Anda di halaman 1dari 13

GANGGUAN SOMATISASI

Siti Zubaidah

Nim : 050100018

DEPARTEMEN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Tujuan 2

BAB II. PEMBAHASAN

1.

2.

2.1. Definisi 3

2.2. Epidemiologi 3

2.3. Klasifikasi 4

2.4. Kriteria Diagnostik 5

2.4.1.Kriteria diagnostik untuk gangguan somatik 5

2.4.2.Kriteria diagnostik untuk gangguan konversi 18

2.4.3.Kriteria diagnotsik untuk gangguan hipokondriasis

2.4.4.Kriteria diagnostik untuk gangguan dismorfik tubuh

2.4.5.Criteria gangguan diagnostic untuk gangguan nyeri 18

2.5. Penatalaksanaan 21

2.5.1.Pungsi Untuk Tujuan Terapi 21

2.5.2.Terapi Medikamentosa 22

BAB III. KESIMPULAN 11


DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangguan somatisasi adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik ( sebagai

fisik(sebagaicontohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan

medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan

penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien unt

untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform

mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk

onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-

pura yang disadari atau gangguan buatan.1

Ganguan ini ditandai dengan adanya keluhan-keluhan berupa gejala fisik yang bermacam-

macam dan hampir mengenai semua sistem tubuh. Keluhan ini biasanya sudah berlangsung lama

dan biasanya keluhannya berulang-ulang namun berganti-ganti tempat. Pasien biasanya telah

sering pergi ke berbagai macam dokter ( doctor shopping ). Beberapa pasien bahkan ada yang

sampai dilakukan operasi namun hasilnya negatif. Keluhan yang paling sering biasanya

berhubungan dengan sistem organ gastrointestinal ( perasaan sakit, kembung, bertahak, mual dan

muntah ) dan keluhan pada kulit seperti rasa gatal, terbakar, kesemutan, baal dan pedih.

Pasien juga sering mengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh, misalnya nyeri

kepala, punggung, persendian, tulang belakang, dada atau nyeri saat berhubungan badan. Kadang

juga terdapat keluhan disfungsi seksual dan gangguan haid. 2


Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Biasanya bermula sebelum

usia 30an dan telah berlangsung beberapa tahun. Pasien biasanya tidak mau menerima pendapat

dokter bahwa mungkin ada dasar psikologis yang mendasari gejalanya.k berfungsi di dalam

peranan sosial atau pekerjaan.

1.2 Tujuan

Makalah ini disusun dengan harapan, setiap pembaca khususnya kalangan medis, lebih

mengetahui bagaimana cirri-ciri gangguan somatisasi yang nantinya akan mudah untuk

mendiagnosa secara pati gangguan ini, sehingga pengobatan dapat diberikan secara maksimal

dan tepat, yang nantinya memberikan efek postif atau kesembuhan yang diharapkan. Dan juga

untuk memberikan informasi tentang bagaimana cara penanganan dari gangguan somatisasi ini.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Defenisi

Kata somatoform ini di ambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti “tubuh”. Dalam

gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik,

namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan penyebabnya. Gangguan

somatoform berbeda dengan malingering, atau kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk

mendapatkan hasil yang jelas. Gangguan ini juga berbeda dengan gangguan factitious yaitu

suatu gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang disengaja tanpa

keuntungan yang jelas. Selain itu gangguan ini juga berbeda pula dengan sindrom Muchausen

yaitu suatu tipe gangguan factitious yang ditandai oleh kepura-puraan mengenai simtom medis.3

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik

(sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis.

Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional

yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam

peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian

klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan

durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau

gangguan buatan.3

2.2 Epidemiologi

Penyakit ini sering didapatkan , berkisar antara 2-20 dari 1000 penduduk. Lebih banyak pada

wanita. Pasien pada umumnya mempunyai riwayat keluhan fisik yang banyak. Biasanya dimulai

sebelum berumur 30 tahun. Sebelumnya pasien telah banyak mendapat diagnosis, makan banyak

obat, dan banyak menderita alegi. Pasien ini terus mencari penerangan medis untuk gejala yang

dideritanya dan bersedia untuk melakukan berbagai test medis, pembedahan, uji klinik, walaupun
dia tahu hal tersebut jarang yang memberikan hasil, biasanya hasilnya adalah normal, atau ada

gangguan kecil.4

Fenomena ini dapat berupa spectrum yang ringan yang akan memperberat gangguan

somatisasi, pasien yang benar benar masuk kriteria biasanya telah hidup dengan didominasi dengan

pengalaman medik dan mungkin telah mengalami gangguan hubungan interpersonal. Riwayat

keluarga biasanya menunjukkan hal yang sama terutama pada wanita, dan riwayat anti sosial pada

pria.4

2.3 Klasifikasi 5

Adapun bentuk gangguan tersebut adalah sebagai berikut :

1.Gangguan konversi

Merupakan bentuk perubahan yang mengakibatkan adanya perubahan fungsi fisik yang tidak

dapat dilacak secara medis. gangguan ini muncul dalam konflik atau pengalaman traumatik yang

memberikan keyakinan akan adanya penyebab psikologis.

2. Hipokondriasis

Terpaku pada keyakinan bahwa dirinya menderita penyakit yang serius. Ketakutan akan adanya

penyakit terus ada meskipun secara medis telah diyakinkan. Sensasi atau nyeri fisik biasa sering

diasosiasikan dengan gejala penyakit kronis tertentu.

3. Gangguan Somatisasi

Keluhan fisik yang muncul berulang mengenai simtom fisik yang tidak ada dasar organis yang

jelas. Gangguan ini menyebabkan seseorang untuk melakukan kunjungan medis berkali-kali atau

menyebabkan hendaya yang signifikan dalam fungsi.


4. Gangguan Dismorfik Tubuh

Terpaku pada kerusakan fisk yang dibayangkan atau berlebih-lebihan. Menganggap orang tidak

memperhatikannya karena kerusakan tubuh yang dimilikinya (dipersepsikannya). Gangguan ini

akan membawa seseorang pada perilaku kompulsif . seperti berulang-ulang berdandan. dll.

Ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh

mengalami cacat.

5. Gangguan nyeri

Ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara

bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis. DSM-IV juga memiliki dua criteria diagnostic

residual untuk gangguan somatoform

2.4 Kriteria Diagnostik1

2.4.1Kriteria diagnostik untuk gangguan somatisasi :

A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama

periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna

dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada

sembarang waktu selama perjalanan gangguan:

1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat

tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota

gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama

miksi)

2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain

nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau
intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)

3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain

dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi

tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).

4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang

mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi

seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat,

sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya

sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif

seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).

C. Salah satu (1)atau (2):

1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan

sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan

suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)

2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan

yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit,

pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.

D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-

pura).
2.4.2 Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi
A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang

mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.

B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau
eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.

C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada

gangguan buatan atau berpura-pura).

D. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya

oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau

pengalaman yang diterima secara kultural.

E. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan

dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan

medis.

F. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata

selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh

gangguan mental lain.

Sebutkan tipe gejala atau defisit:

-Dengan gejata atau defisit motorik

-Dengan gejala atau defisit sensorik

-Dengan kejang atau konvulsi

-Dengan gambaran campuran


2.4.3 Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis
A. Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius

didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejalagejala tubuh.

B. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan

penentraman.

C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional,
tipe somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada

gangguan dismorfik tubuh).

D. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam

fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.

F. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan

obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau

gangguan somatoform lain.


2.4.4 Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh
A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali

tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.

B. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam

fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya,

ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).


2.4.5 Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri
A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup

parah untuk memerlukan perhatian klinis.

B. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi

sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

C. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi

atau bertahannnya nyeri.

D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau berpura-pura).

E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan

psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

- Gangguan somatisasi adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik ( sebagai

fisik(sebagaicontohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan

medis yang adekuat3

-Klasifikasi gangguan somatisasi adalah: gangguan konversi, gangguan hipokondriasis,

gangguan somatisasi, gangguan dismorfik body, gangguan nyeri.5

- DSM-IV menyederhanakan kriteria diagnostik yang diajukan di dalam DSM-III-R. Untuk

diagnosis gangguan somatoform, DSM-IV mengharuskan onset usia sebelum 30 tahun. Selama
perjalanan penyakit, pasien harus telah mengeluhkan sekurangnya empat gejala nyeri, dua gejala

gastrointestinal, satu gejala seksual, dan satu gejala neurologis semu, yang semuanya tidak ada

yang dapat dijelaskan sepenuhnya melalui pemeriksaan fisik atau laboratorium.6

DAFTAR PUSTAKA

1. Pardamean E, Somatoform, di unduh dari http://www.idijakbar.com/prosidim/gangguan-

somatisasi.htm di akses Oktober 2007

2. . Medika G, Gangguan Somatoform, http://chanantha.wordpress.com/2009/09/28/gangguan-

somatisasi di akses Maret 2008

3. Hartati N, Gangguan Disosiatif dan Somatoform, di unduh dari

hhtp://catatankuliah.wordpres.com/2008/11/08.gangguan-disosiatif-dan-somatisasi// di akses

November 2008

4.Iskandar Yul, Somatoform, di unduh dari

http ://www.dryuliskandar.Multyply.com/journal//item//53 diakses Juli 2008


5. Wirawan H, Somatoform, di unduh dari

http://Hilman2007.wordpress.com/2009/07/03/gangguan-somatisasi// di akses Juli 2009

6. 56.Dewi, Somatisasi Psikologi Abnormal, di unduh dari

http://dewipsikolog.blogspot.com/2009-03-01//arcvie.html di akses Maret 2009