Anda di halaman 1dari 6

Filled Under:

Kumpulan Cerpen Islami, My Motivation

AKU INGIN BERJILBAB SEPERTI KAKAK (... KISAH


NYATA MENYENTUH HATI ...)
Posted By: Yusri Kombih on 00.00

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Ada segores pedih saat ku ukir namamu dik, Perih. Seakan ribuan belati menusuk ke hati,
meninggalkan gumpalan sedih di lubang rasaku.. Penyesalan yang tak berujung, yang membuatku
merutuki diri ini yang begitu ego diri. Allah, Ampuni aku.. Adik, maafkan kakak.
Aku mengenalmu pertama kali ketika kami masih berpakaian putih abu-abu, dan berlanjurt di tingkat
kuliah. Aku masih teringat sinar matamu saat aku memasuki kelasmu, dan kamu mengajak kami dan
teman-temanmu memanfaatkan waktu kalian di sela waktu luang dalam sebuah majlis ilmu. Kajian
jumat, yang rutin ku jalankan bersama teman-teman akhwatku di rohis.

Sayangnya, sepertinya teman-temanmu tidak begitu merespon, mereka lebih suka menghabiskan
waktunya dengan bergosip dan hal-hal yang tidak bermanfaat, tapi kamu berbeda. Kamu terlihat
istimewa. Kamu datang, dengan wajah penuh riang. Dik, sampai sekarang aku masih ingat senyuman
yang tak penah lepas dari wajahmu.
Senyuman yang dapat menghilangkan segala penat dan lelahku karena tugas-tugas yang menumpuk,
program kerja di rohis yang begitu padat, rapat-rapat dan pertemuan yang begitu melelahkan. Tapi
kamu, yah kamu tetap riang dan seolah mengajarkan kami kakak-kakakmu untuk tetap semangat dan
menikmati dunia dengan riang.
Kamu semakin dekat pada kami, kamu begitu mudah menyerap segala pengetahuan yang kami berikan
kepadamu. Kamu cerdas dik. Mungkin karena belajar dengan hati, kamu begitu mudah menerima
kebaikan. Kamu hanif dik, hatimu begitu lembut dengan kebenaran Allahu akbar, aku malu dik saat
menyadari betapa banyak kesombongan di hati ini, tak seperti kau yang sangat bersahaja.
Aku mulai menyadari, dirimu sangat berbeda dengan teman-temanmu. Kamu begitu dekat dengan kami,
senior-seniormu, bahkan sangat manja, berbeda dengan teman-temanmu yang cukup segan kepada
kami.
Tapi aku suka sifatmu dik, aku seolah memiliki adik baru. Kamu sangat perhatian pada kami, terutama
padaku. Itu yang ku rasa dulu, setiap di sela jam istirahat, kamu pasti selalu membawa coklat untukku,
dan berbisik padaku:
Kak, jangan bilang sama kak iva yah, aku cuma kasih kakak. He he he. Katamu dengan wajah penuh
rahasia. Aku tertawa, menyambutnya juga dengan wajah tak kalah licik. Ha ha ha ( mb.iva mungkin
kamu ingat itulucunya adik kita yang satu ini.
Tapi ternyata aku salah, kau melakukan hal yang sama pada mb.iva juga. Kami tertipu, tetapi kami tetap
senang. Begitulah caramu membuat kami merasa begitu kamu cintai. Allah, begitu banyaknya dia
mengajari kami.Hari itu kamu mendatangiku, dengan wajah penuh semangat lebih dari biasanya. Kamu
bertanya kepadaku:
Kak, aku mau kayak kakak. Menutup aurat dengan sempurna. Allahu Akbar ! aku menyambut dengan
begitu bahagia. Aku sampaikan pada uphi, Hilda dan ade, serta akhwat-akhwat yang lainnya.
Mereka merespon dengan begitu bahagia. Kau memintaku menemanimu membeli kain, tentu saja aku
mau. Subhanallah, bahagianya hatiku saat itu. Serasa tiada hari terindah melebihi ketika aku pergi
bersamamu pada hari itu.
Beberapa hari kemudian kamu datang dengan wajah cemas. Katamu, keluargamu tidak senang dengan
perubahanmu, bahkan mereka pernah menyembunyikan jilbabmu. Kamu pun kini ragu dengan pilihanmu.
Aku mencoba meyakinkanmu bahwa Allah lah sebaik-baik penolong. Tak ka nada yang bisa menyakitimu
dalam lindungan-Nya. Kamu menangis.
Kemudian aku mengajakmu ke mushola. Kita shalat dhuha, dan selesai shalat kamu berkata mantap,
Aku mantap untuk memakainya kak. Subhanallah, ya Allah, Engkau penguasa hati makhluk-Mu
Keesokan harinya, kamu dengan jilbab lebarmu, dengan wajah yang sangat berbahagia. Aku memeluk
dan menciummu dengan penuh sayang. Aku mencubit pipi tembemmu yang besemu merah, semua
akhwat memelukmu dengan bahagia, ahlan wa sahlan yaa ukhti, semoga kamu terjaga dalam busana
syari ini.

Kamu pun smakin dekat padaku, sangat perhatian pada kami smua, tak pernah seingatku kamu tak
datang menjengukku setiap kali aku sakit. Kamu selalu datang walau dalam kondisi sangat lelah.. Dik,
kakak sangat bangga padamu..
Kamu semakin aktif, semua amanah yang diberikan mampu kamu kerjakan dengan penuh semangat.
Bahkan, rasanya tanpa kamu, kami sangat kerepotan. Kami sangat sayang padamu dik.
Tak terasa 2 tahun kebersamaan kita. Aku lulus, dan harus meninggalkan kampus kita tercinta,
meninggalkan rohis MPM KARAMAH (Mahasiswa Pencinta -Mushallah Kerukunan Remaja Mushallah
Aliyah) yang kami rintis dari awal dengan penuh perjuangan, akhwat-akhwatku, adik-adik mentorku,
perjuangan kami. Aku harus meninggalkan mereka semua.
Termasuk kamu dik. Kamu menangis, kamu meminta kami agar tak meninggalkan kalian. Yah, kami
berjanji akan lebih sering mengunjungi. Tak akan berhenti memperhatikanmu dan yang lain. Tapi,
ternyata.
Semua hanya janji, kami masuk dalam lingkungan kampus, yang kesibukannya menumpuk, terlebih aku
mengambil fakultas paling sibuk di antara semua fakultas yang ada Aku tak menepati janji, aku ingkar
padamu dik. Allah, ampuni aku
Aku melupakanmu, aku mulai sibuk di lembaga dakwah kampusku, yang juga meminta perhatian yang
sangat besar. Kuliah-kuliahku, lab-labku yang membuatku tak punya waktu untuk yang lain, termasuk
padamu. Aku mulai melupakanmu, tapi kamu sering sekali menelponku.
Yahtelpon-telponmu dik.. .Allah, jika mengingat ini, sungguh penyesalanku seakan tak ada habisnya.
Kamu begitu sering menelponku, menceritakan semua keadaan di SMU kita, tentang keluargamu yang
semakin menentangmu, tentang saudaramu yang sangat membencimu, tentang tidak adanya orang yang
mau mendengarkan seluruh keluh kesahmu.
Bahkan terkadang, kamu meneleponku sampai dua jam. Dan aku yang begitu egois, mulai bosan dengan
semua keluhanmu. Aku yang terkadang begitu lelah dengan rutinitasku, yang hanya mencuri waktu
untuk istirahat, juga harus terganggu dengan teleponmu. Ampuni hamba ya Allah, aku mulai
menghindarimu, tak ku jawab telepon-teleponmu, tapi kamu sekalipun tidak marah. Ya Allah
Suatu hari, kamu datang ke rumah dengan wajah letih, tak ku temukan keceriaan itu lagi. Ada yang aneh
pada dirimu dik, aku sangat terkejut melihatnya
Wajahmu yang dulu penuh semangat dan selalu dihiasi senyum,keceriaan, yang biasanya mampu
mengobarkan semangat orang-orang di sekitarmu. Kini kamu begitu berbeda, wajahmu begitu pucat,
loyo, tanpa semangat hidup seperti dulu.
Tubuhmu dik, Allah ada apa dengan dirimu dik ? dulu kamu begitu gemuk menggemaskan, dengan
pipi tembem yang sangat lucu hingga matamu yang sipit akan semakin kecil saat dirimu tersenyum.
Dulu kami (akhwat-akwhat) di rohis sering menyebutmu Roti donatku dan kamu akan membalasnya
dengan wajah cemberut, yang kemudian diikuti dengan merajuk tapi kini, kamu sangat kurus dik
sakit kah dirimu ? ini memang pertemuan pertama kita setelah aku lulus, selama ini kita hanya
berkomunikasi melalu telepon..
Dulu setiap kali kita berkumpul kamu akan menceritakan semua pengalamanmu padaku, bibirmu akan
terus berceloteh tanpa henti, dengan riang dan semangat aku selalu menjadi pendengar setiamu tapi
kini kamu hanya diam membisu, tercenung tanpa berkata apa-apa.

Saat ku tanya kamu dari mana ? kamu hanya menjawab dengan singkat bahwa kamu hanya kebetulan
lewat setelah pulang tarbiyah lalu selebihnya kamu hanya diam Dik, tahukah kau, betapa banyak
yang ingin ku tanyakan kepadamu? tapi aku tak ingin menambah penatmu dengan pertanyaanpertanyaanku. Jadi ku biarkan saja kamu dalam diammu hingga akhirnya kamu tertidur Aku menatap
wajahmu yang teduh dalam tidurmu dik, sebenarnya apa yang terjadi denganmu ?
Lalu kamu pun pamit, pergi tanpa sedikitpun cerita sebagaimana lazimnya.
Aku kembali dalam duniaku, Kuliahku, labku, amanah dakwahku Dan.. Ya Rabb, aku kembali
melupakanmu dik, hingga kemudian aku menerima sebuah telepon dari temanmu, Kak, Diana sakit,
sudah 1 minggu dia tidak masuk sekolah, kayaknya parah, kalau bisa kakak sempatkan waktu untuk
menjenguknya, dia selalu menanyakan kakak dan akhwat-akhwat yang lain. aku tercenung di ujung
telepon, tak tahu harus berbuat apa..
Saat aku dan akhwat-akhwat lain tiba di rumahmu, segera kami ke kamarmu, kamar sempit yang
pengap. Hatiku miris, aku baru kali ini ke rumahmu dik. Rabb, aku baru menyadari betapa aku tidak
memperhatikan saudaraku yang memberiku parhatian luar biasa selama ini.
Hatiku perih melihat keadaanmu, tubuhmu begitu kurus seperti seonggok tulang berselimut kulit, aku
bahkan tak mampu mengenalimu, tubuhku bergetar, dadaku sesak menahan tangis, air mataku jatuh tak
mampu ku bendung..
Aku mendekatimu, kamu berusaha tersenyum tapi yang ku lihat adalah ringisan menahan sakit. Aku
mencoba menahan perasaanku. Aku memelukmu, mencium keningmu, akhwat yang lain pun melakukan
yang sama kamu tersenyum, mencoba menggapai tanganmu, ku raih dan ku genggam tangan
kurusmu ku mencoba menghiburmu dengan berbagai cerita lucu, kamu tertawa, akwat-akhwat pun
tertawa, tapi aku menangis di sini.
Di lubuk hati terdalamku, meratapi keacuhanku,Ketika ingin pamit, kau ingin menahanku, maafkan
kakak dik, harusnya dulu aku menemanimu lebih lama dalam kesakitanmu
Aku mencoba bertanya pada ibumu kenapa kamu tidak dibawa ke Rumah Sakit, dan kembali ku temukan
jawaban yang menghempaskan perasaanku hingga hancur berkeping-keping, kau menderita kanker
kelenjar getah bening. Dan karena ekonomi, tak punya biaya, kamu hanya di bawa ke puskesmas. Kamu
sudah pernah dibawa ke RS tapi di keluarkan karena tak punya biaya
Rabbana, apa gunaku selama ini, inikah ukhuwah yang aku dengang-dengunkan selama ini? inikah ikatan
persaudaraan bagai satu tubuh yang selalu aku ikrarkan dalam setiap majelis yang aku bawakan? inikah
kasih sayang yang aku serukan? Tidak, aku harus melakukan sesuatu untukmu dik
Saat itu segera aku bertanya kepada kakakku, dan katanya aku harus mengambil surat keterangan tidak
mampu untukmu agar kamu dapat segera di rawat secara gratisTunggu aku, aku akan berusaha ku
bisikkan padamu bahwa aku pasti kembali
Aku kembali menjengukmu dik bersama hilda dan uphi serta beberapa akhwat lain. Aku belum berhasil
menyelesaikan urusan surat miskin itu, ternyata harus dengan berbagai macam prosedur, tapi aku akan
berusaha dikKali ini kondisimu semakin memburuk. Aku memelukmu dan dan kamu berkata Ini kakak
yang cengeng itu yah? kamu tersenyum..
Aku terperanjat, Rabbana Dik apa kamu sekarang tidak bisa melihatku ? kamu tersenyum dan berkata,
Kak, afwan kalo bicara suaranya di kencengin yah, aku sudah tidak bisa melihat dan mendengar lagi.
Tubuhku bergetar, aku tahu wajahku pucat pasi saat itu, aku pun tak bisa membendung tumpahnya air

mataku, aku menangis. Para akhwat menarikku menjauh darimu. Dalam pelukan akwat, aku tumpahkan
segala rasaku, sedihku, penyesalanku, dan ketakutanku aku takut kau tak mampu bertahan dik
sungguh aku sangat takut kehilanganmu.
Tiba-tiba kamu tidak sadarkan diri, tak lama kemudian kamu siuman lagi, begitu seterusnya
Allah, kurasakan aroma sakaratul maut semakin dekat di ruangan ini ku raih tangan ringkihmu.. inilah
tangan yang dulu sering memelukku dari belakang, menutup mataku dan menyuruhku menebak siapa
dia, dan tentu saja aku tahu, tak ada tangan yang segemuk punyamu dik, saat aku menjawab, Pasti si
roti donat kamu tertawa tapi kini tangan itu tak mampu bergerak lagi Aku usap air mata di pipimu
dik, kamu menangis, apakah kamu merindukanku, merindukan kami saudaramu, yang telah
melupakanmu ? sudihkah kau memaafkan kami dik ?
Aku mendekatkan bibirku ke telingamu, aku tak tahu apakah saat itu kau sadar atau tidak. Aku bisikkan
kalimatullah. Aku menuntunmu menyebut nama-Nya Laa Ilaaha illallaahlaa Ilaaha illallah bibirmu
bergerak dan aku mendengarmu berkata AllahAllah..
Rabbana inikah sakaratul maut sesakit inikah??? Ya Rabbal izzati Allahummagfirlahu,
Allahummarhamhu Ampunilah dia, Rahmatilah diaAku baru selesai shalat subuh, yang kemudian aku
lanjutkan dengan Al-Matsurat dzikir pagi. Hari ini aku berencana mengambil surat keterangan miskin
untukmu, yang dijanjikan selesai hari ini, aku sangat bersemangat.
Kamu akan segera di rawat dik. Saat baru saja aku hendak mandi, telepon berbunyi, ternyata dari ukhti
Uni, mungkin dia mengajak menjengukmu lagi, tentu saja aku mau, tapi aku salah, berita yang aku
terima sungguh sangat membuatku terguncang.. Ukhti, adik kita Diana Innalillahi wa innailaihi Rojiun
Aku tak mau berburuk sangka Uni, kamu ngomong apa sih ? ada apa ? ngomongnya jangan nangis gitu
dong? kataku mencoba menenangkan diri .
Diana ukh, dia sudah nggak ada, dia meninggal tadi malam jam 01.00, kita doakan yah.. nanti kita
sama-sama melayat ke rumahnya
Rabbana aku terdiam, tak mampu berkata-kata, serasa ada benjolan besar di tenggorokanku yang siap
meledak, aku terdiam, tak ku hiraukan uni yang terus memanggilku dan terus menyuruhku bersabar..
aku terduduk.. menangis.. aku tumpahkan segala kesedihanku, penyesalanku, keacuhanku,
ketakpedulianku, keegoisanku
Wajahmu terus berkelabat dalam benakku, senyummu, tawamu, manjamu, semangatmu aku terus
menangis
Baru saja jenazahmu di bawa dari rumahmu. Ibumu sejak tadi tak sadarkan diri. Kakakmu yang kamu
bilang membencimu ternyata sangat mencintaimu, dia yang merawatmu selama kamu sakit. Dik, begitu
banyak orang yang datang melayatmu, menghantar jenazahmu, mensholatimu.. .aku hanya bisa diam
menatap iringan membawamu ke tempat pembaringanmu meninggalkan kami
Dik, kakak tak mampu menemanimu lagi seperti dulu, tak akan ada lagi telepon-teleponmu dan smsmu
yang kini dan hingga kini ku rindukan dan selalu ku nanti tapi aku tahu hanya akan berbalas kesedihan.
Tak ada lagi coklat-coklat kejutan rasa cintamu pada kami Tak ada lagi cerita-ceritamu tentang
masalah-masalahmu yang kini dan hingga kini selalu ku nantikan dan ku tahu hanya berbalas kecewa.
Dik, maafkan kakak, Semoga kau tenang disana, semoga kau dapat menahan himpitan kubur yang kita
semua akan merasakannya. Rabbana Lapangkanlah kuburnya, terangilah dengan cahaya-Mu,
jauhkanlah dia dari adzab kubur Bukakanlah pintu jannah-Mu, sungguh dia adalah mujahidah-Mu, dia

adalah tentara yang memperjuangkan agama-Mu..


Ku tahu saat ini begitu banyak dari kami menangisi kepergianmu mujahidah, namun aku pun yakin,
ribuan penduduk langit bersorak menyambut kedatanganmu dan ribuan malaikat menaungimu dalam
hamparan sayapnya dalam kedamaian di sisi Rabbmu Pergilah adikku kakak ridho..
Kak, apa aku juga bisa disebut mujahidah ? aku kan tidak berperang tertawa
Tentu saja dik, setiap orang yang memperjuangkan agama Allah dan mati dalam keyakinan pada-Nya
adalah seorang mujahid-mujahidah.
Kak, aku mau berjilbab lebar seperti kakak, pantas nggak yah? aku kan gendut? katamu tersenyum
malu
Kau akan sangat cantik dengan busana syari dik, masih adakah yang lebih penting dari kecantikan di
mata Allah?
.Kau tertawa
Aku mauuuuu cantiiik di mata Allah Tertawa riang.
*** Untuk adikku Diana tenanglah disana, dalam perlindunganNya, tak akan ada yang mampu
menyakitimu dik
Wallahu a'lam bishshawab, ..
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
~o~
Semoga bermanfaat dan Penuh Kebarokahan dari Allah ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....