Anda di halaman 1dari 54

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN

PUBLIK

MIP-UMY
DESEMBER 2011

POKOK BAHASAN
1. Proses kebijakan publik
2. Implementasi sebagai bagian dari
proses kebijakan
3. Makna Implementasi
4. Pendekatan dalam implementasi
5. Model implementasi
6. Isu-isu dalam implementasi
7. Studi implementasi kebijakan

Pembahasan materi implementasi kebijakan meliputi 2 hal


pokok, yaitu:
1. Implementasi kebijakan sebagai sebuah proses kebijakan.
Pembahasan berfokus pada implementasi dalam proses
kebijakan, yang meliputi :
a. Apa dan bagaimana proses implementasi
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi
kebijakan
2. Implementasi kebijakan sebagai suatu studi penelitian.
Pembahasan berfokus pada bagaimana cara melakukan
penelitian implementasi, serta aspek apa saja yang dikaji.

Ad. 1. Proses Kebijakan Publik


Proses kebijakan publik merupakan proses yg
rumit dan komplek. Ada dua aspek yang saling
tumpang tindih yaitu politik dan administratif.
Oleh sebab itu, untuk mengkajinya perlu
diklasifikasi dalam tahapan-tahapan. Secara
umum klasifikasinya sbb:
1. Proses Formulasi kebijakan (Perumusan)
2. Proses Pengesahan kebijakan
3. Proses implementasi kebijakan
4. Proses Evaluasi kebijakan

Tahap Formulasi Kebijakan


Merupakan tahapan yang paling awal dilakukan.
Tahapan Formulasi meliputi beberapa kegiatan :
1. Perumusan masalah
2. Penyusunan agenda
3. Pencarian legitimasi
4. Pemilihan alternatif
5. Pernyataan kebijakan
Pada tahap formulasi ini, proses politik lebih
dominan daripada aspek administratifnya.(lihat
kasus )

Tahap Pengesahan kebijakan


Tahap ini lebih bersifat proses menjadikan
sebuah kebijakan mempunyai kekuatan hukum,
agar mempunyai daya ikat dan daya paksa untuk
dapat diimplementasikan.
Tahap ini biasanya dilakukan setelah proses
negosiasi, kompromi, bergaining, lobby
dilakukan oleh pihak-pihak yang
berkepentingan (Pemerintah, DPR, Kelompok
kepentingan, dsb).

Tahap Implementasi Kebijakan


Tahap ini adalah menjalankan alternatif kebijakan yang
telah ditetapkan untuk dimanifestasikan dalam tindakan
nyata.
Implementasi dilaksanakan oleh unit-unit administratif
dengan memobilisasi sumber daya
Tanpa implementasi suatu kebijakan akan sia-sia (sebaik
apapun formulasi kebijakan yang disahkan tak ada
artinya).
Tahap ini merupakan rantai penghubung formulasi
kebijakan dengan hasil (outcome) kebijakan yang
diharapkan

Tahap Evaluasi Kebijakan


Evaluasi kebijakan dilakukan guna menguji
kapasitas suatu kebijakan dalam mengatasi
masalah.
Evaluasi kebijakan dapat memberikan informasi
tentang keberhasilan atau kegagalan sebuah
kebijakan yang diimplementasikan.
Berdasar evaluasi kebijakan akan dapat
ditentukan masa depan sebuah kebijakan.

Komponen Kebijakan Publik dan


Kaitannya dengan Implementasi

Berdasarkan serangkaian pendapat pakar,


Komponen Kebijakan Publik adalah:
1. Serangkaian tindakan
2. Dilakukan untuk mengatasi masalah
3. Lebih berorientasi pada kepentingan publik
Jika dikaitkan dengan implementasi, komponen
kebijakan publik meliputi:
1. Tujuan yang hendak dicapai
2. Sasaran yang spesifik
3. Cara mencapai sasaran

Dalam konteks implementasi, maka aspek ketiga


yang berupa Cara mencapai sasaran itulah
yang disebut implementasi
Implementasi kebijakan biasanya diterjemahkan
dalam bentuk program aksi dan atau proyek.

Definisi Implementasi ?
Jones (1987) ; those activities directed toward
putting a program into effect (proses
mewujudkan program hingga memperlihatkan
hasilnya)

Van Horn dan Van meter (1975) : those actions


by public and private individual (or groups)
that are the achievement or objectives set forth
in prior policy ( tindakan yang dilakukan oleh
Pemerintah maupun swasta baik secara individu
maupun kelompok yang dimaksudkan untuk
mencapai tujuan dan sasaran yang menjadi
prioritas kebijakan)

Mazmanian & Paul Sabatier


Implementation is the carrying out of basic policy decision
usually incorporated in a statute but which can also take the
form of important executive orders or court decisions
(implementasi adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar,
biasanya dalam bentuk undang-undang, namun bisa pula
berbentuk perintah atau petunjuk eksekutif atau keputusan
badan peradilan).
Ideally that decision identifies the problem(s) to be addressed,
stipulatesthe objective(s) to be pursued and in a variety of
ways, structures the implementation process ( idealnya TUS
tersebut mengidentifikasikan masalah yg dihadapi, menyebut
secara tegas tujuan yg hendak dicapai dan berbagai cara
untuk menstrukturkan/ mengatur proses implementasinya)

Secara lebih konkrit Mazmanian & Sabatier


menyatakan bahwa fokus perhatian dalam
implementasi yaitu memahami apa yg
senyatanya terjadi sesudah suatu program
dinyatakan berlaku, diantaranya adalah :
Kejadian dan kegiatan yg timbul sesudah
disahkannya pedoman-pedoman kebijakan yg
mencakup usaha mengadministrasikan maupun
usaha menimbulkan dampak yang nyata pada
masyarakat.

Kesimpulan Pengertian Umum


Implementasi
Implementasi adalah tindakan yang dilakukan
setelah suatu kebijakan ditetapkan
Implementasi merupakan cara agar sebuah
kebijakan dapat mencapai tujuan yang telah
ditetapkan
Tujuan kebijakan adalah melakukan intervensi,
dan implementasi adalah tindakan intervensi itu
sendiri.
Implementasi melibatkan usaha dari policy
makers untuk mempengaruhi street level
bureaucracy (Lipsky) untuk memberikan
pelayanan atau mengatur perilaku target group.

Mengapa implementasi penting ?


Implementasi merupakan proses yg penting
dalam proses kebijakan, dan tak terpisahkan
dari proses formulasi kebijakan (Jones, 1987)
Implementasi bahkan jauh lebih penting dari
pembuatan kebijakan. Kebijakan hanya berupa
impian atau rencana yg bagus dan tersimpan
dalam arsip kalau tak diimplementasikan (Udoji,
1981)

Tanpa implementasi kebijakan tak akan bisa


mewujudkan hasilnya.
Implementasi bukanlah proses yang sederhana,
tetapi sangat kompleks dan rumit.
Benturan kepentingan antar aktor baik
administrator, petugas lapangan, maupun
sasaran sering terjadi
Selama implementasi sering terjadi beragam
interprestasi atas tujuan, target maupun
strateginya
Implementasi dipengaruhi oleh berbagai
variabel, baik variabel individual maupun
organisasional

Dalam prakteknya sering terjadi kegagalan


dalam implementasi
Banyaknya kegagalan dalam implementasi
kebijakan telah memunculkan kajian baru dalam
studi kebijakan yaitu studi implementasi
kebijakan
Guna menilai keberhasilan atau kinerja sebuah
kebijakan maka dilakukan evaluasi kebijakan

Bagaimana melakukan intervensi


dalam implementasi?
Mazmanian dan Sabatier (1983); memberikan
langkah-langkah sbb :
1. Mengidentifikasi masalah yang harus
diintervensi
2. Menegaskan tujuan yang hendak dicapai
3. Merancang struktur proses implementasi
Dengan demikian program harus disusun secara
jelas dan harus dioperasionalkan dalam bentuk
proyek.

Lineberry (1984) menyatakan beberapa hal


yang harus diperhatikan dalam implementasi :
1. Pembentukan unit organisasi atau staf pelaksana
2. Penjabaran tujuan dalam berbagai aturan
pelaksana (Standard operating procedures/SOP)
3. Koordinasi berbagai sumber dan pengeluaran
pada kelompok sasaran serta pembagian tugas
diantara badan pelaksana
4. pengalokasian sumber-sumber untuk mencapai
tujuan

Menurut Anderson 1979) ada 4 aspek dalam


implementasi kebijakan :
1. Who is involved policy implementation ?
2. The nature of administrative process (hakekat
dari proses administrasi)
3. Compliance with policy (kepatuhan pada
kebijakan)
4. The effect of implementation (dampak dari
pelaksanaan kebijakan)

Ripley & Franklin (1985) ; Ada dua fokus dalam


melakukan implementasi :
1. Compliance (kepatuhan) : apakah implementor
patuh pada aturan, juklak, jadwal dsb ?
2. What happening ? : mempertanyakan bagaimana
kinerja implementasi, apa yang dicapai dsb. Dalam hal
ini beberapa hal yang penting :
a. Banyaknya aktor yang terlibat
b. Kejelasan tujuan
c. Partsipasi semua unit pemerintahan
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi

Kesimpulan umum aktivitas


implementasi meliputi :
1. Siapa pelaksananya
2. Berapa besar dana dan darimana diperoleh ?
3. Siapa sasarannya
4. Bagaimana manajemennya
5. Bagaimana kinerja dan keberhasilannya diukur

Faktor penentu keberhasilan


implementasi
1. Logika kebijakan itu sendiri
2. Kemampuan pelaksana dan ketersediaan
sumber
3. Manajemen yang baik
4. Lingkungan di mana kebijakan
diimplementasikan

Sering terjadi suatu program tidak mampu


mewujudkan tujuannya( kegagalan
implementasi)
Ketidakmampuan program mewujudkan tujuan
disebut oleh Andrew Dunshire sebagai
implementation gap yaitu suatu kondisi dimana
dalam proses kebijakan terjadi perbedaan antara
apa yang diharapkan pembuat kebijakan dengan
apa yg senyatanya terjadi.
Implementation gap ini sangat dipengaruhi oleh
implementation capacity dari organisasi
pelaksana (Goggin, 1990)

Permasalahan dalam implementasi


1. Interprestasi : Kebijakan lebih bersifat
strategis, sehingga Birokrat perlu
menginterprestasikan atau mengoperasionalkan
kebijakan tersebut
2. Pendayagunaan resources
3. Manajemen program

Prasarat keberhasilan implementasi :

1. Tiadanya hambatan eksternal


2. Tersedianya resources yg memadai
3. Good policy
4. Hubungan ketergantungan yg minimum
5. Pemahaman & kesepakatan thd tujuan
6. Tugas ditetapkan dengan urutan yg tepat
7. Komunikasi dan koordinasi lancar
8. Ada dukungan otoritas

Kegagalan implementasi
A. Tak bisa diimplementasikan
B. Unsucsessfull implementation
Penyebab kegagalan sebuah kebijakan :
1. Bad policy : perumusannya asal-asalan,
kondisi internal belum siap, kondisi eksternal
tak memungkinkan dsb
2. Bad implementation : pelaksana tak
memahami juklak, terjadi implementation gap
dsb)
3. Bad Luck

Faktor lain penyebab publik tak mau


melaksanakan kebijakan (Anderson, 1979)
Kebijakan bertentangan dengan sistem nilai
masyarakat
Adanya konsep ketidakpatuhan selektif terhadap
hukum
Keanggotaan seseorang dalam suatu organisasi/
kelompok
Tidak adanya kepastian hukum (terjadi
pertentangan antara kebijakan satu dg lainnya)

Ad.2. Studi Implementasi


Studi Implementasi Kebijakan merupakan studi
untuk mengetahui proses implementasi
Tujuan utamanya adalah untuk memberi umpan
balik pada pelaksana kebijakan
Untuk mengetahui apakah proses pelaksanaan
telah sesuai dengan rencana atau standard yang
ditetapkan
Untuk mengetahui hambatan dan problem yang
muncul dalam proses implementasi

Beberapa pakar beranggapan bahwa studi implementasi


perlu melihat output kebijakan, shg sering disebut juga
evaluasi implementasi
Dalam evaluasi implementasi dilihat dampak jangka
pendek akibat proses implementasi tersebut
Biasanya bersifat deskriptif kualitatif
Metode pengumpulan data = metode penelitian sosial
lainnya
Karena bertujuan untuk memberikan umpan balik maka
biasanya digunakan metode yg lain spt, FGD, rapat,
brainstorming dsb. Juga catatan-catatan harian pribadi
dapat dijadikan sumber data yang akurat (Bryan &
White, 1987)

Perkembangan studi (penelitian)


implementasi (Gogin dkk (1990)
1. Penelitian generasi pertama, fokus :
a. Bagaimana suatu aturan diujudkan sebagai
hukum dan bagaimana suatu hukum
dijadikan program
b. Upaya menunjuukkan sifat kekomplekan dan
dinamika implementasi
c. Menekankan pentingnya subsistem kebijakan
d. Mengidentifikasi faktor yg berhub dg hasil
suatu program
e. Mendiagnosis bbrp penyakit yg sering
mengganggu pelaksana

Penelitian generasi kedua, Fokus :


1. Jenis dan isi kebijakan
2. Organisasi pelaksana dan sumberdaya
3. Pelaksana kebijakan : sikap, motivasi, hub antar
pribadi, komunikasi dsb
4. Hasil : pengakuan bahwa implementasi bisa
berubah setiap saat, identifikasi faktor penentu
keberhasilan, berbagai persoalan yg muncul dsb

Penelitian generasi ketiga, fokus :


1. Komunikasi antar lembaga pemerintahan
2. penyusunan desain penelitian
3. Mengkaji variabel-variabel prediktor dalam
implementasi

Pendekatan dalam studi implementasi


1. Pendekatan strukural (peran organisasi)
2. Pendekatan prosedural dan manajemen
(Misal : Network planning and Controll/ NPC,
Program Evaluation and Review Tehnique /
PERT dsb)
3. Pendekatan Perilaku (komunikasi, informasi,
sikap dsb)
4. Pendekatan politis (aspek-aspek antar
departemental/ politik)

Beberapa model Implementasi


(Parsons, 1997)
1. Model Analisis Kegagalan (implementasi sbg
proses interaksi antara tujuan dan tindakan( Pressman &
Wildavsky, 1973), implementasi sebagai politik adaptasi
saling menguntungkan ( Mc Laughin, 1975)
2. Model Top down (mengidentifikasi faktor yang
menyebabkan keberhasilan implementasi (Van Meter
van Hoirn (1975), Grindle (1980), Sabatier & Mazmanian
(1979) dsb
3. Model Bottom up (mengidentifikasi faktor lain dan
interaksi organisasi antara Pemerintah dg warga negara
(lipsky, 1971), Implementasi sebagai proses yg disusun
melalui konflik dan bergaining (Wetherly, 1977),
Implementasi sebagai proses alur (Smith, 1973)
4. Model Sintesis (Ripley & Franklin (1985),
Nakamura & Smallwood (1986) dsb

Model-model Top down :

1. Donalds Van meter & Carl E. Van Horn


2. George C Edwards III
3. Merilee Grindle
4. Daniel H Mazmanian & Paul Sabatier

Model Van Meter & Van Horn


Studi Implementasi hakikatnya mrpk penilaian atas kinerja kebijakan
Kinerja kebijakan dipengaruhi oleh :

1. Standard (ukuran dasar) dan tujuan kebijakan. Ini berkaitan dg sejauhmana


standard direalisasikan, sebab : sering telalu luas dan kabur, shg susah diukur
2. Sumber- sumber Kebijakan : Dana SDM, Fasilitas
3. Komunikasi antar organisasi & keg pelaksanaan, khususnya
mengkomunikasikan standard aturan, shg diperoleh ketepatan dan konistensi
sekaligus ebagai alat ukur dalam pengawasan
4. Karakteristik badan pelaksana : menyangkut karakteristik, norma dan
pola hub yang ada.
Dalam hal ini yg harus dicermati adalah :
a. kompetensi dan jumlah staff
b. Rentang kendali (hierarki)
c. Dukungan politik yg dimiliki
d. Kekuatan organisasi
e. Derajad keterbukaan dan kebebasan komunikasi
f. Keterkaitan dg pembuat kebijakan
5. Kondisi sosial ekonomi dan politik
6. Sikap pelaksana, meliputi pesepsi pelaksana atas masalah, tandard dan
tujuan serta ejauhmana bertentangan dg kepentingan pelaksana

Model G. Edwards III


Didasari pertanyaan :
1. Prakondisi apa yg diperlukan agar
implementasi berhasil
2. Hambatan utama yg menyebabkan
implementasi gagal

Ada 4 variabel penting dalam implementasi :


1. Komunikasi
2. Sumber-sumber
3. Sikap pelaksana
4. Struktur Birokrasi

Komunikasi, penting sebab :


1. Setiap pelaksana harus memahami apa yg
dilakukan
2. pelaksana harus memahami juklak
3. Pelaksana hrs konsisten pada juklak
4.Sering ditemukan hambatan dalam
penyampaian inf pd hierarkhi orgs yg berlapislapis
5. Semakin baik komunikasi akan semakin baik
implementasi
6. Mengurangi distori informasi
7. transparansi

Sumber- sumber ini menyangkut :


1. Staff yg memadai dan berkeahlian sesuai
kebutuhan
2. Informasi tentang kebijakan
3. Wewenang yg dimiliki pelaksana
4. Fasilitas yg ada

Sikap pelaksana meliputi :


1. Sikap dan dukungan aparat pelaksana
2. Perilaku birokrasi

Struktur birokrasi, meliputi :


1. Prosedur kerja dan ukuran dasarnya
2. Hierarkhis struktur organisasi
3. koordinasi, desentralisasi, kewenangan dsb

Karakterisitik umum Birokrasi (Ripley


& Franklin, 1985)
1. Pervasiveness : birokrasi ada dimana mana dan mrpk
instrumen sosial yg dipilih untuk mengatasi peroalan
publik
2. Selective importance; Birokrasi dominan dalam
implementasi dan mempunyai kepentingan yg berbeda
dalam tiap tahap.
3. Birokrasi banyak memp tujuan sosial yg
berbeda :
- Birokrasi dicipt untuk memberikan pelayanan yg
sebenarnya menjadi tg jwb pemerintah
- Birokrasi diciptakan untuk mempromosikan kept sektor
ekonomi ttt (petani, buruh, pengusaha dsb)
- Birokrasi diciptakan untuk mendistribusikan
keuntungan, hak dan pelayanan di berbagai bidang
(pendidikan, kesehatan dsb) shg masy bisa
memanfaatkannya

Karakteristik birokrasi (lanjutan)


4. Size and Complexity: Birokrasi disusun untuk
konteks urusan publik yang luas dan kompleks, sehingga
banyak yang diserahkan ke swasta
5. Survival; Birokrasi jarang mati, mempunyai naluri
tetap hidup (jml peg tambah, urusan menjadi lebih besar
dsb)
6. Tidak netral (krs sering harus menunggu atau
memahami apa yg menjadi kehendak otoritas diatasnya)
tetapi juga tidak sepenuhnya dikendalikan oleh kekuatan
luar. Sikap birokrast thd tujuan kebijakan mrpk faktor
penting dalam implementasi

Model Grindle
Ide dasar : Setelah kebijakan ditransformasikan
dalam program aksi, maka tindakan
implementasi itu belum tentu lancar, akan tetapi
tergantung pada implementability dari program
tersebut.
OKI ia membagi faktor yg mempengaruhi
implementasi menjadi dua yaitu Content of
policy dan Context of policy

Grindle (lanjutan)
Content of Policy, meliputi :

1. kepentingan yg dipengaruh: Semakin banyak semakin sulit


diimplementasikan.
2. Jenis manfaat yg diperoleh: Kebijakan yg memberi manfaat aktual
dan bukan hanya formal dan simbolis lebih mudah
diimplementaikan
3. Derajad perubahan yg diinginkan; Perubahan sikap dan perilaku
akan sulit dilakukan
4. Kedudukan/ posisi pembuat kebijakan.
5. Siapa pelaksana program
6. Sumber daya yg dikerahkan

Context of policy, meliputi :

1. kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yg terlibat


2. Karakteristik lembaga dan penguasa
3. Kepatuhan serta daya tanggap pelaksana

Model Sabatier & Mazmanian


Implementasi mrpk fungsi 3 variabel :
1. Karakteristik Masalah, yg meliputi :
- Ketersediaan tehnologi & teori tehnis
- keragaman perilaku sasaran
- Sifat Populasi
- Derajad perubahan perilaku ygdiharap

Sabatier & Mazmanian(lanjutan)


2. Struktur manajemen program (aturan
yang mengiperasionalkan kebijakan), meliputi:
- Kejelasan dan konsistensi tujuan
- Teori kausal yg memadai
- Sumber dana yg mencukupi
- Integrasi organisasi pelaksana
- Diskresi Pelaksana
- Rekruitmen pejabat pelaksana
- Akses formal pelaksana ke organisasi lain

3. Faktor diluar Peraturan, meliputi :


- Kondisi sosial, ekonomi dan tehnologi
- Perhatian pers thd masalah kebijakan
- Dukungan publik
- Sikap dan sumber daya kel. Sasaran
- Dukungan kewenangan
- komitmen dan kemampuan pej pelaks

Menurut model top down, jika semua variabel


dapat bekerja dg baik maka proses implementasi
berjalan seperti yg diharapkan.
Variabel tsb dapat bersumber dari :
- program itu sendiri
- pelaksana
- sasaran kebijakan
- lingkungan kebijakan

Model Alur/ proses (Smith)Bottom Up model


Model ini melihat proses implementasi kebijakan publik
dari perspektif perubahan sosial politik.
Biasanya dilakukan terhadap kebijakan pemerintah yg
bertujuan untuk mengadakan perubahan atau perbaikan
pada kelompok sasaran (berdimensi target grop)
Ada 4 variabel dalam proses implementasi
1. Idealized Policy, yaitu pola interaksi yg diidealkan
oleh perumus dg tujuan mendorong target froup untuk
melaks kebj
2. Target Group, yaitu bagian dari stakeholders yg
diharapkan dapat mengadopsi pola intekasi yg diinginkan
3. Implementing Organization, yaitu pelaksana yg
bertanggung jawab dalam pelaksanaan.
4. Enviromental factors, yaitu unsur lingk
(Ipoleksosbud dsb) yg dapat mempengaruhi
implementasi

Model Smith (lanjutan)


Keempat variabel tsb tak bediri sendiri akan
tetapi saling mempengaruhi dan berinteraksi
secara timbal balik, shg memungkinkan
terjadinya ketidaksesuaian yg pada akhirnya
menimbulkan tension (tekanan) bagi terjadinya
tawar menawar antara formulator dan
implementator.
Model ini memandang bhw implementasi
kebijakan tak berjalan scr linear dan
mekanististetapi memberi peluang terjadinya
bergaining untuk menghasilkan kompromi thd
implementasi yg berdimensi target group

Kapan digunakan model top down &


bottom up ?
Model top down akan menguntungkan pada
sebuah situasi dimana para pembuat kebijakan
mampu mengatur dan mengontrol situasi, dan
dana yg terbatas
Model Bottom up, menguntungkan pada situasi
dimana implementator mempunyai kebebasan
untuk melakukan inovasi tanpa ada dependensi
kekuasaan dengan melihay dinamika daerah
atau lingkungan kebijakan yg berbeda
Menurut Eric Lane (1995) model topdown
menekankan tanggung jawab, sementara bottom
up menekankan pada kepercayaan

REFERENSI
1. Anderson (1990) Public Policy making
2. Merilee Grindle (1988), Politics and Policy
Implementation in the third world
3. George Edwards III (1980), Implementing Public policy
4. William N Dunn, (1995)Public policy Analysis
5. Randall Ripley & Grace Franklin (1987), bureaucracy
and Policy Implementation
6. Kenneth Dolbeare (1987), Policy evaluations
7. Daniel Mazmanian, Paul Sabatier(1986),
Implementation and Public Policy
8. Pressman & Wildavsky, (1988), Implementation
9. Wayne Parsons (2005), Pengantar dan praktek Analisis
Kebijaakan

Referensi
1. Ryan Nugroho, (2003), Kebijakan Publik, formulasi,
Implementasi dan evaluasi
2. Budi Winarno, (2001),Kebijakan Publik
3. Fadillah Putra,(2002) Paradigma kritis dalam studi
Kebijakan Publik
4. Samodra Wibowo, dkk,(1994) Evaluasi Kebijakan
Publik
5. AG Subarsono,(2005) Analisis Kebijakan Publik
6. Solichin Abdulwahab(1998), Analisis Kebiajakan Publik
dari formulasi ke implementasi
7. Hessel Nogi Tangkilisan,(2003) Evaluasi kebijakan
Publik
8. Edi Suharto (2005), Analisis kebijakan Publik