Anda di halaman 1dari 79

Standar Pelayanan Medis

SKIZOFRENIA
BATASAN
Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa yang ditandai oleh penyimpangan yang
mendasar dan khas dari proses berpikir dan persepsi serta afek yang tidak wajar. Kesadaran
bisaanya tetap jernih dan kemampuan intelektual tetap baik walaupun pada perkembangan
lebih lanjut dapat terjadi kemunduran kognitif.
PEDOMAN DIAGNOSTIK
1. Harus ada satu gejala berikut yang jelas, atau dua atau lebih apabila kurang jelas
a. Isi pikiran :

Berulang atau bergema (Thought of echo)

Pikiran disisipkan atau disedot keluar

Pikiran disiarkan

b. Waham dikendalikan :

Waham dipengaruhi

Waham bahwa dirinya tak berdaya terhadap kekuatan luar

Perasaan inderawi tak wajar

c. Halusinasi pendengaran yang:

Berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien

Mendiskusikan perilaku pasien

Berasal dari salah satu anggota tubuh

d. Waham-waham yang tak wajar menurut budaya setempat atau hal -hal yang
mustahil, misalnya memiliki kekuatan diatas manusia bisaa
2. Atau paling sedikit dua gejala harus selalu ada secara terus-menerus :
a. halusinasi disertai waham atau ide-ide berlebihan
b. arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan sehingga berakibat
inkoherensi, pembicaraan tidak relevan, mutisme dan stupor.
c. Gejala-gejala negatif seperti : apatis, jarang bicara, respon emosional
tumpul atau tidak wajar, menarik diri dari pergaulan sosial dan
menurunnya kinerja sosial yang bukan disebabkan oleh depresi atau
medikasi neuroleptik.

3. Gejala-gejala tersebut telah berlangsung paling sedikit satu bulan .


4. Harus ada perubahan yang konsisten dan bermakna dari mutu keseluruhan aspek
perilaku pribadi.

PENGGOLONGAN
1. SKIZOFRENIA PARANOID (F.20.0)
PEDOMAN DIAGNOSTIK

Memenuhi kriteria umum diagnostik skizofrenia.

Halusinasi dan atau waham merupakan gejala yang menonjol: suara


ancaman, perintah, halusinasi pembauan, perasaan tubuh dll. Waham
dapat bermacam-macam tetapi yang khas : waham dikendalikan,
dipengaruhi atau waham kejar

2. SKIZOFRENIA HEBEFRENIK (F.20.1)


PEDOMAN DIAGNOSTIK :

Memenuhi kriteria umum diagnostik skizofrenia

Onset pertama : gejala bisaanya umur 15 25 tahun

Kepribadian premorbid bisaanya : pemalu dan penyendiri

Didapat gejala-gejala yang relatif menetap:


-

Perilaku tak terduga, tak bertujuan, mannerisme.

Afek dangkal, tak serasi, ketolol-tololan, sering disertai


tertawa cekikikan, senyum sendiri, grimasi, dan keluhan
hipokhondrikal.

Proses berpikir mengalami disorganisasi.

Gejala efektif, kemunduran kemauan dan gangguan proses berpikir


menonjol

Halusinasi dan waham umumnya kurang menonjol.

3. SKIZOFRENIA KATATONIK (F.20.2)


PEDOMAN DIAGNOSTIK :
o

Memenuhi kriteria umum skizofrenia

Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran

klinisnya :
i.

Stupor

ii.

Gaduh gelisah

iii.

Posisi tubuh yang aneh atau tidak wajar yang dipertahankan

iv.

Negativisme

v.

Rigiditas

vi.

Fleksibilitas serea

vii.

Gejala-gejala lain seperti kepatuhan otomatis terhadap perintah


dan pengulangan kata atau kalimat.

4. SKIZOFRENIA RESIDUAL (F.20.5)


PEDOMAN DIAGNOSTIK
a.

Gejala-gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol misalnya :


aktifitas menurun, afek yang tumpul, sikap pasif dan kurang inisiatif,
kemiskinan pembicaraan, komunikasi non verbal yang buruk serta
perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk

b.

Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau
yang memenuhi kriteria skizofrenia

c.

Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana


intensitas dan frekwensi gejala yang nyata dari skizorenia telah sangat
minimal

d.

Tidak didapatkan adanya demensia atau gangguan otak organik dan


depresi yang menyebabkan disabilitas tersebut.

5. SKIZOFRENIA SIMPLEKS (F.20.6.)


PEDOMAN DIAGNOSTK :
a. Gejala negatif yang khas tanpa didahului riwayat halusinasi, waham atau
manifestasi lain dari episode psikotik

b. Disertai dengan perubahan perilaku pribadi yang bermanifestasi


kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tak ada tujuan
hidup dan penarikan diri secara sosial.

6. GANGGUAN SKIZOAFEKTIF

PENATALAKSANAAN SKIZOFRENIA
1. FARMAKOTERAPI
o Neuroleptika dosis efektik rendah lebih bermanfaat untuk penderita
menahun atau dengan gejala-gejala psikotik yang menonjol
o Neuroleptik

dosis efektif tinggi lebih bermanfaat gejala psikomotor

yang meningkat
o Neuroleptik dosis efektif tinggi (diberikan dalam dosis terbagi 2-3x
sehari)
o Neuroleptik generasi kedua untuk gejala negatif
Klorpromazin per oral 2-3 x (50-200 mg/hari)
Injeksi : 25-50 mg/kali i.m
Thioridazin 2-3 x (50-100 mg) hari
Untuk pasien dengan gangguan organ, misalnya hepar
Sulpiride 2 x 200 mg/hari

NAMA
Clozapin

NEUROLEPTIK / ANTI PSIKOTIK


DOSIS
KETERANGAN
Dosis awal :
Reaksi yang merugikan:
Hari pertama : 12,5 mg 1-2 x sehari - Lihat klorpromazin
Hari kedua : 25-50 mg/ hari PO
-Granulositopeni dan granulositosis
Naikan dosis 25-50 mg hingga
pada kebanyakan kasus terjadi
300-450 mg/hari PO dosis terbagi
dalam 18 minggu pertama
dalam 14-21 hari
pengobatan, perlu monitoring
Jika diperlukan naikan
dosis
jumlah sel leukosit (WBC)
selanjutnya 50-100 mg setiap - Capek, mengantuk,sedasi, pusing,
minggunya atau dua kali seminggu
sakit kapala mulut kering,
hingga dosis makisimal 900 mg
hipersalivasi, penurunan ambang
per hari
kejang, takikardia, hipotensi
Jika respon terapeutik tecapai dosis
ortostik,
pereubahan
secara bertahap diturunkan ke dosis
EKG,hipertensi,sinkop,kontipasi,
pemeliharaan 200 450 mg / hari
kenaikan berat badan, diare, rasa
PO
perut sebah, mual-mual.

- EPS termasuk Tardif diskinesia


jarang terjadi, demikain juga
efek pada sekresi prolaktin
Petunjuk Khusus :
- Sebelum memulai dengan clozapin,
WBC dengan hitung jenis harus
dilakukan, hanya pasien dengan
jumlah WBC yang normal
3.500/mm 3 dan jumlah neotrofil
absolute (ANC) 2.000/mm3
dapat diberkan obat
- Pasien dengan epilepsi yang tidak
terkontrol, psikotik alkoholik
atau toksik, riwayat gagal
sirkulasi atau intoksikasi obat,
supresi
sumsum
tulang,
gangguan mieloproliferasi atau
ketidaknormalan sel darah putih
atau diferensial
- Pasien dengan riwayat neutropenia
atau
agranulositosis
yang
diindikasi oleh obat, pasien
dengan gangguan ginjal berat,
penyakit hati atau gagal jantung
berat.

Olanzapin
Dosis awal :
Tablet 5 mg, 10 mg, 10 mg PO sekali sehari. Dapat
Vial 10 mg
dinaikkan secara bertahap 5 mg
sesuai respon pasien.
Dosis : 5-20 mg/hari
Dosis maksimal : 20 mg/hari short
acting IM
Dosis awal 5 10 mg IM dosis
Tunggal
Dilanjutkan dengan 5-10 mg IM
setelah 24 jam
Dosis maksimal : 3 Inj/ 24 jam
untuk jangka waktu 3 hari.
Dilanjutkan dengan dosis peroral

Hati-hati penggunaan pada pasien


dengan gangguan fungsi ginjal
ringan sedang
Reaksi merugikan
- sama dengan klorpromazin.
-Insidensi rendah EPS, sedasi,
dapat terjadi efek antimuskarinik
ringan dan sementara.
- Mengantuk, pening, peningkatan
nafsu makan, kenaikan berat
badan
edema,
hipotensi
ortostatik,
hiperprolaktinemia
dapat terjadi tetapi pada ummnya
asimptomatik,glucose hemostasis
yang
tidak
dikatahui
penyebabnya namun jarang
terjadi.
Petunjuk khusus :
- sama seperti klorpromazin
- Pasien yang menerima injeksi IM
harus dipantau ketat sehubungan
dengan
efek
hipotensi,

perlambatan ritme jantung dan


hiventilasi 2-4 jam setelah
disuntik.
Quetiapine
Dosis awal :
Tablet 25 mg, 20 Hari I : 50 mg/hari PO dosis
mg
terbagi ( 2 Kali sehari )
Hari 2 : 100 mg.hari PO dosis
terbagi (2 kali sehari)
Hari 3 : 200 mg PO dosis terbagi (2
kali sehari )
Dilanjutkan dengan peningkatan
dosis sesuai respon pasien Dosis
pemeliharaan : 300-450 mg/hari
PO dosis terbagi (2 kali sehari )
Rentan dosis : 150 750 mg PO 2
kali sehari
Zotepine
Dosis awal :
Tablet salut gula
25 mg PO 3 x sehari
25 mg, 50 mg
Dosis dapat dinaikkan sesuai
respons pasien setiap 4 hari
Dosis maksimal : 300 mg/har PO
dalam dosis terbagi

Risperidon

Reaksi merugikan
- Sama dengan klopromazin
- sering kali terjadi mengantuk,
insidensi rendah EPS dan
peningkatan prolaktin kurang
dari klorpromazin
- Astenia ringan, cemas, pening,
mialgia,
rintis,
dyspepsia,
peningkatan
kolesterol
dan
trigliserida.
Pripismua,
dan
edema.
Petunjuk khusus :
- Sama seperti klorpromazin
Reaksi merugikan:
- sama dengan klorpromazin
--Pemanjangan
interval
QT,
penurunan ambang kejang
- Astenia, sakit kepla, hipotensi,
kenaikan berat badan, urikosuri
Petunjuk Khusus :
- Sama denagan klorpromazin
Pasien
dengan
riwayat
pemanjanangan QT , Gout atau
hiperurisemia
- Monitor EKG dan Elektrolit
selama pegobatan
- Hati-hati pemberian pada pasien
dengan risiko artiia, asien dengan
riwayat penyakit arteri koronaria
dan hipertensi berat.
Reaksi merugikan :
- Sama dengan klorpromazin
- Insidensi EPS dan sedasi lebih
rendah dari pada klorpromazin
tetapi agitasi dapat terjadi lebih
sering.
- Dispepsia, nausea, sakit perut,
cemas, sulit berkonsentrasi,
insomnia, sakit kepala, cemas
agitasi, hipertensi, hipotensi
ortostatik, takikardia, fatigue,
pening dan gelisah.

Dosis awal :
2 mg/hari PO sekali sehari atau 2
kali sehari
Hari ke 2 : dapat dinaikkan
menjadi 4 mg/hari PO. Sesuai dosis
1- 2 mg tergantung respons pasien;
beberapa
pasien
mungkin
membutuhkan kenaikan dosis yang
lebih lambat.
Rentang dosis lazim 4-6 mg/hari
PO
Dosis maksimal : 16 mg/hari
Long acting IM 25 mg setiap 2
minggu
Petunjuk khusus :
- Sama seperti klorpromazin

Sulpirid

Dosis Awal : 100 400 mg PO 2


kali sehari
Dosis dapat dianikan sesuai
respons pasien.
Dosis maksimal pada pasien degan
gejala positif yang menonjol :
2.400mg/hari
Dosis maksimal pada pasien
dengan gejala negatif yang
menonjol : 800 mg/hari PO short
acting IM : 300 600 mg sehari
IM

Haloperidol

Dosis 0,5 5 mg PO 2-3 kali sehari


Dosis dapat dinaikkan sampai ke
dosis maksimal 100 mg/hari
Dosis pemeliharaan; 3 -10 mg/hari
PO
Short acting IM/IV : 2-10 mg
IM/IV setiap 4-8 jam hingga 1 jam
atau sesuai kebutuhan
Pemberian Depo:
Dosis awal : 10-20 kali pemberian
PO diberikan dengan IM 100
mg/dosis jika dosis awal 100 mg

Loxapin
Pimozid

Klorpromazin

Reaksi merugikan :
- Sama dengan klorpromazin
- Gangguan tidur, agitasi, stimulasi
yang berlebihan, EPS dapat
terjadi sesering seperti pada
klorpromazin. tapi lebih ringan
- Kurang menyebabkan sedasi dan
hipotensi, efek antimuskarinik
minimal
- dapat mencetuskan mania atau
hipomania
Petunjuk khusus:
- Sama seperti klorpromazin
- Hati-hati penggunaan pada pasien
mania atau hipomania.
Reaksi yang merugikan :
- Sama seperti klorpromazin
- kurang menyebabkan sedasi,
hipotensi,dan efek samping
antimuskarinik tetapi EPS lebih
sering
Petunjuk khusus :
- sama seperti klorpromazin
- hati-hati penggunaannya pada
anak dan remaja
- dapat menyebabkan EPS yang
berat
pada
pasien
dengan
hipertirodism

Dosis awal : 2 mg PO sekali sehari Reaksi merugikan


Dapat dinakan sesuai respons - Sama seperti klorpromazin
pasien 2-4 mg setiap minggu
-Kurang
menyebabkan
Dosis pemeliharaan : 2-12 mg/hari sedasi,hipotensi
dan
efek
PO
antimuskarinik
daripada
Dosis maksimal : 20 mg/hari
klorpromazin, tetapi EPS lebih
sering
Reaksi merugikan :
- Sedasi, efek antikolinergis (Mulut
kering, retensi ringan, pandangan
kabur, konstipasi) takikarrdia,
aritmia
jantung
hipotensi
(umumnya
ortostatik)
EPS
(Distonia akut akatisia, sindroma
malignan neoroleptik), diskinesia
tardif, kejang, efek endokrin
(galaktore dan oligomenore,
kenaikan berat badan, gangguan
fungsi seksual, rashes alergi,
disfungsi hati, efek pada
hematologi
(agranulositosis,

M/inj.

Dosis 2,5-10 mg/hari PO dibagi 34 kali sehari. Dapat dinaikkan


sesuai kebutuhan hingga dosis
pemeliharaan
20
mg/hari,
kemudian
secara
bertahap
diturunkan, hingga ke dosis
pemeliharaan 1-5 mg/hari PO short
acting IM: Dosis awal : 1,25 mg

leukopenia) efek pada mata


(retinopati pigmentosa, opasiti
korenea), ketidaknormalan EEG,
dan penurunan ambang kejang.
- Reaksi fotosensitivitas lebih
sering terjadi pada klorpromazin
dibanding antipsikotik lain.
Petunjuk khusus:
- Kontraindikasi pada pasien
dengan depresi SSP atau coma,
supresi
sumsum
tulang,
pheokromasitoma,
tumor
prolactin-dependen.
- Penggunaan yang berhati-hati
pada pasien dengan gangguan
hati, ginjal, kardiovaskular,
cerebrovaskular
dan
fungsi
respirasi,
glaucoma
sudut
tertutup,
riwayat
penyakit
jaundis, penyakit Parkinson,
hipotiroid, miastenia gravis, ileus
paralitik, hyperplasia prostate,
retensi urin, eplepsi, kejang, pada
keadaan infeksi akut atau
leukopenia.
- efek sedatif lebih dirasakan pada
beberapa
hari
pertama
pengobatan.
- pemeriksaan mata secara regular
dianjurkan bagi pasien dengan
pengobatan jangka panjang.
- memonitoring hitung darah
lengkap pada pasien dengan
demam atau infeksi yang tidak
jelas penyebabnya.
- pasien harus dalam posisi
terlentang sekuranya 30 menit
setelah injeksi klorpromazin;
monitor tekanan darah selama
pemberian obat.
- hindari penghentian yang tibatiba.
Reaksi yang merugikan :
- Sama dengan korpromazin
- Kurang menyebabkan sedasi,
hipotensi atau efek samping
antimuskarinik tetapi EPS lebih
sering.
Petunjuk Khusus :
- Sama seperti klorpromazin

IM dosis dapat disesuaikan dengan pemberian


injeksi
respons pasien.
merupakan kontraindikasi
Dosis lazim :2,5 -10 mg mg/hari
pasien dengan depresi
IM dibagi setipa 6-8 jam atau
karena
fluphenazin
sesuai kebutuhan :
mencetus depresi
Sediaan depo :
Dosis awal 12,5 mg IM dosiis
tunggal. Dosis dapat disesuaikan
dengan respons pasien hingga ke
dosis lazim 12,5 100 mg IM
setiap 2-6 minggu. Dosis maksimal
: 100 mg I
Perfenazin

Trifluperazin
Tablet 1 mg
Tablet 5 mg

depo
pada
berat
dapat

Reaksi merugikan :
- Sama seperti klorpromazin
- Kurang menyebabkan sedasi
dibandigkan klorpromazin, tetapi
EPS lebih sering.
- Petunjuk khusus :
- Sama seperti klorpromazin
Dosis awal : 2-5 mg PO 2 x sehari
Reaksi yang merugikan :
Dapat dinaikkan sesuai dengan - Sama seperti klorpromazin
respons pasien hingga 15-20 - Kurang sering dalam menyebakan
mg/hari PO
sedasi,
hipotensi,
hipotensi
Dosis maksimal : 40 mg/hari Po
hipotermia
atau
efek
antimuskarinik, tetapi EPS lebih
sering (khususnya jika dosis > 6
mg/hari).
Petunjuk khusus :
- Sama seperti klorpromazin.

2. TERAPI ELEKTROKONVULSI
Bagi penderita skizofrenia katatonik gaduh gelisah atau stupor katatonik

3. PSIKOTERAPI
Psikotrerapi suportif diberikan agar pasien dapat lebih bersosialisasi.

4. MANIPULASI LINGKUNGAN
Dilakukan agar lingkungan dapat :

Memahami dan menerima keadaan pasien.

Membimbing, memberi kesibukan dan pekerjaan seharihari kepada pasien.

Mengawasi minum obat secara teratur dan mengajak


pasien untuk kontrol ulang.

GANGGUAN PSIKOTIK AKUT


BATASAN :
Yaitu sesuatu episode psikotik yang berlangsung kurang dari dua minggu dimana setelahnya
penderita dapat berfungsi kembali seperti semula

KRITERIA DIAGOSTIK :
a.

Menggunakan urutan diagnosis yang mencerminkan urutan prioritas yang diberikan untuk
ciri-ciri untuk terpilih dari gangguan ini. Urutan prioritas yang dipakai adalah :
-

Onset yang akut (dalam masa dua minggu atau kurang = gejala waktu gejala- gejala
psikotik menjadi nyata dan mengganggu sedikitnya beberapa aspek kehidupan dan
pekerjaan sehari hari. Tidak termasuk gejala prodromal yang gejala-gejalanya sering
tidak jelas sebagai ciri khas yang menentukan seluruh kelompok

Adanya sindrom yang khas (berupa polimorfik = beraneka ragam dan berubah cepat
atau schizophrenia like = gejala skizofrenia yang khas)

Adanya stres akut yang berkaitan (tidak selalu ada, sehingga dispesifikasikan dengan
karakter kelima XO = tanpa penyerta stres akut, XI = dengan penyerta stres akut).
Kesulitan atau problem yang berkepanjangan tidak boleh dimasukan sebagai sumber
stres dalam konteks ini)

- Tidak diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung


b.

Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi kriteria episode manik (F.30)
atau episode depresif (F.32) walaupun perubahan emosional dan gejala-gejala efektif
individual dapat menonjol dari waktu ke waktu.

c. Tidak ada penyebab organik, terutama kapitis, delirium atau demensia. Tidak merupakan
intoksikasi akibat penggunaan alkohol atau obat-obatan.

PENGGOLONGAN
F.23.0

GANGGUAN

PSIKOTIK

POLIMORFIK

AKUT

TANPA

GEJALA

SKIZOFRENIA
PEDOMAN DIAGNOSTIK :
Untuk diagnosis pasti, harus memenuhi kriteria :
a. onset harus akut (dari suatu keadaan non psikotik sampai keadaan psikotik yang jelas dalam
kurun waktu 2 minggu atau kurang
b. Harus ada beberapa jenis halusinasi atau waham,yang berubah dalam jenis dan
intensitasnya dari hari ke hari atau dalam hari yang sama.
c. Harus ada keadaan emosional yang sama beraneka ragamnya.
d. Walaupun gejala-gejalanya beraneka ragam, tidak satupun dari gejala itu secara cukup
konsisten dapat memenuhi kriteria skizofrenia (F.20) atau episode manik (F.30) atau
episode depresi (F.32)
F.23.1 : GANGGUAN PSIKOTIK POLIMORFIK AKUT DENGAN GEJALA
SKIZOFRENIA
PEDOMAN DIAGNOSTIK :
a.

Memenuhi kriteria a,b,c diatas yang khas untuk gangguan psikotik polimorfik akut
(F.23.0)

b. Disertai gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia (F.20) yang
harus ada pada sebagian besar waktu sejak munculnya gambaran klinis psikotik itu secara
jelas
c. Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk lebih dari 1 bulan maka diagnosis harus
diubah menjadi Skizofrenia (F.20).
F.23.2. GANGGUAN PSIKOTTIK LIR SKIZOFRENIA (SCHIZOPHRENIA-LIKE)
AKUT
PEDOMAN DIAGNOSTIK :
1. Untuk diagnosis pasti harus memenuhi :
a. Onset dari gejala psikotik harus akut (2 minggu atau kurang dari keadaan non psikotik
sampai jelas psikotik )
b. Waham dan halusinasi harus ada dalam sebagian besar waktu sejak berkembangnya
keadaan psikotik yang jelas
c. Baik kriteria untuk skizofrenia (F.20) maupun untuk gangguan psikotik akut (F.23)
tidak terpakai.

2. Kalau waham-waham menetap untuk lebih dari 3 bulan lamanya maka diagnosis harus
diubah menjadi : GANGGUAN PSIKOTIK NON-ORGANIK lainnya (F.23)

F. 23.8 : GANGGUAN PSKOTIK AKUT DAN SEMENTARA LAINNYA


Gangguan psikotik akut lainnya tidak dapat diklasifikasikan ke dalam kategori manapun
dalam F. 23
F.23.9 : GANGUAN PSIKOTIK AKUT DAN SEMENTARA YTT.
PENATALAKSANAAN :
1.

Farmakoterapi :
a.

Antipsikotik, terutama yang mempunyai potensi tinggi (Haloperidol,


Flufenazin) merupakan obat pilihan karena mempunyai efek yang rendah
terhadap risiko hipotensi dan dapat diberikan parenteral.
Dimulai dengan dosis rendah yang mengontrol gejala-gejala.
Diberikan haloperidol 2-5 mg i.m atau per oral ( 10 mg pada penderita yang
gelisah, diikuti dengan dosis yang sama setiap 1 atau 2 jam sampai keadaan
terkontrol. Dosis maksimal 15 mg perhari.
Dapat diberikan diazepam 5-10 mg pada penderita yang sangat gelisah.
Dapat diberikan klopromazin baik i.m atau per oral (lihat pengobatan
Skizofrenia) Turunkan segera dosis setelah gejala dapat diatasi.

b.

Benzodiazepin
Dapat diberikan terutama bila gejala kecemasan yang menonjol atau jika
pemberian antipsikotik yang menurunkan ambang kejang harus dihindari
Bisaanya dipakai lorazepam 2 mg per oral setiap 2 jam selama diperlukan.
Turunkan dosis setiap 1 sampai 2 minggu. Jarang diperlukan dosis yang
melebihi 8 mg perhari.
2. Perawatan Lanjutan :
a. Psikotik bila sudah memungkinkan
b. Farmakoterapi : ditujukan pada depresi atau kecemasan. Antipsikotik dengan
potensi rendah (Misalnya Thioridazin atau klorpromazin 25-50 mg per oral)
lebih dapat ditoleransi dengan baik daripada antipsikotik potensi tinggi.

GANGGUAN WAHAM

BATASAN
Gangguan waham merupakan gangguan psikotik dengan gejala menonjol berupa
waham dimana tidak ditemukan dasar organik, tidak ditemukan gejala gangguan depresi berat
dan ciri wahamnya tidak bizarre yang membedakannya dengan gangguan Skizofrenia.
Afek penderita sama dengan wahamnya.. Kepribadian penderita tetap utuh dan deteroriasi
minimal walaupun melewati jangka waktu yang cukup lama.

PEDOMAN DIAGNOSIS
1. Waham-waham merupakan satu-satunya ciri khas atau gejala yang paling menyolok.
Waham (baik tunggal maupun merupakan sistim waham) harus sudah ada sedikitnya
3 bulan lamanya, dan harus khas pribadi (personal) dan bukan budaya setempat.
2. Gejala gejala depresi atau bahkan suatu episode depresi yang lengkap (full-blown)
(F 32) mungkin terjadi secara intermiten dengan syarat bahwa waham tersebut
menetap pada saat tidak terjadi gangguan afektif itu.
3. Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit otak.
4. Tidak boleh ada halusinasi auditorik atau hanya kadang-kadang saja ada dan bersifat
sementara.
5. Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia (waham dikendalikan, siar pkiran,
penumpulan afek, dsb)
6. Termasuk : Paranoia, Psikosis Paraniod. Keadaan paranoid, parafrenia.

PENGGOLONGAN
Menurut DSM-IV-TR terdapat 6 sub-tipe dari gangguan waham ditinjau dari isi wahamnya:
1. Tipe erotomania dengan gejala utama waham erotik
2. Tipe kebesaran (grandiosa) dengan waham kebesaran
3. Tipe Cemburu (Jealousy)
4. Tipe Kejaran
5. Tipe Somatik
6. Tipe lain meliputi :Capgras Syndrome, Fregoli syndrome.

PENATALAKSANAAN
a. Farmakoterapi

Pada pasien kronis pemberian neuroleptika potensi tinggi merupakan pilihan


pertama walaupun efek klinisnya kurang. Pasien gangguan waham sering
menolak minum obat sehingga hubungan pasien dokter harus diutamakan.

Dapat dimulai dengan pemberian :


1. Haloperidol 1-2 kali 2 mg perhari, secara pelan-pelan dapat
dinaikkan sampai 2 x 10 mg perhari
2. Trifluoperazin 2 x 2,5 mg 10 mg / hari

Bila pasien gelisah dapat diberikan secara i.m :


1. Haloperidol 5 mg i.m dapat di ulang setiap 30 menit dengan dosis
maksimal 2 x 10 mg perhari
2. Klorpromazin injeksi 25-100 mg i.m atau klorpromazin 3 x 100 200 mg
perhari
b. Psikoterapi:
-

Psikoterapi yang efektif harus didasari kepercayaan pasien terhadap dokter

Pada tahap awal tidak langsung menentang wahamnya

Secara bertahap dan empatik terapis meyakinkan pasien bahwa waham dapat
menimbulkan penderitaan bagi pasien dan menghambat cara hidup yang
konstruktif

Pada akhirnya terapis mengajak pasien memperbaiki persepsinya terhadap


realitas.

c. Terapi lingkungan/ sosioterapi


-

Mengajak lingkungan membantu proses pengobatan pasien

SINDROMA DEPRESI

BATASAN

Depresi dapat merupakan gangguan tersendiri ataupun sebagai gejala penyerta dari suatu
gangguan lain. Baik sebagai gejala tersendiri ataupun sebagai gejala penyerta, depresi
merupakan gangguan yang banyak dijumpai. Dikatakan, bahwa sekitar 30-40 % penderita
yang dirawat di RSJ merupakan penderita depresi (Psikiatri bio. II.1).

GEJALA SINDROMA DEPRESI


1. Gejala Emosi :
Afek emosi disforik (tidak menenangkan) atau hilangnya minat/rasa senang,
rasa sedih, sering menangis, sering marah, rasa rendah diri, irritable, hancur
luluh.
2. Gejala Fisik :
-

Kurang nafsu makan sehingga terjadi penurunan berat badan.

Atau penambahan nafsu makan sehingga terjadi panambahan berat badan

Insomnia atau malahan hiperinsomnia

Agitasi atau bahkan retardasi psikomotor

Hilangnya semangat, rasa letih, apatis, nafsu seks menghilang.

Perasaan tak berguna, menyalahkan diri sendiri

Kurangnya kemampuan berpikir atau konsentrasi

Banyak keluhan fisik seperti :


Berdebar-debar
Sesak dan rasa sakit dada
Sakit perut, pusing
Buang air susah, berkeringat, dan lain-lain

- Pikiran berulang ulang tentang kematian, gagasan bunuh diri, keinginan mati
atau usaha bunuh diri.

PENGGOLONGAN
PPDGJ II Menggolongkan gangguan depresi kedalam bebarapa kategori :
1.F30 F39

: Ganguan suasana perasaan (Mood/afektif)

2. F00 F03.x3

: Demensia dengan gejala depresi

3. F06.3

: Gangguan suasana perasaan (mod/afektif) organik

4. F1x.54

: Ganguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif


dengan gangguan psikotik predominan gejala depresi

5. F25

: Gangguan skizoafektif

6. F41.2

: Gangguan campuran ansietas dan depresi

7. F43.20

: Gangguan penyesuaian reaksi depresi singkat

8. F43.21

: Gangguan reaksi depresi berkepanjangan

PENATALAKSANAAN

A. PSIKOTERAPI
Psikoterapi perlu diberikan bagi pasien yang mengalami depresi, terutama bila
insight sudah ada, Jenis psikoterapi diserahkan sepenuhnya kepada terapis.
B. TERAPI KEJANG LISTRIK (ECT)
Dipertimbangkan pemberiannya manakala:
Pasien

depresi

menunjukkan

gejala

bunuh

diri.

Gaduh

gelisah,

stupor/apatis/mutisme, atau pasien tidak menunjukkan perbaikan dengan terapi


medikamentosa antidepresan.

C. TERAPI MEDIKAMENTOSA
1. Prinsip dasar pengobatan :
a. Depresi dapat merupakan gejala primer dan gejala sekunder, bila
gejala sekunder maka gejala primer diatasi terlebih dahulu.
b. Intensitas depresinya sebaiknya diukur untuk mengetahui perubahanperubahn gejalanya.
c. Pemakaian obat antidepresi obat adekuat, jangan terlalu tinggi dan
jangan terlalu rendah.
d. Pemilhan obat harus dipertimbangkan secara individual.
e. Lama pemberian minimal 1-2 minggu dan obat distop satu sampai
beberapa bulan setelah gejala depresi hilang.

2. Sinonim obat antidepresi : thymolepticum,psychic energizer, anti depresants


3. Obat acuan : Anti depresan golongan trisiklik, SSRI
4. Penggolongan obat-obat anti depresan
NAMA OBAT
DOSIS
KETERANGAN
Dosis awal :
Reaksi yang merugikan :
Mirtazapine
15 mg per Hari PO sebagai
- Sedasi, mulut kering nafsu makan,
dosis tunggal pada malam
kenaikan berat badan, konstipasi,
hari atau dosis terbagi 2
pusing,mimpi buruk, xerostomia,
Dosis dapat dinaikkan
kenaikan kadar kolesterol darah,
secara bertahap dalam
jarang
jarak 1-2 minggu jika
neutropenia,agnulositosis,hipotensi
diperlukan hingga 45 mg
ortostatik.
per hari PO dalam dosis
- Disfungsi seksual umumnya lebih
tunggal pada malam hari
rendah dibandingkan SSRI
atau dibagi 2 dosis
Petunjuk khusus
- Mulailah dengan dosis rendah untuk
mengurangi efek samping dan
naikan secara bertahap hingga dosis
yang dikehendaki.
- Hati-hati penggunaan pada pasienpasien dengan gangguan kejang,
kerusakan hati dan ginjal, penyakit
kardiovaskular
dan
riwayat
gangguan bipolar.
- Monitor akan adanya neutropenia
atau
agranulositosis
misalnya
demam, tenggorokan rasa perih,
atau tanda injeksi lain.
- Jangan hentikan pengobatan secara
tiba-tiba; turunkan dosis secara
bertahap dalam beberapa mnggu.
Escitalopram Dosis awal : 10 mg PO Reaksi yang merugikan :
sekali sehari. Dosis dapat
- Pada
umumnya
efek
hanya
dinaikkan setelah 1 minggu
sementara
waktu
:
mual,
menjadi dosis maksimal 20
berkeringat,
ngantuk,
pusing,
mg/hari PO
insomnia, konstipasi, diare, nafsu
makan menurun, disfungsi seksual,
lelah, demam, menguap.
Petunjuk khusus :
- Hai-hati
pada
pasien
yang
menggunakan obat obatan yang
dapat mempengaruhi pembekuan
darah.
- Lihat citalopram.

Fluoxetin

Sertralin

Trazodone

Dosis awal : 20 mg PO
sekali sehari pada pagi
hari. Kalau tidak ada
respons setelah beberapa
minggu dosis dinaikkan
secara bertahap.
Dosis maksimal : 80
mg/hari PO.Dosis sehari >
20 mg per hari harus
diberikan dalam 2 dosis
terbagi
Dosis awal : 50 mg PO
sekali sehari .dosis dapat
dinaikkan 50 mg setiap
minggu.
Dosis pemeliharan 500-100
mg per hari Po
Dosis maksimal : 20 mg
mg/hari

Dosis awal :
150 mg/hari PO dosis
tunggal pada malam hari
atau dosis terbagi. Dapat
dinaikkan secara bertahap
50 mg setiap 3-4 hari
hingga 300- 400 mg per
hari.
Dosis maksimal : 600
mg/hari Po dalam dosis
terbagi

Reaksi yang merugikan :


- Yang berhubungan dengan dosis
gelisah dan cemas, insomnia
- Sakit kepala, pusing, lelah, gemetar,
perasaan tidak enak, mimpi buruk,
mania, mual, diare, hilang nafsu
makan, mata kabur, disfungsi
seksual.
Petunjuk khusus
- Lihat citalopram
Reaksi yang merugikan :
- Ngantuk, pusing, insomnia, cemas,
mual, xerostomia, kehilangan berat
badan, anoreksi, konstipasi, disre,
disfungsi seksual, ansietas, mimpi
buruk, menguap, tremor, pandangan
kabur, berkeringat.
- Yang berhubungan dengan dosis :
Vasodilatasi, Hipertensi.
Petunjuk khusus:
- Mulailah dengan dosis rendah untuk
mengurangi efek samping dan
naikan secara bertahap hingga
respons yang dikehendaki.
- Hati-hati penggunaan pada pasienpasien dengan kerusakan hati dan
ginjal
Jangan hentikan pengobatan secara
tiba-tiba turunkan secara bertahap
setelah lebih dari beberapa minggu
Reaksi yang merugikan :
- Mulut kering, mual, pening,
konstipasi, sedasi, kepala terasa
ringan,
hipotensi
postural,
inkoordinasi, konfusi, kerusakan
memori, jarang hepatotoksik.
- Ngantuk/sedasi,yang
umumnya
serius risikonya adalah adanya
priapismus.
Petunjuk khusus:
- Mulailah dengan dosis rendah untuk
mengurangi efek samping dan
naikan secara bertahap hingga
respons yang dikehendaki.
- Hati-hati penggunaan pada pasienpasien dengan kejang, penyakit
kardisosvakular
atau
serebrovaskular atau riwayat mania,

Maproptilin

Amitriptilin

Clomipramin

Imipramin

kerusakan hati atau ginjal berat.


- Hentikan pengobatan segera jika
ada tanda-tanda diskasria darah,
kerusakan hati atau priaoismucs.
- Jangan hentikan pengobatan secara
tiba-tiba, turunkan dosis secara
bertahap setelah lebih dari beberapa
minggu.
Efek yang mereugikan:
- Sama dengan TCA kecuali efek
antimuskarinik kurang sering tetapi
ruam kemerahan (Rash) lebih sering
Petunjuk khusus :
- Lihat TCA
- Hati-hati pada pasien dengan kejang
ambang rendah

Dosis awal :
25 -75
mg/hari PO dibagi 3
Dosis dapat dinaikkan
secara bertahap setelah 1-2
minggu
hingga
150
mg/hari
Dapat diberikan sebagai
dois tunggal pada malam
hari.
Dosis
maksimal
150
mg/hari
Dosis awal : 50-150 Efek yang merugikan :
mg/hari PO dalam dosis
- Efek samping terjadi berhubungan
terbagi atau dosis tunggal
dengan efek antimuskarinik dan
pada malam hari.
akan menghilangkan jika dimulai
Dapat dinaikkan hingga
dengan dosis rendah dan dinaikkan
dosis maksimal : 300
secara bertahap.
mg/hari
dalam
dosis
- Mulut kering,konstipasi yang dapat
terbagi
mengakibatkan terjadinya ileus
Dosis awal : 10-25 mg/hari
paralitika, mata kabur,kenaikan
PO. Dosis dapat dinaikkan
tekanan
bola
mata,
retensi
secara bertahap hingga 30urinary,hipertermia,
150 mg PO dalam dosis
Mengantuk,cemas, insomnia, sakit
terbagi atau dosis tunggal
kepala, neuropati perifer, ataxia,
Dosis maksimal : 250
tremor, bingung/delirium dapat
mg/hari
terjadi khususnya pada usia lanjut,
mual,muntah, iritasi pada lambung,
Dosis awal : 25-75 mg/hari
kenaikan berat badan, hipotensi,
untuk pasien rawat jalan
takikardia, berkeringat.
dan 75 mg/hari bagi pasien
rawat inap.
Petunjuk khusus
- mulailah dengan dosis rendah untuk
mengurangi efek samping dan
naikan secara bertahap hingga
respons yang dikehendaki.
- Hati hati penggunaannya pada
pasien
dengan
retensi
urin,
hiperplasi
prostate, konstipasi
kronik, glaucoma sudut tertutup
yang tidak diobati, pasien dengan
penyakit kardio vascular, riwayat
epilepsy.,DM. kerusakan fungsi

hati.
Pasien usia lanjut mungkin peka
terhadap efek samping, dianjurkan
menggunakan dosis rendah.
Jangan hentikan obat dengan tibatiba, turunkan bertahap dalam
beberapa minggu.

5. Profil efek samping dan pemilihan obat :


Pada dosis ekuivalen semua obat antidepresan mempunyai efek primer sama,
perbedaan terutama pada efek sekunder, jadi pemilihan obat anti depresan
tergantung pada toleransi pasien terhadap efek samping dan penyesuaian efek
samping terhadap kondisi pasien (usia, penyakit fisik tertentu, jenis gangguan
depresinya)
6. Efek samping obat anti depresan yang utama :
a.Sedasi

: Ngantuk, kurang waspada, kemampuan


kognitif

b.Efek antikholinergik

menurun

:Mulut kering, kontipasi, retensio urine

c. Efek antiadrenergik alfa

: Perubahan EKG, hipotensi

d. Efek neurotoksik

: Tremor, agitasi, insomnia

7. Efek samping spesifik dan pemberian :


a. Obat anti depresan trisiklik :
- Efek samping : sadasi, otonomik,kardiotoksik
- Diberikan pada pasien muda
- untuk meredakan depresi agitasi
- Pemberian :
* Amitriptilin,Imipramin : dimulai 2 x 25 50 mg / hari selama
1-2 minggu, bila kurang efektif dinaikkan sampai 3 x 50 mg/hr
(dosis anjuran 75-150 mg/hr
* Amineptin : 2 x 100 mg/hr pagi dan siang (d.a.100-200
mg/hari)
* Klomipramin : dimulai 10 mg/hr beberapa hari kemudian
ditingkatkan sampai 30 -150 mg/hr (d.a. 30 150 mg/hr
- Bila ada gejala gangguan lainnya seperti : gangguan psikotik, kecemasan,
epilepsi/mental organik, dll, dapat ditambah dengan obat-obat
gangguan lainnya tersebut.

b. Obat anti depresan tetrasiklik :


- Efek samping terutama sedasi, sedangkan efek terhadap otonomik
kardiologik sangat kurang
- Diberikan pada pasien dengan kondisi kurang tahan terhadap efek otonomik
dan kardiologik trisiklik seperti orang lanjut usia
- Baik untuk deperesi dengan kecemasan dan insomnia
- Pemberian :
* Marprotilin : 2 3 x 25 mg/hr selama 1-2 minggu, kemudian
dapat ditingkatkan hingga 3 x 50 mg/hr )d.a. 75-150 mg/hr)
* Mianserin : 2-3 x 10 mg/hr atau 1 x 30 mg/hr malam hari.
Dapat ditingkatkan hingga 60 mg mg/hr (d.a.30-60 mg/hr
c. MAOI reversible (MOCLOBEMIDE) :
- Efek samping terutama hipotensi ortostatik, relatif aman
- Hati-hati pada pemakaian dengan obat-obat simpatomimetik atau makanan
yang mengandung tiramin (keju, anggur) karena bahaya
terjadinya krisis hipertensi.
- Pemberian :
* Moclobemide : 150 mg/hr dosis tunggal (d.a. 300-600 mg/hr)
d. Obat anti depresi : atypical
-

Efek sedasi kuat tetapi efek anti kolinergik dan hipotensi ringan

Pemberian :

Trazodone (Trazon) 1-2 x 50 mg/hr ( d.a. 100 200 mg/hr)

e. Obat anti depresi SSRI


-

Efek sedasi, hipotensi, otonomik sangat minimal.

Manfaat untuk pasien dengan retarded depression usia lanjut, pasien gangguan
jantung, berat badan berlebih.

Relatif aman (dosis letal . 600 mg)

* Sertralin (Zoloft)

: 1 x 50 mg/hr (d.a. 50 100 mg/hr)

* Paroxetine (Seroxat)

: 1 x 20 mg/hr (d.a. 20-40 mg/hr)

* Fluoxetine (Prozac)

: 1 x 20 mg/hr (d.a. 20-40 mg/hr)

* Flufoxamine (Luvox)

: 1 x 50 mg/hr (d.a. 50 -100 mg/hr)

8. Pada pemakaian obat anti depresi, kematian dapat terjadi oleh karena Cardiac arrest

(terutama golongan trisiklik). Dosis letal Trisiklik sekitar 10 x dosis terapi. Golongan SSRI
relatif aman pada overdosis. Oleh karena itu bila memungkinkan pemilihan obat anti
deperesan sebaiknya mengikuti urutan :
Step I

: Golongan SSRI

Step II

: Golongan Trisiklik

Step III

: Golongan tetrasiklik/ Atypical / MAOI reversible

9..Pada pemakaian obat anti depresan, bila dengan dosis adekuat belum tampak perbaikan,
jangan cepat-cepat mengganti dengan jenis lain, tapi pertahankan lebih dahulu sampai jangka
waktu yang cukup (2-3 bulan ) bila masih tetap tidak tampak perbaikan, baru beralih ke obat
anti depresan jenis lannya

SINDROMA MANIA
GEJALA KLINIS
1. Peningkatan aktivitas atau ketidak tenangan fisik.
2. Lebih banyak bicara atau adanya dorongan untuk bicara terus
menerus.
3. Flight of idea.
4. Rasa harga diri yang melambung
5. Kebutuhan tidur berkurang
6. Perhatian mudah dialihkan
7. Keterlibatan berlebihan pada aktivitas-aktivitas yang mengandung
risiko tinggi : Mengebut,boros, tingkah laku seksual terbuka , dll

PENATALAKSANAAN :
1. Psikokerapi.
2. Terapi kejang listrik.
Ad.1 dan Ad.2 sama dengan penatalaksanaan gangguan depresi.
3. Terapi dengan medikamentosa
a. Sinonim : Mood modulator, mood stabilizers, anti mania
b.Obat acuan : Lithium Carbonate, Asam Valproat, Oxcarbamazepin
c. Pemilihan obat dan dosis :
- Lithium Carbonate : sangat toksik, kurang tersedia di pasaran, sehingga
jarang dipakai.
- Asam valproat : 15-20mg/ kg bb hari, 250-500mg/hari

- Haloperidol : dosis sama seperti pemakaian pada pasien psikotik gelisah : 2-3x
2,5 5 mg/hg (d.a. 5-15 mg/hr)
- Karbamazepin : Pemakiannya harus pada pasien tanpa gangguan ginjal (tes
faal ginjal dulu ) dan kelainan darah (efek samping agranulositosis ). Dosis 2-3 x
200 mg/hr (d.a. 400 600 mg/hr).

GANGGUAN NEROTIK, GANGGUAN SOMATOFORM DAN


GANGGUAN TERKAIT STRES

BATASAN
Gangguan nerotik, gangguan somatoform dan gangguan terkait stres merupakan
kelompok gangguan mental yang egosdistonik dengan gejala atau kumpulan gejala yang
tidak mempunyai dasar organik. Pasien tetap mempunyai tilikan (insight) dan daya nilai
terhadap realitas tidak terganggu. Perilakunya dapat terganggu namum masih dalam batasbatas norma sosial dan kepribadianya tetap utuh.

PENGGOLONGAN:
Pengolongan berdasarkan gejala-gejala klinik yang menonjol.
Penggolongan menurut PPDGJ III adalah sebagai berikut :
F40. GANGGUAN ANXIETAS FOBIK , antara lain :
F40.0

: Agorafobia dengan atau tanpa serangan panik

F40.1

: Fobia sosial

F40.2

: Fobia khas

F41. GANGGUAN ANXIETAS LAINNYA, antara lain :


F41.0

: Gangguan panik

F41.1

: Gangguan anxietas menyeluruh

F41.2

: Gangguan campuran antara anxietas dan depresi

F41.3

: Gangguan anxietas campuran lainnya

F42. GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF, antara lain :


F42.0

: Ganguan obsesif-kompulsif predominan pikiran obsesif

F42.1

: Gangguan obsesif-kompulsif predominan tindakan kompulsif

F42.2

: Campuran pikiran obsesif dan tindakan kompulsi

F43.REAKSI TERHADAP STRES BERAT DAN GANGGUAN PENYESUAIAN


F43.0

: Reaksi stres akut

F43.1

: Gangguan stres pasca trauma

F43.2

: Gangguan penyesuaian

F44. GANGGUAN DISOSIATIF


F44.0

: Amnesia disosiatif

F44.1

: Fugue disoisatif

F44.2

: Stupor disosiatif

F44.3

: Ganguan trans dan kesurupan

F44.4

: Gangguan motorik disosiatif

F44.5

: Konvulsif disosiatif

F44.6

: Amnesia dan kehilangan sensori disosiatif

F45. GANGGUAN SOMATOFORM


F45.0

: Gangguan somatisasi

F45.1

: Gngguan somatoform tak terinci

F45.2

: Gangguan hipokondrik

F45.3

: Disfungsi otonomik somatoform

F45.4

: Ganguan nyeri somatoform menetap

F48.GANGGUAN NEROTIK LAINNYA


F48.0

: Neurastenia

F48.1

: sindroma depresonalisasi-derealisasi

F48.8

: Ganguan neurotik lainnya YDT

F48.9

: Gangguan neurotik YTT

PEDOMAN DIAGNOSTIK
F.40. GANGGUAN ANXIETAS FOBIK :

Anxietas dicetuskan oleh adanya situasi atau objek yang jelas, yang
sebenarnya pada saat kejadian tidak membahayakan.

Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan rasa terancam

F41.0. GANGGUAN PANIK :


Untuk diagnosis pasti, harus ditemukan adanya beberapa kali serangan anxietas berat (severe
attack of autonomic anxiety) dalam masa kira- kira 1 bulan:

Pada keadaan-keadaan dimana sebenarnya tidak berbahaya

Tidak terbatas pada situasi yang telah diduga atau diketahui sebelumnya

Pada periode antara serangan panik, relatif bebas dari anxietas

F41.1 GANGGUAN CEMAS MENYELURUH :


Gejala kecemasan sebagai gejala primer hampir berlangsung setiap hari selama beberapa
minggu atau beberapa bulan dan tidak terbatas pada situasi tertentu. Gejala-gejala tersebut
mencakup :

Kecemasan (Khawatir akan nasib buruk , sulit konsentrasi, dsb)

Ketegangan motorik (gelisah, gemetaran, sakit kepala, tidak dapat santai)

Overaktifitas otonomik (berkeringat, jantung berdebar, sesak nafas, keluhan lambung,


pusing, mulut kering, dsb)

F42. GANGGUAN OBSESIF-KOMULSIF:

Gejala obsesif atau tindakan kompulsif atau kedua-duanya harus ada mampir setiap
hari selama sediktnya 2(dua) minggu berturut-turut

Gejala obsesif harus mencakup sbb:


- Disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri
- Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan.
- Gagasan, bayangan, pikiran atau impuls diri sendiri tersebut merupakan pengalaman
yang tidak menyenangkan

F43. REAKSI TERHADAP STRES BERAT DAN GANGGUAN PENYESUAIAN :


F43.0. REAKSI STRES AKUT :

Harus ada kaitan waktu antara kejadian atau pengalaman stres dengan onset gejala
yaitu beberapa menit atau segera setelah kejadian.

Gejala dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam)

F43.1 GANGGUAN STRES PASCA TRAUMA :

Gangguan ini timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik berat.

Sebagai tambahan, didapat bayang-bayang atau mimpi-mimpi dari kejadian traumatik


tersebut secara berulang.

F43.3 GANGGUAN PENYESUAIAN :

Onset bisaanya terjadi dalam 1 bulan setelah kejadian dan gejala bisaanya melebihi 6
bulan

F44. GANGGUAN DISOSIATIF/KONVERSI :

Gejala utama ada kehilangan (sebagian atau seluruh) integrasi normal (dibawah
kendali kesadaran) antara lain:
- Ingatan masa lalu
- Kesadaran identitas dan penginderaan
- Kontrol terhadap gerakan tubuh

Pedoman diagnostik :

Tidak ada bukti adanya gangguan fisik yang dapat menjelaskan gejala-gejala tersebut

Terdapat bukti adanya penyebab psikologis dalam bentuk kaitan waktu yang jelas
dengan problem, kejadian-kejadian yang stresful atau hubungan interpersonal yang
terganggu

F45. GANGGUAN SOMATOFORM:

Pedoman diagnostik :
-

Adanya keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak


dapat dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik yang
berlangsung sedkitnya 2 tahun.

Tidak mau menerima nasehat dan penjelasan beberapa dokter


bahwa tidak ada kelainan fisik

Terdapat disabilitas fungsi dalam keluarga dan masyarakat.

PENATALAKSANAAN

A. PSIKOTERAPI, dengan tujuan :


-

Meringankan gangguan emosional yang ada

Mengubah perilaku yang terganggu dan mengembangkan kepribadian secara


positif

Meningkatkan kemampuan dalam mengatasi persoalan hidup

B. SOMATOTERAPI
Farmakoterapi dengan anti cemas dan bila perlu dengan anti depresi.
Golongan Benzodiazepin.

Nama obat
Alprazolam

ANSIOLITIK
Dosis
Dosis Awal :
3 x 0,5 mg Po
Dapat dinaikkan max 4
mg/hr atau berdasarkan
respons pasien
Dosis pemeliharaan :
GAD : 0,5 -4 mg/hr Oral
Gangguan Panik: 0,5 mg/hr
3 x atau sebelum tidur
naikkan dosis 0,25 1 mg
setiap 3 hari tecapai dosis
terapeutik
Dosis maksimal 1 mg/hr

Bromazepam
Cemas ringan-sedang : 1,56 mg Po 3 x Hr
Berat : 6-12 mg PO 3 x Hr
Dosis maksimal 60 mg/hr
dalam dosis terbagi
Klobazam
10- 100 mg/hr PO dalam
dosis terbagi 3-4 kali /hari
Klonazepam
Dosis awal : 20 mg/hr PO
Diazepam
2 mg Po 3 x H
Dapat ditingkatkan 15 -30
mg/H PO
Lorazepam
Dosis awal : 2 mg/H PO
dalam dosis terbagi naikan
atau turunkan 0,5 mg
Dosis pemeliharaan : 1-4
mg/ H Po
Nitrazepam
5-10 mg PO saat akan tidur

Keterengan
Reaksi yang merugikan :
- Ketergantungan dan gejala
putus zat dapat terjadi
khususnya pada pasien
dengan
riwayat
ketergantungan obat.
- Efek pada susunan syaraf
pusat :
- sering sedasi , Ngantuk,,
otot
terasa
lemas,
gangguan keseimbangan
(ataksia)
- jarang : bicara pelo,
vertigo, sakit kepala,
kebingungan
Gejala akan menghilang.
- dapat terjadi kegembiraan
yang paradoks
Perhatian khusus :
- Mulailah dengan dosis
rendah dan naikan dosis
secara perlahan sesuai
dengan respon pasien
- pasien dengan usia lanjut
dimulai dengan dosis
yang lebih rendah
-Penggunaan jangka pendek
untuk
menghindari
ketergantungan dan gejala
putus zat
- Untuk menghindari gejala
rebound atau putus zat,
hentikan
pengobatan
secara bertahap untuk
beberapa minggu atau
bahkan lebih
- Berhati-hati penggunaan
pada
pasien
dengan
kerusakan hati dan ginjal
dalam dosis terbagi

Pedoman pemakaian golongan benzodiazepine :

Sebaiknya tidak lebih dari 2 minggu,untuk menghindari efek ketergantungan.

Penghentian secara bertahap

Hati-hati pada usia lanjut.

Golongan Non Benzodiazepin : Buspiron

Dosis : 20 30 mg/hr

Keuntungan :
-

Tidak ada efek ketergantungan

Efek sedasi ringan/tidak ada

Terutama pada gejala somatik yang menonjol

C.

TERAPI PERILAKU

Terapi desensitisasi : Secara bertahap mulai dari yang ringan, melatih pasien
menghadapi stimulus yang membuat cemas.

Terapi relaksasi

TERAPI ANJURAN PADA BEBERAPA GANGGUAN NEUROTIK

1.

GANGGUAN ANXIETAS FOBIK :


a.

Psikoterapi

b.

Terapi perilaku : desensitisasi

c.

Farmakoterapi
- Alprazolam (Xanax)

: 3 x 0,25 1 mg

- Amitriptilin

: 2 x 25-50 mg

- Golongan benzodiazepin

2. GANGGUAN ANSIETAS MENYELURUH:


a.

Psikoterapi

b.

Terapi perlaku : relaksasi

c.

Farmakoterapi :
- Buspiron
- Alprazolam

: 3 x 0,25-1 mg

- golongan benzodiazepin

3. GANGGUAN DISOSIATIF
a. Pada saat serangan dapat diberikan injeksi diazepam 5 10 mg secara i.v. pelan,
diturunkan dengan per os, selama paling lama 2 minggu.
b. . Psikoterapi

4. GANGGUAN SOMATOFORM
a. Psikoterapi
b. Farmakoerapi:
- Benzodiazepin, setelah 2 minggu dilanjutkan buspiron
- Antidepresan
5. GANGGUAN PENYESUAIAN :
a. Psikoterapi
b. Farmakoterapi :
- Anti cemas

: Diazepam

- Anti depresan

: Golongan trisiklik

RETARDASI MENTAL

BATASAN
Merupakan suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap yang
timbul sebelum umur 18 tahun , yang ditimbulkan oleh fungsi intelektual umumnya (kognitif,
bahasa, motorik dan sosial) dibawah rata-rata serta adanya hendaya dalam perilaku adaptif.
Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan fisik dan gangguan jiwa.

ETIOLOGI
a. Faktor Biologis :

Kelainan kromosom (sondroma down)

Kelainan metabolik (Phenilketonuria)

Gangguan pre dan perinatal

b. Faktor Psikososial

Deprivasi psikososial

Kurangnya stimulasi yang disebabkan pendidikan orang tua rendah atau


orang tua sakit-sakitan

c. Kombinasi antara faktor-faktor: Genetika, lingkungan dan faktor biologis.

PEDOMAN DIAGNOSIS

Harus ada penurunan tingkat intelektual yang mengakibatkan berkurangnya


adaptasi terhadap tuntunan dari lingkungan sosial normal sehari hari.

Gangguan fisik atau jiwa yang menyertai dapat mempunyai pengaruh besar
terhadap gambaran klinis dan tingkat keterampilannya. Penilaian harus
berdasarkan kemampuan global dan bukan atas suatu hendaya atau
keterampilan klinis.

PENGGOLONGAN / KLASIFIKASI
I.Q ( = Intelegensia Quotient ) bukanlah merupakan satu-satunya patokan untuk
menentukan berat ringannya retardasi mental. Sebagai kriteria dapat juga dipakai kemampuan
untuk dididik atau dilatih dan kemampuan sosial atau kerja (okasional).

TINGKAT
RM
Ringan

Sedang

Berat

Sangat berat

PEMBAGIAN TINGKAT INTELEGENSIA


ISTILAH
I.Q
PATOKAN
SOSIAL
Debil/tolol
50 - 69
Dapat mencari
nafkah secara
sederhana
Imbisil/ dungu
35 - 49
Tidak
apat
mencari nafkah.
Dapat
mengenal
bahaya
20 - 34
Tidak
apat
mencari nafkah.
Dapat
mengenal
bahaya
Idiot/ pander
< 20
Tidak mengenal
bahaya. Tidak
dapat mengurus
diri

PATOKAN
PENDIDIKAN
Dapat
dilatih
dan dididik di
sekolah khusus.
Dapat dilatih,
tidak dapat di
dididik

Dapat dilatih,
tidak dapat di
dididik

Tak
dapat
dididik dan tak
dapat dilatih

PENATALAKSANAAN
1. Konseling pada orang tua dilakukan secara fleksible dan praktis dengan tujuan antara
lain membantu mereka mengatasi frustasi.
2. Pendidikan dan latihan khusus sebaiknya di sekolah luar bisaa (SLB C untuk tuna
grahita):
-

Mempergunakan dan mengembangkan sebaik-baiknya kapasitas yang ada.

Memperbaiki sifat-sifat yang salah atau anti sosial.

Mengajarkan keterampilan (skill) agar anak kelak dapat mencari nafkah.

3. Pada keadaan gelisah, hiperaktif atau destruktif :


-

Dapat diberikan Neuroleptikum : haloperidol degan dosis 0,075 mg/kg


BB/hr.

- dapat diberikan obat-obat yang memperbaiki metabolisme sel otak.

GANGGUAN HIPERKINETIK

BATASAN
Gangguan Hiperkinetik adalah kelainan tingkahlaku, dengan gejala utama tak dapat
memusatkan perhatian, serta tingkah laku impulsif, yang tak sesuai dengan taraf
perkembangan.

ETIOLOGI
Disebabkan oleh disfungsi SSP. Akibat :
1. Kerusakan otak
2. Kelambatan kematangan otak
3. Genetika
4. Nerotransmiter

CARA PEMERIKSAAN

Heteroanamnesis orang tua mengenai riwayat psikososial dan tingkahlaku


anak

Laporan guru saat anak dalam kelas

Tes Bender Gestalt atau Tes Frostig, guna mengetahui gangguan persepsi
visual- motor

Pemerikasaan Neurologik, untuk mengetahui gangguan koordinasi motorik


kasar dan halus (Soft Neurological Sign)

Pemeriksaan EEG, terutama bila ada anamnesis gejala kejang atau epilepsi

PEDOMAN DIAGNOSTIK

Ciri utama: berkurangnya perhatian dan aktifitas berlebihan.

Berkurangnya perhatian, tampak dari dihentikannya tugas terlalu dini, dan


ditinggalkannya tugas sebelum selesai tuntas. Kegiatan mudah beralih dari
satu kegiatan ke kegiatan yang lain.

Hiperakitivitas, dinyatakan dalam kegiatan yang berlebihan, dalam situasi


yang menuntut keadaan yang relatif tenang.

Gambaran penyerta tak cukup/ perlu bagi diagnosis, namum dapat


mendukung.

Gangguan belajar dan kekakuan motorik sangat sering terjadi, harus dicatat
secara terpisah

PENATALAKSANAAN
1. Terapi obat-obatan
Stimulansia: Dekstroamphetamine 0,15 mg/kg BB/hr diberikan pagi dan
siang hari (jangan diberikan pada anak usia 6 tahun, dapat menghambat
pertumbuhan)
Antidepresan Trisklik : Imipramine 1,5 mg/kg BB/hr (jangan diberikan pada
anak dengan kelainan jantung atau epilepsi)
Benzodiazepin : Diazepam 0,2 0,5 mg/kg BB/hr
Antihistamin : Diphenhydramine 4-6 mg/kg BGB/hr
Neuroleptika : Haloperidol 0,025 0,075 mg/kg BB/hr (jangan diberikan
pada anak usia 6 tahun, karena efek samping berupa gejala ekstrapiramidal)
2. Psikoterapi suportif
3. Modifikasi tingkah laku
4. Bimbingan bagi orang tua
5. Bimbingan bagi guru

TATALAKSANA GANGGUAN BIPOLAR

Defenisi : Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan
ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depersi dan campuran , bisaanya
rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup.
Manifestasi Klinik:
1. Episode manik
Paling sedikit satu minggu (bisa kurang, bila dirawat) pasien mengalami mood yang
elasi, ekspansif atau iritabel. Pasien memiliki secara menetap tiga atau lebih gejala
berikut yaitu:
-

Grandiositas atau percaya diri berlebihan

Berkurangnya kebutuhan tidur

Cepat dan banyaknya pembicaraan

Lompatan gagasan atau pikiran berlomba

Perhatian mudah teralih

Peningkatan energi dan hiperaktivitas psikomotor

Meningkatnya akitivitas bertujuan( sosial,seksual,pekerjaan dan sekolah)

Tindakan-tindakan sembrono (ngebut, boros,investasi, tanpa perhitungan


yang matang)

Gejala yang derajatnya berat dikaitkan dengan penderita, gambaran psikotik,


hospitalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain, serta adanya gangguan fungsi
sosial dan pekerjaan.

2. Episode Depresi Mayor


Paling sedikit dua minggu pasien mengalami lebih dari empat symptom/tanda yaitu:
-

mood depresif atau hilangnya minat atau rasa senang

menurun atau meningkatnya berat badan atau nafsu makan

Sulit atau banyak tidur

Agitasi atau retardasi psikomotor

Fatig atau berkurangnya tenaga

Menurunnya harga diri

Ide-ide tentang rasa bersalah, ragu-ragu dan menurunnya konsentrasi

Pesimis

Pikiran berulang-ulang tentang kematian, bunuh diri(dengan atau tanpa


rencana) atau tindakan bunuh diri

Gejala gejala di atas menyebabkan penderita atau mengganggu fungsi personal,


sosial atau pekerjaan.

3. Episode Campuran
Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi
secara bersamaan. Misalnya , mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel,
marah, serangan panik, pembicaraan cepat,agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia
derajat berat, grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang
bingung. Kadang-kadang gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk
melindungi pasien atau orang lain, dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu
fungsi personal, sosial dan pekerjaan.

4. Episode Hipomanik
Paling sedikit empat hari, secara menetap, pasien mengalami peningkatan mood,
ekspansif atau iritabel yang ringan, paling sedikit tiga gejala ( empat gejala bila mood
iritabel) yaitu:
-

Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri

Berkurangnya kebutuhan tidur

Meningkatnya pembicaraan

Lompat gagasan atau pikiran berlomba

Perhatian mudah teralih

Meningkatnya aktivitas atau agitasi psikomotor

Pikiran menjadi lebih tajam

Daya nilai berkurang

Tidak ada gambaran psikotik (halusinasi, waham, atau perilaku atau pembicaraan
aneh), tidak memerlukan hospitalisasi dan tidak mengganggu fungsi personal, sosial
dan pekerjaan.

Diagnosis GB menurut kritria diagnostik ICD-10


(F.30.0.) Hipomania
Paling sedikit, selama empat hari, secara persisten terjadi peningkatan mood atau mood
iritabel yang derajatnya ringan dan disertai dengan tiga gejala berikut yaitu meningkatnya
energi dan aktivitas, meningkatnya sosiabilitas, banyaknya bicara, lebih ramah, perilaku
ceroboh dan meningkatnya energy seksual, berkurangnya kebutuhan tidur, dan sulitnya
berkonsentrasi dan distraktibilitas. Gejala-gejala diatas tidak menyebabkan gangguan berat
fungsi pekerjaan dan penolakan sosial. Gangguan mood dan perilaku tidak disertai oleh
adanya halusinasi atau waham.
(F.30.1.) Mania Tanpa Simtom Psikotik
Paling sedikit, selama 1 minggu (bisa kurang bila pasien mendapat perawatan), secara
persisten, terjadi peningkatan mood (elasi, ekspansif) atau iritabel yang tidak bergantung
kepada suasana lingkungan pasien. Paling sedikit ditemui tiga gejala berikut yaitu
meningkatnya aktivitas atau kegelishan fisik, desakan berbicara, lompatan gagasan atau
berlombanya isi pikiran, hilangnya inhibisi sosial, berkurangnya kebutuhan tidur,
distraktibilitas, berubah-ubahnya perencanaan, melambungnya harga diri, banyaknya ide-ide
kebesaran, perilaku ceroboh, dan meningkatnya gairah seksual.
(F.30.2) Mania dengan Simtom Psikotik
Sama dengan simtom-simtom di atas dan ditambah dengan adanya waham (bisaanya waham
kebesaran) atau halusinasi (bisaanya suara-suara yang berbicara langsung kepada pasien) atau
adanya gaduh gelisah, aktivitas motorik yang berlebihan, dan lompatan gagasan yang sangat
berlebihan sehingga pasien tidak mungkin melakukan komunikasi seperti bisaanya.
(F.31) Gangguan Afektif Bipolar
Episode mania atau hipomania multiple atau depresi dengan mania/hipomania, episode saat
ini seperti yang didefinisikan di atas atau di bawah ini.
(F.31.6) Gangguan Afektif Bipolar, Saat Ini episode Campuran
Sebelumnya, pasien mengalami, paling sedikit, satu episode campuran, depresi, mania atau
hipomania dan saat ini, mempertahankan suatu campuran atau pergantian yang cepat antara
simtom mania dengan depersi.
(F.32) Episode Depresi
Paling sedikit, selama dua minggu, pasien mengalami penurunan mood, pengurangan energi
dan aktivitas. Berkurangnya kemampuan merasakan rasa senang, penurunan konsentrasi dan
minat. Pasien merasa lelah, berkurangnya nafsu makan, dan gangguan tidur. Berkurangnya
rasa percaya diri, adanya rasa tidak berguna atau ide-ide bersalah. Mood tidak berespons

terhadap lingkungan, dan disertai dengan simtom somatik misalnya, hilangnya minat dan rasa
senang, terbangun dini hari, depresi memburuk di pagi hari, retardasi atau agitasi psikomotor,
berkurangnya nafsu makan dan libido.
Episode depresi dispesifikasi sebagai derajat ringan (paling sedikit empat gejala), sedang
(paling sedikit enam gejala dan kesulitan secara terus-menerus dalam berakitivitas rutin) atau
berat paling sedikit delapan gejala dan gejala tersebut sangat nyata dan menimbulkan
penderitaan).

Penatalaksanaan Kedaruratan Agitasi Akut pada Gangguan Bipolar


Lini I

Injeksi IM Aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan


episode mania atau campuran akut. Dosis adalah 9,75 mg/injeksi. Dosis
maksimum adalah 29,25 mg/hr (tiga kali injeksi per hari dengan interval dua
jam). Berespon dalam 45-60 menit.

Injeksi IM Olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode


mania atau campuran akut. Dosis 10 mg/ injeksi. Dosis maksimum adalah 30
mg/hr. berespons dalam 15-30 menit. Interval pengulangan injeksi adalah
dua jam. Sebanyak 90 % pasien menerima hanya satu kali injeksi dalam 24
jam pertama. Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum lorazepam 4
mg/hr. dapat diberikan bersamaan dengan injeksi IM Aripiazol atau
Olanzapin. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik karena mengganggu
stabilitas antipsikotika.

Lini II

injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi Dapat diulangi setelah 30


menit. Dosis maksimum adalah 15 mg/hari

injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi, dapat diberikan bersamaan


dengan injeksi haloperidol IM. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.

Terapi farmakologi episode Mania


Rekomendasi Terapi farmakologi pada Mania Akut
Lini I : Litium, divalproat, olanzapin, risperdon, quetiapin XR, aripiprazol,litium atau
divalproat + risperidon, litium atau divalproat + quetiapin, litium atau divalproat +
olanzapin, litium atau divalproat + aripiprazol

Lini II : Karbamazepin, TKL (terapi kejang listrik), litium + divalproat, paliperidon


Lini III: Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat haloperidol, litum +
karbamazepin, klozapin.
Penatalaksanaan pada Episode Depesi Akut, GB I
Lini I
Lini II
Lini III

Lini I

Lini Ii

Lini III

Lini I
Lini II

Lini III

Lini I
Lini II

Lini III

Litium,lamotrigin, quetiapin,quetiapin XR, litium atau


divalproat + SSRI, olanzapin + SSRI, litium + divalproat
Quetiapin + SSRI, divalproat, litium atau divalproat +
lamotrigin
Karbamazepin, olanzapin, litium + karbamazepin, litium atau
divalproat + venlafaksin, litium + MAOI, TKL, litium atau
divalproat atau AA + TCA, litium atau divalproat atau
karbamazepin + SSRI + lamotrigin, penambahan topiramat.

Rekomendasi Trerapi Rumatan pada GB I


Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin,
litium atau divalproat + quetiapin, risperidon injeksi jangka
panjang (RIJP), penambaan RIJP, ari[iazol
Karbamazepin,litium + divalproat,litium + karbamazepin, litium
atau divalproat + olanzepin,litium + risperidon,litium +
lamotrigin, olanzapin + fluoksetin
Penambahan fenitoin,penambhaan olanzapin, panambahan
ECT, penambahan topiramat, penambahan asam lemak omega3, penambahan okskarbazepin
Rekomenadsi Terapi Akut Depresi, GB II
Quetiapin
Litium,lamotrigin, divalproat,litum atau divalproat +
antidepresan, litium + divalproat, antipsikotika atipik +
antidepresan
Antidepresan monoterapi (terutama untuk pasien yang jarang
mengalami hipomania)
Rekomendasi Terapi Rumatan, GB II
Litium, lamotrigin
Divalproat, litium atau divalproat atau antipsikotika atipik +
antidepresan, kombinasi dua dari: litium, lamotrigin, divalproat,
atau antipsikotik atipik.
Karbamazepin, antipsikotika atipik, ECT.

Obat-obat yang dapat digunakan pada Gangguan Bipolar


Stabilisator mood
1. Litium
Litium sudah digunakan sebagai terapi mania akut sejak 50 tahun yang lalu. Ia lebih
superior bila dibandingkan dengan placebo.

Farmakologi

: sejumlah kecil litium terkait dengan protein. Litium diekskresikan


dalam bentuk utuh hanya melalui ginjal.

Indikasi

: Episode mania akut, depersi, mencegah bunuh diri dan bermanfaat


sebagai terapi rumatan GB.

Dosis
-

:
respons litium terhadap mania akut dapat dimaksudkan dengan mentitrasi
dosis hingga dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0 1,4 mEq/L.
Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari.

Dosis awal yaitu 20 mg/kg/hr. dosis untuk mengatasi keadaan akut lebih
tinggi bila dibandingkan dengan untuk terapi rumatan

Untuk terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4 0,8 ,Eql/L. Dosis kecil dari
0,4 mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala toksisitas
litium dapat terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.

Efek samping
-

mual, muntah, tremor, somnolen, penambahan berat badan, dan penumpulan


kognitif.

Neurotoksisitas, delirium dan ensefalopati dapat terjadi akibat penggunaan


litium. Neurotoksisitas bersifat irreversible. Akibat intoksikasi litium.

Defisit neurology permanent dapat terjadi misalnya, ataksia, defisit memori


dan gangguan pergerakan.

Poliuri

Untuk mengatasi intoksikasi litium, hemodialisis harus segera dilakukan. Litium dapat
merusak tubulus ginjal. Faktor risiko kerusakan ginjal adalah intoksikasilitium, polifarmasi
dan adanya penyakit fisik lainnya, pasien dianjurkan untuk banyak meminum air.

Pemeriksaan Laboratorium.
Sebelum memberikan litium, fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) dan fungsi tiroid, harus
diperiksa terlebih dahulu. Untuk pasien yang berumur diatas 40 tahun, pemeriksaan EKG
harus dilakukan, Fungsi ginjal harus diperiksa setiap 2-3 bulan dan fungsi tiroid dalam enam
bulan pertama. Setelah enam bulan, fungsi ginjal dan tiroid diperiksa sejak dalam 6-12 bulan
atau bila ada indikasi.
Wanita hamil
Penggunaan litium pada wanita hamil dapat menimbulkan malformasi janin. Kejadiannya
meningkat bila janin terpapar pada kehamilan yang lebih dini. Wanita dengan GB yang
derajatnya berat, yang mendapat rumatan litium, dapat melanjutkan litium selama kehamilan
bila ada indikasi secara klinis. Kadar litium darahnya harus dipantau dengan seksama.
Pemeriksaan USG untuk memantau janin, harus dilakukan. Selama kehamilannya, wanita
tersebut harus disupervisi oleh ahli kebidanan dan psikiater. Sebelum kehamilan terjadi,
risiko litium terhadap janin dan efek putus litium terhadap ibu harus didiskusikan.

II. Valproat
Valproat merupakan obat antiepilepsi yang disetujui oleh FDA sebagai antimania.
Valproat tersedia dalam bentuk :
1. Preparat oral;
-

Sodium divalproat,tablet salut, proporsi antara asam valproat dan sodium


valproat sama

Asam valproat

Sodium Valproat

Sodium divalproat, kapsul yang mengandung partikel-partikel salut yang


dapat dimakan secara utuh atau terbuka dan ditaburkan kedalam makanan.

Divalproat dalam bentuk lepas lambat, dosis sekali sehari.

2. Preparat intravena
3. preparat supositoria

Farmakologi
Terikat dengan protein. Diserap dengan cepat setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak
plasma valproat sodium dan asam valproat lepas lambat lebih cepat bila dibandingkan dengan
tablet bisaa. Absorbsi menjadi lambat bila obat diminum bersamaan dengan makan.

Ikatan valproat dengan protein meningkatkan bila mengandung rendah lemak dan menurun
bila diet mengandung tinggi lemak.

Dosis
Dosis terapeutik untuk mania : 45 125 g/mL
Untuk GB II dan siklotimia : < 50 g/mL
Dosis awal untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250-500 mg/hari dan
dinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45-125 g/mL
Efek samping, misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan penurunan lekosit serta
trombosit dapat terjadi bila konsentrasi serum > 100 g/mL. Untuk terapi rumatan,
konsentrasi valproat dalam plasma yang dianjurkan adalah anatara 75-100 g/mL..

Indikasi
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut, terapi rumatan GB,
mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan litium, siklus cepat, GB pada anak dan
remaja, serta GB pada lanjut usia.

Efek Samping
Valproat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat terjadi, misalnya anoreksia, mual,
muntah, diare, dispepsia, peningkatan (derajat ringan) enzim transaminase, sedasi dan tremor.
Efek samping ini sering terjadi pada awal pengobatan dan berkurang dengan penurunan dosis
atau dengan berjalannya waktu. Efek samping gastrointestinal lebih sering terjadi pada
penggunaan asam valproat dan valproat sodium bila dibandingkan dengan tablet salut sodium
divalproat.

3.Lamotrigin
Lamotrigin efektif untuk mengatasi episode bipolar depresi, ia menghambat kanal Na+.
Selain itu, ia juga menghambat pelepasan glutamate.
Farmakokinetik : Lamotrigin oral diabsorbsi dengan cepat. Ia dengan cepat melewati
sawar otak dan mencapai konsentrasi puncak dalam 2-3 jam. Sebanyak
10 % lamotrigin diekskresikan dalam bentuk utuh.
Indikasi

: Efek untuk mengobati episode depresi, GBI dan GB II, baik akut
maupun rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.

Dosis

: Berkisar antara 50-200 mg/hari

Efek Samping : Sakit kepala,mual,muntah,pusing,mengantuk, tremor dan berbagai


kemerahan di kulit.

Antipsikotik Atipik
Antipsikotik atipik, baik monoterapi maupun kombinasi terapi, efektif sebagai terapi lini
pertama untuk GB. Beberapa antipsikotika atipik tersebut adalah olanzapin, risperdon,
quetiapin, dan aripiprazol.

1.Risperidon
Risperidon adalah derivate benzisoksazol. Ia merupakan antipsikotika atipik pertama
yang mendapat persetujuan FDA setelah klozapin.

Absorbsi
Risperidon diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. Ia dimetabolisme oleh enzim
hepar yaitu CYP 2 D6.

Dosis
Risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu tablet dan cairan.
- Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan hingga
mencapai dosis 4 mg/hr. sebagian besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hr.Risperidon
injeksi jangka panjang (RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB.
-

Dosis yang dianjurkan untuk dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua
minggu. Bila tidak berespons dosis dapat dinaikkan menjadi 37,5 mg 50
mg per dua minggu.

Indikasi
Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi rumatan
Efek samping
Sedasi, fatig, pusing ortostatik, palpitas, peningkatan berat badan, berkurangnya gairah
seksual, disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada risperidon bila dibandingkan dengan
pada placebo. Meskipun risperidon tidak terikat secara bermakna dengan reseptor
kolinergik muskarinik, mulut kering, mata kabur, dan retensi urin, dapat terlihat pada
beberapa pasien dan sifatnya hanya sementara. Peningkatan berat badan dan prolaktin
dapat pula terjadi pada pemberian risperidon.

Olanzapin
Olanzapin merupakan derivate tienobenzodiazepin yang memiliki afinitas terhadap
dopamine, D2, D3,D4 dan D5, serotonin2 (5-HT2); muskarinik,histamine 1 (HI) dan 1
Adrenergik.
Indikasi
Olanzapin untuk bipolar episode akut mania dan campuran, juga efektif untuk terapi rumatan
Gangguan Bipolar.
Dosis
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari
Efek samping
Sedasi dapat terjadi pada awal pengobatan tetapi berkurang setelah beberapa lama. Efek
antikolinergik dapat pula terjadi tetapi kejadiannya sangat rendah dan tidak menyebabkan
penghentian pengobatan. Risiko terjadinya diabetes tipe -2 relatif tinggi bila dibandingkan
dengan antipsikotik atipik lainnya. Keadaan ini dapat diatasi dengan melakukan
psikoedukasi, misalnya merubah gaya hidup, diet dan latihan fisik.

Quetiapin
Quetiapin merupakan suatu derivate dibenzotiazepin yang bekerja sebaai antagonis 5- HTIA
dan 5-HT2A, dopamine D1,D2, histamin H1 serta reseptor adrenergic 1 dan 2.
Afinitasnya rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap serotonin 5-HT2A
Dosis
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hr.Tersedia dalam bentuk
tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100 mg, 200 mg dan 300 mg, (2 x / hari)
Selain itu, juga tersedia quetiapin XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.

Indikasi
Quetiapin efektif untuk GB1 dan II, episode manik, depresi, campuran, siklus cepat, baik
dalam keadaan akut maupun rumatan.
Efek Samping
Quetiapin secara umum ditolenrasnsi dengan baik. Sedasi merupakan efek samping yang
sering dilaporkan. Efek samping ini berkurang dengan berjalannya waktu. Perubahan dalam
berat badan dengan quietiapin adalah sedang dan tidak menyababkan penghentian
pengobatan. Peningkatan berat badan lebih kecil bila dibandingkan dengan antipsikotika
atipikal.

Aripiprazol
Aripiprazol adalah stabilisator sistem dopamine serotonin.
Farmakologi
Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2,D3 dan 5- HTIA serta antagonis 5HT2A. ia juga mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptor D3, afinitas sedang pada D4, 5HT2c, 5-HT7, 1 adrenergic, histaminergik (H1), dan serotin reuptake site (SERT), dan
tidak terikat dengan reseptor muskarinik kolinergik.

Dosis
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20 dan 30 mg. Kisaran dosis efektifnya
perhari yaitu antara 10-130 mg. Dosis awal yang direkomendasikan yaitu anatara10-15 mg
dan diberikan sekali sehari. Apabila ada rasa mual, insomnia dan akatisia, dianjurkan untuk
menurunkan dosis. Beberapa klinikus mengatakan bahwa dosis awal 5 mg dapat
meningkatkan tolerabilitas.

Indikasi
Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia juga efektif untuk
terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai terapi tambahan pada GB!,epeisode
depresi.
Efek samping
Sakit kepala, mengantuk, agitasi, dispepsia, anxietas dan mual merupakan kejadian yang
tidak diinginkan yang dilaporkan secara spontan oleh kelempok yang mendapat aripiprazol.
Efek samping ekstrapiramidalnya tidak berbeda secara bermakna dangan plasebo.
Akatisia dapat terjadi dan kadang-kadang dapat sangat mengganggu pasien sehingga sering
mengakibatkan penghentian pengobatan. Insomnia dapat pula ditemui. Tidak ada
pengingkatan berat badan dan diabetes mellitus pada penggunaan aripiprazol. Selain itu,
peningkatan kadar prolaktin juga tidak dijumpai. Aripiprazol tidak menyebakan perubahan
interval QTc.
Antidepresan
Antidepresan efektif untuk mengobati GB,episode depresi. Penggunaannya harus dalam
jangka pendek. Penggunaan jangka panjang berpotensi menginduksi hipomania atau mania.
Untuk menghindari terjadinya hipomania dan mania, antidepresan hendaklah dikombinasi
dengan stabilisator mood atau dengan antipsikotika atipik.

Intervensi Psikososial
Intervensi Psikososial meliputi berbagai pendekatan misalnya, cognitive behavioral therapy
(CBT), terapi keluarga,terapi interpersonal, terapi kelompok, psikoedukasi, dan berbagai
bentuk terapi psikologi atau psikososial lainnya. Intervensi psikososial sangat perlu untuk
mempertahankan keadaan remisi.

TATALAKSANADIAGNOSIS DAN GANGGUAN ANXIETAS

DEFINISI ANXIETAS
Anxietas adalah perasaan yang difus, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu
dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa
reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan
ini di dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan,
sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besar. Perasaan ini disertai dengan rasa
ingin bergerak dan gelisah (Harold I. LIEF)
Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan
bahaya atau frustasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa keamanan,
keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya (J.J GROEN)

GEJALA UMUM
Gejala psikologik : ketegangan,kekuatiran,panik, perasaan tak nyata, takut mati, takut gila,
takut kehilangan kontrol dan sebagainya.
Gejala fisik

:Gemetar,berkeringat,jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing,


ketegangan otot, mual, sulit bernafas,baal, diare, gelisah, rasa gatal,
gangguan di lambung dan lain-lain.

Keluhan pasien dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak nafas; rasa sakit dada; kadangkadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu yang menekan dada;jantung berdebar;
mual; vertigo; tremor; kaki dan tangan merasa kesemutan; kaki dan tangan tidak dapat diam
ada perasaan harus bergerak terus menerus; kaki merasa lemah;sehingga berjalan dirasakan
berat; kadang-kadang ada gagap dan banyak lagi keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit
tertentu. Keluhan yang dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan
gangguan anxietas kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya beberapa gejala
1 keluhan saja. Tetapi pengalaman penderitaan dan gejala ini oleh pasien yang bersangkutan
bisaanya dirasakan cukup gawat.

BENTUK GANGGUAN ANXIETAS


Gangguan panik, gangguan fobik, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan stres pasca trauma,
gangguan stres akut, gangguan anxietas menyeluruh.

GANGGUAN PANIK
Ada dua kriteria gangguan panik: gangguan panik tanpa agorapobia dan gangguan panik
dengan agrofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.

GAMBARAN KLINIS :
-

Serangan panik pertama sering kali spontan, tanpa tanda mau serangan
panik, walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan
kegembiran, kelelahan fisik, aktifitas seksual atau trauma emosional. Klinisi
harus berusaha untuk mengetahui tiap kebisaaan atau situasi yang sering
mendahului serangan panik. Serangan sering dimulai dengan periode gejala
yang meningkat dengan cepat selama 10 menit.

Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman
kematian dan kiamat. Pasien bisaanya tidak mampu menyebabkan sumber
ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingunan dan mengalami kesulitan
dalam memusatkan perhatian.

Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien
seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan bisaanya berlangsung
20 sampai 30 menit.

Agorafobia : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi dimana ia akan sulit
mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa mereka harus
ditemani setiap kali mereka keluar rumah.

GEJALA PENYERTA:
Gejala depresi sering kali ditemukan pada serangan panik dan agorafobia, pada beberapa
pasien suatu gangguan depresi ditemukan bersama-sama dengan gangguan panik. Penelitian
telah menemukan bahwa risiko bunuh diri selama hidup pada orang dengan gangguan panik
adalah lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan mental.

PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA


Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana kemungkinan sulit meloloskan
diri.situasi dihindari, misalnya jarang bepergian, kecemasan atau penghindaran fobik bukan
karena gangguan mental lain, misal fobia sosial.

PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK


Sering panik rekuren dan tidak diharapkan, sekurangnya satu serangan, diikuti satu atau
lebih: kekhawatiran menetap akan mengalami serangan tambahan, ketakutan tentang arti
serangan, perubahan perilaku bemakna berhubungan dengan serangan
Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung atau suatu kondisi medis umum.
Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain. Misal gangguan
obsesif-kompulsif. Gangguan panik bisa dengan agorafobia atau tanpa agrorafobia

TERAPI:
Konseling dan medikasi
Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan
diri untuk mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan.
identifikasikan rasa takut selama serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak
mengalami serangan jantung, hanya panik akan berlalu.
Medikasi; Banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila
serangan sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depersi beri antidepresan
(imipramin 25 mg malam hari, dosis bisa sampai 100-150 mg malam selama 2 minggu).Bila
serangan jarang dan terbatas beri anti anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5- 1 mg 3 dd 1
atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1 ) hindari pemberian jangka panjang dan pemberian
medikasi yang tidak perlu.

GANGGUAN FOBIK
Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang
disadari terhadap obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti.
Fobia spesifik : takut terhadap binatang, badai, ketinggian,penyakit, cedera,dsb
Fobia sosial : takut terhadap rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial seperti
berbicara di depan umum, dsb.

PEDOMAN DIAGNOSTIK:
Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak beralasan (obyek/situasi),
pemaparan dengan stimulus fobik hampir selau mencetuskan kecemasan.

Terapi
-

Konseling dan medikasi : dorong pasien untuk dapat mengatur


pernafasan,membuat daftar situasi yang ditakuti atau dihinari, didikusikan
cara-cara menghadapi rasa takut tersebut.

Bila ada depresi bisa diberi antidepresant Imipramin 50-150 mg/hr.

Bila ada anxietas beri anti-anxietas dalam waktu singkat, karena bisa
menimbulkan ketergangungan.

Beta bloker dapat mengurangi gejala fisik. Konsultasi spesialistik bila rasa
takut menetap.

GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF
Obsesif adalah pikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak
dikehendaki.
Kompulsif adalah tingkah laku yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.

PEDOMAN DIAGNOSIS
Pikiran, impuls, yang berulang. Perilaku yang berulang-ulang. Berlebihan atau tidak
beralasan, tidak disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum. Obsesif kompulsif
menyebabkan penderitaan.

DIAGNOSIS BANDING
Kondisi fisik

: - Gangguan neurologis (epilepsy lobul temporalis,kompilkasi trauma,


dsb)

Kondisi psikiatrik: - Skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif - kompulsif, fobia, gangguan


depresif.
TERAPI
-

konseling dan medikasi: mengenali,menghadapi,menentang pikiran yang


berulang dapat mengurangi gejala obsesif, yang pada akhirnya mengurangi
perilaku kompulsif

Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk


mengatasi situasi, kenali dan perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi

Bila diperlukan bisa diberikan klomipramin 100-150 mg. atau golongan


selective serotonin reuptake inhibitors.

Konsultasi spesialitstik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.

GANGGUAN STRES PASCA-TRAUMA

Pasien dapat diklasifikasikan menderita gangguan stress pasca-trauma, bila mereka


mengalmai suatu stres yang akan bersifat traumatik bagi hampir semua orang. Trauma bisa
berupa trauma peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan, kecelakaan.
Gangguan stress pasca-trauma terdiri dari : pengalamam kembali trauma melalui mimpi dan
pikiran, penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan
responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan dan persisten. Gejala penyerta
yang sering dan gangguan stres pasca-trauma adalah depresi, kecemasan dan kesulitan
kognitif (contoh pemusatan perhatian yang buruk)

PEDOMAN DIANOSTIK:
Telah terpapar dengan peristiwa traumatik, didapat:
-

mengalami, menyaksikan, dihadapkan dengan peristiwa yang berupa


ancaman kematian, atau kematian yang sesungguhnya atau cedera yang
serius, atau ancaman integritas fisik diri sendiri atau orang lain.

Respons berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya

Keadaan traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu atau lebih
cara berikut

-Rekoleksi yang menderitakan, rekuren dan mengganggu tentang kejadian

Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian

Berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali

Penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau
eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian
traumatik

Reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau aksternal


yang menyimbolkan atau menyerupai aspek kejadian traumatik.

Gejala menetap. Adanya peningkatan kesadaran, seperti dua atau lebih:


-Kesulitan tidur, irritabilitas, sulit konsentrasi, kewaspadaan berlebihan, respon kejut yang
berlebihan.lama gangguan gejala lebih dari satu bulan.

- Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna seara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain.

REAKSI STRES AKUT

Suatau gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada seseorang tanpa
adanya gangguan jiwa lain yang nyata, sebagai respons terhadap stres fisik maupun mental
yang luar bisaa dan bisaanya menghilang dalam beberapa jam atau hari. Stresornya dapat
berupa pengalaman tramatik yang luar bisaa. Kerentanan individu dan kemauan
menyesuaikan diri memegang peranan dalam terjadinya dan keparahannya suatu reaksi stres
akut.

PEDOMAN DIAGNOSTIK
-Harus ada kaitan waktu yang berlangsung dan jelas antara terjadinya pengalaman stresor luar
bisaa dengan onset dan gejala.
- Onset bisaanya setrelah bebrapa menit atau bahkan segera setelah kejadian.
- Ditemukan (a) terdapat gambaran gejala campuran yang bisaanya berubah-ubah;selain
gejala permulaan berupa keadaan terpaku, semua gejala berikut mungkin tampak:depresif,
anxietas,kemarahan,kekecewaan,oveaktif dan penarikan diri.akan tetapi tidak satupun dan
jenis gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya untuk waktu lama (b) pada
kasus-kasus yang dapat dialihkan dan stresornya,gejala-gejalanya dapat menghilang dengan
cepat(dalam beberapa jam); dalam hal diamana stres tidak dapat dialihkan,gejal-gejala
bisaanya baru mulai mendekat setelah 24-48 jam dan bisaanya menghilang setelah 3 hari.

GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH


Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap
(bertahan lama), gejala yang dominan sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang
berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi,
pusing kepala dan keluhan epigastrik adalah keluhan-keluhan yang lazim dijumpai.
Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau mengalami
kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan.

PEDOMAN DIAGNOSTIK:
Pasien harus menunjukkan gejala primer anxietas yang berlansung hampir setiap hari selama
beberapa minggu, bahkan bisaanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini bisaanya
mencakup hal-hal berikut:
Kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik, overaktivitas otonomik.
TERAPI:
-

konseling : informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya


mempunyai efek fisik dan mental, mempelajari keterampilan untuk
mengurangi dampak stres merupakan pertolongan yang paling efektif.
Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan dapat
mengurangi gejala anxietas. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau
pikiran yang pesimistik. Latihan fisik yang teratur sering menolong.

Medikasi merupakan terapi sekunder,tapi dapat digunakan jika dengan


konseling gejala menetap.medikasi anxieas:misalnya diazepam 5 mg malam
hari, tidak lebih dari 2 minggu

Beta bloker dapat membantu mengbati gejala fisik, antidepresan bila ada
depresi.

Konsultasi spesialistik bila anxietas berat dan berlangsung lebih dari 3 bulan.

Pembuatan Surat Keterangan Ahli Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa


Untuk kepentingan penegakan hukum / visum et Repertum Psychiatricum
(VeRP)
A. TUJUAN
1. VeRP tersangka menilai kondisi kejiwaan terperiksa pada saat melakukan tindak pidana
dalam kaitan dengan pertanggung jawaban pidananya.
2. VeRP korban menilai kondisi kejiwaan korban tindak pidana dalam rangka membantu
hakim mengambil keputusan terhadap pelakunya.

B. RUANG LINGKUP
Sarana pelayanan kesehatan jiwa pemerintah meliputi : Rumah Sakit Jiwa Pemerinah
Pusat dan Daerah, bagian Kedokteran Jiwa Rumah Sakit Umum Pemerintah PUsat dan
Daerah, TNI dan Polri yang terjamin keamanannya dan memiliki prasarana untuk melakukan
pengawasan.

C.URAIAN
- Surat keterangan ahli dokter spesialis kedokteran jiwa (VeRP) adalah surat keterangan
yang di buat oleh dokter spesialis kedokteran jiwa (Psikiatri) sebagai hasil pemeriksaan
psikiatrik dan observasi pada seorang terperiksa di sarana pelayanan kesehatan jiwa,
yang di minta secara resmi oleh penegak hukun untuk kepentingan peradilan.
- Dokter spesialis kedokteran jiwa pembuat VeRP adalah Dokter SpKJ yang karena
pendidikannya sudah memiliki kompetensi untuk melakukan kegiatan di bidang
psikiatri forensic, khususnya VeRP sesuai standar profesi. Untuk dapat / boleh membuat
VeRP, harus memiliki Surat Izin Prakter (SIP) di sarana pelayanan kesehatan yang
bersangkutan.
-

Pemeriksaan dan observasi psikiatrik dilakukan oleh Dokter SpKj. Dalam keadaan
tertentu.

Pemeriksaan dan observasi psikiatrik dapat dilakukan dengan membentuk tim yang
terdiri dari beberapa Dokter SpKJ, psikolog klinis, dan dokter spesialis lainnya sesuai
dengan kebutuhan. Tim diketuai oleh Dokter SpKJ.

D. PROSEDUR
1.

Terperiksa dengan diantar penegak hukum sebagai pemohon datang ke sarana


pelayanan kesehatan jiwa dengan membawa surat permintaan resmi dari penegak
hukum sebagai pemohon kepada kepala/Direktur Sarana Pelayanan Kesehatan Jiwa.

2. Pemohon yang di layani adalah :


a. Penyidik polisi, Penyidik Komisi Pembarantasan Korupsi (KPK).
b. Penuntut Umum Kejaksaan dalam hal tindak khusus, Penuntut Umum KPK.
c. Hakim Pengadilan Negeri, Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.
d.Tersangka/terdakwa/korban melalui pejabat sesuai dengan tingkatan proses
pemeriksaan.
e. Penasihat hukum / pengacara melalui pejabat sesuai dengan tingkatan proses
pemeriksaan.
3. Permintaan tertulis harus berisi :
a. Identitas lengkap pemohon (nsms,psngkst, NRP/NIP, jabatan, instansi, alamat
instansi)
b. Identitas lengkap terperiksa
c. Alasan permintaan pembuat VeRP
d. Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sebagai lampiran
4. Terperiksa di periksa tanda-tanda vital dan ditempatkan pada sarana yang terjamin
keamanannya.
5. Terperiksa diperiksa dan diobservasi psikiatrik selama lamnaya 14 (empat belas hari
dan dapat diperpanjang 14 (empat belas) hari lagi bila pemeriksaan dan observasi
psikiatrik belum selesai dengan persetujuan tertulis pemohon dan dengan
memperhatikan masa penahanan. Apabila di perlukan dapat di lakukan penunjang
antara lain tes psikometri.
6.

Permohonan perpanjangan pemeriksaan dan observasi psikiatrik dilakukan secara


resmi dan tertulis kepada pemohon disertai alasannya.

7.

Selama pemeriksaan dan observasi psikiatrik terperiksa harus mendapat penjagaan dari
polisi/instansi pemohon, termasuk terperiksa yang dibantar (penahannya di
tangguhkan)

8. Selama pemeriksaan dan observasi psikiatrik terperiksa tidak diperkenankan menerima


kunjungan kecuali dengan persetujuan tertulis instansi pemohon.

9.

Kunjungan dapat ditolak atau dihentikan oleh kepala sarana pelayanan kesehatan jiwa
atau dokter SpKJ apabila kunjungan tersebut dapat mengganggu jalannya
pemeriksaan dan observasi psikiatrik.

10.
11.

Kunjungan tersebut harus di bawah pengawasan dokter yang bertugas.


Yang berhak mendapat persetujuan tertulis untuk mengunjungi adalah penasihat
hukum, keluarga,(orang tua, suami/istri, anak dan saudara kandung)

12.

Selama proses pemeriksaan dan observasi psikiatrik tidak dilakukan terapi, kecuali
dalam keadaan darurat medik tertentu, dokter dapat memberikan pengobatan
sementara, dalam hal ini diusahakan agar kualitas gejalanya dipertahankan dan
kuantitasnya dikurangi walaupun diagnosis belum ditegakkan. Setelah diagnosis
ditegakkan dapat diberikan pengobatan dengan persetujuan tertulis dari instansi
pemohon.

13.

Selama proses pemeriksaan dan observasi psikiatrik tersangka tidak dapat dibawa
keluar dari saran pelayanan kesehatan jiwa kecuali untuk pemeriksaan penunjang
medis.

14. Setelah proses pemeriksan dan observsi psikatrik selesai, terperiksa harus diambil oleh
instansi pemohon.
15. VeRP sudah harus diserahkan kepada instansi pemohon paling lambat 7 (tujuh) hari
setelah pemeriksaan dan observasi psikiatrik selesai.
16. Rekam medis wajib disimpan oleh sarana kesehatan sampai 5 (lima) tahun setelah
pemeriksaan terakhir, kemudian dapat dimusnahkan kecuali ringkasan dan
persetujuan tindakan medisnya yang harus disimpan untuk jangka waktu 10 (sepuluh )
tahun

terhitung

dari

pembuatan

ringkasan

tersebut.

(Permenkes

No.269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekaman Medis). Khusus untuk VeRP


disimpan untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terhitung dari diterbitkannya.

LAMPIRAN I
Format Visum et Repertum Psychiatricum
Demi Keadlan Pro Justitia
Surat Keterangan Ahli Kedokteran Jiwa (Visum et Repertum Psychiatricum)
No:.
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

Pangkat/NIP/NRP

Jabatan

Alamat Sarana Pelayanan Kesehatan Jiwa:


Atas permintaan tertulis dari
Nama

Pangkat/NIP/NRP

Jabatan

Instansi

Alamat

No.Surat

Tanggal

Perihal

Telah melakukan pemeriksaan dan observasi psikiatrik dari tanggal (ditulis dengan huruf,
misalnya Satu Januari tahun dua ribu Sembilan) sampai dengan tanggal ( empat belas jauari
tahun dua ribu Sembilan ) terhadap:
Nama

Umur

Jenis Kelamin

Agama

Alamat

Pendidikan

Status Perkawinan

Pekerjaan

Status Terperiksa

Tersangka/terdakwakorban/narapidana
Tuduhan

KOP SARANA PELAYANAN KESEHATAN JIWA


Laporan hasil pemeriksaan.
1. Anamnesis diperoleh dari :
a. Berita acara pemeriksaan dari kepolisian
b. Auto anamnesis
c. Allo anamnesis (dari berbagai sumber)
2. Hasil pemeriksaan dan observasi psikiatrik:
3. Hasil pemeriksaan fisik ( yang bermakna)
4. Pemeriksaan penunjang (yang bermakna misalnya MMPI, evaluasi psikologik,
EEG, CT scan, mRI neuropsikologik, laboratorium dan lain-lain sesuai kebutuhan)
5. Kesimpulan
a.Ada/tidak ada gangguan jiwa (diagnosis dan deskriptif)
b. Apakah perilaku pelanggaran hukum merupakan gejala / bagian dari gangguan
jiwa?
c. Ada tidaknya unsur-unsur kemampuan bertanggung jawab berdasarkan:
1) Apakah terperiksa mampu memahami nilai dan risiko tindakannya?
2) Apakah terperiksa mampu memaksudkan suatu tujuan yang sadar?
3) Apakah terperiksa mampu mengarahkan kemauan/tujuan tindakannya?
6. Saran:
7. Penutup
Demikianlah

Surat

Keterangan

Ahli

Kesehatan

Jiwa

(Visum

et

repertum

Psychiatricum) ini dibuat dengan mengingat sumpah sewaktu menerima jabatan.

Tempat,tanggal,bulan,tahun (dengan huruf)

Dokter yang memeriksa,


Tanda tangan
Nama dokter
NIP/NRP
Stempel sarana kesehatan jiwa
*Upayakan VeRP ditulis dengan bahasa yang dapat / mudah dimengerti oleh petugas hukum

PROSEDUR

No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

(SOP)

I. DELIRIUM

Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

TETAP

Adalah sindrom mental organik akut yang berakibat terjadinya hendaya


kognitif menyeluruh.
1. Menegakkan diagnosis pasti delirium secepat dan setepat mungkin

sesuai kriteria diagnostik, yaitu :


a. Gangguan kesadaran dan perhatian, dari taraf kesadaran berkabut
hingga koma.
b. Gangguan kognitif umum, distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi
seringkali visual.
Hendaya daya pikir, pengertian abstrak dengan atau tanpa waham
yang sementara tetapi sangat khas yaitu terdapat inkoherensi yang
ringan.
Hendaya dalam daya ingat segera dan jangka pendek, namun daya
ingat jangka panjang relatif utuh.
Tujuan

Disorientasi waktu, pada kasus berat juga terdapat disorientasi


tempat dan orang.
c. Gangguan psikomotor, hipo atau hiperaktivitas.
d. Gangguan siklus tidur bangun, insomnia atau pada kasus berat
tidak dapat tidur atau terbaliknya siklus tidur bangun.
Gejala yang memburuk pada malam hari dan mimpi yang
mengganggu atau mimpi buruk yang dapat berlanjut menjadi
halusinasi setelah bangun tidur.
e. Gangguan emosional, seperti depresi, ansietas, mudah marah,
takut, euforia dan apatis.
f. Awitan biasanya cepat, perjalanan penyakit hilang timbul
sepanjang hari, dan keadaan itu berlangsung kurang dari 6 bulan.
2. Melakukan pengelolaan secepat mungkin dengan maksud mencegah

keadaan fatal yang diakibatkan oleh keadaan delirium.

Kebijakan

Delirium merupakan suatu petanda disfungsi otak akut dan oleh karena
itu keadaan ini juga merupakan suatu keadaan kedaruratan medik yang
memerlukan tindakan segera termasuk rawat inap.
1. Deteksi penyebab yang mungkin, dari riwayat pasien. Bila ada segera
perbaiki.
2. Buat daftar semua obat yang dikonsumsi oleh pasien.
3. Bila diperlukan lakukan pengekangan fisik terutama pada pasien
agitasi.
4. Periksa tanda vital pasien dan lakukan pemeriksaan fisik lengkap.

Prosedur

5. Lakukan pemeriksaan status mental, terutama evaluasi kesadaran,


gangguan kognitif dan taraf kegiatan psikomotornya.
6. Lakukan pemeriksaan penunjang antara lain, laboratorium berupa
darah lengkap, kima darah lengkap pemeriksaan fungsi organ,
pemeriksaan gula darah. Pemeriksaan EKG, CT Scan kepala dan bila
ada indikasi lakukan pemeriksaan pungsi lumbal.
7. Mulai dengan terapi apabila diagnosis telah ditegakkan. Antipsikotik
potensi tinggi merupakan pilihan utama, contohnya haloperidol 2-5
mg IM dapat diulangi setelah 30-45 menit.
8. Terapi atau tindakan lain terkait dengan penyebab.

Unit terkait

Departemen Penyakit Dalam, Departemen Neurologi dan Departemen


Radiologi.

PROSEDUR
Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

(SOP)

II. GANGGUAN PSIKOTIK ORGANIK


No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

TETAP

Adalah sindrom mental organik yang ditandai oleh adanya


penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan
persepsi disertai oleh adanya suasana afek yang tidak wajar atau tumpul
tanpa adanya kemunduran dalam kesadaran, kemampuan intelektual
dan kognitif.
1. Menegakkan diangosis pasti secepat dan setepat mungkin sesuai
kriteria diagnostik, yaitu :
a. Adanya penyakit, kerusakan atau disfungi otak dan atau penyakit
fisik sistemik yang diketahui berhubungan dengan salah satu sindrom
mental.
b. Adanya hubungan waktu (dalam beberapa minggu atau bulan)
antara perkembangan penyakit yang mendasari dengan timbulnya
sindrom mental.
c. Kesembuhan dari gangguan mental setelah perbaikan atau
dihilangkannya penyebab yang mendasari.
d. Tidak adanya bukti yang mengarah pada penyebab alternatif dari
sindrom mental ini (seperti pengaruh yang kuat dari riwayat
keluarga atau pengaruh stres sebagai pencetus).

Tujuan

e. Halusinosis Organik
Adanya halusinasi dalam segala bentuk (biasanya visual atau
auditorik) yang menetap atau berulang. Kesadaran jernih tidak
berkabut.
Tidak ada penurunan fungsi intelektual yang bermakna, tidak ada
gangguan afektif yang menonjol dan tidak jelas adanya waham
(seringkali insight masih baik).
f. Gangguan katatonik organik
Adanya stupor (berkurang atau hilang sama sekali gerakan spontan
dengan mutisme parsial atau total, negativisme dan posisi tubuh
yang kaku).
Gaduh gelisah (hipermotilitas yang kasar dengan atau tanpa
kecenderungan menyerang). Keduanya silih berganti secara cepat
dan tak terduga dari hipo ke hiperaktivitas.

g. Gangguan waham organik


Adanya waham yang menetap atau berulang (waham kejar, tubuh
yang berubah, paranoid, penyakit atau kematian dirinya atau
oranglain).
Halusinasi, gangguan proses pikir atau fenomena katatonik
mungkin ada.
Kesadaran jernih tidah berkabut. Daya ingat tidak terganggu.
Tujuan

h. Gangguan afektif organik


Disertai kondisi yang sesuai dengan salah satu diagnosis dari
gangguan manik, gangguan bipolar, gangguan depresif.
i. Gangguan ansietas (cemas) organik
Ditandai oleh gambaran utama Gangguan cemas menyeluruh,
Gangguan panik atau campuran, tetapi timbul sebagai akibat
gangguan organik yang dapat menyebabkan disfungsi otak (seperti
epilepsi lobus temporalis, tirotoksikosis atau feokromositoma)
2. Melakukan pengelolaan secepat mungkin dengan maksud mencegah
memburuknya kondisi medis.

Kebijakan

Gangguan psikotik organik merupakan salah satu gangguan mental yang


membahayakan baik bagi pasien maupun lingkungannya. Oleh karena
itu gangguan ini merupakan keadaan kedaruratan medik yang perlu
tindakan segera, termasuk rawat inap.

Prosedur

1. Deteksi penyebab yang mungkin, dari riwayat pasien. Bila ada segera
perbaiki.
2. Buatlah daftar semua obat yang dikonsumsi oleh pasien.
3. Bila diperlukan lakukan pengekangan fisik terutama pada pasien
agitasi.
4. Periksa tanda vital pasien dan lakukan pemeriksaan fisik lengkap.
5. Lakukan pemeriksaan status mental, terutama evaluasi kesadaran,
gangguan kognitif dan taraf kegiatan psikomotornya.
6. Lakukan pemeriksaan penunjang antara lain, laboratorium berupa
darah lengkap, kima darah lengkap pemeriksaan fungsi organ,
pemeriksaan gula darah. Pemeriksaan EKG, CT Scan kepala dan bila
ada indikasi lakukan pemeriksaan pungsi lumbal.
7. Mulai dengan terapi apabila diagnosis telah ditegakkan, yaitu
haloperidol 2-5 mg IM (atau jenis lain yang setara).
8. Terapi atau tindakan lain terkait dengan penyebab.

Unit terkait

Departemen Ilmu Penyakit Dalam,


Departemen Radiologi.

Departemen Neurologi dan

PROSEDUR
Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

TETAP

(SOP)

III. GANGGUAN PSIKOTIK NON ORGANIK


DENGAN GEJALA AKUT
No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

Adalah sindrom mental yang ditandai oleh adanya penyimpangan yang


fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi disertai oleh
adanya suasana afek yang tidak wajar atau tumpul, tanpa adanya
kemunduran dalam kesadaran, kemampuan intelektual dan kognitif.
Keadaan ini disertai dengan gambaran akut berupa antara lain agitasi
dan mengamuk.

Tujuan

1. Menegakkan diagnosis pasti secepat dan setepat mungkin sesuai


kriteria diagnostik sesuai PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan
Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia) - III yaitu antara lain adanya
(a). halusinasi (berupa suara yang berkomentar terus-menerus
terhadap perilaku pasien atau mendiskusikan perihal pasien, atau jenis
suara lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh), (b). waham
(waham kejar, dikendalikan, dipengaruhi, atau waham menetap jenis
lain), (c). thought echo (pikiran yang menggema dalam kepalanya
sendiri), atau thought broadcasting (merasa pikirannya dapat didengar
oleh orang lain seperti sedang disiarkan di udara), atau thought
insertion (merasa pikirannya ditanam oleh orang atau tenaga lain),
thought withdrawal (merasa pikirannya dihilangkan dari ingatannya
oleh orang lain atau tenaga lain, (d). perilaku katatonik, seperti
keadaan gaduh gelisah (excitement), sikap tubuh tertentu yang tidak
berubah dalam jangka waktu tertentu (posturing), atau flexibilitas cerea
(sikap tubuh yang dapat diatur dalam posisi tertentu, yang kemudian
dipertahankannya, dapat diubah oleh pemeriksa seakan-akan terbuat
dari lilin), negativisme (tahanan tanpa motivasi terhadap semua upaya
untuk menggerakkan atau terhadap semua instruksi), mutisme (tidak
bersuara), stupor (sikap tubuh yang menetap dalam jangka waktu
lama).
2. Melakukan pengelolaan dengan maksud mencegah berlanjutnya
gangguan dan untuk mencapai prognosis secara keseluruhan yang
baik.

Kebijakan

Gangguan psikotik non organik dengan gejala akut merupakan salah


satu gangguan mental yang mempunyai dampak merugikan dan
membahayakan baik bagi pasien maupun lingkungannya, karena itu
merupakan suatu keadaan kedaruratan medik yang memerlukan
tindakan segera termasuk rawat inap.

Prosedur

1. Singkirkan penyebab organik.


2. Periksa daftar semua obat yang dikonsumsi oleh pasien.
3. Bila diperlukan lakukan pengekangan fisik terutama pada pasien
agitasi.
4. Periksa tanda vital pasien dan lakukan pemeriksaan fisik lengkap.
5. Lakukan pemeriksaan status mental, terutama evaluasi kesadaran,
gangguan kognitif dan taraf kegiatan psikomotornya.
6. Perawatan inap biasanya diperlukan.
7. Mulai dengan terapi apabila diagnosis telah ditegakkan sesuai target
syntom yang dijumpai yaitu Haloperidol 2-5 mg IM (atau yang setara)
yang dapat diulangi setelah 30-45 menit, olanzepin inj. 10 mg IM. Bila
perlu dan dapat diuji setelah 30-45 menit.

Unit terkait

Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Departemen Neurologi

PROSEDUR

TETAP

(SOP)

IV. UPAYA BUNUH DIRI

Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

Bunuh diri merupakan kematian yang diperbuat oleh sang pelaku sendiri
secara sengaja.
Etiologi: Gangguan mental organik yang disebabkan karena penyakit
fisik seperti HIV, tumor otak, intoksikasi alkohol/obat, skizofrenia,
depresi berat dan gangguan kepribadian.

Tujuan

Pengelolaan pasien untuk mencegah kemungkinan adanya upaya bunuh


diri.

Kebijakan

Bila pasien secara aktif berusaha untuk bunuh diri dengan serius
perawatan inap diwajibkan karena pasien membutuhkan pengawasan
yang intensif.
I.

Prosedur

Wawancara
- Apapun penyebab bunuh diri, dekati pasien secara empati dan
tidak bersikap menghakimi
- Tanyakan secara rinci tentang ide-ide bunuh diri,
- Jika potensi bunuh diri sangat tinggi, anjurkan rawat
- Jika pasien menolak rawat, pasien diminta mengisi informed consent
dan menandatangani surat menolak rawat
- Jika tidak dirawat, minta pasien untuk berjanji menghubungi
dokter jika pikiran bunuh diri memuncak, untuk memberi rasa
jaminan pada pasien bawah terapis dapat dihubungi.
1. Bila mengevaluasi pasien yang cenderung bunuh diri jangan
tinggalkan mereka sendiri. Singkirkan semua benda yang
potensial berbahaya.
2. Tentukan apakah upaya tersebut telah direncanakan atau hanya
kondisi impulsif saja. Tentukan derajat letalitasnya, adakah
kemungkinan pasien untuk pulih kembali.
3. Pengelolaan bergantung diagnosis, pasien dengan depresi berat
dapat berobat jalan bila keluarga dapat mengawasi dan terapi
dapat dimulai segera. Bila tidak perlu rawat inap rumah sakit.
4. Rawat inap, diharuskan untuk kasus kecenderungan mutilasi diri.
5. Saat pasien pulang, dokter menerangkan kepada pasien bahwa
keingingan pasien untuk bunuh diri akan disampaikan pada
orangtua atau suami/istri atau keluarga terdekat demi
keselamatan pasien.

- Injeksi Olanzepin 10 mg IM/hari atau injeksi Haloperidol 5 mg IM boleh


diulang 30 -45 menit. Diazepam 10 mg IV
- ECT conventional bila tidak ada kontraindikasi.

Terapi obat

- Antidepresi [mis. SSRI yaitu salah satu di antara fluoxetin (1 x 20 mg)


atau, sertralin (1 x 50mg), atau fluvoxamin (1x 50mg) atau paroxetin (1
x 20mg)]
- Anti cemas [mis. benzodiazepin: lorazepam (1-3 x 0,5 1 mg) selama 2
minggu
Catatan: iritabilitas mungkin meningkat dengan penggunaan teratur
benzodiasepin, dan iritabilitas ini merupakan salah satu risiko untuk
bunuh diri, sehingga penggunaannya harus hati-hati pada pasienm yang
bersikap keras dan bermusuhan.

Psikoterapi
Unit terkait

Mendengarkan dengan empati, reassurance (penenteraman).


Psikoterapi dilanjutkan pada saat dirawat dan waktu berobat jalan.
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Departemen Bedah sesuai kasus

PROSEDUR

TETAP

(SOP)
V. D E P R E S I

Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

No. Dokumen
..

No. Revisi
..

Halaman
..

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan


dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi,
adanya anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya serta
gagasan bunuh diri.

Pengertian

Etiologi:
Gangguan mental organik yang disebabkan karena penyakit fisik
seperti HIV, tumor otak,
disregulasi hormonal, disregulasi
heterogen pada amin biogenik (norepinefrin, serotonin, dopamin,
asetilkolin),
Faktor genetika dan lain-lain.
Zat/alkohol.
Faktor psikososial berupa peristiwa kehidupan dan stres
lingkungan, faktor kepribadian pramorbid, faktor psikodinamik,
ketidakberdayaan yang dipelajari. Depresi pasca skizofrenia.

Tujuan

- Menegakkan diagnosis
- Mengatasi akibat gejala depresi

Kebijakan

Untuk gejala berat dan membahayakan jiwa dirawat (bila pasien


cenderung secara aktif untuk bunuh diri atau pernah secara serius
mencoba bunuh diri, perawatan inap diwajibkan dan pasien
membutuhkan pengawasan intensif.

Prosedur

I.

Wawancara
- Perlu empati tentang penderitaan dan rasa putus asanya.
- Pertanyaan spesifik tentang sindrom depresi.
- Beri komitmen untuk menolong pasien agar ia merasa lebih baik,
termasuk penggunaan obat dan psikoterapi walaupun perlu waktu
untuk mencari cara yang paling efektif bagi pasien.

Obati masalah medik yang ada


Evaluasi dan obati perilaku yang membahayakan pasien dan
kemugkinan gagasan bunuh diri.
Singkirkan penyebab gejala depresi
Jajaki adanya riwayat episode manik dan hipomanik pada
gangguan bipolar mengingat pengobatan dan prognosis yang
berbeda.
Tegakkan diagnosis dan catat derajat beratnya depresi dan
rencana terapi. (Depresi dapat merupakan suatu kondisi yang
mengancam jiwa pasien yang mewajibkan perawatan inap secara
paksa).
Bila ada kecenderungan bunuh diri rawat. Hati-hati justru
pasien yang benar-benar bunuh diri tidak akan memberi tahu
pada pemeriksa karena takut dicegah.
Ikutsertakan pasien dalam proses terapi dan jelaskanlah bahwa
masalah dapat diselesaikan dan akan berlaku tidak lama lagi.

- Antidepresi: pilih salah satu dari:


- a. SSRI, yaitu salah satu di antara fluoxetin (1 x 20 mg) atau,
sertralin (1 x 50mg), atau fluvoxamin (1x 50mg) atau paroxetin
(1 x 20mg);
- b. SNRI, yaitu salah satu diantara ventataxine 75 mg (epexor),
duluxetine 60 mg 1x1. (cymbalta), Escitalopram 10-60 mg
(ciptalex).

Farmakoterapi

- c. gol. trisiklik (misalnya: amitriptilin 1 x 25 75 ng) atau


tetrasiklik (misalnya maproptilin 1 x 10 75 mg)
- Agitasi/ansietas dan insomnia dapat diobati dengan:
Benzodiazepin seperti lorazepam 1-2 mg/oral/IM, atau
triazolam 1 x 0,125 - 0,250 mg/oral atau olanzepin 3 kali 10
mg, clozapin 3 kali 25 mg.
- Semua diberikan tiap 4 jam dan seperlunya
Dosis dapat diulang atau dinaikkan seperlunya kalau timbul toksisitas
(ataksia, disartria, dan nistagmus)
Bila perlu (agitasi tinggi), sedasi dapat dimulai dengan pemberian
benzodiazepin
Jika timbul gejala psikotik Haloperidol 2-5 mg/oral/IM
(atau yang setara)
Diberikan tiap 4 jam seperlunya
Jika ada kerusakan organik, pilihan obat bergantung pada kondisi pasien
(antipsikotik dan benzodiazepin meningkatkan ambang kejang, hati-hati
pada pasien epilepsi)

Psikoterapi

Suportif dan Cognitive behavioral therapy (CBT), dilanjutkan pada saat


berobat jalan.

Unit terkait

Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Departemen Neurologi.

PROSEDUR

TETAP

(SOP)
VI. P A N I K

Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

Halaman
.

Gangguan panik merupakan suatu gangguan cemas yang ditandai oleh


kecemasan yang spontan, episodik dan hebat, biasanya berlangsung
hanya 30 menit. Serangan panik biasanya timbul 2 kali seminggu.
Serangan dapat berupa berdebar-debar, nyeri dada, rasa tercekik,
perasaan melayang seperti mau pingsan dan lain-lain.
DD/ Penyakit organik untuk gangguan panik :
- Penyakit kardiovaskular : anemia, angina, gagal jantung kongestif,
hipertensi, prolapsus katup mitralis, infark miokard, takikardia atrium
paradoksikal.
- Penyakit pulmonal : asma, hiperventilasi, emboli paru.
- Penyakit neurologis : penyakit serebrovaskular, epilepsi, tumor,
penyakit Wilson.
- Penyakit endokrin: hipertiroidisme, hipoparatiroidis, feokromositoma,
hipoglikemia.
- Intoksikasi obat : amfetamin, amylnitrit, antikolinergik, kokain.
- Keadaan putus zat.
- Halusinogen : mariyuana, nikotin, theophyline.
- Putus obat : alkohol, antihistamin, opiat dan opioid, hipnotik sedatif
- Kondisi lain : anafilaksis, deferensi B12, gangguan elektrolit, keracunan
logam berat, infeksi sistemik: uremia, asam laktat.

Tujuan

- Menegakkan diagnosis
- Mengatasi serangan panik

Kebijakan

Setelah diobservasi dan disingkirkan semua penyebab kondisi medis


umum, dianjurkan untuk berobat jalan karena kondisi medis umum
merupakan pseudo darurat.

Prosedur

1. Singkirkan kemungkinan penyebab penyakit untuk gangguan panik.


Pemeriksaan fisik terinci, EKG, pemeriksaan lengkap kimia darah,
elektrolit, kalsium, magnesium, fungsi tiroid, skrining toksikologik
urin, pemeriksaan lengkap sel darah, pemeriksaan fungsi hati dan
ginjal, ekokardiogram membantu mengarahkan pada prolapsis katup
mitral.
2. Dapatkan riwayat rinci dari semua medikasi dan obat pasien.

3. Lakukan evaluasi psikiatrik lengkap. Periksa seksama untuk gejala


gangguan depresi dan ansietas.
4. Rujuk pasien untuk terapi gangguan sesuai dengan kondisi pasien.
5. Bila sangat tegang, ajarkan teknik relaksasi
6. Psikoterapi kognitif-perilaku atau yang berorientasi tilikan pada saat
berobat jalan.
- Benzodiazepin: alprazolam, lorazepam.

Terapi Farmakoterapi

- SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor), untuk terapi jangka panjang:


segera diberikan bersamaan dengan alprazolam karena baru efektif
bekerja pada hari ke 7-14. Pemberian hingga 6 bulan dan dievaluasi
kembali setelah itu (pasien harus tetap berobat jalan). SSRI misalnya
salah satu di antara fluoxetin (1 x 20 mg) atau, sertralin (1 x 50mg), atau
fluvoxamin (1x 50mg) atau paroxetin (1 x 20mg) atau venlafaxine (1x75
mg)
- Bila SSRI tidak tersedia, dapat digunakan Gol. Trisiklik: imipramin (1 x
25 mg), dengan catatan pemberiannya segera bersamaan dengan
pemberian alprazolam karena baru efektif bekerja pada hari ke-7-14.
Alprazolam 0,25 0,5 mg dan Lorazolam 1-2 mg dimulai dengan dosis
rendah. Diberikan peroral tiap 4 jam. Tingkatkan dosis seperlunya hingga
jelas efektif .
Tunjukkan pada pasien sedini mungkin bahwa terapi yang efektif kini
telah tersedia
- Terapi relaksasi (dianjurkan agar pasien melatih sendiri di rumah setiap
hari)

Psikoterapi

- Suportif
- Terapi kognitif-perilaku atau psikoterapi berorientasi tilikan (dilakukan
pada saat berobat jalan).
Departemen Penyakit Dalam, Neurologi, Kardiologi.

Unit terkait

Rujukan dengan unit lain jika ada suatu kondisi medis umum yang
berkaitan dengan serangan (menyingkirkan diagnosis dini)

PROSEDUR
Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

(SOP)

VII. GANGGUAN DISOSIATIF (KONVERSI)


No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

TETAP

Hal yang umum terlihat pada gangguan disosiatif (konversi) adalah


adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) integrasi yang normal antara
ingatan masa lalu, kesadaran akan identitas dan penghayatan dan
kendali terhadap gerakan tubuh. Pada gangguan disosiatif diperkirakan
bahwa kemampuan untuk mengendalikan secara sadar dan selektif
terganggu, sampai suatu taraf yang bervariasi dari hari ke hari atau
bahkan dari jam ke jam.
Istilah konversi digunakan secara luas dalam gangguan-gangguan ini
dan menunjukkan bahwa afek yang tidak menyenangkan yang timbul
karena problem dan konflik yang tidak dapat diatasi oleh individu,
diubah menjadi gejala-gejala.

Tujuan

Menegakkan diagnosis Gangguan Disosiatif sesuai dengan PPDGJ III


yaitu (a). ciri-ciri klinis yang ditentukan untuk masing-masing gangguan
berupa kehilangan sebagian/seluruh dari integrasi normal antara:
ingatan masa lalu, kesadaran akan identitas, dan penghayatan, serta
kendali terhadap gerakan tubuh (b). tidak ada bukti adanya gangguan
fisik yang dapat menjelaskan gejala-gejala tersebut (c). bukti adanya
penyebab psikologis dalam bentuk hubungan waktu yang jelas dengan
problem dan peristiwa yang stressful atau hubungan interpersonal
yang terganggu (meskipun hal tersebut disangkal oleh pasien).

Kebijakan

Dianjurkan untuk berobat jalan karena kondisi ini merupakan false


emergency.

Pemeriksaan status mental dan riwayat gangguan psikiatrik (dahulu dan


sekarang).
Prosedur

Pemeriksaan fisik, tanda vital.


Observasi adanya tanda-tanda gangguan organik yang mungkin
menyebabkan gejala yang sama. Bila perlu lakukan pemeriksaan
penunjang untuk menyingkirkannya..
Psikofarmaka:
diberikan untuk membantu jalannya pemeriksaan
psikiatrik, misalnya benzodiasepin oral (contoh: diazepam 2-5 mg, atau
lorazepam (0,5-2 mg).

Terapi

Psikoterapi: individual (suportif, atau hipnoterapi).


Dianjurkan untuk berobat jalan keesokan harinya, untuk melanjutkan
psikoterapi indfividual, bila perlu ditambah dengan psikoterapi
kelompok.

Unit terkait

Departemen Neurologi

PROSEDUR

(SOP)

VIII. MANIK

Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

TETAP

No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

Suatu episode gangguan mood berupa peningkatan suasana perasaan dan


kecepatan aktivitas fisik dan mental.

Tujuan

Menegakkan diagnosis dan menyingkirkan penyebab kondisi medis


umum yang menyertai episode manik. Pengelolaan pasien untuk
mengatasi gaduh gelisah.

Kebijakan

Indikasi rawat inap jika ditemukan adanya risiko bunuh diri atau
membahayakan orang lain, sangat berkurangnya kemampuan pasien
untuk melakukan perawatan diri, atau untuk keperluan prosedur
diagnostik.

Prosedur

Ciptakan suasana lingkungan yang aman dan terlindungi bagi pasien.


Pemeriksaan fisik, vital sign, perhatikan adanya gangguan medis akibat
kondisi manik tersebut.
Observasi adanya tanda-tanda gangguan organik, intoksikasi zat atau
efek samping obat.
Pemeriksaan laboratorium rutin, termasuk hitung jenis, fungsi tiroid,
ginjal dan hepar, skrining toksikologi urin, kimia darah dan EKG.
Pemeriksaan status mental dan riwayat gangguan psikiatri sebelumnya.
Koreksi bila terdapat gangguan kondisi medis dan masalah tiroid lainnya
sesegera mungkin.
Pada keadaan akut, dapat berikan Haloperidol injeksi IM sampai 60 mg
perhari (24 jam) (atau yang setara), dan dapat ditambahkan
benzodiazepin seperti lorazepam atau diazepam 20 mg IV perkali
suntikan, maximal 40 mg/hari.
Lithium, karbamazepin dan asam valproat diberikan untuk terapi
pemeliharaan, dapat juga diberikan (clozepin), olanzepin Quitriapin,
ariprilazole, palipiradone.

Unit terkait

Departemen Psikiatri

PROSEDUR
Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

(SOP)

IX. INTOKSIKASI DAN KEADAAN PUTUS ZAT


No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

TETAP

Intoksikasi akut merupakan kondisi peralihan yang timbul akibat


menggunakan zat psikoaktif sehingga terjadi gangguan kesadaran, fungsi
kognitif, persepsi, afek atau perilaku atau fungsi dan respons
psikofisiologis lainnya.
Keadaan putus zat merupakan sekelompok gejala dengan aneka bentuk
dan keparahan yang terjadi pada penghentian penggunaan zat secara
absolut atau sesudah penggunaan zat yang terus-menerus dan dalam
jangka panjang dan/atau dosis tinggi.

Tujuan

Mengatasi kondisi medis umum yang ditimbulkan oleh intoksikasi dan


gejala putus zat bersama dengan unit terkait.
Menelusuri zat yang digunakan oleh pasien.
Evaluasi dan penatalaksanaan intoksikasi dan sindrom putus zat.

Kebijakan

Rawat inap untuk evaluasi dan penatalaksanaan intoksikasi dan gejala


putus zat pada lingkungan yang sesuai dengan kondisi pasien tersebut.

Prosedur

Pemeriksaan tanda vital.


Perhatikan tanda-tanda intoksikasi atau putus zat yang nyata seperti
ataksia, disartria, nistagmus, perubahan pupil, depresi SSP dan agitasi.
Pertimbangkan kemungkinan overdose dan juga polysubstance use.
Perhatikan gejala putus zat (pada pasien dengan intoksikasi), ketika dosis
zat dalam darah mulai menurun.
Segera nilai adanya bahaya atau pencegahan dampak buruk terhadap
pasien dan orang di sekitarnya.
Evaluasi dan atasi kondisi medis umum pasien, hindari pemakaian
psikofarmaka yang menekan pusat pernapasan (Bendodiatepin)
Tempatkan pasien sedapat mungkin dalam lingkungan yang sesuai bagi
pengguna zat.
Khusus intoksikasi alcohol hindari psikofarmaka yang menekan pusat
pernafasan (Benzodiazepin)

Unit terkait

Departemen Psikiatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam

PROSEDUR
Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

TETAP

(SOP)

X. EFEK SAMPING OBAT


X.1. AKATISIA (KEGELISAHAN MOTORIK)
No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

Akatisia ialah salah satu gejala ekstrapiramidal yang disebabkan oleh


pemberian antipsikotik potensi tinggi seperti Haloperidol, Trifluoperazin.
Akatisia ditandai dengan kegelisahan motorik yang subyektif tidak
nyaman dan tampak oleh orang lain, disebabkan karena medikasi
antipsikotik, sering diikuti oleh agitasi dan iritabilitas. Sekitar 50% dari
orang dengan akatisia juga menunjukkan gejala ekstrapiramidal lainnya,
seperti parkinsonisme, distonia, kekakuan gerigi, rigiditas, dan afek yang
tumpul.

Tujuan

- Menegakkan diagnosis
- Mengatasi akibat

Kebijakan

Pengelolaan pasien untuk mencegah kemungkinan komplikasi. Kondisi ini


sukar diobati dan mungkin tidak mempan terhadap semua macam obat,
namun memerlukan tindakan segera atau perawatan inap.

Prosedur

1. Dapatkan riwayat penggunaan obat antipsikotik pada pasien,


terutama yang baru-baru ini dikonsumsi. Awitan (onset) subakut
biasanya beberapa hari, kadang beberapa minggu setelah dimulainya
medikasi antipsikotik.
2. Tanyakan kepada pasien tentang kegelisahan subjektif, dan amati
kegelisahan motoriknya. Gerakan yang khas termasuk kecenderungan
berdiri dan duduk yang terus-menerus, jalan mondar-mandir, duduk
menyilangkan kaki dan melepaskan kembali, menggeser-geser dan
mengetuk-ngetuk dengan kakinya. Gerakan berulang yang terusmenerus biasanya lebih merupakan akatisia dan bukan agitasi.

Terapi Obat

1. Apabila memungkinkan antipsikotik diturunkan


2. Dapat diberikan Pemblok-beta (beta-blocker), seperti Propranolol 10-40
mg 3 kali sehari
3. Sebagai alternatif dapat digunakan Klonidin oral 0,1 mg 3 kali sehari.
4. Obat Antikolinergik juga dapat digunakan seperti Triheksiphenidil 3 x
2 mg per hari, meskipun efektivitasnya tidak sebesar pada pengobatan
sindrom extrapiramidal lain.

Unit terkait

Neurologi, sesuai kasus

PROSEDUR
Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

TETAP

(SOP)

X.2. SINDROM NEUROLEPTIKA MALIGNA


No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

Sindrom neuroleptik maligna merupakan suatu sindrom yang jarang,


yang terkait dengan pengobatan antipsikotik, tetapi berbahaya. Gejalanya
demam tinggi, kekakuan otot, distonia, akinesia, mutisma, kesadaran
berkabut dan agitasi.
Sindrom neuroleptika maligna biasanya terjadi dalam beberapa hari
pertama dimulainya atau ditingkatkannya dosis antipsikotik. Kebanyakan
kasus terjadi dalam 10 hari pertama dari pengobatan antipsikotik.
Kejadian ini sering pada pasien yang diberi antipsikotik potensi tinggi
dalam dosis besar atau pada peningkatan dosis yang cepat.
Gangguan ini dapat juga terjadi pada penghentian penggunaan agonis
dopaminergik,
contoh:
karbidopa,
levodopa,
amantadin
dan
bromokriptin.
Penggunaan kombinasi antara preparat litium dan
antipsikotik (misalnya haloperidol) banyak menimbulkan sindrom ini.

Tujuan

- Menegakkan diagnosis
- Mengatasi dampak yang terjadi

Kebijakan

Karena sindrom neuroleptik maligna ditandai oleh adanya demam


(hingga mencapai 39,5C), terdapat kekakuan seperti pisau lipat (lead-pipe
rigidity) yang ringan hingga berat, ketidakstabilan autonomik (takikardia,
tekanan darah labil, diaforesis), dan kesadaran yang terganggu maka
segera atasi gejala tersebut secara simtomatik (misalnya turunkan
demamnya, atasi kekakuan ototnya). Kekakuan yang hebat dapat
menyebabkan rabdomiolisis dan akhirnya menjadi mioglobinuria dan
gagal ginjal. Penyulit lain termasuk trombosis vena, emboli paru, renjatan
(shock), dan kematian, sehingga memerlukan penanganan segera secara
rawat inap.

1. Pasien yang mendapatkan antipsikotik yang kemudian mengalami


demam tinggi dan kekakuan, patut dicurigai menderita Sindrom
neuroleptika maligna.
2. Bila kekakuan pasien yang ringan itu tidak bereaksi terhadap
pengobatan zat antikolinergik-seperti benztropin (Cogentin) 2 mg per
oral atau IM dan bila demamnya tidak jelas asal-usulnya, diagnosis
tentatif sindrom neuroleptika maligna dapat dipertanggungjawabkan.
3. Hentikan penggunaan antipsikotik segera.
4. Pantaulah tanda vital pasien lebih sering.

Prosedur

5. Lakukan pemeriksaan laboratorium yang diperlukan. Kreatin


fosfokinase (creatine phoshokinase, CPK) biasanya meningkat sangat
hebat dan langsung terkait dengan beratnya sindrom neuroleptika
maligna. Leukositosis juga sering dijumpai. Periksalah darah rutin,
penghitungan sel darah putih dengan hitung diferensial, pemeriksaan
kimia darah, ureum darah (BUN) dan kreatinin, faal hati.
6. Pendinginan dengan kompres es.
7. Jika perlu dilakukan rehidrasi untuk mencegah syok dan gangguan
ginjal.
8. Sindrom neuroleptik maligna biasanya berlangsung 15 hari. Kesulitan
setelah pasien sembuh ialah menentukan apakah antipsikotik tersebut
dapat diberikan kembali. Langkah yang dapat diambil ialah mencoba
dengan
antipsikotik
jenis
yang
berbeda
tetapi
harus
mempertimbangkan risiko bahwa antipsikotik awal mungkin lebih
efektif.

Farmakoterapi

Antikolinergika dan benzodiazepin biasanya tidak efektif terhadap


sindrom neuroleptika maligna. Bromokriptin misalnya Parlodel 2,5 - 5 mg
per os 3 x sehari melalui tuba nasogastrik dan ulangi bila tak efektif
hingga 60 mg sehari merupakan zat agonis dopaminergik yang dapat
membantu meredakan sindrom itu. Terapi suportif lain dan pemantauan
yang ketat amat dianjurkan. Pasien sering membutuhkan terapi di ruang
perawatan intensif.
- Bila tidak ada Congnetin diganti dengan dipenhidranine 30 mg IM. Bila
tensi > 100 mmHg.
Berikan obat oral : Bromokriptin 2,5 53 ( parlodel)

Unit terkait

Departemen Penyakit Dalam, Neurologi

PROSEDUR
Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

TETAP

(SOP)

X.3. PARKINSONISME
No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

Parkinsonisme merupakan sindrom ekstrapiramidal yang ditandai oleh


hipokinesia, tremor, dan rigiditas. Sindrom ini juga ditandai dengan wajah
seperti topeng, air liur yang menetes, afek yang datar, postur tubuh yang
agak membungkuk, berjalan diseret dengan langkah yang kecil-kecil.
Tremor lebih menjadi-jadi dalam keadaan istirahat; sering mengenai
tangan, yang bergerak-gerak berulang seperti membuat pil (pill rolling)
atau seperti menghitung uang. Parkinsonisme dapat disebabkan oleh
penyakit Parkinson (idiopatik), atau sebagai efek samping medikasi
antipsikotik (biasanya disebabkan oleh antipsikotik yang berpotensi
tinggi).

Tujuan

- Menegakkan diagnosis
- Mengatasi dampaknya

Kebijakan

Kondisi parkinsonisme ini meskipun tidak berbahaya tetapi sangat


mengganggu pasien, oleh karena itu perlu diberikan penjelasan kepada
pasien agar merasa lebih tenang. Jika parkinsonisme parah atau berat
mungkin pasien memerlukan pengawasan yang intensif.

Prosedur

1. Tegakkan diagnosis pasti hal yang menyebabkan parkinsonisme.


2. Lakukan pemeriksaan neurologik, cari gejala fokal neurologik. Periksa
pasien yang menggunakan zat antipsikotik untuk distonia dan
sindrom neuroleptika maligna, khususnya bila kekakuannya hebat.
3. Periksa secara lengkap status psikiatrik, dan dapatkan riwayat pasien.
4. Evaluasi pemberian antipsikotik saat ini dan pertimbangkan apakah
(a) dosis cukup, (b) lamanya terapi cukup, (c) pasien menunjukkan
respons terhadap antipsikotik, (d)
apakah dapat dilakukan
penggantian obat atau perubahan dosis, dan (e) indikasi pemberian
agonis dopaminergik atau antagonis kolinergik.
5. Pada parkinsonisme akibat antipsikotik, pertimbangkan untuk
menurunkan dosis, ubah penggunaan antipsikotik yang berpotensi
lebih rendah, atau menambah obat antikolinergik.
Antihistamin: Difenhidramin 25-100 mg/hr
Antikolinergika: Triheksifenidil 4-16 mg/hr

Farmakoterapi

Idiopatik diberikan levodopa 100 mg, amantadin,Cifrol, bensaracid 25 mg


Benzodiazepin 100 mg bila ..dan
Kombinasi kedua obat tersebut di atas

Unit terkait

Neurologi

PROSEDUR
Rumah Sakit
Umum Daerah Embung
Fatimah kota Batam

TETAP

XI. Pemeriksaan Kesehatan Mental


No. Dokumen
.

No. Revisi
.

Tujuan

Halaman
.

Tanggal terbit

Ditetapkan,
Direktur

Prosedur Tetap

Pengertian

(SOP)

Pemeriksaan kesehatan mental .


- Menentukan taraf kesehatan mental seseorang pada saat tersebut
- Mengetahui indeks kapasitas mental kepribadian (potensi kerja,
kemampuan adaptasi, kendala psikologis, perilaku berisiko dan
integritas moral).
- Menyaring gejala klinis gangguan jiwa (ansietas, depresi, psikotik,
agresifitas dan lain-lain.)

Kebijakan

a. Pemeriksaan Kesehatan Mental dibutuhkan untuk pemeriksaan


calon legislatif, calon kepala daerah rekruitmen karyawan,
persyaratan bekerja, melanjutkan pendidikan, keperluan
pengampuan, dan lain-lain.

1. Klien melakukan pengisian kuesiner MMPI.


2. Dilakukan pengolahan data dengan program MMPI.
Prosedur

3. Pembacaan hasil MMPI.


4. Bila hasil invalid klien diharuskan mengulang tes 1 kali.
5. Dilakukan pembacaan hasil MMPI.