Anda di halaman 1dari 19

Auguste Comte dan Aliran Positivisme

Auguste Comte merupakan sosok filosof besar dan cukup berpengaruh bagi
perkembangan technoscience, dimana dia merupakan penggagas dari aliran Positivisme,
yaitu sebuah aliran filsafat Barat yang timbul pada abad XIX dan merupakan kelanjutan
dari empirisme.
Aliran positivisme ini merupakan aliran produk pemikiran Auguste Comte yang
cukup berpengaruh bagi peradaban manusia. Aliran Positivisme ini kemudian di abad XX
dikembangluaskan oleh filosof kelompok Wina dengan alirannya Neo-Positivisme
(Positivisme-Logis).[1]
Sejarah telah melukiskan bahwa masalah perolehan pengetahuan menjadi problem
aktual yang melahirkan aliran Rasionalisme dan Empirisme yang pada gilirannya telah
melahirkan aliran Kritisisme sebagai alternatif dan solusi terhadap pertikaian dua aliran
besar tersebut. Disinilah arti penting dari kemunculan Positivisme yang merupakan
representasi jawaban berikutnya terhadap problem-problem mendasar tersebut.
Riwayat Hidup Auguste Comte
Auguste Comte merupakan filosof dan warga negara Perancis yang hidup di abad
ke-19 setelah revolusi Perancis yang terkenal itu. Ia lahir di Montpellier, Perancis, pada
tanggal 19 Januari 1798. Ia belajar di sekolah Politeknik di Paris, tetapi ia dikeluarkan
karena ia seorang pendukung Republik, sedangkan sekolahnya justru royalistis.[2]
Auguste Comte menerima dan mengalami secara langsung akibat-akibat negatif
secara langsung revolusi tersebut khususnya dibidang sosial, ekonomi, politik, dan
pendidikan. Pengalaman pahit yang dilalui dan dialaminya secara langsung bersama
bangsanya itu, memotivaisi dirinya untuk memberikan alternatif dan solusi ilmiah-filosofis
dengan mengembangkan epistemologi dan metodologi sebagaimana buah pikirannya itu

tercermin di dalam aliran Positivisme. Aliran ini menjadi berkembang dengan subur karena
didukung oleh para elit-ilmiah dan maraknya era industrialisasi saat itu.[3]
Comte bukanlah orang yang menyukai hal-hal yang berbau matematika, tetapi lebih
care pada masalah-masalah sosial dan kemanusiaan. Bersama dengan Henry deSaint
Simon,[4]Comte mencoba mengadakan kajian problem-problem sosial yang diakibatkan
industrialisasi. Karena ketekunan dan kepiawaiannya dalam bidang-bidang sosial
menjadikan Comte sebagai bapak sosiologi.
Meskipun Comte tidak menguraikan secara lebih rinci masalah apa yang menjadi
obyek sosiologi, tetapi ia mempunyai asumsi bahwa sosiologi terdiri dari dua hal, yaitu
sosial statis dan sosial dinamis. Menurut Comte, sebagai sosial statis sosiologi merupakan
sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari timbal balik antara lembaga kemasyarakatan.
Sedangkan sosial dinamis melihat bagaimana lembaga-lembaga tersebut berkembang.[5]
Dasar pemikiran Comte diperoleh secara inspiratif dari Saint Simon, Charles Lyell,
dan Charles Darwin. Selain dari itu, pemikiran Herbert Spencer mengenai hukum
perkembangan juga mempengaruhi pemikirannya. Kata rasional bagi Comte terkait
dengan masalah yang bersifat empirik dan positif yakni pengetahuan riil yang diperoleh
melalui observasi (pengalaman indrawi), eksperimentasi, komparasi, dan generalisasiinduktif diperoleh hukum yang sifatnya umum sampai kepada suatu teori. Karena itulah
maka bagi positivisme, tuntutan utama adalah pengetahuan faktual yang dialami oleh
subjek, sehingga kata rasional bagi Comte menunjuk peran utama dan penting rasio untuk
mengolah fakta menjadi pengalaman. Berdasarkan atas pemikiran yang demikian itu, maka
sebagai konsekuensinya metode yang dipakai adalah Induktif-verifikatif.[6]
Setelah tulisan-tulisannya mulai beredar, Comte menjadi terkenal di seluruh Eropa
bahkan melebihi ketenaran sang majikan Henry deSaint Simon. Namun begitu, selama
hidup ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengajar di Universitas. Comte juga
senantiasa hidup dalam kemiskinan. Hal ini karena pekerjaannya sebagai pengarang dan

guru pribadi tidak cukup untuk hidup. Hanya berkat sumbangan-sumbangan pengikutnya,
antara lain dari Fiosof Inggris John Stuart Mill, ia bisa makan.[7]
Auguste Comte meninggal pada tahun 1857 dengan meninggalkan karya-karya
seperti Cours de Philosophie Possitive, The Sistem of Possitive Polity, The Scientific
Labors Necessary for Recognition of Society, dan Subjective Synthesis.[8]
Auguste Comte & Hukum Tiga Tahap
Di antara karya-karyanya Auguste Comte, Cours de Philosphie Possitive dapat
dikatakan sebagai masterpiece-nya, karena karya itulah yang paling pokok dan sistematis.
Buku ini dapat juga dikatakan sebagai representasi bentangan aktualisasi dari yang di
dalamnya Comte menulis tentang tiga tahapan perkembangan manusia.
Menurut Comte, perkembangan manusia berlangsung dalam tiga tahap. Pertama,
tahap teologis, kedua, tahap metafisik, ketiga, tahap positif.
1. Tahap Teologis
Pada tahap teologis ini, manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam
terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut.
Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti
manusia. Tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan lebih tinggi dari pada
makhluk-makhluk selain insani.
Pada taraf pemikiran ini terdapat lagi tiga tahap. Pertama, tahap yang paling
bersahaja atau primitif, dimana orang menganggap bahwa segala benda berjiwa
(animisme). Kedua, tahap ketika orang menurunkan kelompok hal-hal tertentu, dimana
seluruhnya diturunkan dari suatu kekuatan adikodrati yang melatarbelakanginya
sedemikian rupa hingga tiap tahapan gejala-gejala memiliki dewa sendiri-sendiri
(polytheisme).[9] Gejala-gejala suci dapat disebut dewa-dewa, dan dewa-dewa ini
dapat diatur dalam suatu sistem, sehingga menjadi politeisme dengan spesialisasi. Ada
dewa api, dewa lautan, dewa angin, dan seterusnya.[10] Ketiga, adalah tahapan tertinggi,

dimana pada tahap ini orang mengganti dewa yang bermacam-macam itu dengan satu tokoh
tertinggi (esa), yaitu dalam monotheisme.[11]
Singkatnya, pada tahap ini manusia mengarahkan pandangannya kepada hakekat yang
batiniah (sebab pertama). Di sini, manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu
yang mutlak. Artinya, di balik setiap kejadian tersirat adanya maksud tertentu.[12]
2. Tahap Metafisik
Tahap ini bisa juga disebut sebagai tahap transisi dari pemikiran Comte. Tahapan ini
sebenarnya hanya merupakan varian dari cara berpikir teologis, karena di dalam tahap ini
dewa-dewa hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak, dengan pengertian atau
dengan benda-benda lahiriah, yang kemudian dipersatukan dalam sesuatu yang bersifat
umum, yang disebut dengan alam. Terjemahan metafisis dari monoteisme itu misalnya
terdapat dalam pendapat bahwa semua kekuatan kosmis dapat disimpulkan dalam konsep
alam, sebagai asal mula semua gejala.[13]
3. Tahap Positif
Pada tahap positif, orang tahu bahwa tiada gunanya lagi untuk berusaha mencapai
pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis maupun metafisik. Ia
tidak lagi mau mencari asal dan tujuan terakhir seluruh alam semesta ini, atau melacak
hakekat yang sejati dari segala sesuatu yang berada di belakang segala sesuatu. Sekarang
orang berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada faktafakta yang disajikan kepadanya, yaitu dengan pengamatan dan dengan memakai
akalnya. Pada tahap ini pengertian menerangkan berarti fakta-fakta yang khusus
dihubungkan dengan suatu fakta umum. Dengan demikian, tujuan tertinggi dari tahap
positif ini adalah menyusun dan dan mengatur segala gejala di bawah satu fakta yang
umum.[14]
Bagi comte, ketiga tahapan tersebut tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani
seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi di bidang ilmu pengetahuan. Dalam hal ini,
comte menerangkan bahwa segala ilmu pengetahuan semula dikuasai oleh pengertian-

pengertian teologis, sesudah itu dikacaukan dengan pemikiran metafisis dan akhirnya
dipengaruhi hukum positif. Jelasnya, ketiga tahapan perkembangan umat manusia itu tidak
saja berlaku bagi suatu bangsa atau suku tertentu, akan tetapi juga individu dan ilmu
pengetahuan.
Meskipun seluruh ilmu pengetahuan tersebut dalam perkembangannya melalui
ketiga macam tahapan tersebut, namun bukan berarti dalam waktu yang bersamaan. Hal
demikian dikarenakan segalanya tergantung pada kompleksitas susunan suatu bidang ilmu
pengetahuan. Semakin kompleks susunan suatu bidang ilmu pengetahuan tertentu, maka
semakin lambat mencapai tahap ketiga.
Lebih jauh Comte berpendapat bahwa pengetahuan positif merupakan puncak
pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Di sini, ilmu
pengetahuan dapat dikatakan bersifat positif apabila ilmu pengetahuan tersebut
memusatkan perhatian pada gejala-gejala yang nyata dan kongrit. Dengan demikian, maka
ada kemungkinan untuk memberikan penilaian terhadap berbagai cabang ilmu pengetahuan
dengan jalan mengukur isinya yang positif, serta sampai sejauh mana ilmu pengetahuan
tersebut dapat mengungkapkan kebenaran yang positif.[15] Sesuai dengan pandangan
tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak, karena kebenarannya
sulit dibuktikan dalam kenyataan.
Demikianlah pandangan Auguste Comte tentang hukum tiga tahapnya, yang pada
intinya menyatakan bahwa pemikiran tiap manusia, tiap ilmu dan suku bangsa melalui 3
tahap, yaitu teologis, metafisis dan positif ilmiah. Dalam hal ini Auguste Comte
memberikan analog; manusia muda atau suku-suku primitif pada tahap teologis sehingga
dibutuhkan figur dewa-dewa untuk menerangkan kenyataan. Meningkat remaja dan
mulai dewasa dipakai prinsip-prinsip abstrak dan metafisis. Pada tahap dewasa dan matang
digunakan metode-metode positif dan ilmiah.[16]

Filsafat positivisme merupakan salah satu aliran filsafat modern yang lahir pada
abad ke-19. Dasar-dasar filsafat ini dibangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh
Auguste Comte. Adapun yang menjadi tititk tolak dari pemikiran positivis ini adalah, apa
yang telah diketahui adalah yang faktual dan positif, sehingga metafisika ditolaknya. Di
sini, yang dimaksud dengan positif adalah segala gejala yang tampak seperti apa adanya,
sebatas pengalaman-pengalaman obyektif. Jadi, setelah fakta diperoleh, fakta-fakta tersebut
diatur sedemikian rupa agar dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.
[17]
Sebenarnya, tokoh-tokoh aliran ini sangat banyak. Namun begitu, Auguste Comte
dapat dikatakan merupakan tokoh terpenting dari aliran filsafat Positivisme. Menurut
Comte, dan juga para penganut aliran positivisme, ilmu pengetahuan tidak boleh melebihi
fakta-fakta karena positivisme menolak metafisisme. Bagi Comte, menanyakan hakekat
benda-benda atau penyebab yang sebenarnya tidaklah mempunyai arti apapun. Oleh
karenanya, ilmu pengetahuan dan juga filsafat hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan
yang terdapat antara fakta-fakta. Dengan demikian, kaum positivis membatasi dunia pada
hal-hal yang bisa dilihat, diukur, dianalisa dan yang dapat dibuktikan kebenarannya.[18]
Dengan model pemikiran seperti ini, kemudian Auguste Comte mencoba
mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama.[19] Hal ini
terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang memuja
kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini
melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi, yang
dikenal dengan Materialisme.[20]
Selanjutnya, karena agama (Tuhan) tidak bisa dilihat, diukur dan dianalisa serta
dibuktikan, maka agama tidak mempunyai arti dan faedah. Comte berpendapat bahwa suatu
pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu sesuai dengan fakta. Sebaliknya, sebuah
pernyataan akan dianggap salah apabila tidak sesuai dengan data empiris. Contoh misalnya

pernyataan bahwa api tidak membakar. Model pemikiran ini dalam epistemologi disebut
dengan teori Korespondensi.
Keberadaan (existence) sebagai masalah sentral bagi perolehan pengetahuan,
mendapat bentuk khusus bagi Positivisme Comte, yakni sebagai suatu yang jelas dan pasti
sesuai dengan makna yang terkandung di dalam kata "positif". Kata nyata (riil) dalam
kaitannya dengan positif bagi suatu objek pengetahuan, menunjuk kepada hal yang dapat
dijangkau atau tidak dapat dijangkau oleh akal. Adapun yang dapat dijangkau oleh akal
dapat dijadikan sebagai objek ilmiah, sedangkan sebaliknya yang tidak dapat dijangkau
oleh akal, maka tidak dapat dijadikan sebagai objek ilmiah. Kebenaran bagi Positivisme
Comte selalu bersifat riil dan pragmatik artinya nyata dan dikaitkan dengan kemanfaatan,
dan nantinya berujung kepada penataan atau penertiban.[21] Oleh karenanya, selanjutnya
Comte beranggapan bahwa pengetahuan yang demikian itu tidak bersumber dari otoritas
misalnya bersumber dari kitab suci, atau penalaran metafisik (sumber tidak langsung),
melainkan bersumber dari pengetahuan langsung terhadap suatu objek secara indrawi.
Dari model pemikiran tersebut, akhirnya Comte menganggap bahwa garis
demarkasi antara sesuatu yang ilmiah dan tidak ilmiah (pseudo science) adalah veriviable,
dimana Comte untuk mengklarifikasi suatu pernyataan itu bermakna atau tidak (meaningful
dan meaningless), ia melakukan verifikasi terhadap suatu gejala dengan gejala-gejala yang
lain untuk sampai kepada kebenaran yang dimaksud.[22] Dan sebagai konsekwensinya,
Comte menggunakan metode ilmiah Induktif-Verivikatif, yakni sebuah metode menarik
kesimpulan dari sesuatu yang bersifat khusus ke umum, kemudian melakukan verifikasi.
Selanjutnya Comte juga menggunakan pola operasional metodologis dalam bentuk
observasi, eksperimentasi, komparasi, dan generalisasi-induktif
Singkatnya, filsafat Comte merupakan filsafat yang anti-metafisis, dimana dia
hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah, dan menjauhkan diri
dari semua pertanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Semboyan Comte yang
terkenal adalah savoir pour prevoir (mengetahui supaya siap untuk bertindak), artinya

manusia harus menyelidiki gejala-gejala dan hubungan-hubungan antara gejala-gejala, agar


supaya dia dapat meramalkan apa yang akan terjadi.[23]
Filsafat positivisme Comte juga disebut sebagai faham empirisme-kritis, bahwa
pengamatan dengan teori berjalan seiring. Bagi Comte pengamatan tidak mungkin
dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak
mungkin dilakukan secara terisolasi, dalam arti harus dikaitkan dengan suatu teori.[24]
Dengan demikian positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subjek
diluar fakta, menolak segala penggunaan metoda di luar yang digunakan untuk menelaah
fakta. Atas kesuksesan teknologi industri abad XVIII, positivisme mengembangkan
pemikiran tentang ilmu pengetahuan universal bagi kehidupan manusia, sehingga
berkembang etika, politik, dan lain-lain sebagai disiplin ilmu, yang tentu saja positivistik.
Positivisme mengakui eksistensi dan menolak esensi. Ia menolak setiap definisi yang tidak
bisa digapai oleh pengetahuan manusia. Bahkan ia juga menolak nilai (value).[25]
Apabila dikaitkan dengan ilmu sosial budaya, positivisme Auguste Comte
berpendapat bahwa (a) gejala sosial budaya merupakan bagian dari gejala alami, (b) ilmu
sosial budaya juga harus dapat merumuskan hukum-hukum atau generalisasi-generalisasi
yang mirip dalil hukum alam, (c) berbagai prosedur serta metode penelitian dan analisis
yang ada dan telah berkembang dalam ilmu-ilmu alam dapat dan perlu diterapkan dalam
ilmu-ilmu sosial budaya.
Sebagai akibat dari pandangan tersebut, maka ilmu sosial budaya menjadi bersifat
predictive dan explanatory sebagaimana halnya dengan ilmu alam dan ilmu pasti.
Generalisasi-generalisasi tersebut merangkum keseluruhan fakta yang ada namun sering
kali menegasikan adanya contra-mainstream. Manusia, masyarakat, dan kebudayaan
dijelaskan secara matematis dan fisis.[26]
Demikianlah

beberapa

pemikiran

Auguste

Comte

tentang

tiga

tahapan

perkembangan manusia dan juga bagaimana positivisme Auguste Comte memandang


sumber ilmu pengetahuan.

Kritik Pemikiran
Positivisme Auguste Comte mengemukakan tiga tahap perkembangan peradaban
dan pemikiran manusia ke dalam tahap teologis, metafisik, dan positivistik. Pada tahap
teologis pemikiran manusia dikuasai oleh dogma agama, pada tahap metafisik pemikiran
manusia dikuasai oleh filsafat, sedangkan pada tahap positivistik manusia sudah dikuasai
oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tahap ketiga itulah aspek humaniora dikerdilkan
ke dalam pemahaman positivistik yang bercorak eksak, terukur, dan berguna. Ilmu-ilmu
humaniora baru dapat dikatakan sejajar dengan ilmu-ilmu eksak manakala menerapkan
metode positivistik. Di sini mulai terjadi metodolatri, pendewaan terhadap aspek
metodologis.
Selain itu, model filsafat positivisme-nya Auguste Comte tampak begitu
mengagungkan akal dan panca indera manusia sebagai tolok ukur kebenaran. Sebenarnya
kebenaran sebagai masalah pokok pengetahuan manusia adalah bukan sepebuhnya milik
manusia. Akan tetapi hanya merupakan kewajiban manusia untuk berusaha menghampiri
dan mendekatinya dengan cara tertentu.
Kata cara tertentu merujuk pada pemikiran Karl Popper mengenai kebenaran dan
sumber diperolehnya. Bagi Popper, ini merupakan tangkapan manusia terhadap objek
melalui rasio (akal) dan pengalamannya, namun selalu bersifat tentatif. Artinya kebenaran
selalu bersifat sementara yakni harus dihadapkan kepada suatu pengujian yang ketat dan
gawat (crucial-test) dengan cara pengujian trial and error (proses penyisihan terhadap
kesalahan atau kekeliruan) sehingga kebenaran se1alu dibuktikan melalui jalur konjektur
dan refutasi dengan tetap konsisten berdiri di atas landasan pemikiran Rasionalisme-kritis
dan Empirisme-kritis. Atau dengan meminjam dialektika-nya Hegel, sebuah kebenaran
akan selalu mengalami proses tesis, sintesis, dan anti tesis, dan begitu seterusnya.

Pandangan mengenai kebenaran yang demikian itu bukan berarti mengisyaratkan


bahwa Penulis tergolong penganut Relativisme, karena menurut hemat Penulis, Relativisme
sama sekali tidak mengakui kebenaran sebagai milik dan tangkapan manusia terhadap
suatu objek. Penulis berkeyakinan bahwa manusia mampu menangkap dan menyimpan
kebenaran sebagaimana yang diinginkannya serta menggunakannya, namun bagi
manusia, kebenaran selalu bersifat sementara karena harus selalu terbuka untuk
dihadapkan dengan pengujian (falsifikasi). Dan bukanlah verifikasi seperti apa yang
diyakini oleh Auguste Comte. Hal demikian karena suatu teori, hukum ilmiah atau hipotesis
tidak dapat diteguhkan (diverifikasikan) secara positif, melainkan dapat disangkal
(difalsifikasikan)
Jelasnya, untuk menentukan kebenaran itu bukan perlakuan verifikasi melainkan
melalui proses falsifikasi dimana data-data yang telah diobservasi, dieksperimentasi,
dikomparasi dan di generalisasi-induktif berhenti sampai di situ karena telah dianggap
benar dan baku (positif), melainkan harus dihadapkan dengan pengujian baru.
Auguste Comte dan Positivisme
Bagi kalangan awam kata positif lebih mudah dimaknai sebagai baik dan berguna
sebagai antonim dari kata negatif. Pemahaman awam ini bukannya tanpa dasar, karena jika
kita membaca, misalnya, kamus saku Oxford kita akan menemukan baik dan berguna
dalam daftar makna untuk kata positive.[1] Dalam terma hukum, kita terbiasa mendengar
hukum positif yang sering diperlawankan dengan hukum agama, hukum adat dan hukumhukum yang lain. Hukum positif berarti hukum, dan juga hukuman, yang dibuat dan
dilaksanakan oleh manusia dan berdasar rasionalitas. Disini, kata positif dimaknai secara
berbeda. Tapi, arti ini, sekali lagi, tidak bertentangan dengan makna leksikal dari kata ini.
Dalam kamus saku Oxford, makna jelas adalah arti kelima bagi kata positive.

10

Dalam konteks epistemologi, kata positive, yang pertama kali digunakan Auguste Comte,
berperan vital dalam mengafirkan filsafat dan sains di Barat, dengan memisahkan
keduanya dari unsur agama dan metafisis, yang dalam kasus Comte berarti mengingkari
hal-hal non-inderawi.[2] Hal ini, yang kemudian berkembangan menjadi paradigma
positivistik ini, merasuk ke perkembangan saintifik, dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmuilmu humaniora. Tulisan pendek ini akan mencoba memaparkan Auguste Comte dan
positivisme yang diperkenalkannya.

AUGUSTE COMTE
Auguste Comte, yang bernama lengkap Isidore Marie Auguste Francois Xavier Comte, di
lahirkan di Montpellier Prancis selatan pada 17 Januari 1798. Setelah menyelesaikan
pendidikan di Lycee Joffre dan Universitas Montpellier, Comte melanjutkan pendidikannya
di Ecole Polytechnique di Paris.[3] Masa pendidikannya di cole Polytechnique dijalani
selama dua tahun, antara 1814-16. Masa dua tahun ini berpengaruh banyak pada pemikiran
Comte selanjutnya. Di lembaga pendidikan ini, Comte mulai meyakini kemampuan dan
kegunaan ilmu-ilmu alam.[4] Pada Agustus 1817 Comte menjadi sekertaris, dan kemudian
menjadi anak angkat, Henri de Saint-Simon, setelah comte di usir dan hidup dari
mengajarkan matematika. Persahabatan ini bertahan hingga setahun sebelum kematian
Saint-Simon pada 1825. Saint-Simon adalah orang yang tidak mau diakui pengaruh
intelektualnya oleh Comte, sekalipun pada kenyataannya pengaruh ini bahkan terlihat
dalam kemiripan karir antara mereka berdua. Selama kebersamaannya dengan Saint-Simon,
dia membaca dan dipengaruhi oleh, sebagaimana yang diakuinya, Plato, Montesquieu,
Hume, Turgot, Condorcet, Kant, Bonald, dan De Maistre, yang karya-karya mereka
kemudian di kompilasi oleh menjadi dua karya besarnya, the Cours de Philosophie Positive
dan Systeme de Politique Positive. Selama lima belas tahun masa akhir hidupnya, Comte

11

semakin terpisah dari habitat ilmiahnya dan perdebatan filosofis, karena dia meyakini
dirinya sebagai pembawa agama baru, yakni agama kemanusiaan.[5]
Pada saat Comte tinggal bersama Saint-Simon, dia telah merencanakan publikasi karyanya
tentang filsafat positivisme yang diberi judul Plan de Travaux Scientifiques Necessaires
pour Reorganiser la Societe (Rencana Studi Ilmiah untuk Pengaturan kembali Masyarakat).
Tapi kehidupan akademisnya yang gagal menghalangi penelitiannya. Dari rencana judul
bukunya kita bisa melihat kecenderungan utama Comte adalah ilmu sosial.[6]
Secara intelektual, kehidupan Comte dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahapan. Pertama,
ketika dia bekerja dan bersahabat dengan Saint-Simon. Pada tahap ini pemikirannya tentang
sistem politik baru dimana fungsi pendeta abad pertengahan diganti ilmuwan dan fungsi
tentara dialihkan kepada industri. Tahap kedua ialah ketika dia telah menjalani proses
pemulihan mental yang disebabkan kehidupan pribadinya yang tidak stabil. Pada tahap
inilah, Comte melahirkan karya besarnya tentang filsafat positivisme yang ditulis pada
1830-42. Kehidupan Comte yang berpengaruh luas justru terletak pada separuh awal
kehidupannya.[7] Tahap ketiga kehidupan intelektual Comte berlangsung ketika dia
menulis A Sytem of Positive Polity antara 1851-54.[8] Dalam perjalanan sejarah, alih-alih
dikenal sebagai filosof, Comte lebih dikenal sebagai praktisi ilmu sejarah dan pembela
penerapan metode saintifik pada penjelasan dan prediksi tentang institusi dan perilaku
sosial. Pada 5 September 1857 tokoh yang sering disebut sebagai bapak sosiologi modern
ini meninggal dunia.[10]
KELAHIRAN FILSAFAT POSITIVISTIK[11]
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-satunya
pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktual-fisikal.
Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode

12

saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari. Positivisme, dalam
pengertian diatas dan sebagai pendekatan telah dikenal sejak Yunani Kuno dan juga
digunakan oleh Ibn al-Haytham dalam karyanya Kitab al-Manazhir. Sekalipun demikian,
konseptualisasi positivisme sebagai sebuah filsafat pertama kali dilakukan Comte di abad
kesembilan belas.[12]
Dalam karya besarnya, Comte mengklaim bahwa dari hasil studi tentang perkembangan
intelektual manusia sepanjang sejarah kita bisa menemukan hukum yang mendasarinya.
Hukum ini, yang kemudian dikenal sebagai Law of Three Stages, yang setiap konsepsi dan
pengetahuan manusiawi pasti melewatinya, secara berurutan adalah kondisi teologi yang
bercorak fiktif, kondisi metafisis yang bercorak abstrak, dan saintifik atau positive. Bagi
Comte, pikiran manusia berkembang dengan melewati tiga tahap filsafati, yang berbeda
dan berlawanan.[13] Dari tiga tahap pemikiran manusia ini, yang pertama mestilah menjadi
titik awal pemahaman manusia dalam memahami dunia. Sedangkan tahap ketiga adalah
tahap akhir dan definitif dari intelektualitas manusia. Tahap kedua hanyalah menjadi tahap
transisi saja.[14]
Pengaruh terhadap pemikiran Comte tentang Hukum Tiga Tahap bisa dilacak pada iklim
intelektual abad delapan belas dimana banyak ilmuan sampai pada simpulan tentang
tahapan-tahapan sejarah. Beberapa diantara pemikir yang berpengaruh adalah Turgot,
Quesnay, Condorcet, dan Robertson yang berpandangan tentang multi-tahap perkembangan
ekonomi dalam sejarah manusia. Menjelang penemuan Hukum Tiga Tahap, Comte telah
akrab dengan skema yang mirip yang diadopsi oleh Condorcet dari karya Turgot Second
Discourse on Universal History, dan oleh Saint-Simon dari Condorcet. Tentang tiga tahap
perkembangan intelektualitas manusia Turgot menulis:

13

Before men were conversant with the mutual interconnection of physical effects, nothing
was more natural than to suppose that these were produced byintelligent beings, invisible
and resembling ourselves. Everything that happenedhad its god
When the philosophers had recognised the absurdity of these fablesthe idea struck them
to explain the causes of phenomena by way of abstract expressions like essences and
faculties: expressions which in fact explained nothing, and about which men reasoned as if
they were beings, new gods substituted for the old ones. Following these analogies,
faculties were proliferated in order to provide a cause for each effect.
It was only much later, through observation of the mechanical action which bodies have
upon one another, that men derived from this mechanics other hypotheses which
mathematics was able to develop and experiment to verify.

Oleh Comte, skema Turgot disebut sebagai hukum mendasar (great fundamental law) yang
secara pasti memengaruhi keseluruhan perkembangan intelektual manusia dalam seluruh
bidang pengetahuan.[15]
Sebenarnya kata positive tidak hanya digunakan oleh Comte. Kata ini telah umum
digunakan pada abad delapan belas, khususnya pada paruh kedua. Namun Comte adalah
orang yang bertanggung jawab atas penerapan positivisme pada filsafat.[16] Filsafat
positivistik ini dibangun berdasarkan dua hal, yaitu filsafat kuno dan sains modern (baca:
capaian sains hingga zaman Comte). Dari filsafat kuno, Comte meminjam pengertian
Aristoteles tentang filsafat, yaitu konsep-konsep teoritis yang saling berkaitan satu sama
lain dan teratur. Dari sains modern, Comte menggunakan ide positivistik a la Newton, yakni
metode filsafati yang terbentuk dari serangkaian teori yang

memiliki tujuan

mengorganisasikan realitas yang tampak. Sebagaimana diakui Comte sendiri, ada


kemiripan antara antara filsafat positivistik (philosophie positive) dan filsafat alam (natural

14

philosophy) di Inggris. Pemilihan terhadap filsafat positivistik sebagai nama bagi sistem
pemikiran yang dibangunnya karena filsafat positivistik hanya mencoba untuk menganalisis
efek dari sebab-sebab sebuah fenomena dan menghubungkannya satu sama lain.[17
PENGARUH POSITIVISME COMTE
Positivisme yang diperkenalkan Comte berpengaruh pada kehidupan intelektual abad
sembilan belas. Di Inggris, sahabat Comte, Jhon Stuart Mill, dengan antusias
memerkenalkan pemikiran Comte sehingga banyak tokoh di Inggris yang mengapresiasi
karya besar Comte, diantaranya G.H. Lewes, penulis The Biographical History of
Philosophy dan Comtes Philosophy of Sciences; Henry Sidgwick, filosof Cambridge yang
kemudian mengkritisi pandangan-pandangan Comte; John Austin, salah satu ahli paling
berpengaruh pada abad sembilan belas; dan John Morley, seorang politisi sukses. Namun
dari orang-orang itu hanya Mill dan Lewes yang secara intelektual terpengaruh oleh Comte.
[18]
Di Prancis, pengaruh Comte tampak dalam pengakuan sejarawan ilmu, Paul Tannery, yang
meyakini bahwa pengaruh Comte terhadapnya lebih dari siapapun. Ilmuwan lain yang
dipengaruhi Comte adalah Emile Meyerson, seorang filosof ilmu, yang mengkritisi dengan
hormat ide-ide Comte tentang sebab, hukum-hukum saintifik, psikologi dan fisika. Dua
orang ini adalah salah satu dari pembaca pemikiran Comte yang serius selama setengah
abad pasca kematiannya. Karya besar Comte bagi banya filososf, ilmuwan dan sejarawan
masa itu adalah bacaan wajib.[19]
Namun Comte baru benar-benar berpengaruh melalui Emile Durkheim yang pada 1887
merupakan orang pertama yang ditunjuk untuk mengajar sosiologi, ilmu yang diwariskan
Comte, di universitas Prancis. Dia merekomendasikan karya Comte untuk dibaca oleh
mahasiswa sosiologi dan mendeskripsikannya sebagai the best possible intiation into the
study of sociology. Dari sinilah kemudian Comte dikenal sebagai bapak sosiologi dan
pemikirannya berpengaruh pada perkembangan filsafat secara umum.[20]

15

KRITIK ATAS POSITIVISME


Dalam sejarahnya, positivisme dikritik karena generalisasi yang dilakukannya terhadap
segala sesuatu dengan menyatakan bahwa semua proses dapat direduksi menjadi
peristiwa-peristiwa fisiologis, fisika, atau kimia dan bahwa proses-proses sosial dapat
direduksi ke dalam hubungan antar tindakan-tindakan individu dan bahwa organisme
biologis dapat direduksi kedalam sistem fisika.[21]
Kritik juga dilancarkan oleh Max Horkheimer dan teoritisi kritis lain. Kritik ini didasarkan
atas dua hal, ketidaktepatan positivisme memahami aksi sosial dan realitas sosial yang
digambarkan positivisme terlalu konservatif dan mendukung status quo. Kritik pertama
berargumen bahwa positivisme secara sistematis gagal memahami bahwa apa yang mereka
sebut sebagai fakta-fakta sosial tidak benar-benar ada dalam realitas objektif, tapi lebih
merupakan produk dari kesadaran manusia yang dimediasi secara sosial. Positivisme
mengabaikan pengaruh peneliti dalam memahami realitas sosial dan secara salah
menggambarkan objek studinya dengan menjadikan realitas sosial sebagai objek yang eksis
secara objektif dan tidak dipengaruhi oleh orang-orang yang tindakannya berpengaruh pada
kondisi yang diteliti. Kritik kedua menunjuk positivisme tidak memiliki elemen refleksif
yang mendorongnya berkarakter konservatif. Karakter konservatif ini membuatnya populer
di lingkaran politik tertentu.[22]
Relevansinya terhadap ilmu pendidikan Islam
Bicara masalah relevansi, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu tujuan
pendidikan Islam sebagai acuan relevan tidaknya suatu ilmu yang satu dengan yang
lainnya, secara umum pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk manusia yang baik,
yaitu manusia yang beribadah kepada Allah dalam rangka pelaksanaan fungsi
kekhalifaanya dimuka bumi.[38] Selain itu menurut Hasan Langgulung, juga mampu
mengakomodasikan tiga fungsi utama dari agama, yaitu fungsi spiritual yang berkaitan
dengan aqidah dan iman, psikologi yang berkkaitan dengan tingkah laku, dan fungsi social

16

yang berkaitan dengan aturan-aturan, sehingga tidaklah bebas dibuat sekehendaknya tapi
harus berpijar pada nilai-nilai yang digali dalam Islam sendiri.[39]
Bagaimanapun pendidikan Islam pasti dapat memperoleh faedah, fungsi, tujuan
yang diharapkan dan diidamkan, falsafah harus diambil dari berbagai sumber, sumber itu
diperhatikan dalam dalam menciptakannya sebagai factor, dengan syarat sumbe-sumber itu
harus dikaitkan dengan sumber islam.[40] Dengan demikian jika ajaran Positivistik
menyimpang dari ajaran Al-Quran dan Hadist Rasul, maka hal tersebut belum relevan bagi
kesempurnaan pendidikan Islam, terutma di negeri kita yang unik ini, yang masih penuh
dengan mistikus dan ilmu kebathinan yang mendalam sebagai jalan menuju Allah SWT.
Dari sini ternyata Positivistik belum sepenuhnya relevan dengan pendidikan islam,
Dalam kaitannya dengan ilmu pendidikan Islam, ajaran Positivisme Comte belum
memenuhi dan tersangkut dalam asas-asas dan karakteristik falsafah metode pendidikan
Islam, konsep asasi dalam pendidikan Islam telah mengidentifikasikan bahwa seluruh
komponen yang terkait dalam proses pendidikan merupakan satu kesatuan yang
membentuk satu sistem, sehingga asas umum yang akan lahir dalam pendidikan Islam
adalah 1) asas agama, 2) asas biologis, 3) asas psikologi, dan 4) asas sosial.[41] Hal ini
tentu sudah tidak sejalan dengan positivisiknya Comte, terutama pada poin ketiga, adanya
psikologi dalam asas pendidikan islam tidak diakui oleh Comte dan tidak diberikan tempat
dalam system Comte, hal ini disebabkan karena menurut dia, manusia tidak dapat meneliti
dirinya sendiri. barangkali orang masih dapat meneliti nafsunya, karena nafsu tidak berada
dalam fikiran.[42] Jadi Dari segi asas-asas yang mendasar dalam metode pendidikan islam,
positivistic sudah tidak memenuhi system pemikiran Comte.
Keluar dari pembagian 3 zaman Comte, dan memfokuskan pada zaman positivistik
saja, Menurut kami, Positivistik pada zamannya hanya dapat dimanfaatkan sebagai ilmu
social-kemasyaraktan yang terjadi antara manusia dengan manusia yang lainnya (Habl min
An-Nas) dan kurang menfokuskan hubungan vertikalnya (pada tuhan semesta Alam), dalam
artian ini seolah Comte menganggap bahwa subyektifitas untuk mencari hikmah kesucian

17

dalam diri individu manusia tidak dibutuhkan lagi. Apalagi Tuhan bersifat non-indrawi.
Tentu hal ini sangat berbeda dengan ajaran Pendidikan Islam yang bersifat ilhiyyah, namun
walau demikian Positivisme masih bisa memberi sedikit perannya dalam kajian-kajian
hukum dalam Pendidikan Islam, ilmu fiqh contohnya, walau tidak seluruhnya, fiqh yang
bersifat menghukumi dzohir atau non-indrawi (nahnu nahkumu fi Ad-Dzawahir) setidaknya
bisa menjadi tolak ukur, karena Positifistik bisa dikatakan hanya mengambil hikmah dibalik
reaksi/peristiwa secara obyekif, dan fiqih juga belum bisa menghukumi secara syara halhal yang non-indrawi. Karena hal tersebut bukan termasuk dalam kajiannya, kecuali ada
pengkolaborasian dengan ilmu tasaawuf ataupu tauhid.
Dalam prakteknya, Positivisme ternyata terealisasi dalam pendidikan di negeri kita,
sebagai bentuk evaluasi operasional pendidikan dan sistemnya bahkan kurikulumnya, ide
konstrutif yang kemudian muncul adalah bagaimnana agar siswa dapat produktif bukan
sekedar konsumtif , itulah yang kemudian dikenal dengan istilah Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) dan paling tidak berlandaskan positivisme.

Kesimpulan dan Penutup


Comte sebagai bapak sosiologi, telah banyak berjasa dalam ilmu pengetahuan.
Pemikirannya yang cemerlang telah melahirkan Positivistiknya dalam ranah ilmu
penfetahuan,

berdasarkan

zaman

perkembangan

pemikiran

manusia

yang

telah

diklasifikasikannnya, positivismenya-pun makin berkembang, analisa dasar yang Comte


pikirkan dalam positivisme adalah :
1. Mengingkari non-indrawi,
2. Menolak metafisika,
3. Fokus pada gejala-gejala fakta saja,

18

4. Tidak perlu menanyakan hakikat dan penyebab, dan


5. Comte hanya membatasi pemikirannya pada pengalaman obyektif saja.
Dari sini mungkin kita akan berfikir relevan ataukah tidak Positiviosme dalam
pendidikan Islam? Ataukah cocok pada aspek-aspek yang lainnya, seperti politik,
ekonommi, dan budaya?.
Demikianlah petualangan pemikiran kami yang serba minimalis, dan kiranya ide-ide
dalam makalah ini dijadikan sarana kritik dan saran yang konstruktif, sehingga positivisme
dapat dipahami dengan positif thingking pula.

19