Anda di halaman 1dari 4

Pertanyaan

1. Jelaskan skema sharf dibawah ini!

(2)

Valuta
Penjual

(1)

Pembeli

Valuta
(3)

2. Tn. Baris memiliki rekening giro wadiah di Bank Muamalat Sungailat dengan saldo rata-rata
pada bulan Mei 2002 adalah Rp 1.000.000,-. Bonus yang diberikan BMS kepada nasabah
adalah 30% dengan saldo rata-rata minimal Rp 500.000,-. Diasumsikan total dana giro
wadiah di BMS adalah Rp 500.000.000,-. Pendapatan BMS dari penggunaan giro wadiah
adalah Rp 20.000.000,-. Berapa bonus yang diterima oleh Tn. Baris pada akhir bulan Mei
3.
4.
5.
6.
7.
8.

2002.?
Jelaskan tentang berakhirnya akad wakalah!
Sebutkan dan jelaskan kafalah dalam prakteknya!
Bagaimana perlakuan akuntansi qardhul hasan bagi pemberi pinjaman?
Jelaskan beban muhil setelah hiwalah?
Bagaimana perbuatan jualah jika dipandang sah ?
Agar sesuai dengan syariah akad rahn tajlisi harus memenuhi beberapa hal. Jelaskan hal-hal
tersebut!

Jawaban:

1. Pada awalnya (1) pembeli dan penjual valas menyepakati akad Sharf yang akan
dilakukan, lalu pembeli menyerahkan valas kepada penjual(2) dan selanjutnya penjual
valas menyerahkan penukaran valas kepada pembeli sesuai dengan nilai dan waktu yang
telah disepakati(3).

2. Bonus yang diterima

= Rp. 1000.000
x Rp. 20.000.000 x 30%
Rp.500.000.000
= Rp 12.000

3. Akad wakalah dapat berakhir dikarenakan hal-hal sebagai berikut:


a. Salah seorang pelaku meninggal dunia atau hilang akal,
b. Pekerjaanyang diwakilkan sudah selesai
c. Pemutusan oleh orang yang mewakilkan
d. Wakil mengundurkan diri
e. Orang yang mewakilkan sudah tidak memiliki status kepemilikan atas sesuatu yang
diwakilkan

4. a. Kafalah bil mal : jaminan pembayaran barang atau pelunasan hutang. Contohnya
kasus hadits Rosul riwayat Bukhari di mana Qatadah menjamin hutang seorang sahabat.
b. Kafalah bit Taslim : jaminan yang diberikan dalam rangka menjamin penyerahan atas
barang yang disewa pada saat berakhirnya masa sewa
c. Kafalah Munjazah : Jaminan yang diberikan secara mutlak tanpa adanya pembatasan
waktu tertentu.
d. Kafalah Muqayyadah/muallaqah, yaitu kafalah yang dibatasi waktunya, sebulan,
setahun, dsb.

5. Perlakuan akuntansi qardhul hasan bagi para pemberi pinjaman:


1. Saat menerima dana sumbangan dari pihak eksternal, jurnalnya:
Dr. Dana Kebajikan Kas

xxx

Kr. Dana Kebajikan-Infak/Sedekah/Hasil Waqaf

xxx

2. Untuk penerimaan dana yang berasal dari denda dan pendapatan nonhalal, jurnalnya:
Dr. Dana Kebajikan Kas

xxx

Kr. Dana Kebajikan-Denda/Pendapatan Non-Halal

xxx

3. Untuk pengeluaran dalam rangka pengalokasian dana qardh hasan, jurnal:


Dr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produktif

xxx

Kr. Dana Kebajikan Kas

xxx

4. Untuk penerimaan saat pengembalian dari pinjaman untuk qardh hasan, jurnal :
Dr. Dana Kebajikan Kas
Kr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produktif

xxx
xxx

6. Apabila hiwalah berjalan sah, dengan sendirinya tanggung jawab muhil gugur. Andai kata
muhalalaih mengalami kebangkrutan atau membantah hiwalah atau meninggal dunia,
maka muhal tidak boleh kembali lagi kepada muhil.Hal ini adalah pendapat jumhur
ulama. Menurut madzhab Maliki, bila muhil telah menipu muhal , ternyata muhal alaih
orang kafir yang tidak memiliki sesuatu apapun untuk membayar, maka muhal boleh
kembali lagi kepada muhil. Menurut Imam Malik, orang yang meng hiwalah kan utang
kepada orang lain, kemudian Muhalalaih mengalami kebagnkrutan atau meniggal dunia
ia belum membayar kewajiban, maka muhal tidak boleh kembali kepada muhil. Abu
Hanifah, Syarih, dan Utsman berpendapat bahwa dalam keadaan muhalalaih mengalami
kebangkrutan atau meninggal dunia maka orang yang mengutangkan (muhal) kembali
lagi kepada muhil untuk menagihnya.

7. Mazhab Maliki, Syafii dan Hambali berpendapat, bahwa agar perbuatan hukum yang
dilakukan dalam bentuk Jualah itu dipandang sah, maka harus ada ucapan (sighah) dari
pihak yang menjanjikan upah atau hadiah, yang isinya mengandung izin bagi orang lain
untuk melaksanakan perbuatan yang diharapkan dan jumlah upah yang jelas tidak seperti
iklan dalam surat kabar yang biasanya tidak menyebutkan imbalan secara pasti. Ucapan
tersebut tidak mesti, keluar dari orang yang memerlukan jasa itu, tetapi boleh juga dari
orang lain seperti wakilnya, anaknya, atau bahkan orang lain yang bersedia memberikan
hadiah atau upah. Kemudian Jualah dipandang sah, walaupun hanya ucapan ijab saja
yang ada, tanpa ada ucapan Kabul (cukup sepihak).

8. Agar sesuai dengan syariah.maka akad rahn tajlisi harus memenuhi hal-hal sebagai
berikut:
(1) Biaya pemeliharaan harus ditanggung oleh pihak yang menggadaikan ,namun jumlah
biaya pemeliharaan tidak boleh dihubungkan dengan besarnya pembiayaan.
(2) Pihak penerima gadai dapat menympan bukti kepemilikan sedanmghkan barang yang
digadaikan dapat digunakan pihak yang menggadaikan dengan izin dari penerima
gadai
(3) Jika terjadi eksekusi jaminan.maka dapat dijual oleh pihak penerima gadai tetapi
harus dengan izin dari pihak yang menggadaikan sebagai pemilik.