Anda di halaman 1dari 11

Kasus Nenek Minah

( Sebuah Kontradiksi antara aliran Positivisme Hukum dengan Aliran Sosiologis)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pada dasarnya kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari hukum.
Sepanjang sejarah peradaban manusia, peran sentral hukumdalam upaya menciptakan
suasana yang memungkinkan manusia merasa terlindungi, hidup berdampingan secara
1

damai dan menjaga eksistensinya didunia telah diakui .


Indonesia adalah negara yang berdasarkan kepada hukum (rechtaat), hukum
harus

dijadikan

panglima

dalam

menjalankan

kehidupan

bernegara

dan

bermasyarakat, sehingga tujuan hakiki dari hukum bisa tercapai seperti keadilan,
kepastian dan ketertiban. Secara normatif hukum mempunyai cita-cita indah namun
didalam implentasinya hukum selalu menjadi mimpi buruk dan bahkan bencana bagi
masyarakat. Ketidaksinkronan antara hukum di dalam teori (law in a book) dan
hukum dilapangan (law in action) menjadi sebuah perdebatan yang tidak kunjung
hentinya. Terkadang untuk menegakkan sebuah keadilan menurut hukum harus
melalui proses-proses hukum yang tidak adil.
Sebagain besar hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum bekas jajahan
Belanda, banyak kaedah-kaedah dalam hukum tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai
yang ada di tengah-tengah masyarakat dan tidak mencerminkan nilai-nilai keadilan.
Hukum kolonial yang masih berlaku di Indonesia

menganut ajaran Positivisme.

Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia, Surabaya, 2005,
hlm.1

Hukum menurut aliran ini adalah apa yang menurut undang-undang, bukan apa yang
seharusnya. Atas dasar itu, hukum harus pula dibersihkan dari anasir-anasir yang tidak
yuridis seperti etis (penilaian baik dan buruk), politis (subjektif dan tidak bebas nilai),
sosiologis (terlepas dari kenyataan sosial).
Ada sebuah kasus hukum yang sangat menarik untuk ditelaah, yakni seorang
nenek berumur 55 Tahun yang bernama Minah diganjar 1 bulan 15 hari penjara
karena menyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah kakao di perkebunan milik
PT. Rumpun Sari Antan (RSA) adalah hal yang biasa saja.
Ironi hukum di Indonesia ini berawal saat Minah sedang memanen kedelai di
lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang,
Banyumas, Jawa Tengah, pada 2 Agustus lalu. Lahan garapan Minah ini juga dikelola
oleh PT RSA untuk menanam kakao.
Ketika sedang asik memanen kedelai, mata tua Minah tertuju pada 3 buah
kakao yang sudah ranum. Dari sekadar memandang, Minah kemudian memetiknya
untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Setelah dipetik, 3 buah kakao itu
tidak disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon kakao.
Dan tak lama berselang, lewat seorang mandor perkebunan kakao PT RSA. Mandor
itu pun bertanya, siapa yang memetik buah kakao itu. Dengan polos, Minah mengaku
hal itu perbuatannya. Minah pun diceramahi bahwa tindakan itu tidak boleh dilakukan
karena sama saja mencuri.
Sadar perbuatannya salah, Minah meminta maaf pada sang mandor dan
berjanji tidak akan melakukannya lagi. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia
serahkan kepada mandor tersebut. Minah berpikir semua beres dan dia kembali
bekerja. Namun dugaanya meleset. Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut panjang.
Sebab seminggu kemudian dia mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi. Proses

hukum terus berlanjut sampai akhirnya dia harus duduk sebagai seorang terdakwa
kasus pencuri di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto. Majelis hakim yang dipimpin
Muslih Bambang Luqmono SH memvonisnya 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan
selama 3 bulan. Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal
362 KUHP tentang pencurian.
Adanya perbenturan antara nilai-nilai keadilan pada kasus tersebut penulis
tertarik menganalisa kasus tersebut melalui dua aliran hukum yang berbeda yang
saling kontradiksi yakni aliran hukum Positivisme dan Aliran Sosiologis.

B. Masalah Pokok
a. Bagaimana pandangan aliran positivisme terhadap kasus tersebut?
b. Bagaimana Pandangan aliran Sosiologis terhadap kasus tersebut?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pandangan Aliran Positivisme
Kasus nenek Minah menurut aliran positivis adalah sebuah perbuatan yang
harus dihukum, tanpa menghiraukan besar kecil yang dicurinya. Penegakan hukum
terhadap nenek Minah harus dilepaskan dari unsur-unsur sosial serta moralitas, karena
menurut kaca mata aliran ini tujuan hukum adalah kepastian, tanpa adanya kepastian
hukum tujuan hukum tidak akan tercapai walaupun harus mengenyampingkan rasa
keadilan.
Menurut Austin, hukum terlepas dari soal keadilan dan terlepas dari soal baik
dan buruk. Karena itu, ilmu hukum tugasnya hanyalah menganalisis unsur-unsur yang
secara nyata ada dalam sistem hukum modern. Ilmu hukum hanya berurusan dengan
hukum positif, yaitu hukum yang diterima tanpa memperhatikan kebaikan atau
keburukannya. Hukum adalah perintah dari kekuasaan politik yang berdaulat dalam
suatu negara.

Seorang pengikut Positivisme, Hart mengemukakan berbagai arti dari


positivisme tersebut sebagai berikut:
1. hukum adalah perintah
2. Analisis terhadap konsep-konsep hukum berbeda dengan studi sosiologis,
histories dan penilaian kritis.

Muhammad Sidiq, Perkembangan Pemikiran Teori Ilmu Hukum, Prandya Paramita, Jakarta, 2009,
hlm. 6

3. keputusan-keputusan dideduksi secara logis dari peraturan-peraturan yang


sudah ada lebih dahulu, tanpa perlu merujuk kepada tujuan-tujuan sosial,
kebijaksanaan dan moralitas.
4. Penghukuman secara moral tidak dapat ditegakkan dan dipertahankan oleh
penalaran rasional, pembuktian atau pengujian
5. Hukum sebagaimana diundangkan, ditetapkan, positum, harus senantiasa
3

dipisahkan dari hukum yang seharusnya diciptakan, yang diinginkan .


Aliran Positivisme hukum telah memperkuat pelajaran legisme, yaitu suatu
pelajaran yang menyatakan tidak ada hukum di luar undang-undang, undang-undang
menjadi sumber hukum satu-satunya. Undang-undang dan hukum diidentikkan.
Hukum Pidana di Indonesia masih menganut aliran Positivisme, hal ini secara
eksplisit tertuang didalam pasal 1 ayat (1) KUHP, bahwa tidak dapat di pidana
seseorang sebelum ada undang-undang yang mengaturnya, ini disebut dengan azas
legalitas. Dari pernyataan diatas maka pada pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana menentukan bahwa, dapat dipidana atau tidaknya suatu perbuatan
tergantung pada undang-undang yang mengaturnya. Jadi perbuatan pidana yang dapat
dipertanggung jawabkan ialah yang tertuang didalam hukum positif, selama perbuatan
pidana tidak diatur didalam didalam hukum positif, maka perbuatan tersebut bukan
perbuatan pidana dan tidak bisa diminta pertanggung jawaban hukumnya menurut
hukum pidana.
Ketika nenek Minah kedapatan mengambil 3 buah kakao, yang secara
ekonomi nilainya tidak seberapa, nenek Minah harus berurusan dengan hukum,
karena perbuatan yang dilakukan nenek Minah menurut hukum Pidana termasuk

Satjipto Raharjo II, Buku Materi Pokok Pengantar Ilmu Hukum Bagian IV, Karunika, Jakarta, 1985,
hlm. 111

kepada perbuatan pidana yakni tindak pidana pencurian. Menurut Aliran Positivisme
bagaimana pun hukum harus ditegakkan tanpa melihat baik atau buruknya serta adil
atau tidak adilnya. Hukum harus dilepaskan dari unsur-unsur sosial, karena tujuan dari
aliran ini adalah kepastian hukum.
Menurut paham positivisme, setiap norma hukum harus eksis dalam alamnya
yang obyektif sebagai norma-norma yang positif, serta ditegaskan dalam wujud
kesepakatan kontraktual yang konkret antara warga masyarakat atau wakil-wakilnya.
Disini hukum bukan lagi dikonsepsikan sebagai asas-asas moral metayuridis yang
abstrak tentang hakikat keadilan, melainkan ius yang telah mengalami positivisasi
sebagai lege atau lex, guna menjamin kepastian mengenai apa yang terbilang hukum,
dan apa pula yang sekalipun normative harus dinyatakan sebagai hal-hal yang bukan
terbilang hukum.

Dalam menjawab persoalan itu, sebagai negara yang menganut aliran


positivisme, mau tidak mau cara berpikir aliran positivisme itulah yang harus
diterapkan. Inilah yang disebut dengan tertib berpikir. Dengan kata lain, terlepas dari
serba keburukan-keburukan yang melekat pada aliran hukum positivisme ini, cara
memandang persoalannya harus dengan kacamata positivisme. Bukan dengan dasar
filosofis lainnya.
Karena melihat persoalan hukum ini melalui kacamata positivisme, maka
harus melihat kembali fakta-fakta substansi

hukum Pidana

Indonesia dalam

menjawab persoalan ini, sebagai negara yang menganut aliran positivisme, mau tidak
mau cara berpikir aliran positivisme itulah yang harus diterapkan. Inilah yang disebut
dengan tertib berpikir, sehingga hukum Pidana terlepas dari Ins konsistensi hukum.

Soetandyo Wignjosobroto, Hukum, Paradigma, metode dan Dinamika Masalahnya, Elsam & Huma,
Jakarta, 2002, hlm. 96

Dengan kata lain, terlepas dari serba keburukan-keburukan yang melekat pada aliran
hukum positivisme ini, cara memandang persoalannya harus dengan kacamata
positivisme. Bukan dengan dasar filosofis lainnya. Menurut Hans Kelsen, aliran
positivisme hukum tidak mempersoalkan keadilan, karena hal tersebut bukan konsen
dari hukum.

B. Pandangan Aliran Sosiologis.


Kasus nenek Minah sontak mencidrai rasa keadilan di tengah masyarakat,
sebab nenek Minah yang tak tau apa-apa tersebut harus berurusan dengan hukum dan
dijatuhi hukuman oleh hakim. Padahal apa yang diperbuat oleh nenek Minah sangat
tidak berbanding dengan sanksi yang diterimanya. Seharusnya perkara-perkara kecil
seperti ini tidak sampai ke pengadilan dan cukup diselesaikan bawah, tetapi hukum
berkata lain. Substansi hukum tidak lagi mencerminkan keadilan ditengah
masyarakat, hukum sudah jauh dari nilai-nilai yang hidup ditengah masyarakat.
Menurut Aliran Sosiologis yang dipelopori Hammaker, Eugen Ehrlich dan
Max Weber Hukum merupakan hasil interaksi sosial dalam masyarakat. Hukum
adalah gejala masyarakat, karenanya perkembangan hukum (timbulnya, berubahnya
dan lenyapnya) sesuai dengan perkembangan masyarakat. Perkembangan hukum
merupakan kaca dari perkembangan masyarakat.
Oleh sebab itu, menurut aliran Sosiologis, hukum bukanlah norma-norma
atau peraturan-peraturan yang memaksa orang berkelakuan menurut tata tertib yang
ada dalam masyarakat, tetapi kebiasaan-kebiasaan orang dalam pergaulannya dengan
orang lain, yang menjelma dalam perbuatan atau perilakunya dimasyarakat.
Hammaker, yang meletakkan dasar sosiologi hukum di Negara Belanda menyatakan,
hukum itu bukan suatu himpunan norma-norma, bukan himpunan peraturan-peraturan

yang memaksa orang berkelakuan menurut tata tertib masyarakat, tetapi suatu
himpunan peraturan-peraturan yang menunjuk kebiasaan orang dalam pergaulannya
dengan orang lain di masyarakat.
Menurut Soekanto, aliran sociological jurisprudence yang dipelopori oleh
oleh Eugen Erlich, bahwa ajarannya adalah berpokok pada perbedaan antara hukum
positif (kaidah-kaidah hukum) dengan hukum yang hidup ditengah masyarakat (living
law). Sehingga hukum yang positif hanya akan efektif apabila senyatanya selaras
dengan hukum yang hidup di masyarakat. Erlich juga mengatakan bahwa pusat
perkembangan dari hukum bukanlah terletak pada badan-badan legislated, keputusankeputusan badan yudikatif atau ilmu hukum, tetapi senyatanya adalah justru terletak
didalam masyarakat itu sendiri.

Kasus nenek Minah merupakan secuil kecil masalah ketidakadilan ditengahtengah masyarakat. Banyak substansi hukum yang ada tidak berihak kepada
kepentingan masyarakat, hukum tidak lagi mencerminkan perkembangan masyarakat
sehingga banyak masalah-masalah hukum terkini ditengah-tengah masyarakat tidak
bisa dijawab oleh hukum, karena hukum yang berlaku sudah banyak yang usang
seperti hukum warisan kolonial yang masih bersifat positivis.
Secara idialnya perkembangan masyarakat harus diikuti oleh perkembangan
hukum. Dari kasus nenek Minah, penggunaan pranata hukum yang tidak sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan tidak mencerminan nilai-nilai keadilan
ditengah masyarakat hanya membawa ketidakadilan ditengah-tengah masyarakat.
Ditambah lagi dengan aparat penegak hukum yang masih berpola pikir konservatif
dalam menegakkan hukum. Hukum adalah hasil ciptaan masyarakat, tapi sekaligus ia

Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta, 1999, hlm.36

juga menciptakan masyarakat. Sehingga konsep dalam berhukum seyogyanya adalah


6

sejalan dengan perkembangan masyarakatnya .

Sabian Usman, Dasar-Dasar Sosiologi Hukum Makna Dialog Antara Hukum dan Masyarakat,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009, hlm. 242

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hukum dan keadilan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kasus nenek
Minah merupakan gambaran nyata bahwasanya dunia hukum di Indonesia masih jauh
dari nilai-nilai keadilan. Sebagian besar hukum yang berlaku di Indonesia masih
menganut aliran positivisme. Tujuan dari aliran ini ialah kepastian hukum, hukum
adalah yang terdapat didalam Undang-undang, sedangkan diluar itu bukanlah hukum.
Hukum harus ditegakkan tanpa melihat unsur-unsur sosiologis, etis maupun politis.
Sehingga nenek Minah yang lemah dan tak berdaya didepan hukum harus tetap
menjalani proses hukum, karena walaupun hukum kejam hukum tetap harus
ditegakkan.
Sedangkan di sisi lain, dengan adanya kasus nenek Minah ini, hukum di
Indonesia tidak lagi menggambarkan nilai-nilai keadilan ditengah-tengah masyarakat.
Menurut Aliran Sosilogis hukum itu lahir dan hidup ditengah masyarakat, hukum
yang hidup ditengah masyarakat itulah hukum, sehingga hukum merupakan
percerminan dari perkembangan masyarakat itu. Menurut aliran ini hukum tidak
terdapat didalam undang-undang, tetapi hukum itu ada ditengah-tengah masyarakat
yang terlihat dari pola tingkah laku masyarakat. Perkembangan masyarakat juga harus
di ikuti oleh perkembangan hukum, sehingga pranata-pranata hukum yang ada dapat
menjawab semua masalah hukum tanpa mengenyampingkan nilai-nilai keadilan yang
hidup ditengah-tengah masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Hans Kelsen, Toeri Hukum Murni, Nusamedia, Bandung, 2008
Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia,
Surabaya, 2005
Muhammad Sidiq, Perkembangan Pemikiran Teori Ilmu Hukum, Prandya Paramita,
Jakarta, 2009
Sabian Usman, Dasar-Dasar Sosiologi Hukum Makna Dialog Antara Hukum dan
Masyarakat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009
Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta, 1999
Soetandyo Wignjosobroto, Hukum, Paradigma, metode dan Dinamika Masalahnya,
Elsam & Huma, Jakarta, 2002
Satjipto Raharjo II, Buku Materi Pokok Pengantar Ilmu Hukum Bagian IV, Karunika,
Jakarta, 1985