Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN

Diare merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia karena angka


kesakitan dan kematian yang masih tinggi. Secara definisi diare adalah buang air
besar yang lebih sering dari biasanya dan dengan konsistensi yang lebih encer dari
biasanya. Diare dapat dibagi menjadi diare cair dan diare berdarah. Serta bila
ditinjau dari lamanya, diare dapat dibagi menjadi diare akut dan diare persisten.
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali dalam
sehari, serta disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa
lendir atau darah yang berlangsung kurang dari satu minggu.1
Hasil Riskesdas tahun 2007 menemukan bahwa diare merupakan
penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.2Biro
pusat statistik Indonesia melaporkan bahwa setiap anak mengalami diare sebanyak
1-2 episode pertahun. Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia tahun
2002-2003, prevalensi diare pada anak anak dengan usia kurang dari 5 tahun di
Indonesia adalah : laki-laki 10,8% dan perempuan 11,2%. Berdasarkanumur,
prevalensitertinggiterjadipadausia 6-11 bulan(19,4%), 12-23 bulan (14,8) dan 2435 bulan (12,0).3
Berdasarkan laporan WHO 2003, kematian akibat diare di negara
berkembang telah turun dari 4,6 juta tahun 1982 menjadi 2,5 juta kematian pada
tahun 2003. Di Indonesia angka kematian diare juga telah turun tajam dari 40%
tahun 1972 menjadi 24,9 pada tahun 1980, 10% tahun 1985 hingga 7,4 % tahun
1996 dari semua kasus kematian. Walaupun angka kematian karena diare telah
turun, angka kesakitan karena diare tetap tinggi baik di negara maju maupun di
negara berkembang.3
Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja
di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering
menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam
waktu yang singkat.3

BAB II
STATUS PEDIATRIK

I. IDENTIFIKASI
Nama penderita

: An. A

Umur

: 11 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Jln. Depati Parbo

Nama Ayah

: Tn. J

Nama Ibu

: Ny. A

Agama

: Islam

MRS tanggal

: 14 Desember 2014

II. ANAMNESA
Diberikan oleh

: Ibu pasien

Tanggal

: 15 November 2014

A. Riwayat Penyakit Sekarang


1. Keluhan utama

: BAB cair >4x dalam 1 hari SMRS.

2. Keluhan tambahan

: Demam dan muntah 1 hari SMRS.

3. Riwayat Perjalanan Penyakit:


1 hari SMRS, orang tua os mengeluh anaknya BAB cair >4x berwarna kuning,
lendir (-), darah (-) setiap kali BAB berjumlah 1 gelas belimbing, dan muntah >3x
berisi apa yang dimakan tidak berbau asam, amis dan disrtai demam dengan suhu
tidak terlalu tinggi, mimisan (-), gusi berdarah (-), batuk pilek (-), kejang (-),
bintik merah di kulit (-), menggigil (-), kencing biasa tak ada keluhan, perut sakit,
mual, kencing warna kuning, biasa, merah (-), keluhan telinga gatal (-), telinga
terasa penuh (-), keluar cairan (-),os suka jajan diluar, dirumah os minum air
gallon tanpa dimasak terlebih dahulu. Dirumah os tidak diberikan obat apapun, os
langsung dibawa ke RSUD Raden Mattaher.

Riwayat penyakit dahulu:


-

Riwayat penyakit yang sama disangkal

Riwayat sakit batuk pilek ada

Riwayat Penyakit Keluarga:


Riwayat Penyakit yang sama dalam keluarga tidak ada.

Riwayat Sosial Ekonomi:


Ayah penderita bekerja sebagai pegawai swasta. Ibu tidak bekerja.
Penghasilan > 1.500.000/bulan. Menanggung 1 orang anak. Biaya
pengobatan ditanggung oleh ayah penderita.
Kesan Sosial Ekonomi: Cukup

B. Riwayat Sebelum Masuk Rumah Sakit


1. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
Masa kehamilan

: aterm, 9 bulan

Partus

: pervaginam

Tempat

: di tempat praktek bidan

Ditolong oleh

: bidan

Tanggal

: 24 Januari 2003

BBL

: 3300 gr

PB

:49 cm

K4

: Tidak Rutin

2. Riwayat Makanan dan kebiasaan


ASI

: + Sampai usia 7 buloan

Susu Botol/kaleng

: + Susu formula saat baru lahir

Bubur Nasi

: +

Nasi lembek

: +

Nasi Biasa

: +

Daging , Ikan dan telur

:+

Tempe dan Tahu

:+

Sayur Buah

:+

Kesan

: Sumber nutrisi cukup

3. Riwayat Imunisasi
BCG

:+

Campak

:+

Polio

:+

Hepatitis

:+

DPT

:+

Kesan

: Imunisasi lengkap

4. Riwayat Keluarga:
Perkawinan

: orang tua menikah

Umur

: usia ibu saat itu 25tahun

Pendidikan

: tamat SMA

Penyakit yang pernah diderita : Tidak ada keluarga/ saudara yang pernah
mengalami keluhan yang sama,
Saudara

:-

5. Riwayat Perkembangan Fisik


Gigi Pertama

: 9 bulan

Tengkurap

: 7bulan

Balik

: 9 bulan

Duduk

: 9 bulan

Merangkak

: os tidak pernah merangkak

Berdiri

: 1 tahun

Berjalan

: 1 tahun 3 bulan

Berbicara

: 1 tahun 9 bulan

Kesan

: Tumbuh kembang optimal

6. Riwayat Perkembangan Mental


Isap Jempol

:-

Ngompol

:+

Sering mimpi

:-

Aktifitas

: cukup aktif

Membangkang

:-

Ketakutan

:-

7. Status gizi
BB/TB (34,5 kg/145 cm) x 100 % = 23,79
BB/U (13 kg/34 bln) :0 SD
(13 14,1)/ (14,1-1,6) = -0,09
TB/U (70 cm/34 bln ): 0 SD
(70 95) / (95-3,5) = -0,27
Kesan: Gizi baik
Berat badan ideal (>1 tahun) = umur (tahun) x 2 + 8
= 2x2+8 =12 kg

8. Riwayat Penyakit yang pernah di derita


Parotitis

:-

Muntah berak : -

Pertusis

:-

Asma

:-

Difteri

:-

Cacingan

:-

Tetanus

:-

Patah tulang

:-

Campak

:+

Jantung

:-

Varicella

:+

Sendi bengkak: -

Thypoid

:-

Kecelakaan

:-

Malaria

:-

Operasi

:-

DBD

:-

Keracunan

:-

Demam menahun

:-

Sakit kencing : -

Radang paru

:-

Sakit ginjal

:-

TBC

:-

Kejang

:-

Perut Kembung

:+

Lumpuh

:-

Alergi

:-

Otitis Media : -

Batuk/pilek

:+

C. Anamnesa Organ
Kepala

Mata

Sakit kepala

:-

Rabun senja

:-

Rambut rontok

:-

Mata merah

:-

Lain-lain

:-

Bengkak

:-

Telinga

Hidung

Nyeri

:-

Epistaksis

:-

Sekret

:-

Kebiruan

:-

Gangguan pendengaran

:-

Penciuman

:dbn

Tinitus

:-

Gigi mulut
Sakit gigi

:-

Sakit membuka mulut : -

Sariawan

:-

Rhagaden

:-

Gangguan mengecap

:-

Lidah kotor

:-

Gusi berdarah

:-

Bibir kering

Tenggorokan

Leher

Sakit menelan

:-

Kaku kuduk

:-

Suara serak

:-

Tortikolis

:-

Parotitis

:-

Jantung dan Paru


Nyeri dada

:-

Sifat

:-

Penjalaran

:-

Sesak napas

:-

Batuk

:-

Pilek

:-

Batuk darah

:-

Sembab

:-

Kebiruan

:-

Keringat malam hari

:-

Sesak waktu malam

:-

Berdebar

:-

Sakit saat bernapas

:-

Nafas bunyi/ mengi

:-

Sakit kepala sebelah

:-

Dingin ujung jari

:-

Penglihatan berkurang

:-

Bengkak sendi

:-

Abdomen
a. Hepar
Tinja seperti dempul : -

Kuning di sklera dan kulit : -

Sakit kuning

:-

Perut kembung

:-

Kencing warna tua

:-

Mual/muntah

:-

b. Lambung dan usus


Nafsu makan

: baik

Perut kembung

:-

Mual/muntah

:+

Isi

: Apa yang dimakan

Frekuensi

:3x

Jumlah

: gelas belimbing

Muntah darah

:-

Mencret

:+

Konsistensi

: cair, lembek

Frekuensi

: > 4x

Jumlah

: 1 gelas belimbing

Tinja berlendir

:-

Tinja berdarah

:-

Dubur berdarah

:-

Sukar BAB

:-

Sakit perut

:-

Lokasi

:-

Sifat

:-

c. Ginjal dan urogenital

d. Endokrin

Sakit kuning

:-

Sering minum

:-

Warna keruh

:-

Sering kencing

:-

Frekuensi miksi

: 3-4x/hari

Sering makan

:-

Sembab kelopak mata :-

Keringat dingin

:-

Edema tungkai

Tanda pubertas prekoks: -

:-

e. Syaraf dan Otot


Hilang rasa

:-

Riwayat kejang keluarga

:-

Kesemutan

:-

Badan kaku

:-

Otot lemas

:-

Tidak sadar

:-

Otot Pegal

:-

Mulut mencucu

:-

Lumpuh

:-

Trismus

:-

Kejang

:-

Kejang pertama usia

Panas

: (+) 1 hari

Riwayat trauma kepala :-

:-

yll, sekarang tidak lagi.

f. Alat kelamin
Hernia

:-

Bengkak

:-

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. PEMERIKSAAN UMUM ( 4 Maret 2013 )
Keadaan umum

: sadar, kurang aktif, tanda dehidrasi (+)

Kesadaran

: Composmentis

Posisi

: berbaring

BB

: 24,5 kg

PB

: 145cm

Gizi

: WHO-NCHS

BB/TB (24,5 kg/145 cm)

: 0 SD

(13-8,5) / (8,5-0,8) = 0,58


BB/U (13 kg/34 bln) : 0 SD
(13 14,1) / (14,1-1,6) = -0,09
TB/U (70 cm/34 bln ): 0 SD
(70 95) / (95-3,5) = -0,27
Kesan: Gizi baik
Berat badan ideal (>1 tahun) = umur (tahun) x 11 + 8
= 2x11+8 =12 kg
LK

: 53 cm

Edema

:-

Sianosis

:-

Dyspnoe

:-

Ikterus

:-

Anemia

:-

Suhu

: 36,9 C

Respirasi

: 24x/ menit SpO2 =99 %

Tipe pernapasan

: Abdominothorakal

Turgor

: < 2 (kembalicepat)

Tekanan darah

:100/70mmHg

Nadi

Frekuensi

: 120 x/

Isi /kualitas

: cukup

Equalitas: sama pada ke 4 ekst

Regularitas

: teratur

Kulit
Warna

: sawo matang

Hipopigmentasi : Hiperpigmentasi : Ikterus

:-

Bersisik

:-

Makula / Papula

: -/-

Vesikulaa/Pustula

: -/-

Sikatriks / Eritema

: -/-

Haemangiom/Ptechiae : -/Edema

:-

B. PEMERIKSAAN KHUSUS
KEPALA
Bentuk

: Normocephali

Rambut

: Lurus

Warna

: hitam

Mudah Rontok

:-

Kehalusan

: cukup

Alopesia

:-

Sutura

: tidak melebar

Fontanella mayor

: tidak teraba

Fontanella minor

:-

Cracked pot sign

:-

Cranio tabes

:-

MUKA
Roman muka

: dbn

Bentuk muka

: bulat

Sembab

:-

10

Simetris

:+

ALIS
Kerapatan

:-

Alopesia

:-

: dbn

MATA
Sorot mata

Mudah rontok

KELOPAK MATA
: tajam

Cekung

:-

Hipertelorisme

:-

Edema

:-

Sekret

:-

Ptosis

:-

Epifora

:-

Lagoftalmus

:-

Pernanahan

:-

Kalazion

:-

Endophthalmus

:-

Ektropion

:-

Exophthalmus

:-

Enteropion

:-

Nistagmus

:-

Haemangioma

:-

Starbismus

:-

Hordeolum

:-

KONJUNGTIVA
Anemis

:-

Refleks

: -

Perdarahan Subkonjungtiva

:-

SKLERA

Infeksi

:-

Ikterus

Bitot Spot

:-

Xerosis

:-

Bentuk

: bulat

Ulkus

:-

Warna

: hitam

:-

IRIS

PUPIL
Bentuk

: bulat, simetris

Ukuran

: 2 mm/ 2 mm

Isokor

:+

Refleks cahaya langsung

: +/+

Refleks cahaya tdk langsung

: +/+

Katarak

:-

11

TELINGA

HIDUNG

Bentuk

: simetris

Bentuk

: simetris

Kebersihan

: cukup

Cuping hidung

:-

Sekret

:-

Gangren

:-

Tophi

:-

Coryza

:-

Membran tympani : sulit dinilai

Mukosa Edem

:-

Nyeri tekan mastoid

Epistaksis

:-

Deviasi Septum

:-

:-

Nyeri tarik Daun telinga : -

MULUT BIBIR

FARING-TONSIL

Bentuk

: normal

Warna

: dbn hiperemis (-)

Mukosa, warna

: lembab, merah

Edema

:-

Ukuran

: dbn

Selaput

: dbn

Ulkus

:-

Pembesaran tonsil

:T1-T1

Rhagaden

:-

Bercak koplik

:-

Sikatriks

:-

Palatoschizis

:-

Cheitosis

:-

Sianosis

:-

GIGI

Labioschiziz

:-

Kebersihan

: kurang

Bengkak

:-

Karies

:-

Vesikel

:-

Hutchinson

:-

Oral trush

:-

Gusi

:-

Trismus

:-

LIDAH
Bentuk

: dbn

Hiperemis

:-

Gerakan

: dbn

Selaput

: dbn

Tremor

:-

Atrofi papil

:-

Warna

: normal

Makroglosia : -

12

LEHER
INSPEKSI
Struma

:-

Bendungan vena

: 5 - 2

cm H2O
Pulsasi

:-

Limphadenopati

:-

Tortikolis

:-

Bullneck

:-

Parotitis

:-

PALPASI
Kaku kuduk

:-

Pergerakan

:-

Struma

:-

THORAX DEPAN DAN PARU


INSPEKSI STATIS
Bentuk

: simetris

Bendungan vena

:-

Simetris

: simetris

Tumor

:-

Clavicula

: dbn

Sela iga

: tidak terlihat

Sternum

: dbn

INSPEKSI DINAMIS
Gerakan

: dinamis

Bentuk pernapasan

: thorakal

Retraksi interkostal

:-

Retraksi Epigastrium

:-

PALPASI
Nyeri tekan

:-

Tumor

:-

Fraktur iga

:-

Stemfremitus : sama ka=ki

Krepitasi

:-

PERKUSI

13

Bunyi ketuk

: sonor kedua lapangan paru

Nyeri ketuk

:-

Batas paru- hati

: ICS 6 garis aksilaris media dextra

Peranjakan

: 1 jari

Batas Jantung

: sulit dinilai, anak menolak

AUSKULTASI
Bunyi napas pokok

: vesikuler kedua lapangan paru

Bunyi napas tambahan

: rhonkhi (-/-), wheezing (-/-)

JANTUNG
INSPEKSI
Vousure cardiac

:-

Ictus cordis

: tidak tampak

Pulsasi jantung

:-

14

PALPASI
Ictus cordis : ICS 5, 1 jari medial garis mid clavicula sinistra
Thrill

: dbn

Aktivitas jantung ka

: dbn

Aktifitas jantung ki

: dbn

PERKUSI
Batas kiri

: sulit dinilai

Batas kanan

: sulit dinilai

Interkostal

: sulit dinilai

Subkostal

: sulit dinilai

Epigastrum

:sulitdinilai

AUSKULTASI
BUNYI JANTUNG
Bunyi jantung I: Normal, reguler
Mitral

: normal

Trikuspid

: normal

Bunyi jantung II

: normal, reg

Pulmonal

: normal

Aorta

: normal

BISING JANTUNG :
Fase bising: Bentuk bising: Derajat bising : Punctum maximum: Penjalaran bising : Kualitas bising: -

15

THORAX BELAKANG
INSPEKSI STATIS
Bentuk

:dbn

Processus spinosus

:dbn

Scapula

:dbn

Skoliosis

:-

Khiposis

:-

Lordosis

:-

Gibus

:-

ABDOMEN
INSPEKSI
Bentuk

: soepel

Umbilikus

: dbn

Ptechie

:-

Spider nevi

:-

Bendungan vena

:-

Gambaran usus

:-

Gamabaran peristaltic usus: Turgor

: < 2 (kembali cepat)

PALPASI
Nyeri tekan

:-

Nyeri lepas

:-

Defans muskular

:-

Nyeri ketuk

:-

HEPAR
Pembesaran

:-

Konsistensi

: lunak

Permukaan

: licin
16

Tepi

: Tumpul, rata

LIEN
Pembesaran

:-

Permukaan

: tak teraba

Nyeri tekan

:-

Konsistensi

: lunak

GINJAL
Pembesaran

:-

Permukaan

: tak teraba

Nyeri tekan

:-

PERKUSI

: Tympani (+), ascites (-)

AUSKULTASI
Bising usus

: (+) meningkat

Ascites

:-

LIPAT PAHA DAN GENITAL


Kulit

: dbn

Kel.getah bening

:-

Edema

:-

Sikatriks

:-

Genitalia

: dbn

Anus

: dbn

SYARAF DAN OTOT


Hilang rasa

:-

Kesemutan

:-

Otot lemas

:17

Otot pegal

:-

Lumpuh

:-

Badan kaku

:-

Tidak sadar

:-

Mulut mencucu

:-

Trismus

:-

Kejang

:-

Panas

:-

Riwayat kejang keluarga: Riwayat kejang dan trauma kepala : -

ALAT KELAMIN
Hernia

:-

Bengkak

:-

EKSTREMITAS SUPERIOR

Trofi

:-

INSPEKSI

Pergerakan

: dbn

Bentuk

: dbn

Tremor

:-

Deformitas

:-

Chorea

:-

Edema

:-

Lain-lain

: Akral hangat

Trofi

:-

Pergerakan

: dbn

Tremor

:-

Chorea

:-

Lain-lain

: Akral hangat

EKSTREMITAS INFERIOR
INSPEKSI
Bentuk

: dbn

Deformitas

:-

Edema

:18

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS :
Tonus

: dbn

Kekuatan

: sup 5/5, inf 5/5

Refleks fisiologis

: dbn

Refleks tendon biceps

: dbn

Refleks tendon triceps

: dbn

Refleks tendon patella

: dbn

Refleks tendon Achilles

: dbn

Refleks patologis

:-

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Darah rutin

Leukosit

: 7,6

103/mm3

(3,5-10)

Eritrosit

: 5,17

106/mm6

(3,8-5,8)

Hemoglobin

: 12,7

gr/dL

(11-16,5)

Hematokrit

: 37,3

(35-50)

Trombosit

: 266

103/mm3

(150-390)

: 100

gr/dL

(<200)

Gula darah

GDS

Elektrolit serum

Natrium

: 144 mmol/L

(135-148)

Kalium

: 4,02

mmol/L

(3,5-5,3)

Klorida

: 103,84

mmol/L

(98-110)

Calcium

: 1,25

mmol/L

(1,12-1,23)

V. PEMERIKSAAN ANJURAN
Feses Rutin

19

VI. DIAGNOSIS KERJA


Gastroenteritis Akut Dehidrasi Ringan Sedang

VII. DIAGNOSA BANDING


Demam Tifoid
Gastroenteritis Akut ec. Parasit

VIII. TERAPI
Rehidrasi

IVFD RL 350 cc selama 4 jama, selanjutnya IVFD KAEN 3A 20 tts/menit

Oralit 3 x 1 sachet bila BAB mencret

Medikamentosa

Zinc syr 1x20mg/ hari selama 10-14 hari

L-Bio 2 sac/hari

Parasetamol syr 125 mg 1 cth prn

Edukasi
Memasak air untuk minum sehari-hari
Cuci tangan setelah membersihkan tinja anak
Berikan makanan yang terjamin kebersihannya
Kurangi konsumsi makanan sembarangan
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan

IX. PROGNOSA
Quo ad vitam

: Bonam

Quo ad Fungtionam

: Bonam

20

X. FOLLOW UP
14-12-2014
S

BAB 1x konsistensi cair, lendir (-), darah (-), Mual (-), muntah (-) demam (-),
rewel (-)

O Ku/Ks : tampak lemas / CM


N : 100 x / menit reguler, isi cukup
R : 24 x / menit
S : 37.50 C
Kepala : mata cekung (-)
Thorax : jtg: BJ I-II reguler, m -, g
Paru : sn vesikuler, rh -, wh
Abd : datar, BU (+) , turgor < 2 detik
Ekst : akral hangat, udem -, cyanosis

A Gastroenteritis akutdehidrasi ringan sedang


P

IVFD RL 20 tts/menit (makro)

Oralit 3x1 sachet bila BAB mencret

Zinc syr 1x20mg/ hari selama 10-14 hari

L-Bio 2 sac/hari

Parasetamol syr 125 mg 1 cth prn

21

15-12-2014
S

BAB cair (-), Mual (-), muntah (-) demam (-), rewel (-)

O Ku/Ks : tampak lemas / CM


N : 100 x / menit reguler, isi cukup
R : 24 x / menit
S : 370 C
Kepala : mata cekung (-)
Thorax : jtg: BJ I-II reguler, m -, g
Paru : sn vesikuler, rh -, wh
Abd : datar, BU (+) N, turgor < 2 detik
Ekst : akral hangat, udem -, cyanosis A Gastroenteritis akut tanpa dehidrasi
P

IVFD RL 14 tts/menit (makro)


Zinc syr 20mg 1 x 2 cth
L-Bio 2 sac/hari
Pasien dipulangkan

22

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Definisi Diare


Diare merupakan buang air besar yang lebih sering dengan konsistensi yang
lebih encer dari biasanya sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari, dengan atau tanpa
darah dan atau lendir dalam tinja. Sedangkan diare akut adalah buang air besar yang
terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya nampak sehat dengan frekuensi 3 kali
atau lebih per hari disertai perubahan tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan
darah yang berlangsung kurang dari satu minggu.1
Namun pada bayi yang minum ASI sering frekuensi buang air besar lebih dari
3-4 kali per hari, keadaan ini tidak dapat disebut diare, masih bersifat fisiologis atau
normal. Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong
diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya
perkembangan saluran cerna. Untuk bayi yang minum ASI secara ekslusif definisi
diare yang praktis adalah meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistensinya
menjadi cair yang menurut ibunya abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadangkadang pada seorang anak buang air besar kurang dari 3 kali perhari, tetapi
konsistensinya cair, keadaan ini sudah dapat disebut diare.5

3.2 Cara Penularan dan Faktor Resiko.


Cara penularan diare pada umumnya melalui fekal oral yaitu melalui makanan
atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan
dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak
langsung melalui lalat. (4F= field, flies, fingers, fluid).6
Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara
lain:tidak memberikan ASI secara penuh selama 4-6 bulan pertama kehidupan bayi,
tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana
kebersihan atau MCK, kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan dan
23

penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan yang tidak baik.
Selain hal-hal tersebut, beberapa faktor pada penderita dapat meningkatkan
kecenderungan untuk dijangkiti diare antara lain: gizi buruk, imunodefisiensi,
berkurangnya keasaman lambung, menurunya motilitas usus, menderita campak
dalam 4 minggu terakhir dan faktor genetik.6
1. Faktor umur
Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insidensi
tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-11 bulan pada saat diberikan makanan
pendamping ASI. Pola ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar
antibody ibu, berkurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang
mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan kontak langsung dengan tinja manusia
atau binatang pada saat bayi mulai merangkak. Kebanyakan enteropatogen
merangsang paling tidak sebagian kekebalan melawan infeksi atau penyakit yang
berulang yang membantu menjelaskan menurunnya insiden penyakit pada anak
yang lebih besar dan pada orang dewasa.6
2. Infeksi asimtomatik
Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi asimtomatik ini
meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif. pada
infeksi asimtomatik yang mungkin berlangsung beberapa hari atau minggu, tinja
penderita mengandung virus, bakteri, atau kista protozoa yang infeksius. Orang
dengan infeksi yang asimtomatik berperan penting dalam penyebaran banyak
eneteropatogen terutama bila mereka tidak menyadari adanya infeksi, tidak
menjaga kebersihan dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.6
3. Faktor musim
Faktor musim pada diare dapat terjadi menurut letak geografis. di daerah tropis,
diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas, sedangkan diare
karena virus terutama rotavirus puncaknya terjadi pada musim dingin. didaerah
tropis (termasuk Indonesia) diare yang disebabkan rotavirus dapat terjadi

24

sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare


karena bakteri terus meningkat pada musim hujan.6
4. Epidemi dan pendemi
Vibrio cholera 0.1 dan Shigella dysentriae 1 dapat menyebabkan epidemik dan
pandemik dan mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada
semua golongan usia. sejak tahun 1961, cholera yang disebabkan oleh v. cholera
0.1 biotipe eltor telah menyebar ke negara-negara di afrika, amerika latin, asia,
timur tengah, dan beberapa daerah di amerika utara dan eropa. dalam kurun waktu
yang sama Shigella dysentriae 1 menjadi penyebab wabah yang besar di amerika
tengah dan terakhir di afrika tengah dan asia selatan. Pada tahun 1992 dikenal
strain baru Vibrio cholera 0139 yang menyebabkan epidemic di Asia dan lebih
dari 11 negara mengalami wabah.6

3.3 Mekanisme daya tahan tubuh


Tak selamanya diare akan timbul jika terjadi infeksi virus atau bakteri, karena
tubuh mempunyai mekanisme daya tahan tubuh. Usus adalah organ utama yang
berfungsi sebagai pelindung terdepan terhadap invasi dari berbagai bahan yang
berbahaya yang masuk ke dalam lumen usus. Bahan-bahan ini antara lain
mikroorganisme, antigen toksin, dll. Jika bahan-bahan ini dapat menembus barier
mekanisme daya tahan tubuh dan masuk kedalam sirkulasi sistemis, terjadilah
bermacam-macam reaksi seperti infeksi, alergi atau keadaan autoimunitas.7
1.

Daya pertahanan tubuh nonimunologi7


a. Flora usus
Bakteri yang terdapat dalam usus normal (flora usus normal), dapat mencegah
pertumbuhan yang berlebihan dari kuman patogen yang secara potensial dapat
menyebabkan penyakit. Setelah lahir usus sudah dihuni oleh bermacammacam mikroorganisme yang merupakan flora usus normal. Penggunaan
antibiotika dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan flora

25

usus, menyebabkan pertumbuhan yang berlebihan dari kuman-kuman non


patogen yang mungkin juga telah resisten terhadap antibiotika.
Pertumbuhan kuman patogen dalam usus akan dihambat karena adanya
persaingan dengan flora usus normal. Hal ini terjadi karena adanya kompetisi
terhadap substrat yang mempengaruhi pertumbuhan kuman yang optimal (pH
menurun, daya oksidasi reduksi menurun,dsb) atau karena terbentuknya zat
anti bakteri terhadap kuman patogen yang disebut colicines.
b. Sekresi usus
Mucin (Glikoprotein dalam usus) dan kelenjar ludah penting untuk mencegah
perlekatan kuman-kuman Streptococcus, Staphylococcus, Lactobacilus pada
mukosa mulut sehingga pertumbuhan kuman tersebut dapat diahambat dan
dengan sendirinya mengurangi jumlah mikrooganisme yang masuk ke dalam
lambung. Mucin serupa terdapat pula dalam mukus yang dikeluarkan oleh sel
epitel usus atau disekresi oleh usus secara kompetitif mencegah melekatnya
dan berkembangbiaknya mikroorganisme di epitel usus. Selain itu muci juga
dapat mencegah penetrasi zat-zat toksik seperti allergen, enterotoksin,dll.
c. Pertahanan lambung
Asam lambung dan pepsin mempunyai peranan penting sebagai penahan
masuknya mikroorganisme, toksin dan antigen kedalam usus.
d. Gerak peristaltik
Gerak peristaltik merupakan suatu hal yang sangat penting dalam usaha
mencegah perkembangbiakan bakteri dalam usus, dan juga ikut mempercepat
pengeluaran bakteri bersama tinja. Hal ini terlihat bila karna sesuatu sebab
gerak peristaltis terganggu (operasi, penyakit, kelainan bawaan dsb), sehingga
menimbulkan stagnasi isi usus.
e. Filtrasi hepar
Hepar, terutama sel kupfer dapat bertindak sebgaai filtrasi terhadap bahanbahan yang berbahaya yang diabsorbsi oleh usus dan mencegah bahan-bahan
yang berbahaya tadi masuk kedalam sirkulasi sistemik.
26

f. Lain-lain
-

Lisozim (mempunyai daya bakteriostatik)

Garam-garam empedu membantu mencegah perkembangbiakan kuman

Natural antibody : menghambat perkembangan beberapa bakteri patogen,


tetapi tidak mengganggu pertumbuhan flora usus normal. Natural antibody
ini mungkin merupakan hasil dari reaksi cross imunity terhadap antigen
yang sama yang terdapat pula pada beberapa mikroorganisme.

2. Pertahanan imunologik lokal7


Saluran pencernaan dilengkapi dengan system imunologik terdapat penetrasi
antigen ke dalam epitel usus. Limfosit dan sel plasma terdapat dalam jumlah yang
berlebihan dalam usus, baik sebagai bagian dari plaque peyeri di ileum dan
apendiks maupun tersebar secara difus di dalam lamina propria usus kecil dan
usus besar. Reaksi imunologik lokal ini tidak tergantung dari system imunologik
sistemik.Reaksi ini terjadi karena rangsangan antigen dari permukaan epitel usus.
Yang termasuk dalam pertahanan imunologik lokal adalah:
a. Secretory Immunoglobulin A (SIgA)
IgA diketahui terbanyak terdapat pada sekresi eksternal sedangkan IgG dalam
cairan tubuh internal. Strukur SIgA berlainan dengan antibodi yang terdapat
dalam serum, berbentuk dimer dari IgA yang diikat oleh rantai polipeptida.
Dimer IgA ini dibuat dalam sel plasma yang terdapat dibawah permukaan
epitel usus yang kemudian akan diikat lagi oleh suatu glikoprotein yang
dinamakan sekretori komponen (SC). Dengan ikatan yang terakhir SIgA akan
lebih tahan terhadap pengrusakan oleh enzim proteolitik (tripsin dan
kemotripsin) yang terdapat dalam usus. Bagaiman proses proteksi dari SIgA
ini yang sesungguhnya belum jelas, walaupun ada yang menyatakan bahwa
SIgA yang terdapat dalam lapisan mukosa usus halus dapat mencegah
melekatnya mikroorganisme dan antigen pada epitel usus sehingga bakteri
tidak

dapat

berkembangbiak.

Sejumlah

SIgA

terdapat

pula

pada
27

kolostrum.Hal ini sangat penting sebagai proteksi terhadap usus bayi yang
baru lahir.
b. Cell Mediated Immunity (CMI)
Dikemukakan bahwa peranan limfosit dalam CMI terletak pada plaque peyeri
di ileum. walaupun demikian peranan CMI dalam proteksi usus masih dalam
taraf penelitian.
c. Imunoglobulin lain
IgG terdapat dalam jumlah kecil dalam usus dan mudah rusak dalam lumen
usus. Hanya bila mukosa usus mengalami peradangan IgG bersama-sama
dengan sel plasma terdapat dalam jumlah cukup banyak di usus dan
merupakan proteksi temporer terhadap kerusakan usus lebih lanjut. IgM dapat
menggantikan fungsi IgA bila karena suatu sebab terjadi defisiensi IgA. IgE
tidak jelas peranannya dalam proteksi usus.

3. Anatomi dan fisiologi


a. Usus halus
Mulai dari perbatasan dengan gaster dari pylorus hingga cecum. pada
neonatus memiliki panjang 275 cm dan tumbuh mencapai 5 sampai 6 meter
pada dewasa. Epitel usus halus tersusun atas lapisan tunggal sel kolumnar
disebut juga enterosit. permukaan epitel ini menjadi 300 kali lebih luas dengan
adanya villus dan kripta. Villus berbeda dalam bentuk dan densitas pada
masing-masing regio usus halus. Di duodenum villus tersebut lebih pendek,
lebih lebar, dan lebih sedikit, meyerupai bentuk jari dan lebih tinggi pada
jejunum, serta menjadi lebih kecil dan lebih meruncing di ileum. Densitas
terbesar didapatkan di jejunum. Diantara villus tersebut terdapat kripta
(Lieberkuhn) yang merupakan tempat proliferasi enterosit dan pembaharuan
epitel. terdapat perbedaan tight junction antara jejunum dan ileum, tight
junction ini berperan penting dalam regulasi permeabilitas epitel dengan

28

melakukan control terhadap aliran air dan solute paraseluler. Terdapat


berbagai macam jenis sel dengan fungsinya masing-masing yaitu:6

a. Sel Goblet
Merupakan sel penghasil mucus yag terpolarisasi. Mukus yang disekresi sel
goblet menghampar diatas glikokaliks berupa lapisan yang kontinu,
membentuk barier fisikokimia, memberi perlindungan pada epitel permukaan.
mucus ini paling banyak didapatkan pada gaster dan duodenum
b. Sel Kripta
Sel kripta yang tidak berdiferensiasi merupakan tipe sel yang paling banyak
terdapat di sel kripta Lieberkuhn. Merupakan prekursor sel penyerap villus,
sel paneth, sel enteroendokrin, sel goblet dan mungkin juga sel M. Sel kripta
yang tidak berdiferensiasi ini mensistesis dan mengekspresikan komponen
sekretori pada membran basolateral, dimana molekul ini bertindak sebagai
reseptor untuk sintesis IgA oleh lamina propria sel plasma.
c. Sel Paneth
Terdapat di basis kripta. memiliki granula eosinophilik sitoplasma dan basofil.
Granula lisosom dan zymogen didapatkan juga pada sitoplasma, meskipun
fungsi sekretori sel panet velumk diketahui, diduga membunuh bakteri dengan
lisosom dan immunoglobulin intrasel, menjaga keseimbangan flora normal
usus.
d. Sel Enteroendokrin
Merupakan sekumpulan sel khusus neuroskretori, sel enteroendokrin terdapat
di mukosa saluran cerna, melapisi kelenjar gaster, villus, dan kripta usus. Sel
enteroendokrin mensekresi neuropeptida seperti gastrin, sekretin, motilin,
neurotensin, glukagon, enteroglukagon, VIP, GIP, neurotensin, kolesistokinin
dan somatostatin.
e. Sel M merupakan sel epitel khusus yang melapisi folikel limfoid.

29

Penyerapan air dan elektrolit pada usus halus terjadi melalui 2 cara : 8
a. Transport aktif : penyerapan Na+ dan glukosa secara aktif dilaksanakan oleh
enterosit yang terdapat pada mukosa usus halus. Enterosit menyerap 1
molekul glukosa dan Na+, dan bersama-sama dengan absorbsi glukosa dan
Na+ ini secara aktif juga terabsorbsi air. Glukosa masuk ke dalam ruang
interseluler atau subseluler, kemudian masuk peredaran darah. Na+ masuk ke
dalam sirkulasi berdasarkan proses enzimatik Na-K-ATPase yang terdapat
pada basal dan lateral enterosit. Proses ini dikenal dengan istilah pompa Na (
sodium pump ). Dengan masuknya Na+ secara aktif ke dalam peredaran
darah, tekanan osmotik meningkat dan memperbanyak terjadinya penyerapan
air.
b. Transport Pasif : terjadi karena adanya perbedaan tekanan osmotik. Setelah
Na+ masuk ke dalam sirkulasi melalui mekanisme pompa Na, tekanan
osmotik plasma meningkat dan akan menarik air, glukosa dan elektrolit secara
pasif.

3.4 Etiologi
Pada saat ini, dengan kemajuan dibidang teknik laboratorium telah dapat
diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan
diare pada anak dan bayi. Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah
golongan virus, bakteri dan parasit. dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi
adalah non-inflamatory dan inflamatory.6
Enteropatogen

menimbulkan

non-inflamatory

diare

melalui

produksi

enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh
parasit, perlekatan dan/ atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya inflamatorydiare
biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau
memproduksi sitotoksin.6

30

Tabel 2.1 Penyebab diare akut yang dapat menyebabkan diare pada manusia
GOLONGAN BAKTERI

GOLONGAN VIRUS

Aeromonas
Bacillus cereus
Canpilobacter jejuni

Astrovirus
Calcivirus (Norovirus, Sapovirus)
Enteric adenovirus

Clostridium perfringens
Clostridium defficile
Eschercia coli
Plesiomonas shigeloides

Corona virus
Rotavirus
Norwalk virus
Herpes simplek virus

Salmonella
Shigella
Staphylococcus aureus
Vibrio cholera
Vibrio parahaemolyticus
Yersinia enterocolitica

Cytomegalovirus

GOLONGAN
PARASIT
Balantidiom coli
Blastocystis homonis
Crytosporidium
parvum
Entamoeba histolytica
Giardia lamblia
Isospora belli
Strongyloides
stercoralis
Trichuris trichiura

Tabel 2.2 Frekuensi Enteropatogen penyebab diare pada anak usia <5 tahun
Patogen
Rotavirus
Norovirus
Campylobacter
Adenovirus
Salmonella
EPEC
Yersinia
Giardia
Cryptosporidium
EaggEC
Shigella
STEC
ETEC
Entamoeba
No agent detected

Frekuensi (%)
10-35
2-20
4-13
2-10
5-8
1-4.5
0.4-3
0.9-3
0-3
0-2
0.3-1.4
0-3
0-0.5
0-4
45-60

Tabel 3. Tabel Enteropatogen patogen penyebab diare yang tersering


berdasarkan umur.9
< 1 tahun
Rotavirus
Norovirus

1-4 tahun
Rotavirus
Norovirus

> 5 tahun
Campylobacter
Salmonella

31

Adenovirus
Salmonella

Adenovirus
Salmonella
Campylobacter
Yersirina

Rotavirus

Disamping itu penyebab diare noninfeksi yang dapat menimbulkan diare pada anak
antara lain:

Tabel 2.4 Penyebab diare nonifeksi pada anak


Kesulitan makanan

Defek anatomis
Malrotasi
Penyakit Hirchsprung
Short Bowel Syndrome
Atrofi mikrovilli
Striktur

Malabsorbsi
Defesiensi disakaridase
Malabsorbsi
glukosa
galaktosa
Cystic fibrosis
Cholestasis
Penyakit celiac
Endokrinopati
Tirotoksikosis
Penyakit Addison
Sindroma Androgenital

Neoplasma
Neuroblastoma
Phaeochromocytoma
Sindroma Zollinger Ellison
Lain-lain:
Infeksi non gastrointestinal
Alergi susu sapi
Penyakit Crohn
Defisiensi imun
Colitis ulserosa
Ganguan motilitas usus
Pellagra
Keracunan makanan
logam berat
Mushrooms
dan

3.5 Patofisiologi
Terdapat 2 mekanisme terjadinya diare cair, yaitu sekeretorik dan osmotik.
Meskipun dapat melalui kedua mekanisme tersebut, diare sekretorik lebih sering
ditemukan pada infeksi saluran cerna. begitu pula kedua mekanisme tersebut dapat
terjadi bersamaan pada satu anak.6

32

1. Diare osmotik
Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilalui oleh air dan
elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen usus
dengan cairan ekstrasel. Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan
intraluminal pada usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertoni dan
menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmotik antara lumen usus
dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeabel, air akan
mengalir kearah jejunum, sehingga akan banyak terkumpul air dalam lumen usus. Na
akan mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan
intraluminal yang besar dengan kadar Na normal. Sebagian kecil cairan ini akan
dibawa kembali, akan tetapi lainya akan tetap tinggal di lumen oleh karena ada bahan
yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukosa, sukrosa, laktosa, maltosa di segmen
ileum dan melebihi kemampuan absorbsi kolon, sehinga terjadi diare. Bahan-bahan
seperti karbohidrat dan jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah
berlabihan akan memberikan dampak yang sama.6

2. Diare Sekretorik
Diare sekretorik disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus
yang terjadi akibat gangguan absorbsi natrium oleh vilus saluran cerna, sedangkan
sekresi klorida tetap berlangsung atau meningkat. Keadaan ini menyebabkan air dan
elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja cair. Diare sekretorik ditemukan diare yang
disebabkan oleh infeksi bakteri akbat rangsangan pada mukosa usus halus oleh toksin
E.coli atau V. cholera.01.9
Osmolaritas tinja diare sekretorik isoosmolar terhadap plasma. beda osmotik
dapat dihitung dengan mengukur kadar elektrolit tinja. Karena Natrium ( Na+) dan
kalium (K+) merupakan kation utama dalam tinja, osmolalitas diperkirakan dengan
mengalikan jumlah kadar Na + dan K+ dalam tinja dengan angka 2. Jika diasumsikan
osmolalitas tinja konstan 290 mOsm/L pada tinja diare, maka perbedaan osmotik
290-2 (Na++K+). Pada diare osmotik, tinja mempunyai kadar Na+ rendah (<50
33

mEq/L)dan beda osmotiknya bertambah besar (>160 mOsm/L). Pada diare sekretorik
tinja diare mempunyai kadar Na tinggi (>90 mEq/L), dan perbedaan osmotik kurang
dari 20 mOsm/L.8

Tabel 2.6 Perbedaan Diare Osmotik dan Sekretorik


Volume tinja
Puasa
Na+ tinja
Reduksi
pH tinja

Osmotik
<200 ml/hari
Diare berhenti
<70 mEq/L
(+)
<5

Sekretorik
>200 ml/hari
Diare berlanjut
>70 mEq/L
(-)
>6

Dikenal bahan-bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu enterotoksin


bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti laksansia, garam empedu
bentuk dihidroksi, serta asam lemak rantai panjang. Toksin penyebab diare ini
terutama bekerja dengan cara meningkatkan konsentrasi intrasel cAMP, cGMP, atau
Ca++ yang selanjutnya akan mengaktifasi protein kinase. Pengaktifan protein kinase
akan menyebabkan fosforilase membran protein sehingga megakibatkan perubahan
saluran ion, akan menyebabkan Cl- di kripta keluar. Disisi lain terjadi peningkatan
pompa natrium , dan natrium masuk ke dalam lumen usus bersama Cl-.6
Diare dapat juga dikaitkan dengan gangguan motilitas. Meskipun motilitas
jarang menjadi penyebab utama malabsorbsi, tetapi perubahan motilitas mempunyai
pengaruh terhadap absorbsi. Baik peningkatan ataupun penurunan motilitas keduanya
dapat menyebabkan diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh
lampau yang menyebabkan diare. Perlambatan transit obat-obatan atau nutrisi akan
meningkatkan absorbsi, Kegagalan motilitas usus yang berat menyebabkan statis
intestinal bearkibat inflamasi, dekonjugasi garam empedu dan malabsorbsi. Diare
akibat hiperperistaltik pada anak jarang terjadi. Watery diare dapat disebabkan karena
hipermotilitas pada kasus kolon irritable pada bayi. Gangguan motilitas mungkin
merupakan penyebab diare pada Tirotoksikosis, malabsorbsi asam empedu, dan
berbagai penyakit lain.6
34

Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebakan diare pada beberapa
keadaan. Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan
hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air, elektrolit, mucus,
protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen.
Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare
osmotik dan sekretorik.6
Bakteri enteral patogen akan mempenagaruhi struktur dan fungsi tight
junction, menginduksi cairan dan elektrolit, dan akan mengaktifkan kaskade
inflamasi. Efek infeksi bakteri pada tight junction akan memepengaruhi susunan
anatomis dan funsi absorbsi yaitu cytoskeleton dan perubahan susunan protein.
penelitian oleh Bakes J dkk 2003 menunjukan bahwa peranan bakteri enteral patogen
pada diare terletak perubahan barier tight junction oleh toksin atau produk kuman
yaitu perubahan pada cellular cytoskeleton dan spesifik tight junction. Pengaruh ini
biasa pada kedua komponen tersebut atau salah satu komponen saja sehingga akan
menyebabkan hipersekresi clorida yang akan diikuti natrium dan air. Sebagai contoh
Clostridium difficile akan menginduksi kerusakan cytoskeleton maupun protein,
Bacteroides frigilis menyebabkan degradasi proteolitik protein tight junction, V.
cholera

mempengaruhi distribusi protein tight junction, sedangkan EPEC

menyebabkan akumulasi protein cytoskeleton.6

3.6 Manifestasi klinis


Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala lainya
bila terjadi komplikasi ekstraintestinal termasuk manifestasi neurologik. Gejala
gastrointestinal biasa berupa diare, kram perut, dan muntah. Sedangkan manifestasi
sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya.6
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah
ion natrium, klorida dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila
ada muntah dan kehilangan air juga akan meningkat bila ada panas. Hal ini dapat
menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik, dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan
35

keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps


kardiovaskular dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi
menurut tonisistas plasma dapat berupa dehidrasi isotonik, dehidrasi hipertonik (
hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya bias tanpa
dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang, dehidrasi berat.6
Infeksi ekstraintestinal yang berkaitan dengan bakteri enterik patogen antara
lain: vulvovaginitis, infeksi saluran kemih, endokarditis, osteomyelitis, meningitis,
pneumonia, hepatitis, peritonitis dan septik tromboplebitis. Gejala neurolgik dari
infeksi usus bias berupa parestesia (akibat makan ikan, kerang, monosodium
glutamate), hipotoni dan kelemahan otot.
Bila terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat
dehidrasi. Panas badan umum terjadi pada penderita dengan diare inflammatory.
Nyeri perut yang lebih hebat dan tenesmus terjadi pada perut bagian bawah serta
rektum menunjukan terkenanya usus besar. Mual dan muntah adalah symptom yang
nonspesifik akan tetapi muntah mungkin disebabkan oleh karena mikroorganisme
yang menginfeksi saluran cerna bagian atas seperti:

enterik virus, bakteri yang

memproduksi enterotoksin, giardia, dan cryptosporidium.


Muntah juga sering terjadi pada diare non inflammatory. Biasanya penderita
tidak panas atau hanya subfebris, nyeri perutperiumbilikal tidak berat, watery diare,
menunjukan bahwa saluran makan bagian atas yang terkena. Oleh karena pasien
immune kompromise memerlukan perhatian khusus, informasi tentang adanya
imunodefisiensi atau penyakit.

Tabel 2.7 Gejala klinis diare akut oleh berbagai penyebab


Gejala klinis :
Masa Tunas
Panas
Mual,
muntah
Nyeri perut
Nyeri

Rotavirus

Shigella

Salmonella

ETEC

EIEC

Kolera

17-72 jam
+
Sering
Tenesmus
5-7 hari

24-48 jam
++
Jarang
Tenesmus,
kramp
+

6-72 jam
++
Sering
Tenesmus,kolik
+
3-7 hari

6-72 jam
+
2-3 hari

6-72 jam
++
Tenesmus,
kramp
-

48-72 jam
Sering
Kramp
3 hari

36

kepala
lamanya
sakit
Sifat tinja:
Volume
Frekuensi
Konsistensi
Darah
Bau
Warna
Leukosit
Lain-lain

>7hari

Sedang
5-10x/hari
Cair
Langu
Kuning
hijau
anorexia

Sedikit
>10x/hari
Lembek
+
Merahhijau
+
Kejang+

Variasi

Sedikit
Sering
Lembek
Kadang
Busuk
Kehijauan
+
Sepsis +

Banyak
Sering
Cair
Tak
berwarna
Meteorismus

Sedikit
Sering
Lembek
+
Merahhijau
Infeksi
sistemik+

Banyak
Terus
menerus
Cair
Amis khas
Spt
air
cucian
beras
-

3.7 Diagnosis
1. Anamnesis
Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut : lama diare,
frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir dan darah. Bila
disertai muntah volume dan frekuensinya. Kencing: biasa, berkurang, jarang atau
tidak kencing dalam 6-8jam terakhir. Makanan dan minuman yang diberikan selama
diare. Adakah panas atau penyakit lain yang menyertai seperti: batuk, pilek, otitis
media, campak. Tindakan yang telah dilakukan ibu selama anak diare: memberi
oralit, membawa berobat ke puskesmas atau ke rumah sakit dan obat-obatan yang
diberikan serta riwayat imunisasinya.6
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa : berat badan, suhu tubuh, frekuensi
denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tandatanda tambahan lainya:ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cowong atau tidak,
ada atau tidak adanya air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering atau basah.6
Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Bising
usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia. Pemeriksaan ekstremitas
perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derjat dehidrasi yang

37

terjadi. Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara
objektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan sesudah diare.
Subjektif dengan menggunakan kriteria WHO dan MMWR.6

Tabel 2.8 Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003


Symptom

Minimal atau tanpa dehidrasi,

Dehidrasi

kehilangan BB<3%

kehilangan BB 3%-9%

ringan

sedang,

Dehidrasi
BB>9%

berat,

kehilangan

Kesadaran

Baik

Normal, lelah, gelisah, irritable

Apatis, letargi, idak sadar

Denyut jantung

Normal

Normal meningkat

Takikardi, bradikardi, (kasus

Kualitas nadi

Normal

Normal melemah

Lemah, kecil tidak teraba

Pernapasan

Normal

Normal-cepat

Dalam

Mata

Normal

Sedikit cowong

Sangat cowong

Air mata

Ada

Berkurang

Tidak ada

Mulut dan lidah

Basah

Kering

Sangat kering

Cubitan kulit

Segera kembali

Kembali<2 detik

Kembali>2detik

Cappilary refill

Normal

Memanjang

Memanjang, minimal

Ekstremitas

Hangat

Dingin

Dingin,mottled, sianotik

Kencing

Normal

Berkurang

Minimal

berat)

Tabel 2.9 Penetuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995


Penilaian

Tanpa dehidrasi

Dehidrasi ringan-sedang

Dehidrasi berat

Keadaan umum

Baik,sadar

*Gelisah,rewel

*lesu,lunglai/tidak sadar

Mata

Normal

Cekung

Sangat cekung

Air mata

Ada

Tidak ada

Kering

Mulut dan lidah

Basah

Kering

Sangat kering

Rasa haus

Minum biasa,tidak haus

*haus ingin minum banyak

*malas minum atau tidak bias

Lihat:

minum
Periksa: turgor kulit

Kembali cepat

*kembali lambat

*kembali sangat lambat

Hasil pemeriksaan

Tanpa dehidrasi

Dehidrasi ringan/sedang

Dehidrasi berat

Bila ada 1 tanda* ditambah 1

Bila ada 1 tanda* ditambah 1

atau lebih tanda lain

atau lebih tanda lain

Rencana terapi B

Rencana terapi C

Terapi

Rencana terapi A

Menurut tonisistas darah, dehidrasi dapat dibagi menjadi:7

dehidrasi isotonik, bila kadar Na+ dalam plasma antara 131-150 mEq/L

38

dehidrasi hipotonik, bila kadar Na+<131 mEq/L

dehidrasi hipertonik, bila kadar Na+>150 mEq/L

Tabel 2.10. Gejala dehidrasi menurut tonisitas


Gejala

Hipotonik

Isotonik

Hipertonik

Rasa haus

Berat badan

Menurun sekali

Menurun

Menurun

Turgor kulit

Menurun sekali

Menurun

Tidak jelas

Kulit/ selaput lendir

Basah

Kering

Kering sekali

Gejala SSP

Apatis

Koma

Irritable, apatis, hiperfleksi

Sirkulasi

Jelek sekali

Jelek

Relatif masih baik

Nadi

Sangat lemah

Cepat dan lemah

Cepat, dan keras

Tekanan darah

Sangat rendah

Rendah

Rendah

Banyaknya kasus

20-30%

70%

10-20%

3. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak
diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab
dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada
penderita dengan dehidrasi berat. Contoh: pemeriksaan darah lengkap, kultur urin
dan tinja pada sepsis atau infeksi saluran kemih. Pemeriksaan laboratorium yang
kadang-kadang diperlukan pada diare akut:6
a. darah : darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah,
kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika
b. urine: urine lengkap, kultur dan test kepekaan terhadap antibiotika
c. tinja:
-

Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan pada semua
penderita dengan diare meskipun pemeriksaan labotarium tidak dilakukan.
Tinja yang watery dan tanpa mucus atau darah biasanya disebabkan oleh
enteroksin virus, prontozoa, atau disebabkan oleh infeksi diluar saluran
gastrointestinal. Tinja yang mengandung darah atau mucus biasanya
39

disebabkan infeksi bakteri yang menghasilkan sitotoksin bakteri


enteronvasif yang menyebabkan peradangan mukosa atau parasit usus
seperti : E. hystolitica, B.coli , T.trichiura. Apabila terdapat darah
biasanya bercampur dalam tinja kecuali pada infeksi dengan E.hystolitica
darah sering terdapat pada permukaan tinja dan pada infeksi dengan
Salmonella, Giardia, Cryptosporidium dan Strongyloides.
Pemeriksaan makroskopik mencakup warna tinja, konsistesi tinja,
bau tinja, adanya lendir, adanya darah, adanya busa. Warna tinja tidak
terlalu banyak berkolerasi dengan penyebab diare. Warna hijau tua
berhubungan dengan adanya warna empedu akibat garam empedu yang
dikonjugasi oleh bakteri anaerob pada keadaan bacterial overgrowth.
Warna merah akibat adanya darah dalam tinja atau obat yang dapat
menyebabkan warna merah dalam tinja seperti rifampisin. Konsistensi
tinja dapat cair, lembek, padat. Tinja yag berbusa menunjukan adanya gas
dalam tinja akibat fermentasi bakteri. Tinja yang berminyak, lengket, dan
berkilat menunjukan adanya lemak dalam tinja. Lendir dalam tinja
menggambarkan kelainan di kolon, khususnya akibat infeksi bakteri. Tinja
yang sangatberbau menggambarkan adanya fermentasi oleh bakteri
anaerob dikolon. Pemeriksaan pH tinja menggunakan kertas lakmus dapat
dilakukan untuk menentukan adanya asam dalam tinja. Asam dalam tinja
tersebut adalah asam lemak rantai pendek yang dihasilkan karena
fermentasi laktosa yang tidak diserap di usus halus sehingga masuk ke
usus besar yang banyak mengandung bakteri komensial. Bila pH tinja<6
dapat dianggap sebagai malabsorbsi laktosa.10
Pada diare akut sering terjadi defisiensi enzim laktose sekunder
akibat rusaknya mikrofili mukosa usus halus yang banyak mengandung
enzim laktase. Enzim laktase merupakan enzim yang bekerja memecahkan
laktosa menjadi glukosa dan galaktosa, yangselanjutnya diserap di mukosa
usus halus, salah satu cara menentukan malabsorbsi laktosa

adalah
40

pemeriksaan clinitest dikombinasi dengan pemeriksaan pH tinja.


Pemeriksaan clinitest dilakukan dengan prinsip melihat perubahan reaksi
warna yang terjadi antara tinja yang diperiksa dengan tablet clinitest.
Prinsipnya adalah terdapatnya reduktor dalam tinja yang mengubah cupri
sulfat menjadi cupri oksida. Pemeriksaan dilakukan dengan cara
mengambil bagian cair dari tinja segar (sebaiknya tidak lebih dari 1 jam).
Sepuluh tetes air dan 5 tetes bagian cair dari tinja diteteskan kedalam gelas
tabung, kemudian ditambah 1 tablet clinitest. Setelah 60 detik maka
perubahan warna yang terjadi dicocokan dengan warna standart. Biru
berarti negative, kuning tua berarti positif kuat (++++=2%), antara kuning
dan biru terdapat variasi warna hijau kekuningan (+=1/2%), (++=3/4%),
(+++=1%). Sedangkan terdapatnya lemak dalam tinja lebih dari 5 gram
sehari disebut sebagai steatore.10

Pemeriksaan mikroskopik
Infeksi bakteri invasif ditandai dengan ditemukannya sejumlah besar
leukosit dalam tinja yang menunjukan adanya proses inflamasi.
Pemeriksaan leukosit tinja dengan cara mengambil bagian tinja yang
berlendir seujung lidi dan diberi tetes eosin atau NaCl lalu dilihat
dengan mikroskop cahaya:8

bila terdapat 1-5 leukosit perlapang pandang besar disebut negatif

bila terdapat 5-10 leukosit per lapang pandang besar disebut (+)

bila terdapat 10-20 leukosit per lapang pandang besar disebut (++)

bila terdapat leukosit lebih dari lapang pandang besar disebut (+++)

bila leukosit memenuhi seluruh lapang pandang besar disebut (++++)

Adanya lemak dapat diperiksa dengan cara perwanaan tinja dengan sudan
III yang mengandung alkohol untuk mengeluarkan lemak agar dapat

41

diwarnai secara mikroskopis dengan pembesaran 40 kali dicari butiran


lemak dengan warna kuning atau jingga. Penilaian berdasarkan 3
kriteria:10
(+) bila tampak sel lemak kecil dengan jumlah kurang dari 100 buah
per lapang pandang atau sel lemak memenuhi 1/3 sampai lapang
pandang
(++) bila tampak sel lemak dengan jumlah lebih 100 per lapang
pandang atau sel memenuhi lebih dari lapang pandang
(+++) bila didapatkan sel lemak memenuhi seluruh lapang pandang.

Pemeriksaan parasit paling baik dilakukan pada tinja segar. Dengan


memakai batang lidi atau tusuk gigi, ambilah sedikit tinja dan emulsikan
delam tetesan NaCl fisiologis, demikian juga dilakukan dengan larutan
Yodium. Pengambilan tinja cukup sedikit saja agar kaca penutup tidak
mengapung tetapi menutupi sediaan sehingga tidak terdapat gelembung
udara. Periksalah dahulu sediaan tak berwarna (NaCL fisiologis), karena
telur cacing dan bentuk trofozoid dan protozoa akan lebih mudah dilihat.
Bentuk kista lebih mudah dilihat dengan perwanaan yodium. Pemeriksaan
dimulai dengan pembesaran objektif 10x, lalu 40x untuk menentukan
spesiesnya.

Uji hidrogen napas


adalah pemeriksaan yang didasarkan atas adanya peningkatan kadar
hydrogen dalam udara ekspirasi. Gas hidrogen dalam udara ekspirasi
berasal dari fermentasi bakteri terhadap substrat baik di kolon maupun di
usus halus. Fermentasi bakteri di usus besar terjadi karena adanya substrat
yang tidak diabsorbsi tersebut sepertilaktosa atau fruktosa akan
difermentasi oleh bakteri komensal menghasilkan asam lemak rantai

42

pendek (short chain fatty acid), beberapa molekul alkohol dan gas
hydrogen. Gas hidrogen tersebut dengan cepat akan diserap masuk ke
sirkulasi darah lalu masuk ke paru dan dikeluarkan lewat udara napas.10
Fermentasi bakteri di usus halus terjadi karena adanya bacterial
overgrowth , yang didefinisikan sebagai terdapatnya koloni atau spesies
koloni lebih dari 106 unit per milliliter cairan usus halus yang seharusnya
relative steril. Sebelum pemeriksaan uji hidrogen napas penderita
dipuasakan selama 4-6 jam, lalu diambil sampel udara napas dengan cara
meniup ( pada bayi dengan menggunakan sungkup) pada alat yang dapat
menghitung kadar hydrogen napas sebagai kadar awal hidrogen napas.
Lalu diberikan larutan 2gr/kgBB dengan konsentrasi 20% setelah itu
diambil sampel udara napas seperti sebelumnya setiap 30 menit selam 2-3
jam. Peningkatan kadar hidrogen napas >20ppm, atau 10-20 ppm disertai
gejala klinis (kembung, diare, muntah, sakit perut) disebut positif. Apabila
peningkatan

tersebut diperoleh pada 30 menit pertama yang berarti

fermentasi laktosa oleh bakteri sudah terjadi, di usus halus dan


disimpulkan sebagai bacterial overgrowth. Peningkatan yang terjadi
setelah 2 jam menandakan adanya laktosa yang tidak diabsorbsi di usus
halus, sehingga masuk ke kolon dan difermentasi oleh bakteri di kolon
menghasilkan hidrogen yang ditangkap oleh alat.10

3.8 Tatalaksana
Terdapat empat pilar penting dalam tatalaksana diare yaitu rehidrasi,
dukungan nutrisi, pemberian obat sesuaiindikasi dan edukasi pada orang tua. Tujuan
pengobatan:10
1. Mencegah dehidrasi
2. Mengatasi dehidrasi yang telah ada
3. Mencegah kekurangan nutrisi dengan memberikan makanan selama dan
setelah diare
43

4. Mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare, dengan
memberikan suplemen zinc

Tujuan pengobatan diatas dapat dicapai dengan cara mengikuti rencana terapi
yang sesuai, seperti yang tertera dibawah ini:10
1. Rencana terapi A : penanganan diare di rumah
Jelaskan kepada ibu tentang 4 aturan perawatan di rumah:

Beri cairan tambahan (sebanyak anak mau)


Jelaskan pada ibu:
-

pada bayi muda, pemberian ASI merupakan pemberian cairan


tambahan yang utama. Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada
setiap kali pemberian.

jika anak memeperoleh ASI eksklusif, beri oralit, atau air matang
sebagai tambahan

jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri 1 atau lebih cairan
berikut ini: oralit, cairan makanan(kuah sayur, air tajin) atau air
matang

Anak harus diberi larutan oralit dirumah jika:


-

anak telah diobati dengan rencana terapi B atau dalam kunjungan

anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah berat

Ajari pada ibu cara mencampur dan memberikan oralit. Beri ibu 6
bungkus oralit (200ml) untuk digunakan dirumah. Tunjukan pada ibu
berapa banyak cairan termasuk oralit yang harus diberikan sebagai
tambahan bagi kebutuhan cairanya sehari-hari:
-

<2 tahun: 50 sampai 100 ml setiap kali BAB

>2 tahun : 100 sampai 200 ml setiap kali BAB

Katakan pada ibu

44

agar meminumkan sedikit-sedikit tetapi sering dari mangkuk/


cangkir/gelas

jika anak muntah, tunggu 10 menit. kemudian lanjutkan lagi dengan


lebih lambat.

lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

Beri tablet Zinc


Pada anak berumur 2 bulan keatas, beri tablet zinc selama 10 hari dengan
dosis :
-

umur <6 bulan : tablet (10 mg) perhari

umur >6 bulan : 1 tablet (20 mg) perhari

Lanjutkan pemberian makanan

Kapan harus kembali

2. Rencana terapi B
Penanganan dehidrasi sedang/ ringan dengan oralit. Beri oralit di klinik sesuai
yang dianjurkan selama periode 3 jam.
Usia

<4 bulan

4-11 bulan

12-23 bulan

2-4Tahun

5-14tahun

>15 tahun

Berat badan

<5 kg

5-7,9 kg

8-10,9 kg

11-15,9 kg

16-29,9 kg

>30 kg

Jumlah (ml)

200-400

400-600

600-800

800-1200

1200-2200

2200-4000

Jumlah oralit yang diperlukan 75 ml/kgBB. Kemudian setelah 3 jam ulangi


penilaian dan klasifikasikan kembali derajat dehidrasinya, dan pilih rencana terapi
yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan. Jika ibu memaksa pulang sebelum
pengobatan selesai tunjukan cara menyiapkan oralit di rumah, tunjukan berapa
banyak larutan oralit yang harus diberikan dirumah untuk menyelesaikan 3 jam
pertama. Beri bungkus oralit yang cukup untuk rehidrasi dengan menambah 6
bungkus lagi sesuai yang dianjurkan dalam rencana terapi A. Jika anak
menginginkan oralit lebih banyak dari pedoman diatas, berikan sesuai kehilangan
cairan yang sedang berlangsung. Untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang

45

tidak menyusu, beri juga 100-200 ml air matang selama periode ini. Mulailah
memberi makan segera setelah anak ingin makan. Lanjutkan pemberian ASI.
Tunjukan pada ibu cara memberikan larutan oralit. berikan tablet zinc selama 10
hari.

3. Rencana terapi C (penanganan dehidrasi berat dengan cepat)


Beri cairan intravena secepatnya. Jika anak bisa minum, beri oralit melalui
mulut, sementara infus disiapkan. Beri 100 ml/kgBB cairan ringer laktat atau ringer
asetat (atau jika tak tersedia, gunakan larutan NaCl)yang dibagi sebagai berikut.
Umur

Pemberian pertama 30ml/kgBB selama

Pemberian berikut 70ml/kgBB selama

Bayi (bibawah umur12 bulan)

1 jam*

5 jam

Anak (12 bulan sampai 5 tahun)

30 menit*

2 jam

*ulangi sekali lagi jika denyut nadi sangat lemah atau tidak teraba

Periksa kembali anak setiap 15-30 menit. Jika status hidrasi belum membaik, beri
tetesan intravena lebih cepat. Juga beri oralit (kira-kira 5ml/kgBB/jam) segera setelah
anak mau minum, biasanya sesudah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) dan beri anak
tablet zinc sesuai dosis dan jadwal yang dianjurkan. Periksa kembali bayi sesudah 6
jam atau anak sesudah 3 jam (klasifikasikan dehidrasi), kemudian pilih rencana
terapi) untuk melanjutkan penggunaan.
Prinsip pemberian terapi cairan pada gangguan cairan dan elektrolit ditujukan
untuk memberikan pada penderita:
1. Kebutuhan akan rumatan (maintenance) dari cairan dan elektrolit
2. Mengganti cairan kehilangan yang terjadi
3. Mencukupi kehilangan abnormal dari cairan yang sedang berlangsung.
Pada diare CRO merupakan terapi cairan utama. CRO telah 25 tahun berperan
dalam menurunkan angka kematian bayi dan anak dibawah 5 tahun karena diare.
WHO dan UNICEF berusaha mengembangkan oralit yang sesuai dan lebih
bermanfaat. Telah dikembangkan oralit baru dengan osmolalitas lebih rendah.

46

Keamanan oralit ini sama dengan oralit yang lama, namun efektifitasnya lebih baik
daripada oralit formula lama. Oralit baru dengan low osmolalitas ini juga
menurunkan kebutuhan suplementasi intravena dan mampu mengurangi pengeluaran
tinja hingga 20% serta mengurangi kejadian muntah hingga 30%. Selain itu, oralit
baru ini juga telah direkomendasikan WHO dan UNICEF untuk diare akut non kolera
pada anak.6

Pengobatan Dietetik
Memuasakan penderita diare (hanya member air teh) sudah tidak dilakukan
lagi karena akan memperbesar kemungkinan terjadinya hipoglikemia dan atau KKP.
Sebagai pegangan dalam melaksanakan pengobatan dietetik dipakai singkatan O-BE-S-E, sebagai singkatan Oralit, Breast Feeding, Early Feeding, Simultaneously with
Education.9
Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah
sembuh. Tujuannya adalah memberikan makanan kaya nutrient sebanyak anak
mampu menerima. Sebagian besar anak dengan diare cair, nafsu makanya timbul
kembali

setelah dehidrasi

teratasi.

Meneruskan pemberian

makanan akan

mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal termasuk kemampuan menerima


dan mengabsorbsi berbagai nutrient, sehingga memburuknya status gizi dapat dicegah
atau paling tidak dikurangi. Sebaliknya, pembatasan makanan akan menyebabkan
penurunan berat badan sehingga diare menjadi lebih lama dan kembalinya fungsi usus
akan lebih lama. Makanan yang diberikan pada anak diare tergantung kepada umur,
makanan yang disukai dan pola makan sebelum sakit serta budaya setempat. Pada
umumnya makanan yang tepat untuk anak diare sama dengan yang dibutuhkan
dengan anak sehat.1 Bayi yang minum ASI harus diteruskan sesering mungkin dan
selama anak mau. Peranan ASI selain memberikan nutrisi yang terbaik, juga terdapat
0,05 SIgA/hari yang berperan memberikan perlindungan terhadap kuman
patogen.12Bayi yang tidak minum ASI harus diberi susu yang biasa diminum paling
tidak setiap 3 jam. Pengenceran susu atau penggunaan susu rendah atau bebas laktosa
47

mungkin diperlukan untuk sementara bila pemberian susu menyebabkan diare timbul
kembali atau bertambah hebat sehingga terjadi dehidrasi lagi, atau dibuktikan dengan
pemeriksaan terdapat tinja yang asam (pH<6) dan terdapat bahan yang mereduksi
dalam tinja>0,5%. Setelah diare berhenti, pemberian tetap dilanjutkan selama 2 hari
kemudian coba kembali dengan susu atau formula biasanya diminum secara bertahap
selama 2-3 hari.

Tabel 2.11 Tabel panduan kembali ke susu normal ( untuk setiap 200 ml)
Gejala klinis
menghilang (hari)
Ke 1
Ke 2
Ke 3
Ke 4

Susu rendah laktosa


(ml)
150
100
50
0

Susu normal
(ml)
50
100
150
200

Bila anak berumur 4 bulan atau lebih dan sudah mendapatkan makanan lunak
atau padat, makanan ini harus diteruskan. Paling tidak 50% dari energi diit harus
berasal dari makanan dan diberikan dalam porsi kecil atau sering (6kali atau lebih)
dan anak dibujuk untuk makan. Kombinasi susu formula dengan makanan tambahan
seperti serealia pada umunya dapat ditoleransi dengan baik pada anak yang telah
disapih. Makanan padat memiliki keuntungan, yakni memperlambat pengosongan
lambung pada bayi yang minum ASI atau susu formula, jadi memperkecil jumlah
laktosa pada usus halus per satuan waktu. Pemberian makanan lebih sering dalam
jumlah kecil juga memberikan keuntungan yang sama dalam mencernakan laktosa
dan penyerapanya. Pada anak yang lebih besar, dapat diberikan makanan yang terdiri
dari:makanan pokok setempat misalnya nasi, kentang, gandum, roti, atau bakmi.
Untuk meningkatkan kandungan energinya dapat ditambahkan 5-10 ml minyak nabati
untuk setiap 100ml makanan. Minyak kelapa sawit sangat bagus dikarenakan kaya
akan karoten. Campur makanan pokok tersebut dengan kacang-kacangan dan sayursayuran, serta ditambahkan tahu,tempe, daging atau ikan. Sari buah segar atau pisang
baik untuk menambah kalium. Makanan yang berlemak atau makanan yang
48

mengandung banyak gula seperti sari buah manis yang diperdagangkan, minuman
ringan, sebaiknya dihindari.

Pemberian makanan setelah diare


Meskipun anak diberi makanan sebanyak dia mau selama diare, beberapa
kegagalan pertumbuhan mungkin dapat terjadi teruatama bila terjadi anoreksia hebat.
Oleh karena itu perlu pemberian ekstra makanan yang akan zat gizi beberapa minggu
setelah sembuh untuk memperbaiki kurang gizi dan untuk mencapai serta
mempertahankan pertumbuhan yang normal. Berikan ekstra makanan pada saat anak
merasa lapar, pada keadaan semacam ini biasanya anak dapat menghabiskan
tambahan 50% atau lebih kalori dari biasanya.6,11

Zinc
Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan
nafsu makan anak. Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk
memelihara kehidupan yang optimal. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam
pengobatan diare akut didasarkan pada efeknya terhadap imun atau terhadap struktur
dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran cerna selama
diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorbsi air dan elektrolit oleh
usus halus meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah
brush border apical, dan meningkatkan respon imun yang mempercepat pembersihan
patogen di usus. Pengobatan dengan zinc cocok ditetapkan di negara-negara
berkembang seprti Indonesia yang memiliki banyak masalah terjadinya kekurangan
zinc di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan yang rendah dan daya imunitasnya
yang kurang memadai. Pemberian zinc dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi
pada anak. Dosis zinc untuk anak-anak:
-

anak dibawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari

anak diatas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari

49

Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anak telah sembuh dari
diare. Untuk bayi tablet zinc diberikan dalam air matang, ASI atau oralit. Untuk anak
lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit.6

Terapi medikamentosa
Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare seperti
antibiotika, antidiare, adsorben, antiemetik, dan obat yang mempengaruhi mikroflora
usus. Beberapa obat mempunyai lebih dari satu mekanisme kerja, banyak diantaranya
mempunyai efek toksik sistemik dan sebagian besar tidak direkomendasikan untuk
anak umur kurang dari 2-3 tahun. Secara umum dikatakan bahwa obat-obat tersebut
tidak diperlukan untuk pengobatan diare akut.

Antibiotik
Antbiotik pada umunya tidak diperlukan pada semua daire akut oleh karena
sebagian besar diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self limited dan tidak
dapat dibunuh dengan antibiotik. Hanya sebagian kecil (10-20%) yang disebabkan
oleh bakteri patogen seperti V,cholera, Shigella, Enterotoksigenik E.coli, Salmonella,
Campilobacter, dan sebagainya,6

Penyebab

Antibiotik pilihan

Alternatif

Kolera

Tetracycline 12,5 mg/kgBB

Erythromycin 12,5 mg/kgBB

4x sehari selama 3 hari

4x sehari selama 3 hari

Ciprofloxacin 15 mg/kgBB

Pivmecillinam 20 mg/kg BB

2x sehari selama 3 hari

4x sehari selama 3 hari

Shigella Disentri

Ceftriaxone 50-100 mg/kgBB


1x sehari IM selama 2-5 hari
Amoebiasis

Metronidazole 10 mg/kgBB
3xs ehari selama 5 hari (10 hari pada
kasus berat)

Giadiasis

Metronidazole 5mg/kgBB
3x sehari selama 5 hari

50

Obat antidiare
Obat-obat ini meskipun sering digunakan tidak mempunyai keuntungan
praktis dan tidak diindikasikan untuk pengobatan diare akut pada anak. Beberapa dari
obat-obat ini berbahaya. Produk yang termasuk dalam kategori ini adalah:6,7
Adsorben
Contoh: kaolin, attapulgite, smectite, activated charcoal, cholesteramine).
Obat-obat ini dipromosikan untuk pengobatan diare atas dasar kemampuanya
untuk mengikat dan menginaktifasi toksin bakteri atau bahan lain yang
menyebabkan diare serta dikatakan mempunyai kemampuan melindungi
mukosa usus. Walaupun demikian, tidak ada bukti keuntungan praktis dari
penggunaan obat ini untuk pengobatan rutin diare akut pada anak.
Antimotilitas
Contoh loperamidhydrocloride, diphenoxylate dengan atropine, tincture opiii,
paregoric, codein). Obat-obatan ini dapat mengurangi frekuensi diare pada
orang dewasa akan tetapi tidak mengurangi volume tinja pada anak. Lebih
dari itu dapat menyebabkan ileus paralitik yang berat yang dapat fatal atau
dapat memperpanjang infeksi dengan memperlambat eliminasi dari organisme
penyebab. Dapat terjadi efek sedative pada dosis normal. Tidak satupun dari
obat-obatan ini boleh diberikan pada bayi dan anak dengan diare.
Bismuth subsalicylate
Bila diberikan setiap 4 jam dilaporkan dapat mengurangi keluaran tinja pada
anak dngan diare akut sebanya 30% akan tetapi, cara ini jarang digunakan.

Obat-obat lain:
Anti muntah
Termasuk obat ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine yang dapat
menyebabkan mengantuk sehingga mengganggu pemberian terapi rehidrasi

51

oral. Oleh karena itu obat anti muntah tidak digunakan pada anak dengan
diare, muntah biasanya berhenti bila penderita telah terehidrasi.

Probiotik
Probiotik diberi batas sebagai mikroorganisme hidup dalam makanan yang
difermentasi

yang menunjang kesehatan melalui

terciptanya keseimbangan

mikroflora intestinal yang lebih baik. Pencegahan diare dapat dilakukan dengan
pemberian probiotik dalam waktu yang panjang terutama untuk bayi yang tidak
minum ASI. Kemungkinan efek probiotik dalam pencegahan diare melalui perubahan
lingkungan mikrolumen usus, kompetisi nutrien, mencegah adhesi kuman patogen
pada enterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin efek trofik terhadap mukosa
usus melalui penyediaan nutrien dan imunomodulasi. Pemberian makanan selama
daire harus diteruskan dan ditingkatkan setelah sembuh, tujuanya adalah memberikan
makanan yang kaya nutrient sebanyak anak mampu menerima. Sebagian besar anak
dengan diare cair, nafsu makannya timbul kembali setelah dehidrasi teratasi.
Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus yang
normal termasuk kemampuan menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrien, sehingga
memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak dapat dikurangi.
Mekanisme kerja probiotik untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen
dalam mukosa usus belum sepenuhnya jelas tetapi beberapa laporan menunjukan
adanya kompetisi untuk mengadakan perlekatan dengan enterosit (sel epitel mukosa).
Enterosit yang telah jenuh dengan bakteri probiotik tidak dapat lagi dilekati bakteri
yang lain. Jadi dengan adanya bakteri probiotik di dalam mukosa usus dapat
mencegah kolonisasi oleh bakteri patogen. Lactobacillus strain pada manusia
mempunyai kemampuan melekat pada Caco-2 cells dan sel goblet HT 29-MTX pada
sel epitel mukosa usus. Lactobacillus acidophilus LA1 dan LA3 mempunyai
kemampuan melekat yang kuat, tidak tergantung pada calcium, sedangkan
Lactobacillus strain LA10 dan LA18 kemampuan melekatnya rendah. Kemampuan
perlekatan tersebut dapat dihilangkan dengan adanya tripsin. Strain LA1 mempunyai
52

kemampuan untuk mencegah perlekatan diarrheagenic Eschercia coli (EPEC) dan


bakteri enteroinvasif seperti Salmonella typhymurium, Yersinia tuberculosis.
Kemampuan mencegah perlekatan strain LA1 lebih efektif bila diberikan sebelum
atau bersamaan dengan infeksi E coli daripada setelah infeksi E coli. Disamping
mekanisme perlekatan dengna reseptor pada epitel usus untuk mencegah
pertumbuhan bakteri patogen melalui kompetisi, bakteri probiotik memberi manfaat
pada pejamu oleh karena produksi substansi antibakteri misalnya, asam organik,
bacteriocin, microcin, reuterin, volatile fatty acid, hidrogen peroksida dan ion
hidrogen.6,11
3.9 Komplikasi6,7
1. Gangguan elektrolit
-

Hipernatremia
Penderita

diare

dengan

natrium

plasma>150

mmol/L

memerlukan

pemantauan berkala yang ketat. Tujuanya adalah menurunkan kadar natrium


secara perlahan-lahan. Penurunan kadar natrium plasma yang cepat sangat
berbahaya oleh karena dapat menimbulkan edema otak. Rehidrasi oral atau
nasogastrik menggunakan oralit adalah cara terbaik dan paling aman. Koreksi
dengan rehidrasi intravena dapat dilakukan menggunakan cairan 0,45%
saline-5% dextrose selama 8 jam. Hitung kebutuhan cairan menggunakan
berat badan tanpa koreksi. Periksa kadar natrium plasma setelah 8jam. Bila
normal lanjutkan dengan rumatan, bila sebaliknya lanjutkan 8 jam lagi dan
periksa kembali natrium plasma setelah 8 jam. Untuk rumatan gunakan 0,18%
saline-5% dekstrose, perhitungkan untuk 24 jam. Tambahkan 10 mmol KCl
pada setiap 500 ml cairan infus setelah pasien dapat kencing. Selanjutnya
pemberian diet normal dapat mulai diberikan. lanjutkan pemberian oralit
10ml/kgBB/setiap BAB, sampai diare berhenti.6
-

Hiponatremia

53

Anak dengan diare yang hanya minum air putih atau cairan yang hanya
mengandung sedikit garam, dapat terjadai hiponatremia ( Na<130 mmol/L).
Hiponatremia sering terjadi pada anak dengan Shigellosis dan pada anak
malnutrisi berat dengan edema. Oralit aman dan efektif untuk terapi dari
hampir semua anak dengan hiponatremi. Bila tidak berhasil, koreksi Na
dilakukan bersamaan dengan koreksi cairan rehidrasi yaitu : memakai ringer
laktat atau normal saline. Kadar Na koreksi (mEq/L)=125- kadar Na serum
yang diperiksa dikalikan 0,6 dan dikalikan berat badan. Separuh diberikan
dalam 8 jam, sisanya diberikan dalam 16 jam. Peningkatan serum Na tidak
boleh melebihi 2 mEq/L/jam.6
-

Hiperkalemia
Disebut hiperkalemia jika K>5 mEq/L, koreksi dilakukan dengan pemberian
kalsium glukonas 10% 0,5-1 ml/kgBB i.v pelan-pelan dalam 5-10 menit
dengan monitor detak jantung.6

Hipokalemia
Dikatakan hipokalemia bila K<3,5 mEq/L, koreksi dilakukan menurut kadar
K: jika kalium 2,5-3,5 mEq/L diberikan peroral 75 mcg/kgBB/hr dibagi 3
dosis. Bila <2,5 mEq/L maka diberikan secara intravena drip (tidak boleh
bolus) diberikan dalam 4 jam. Dosisnya: (3,5-kadar K terukurx BBx0,4 +2
mEq/kgBB/24 jam) diberikan dalam 4 jam kemudian 20 jam berikutnya
adalah (3,5-kadar K terukurx BBx 0,4+1/6x2 mEqxBB). Hipokalemia dapat
menyebakan kelemahan otot, paralitik usus, gangguan fungsi ginjal dan
aritmia jantung. Hipokalemia dapat dicegah dan kekurangan kalium dapat
dikoreksi dengan menggunakan makanan yang kaya kalium selama diare dan
sesudah diare berhenti.6

2. Demam
Demam sering terjadi pada infeksi shigella disentria dan rotavirus. Pada
umunya demam akan timbul jika penyebab diare mengadakan invasi ke dalam
54

sel epitel usus. Demam juga dapat terjadi karena dehidrasi. Demam yang
timbul akibat dehidrasi pada umunya tidak tinggi dan akan menurun setelah
mendapat hidrasi yang cukup. Demam yang tinggi mungkin diikuti kejang
demam. Pengobatan: kompres dan/antipiretika. Antibiotika jika ada infeksi.7

3. Edema/overhidrasi
Terjadi bila penderita mendapat cairan terlalu banyak. Tanda dan gejala yang
tampak biasnya edema kelopak mata, kejang-kejang dapat terjadi bila ada
edema otak. Edema paru-paru dapat terjadi pada penderita dehidrasi berat
yang diberi larutan garan faali. Pengobatan dengan pemberian cairan
intravena dan atau oral dihentikan, kortikosteroid jika kejang.7

4. Asidosis metabolik
Asidosis metabolik ditandai dengan bertambahnya asam atau hilangnya basa
cairan ekstraseluler. Sebagai kompensasi terjadi alkalosis respiratorik, yang
ditandai dengan pernafasan yang dalam dan cepat (kuszmaull). pemberian
oralit yang cukup mengadung bikarbonat atau sitrat dapat memperbaiki
asidosis.

5. Ileus paralitik
Komplikasi yang penting dan sering fatal, terutama terjadi pada anak kecil
sebagai akibat penggunaan obat antimotilitas. Tanda dan gejala berupa perut
kembung, muntah, peristaltik usus berkurang atau tidak ada. Pengobatan
dengan cairan per oral dihentikan, beri cairan parenteral yang mengandung
banyak K.7
6. Kejang7
o Hipoglikemia: terjadi kalau anak dipuasakan terlalu lama. Bila
penderita dalam keadaan koma, glukosa 20% harus diberikan iv,
55

dengan dosis 2,5 mg/kgBB, diberikan dalam waktu 5 menit. Jika


koma tersebut disebabkan oleh hipoglikemia dengan pemberian
glukosa intravena, kesadaran akan cepat pulih kembali.
o Kejang demam
o Hipernatremia dan hiponatremia
o Penyakit pada susunan saraf pusat, yang tidak ada hubungannya
dengan diare, seperti meningitis, ensefalitis atau epilepsy.

7. Malabasorbsi dan intoleransi laktosa


Pada penderita malabsorbsi atau intoleransi laktosa, pemberian susu formula
selama diare dapat menyebabkan:7
-

Volume tinja bertambah

Berat badan tidak bertambah atau gejala/tanda dehidrasi memburuk

Dalam tinja terdapat reduksi dalam jumlah cukup banyak.

Tindakan:
a. Mencampur susu dengan makanan lain untuk menurunkan kadar
laktosa dan menghindari efek bolus
b. Mengencerkan susu jadi -1/3 selama 24 -48 jan. Untuk mangatasi
kekurangan gizi akibat pengenceran ini, sumber nutrien lain seperti
makanan padat, perlu diberikan.
c. Pemberian yogurt atau susu ynag telah mengalami fermentasi untuk
mengurangi laktosa dan membantu pencernaan oleh bakteri usus.
d. Berikan susu formula yang tidak mengandung/rendah laktosa, atau
ganti dengan susu kedelai.

8. Malabsorbsi glukosa
Jarang terjadi. Dapat terjadi penderita diare yang disebabkan oleh infeksi, atau
penderita dengan gizi buruk.

56

9. Muntah
Muntah dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus atau gastritis yang
menyebabkan gangguan fungsi usus atau mual yang berhubungan dengan
infeksi sistemik. Muntah dapat juga disebabkan karena pemberian cairan oral
terlalu cepat. Tindakan: berikan oralit sedikit-sedikit tetapi sering (1 sendok
makan tiap 2-3 menit), antiemetik sebaiknya tidak diberikan karena sering
menyebabkan penurunan kesadaran.7

10. Akut kidney injury


Mungkin terjadi pada penderita diare dengan dehidrasi berat dan syok.
Didiagnosis sebagai AKI bila pengeluaran urin belum terjadi dalam waktu 12
jam setelah hidrasi cukup.7

3.10 Pencegahan
1. Mencegah penyebaran kuman patogen penyebab diare
Kuman-kuman patogen penyebab diare umumnya disebarkan secara fekal
oral. Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan pada
cara penyebaran ini. Upaya pencegahan diare yang terbukti efektif meliputi:
a. Pemberian ASI yang benar
b. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI
c. Menggunakan air bersih yang cukup
d. Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang
air besar dan sebelum makan
e. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota
keluarga
f. Membuang tinja bayi yang benar
2. Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak
dan dapat juga mengurangi resiko diare antara lain:
57

d. Memberi ASI eksklusif paling tidak sampai usia 6 bulan


e. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberi makan
dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status, gizi anak.
f. Imunisasi campak. Pada balita 1-7% kejadian diare berhubungan dengan
campak, dan diare yang terjadi umunya lebih berat dan lebih lama (susah
diobati, cenderung menjadi kronis) karena adanya kelainan pada epitel
usus. Diperkirakan imunisasi campak yang mencakup 45-90% bayi
berumur 9-11 bulan dapat mencegah 40-60% kasus campak, 0,6-3,8%
kejadian diare dan 6-25% kematian karena diare pada balita.6,7
g. Vaksin rotavirus, diberikan untuk meniru respon tubuh seperti infeksi
alamiah, tetapi infeksi pertama oleh vaksin tidak menimbulkan,
manifestasi diare. Di dunia telah beredar 2 vaksin rotavirus oral yang
diberikan sebelum usia 6 bulan dalam 2-3 kali pemberiian dengan interval
4-6 minggu. 6,11

3.11 Prognosis
Bila kita menatalaksanakan diare sesuai dengan 4 pilar diare, sebagian besar
(90%) kasus diare pada anak akan sembuh dalam waktu kurang dari 7 hari, sebagian
kecil (5%) akan melanjut dan sembuh dalam kurang dari 7 hari, sebagian kecil (5%)
akan menjadi diare persisten.11

58

BAB IV
ANALISA KASUS

Pada kasus ini telah dilaporkan anak perempuan usia 11 tahun, dengan berat
badan 24,5 kg dan panjang badan 145 cm. Pada anamnesis didapatkan anak mengeluh
mencret >4 kali / hari sebelum masuk rumah sakit, cair, bercampur ampas, lebih
banyak air, lendir (-), darah (-), banyaknya 1 gelas belimbing, warna kuning, tidak
berbau asam
Berdasarkan anamnesis diatas di dapatkan kemungkinan anak menderita diare
akut sesuai dengan definisi diare yaitu buang air besar yang lebih sering dan dengan
konsistensi yang lebih encer dari biasanya sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari,
dengan atau tanpa darah dan atau lendir dalam tinja. Serta definisi diare akut yaitu
buang air besar yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya nampak sehat
dengan frekuensi 3 kali atau lebih per hari disertai perubahan tinja menjadi cair
dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu.1
Anak juga mengalami muntah 3x, anak muntah apa yang dimakannya,
seterusnya muntah air. Muntah tidak menyembur (proyektil).
Muntah adalah salah satu gejala gastroenteritis akut, sesuai dengan patogenesis
gastroenteritis yaitu adanya mikroorganisme yang menginfeksi saluran cerna bagian
atas seperti virus dan bakteri yang memproduksi enterotoksin sehingga merangsang
peristaltik gaster dan usus halus untuk mendorong toksin keluar dari tubuh.
Dinyatakan juga bahwa muntah tidak menyembur (proyektil) menunjukkan bahwa
tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.
Anak menjadi rewel, tampak lemas, nafsu makan menurun, anak masih BAK.
Tanda tanda diatas merupakan petanda anak mengalami kehilangan cairan
(dehidrasi) yaitu dehidrasi ringan sedang sesuai dengan kriteria WHO tahun 1995
dimana jika ditemukan 1 tanda mayor (*) dan di tambah tanda minor yang lain, anak
dapat dikatakan mengalami dehidrasi.

59

Penilaian

Tanpa dehidrasi

Dehidrasi ringan-sedang

Dehidrasi berat

Keadaan umum

Baik,sadar

*Gelisah,rewel

*lesu,lunglai/tidak sadar

Mata

Normal

Cekung

Sangat cekung

Air mata

Ada

Tidak ada

Kering

Mulut dan lidah

Basah

Kering

Sangat kering

Rasa haus

Minum biasa,tidak haus

*haus ingin minum banyak

*malas minum atau tidak

Lihat:

bias minum
Periksa: turgor kulit

Kembali cepat

*kembali lambat

*kembali sangat lambat

Hasil pemeriksaan

Tanpa dehidrasi

Dehidrasi ringan/sedang

Dehidrasi berat

Bila ada 1 tanda* ditambah

Bila ada 1 tanda* ditambah 1

1 atau lebih tanda lain

atau lebih tanda lain

Rencana terapi B

Rencana terapi C

Terapi

Rencana terapi A

Pada anamnesa juga di dapatkan anak demam sejak mencret muncul, panas
tidak terlalu tinggi, tidak disertai kejang, tidak di sertai timbulnya bintik bintik
merah pada kulit maupun mimisan, suhu tidak naik turun, tidak menggigil, dan tidak
disertai keringat. Keluhan batuk disangkal dan pilek disangkal, telinga berair
disangkal, dan kencing merah (berdarah) disangkal.
Demam dapat terjadi pada anak yang terkena diare, demam terjadi akibat
peradangan atau dehidrasi. demam terjadi pada penderita inflammatory diarrhea dan
sering terjadi pada diare yang disebabkan oleh bakteri, dimana bakteri dapat
menembus (invasi) ke mukosa usus halus sehingga dapat menimbulkan reaksi
sistemik salah satunya adalah demam.
Demam pada anak ini tidak di sertai kejang yang menandakan tidak terjadi
infeksi baik intrakranial maupun ekstrakranial yang dapat menimbulkan kejang,
gangguan elektrolit akibat diare dan muntah juga dapat menimbulkan kejang, namun
pada anak ini tidak terjadi. Demam pada anak ini tidak disertai timbulnya bintik
bintik merah pada kulit maupun mimisan yang merupakan manifestasi perdarahan
pada demam berdarah dengue. Demam tidak naik turun, tidak menggigil, dan tidak
disertai keringat yang mengarahkan ke diagnosis malaria. Demam juga tidak disertai
batuk dan pilek yang sering terjadi pada infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).
Selain itu demam tidak di sertai telinga berair pada otitis media akut (OMA), dan
60

demam tidak disertai kencing merah (berdarah) yang mengarahkan pada diagnosa
infeksi saluran kemih (ISK).
Orang tua anak mengatakan bahwa dirumah mereka minum menggunakan air
galon isi ulang tanpa dimasak terlebih dahulu. Hal ini merupakan salah satu penyebab
mengapa anak terkena diare. Anak juga mempunyai riwayat tidak mendapat ASI saat
pertama lahir, langsung diberi susu formula, ini berarti anak tidak mendapat ASI
ekslusif dari ibunya, ini menjadi faktor resiko untuk terjadinya gangguan pada
pencernaan anak.
Melalui pemeriksaan umum didapatkan anak tampak lemah, rewel, kesadaran
komposmentis dengan tanda vital nadi : 120x/menit reguler, isi cukup, respiratory
rate: 24x/menit, suhu : 36,9c.
Pemeriksaan fisik pada kepala didapatkan : mata cekung (-), air mata cukup,
mukosa bibir kering (+), pemeriksaan leher, dada (jantung dan paru) dalam batas
normal, pada pemeriksaan abdomen di dapatkan turgor kembali cepat (<2 detik),
peristaltik usus meningkat. Pada pemeriksaan ekstemitas akral hangat (+), capillary
refil time <2 detik. Pemeriksaan neurologis dalam batas normal.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik di atas dapat disimpulkan anak menderita
Gastoenteritis Akut Dehidrasi Ringan Sedang sesuai dengan definisi diare akut dan
derajat dehidrasi WHO.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin semua dalam batas normal.
Pemeriksaan elektolit serum natrium mengalami penurunan. Pemeriksaan anjuran
yang disarankan adalah pemeriksaan feses rutin untuk mengetahui etiologi dan
merencanakan terapi yang akan di pilih.
Terapi yang di berikan pada anak ini adalah terapi rehidrasi, medikamentosa,
diet, dan edukasi orang tua. Terapi rehidrasi dan koreksi elektrolit dilakukan melalui
pemberian cairan intravena karena rehidrasi oral sulit dilakukan karena anak muntah.
Cairan yang dapat diberikan adalah ringer laktat,
Dengan perhitungan haliday segar maintenance untuk berat badan 24,5 kg
= 1000 + 3x50
61

= 1150 cc
Diberikan cairan RL dengan kandungan Na (130 mEq/L), Cl (109 mEq/L), Ca (3
mEq), dan laktat (28 mEq/L),
Telah direhidrasi dengan 350 cc habis dalam 4 jam dilanjutkan KAEN 3A
Setelah 3 jam pertama selanjutnya dinilai apakah rehidrasi telah terpenuhi
melalui perbaikan klinis khususnya melalui urin output, normal bila urin output
mencapai 1-2cc/kgBB/jam. Bila terjadi perbaikan selanjutnya diberikan cairan
maintenance. Cairan mantenance yang diberikan yaitu 20 tts/mnt.
Zinc diberikan karena dapat mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga
dapat mengembalikan nafsu makan anak. Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak
dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang optimal. Dasar pemikiran penggunaan
zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan pada efeknya terhadap imun atau
terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel
saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorbsi
air dan elektrolit oleh usus halus meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus. Pada
anak ini zinc diberikan 20 mg (2 cth syr) selama 10-14 hari.
Probiotik juga diberikan untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen
dalam mukosa usus belum sepenuhnya jelas tetapi beberapa laporan menunjukan
adanya kompetisi untuk mengadakan perlekatan dengan enterosit (sel epitel mukosa).
Enterosit yang telah jenuh dengan bakteri probiotik tidak dapat lagi dilekati bakteri
yang lain. Jadi dengan adanya bakteri probiotik di dalam mukosa usus dapat
mencegah kolonisasi oleh bakteri patogen. Pada anak ini diberikan Lactobacillus (LBio).
Selain itu diberikan antipiretik (paracetamol) untuk mengurangi gejala serta
mencegah hiperpireksia yang dapat mencetuskan kejang demam.
Pemberian makan pada anak ini dimulai bila hemodinamik telah stabil.
Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah sembuh.
Tujuannya adalah memberikan makanan kaya nutrient sebanyak anak mampu
menerima. Sebagian besar anak dengan diare cair, nafsu makanya timbul kembali
62

setelah dehidrasi teratasi. Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat


kembalinya fungsi usus yang normal termasuk kemampuan menerima dan
mengabsorbsi berbagai nutrien, sehingga memburuknya status gizi dapat dicegah atau
paling tidak dikurangi. Sebaliknya, pembatasan makanan akan menyebabkan
penurunan berat badan sehingga diare menjadi lebih lama dan kembalinya fungsi usus
akan lebih lama. Makanan yang diberikan pada anak diare tergantung kepada umur,
makanan yang disukai dan pola makan sebelum sakit serta budaya setempat. Pada
umumnya makanan yang tepat untuk anak diare sama dengan yang dibutuhkan
dengan anak sehat.
Edukasi dilakukan kepada orang tua untuk mencegah berulangnya episode
diare, hal hal yang perlu disampaikan pada edukasi orang tua adalah: 11
1.

Mencegah penyebaran kuman patogen penyebab diare


Kuman-kuman patogen penyebab diare umumnya disebarkan secara fekal
oral. Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan pada
cara penyebaran ini. Upaya pencegahan diare yang terbukti efektif meliputi:
a.

Menggunakan air bersih yang cukup

b.

Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang


air besar dan sebelum makan

c.

Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota


keluarga

2.

Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu


Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak
dan dapat juga mengurangi resiko diare antara lain:
a.

Memberi ASI eksklusif paling tidak sampai usia 6 bulan

b.

Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberi makan


dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status, gizi anak.

c.

Imunisasi campak. Pada balita 1-7% kejadian diare berhubungan dengan


campak, dan diare yang terjadi umunya lebih berat dan lebih lama (susah

63

diobati, cenderung menjadi kronis) karena adanya kelainan pada epitel


usus.
d.

Kurangi jajan atau konsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihannya

64

BAB V
PENUTUP

Diare adalah buang air besar yang lebih sering dan dengan konsistensi yang
lebih encer dari biasanya sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari, dengan atau tanpa
darah dan atau lendir dalam tinja.
Terdapat empat pilar penting dalam tatalaksana diare yaitu rehidrasi,
dukungan nutrisi, pemberian obat sesuaiindikasi dan edukasi pada orang tua. Tujuan
pengobatan, yaitu mencegah dehidrasi,

mengatasi dehidrasi yang telah ada,

mencegah kekurangan nutrisi dengan memberikan makanan selama dan setelah diare,
dan mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare, dengan
memberikan suplemen zinc
Bila kita menatalaksanakan diare sesuai dengan 4 pilar diare, sebagian besar
(90%) kasus diare pada anak akan sembuh dalam waktu kurang dari 7 hari, sebagian
kecil (5%) akan melanjut dan sembuh dalam kurang dari 7 hari, sebagian kecil (5%)
akan menjadi diare persisten.

65

DAFTAR PUSTAKA

1.

Dadiyanto DW, Muryawan MH, Anindita, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak,
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUNDIP, Semarang, 2011, hal 124-131

2.

Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandraputra EP, Harmoniati


ED, Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta, 2010, hal
58-62

3.

Depatemen

Kesehatan.

Diare

PadaAnak.

Kamis,

1November

2014

www.depkes.go.id
4.

Hadinegoro SR, Kadim M, Devaera Y, Idris HS, Ambarsari CG, Update


Management of Infectious Deseases and Gastrointestinal Disorders. Departement
Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, 2012, hal 51-57

5.

Suharyono dkk, Gastroenterologi Akut Anak Praktis, Balai Penerbit FKUI.


Jakarta, 2003, hal 51-69

6.

Subagyo B, Santoso NB. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Jilid 1, Edisi 1.


Jakarta: Badan penerbit UKK Gastroenterologi-Hepatologi IDAI. 2010, hal 87110

7.

Suraatmaja S. Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto. 2007,


hal1-24

8.

Suraatmaja S. Masalah Rehidrasi Oral dalam Kapita Selekta Gastroenterologi


Anak. Jakarta: Sagung Seto. 2007, hal 44-53

9.

Gaurino et al. European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and


Nutrition/European Society for Paediatric Infectious disease Evidenced Based
Guidelines for Management of Acute Gastroenteritis in Children in Europe.
Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition 46: S81-184.2008.

10. Firmansyah A dkk. Modul Pelatihan Tata Laksana Diare pada Anak. Jakarta:
Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia.2005

66

11. WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Pedoman Bagi
Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten Kota. Jakarta: WHO
Indonesia.2009.

67