manifestasi perdarahan dengan tes Rumpel Leede (+), mulai dari petekie (+) sampai
perdarahan spontan seperti mimisan, muntah darah, atau berak darah-hitam.

3.

Hasil pemeriksaan trombosit menurun (normal: 150.000-300.000 uL), hematokrit


meningkat (normal: pria < 45, wanita < 40).

4.

Akral dingin, gelisah, tidak sadar (DS5, dengue shock syndrome).

Kriteria diagnosis (WHO, 1997)


a.

Kriteria klinis
1.

Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus-menerus
selama 2-7 hari.

b.

2.

Terdapat manifestasi perdarahan.

3.

Pembesaran hati.

4.

Syok.

Kriteria laboratoris
1.

Trombositopenia (<100.000/mm1).

2.

Hemokonsentrasi (Ht meningkat >20%).

Seorang pasien dinyatakan menderita penyakit DBD bila terdapat minimal 2 gejala klinis
yang positif dan 1 hasil laboratorium yang positif. Bila gejala dan tanda tersebut kurang dari
ketentuan di atas maka pasien dinyatakan menderita demam
dengue.
1 Transportasi.

Hipotesis
Kasus DBD terjadi karena infeksi kedua dari serotipe yang berbeda. Patogenesis
Infeksi virus terjadi melalui gigitan nyamuk, virus memasuki aliran darah manusia untuk kemudian
bereplikasi (memperbanyak diri). Sebagai perlawanan, tubuh akan

J PENGELOLAAN

Penderita atau Tersangka DBD

Penyelidikan Epidemiologi

Ada penderita DBD lain atau ada jentik


dan ada penderita demam tanpa sebab
yang jelas pada hari itu atau seminggu
sebelumnya > 3 orang

Tidak

Penyuluhan
PSN
Pengasapan
radius 200
m

Penyuluh
an PSN

GAMBAR 10.41 Skema pengelolaan DBD.

J PROGRAM PEMBERANTASAN
1.

Tujuan
a.

Menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit DBD.

b.

Mencegah dan menanggulangi KLB.

c.

Meningkatkan peran serta masyarakat (PSM) dalam pemberantasan sarang


nyamuk (PSN).

2.

Sasaran
Sasaran nasional (2000):

3.

4.

a.

Morbiditas di kecamatan endemik DBD <2 per 10.000 penduduk.

b.

CFR <2,5%.

Strategi
a.

Kewaspadaan dini.

b.

Penanggulangan KLB.

c.

Peningkatan keterampilan petugas.

d.

Penyuluhan.

Kegiatan
a.

Pelacakan

penderita

mendatangi
mencari

(penyelidikan

rumah-rumah

penderita

dari rumah indeks.

lain

dari

dan

kasus

memeriksa

epidemiologis,
yang

dilaporkan

angka

jentik

PE),

yaitu

(indeks
dalam

kegiatan

kasus)

radius

untuk

100

b.

Penemuan

dan

lain.

terdapat

Jika

penanganan

pertolongan

penderita,

tersangka

kasus

termasuk

kasus

yaitu
DBD

merujuk

kegiatan

maka

ke

unit

mencari

penderita

segera

dilakukan

harus

pelayanan

kesehatan

(UPK)

terdekat.
c.

Abatisasi
atau

selektif

(AS)

menaburkan

atau

larvasida

lan/asidasi

ke

dalam

selektif,

yaitu

penampungan

kegiatan

air

yang

memberikan

positif

terdapat

jentik aedes.
d.

Fogging

focus

(FF),

yaitu

kegiatan

menyemprot

losban)

untuk

membunuh

nyamuk

dewasa

dengan

dalam

insektisida

radius

RW

(malation,
per

400

rumah per 1 dukuh.


e.

Pemeriksaan
dengan
sampel
rumah

jentik

cara
dapat
di

berkala

(PJB),

mengambil
dilakukan

tengah

yaitu

sampel
dengan

sebagai

kegiatan

100
cara

pusatnya)

reguler

tiga

bulan

rumah/desa/kelurahan.

random
atau

atau

metode

metode

zig-zag.

sekali,

Pengambilan
spiral

(dengan

Dengan

kegiatan

ini akan didapatkan angka kpadatan jentik atau HI (house index).


f.

Pembentukan

kelompok

kerja

(pokja)

DBD

di

semua

level

administrasi,

mulai dari desa, kecamatan, sampai tingkat pusat.


g.

Penggerakan

PSN

dan

menguras

dan

membersihkan

(pemberantasan

tempat

sarang

penampungan

tempat

yang

nyamuk)

air

bersih,

berpotensi

dengan
mengubur

bagi

3M

(menutup

barang

perkembangbiakan

bekas,
nyamuk)

di daerah endemik dan sporadik.


h.

Penyuluhan

tentang

gejala

awal

penyakit,

pencegahan,

dan

rujukan

penderita.
5.

Pencegahan
Kegiatan ini meliputi:
a.

b.

Pembersihan jentik

program pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

larvasidasi

menggunakan ikan (ikan kepala timah, cupang, sepat)

Pencegahan gigitan nyamuk

menggunakan kelambu

menggunakan obat nyamuk (bakar, oles)

tidak

melakukan

penyemprotan.

kebiasaan

berisiko

(tidur

siang,

menggantung

baju)

6.

Monitoring dan evaluasi


a.

indikator pemerataan
1.

Penyelidikan Epidemiologis (PE) =


Jumlah penderita dengan PE Jumlah penderita
yang dilaporkan

Fogging focus=

2.

Jumlah fogging

x1QQ%

Jumlah penderita
b.

Indikator efektivitas perlindungan =


Cakupan rumah dengan FF/AS/PSN
Jumlah rumah yang seharusnya tercakup dalam FF/A

c.

Indikator efisiensi program


1.

Angka kepadatan jentik (Hl) =


Jumlah rumah yang positif terdapat jentik
x 1C
Jumlah rumah yang diperiksa 2.

kesakitan DBD = Jumlah kesakitan DBD


x 100%
Jumlah penduduk 3. Angka
kematian DBD = Angka kematian
DBD
x 100%
Jumlah penderita
Penanggulangan KLB:
a.

Penemuan dan pertolongan penderita

b.

Penyuluhan

Angka

GAMBAR 10.5 | Penyemprotan (fogging focus) untuk menghentikan penularan dengan membunuh
nyamuk dewasa.

GAMBAR 10.6 [ Pemeriksaan jentik nyamuk aedes, yang dilanjutkan dengan


pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sebagai metode pencegahan terbaik
pemberantasan DBD.